[FF] AL2 – EPISODE 04

Title: Apartemen Lantai Dua
Genre: Reverse-Harem, Action, Fantasy, Romance
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung, OC!Isezaki Chika, Yoon Doojoon, Kim Myungsoo, and Son Naeun.


***

Episode 04
Sehari Setelah Kemarin Hari (2)

Makan malam Sooyoung hari itu selesai dengan okonomiyaki ala Ise yang terasa wajar-wajar saja di lidah. Tidak enak, tapi tidak buruk juga. “As expected from ordinary people.” Gumam Sooyoung ketika pertama kali giginya menggigit sepotong. Mendengar itu, Ise mengerutkan alis ketidakmengertian akan artinya. Apakah mereka makan malam bersama di apartemen Sooyoung? Jawabannya adalah iya.

Setelah itu, Sooyoung meletakkan mug biru di sisi tangannya. Tatapannya pada Ise memintanya untuk segera pergi tetapi yang ada pria itu membuatnya tambah kesal-balik menatapnya bersama rengekan, “Aku belum membayar sewa kamarku di sana, dan bibi pemilik rumah sepertinya marah.”

Meski Sooyoung agaknya tahu ke mana arah pembicaraan ini, ia tetap meneruskan percakapan, “Belum membayar sewa?”

“Tidak bisa, sebenarnya. Ehe.”

“Jangan ‘ehe’ padaku! Apa sih yang kau lakukan selama ini?”

“Menghabiskan seluruh hasil jerih payahku selama mengabdi pada pemerintah.”

“Menghabiskan uang tabungan dari gajimu bertahun-tahun bekerja, maksudnya?”

“Eyyy-ya.”

“Jadi?”

“Aku rela menjadi babu di rumahmu.” Tawar Ise mantap dengan keyakinan seratus persen di matanya.

Nah, kan. Sooyoung betul-betul ingin memberi tapak tangan merah pada pipi pria itu. “Aku tidak butuh babu. Sudah ada robot pembersih.” Tolaknya.

“Robot pembersih tidak bisa masak, ‘kan?”

Hul. Jadi itu alasanmu memasak untukku hari ini?” Sooyoung menopang dagu dengan telapak tangannya. Ia meragu, “Tidak terlalu enak. Masakan Ibuku jauh lebih enak.”

“Mana boleh membandingkannya dengan masakan Ibumu!”

“Masakan Miyoungie lebih enak.”

“O-oke.” Pantas saja banyak benda berwarna pink di rumah ini (apron, mug, piring, mangkuk, dan alat makan lainnya-pasti karena Tiffany). Karena mereka duduk bersisian, Ise menggeser kursinya lebih dekat ke arah Sooyoung. “Aku bisa mencucikan bajumu.”

“Apakah kau hidup untuk menjadi istri seseorang? Bersih-bersih, memasak, mencuci baju, wah-kau bahkan lebih andal dariku soal itu sepertinya, ya. Lagipula aku biasa mengirim baju kotor ke laundry, dan terutama-aku tidak mau seorang pria mencucikan pakaian dalamku.” Sooyoung menerawang Ise seolah benda menjijikkan ada di depan mukanya.

“Sooyoung, pencucian di laundry artinya kau mencampurkan bajumu dengan baju orang lain. Bau, kotoran, dan keringat yang bercampur-“

“Aku tidak peduli asal hasilnya bersih.”

“Kalau begitu, aku bisa merawat anak-anakmu.”

Sooyoung mendesah, anak-anak yang Ise maksud sudah pasti anjing-anjing kecil peliharaannya. “Bila aku sedang sibuk atau sesuatu terjadi, mereka selalu ku titipkan pada Soojin, dan perlu digarisbawahi mereka bukan anak-anakku.”

“Anak-anak kita.” Ralat Ise.

“Aku rasa bukan itu ralat yang benar.”

“Master, hamba mohon.”

Perempatan muncul di jidat Sooyoung. “Ise, kalau kau tidak punya uang, carilah pekerjaan. Kalau kau tidak bisa mencari pekerjaan, jadilah gelandangan. Kalau kau jadi gelandangan, mati saja.”

“Uwaaa! Belum pernah ada orang yang menyuruhku untuk mati, ternyata seperti ini rasanya!”

“Yah, rasakan saja sensasinya.”

“Menyakitkan!”

If a man will not work, he shall not eat.”

“Tolong jangan berbicara bahasa alien.”

“Kau lah yang alien.”

“Aku mohon.”

“Tidak. Apa kata tetangga nanti melihat pria dan wanita yang belum menikah tinggal seatap?”

Entah apa alasannya tahu-tahu sinar wajah Ise berseri mendengar pertanyaan Sooyoung, “Jadi kau melihatku sebagai seorang pria?”

“Bukan? Jadi kau banci?”

“Bukan!”

Kkeut. Pembahasan ini selesai. Sudah cukup, aku mau tidur. Selamat malam.” Ise menahan sebelah tangan Sooyoung, memelas. Sempat pikiran Sooyoung mengawang dosa apa dirinya di masa lalu hingga diuji kesabaran seberat ini? Dihela lah napas pendek oleh wanita itu sebelum berkata setelah hasil pikiran awang-awangnya mencoba memaklumi, “Hanya malam ini. Oke? Tidurlah di kamar tamu sana.”

Bola mata Ise yang serwarna mentari, berbinar-binar. Persis anak kecil yang kegirangan karena diberikan hadiah. Bohong bila Sooyoung tega menyuruhnya untuk mati. Tentu saja Ise adalah kawan terbaiknya. Bahkan bisa dibilang, yang terbaik dari semua kawannya yang wanita sekalipun-di samping saudari-saudari Son Nyeo Shi Dae-nya. Sooyoung harap ini bukan pilihan yang salah. Fiuh, lagipula hanya semalam. Tidak akan terjadi sesuatu yang aneh.

Sooyoung mengantar Ise depan kamar yang dimaksud-sebenarnya Ise sudah tahu seluk-beluk kediaman ini namun apa salahnya, sekali-kali ia ingin memperlakukan pria itu seperti tamu. Ia membuka pintu dan mendapati gelapnya ruangan tidur itu, kemudian-klik! Seketika cahaya memenuhi pandangan. Sooyoung merasakan udara bergerak-menyentuh kulit mukanya, ia terdiam sejenak.

“Ada apa?” Ise bertanya sembari ikut memeriksa ke dalam kamar. “Wah, rapi juga di sini.”

“Tentu saja, karena tidak ada yang menggunakan.”

“Heee … Bagaimana kalau aku menjadi pengguna tetap?”

Ini anak, dikasih hati minta jantung. Sabar, sabar. Sungut Sooyoung dalam kepalanya. Kemudian Sooyoung berjalan ke sisi jendela dan menyentuh engselnya. Terkunci rapat. Ia geser gorden guna member celah maniknya sedikit mengamati keadaan di luar gedung. Tak banyak orang dan kendaraan berlalu-lalang. Sudah jam berapa sekarang? Sebelum menuju kamarnya sendiri, ia menoleh pada penumpang baru kamar itu sekali lagi, “Ise, pastikan kau tidak membuka jendelanya.”

***

Kamar itu gelap karena lampunya yang sengaja di matikan. Begitupula AC-nya. Bersisa satu neon khusus untuk tidur. Namun pada kenyataannya, Sooyoung meremas-remas selimutnya saja sejak satu jam terakhir-ia tidak tidur. Ia tidak bisa tidur. Ia merasakan hawa kamarnya menjadi berat dan udara rasanya sulit diambil. Sooyoung mendudukkan dirinya di ranjang dengan napas terengah-engah. Keningnya mengucurkan keringat, basah hingga ke punggung kemeja polosnya. Zrattt! Sooyoung sibak selimut, melompat dari ranjangnya. Setelah menguatkan perkiraan dalam benak, ia tarik laci kecil di meja rias samping ranjangnya.

Mengatur napas sembari menatap baik-baik benda yang ada di dalam laci itu, tangannya bergerak meraih. Sebuah pedang kayu tanpa sarung. Panjangnya tak lebih dari satu meter. Nama Choi Sooyoung diukir dengan kaligrafi di bawahnya. Lumayan berdebu karena sekian lama tak disentuh. “Sepertinya aku harus menggunakanmu lagi.” Lirihnya, menyentuh ujung tumpul pedang sewarna tanah basah itu.

Alam bawah sadarnya bernostalgia sesaat setelah saling bertemu kulit dengan pedang itu. Tak berlama-lama lagi, secepat mungkin Sooyoung meyakinkan diri, membawa serta seluruh badan pedang itu di kuasanya, lantas berlari ke luar kamar.

Sampai ia ruang utama-ruang depan yang terhubung langsung dengan satu-satunya pintu masuk, ia memaksa matanya merapat. Berkonsentrasi mengaktifkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, kristal hitam kedua bola mata Sooyoung tergantikan oleh merah rubi yang kontras dengan warna kulitnya. Dalam ruangan gelap itu, sorot kedua mata Sooyoung memantul-yang seharusnya tidak mungkin karena tidak ada sumber pencahayaan di manapun, kecuali mata itu sendiri yang bercahaya di tengah gulita. Merah rubinya liar menelusuri sudut-sudut. Langkahnya lamat dan hati-hati, mengantar ia tiba di belakang-area dapur. Pedang di genggam lebih erat, kembali siaga redlocks miliknya menyusuri seisi sudut dapur. Tidak mendapati apapun.

Langkah-langkah kecil Sooyoung kini menuju ke awal, ke kamarnya … yang berdekatan dengan kamar yang Ise tempati, atau tepat di sebelah kamar Ise. Satu langkah lagi ke depan pintu kamarnya, puncak telinganya menegang mendengar sebuah suara aneh.

“Zraaahhh ….”

“KKKHHH!”

Sukses ia melotot, suara tak dikenal itu berasal dari kamar Ise. Ia dorong pintu itu terbuka menggunakan kakinya. Ia memekik, “ISEZAKI!”

Di atas ranjang, terdapat jelas siluet seorang wanita bergaun panjang, berambut sama panjangnya dengan kondisi gimbal. Tengah bergembira terdengar dari suara tawanya yang menyayat pendengaran, sembari siluet wanita misterius itu mencekik leher Ise yang terbaring di bawahnya. Kesakitan, juga Ise tampak kesulitan bernapas. Sooyoung memicingkan mata, sebab ia yakin hanya mata merahnya yang bisa melihat sosok itu, mata orang biasa seperti Ise tidak bisa melihatnya.

“Hihihihi ….”

“Ekkk-ah, Soo-a-aku-” napas Ise terputus-putus, wajah pun memucat sebab sebuah tangan menghalagi tempat oksigen masuk tubuhnya-bersamaan kulit wajah Sooyoung sendiri juga memucat.

Sooyoung menerjang sosok yang menyerupai wanita itu, menyeramkan-sebab rambut hitam panjang dan buruk rupanya, aroma tak sedap yang dikeluarkan serta matanya yang melelehkan tangisan darah. Namun sebelum pedang kayu Sooyoung menusuk dada kiri sosok itu, pedangnya lebih dulu dihempas jauh. Terlempar hingga berbenturan dengan lemari di pojok ruangan. Sosok menyeramkan itu kini beralih mencekik leher Sooyoung, mendekatkan wajah buruk rupa itu ke arahnya. Sooyoung menahan ringisan, sosok itu menciumi lehernya!

Begitu dekat! Wajah sosok itu dipenuli luka robek, matanya tak henti mengucurkan cairan berbau amis-seolah-olah menangis darah, namun ia tersenyum amat menyeramkan menampakkan deretan giginya yang hitam!

“Hhh-ha-aaah … aroma … mu … jauh lebih sedap …,” bicara! Sosok itu mengatakan sesuatu! Tidak, fokus, Choi Sooyoung! Abaikan apapun yang dikatakannya, nyawamu sedang terancam!

“Ukkkhhh-uhukkk!” Sooyoung hampir kehilangan kesadaran, ia mencengkram tangan Ise di sebelahnya. Ia tusukkan kuku jarinya ke punggung tangan Ise. Sadar dan sakit, Ise yang telah mengembalikan kondisi pernapasan otomatis terkejut.

Dari sudut pandang Ise, sebatas terlihat Sooyoung dengan napas terengah-engah berbaring di sebelahnya. Apa yang terjadi? Sooyoung melirik susah payah dengan sedikit penglihatannya yang terbuka, “I-Ise-! Pedangku! Ambilkan-!”

Segera setelah diperintah, dalam sekali loncat Ise meraih pedang yang dimaksud-tergeletak di dekat kaki lemari. Lemparannya tepat sedetik sebelum sosok itu menyerap habis energi sekaligus kesadaran Sooyoung. Begitu Sooyoung menangkap senjata kayu itu, langsung ia tusuk dari belakang punggung sang sosok wanita menyeramkan.

Sosok itu meraung kesakitan. Melepaskan kekangannya pada tubuh Sooyoung. Beberapa detik kemudian menghilang ditelan gelapnya ruangan.

“Uh, uhuh,” Sooyoung mendudukkan diri kemudian mencarikan sandaran untuk punggungnya. Sejurus kemudian Ise sudah ada di sisinya.

“Sooyoung, kau-apa yang terjadi tadi? Kau baik-baik saja?”

“Akh!” Sooyoung menyemburkan napas berat, lehernya masih terasa sedikit sempit karena cekikan mencengangkan tadi. “Aku sudah merasakannya semenjak aku membuka pintu kamar ini. Ada penghuni sebelum kedatanganmu. Seseorang tengah menggunakannya.”

“Seseorang? Siapa?”

“Roh penasaran.” Jawab Sooyoung, saat napasnya mulai teratur. “Orang-orang awam biasa menyebut mereka sebagai hantu. Tapi sebenarnya, makhluk-makhluk itu hanyalah arwah manusia yang belum tertidur dengan tenang. Arwah seperti itu juga dapat dikatakan jahat karena mereka suka menghisap jiwa manusia, seperti yang kau alami tadi.”

“Dan mencekik juga …,” keluh Ise. “… tadi itu sangat sakit, aku bisa merasakan dua tangan menekan leherku dari dua sisi namun aku tidak bisa melihatnya. Benar-benar mengerikan.”

“Kalau jiwamu sampai habis terhisap, kau bisa mati.”

“Mati? Tapi bukankah yang seperti itu yang disebut sleep paralyzing?”

“Itu hanya istilah lainnya, atau aku bilang-kebohongan yang disebar untuk tidak membuat cemas orang-orang awam.”

“Aku … baru mendengar hal itu.” Aku Ise, terhenyak.

Selesai memaparkan, Sooyoung menegakkan lagi tubuhnya, menyesal, “Ini mungkin salahku karena sering mengosongkan, meninggalkan rumah, dan tidak melakukan eksorsisme beberapa waktu ke belakang. Mungkinkah aku harus melakukannya sebulan sekali?”

“Entahlah. Memang kau sering didatangi hantu seperti tadi?”

“Dan diserang? Ya, beberapa kali, mungkin sering, tidak tahu juga bagaimana persepsimu. Namun menurutku, saking seringnya aku menjadi sensitif akan hal-hal semacam itu. Aura yang berbeda sedikit saja aku bisa merasakannya.”

“Seperti yang kau bilang sebelumnya ….”

“Ya.”

“Em, Sooyoung?”

“Apa?”

“Ngomong-ngomong,” Ise terdengar ragu-ragu di ujung lidahnya, “matamu …?”

“Oh,” Sooyoung teringat, ia lekas sembunyikan lagi warna matanya dan merubahnya kembali ke hitam semula. Seraya ia tunjuk dengan jarinya, “maaf, kau pasti kaget, sudah lama kau tidak melihat warna mataku yang ini.”

Ise tersenyum letih, ikut duduk di samping Sooyoung. “Ya, aku hampir melupakan seperti apa warna matamu. Tapi sekarang aku melihatnya lagi. Merah … seperti batu rubi.”

“Bukan seperti darah?”

“Yah,” Ise menggaruk tengkuknya, bingung menjawab pertanyaan itu mungkin penyebab ia mengganti topik pembicaraan, “sekarang bagaimana?”

Sooyoung menghembus napas pelan ketika selesai maniknya mendapati jam satu malam pada penunjuk waktu handphone Ise yang disimpan di atas meja. Ia membuat perintah, “Masih tengah malam. Kembalilah tidur. Besok kau harus bangun pagi untuk pergi ke gedung SM bersamaku.”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan berjaga, makhluk sejenis itu mungkin akan muncul lagi. Terimakasih karena kejadian tadi, aku menjadi lebih was-was.” Sooyoung meletakkan pedangnya di samping bantal. “Tidurlah dengan tenang. Karena kau adalah tamuku malam ini, maka aku akan menjagamu. Berterimakasihlah.”

“Aku sangat berterimakasih kau mau melakukannya tapi, apa peran kita tidak terbalik?”

“Peran apa yang kau bicarakan?”

Ise mengeringkan tenggorokannya sebelum mendeklarasikan, “Seharusnya pria yang menjaga wanita.”

“Dalam kasus ini, peran seperti itu tidak berlaku. Umpamakan roh penasaran muncul lagi untuk menghisap jiwamu, akulah yang punya kekuatan untuk melawannya. Kau bisa apa?”

“Aku bisa menyusahkanmu.”

Nice. Kau sudah paham, makanya sana tidur.”

Tak lama setelah berhasil membaringkan lagi tubuhnya di atas ranjang, Ise mengaduh mengundang atensi Sooyoung untuk bertanya ada apa. Pria itu menjawab malu-malu, “Kau yakin akan duduk di sampingku dengan setelan seperti itu? Maksudku … karena kemeja kebesaranmu, kau seolah-olah tidak memakai … celana di baliknya. Errr-maksudku-“

“Dengar, Isezaki,” Sooyoung menatap mata pria itu lekat-lekat dan tajamnya-bilamana sebuah pisau-barangkali dapat merobek sesuatu saking tajamnya. “seberapa seringpun kau menggodaiku. Kau tidak pernah benar-benar melihatku sebagai seorang wanita, ‘kan?”

“Hah?”

“Anggap saja aku panda raksasa yang bertugas menemanimu tidur malam ini.”

Menggerutu kecil pria itu-tak mampu terdengar kuping Sooyoung, kecuali tiga kata terakhir tatkala Ise memalingkan wajahnya, “Terserah kau lah.”

Aneh. Kenapa kau yang kesal? Sooyoung menopang kakinya, dan duduk bersandar memperhatikan pundak Ise naik turun dengan tenang.

***

“Dia datang.”

Sooyoung berdiri, bersiap dengan senjata kayu di tangan. Ise terbangun karena gerakan Sooyoung yang tiba-tiba membuat ranjang itu terlonjak, “Ada apa?”

“Tetap di belakangku.”

“Ya, tapi ada apa lagi ini-tolong jelaskan sesuatu padaku-“

“Lebih kuat. Kali ini auranya lebih kuat dari sebelumnya. Apakah … makhluk lain yang datang?”

Seselesainya menanyakan pertanyaan retoris untuk dirinya sendiri, setungkai jenjang kaki wanita muncul, kemudian secara gemulai tungkai yang satunya lagi menampak, seolah mereka tengah melangkah. Namun tubuhnya tak ada. Hanya sepasang kaki yang mendekat dan terus berjalan mendekat. Ise bangkit sepenuhnya dari zona lelapnya dan berdiri di belakang Sooyoung, agak berjengit melihat pemandangan itu.

“Kau bisa melihatnya?” tanya Sooyoung kaget.

“Sepasang kaki yang bergerak sendiri itu? Hiyyy. Sialnya iya.” Kuduk Ise seketika meremang. “Apa sih itu?”

Sooyoung pegang pedang itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri mengisyaratkan Ise untuk lebih mundur lagi sebab menduga makhluk yang datang kali ini akan lebih berbahaya dari pada sebelumnya. “Tunjukkan wujud aslimu, Yaksa.

Ya-yaksa?” Ise sempat meragukan pendengarannya. Melihat betapa kakunya garis wajah Sooyoung sekarang, keringat Ise mengering.

“Benar. Karena kau bisa melihatnya, sudah jelas kali ini bukan hantu yang muncul. Melainkan Yaksa-“

“Roh kehidupan yang melambangkan alam?” sepasang kaki jenjang itu perlahan-lahan menampakkan utuh wujudnya. Tampak hingga ke paha, perut, pundak, dan sampailah pada sepasang bibir pucat yang bicara-yang dimiliki oleh seraut wajah tidak asing tertangkap retina mata Sooyoung, setidaknya, sejak insiden di kapar pesiar kemarin malam.

“Son Naeun.”

Annyeonghasimnikka, Unni.” Beserta senyum manis di wajah cantiknya, Naeun melambaikan tangan. Wanita cantik di kapal itu! Ise berseru.

“Apa yang kau lakukan di rumahku?”

“Hah, ya ampun. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini untuk menyapamu, aku juga mengirimkan seseorang sebagai pengantar pesan tapi kau malah membunuhnya dan, ketika aku sampai … kau menyambutku dengan wajah tidak menyenangkan? Aku terluka, Unni. Dimana sikap ramahmu seperti pertemuan kita di kapal waktu itu?”

“Kau mengirim pengantar pesan? Roh tadi adalah ulahmu?” bola mata Sooyoung memerah dalam sekejap, Ise merasakan sepercik panas menyiprat dari tubuh Sooyoung. Panas! Panas macam apa ini!

Unni, jangan marah. Aku cuma bercanda!”

“Bercanda? Nyawa Ise hampir melayang karena ulahmu! Bagaimana kau akan bertanggungjawab? Hah!” Sooyoung maju dan menodong leher Naeun dengan pedangnya. “Pergi dari hadapanku.”

“Wah, jadi pedang kayu tumpul ini yang tadi membunuh temanku?” jari telunjuk Naeun menyentuh ujung pedang itu hendak menurunkan sedikit dari-posisi seakan ingin memenggal-lehernya namun …

Tes …

“Oh, tidak. Jariku berdarah.” Naeun meratapi ujung jarinya yang menimbulkan setitik merah. “Bagaimana bisa pedang kayu menjadi setajam itu? Luka ini cukup sakit.”

“Aku akan membuatnya sangat sakit kalau kau mau.” Sooyoung tersenyum sinis, kali ini ujung pedang mengarah pada sebelah pipi putih mulus Naeun. “Dengan senang hati aku akan merobek pipi indahmu ini kalau kau tidak segera pergi.”

“Hah …, Unni, Unni.” Seraya menyemburkan napas letih, Naeun memegangi keningnya. Sedetik kemudian Naeun menyeringai, “Tapi Baiklah. Hihi, aku akan bermain-main denganmu sebentar saja. Serang aku kalau kau bisa?”

Membelo manik-manik merah Sooyoung bersamaan gerakan tangkasnya bertujuan menusuk tepat di pipi, namun terlambat sebab Naeun menghilangkah separuh wajahnya yang hendak Sooyoung koyak dengan pedang itu. Menyebalkan. Sooyoung tahu, akan percuma melawan seorang Yaksa bila situasinya sudah seperti itu. Mereka bisa membuat tubuhnya transparan atau menyatukan diri dengan alam atau apalah namanya, dan Sooyoung di sini akan kewalahan menghadapi makhluk setengah materiil tersebut.

“Apa maumu?” tawar Sooyoung akhirnya. Menurunkan pedang dari siaga dan menatap rupa Naeun sekali lagi.

“Heee, menyerah dalam sekali percobaan, ya?”

“Akan terlihat bodoh kalau aku bersikeras berusaha menusukmu dengan tubuhmu yang jelas-jelas sulit untuk ditembus pedangku.”

“Betul, hihi!”

“Jadi, apa maumu?” ulang Sooyoung.

Naeun tak bosan menampakkan senyum bisnisnya, sedikit pelan ketika suara itu meminta, namun Sooyoung yakin itulah yang Naeun katakan dan ia dengar, “Begini ….”

Pun Ise di sana turut mendengarkan.

“Aku menyadarinya ketika Doojoon-oppa bilang matamu berwarna merah di dalam air. Aku langsung menerka-nerka siapa kau sebenarnya, makhluk apa yang memiliki warna mata seperti itu? Makanya sekarang aku ingin mengonfirmasi sesuatu. Apakah terkaanku itu benar atau salah? Aku ingin melihat wujud aslimu. Gumiho-unni.”

***

(bersambung)

Terbongkar!
Doojoon adalah Chollima,
Naeun adalah Yaksa, dan …
Sooyoung adalah Gumiho?!
Ada yang bisa nebak Myungsoo bakal jadi apa? Apakah makhluk setengah siluman seperti mereka-mereka ataukah manusia biasa seperti Ise?
Nantikan lanjutannya di Episode 05 hohoho.

Bonus, percakapan penulis dengan ise:

Iklan

5 Comments Add yours

  1. iyanavhie berkata:

    Kyaaa~~ sekarang jadi horor, fan 😣😣 belum bisa nebak jalan ceritanya sih, penasaran banget karena ternyata nyaris semua cast bukan manusia biasa.

    Myung Soo mungkin seorang werewolf? Atau siluman ular? Haha, Myung belum juga terpanggil jiwanya, ya? Belum dapet bagian dianya. Dujunku juga muncul nama doang, tapi its oke. Sebab ini masih part-part awa dan ini bukan mini series macam Highskooler, kan?

    Ps : Sooyoung dan Ise, menikah sajalah 😂😂

    Suka

  2. Febryza berkata:

    Aaaahhh seru seru euy..

    Jadi ternyatah sooyoung itu gumiho? Wauw pantes cantik yak hahahaha.. kayaknya aku mesti searching 2 deh yaksa itu apa chollima itu apa biar lebih paham pas baca ff kamu yg ini fan

    Myungsoo ya? Hmm dia lebih cocok ke lone werewolf si atau serigala yg terbuang *kok kasian*

    Apa sih Ise kamu itu cari kerja sanaaah nanti sooyoung diambil loh sama doojoon atau malah sama myung

    Apa itu apa itu mana mungkin ise mirip sama kaito kid, mimpi saja kamu nak

    Suka

  3. Nadya berkata:

    “Aku rela menjadi babu dirumah mu” bilang kek rela jadi pacar gitu shhhh

    Suka

  4. diah ayu berkata:

    wah ternyata semua terjawab juga.. genre sesungguh nya keluar.. aku mesti searching buat tahu jenis2 makhluk fantasi.
    radaserem juga sih..

    Suka

  5. Indahfida5 berkata:

    Sooyoung siapa , mata merah gitu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s