[FF] AL2 – EPISODE 03

Title: Apartemen Lantai Dua
Genre: Action, Fantasy, Romance
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung, OC!Isezaki Chika, Yoon Doojoon, Kim Myungsoo, and Son Naeun.

al2-poster.jpg

***

Episode 03

Sehari Setelah Kemarin Hari (1)

Menerima omelan adalah wajib bagi Sooyoung seharian itu; dan bila ia mau berbesar hati membuatkan listnya, maka akan tampak seperti ini; omelan Manajer-oppa, Tiffany, Pak Direktur Kim, Ibunya, Kyuhyun-oppa, dan—errr siapa lagi? Ah, seterusnya, lah. Hanya satu akar dari semua omelan yang harus ia telan bulat-bulat itu, gara-gara acara kencan kemarin hari!

“Kau putus dengan Jung Kyungho?” Pak Kim memekik di ruangan bekerjanya itu, seolah kursinya kebakaran, ia sontak berdiri dan menggembrak meja dengan mata dipelototkan. Di hadapan, Sooyoung selaku lawan bicara mengangguk tanda iya. “Dan kau—dan kau—! Ba-baik baik saja?”

Sooyoung mengerjap kemudian mengelak, “Saya tidak baik-baik! Lihat, Pak! Lingkar hitam di bawah mata ini adalah bukti atas kepedihan hati yang saya rasakan! Sepulangnya dari kapal, saya menangis semalaman di kamar, di balik bantal!”

Sebetulnya, itu bohong. Setelah diantar pulang hingga masuk apartemennya kemarin, semalaman Sooyoung bergulingan di bungkus selimutnya. Tanyakan saja Ise sebagai saksi. Mengenai kantung mata yang tak sedap dipandang make-up artis itu, karena Sooyoung tidak bisa tidur memikirkan hal tidak berguna—yang pada intinya, semua bukan karena Jung Kyungho. Jujur saja, Sooyoung sendiri sudah lupa—tidak peduli pada keberadaan laki-laki itu.

“Ah, Sooyoung. Bukan itu maksud saya, tapi saya turut prihatin juga soal itu. Saya tahu kau wanita kuat, kalau hanya soal itu kau pasti bisa melaluinya.” Pak Kim menepuk pundak Sooyoung sekali.

“Jadi maksud Bapak apa?”

“Kau tahu, saya mengkhawatirkan mengenai reputasimu. Tahu sendiri, ‘kan, kelanggengan hubunganmu dengan Kyungho yang telah digembar-gemborkan media cukup signifikan dalam membangun baik reputasimu di mata publik. Netizen memandang kalian sebagai pasangan sempurna! Kemudian, dalam semalam hubungan itu hancur, saya yakin reaksi para netizen tidak akan bagus. Kau tidak bodoh untuk tidak paham apa dampak terburuknya, ‘kan?”

“Karir saya, Pak?”

“Betul!” Pak Kim kali ini menghempas kedua tangan di masing-masing sisi pundaknya keras-keras. “Bukti nyatanya adalah Goo Hara! Di depan matamu! Apa yang dia dapat setelah berita putus dengan pacarnya yang nyentrik itu terkuak ke media?”

“Dia …,” sang wanita muda Choi mengangkat bahu, “tak dapat apa-apa?”

“Betul sekali! Lebih parah lagi, bukan hanya Goo Hara pribadi, hal tersebut juga berdampak pada kelangsungan karir grupnya!” bapak yang tidak lagi muda itu melanjutkan, kobaran api terpancar di matanya yang bukan hal baru dilihat Sooyoung, panas, “Tapi, Sooyoung, apa yang mantan pacar Goo Hara dapatkan setelah putus?”

“Dia …,” Sooyoung teringat sesuatu, “pak, kalau Anda tidak tahu siapa mantan pacarnya, namanya Yong Junhyung.”

“Iya, iya, saya tahu.” Namun Sooyoung yakin Pak Kim sebenarnya lupa tapi malu mengakui. “Sooyoung! Kembali ke pertanyaanku tadi! Apa yang didapatkan Yong Junhyung setelah berpisah dengan Goo Hara?”

“Kesuksesan.” Jawab Sooyoung pendek. “Bukan hanya pribadi … tapi grupnya pun—”

Daebak! Lihatlah! Itulah kenyataannya!” Pak Kim menunjuk-nunjuk wajah Sooyoung, berapi-api ia mendeklarasikan fakta keji kaumnya, “Di belahan dunia manapun, pihak pria akan selalu diuntungkan! Maka dari itu saya membenci pria!”

“Anda pria, Pak.”

“Justru itu, saya benci pria karena saya masih mencintai wanita!”

“Maksudnya Bapak bukan homo, itu.”

“Kembali ke pembahasan awal, Sooyoung!” berbalik tubuh bugar Pak Tua Kim, menghadap jendela ruang kantornya yang terhubung langsung dengan pemandangan jalanan kota yang padat. Sooyoung memasang telinganya baik-baik, “Untuk itu, saya akan mencegah bagaimanapun caranya agar tidak muncul pemberitaan bahwa kau dan Jung Kyungho bukan lagi sepasang kekasih! Demi kebaikanmu, dan demi keuntungan yang tidak dapat Jung Kyungho ambil darimu!”

“Baik, Pak.”

“Pokoknya kau diam saja. Mulai dari sini adalah urusan internal perusahaan. Saya juga akan mengirim utusan ke pihak Jung Kyungho untuk bekerja sama menutupi fakta ini.”

“Anda yakin, mereka tidak akan menolak?”

“SM selalu bisa meyakinkan siapa saja, Sooyoung, tenang, tenang saja.” Terhenti sejenak sebelum Pak Kim dengan ketegasan yang nyata melanjutkan, ia bertanya, “Siapa lagi yang tahu fakta ini selain kau, Jung Kyungho, dan saya? Bagaimana dengan tempat kalian berkencan lalu berpisah? Yakin tidak ada yang mengenali kalian di sana?”

“Manajer-oppa dan saudari-saudariku sudah tahu, Ibuku dan mungkin sekarang Ayahku tahu, beberapa senior di agensi, dan …—” oh tidak.

“Dan?”

Oh tidak. Ise. Pak Kim tidak boleh tahu soal Ise. Mata Sooyoung rasanya semakin dipandang tajam oleh bapak direktur itu.

“Manajer, anggota grup, anggota keluarga, dan artis senior di sini saya bisa menjamin mereka untuk tutup mulut. Lalu siapa lagi? Sepertinya kau masih menyimpan sebuah nama?” dipandangi dengan penuh selidik begitu, Sooyoung tidak nyaman! Haruskah ia katakan …?

“Se-seorang kawan.”

“Kawan? Kawan sesama artis?”

“Uh, bukan. Hanya … warga biasa, Pak.”

“Hm, begitu. Pria atau wanita?”

Hah? Kenapa pertanyaannya perlu ke situ? Apa dijawab jujur saja? Berhubung Sooyoung juga malas menanggung beban berbohong dan melanjutkan kebohongan (perihal rencana kebohongan hubungannya dengan Kyungho, itu sih bukan ia yang menanggung tapi Pak Kim), “Kawan saya itu … pria.”

“Hm? Pria ya …? Dan pria ini bisa tahu kau baru putus dengan pacarmu, kalau bukan kau sendiri yang cerita, maka harusnya dia ada di sana saat kejadian. Yang mana?”

“Yang …,” yang kedua! Batin Sooyoung, tapi sangat aneh kalau Pak Kim tahu. Pertanyaan apa pula itu! Ise ada di sana—kemungkinan besar—karena Ise memata-matai kegiatan berkencannya. Kenapa ada Ise ketika kencannya dengan Jung Kyungho? Baginya karena Ise memang unik dan ia mencoba memahami pria itu setiap saat, bilamana ia bilang sekarang, keberadaan Ise di hari kencannya bisa jadi disebut lazim. Namun bagi orang lain? Makhluk berkelakuan seperti Ise tidak ada lazim-lazimnya! (Baca; menguntit kencan seorang wanita, masuk kamar wanita lewat jendela, membobol apartemen seorang wanita yang tinggal sendirian, menemani seorang wanita yang baru menjomblo semalaman—oh gawat, fakta-fakta itu menjurus ke pada ciri-ciri orang cabul.)

Karena Sooyoung tampak sebentar lagi hilang kesadaran, pertanyaan tadi pun diulang Pak Kim, “Dari mana kawanmu itu tahu, Sooyoung?”

“Dari …,”—Sooyoung mulai gugup—“… saya. Saya menceritakannya sendiri, hari itu juga, karena kami adalah sahabat dekat.” Dusta Sooyoung akhirnya. Ditambah sebuah cicitan enggan bersirat kepalsuan murni, “Sangat, sangat dekat.” Saking dekatnya ia sampai tidak terlihat dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan.

“Begitu. Bagus kau mau memberitahu saya. Siapa nama kawanmu itu?”

“I-ise.”

“Lee Se-ssi?*”

“Ise, Pak. Isezaki Chika, lengkapnya.”

“Isezaki? Ah … seorang Japanis, kah.”

“Ya, seharusnya.” Meski aku tidak yakin apa kewarganegaran yang dipegangnya sekarang, seharusnya sih, Jepang.

Beberapa detik setelah terhanyut dalam pikiran masing-masing kemudian …

“Tunggu, Japanis!”

“Errr—ya?”

“Japanis!”

“Anu, Pak?”

“Sooyoung! Bisa panggilkan kawanmu itu untuk menghadap saya? Ini sangat penting! Berkaitan dengan masalahmu juga!”

“Panggilkan? Eh—ada … apa, ya? Kalau saya boleh tahu?”

“Apa pekerjaan yang tengah ditekuni kawanmu itu?”

“Saya tidak begitu yakin. Di Korea, tampak seperti kerja serbutan—” dalam hati Sooyoung meringis, namun memang betul Ise terlihat seperti pengangguran yang luntang-lantung nihil progress dari hari ke hari. Sama sekali tidak ada kegiatan produktif yang Sooyoung ingat pernah Ise lakukan kecuali di tempatnya bekerja dulu—kepolisian cabang Tokyo.

Good! Pokoknya buat kawanmu itu menghadap saya segera, kalau bisa hari ini juga!”

Percuma bertanya lagi pada Pak Kim, pasti diacuhkan. Sooyoung tidak meresolusi keputusannya. Bukan ide buruk menghubungi Ise dan memintanya datang, toh pria itu bukan orang sibuk. Maka Sooyoung menyanggupi perintah Pak Kim—bersama rasa penasaran yang dikubur sementara.

***

Klik! Suara pintu apartemennya yang terbuka. Didorong Sooyoung pintu itu dengan tenaganya yang tersisa dari aktivitas hari ini. Menghadiri dan merangkum seluruh pertemuan yang pada intinya adalah keluh kesah plus luapan kekecewaan yang disingkat menjadi omelan. Melelahkan. Belum lagi skejul photoshooting yang tidak bisa ditunda, harus diselesaikan hari ini juga. Mau tak mau Sooyoung makan resikonya.

Sooyoung membiarkan sepasang sepatu tingginya tergeletak di dekat pintu. Ia sendiri melempar tas sampirnya ke meja dan langsung merebahkan punggung dan pundak pada empuknya destinasi sofa ruang utama. “Hah ….” Lemas, Sooyoung memejamkan mata.

Gara-gara padatnya jadwal tadi, ia jadi lupa menghubungi Ise sesuai suruhan Pak Kim. Selagi sadar Sooyoung pun ambil handphonenya dan mencari satu-satunya nama yang diketik menggunakan katakana di daftar kontak. Isezaki. Dapat terhubung dalam beberapa detik ke depan. Diangkat! “Ise? Halo?”

“Halo? Ah—siapa ini?”

“Ise,” Sooyoung merendahkan alis matanya dibarengi nada suara yang terdengar berbahaya.

“Sooyoung, tentu saja aku tidak akan melupakan pemilik suara indah yang memanggil namaku dengan sangat mesra! Ada apa, hm? Tidak biasanya kau meneleponku, atau mungkin—Kami-sama! Kau berinisiatif meneleponku lebih dulu! Mimpi apa ya aku semalam?”

Ise dan omong kosongnya, tidak mengurangi malah menambah lelah kuping Sooyoung seharian ini, maka ia langsung saja, “Ise bisakah kau datang ke gedung SM besok?”

“Uwaaa, seperti biasa kau mengabaikan basa-basi dan langsung ke poinnya ya.”

“Bisa atau tidak?”

“Untukmu, apa saja—”

“Oke, besok jam sembilan pagi.”

“Sebentar! Apa kau sudah melihat postingan teratas pann hari ini—”

Kalimat Ise sengaja Sooyoung potong lagi, “Ku tutup. Dah. Sampai besok.”

—ctasss! “AAAH!”

Menahan sambungan telepon, Sooyoung dibuat terkejut oleh teriakan tiba-tiba pria di seberang telepon, “Suara apa itu? Ise? Ise, hei … kau baik-baik saja? Halo?”

“Hah … ini, aku sedang memasak.” Suara di sana terdengar mengecil, ditimpa oleh ceklikan kompor yang dimatikan. “Aku baik-baik saja, tadi minyaknya hanya sedikit panas, kena tanganku.” Sooyoung menghembus napas lega mendengarnya.

“Hati-hati.”

Hai … Sooyoung-sama.”

“…”

“Tidak jadi nih, menutup teleponnya? Ingin mendengar suaraku lebih lama? Apa ini … kau amat mencemaskanku karena teriakanku tadi?”

“Isezaki, kau ada dimana sekarang?”

“Pertanyaanku tadi dianggurin! Ehhh—aku lagi masak tentu saja aku di dapur.”

“Di dapur mana?”

“Dapur mana lagi—”

“Dapur rumahku ya!”

“Eh, hehehe.”

“Ise!” bentak Sooyoung tanpa ampun. “Bau gosongnya tercium sampai ruang depan!”

Sekejap setelah memutus sambungan telepon, Sooyoung beranjak dari sandaran sofa dan tergopoh-gopoh (karena masih mengumpulkan sisa-sisa tenaganya) menuju dapur di belakang yang bersatu dengan ruang makan. Benar saja, diiringi lambaian tangan bak mengangkat bendera putih, Ise ada di sana, memakai apron pink beronda hadiah dari Tiffany untuknya, dalam rangka merayakan kepindahannya ke rumah baru waktu itu.

“Tuh ‘kan! Aku sudah sedikit curiga waktu kau bilang sedang masak, kau ‘kan tidak bisa masak!” pening kepala menghadapi kelakuan kawan ajaibnya ini, tanpa mengurut kening Sooyoung menghampiri, hal pertama yang dilakukannya adalah melap wajah Ise yang putih-putih—belepotan tepung.

“Ketahuan, ya.” Ise meringsut, mendekat dan menundukkan sedikit wajahnya agar Sooyoung leluasa membersihkan putih butir-butir tepung itu.

“Siapa yang mau kau bodohi?” tantang Sooyoung, matanya jeli hingga usapan terakhir pada leher Ise. Ise sekurang-kurangnya sepuluh sentimeter lebih tinggi darinya, maka ia harus menengadah untuk memeriksa apa seluruh bagian wajah Ise sudah bersih. “Masak apa juga, tepung dimana-mana begini, duh.”

“Yang paling simpel sih pancake atau okonomiyaki. Tapi aku orangnya tidak terlalu suka yang manis, dan kau sangat suka okonomiyaki. Jadi, ya, itu.”

“Kau, aku? Maksudnya ini makan malam kita? Tapi kau ‘kan vegetarian?” —dan kapan kita pernah kompromi untuk makan malam bersama?

“Ya. Jadi aku hapus segala macam jenis daging dari resep okonomiyaki. Aku ganti toppingnya dengan tofu.”

Hul.” Ise pasti tahu password apartemen (yang padahal baru diubah ini) berkat kemarin ia diantar pria ini pulang. Huh, Sooyoung lepas waspada sedikit saja pria ini berulah lagi. Menduga apa yang akan ia lakukan berikutnya saja sudah capek, maka tatkala betul-betul terjadi dugaannya, ia lebih capek!

“Ah—”

“Kenapa—oh, tanganmu.” Sooyoung menyentuh punggung tangan kanan Ise bekas terciprat minyak panas itu. Mulai menggembung dan sepertinya sakit. Iseng, ia menyentuhnya sedikit lebih keras.

“—it! Sakit!”

“Ahaha, rendam dengan air panas sana. Nanti baluri dengan salep. Aku ambilkan dulu.”

“Dengan air panas? Serius?”

“Iya. Sana cepat.”

“Sooyoung.” Panggilan Ise pelan, dijawab Sooyoung dengan gumam sembari mengambilkan ember kecil untuk diisi air panas. Ise memperhatikannya cukup lama, sebelum menyambutnya pulang ke rumah dengan tulus, “Selamat datang kembali.”

“Oh.”

“Kau mau makan, mau mandi, atau mau a—”

“Aku mau menyirammu dengan air panas kalau kau terus bicara yang tidak perlu.”

“—ku. Aku pijat pundakmu, maksudku.”

“Tanganmu ‘kan sedang sakit.”

“Oh iya.” Dalam sejurus kedipan Ise melemas. Sejurus kedipan lagi Ise teringat akan sesuatu yang adalah alasannya datang ke mari, “Oh iya!” tanpa aba-aba pria itu bersemangat kembali.

“Apa lagi?”

“Kau sudah melihat postingan teratas pann hari ini?”

“Situs pann? Belum. Memang kenapa? Kau tertarik dengan topik berita selebritis? Kalau dipikir sih kau juga termasuk netizen, ya.”

“Bukan-bukan, bukan tentang aku tapi kau! Kau jadi artis!”

“Kau mungkin bodoh, makanya kau lupa, tapi aku, memang seorang artis, Ise.”

“Bukan, bukan itu aku bilang! Kau—lihat, kau jadi perbincangan terhangat seharian ini! Bisa-bisa nanti juga masuk pemberitaan di televisi!” tangan kanan Ise menggampai handphone yang ditaruh di meja, lihai jemarinya membuka browser dan menelurusi situs yang dimaksud—tempatnya menuai dan meredakan konflik, situs para netizen, situs para penggemar idol.

“Artis pann, maksudmu?” Sooyoung mengintip artikel yang ditunjukkan Ise dan membaca sederet judul yang—sungguh mengerikan—sepertinya ia tahu siapa dan siapa yang dimaksud dalam artikel tersebut; Female-Idol ini Menyelamatkan Nyawa Seorang Pria yang Tercebur ke Laut. Merupakan hot topic sejak dipublikasikan kemarin malam hingga hari ini.

***

(bersambung)

Ini dimana eksyen dan fantasinya? Dimana karakter lain, Yoon, Son, dan Kim! Ah tapi saya pikir belum saatnya(?) memunculkan karakter Myung. Dan ini kenapa saya malah ngefeel sama karakter OC yang saya buat sendiri? Bahaya, bahaya! Soalnya ketika saya gambar, kok ganteng?!!! Akhirnya bikin fanfik fantasi jadi berasa bikin cerita shoujo dengan background bunga-bunga mekar/g.

Btw ini dia visual Ise-kun, atau kita panggil I(kemen)se-kun T^T *ikemen

img_20170304_145901_586.jpg

*) ‘Lee’ dalam bahasa Korea dibaca ‘i’ pada tau kan?

**) Ikemen: cowok cakep

Iklan

13 Comments Add yours

  1. iyanavhie berkata:

    Hoah, Sooyoung sama Ise kok gemesin, sih? Ntar aku shipperin mereka (?) Visualnya juga boleh lah 😀😀 ini genrenya komedi kali Fan, lucu banget obrolan sama Pak Kim 😂😂

    Terus, H.L.D.Jnya belom muncul ya? Myungsoo apa lagi 😒😒 nanti mereka satu apartemen gitu?

    Ditunggu nextnya ya, Fan. Lebih cepat lebih baik 😂😂

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Kalau penulisnya gemesin juga gak! Kkkkk~
      Ini bukan fanfiksi komedi padahal tuh 😂 salah aku kali ya

      Suka

  2. Hana berkata:

    i somehow see taehyung in ise’s personality, or even in ise’s portrait… apa aku terlalu banyak nonton bts kali ya XD SEMANGAAAAAT!!

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Oh iyakah? Aku ga begitu ngikutin personaliti bangtan Boys sih… Tapi kalau dianggap Taehyung entar kemudaan jatohnya 😋

      Disukai oleh 1 orang

  3. Febryza berkata:

    Itu percakapan sooyoung sama bosnya kok ya kocak sih ya hahahahaha

    Ise apa sih kok absurd banget gitu, ditambah sooyoung makin absurd deh mereka berdua…

    Hoooo yg kamu post di IG itu ise toh kok sekilas mirip kayak karakter cowok yg kaichou wa maid sama ya *abaikan mungkin faktor rambut sesama blonde*

    Iyah manah ini yoon aku kangen yoonchoi *brb baca highskooler*

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Wah memang kita saling follow ig ya? Kok aku lupa wkwk
      Iya mirip karena rambutnya aja kali 🙎

      Suka

      1. Febryza berkata:

        Saling follow kok username aku @nindindi
        Heehehehehe

        Suka

  4. sifika berkata:

    percakapannya soo ama pak kim bikin aq ngakak :v, ya kali pak kim laki2 benci sesama gendernya -_-

    ,itu adegan ise-sooyoung bikin greget duhh

    Suka

    1. sifika berkata:

      Kak itu visualnya ise jadi mirip sama kise ryoutanya KnB 😁

      Suka

      1. Yang Yojeong berkata:

        Ahaha wajahnya dia pasaran 😂😂😂😂😂

        Suka

  5. diah ayu berkata:

    eerr ini pak kim juga samasama kocaknya alias cerita ini emang bener2 kocak.
    nah kan sama, aku juga ngefeel sama ise huhuhu. ganteng ik. ada scene sweet cute gimana gitu wkt di dapur.. bikin cekikikan.

    Suka

  6. Indahfida5 berkata:

    Ise sma sooyoung cocok, cerita kocak lucu tambah seru

    Suka

  7. ismi berkata:

    Myung msh belum muncul juga trnyata,ckckckck soosoo pkoknyalah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s