[FF] AL2 – EPISODE 05

Title: Apartemen Lantai Dua
Genre: Romance, Reverse-Harem, Fantasy, Action
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung, OC!Isezaki Chika, Son Naeun, Kim Myungsoo, dan Yoon Doojoon.


***

Episode 05

Sang Nekomata (1)

“Aku ingin melihat wujud aslimu. Apakah benar kau Gumiho?” pertanyaan itu seakan tidak ada habisnya sebelum Sooyoung merespon, sang Yaksa cantik di hadapannya sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda ketidaksabaran.

Katana kayu andalan diturunkan dari depan hidung Naeun, perlahan-lahan. Redlocks Sooyoung mengunci tatapan yang terasa selamanya waktu bisa ia kuasai. “Ise, mundurlah.” Peringatan tersebut berarti lampu hijau atas permintaan Naeun.

Orang ketiga di antara sitatap dua wanita bukan-manusia di kamar itu, Ise, selangkah besar mundur yang berdampak punggungnya bertemu dinding beku. Setelah Sooyoung rasa area sekitarnya cukup lapang, ia merapatkan sepasang merahnya. Dalam gelap beberapa sekon penghilatannya, ia mengukir bayang. Mungkin Naeun tengah tersenyum karena sebentar lagi akan mendapatkan apa yang diinginkan. Mungkin Ise merasa gugup karena sudah lama tidak melihatnya. Sementara ia sendiri … dengan putaran angin yang menyerupai guguran kelopak pink sakura, wusssh! Belum—wusssh! Masih belum, dan hingga detik ke tiga dalam tiktok benaknya, ia perlahan-lahan membuka mata. Cling! Cling! Kilat-kilat di mata Naeun adalah pemandangan yang pertama, terkagum-kagum, mulut sedikit terbuka. Ekor-ekor berbulu lebatnya adalah pemandangan yang kedua.

Naeun mendekat, jari telunjuk menyentuh kuping Sooyoung, yang kini besar dan berbulu lembut sewarna oranye dengan gradasi abu-abu di ujungnya. Lalu mengelus-elusnya, merasakan teksturnya. “Wah, Unni, lembut sekali. Seperti telinga kucing.”

“He-hentikan!” pipi Sooyoung sedikit memerah kegelian. Menghindari sentuhan Naeun dengan melangkah mundur, ia lupa akan Ise yang ada di belakangnya.

Buk!

“Ah …,” Sooyoung mendelik Ise.

“Ekormu … jelas-jelas mengganggu, ya.”

“Hah? A-aku sudah bilang supaya kau mundur ‘kan!”

Sebab kesembilan ekornya bergerak-gerak memakan tempat, Ise kerepotan menghindari bulu-bulu itu terbang menerpa hidungnya.

“Ya, ya, maaf.” Ise menyampingkan tubuhnya.

Berpaling pada Naeun lagi, Sooyoung menuntut, “Sudah, Son Naeun. Mau apa lagi kau sekarang?”

Unni,” Naeun menggerak-gerakkan kesepuluh jarinya, terkesan horor di mata Sooyoung! Di imbuhkan oleh permintaan anehnya kemudian, “biarkan aku merasakan ekormu juga.” Sooyoung hampir-hampir mengira liur Naeun akan terjatuh karena tatapan bernafsunya.

“Tidak.”

Unni—” memohon, juluran kedua tangan Naeun berusaha menggapai salah satu ekor oranyenya. Manik-manik merah Sooyoung membelo.

No! Sexual harassing!”

“Apanya yang pelecehan seksual? Aku cuma mau menyentuh ekor Unni, se-sepertinya lembut.” Segurat merah menghias pipi Naeun.

“Son Naeun, kalau kau mengaca, kau tengah berwajah mesum sekarang.”

Unni!”

“Kyaaa!” pekik Sooyoung karena tiba-tiba Naeun bergerak cepat ke arahnya. Sooyoung mendorong dada Ise menyingkir dari jalannya lalu melompat melewati ranjang.

“Aku akan menangkapmu!”

“Aku akan membelahmu kalau kau mendekat!”

“Ehem! Anu … Apa aku harus ke luar sekarang?”

Ise mengangkat tangan, maka Naeun menoleh padanya dan dengan angkuh memicingkan mata sembari bertanya. “Siapa kau?”

“Kejamnya! Aku di sini dari awal! Dan kita sudah pernah bertemu di kapal pesiar kemarin, Nona! Walau yah, kita tidak bertemu kembali di bawah sinar bulan alih-alih kondisi canggung seperti ini.”

“Ah, maaf. Ingatanku tidak digunakan untuk mengingat hal-hal yang tidak penting.”

“Kejamnya!”

“Ke luar saja kau.”

“Ise, Son Naeun benar. Kau ke luar saja, keberadaanmu menganggu.” Selepas berkata demikian, Sooyoung menghindar lagi dari jangkauan Naeun yang sudah mengejarnya hingga ke seberang ranjang. Mereka terus berkejaran layaknya penjahat polisi mengabaikan Ise.

Suara Ise nyaris menangis, “Aku benar-benar diusir sekarang!”

Teriakan-teriakan dan langkah kejar-mengejar masih terdengar meski Ise sudah di luar kamar itu, dengan pintu yang terbanting dari dalam, tertutup kencang tepat di depan hidungnya. Ise tidak kemana-mana, ia hanya memaku di samping pintu itu sebab telinganya berdiri begitupula bulu kuduknya. Ketika lama-kelamaan teriakan berisik dan langkah-langkah berlarian mengitari kamar itu berubah menjadi desahan dan erangan panas. “A-ah, he-hentikaaan! Ah … Son …. Naeun, ah, ah …. Tidak, … jangan disitu, ahhh …!”

Menelan liur, Ise penasaran setengah mati ingin melihat adegan di dalam. Perlakuan apa yang mampu membuat Sooyoung mendesah kewalahan seperti itu? Son Naeun, apakah ia sebenarnya adalah master penakluk monster berekor? Ise menutup jarak antara pintu dan daun telinganya.

***

Pagi menjelang. Sooyoung terbangun bukan di ranjang kamarnya, melainkan kamar yang seharusnya ditempati Ise malam itu. Ia langsung terlonjak kaget, sebab seseorang tertidur pulas bertemankan guling di pelukan. Satu selimut dengannya. Ingatan Sooyoung mereka-ulang kejadian semalam, sontak saja kulit mukanya membiru, ia mual-mual. Ia merasa sekujur tubuhnya telah ternodai. Son Naeun adalah tersangkanya.

Menenangkan diri, ia sentuh kepala dan bokongnya bergantian, yosh, telinga dan ekornya sudah hilang. Tentu saja, setelah di pegang-pegang semalaman siapa yang tidak kelelahan? Ia baru tahu ternyata Son Naeun punya afeksi tersendiri terhadap makhluk sebangsa kucing. Penjelasan bersih atas aksinya kemarin malam; hanyalah salah satu dari sekian kegilaan wujud cintanya pada kucing.

Padahal aku bukan kucing. Sooyoung menggerutu. Menyorot jengah seraut wajah damai sang pelaku pelecehan seksual, “Naeun-ah, bangun. Kenapa kau tidur di ranjangku, kamarku, rumahku?”

Akhirnya, akhirnya berhasil dibangunkan setelah sekian tepukan pada pipi sebelum Sooyoung habis kesabaran. “Oh, Sooyoung-unni. Ah … Annyeonghaseyo.” Naeun mengucek sebelah matanya, namun tak menghalangi tekadnya untuk memeluk guling lagi.

“Jangan ‘annyeonghaseyo’ padaku. Pulang sana.”

“Uh …,” mata Naeun kian menyipit saja saat ia baru bangun dari tidur, malah-malah kembali memejam di detik berikutnya, “selamat malam ….”

“Ini sudah pagi.”

“Aw! Sakit!” Naeun mengelus pipinya yang kena cubit, Sooyoung di situ menatap dengan senyum terplester namun perempatan mengukir jidatnya. Mencicit malu-malu Naeun beralasan, “Sebelum pulang, paling tidak aku ingin sarapan di rumah Unni.”

Jengkel, tatapan Sooyoung menggelap. Tak pantang menyerah ternyata, sang tamu tak diundang memeluk pergelangan kakinya seturunnya ia dari ranjang menuju pintu, sampai rela mengesot demi permintaan dikabulkan. Meski super kesal dan memalukan menonton Naeun bak Suster Ngesot begitu, berbuahkan juga sejentik rasa iba dalam diri Sooyoung. Menyetujui.

***

Aroma telur dadar menyergap penciuman Sooyoung. Astaga, pasti Ise! Dan astaga lagi, ia melupakan Ise! Dimana pria itu tidur kemarin malam? Karena omong-omong, malah ia (dan Naeun) yang menggunakan kamar tamu itu. Retina Sooyoung mendapati Ise tengah membuat sarapan, benar saja. Lagipula siapa lagi?

Tanpa dipersilahkan, seolah-olah rumah milik sendiri, Naeun duduk di kursi meja makan yang menghadap langsung ke dapur, atau memang posisinya bersatu ruangan dengan yang disebut dapur. Sementara Sooyoung ke kamar mandi sebentar guna mencuci mukanya. Terdengar srek-srek Sooyoung menyikat gigi, aliran air keran wastafel, lantas ia selesai dengan wajah dan mulut lebih segar daripada wajah baru bangun tidur tadi.

Ise, bersiap dengan celemek biru milik Sooyoung kini (sebab bila celemek pink Tiffany digunakan lelaki, dapat menimbulkan tawa, pelajaran ini ia dapat dari hasil berpikir sendirian kemarin malam, bukan berfilsafat, lebih etis dikatai melamun), menyapa matahari paginya. “Selamat pagi istriku.”

“Siapa yang istrimu?” protes Sooyoung seraya mendorong pundak Ise dari depan kompor yang menyala. Ia telah mengenakan celemek pink, brunette dikucir tinggi, menyuruh pria itu untuk duduk saja dan melihat, biar ia yang menyajikan sarapannya bilamana tidak mau insiden masakan gosong seperti kemarin hari terulang lagi.

Asap mengepul. Minyak memercik. Suara osengan telur mendominasi ruangan santap itu. Seng … seng …. seng ….

“Eh!” teringat sesuatu, sontak badan Sooyoung berbalik. Spatula dipegangnya menunjuk-nunjuk Naeun dan Ise bergantian. “Kalian berdua, basuh muka dulu.”

Naeun mengerucutkan bibirnya, “Mwooo, Ibu, aku mau makan dulu!”

“Aku tidak ingat pernah melahirkanmu. Tapi Naeun-ah, wajahmu kotor dan mulutmu bau. Ke kamar mandi dulu sana. Ise juga.”

“Aku bangun lebih pagi daripada kalian. Aku sudah cuci muka.” Lapor Ise, seraya menopang dagunya di meja, lantas ikut memerintah Naeun sebab, jujur saja, tidak tahan berlama-lama melihat muka kucel dan bedhead sang Son muda yang menakjubkan (wanita cantik bisa berpenampilan seperti itu, ternyata). “Naeun, cuci dulu wajahmu.”

“Kenapa kau ikut-ikutan menyuruhku? Sok akrab!”

“Aku ayahmu.”

“Oh … iya ya.” Mereka saling manggut berdialog lewat tatapan, membuat kemistri. “Hah, malas ah. Nanti saja habis makan.”

“Kalian bukan pasangan ayah dan anak. Naeun-ah, apa kau lupa wajah ayahmu?”

“Ibu sepertinya marah karena kemarin aku ingin tidur dengannya. Pada akhirnya aku memang tidur dengannya, sih.” Naeun menebar umpan dalam bentuk curahan hati. Ise berkedip, menangkapnya.

“Bicara apa kau Son Yaksa.” Geram Sooyoung tidak dihiraukan dua insan yang mengobrol di meja makan.

Satu-satunya pria di sana mengeluh, “Ya, kau sangat menganggu kemarin malam. Kau datang ketika aku dan Ibumu sudah setengah jalan.”

“Jalan apa yang kau maksud? Kemarin malam kau hanya tidur, Ise.”

Naeun pura-pura kaget, “Jadi ayah tidur dimana kemarin? Ya ampun! Gara-gara aku Ibu mengusirmu ke luar kamar.”

“Aku tidur di kamar sebelah kalian. Banyak barang-barang pribadi Ibumu jadi aku mengintip beberapa.”

“ISE APA YANG KAU INTIP?”

“Pakaian dalam—”

Pletak! Spatula terbang, mencetak tato merah pada kening Ise.

Sebab kesadisan Choi Sooyoung bukan omong kosong, Naeun akhirnya bungkam dan diam-diam masuk ke kamar mandi seperti perintah Sooyoung guna sedikit membersihkan wajahnya. “Maaf sudah mengganggu waktu kalian ….” bisiknya.

Apa-apaan ini? Masih jam tujuh pagi namun lelah, dongkol, dan pening mulai menggerogoti hati berkat mini drama keluarga cemara Naeun dan Ise. Sooyoung menduga-duga apa yang ia lakukan di masa lalu hingga berdampak masa depannya sekeruh ini? Dasar. Ada-ada saja.

Seselesainya membasuh wajah, Naeun duduk lagi di kursi. Kudapan sederhana telah siap di meja. Rasa sih tidak terjamin, namun wanginya cukup menggoda perut yang kelaparan. Padahal hanya sejenis western-breakfast yaitu telur dan sosis goreng. Komentar diluncurkan Naeun setelah lidah mengecap segigit, “Terlalu hambar.”

“Ini, saus,” Ise mengambilkan dari kulkas.

“Pagi-pagi jangan makan yang pedas,” nasehat Sooyoung, lalu mengancam kau akan sakit perut. Naeun merajuk apa kalau saus tomat boleh. Sooyoung membolehkan. Naeun merajuk lagi ia ingin telurnya pakai nasi dan kecap supaya kenyang. “Tidak ada nasi, aku belum masak. Kalau kau masih lapar, tambah roti saja.”

“Ayah, ambilkan roti.”

“Jangan menyuruh Ise, ambil sendiri, dan dia bukan ayahmu.”

Naeun manyun.

Ise menghela napas kemudian beranjak dari kursinya. “Tidak apa-apa, aku ambilkan saja.”

Sebungkus roti tawar melandas di meja. Naeun mengambil dua lembar, terhenti sejenak melihat menu sarapan serba hijau di piring Ise. “Kenapa sarapan orang ini hanya salad? Sedang diet? Iuh, menjijikkan.”

“Ise vegetarian.” Terang Sooyoung. “Son Naeun, tadi kau memanggilnya ‘ayah’, lalu ‘orang ini’. Jangan memanggilnya seenak jidatmu, tidak sopan, dia ini lebih tua darimu.”

“Mmm! Oh iya, apa kalian ini … pasangan?” mulut penuh Naeun bertanya penasaran. “Soalnya pria mana yang bisa tidur di apartemen wanita dengan nyaman kalau bukan pasangan?”

Bertentangan, Ise membenarkan, Sooyoung mengelak.

Tetapi Naeun punya jawaban sendiri kemudian, “Ah, tidak. Unni ‘kan sudah punya pacar … Jung Kyungho-sunbaenim. Lalu dia siapa?” belum puas, sang termuda bertanya lagi. Wajar, Naeun belum tahu kebenaran jika hubungan Choi Sooyoung dan Jung Kyungho sudah selesai.

“Te—seorang te—” tidak, seorang teman seharusnya tidak bisa bebas ke luar masuk apartemen dan menginap semaunya. Tapi ini Ise yang dibicarakan! Ugh. Sooyoung mendelik Ise, tetapi pria itu tersenyum padanya, dia sengaja ingin mendengar jawabanku! Agak terbata tatkala Sooyoung menjawab, “House—housekeeper. Seorang housekeeper.”

Pffft, itu pasti suara Ise menahan tawa.

“Tidak mungkin seorang housekeeper adalah pria! Tampan lagi! Hey, Ise-ssi!”

“Hm? Meski wajahku tampan, tapi di siang hari, apa kata Sooyoung memang benar.”

“Heee? Di siang hari? Mengejutkan. Ayah hebat juga.”

Terpaksa Sooyoung menonton senyum kemenangan Ise yang rasanya makin lebar saja. Tidak mau mati kutu, ia menyerocos, “Sejak kapan kalian jadi akrab? Apa kalian berkonfrontasi menyabotase waktu pagiku? Naeun-ah, berhenti bertingkah seolah kau adalah anak tunggal aku dan Ise.”

“Aku sedang latihan akting untuk drama terbaruku.” Ungkap Naeun, menggigit sendoknya.

“Tidak mungkin ada yang menawarimu main drama lagi setelah penonton melihat akting di drama terakhirmu yang penuh kontroversi itu.”

“Jahat!” sembur Naeun lalu meneteskan airmata buaya. Entah akting menangis atau melawak.

“Sooyoung, seharusnya kau dukung karir Naeun. Bakat bisa terasah asal ada minat dan kemauan.”

“Ise, kau juga. Berhentilah meladeni tingkahnya. Untuk seorang pengangguran, memberi kata-kata bijak haram hukumnya.”

“Ke-kejamnya, tapi aku sudah biasa kau hina begitu sih. Lagipula, anggap saja ini latihan untuk menyambut masa depan kita—”

“Aku betul-betul ingin membenturkan kepala kalian satu sama lain.” Agar batok-batok keras berambut itu beradu dan bergesekan lalu memunculkan percikan api. Api pun membesar, lalu melalap hangus tubuh keduanya. Lalu abu mereka bisa Sooyoung bentuk bola-bola guna ia bekukan dalam kulkas. Lumayan, mainan baru untuk Suri, Bori, Mori, dan Cherry.

“Apapun alasanmu, tolong jangan. Kau tidak kasihan melihat tato merah di keningku ini? Kalau bekas lipstick sih tidak apa-apa. Tapi ini bekas spatula, Sooyoung.”

“Kalau tidak mau makanya cepat habiskan makan, kalian berdua.”

Naeun (sudah mendapatkan nasi dan kecapnya) menguyah dengan bahagia, senyum d wajah tatkala ia bertanya pertanyaan ternormalnya pagi itu, “Unni, apa kau tahu dimana monster berekor lainnya?”

“Monster? Aku tidak tahu kalau makhluk seperti kami sebegitu menyeramkannya sampai-sampai disebut monster. Tapi untuk pertanyaanmu, aku tidak tahu. Semenjak lahir aku belum pernah bertemu mereka.”

“Oh. Itu … karena aku tidak tahu harus menyebutmu apa.”

“Orang-orang Jepang menyebutnya ayakashi.” Jelas Ise.

“Apa itu?” tanya Naeun.

“Semacam makhluk berdarah campuran.” Jawabnya. Naeun ber-oh, ternyata yang istilah darah campuran atau half-blood itu bukan hanya bagi keturunan vampir dan manusia. “Istilah kerennya blasteran.” Imbuh Ise.

Sooyoung menyela, “Jadi kenapa kau ingin tahu keberadaan mereka?”

“Yah,” Naeun menelan kunyahan itu, setelah tenggorokannya kosong ia baru memapar, “Mitosnya mereka semua sudah mati, dalam artian tidak akan terlahir kembali. Hanya beberapa yang masih terjaga regenerasinya hingga saat ini. Salah satunya adalah Sooyoung-unni.”

“Wah, hewan langka.” Ise bertepuk tangan, kedip berikutnya ia kena tampar.

“Aku pernah bertemu yang selain Unni. Ah, tidak, maksudku sering. Apa Unni tahu Nekomata?”

“Si kucing berekor dua? Kau sering bertemu dengannya? Aku tidak kaget, dia pasti salah satu korban pelecehan seksualmu.”

“Bukan pelecehan seksual! Hanya menyentuh di bagian seksual.” Konfirmasi Naeun blak-blakan. Siapapun tahu kalau artinya sama saja. Bukan salah Naeun ia menjadi pecinta kucing sejati. “Aku sering bertemu dengannya tapi aku hanya sekali menyentuhnya, karena dia adalah laki-laki. Bisa jadi dia satu-satunya, yang terakhir, yang sebangsa denganmu di muka bumi. Unni tidak penasaran?”

“Aku penasaran. Siapa?”

Mengacuhkan pertanyaan Sooyoung, Naeun balik menanya, “Apa kau mau bertemu dengannya?”

“Untuk apa?”

“Untuk … kau tahu, Unni. Persaudaraan kuno sembilan ayakashi? Kau tidak ingin menjaganya?”

“Apa pentingnya?”

Ise angkat bicara, “Sooyoung, ku pikir … kau akan tahu seberapa pentingnya itu setelah bertemu dengannya.”

Sooyoung tampak meragu namun tetap mengiyakan pada akhirnya, tidak ada salahnya, “Oke, oke, jadi siapa dia itu?”

Belah bibir itu menjawab, bergerak merangkai satu nama familiar, bukan karena orang tersebut ia kenal baik, melainkan karena sang pemilik nama merupakan salah satu juniornya di industri hiburan. Salah satu juniornya yang bahkan melampaui popularitasnya sebagai idol. Terkenal akan gelar visual-vokal boygrup Infinite, Kim Myungsoo.

***

(bersambung)

Episode selanjutnya udah saya tulis. Kalau mau saya posting posting cepet, kasih komentar di episode ini ya ^^

***

[Naeun pada Ise: “Margaku jadi apa?”]

“Kalau aku benar-benar anakmu dan Sooyoung-unni, margaku jadi Lee, Lee Naeun. Aneh juga ya.”

“Kenapa Lee Naeun?”

“Namamu ‘kan Lee Se. Itu diambil dari nama keluargamu.”

“Ise itu hanya nama panggilan yang diberikan Sooyoung. Nama lengkapku Isezaki Chika.”

“Hah! Kau bukan orang Korea? Nanti namaku jadi Isezaki Naeun dong? Panjang amat. Muat gak ya di akta kelahiran? Kalau pakai marga Choi saja apa boleh? Choi Naeun. Berarti namamu juga berubah jadi Choi Chika. Bukankah itu imut …?”

“Kenapa jadi nama keluargaku yang berubah? Aku tidak pernah dengar di belahan bumi manapun setelah menikah, nama keluarga pria berubah mengikuti nama keluarga wanita.”

“Tapi kalau nama Sooyoung-unni yang berubah mengikuti namamu …,” (Isezaki Sooyoung, aneh, tidak terdengar bagus, sangat aneh, seperti nama makhluk dari planet lain, orang-orang akan tertawa, memalukan, tidak bisa melanjutkan pernikahan, bercerai)

“Bahkan daya khayalku pun tidak mengizinkan kami untuk bersama ….”

“E-eh? Kenapa tiba-tiba nangis?”

(hiks, sabar ya, Ise – from Author)

Iklan

5 Comments Add yours

  1. iyanavhie berkata:

    Aih, Episode 4 kemarin ngeri banget sama Na Eun, horor bawaannya. Eh di episode ini ternyata koplak banget 😄😄 jadi comedy lagi ini Fan XD

    Mereka keliatannya kayak keluarga bahagia gitu ya. Anak yang manja, ayah yang lucu dan ibu yang cerewet 😄😄 sampe ngakak sama perbincangan mereka selama sarapan. Episode ini beneran comedy lah.

    Tapi masih penasaran ini sama karakternya Myung Soo. Dujun juga belum jelas karakternya, ya? Kayanya lama-lama pairingnya beneran jadi Sooyoung/ Ise deh 😣😣

    Suka

  2. Febryza berkata:

    Bahahahahahha ternyata si yaksa felineholic ya yampun sampe segitunya mau pegang2 sooyoung hahahaha

    Oh myungsoo nekomata? Lucu sih mukanya udh sesuai kok kayak kucing *ditampar myungsoo*

    Duuh jadi ga sabar pas makhluk2 jejadian tapi cantik dan ganteng itu dikumpulin jadi satu gimana

    Oh btw, kasian bgt ise bahkan di mimpi aja dia gabisa sama sooyoung *sini kasih pukpuk tapi bayar yak*

    Suka

  3. sifika berkata:

    ketika ise sama naeun bersekongkol :v
    ,naeun ternyata rada-rada byuntae ya 😁
    ,sooyoung aa fighting ngadepin ni dua cecunguk 😁😁😁😁

    Suka

  4. Nadya berkata:

    Itu si Naeun apaan dah, pedofil. Lol, pas sarapan asli ngakak banget. Lucu huhu punya keluarga kayak gitu.

    Tapi buat kamu yah ise, gwenchana chinguyak. Puk puk

    Suka

  5. diah ayu berkata:

    idiw si naeun apaan bgt sih jadi sama2 kompak kocaknya bareng ise..
    bener2 kya adegan keluarga abnormal di pagi hari.
    walah ternyata myung jenisnya sama kaya syoo tapi ekornya 2. jadi bingung ada banyak jenis ternyata yah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s