[FF] AL2 – EPISODE 02

Title: Apartemen Lantai Dua
Genre: Action, Fantasy, Romance
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung, Yoon Doojoon, Kim Myungsoo, Son Naeun, and OC!Isezaki Chika.

al2-poster.jpg

***

Episode 02

Pertemuan (2)

 

Massa itu dinilai berat terdengar dari suara ceburannya yang besar. Suara itu menarik banyak perhatian termasuk aku dan Ise. Byurrr! Drashhh! Ombak akibat benda jatuh mengaung jelas masuk daun telingaku. Membuat kaget dan memaku. Terutama karena jeritan panik seorang wanita memanggil-manggil sebait nama—yang dipastikan nama orang yang jatuh itu. Tunggu, orang? Wanita tadi! Wanita yang tengah berkencan tadi! Seseorang yang tercebur ke lautan itu ternyata adalah pasangan kencannya! Karena kasihan, tanpa pikir dua kali langsung saja aku bergegas menghampirinya. Wanita itu memanggil satu nama sembari menunjuk ke bawah kapal dan berselingan dengan mencari pertolongan. Kata-kata yang ia keluarkan tidak jelas saking paniknya, aku hampir-hampir dibuat panik juga.

Aku menoleh ke belakang, ke arah Ise yang bola matanya masih melebar akibat keterkejutan. Salah satunya mungkin karena aku tiba-tiba hilang dari sisinya. “Ise!” pun aku panggil namanya, meminta. Nun seolah tahu apa mauku, Ise menolak keras dengan gelengan kepala dan kedua tangan bersilang di dada. Dasar, pria pengecut itu! Sejurus kemudian ekspresi wajah Ise berganti menjadi seringai—aku tidak paham apa maksudnya kali itu, sebab aku tidak bisa tinggal diam.

 Orang-orang di sekitar tampaknya sudah ada yang memberi tahu nahkoda kapal dan staff-staff pelayaran bahwa seseorang telah jatuh ke laut. Kecelakaan ini menimbulkan ribut, namun wanita itu tampaknya tak bisa menunggu lebih lama karena ia mulai sesegukan. Aku menatapnya iba. Barangkali … orang yang jatuh itu tidak bisa berenang?

“Tenanglah, Nona!” ku tepuk pundaknya pelan. Sang wanita menoleh, menatapku pelan-pelan dengan hidung dan mata yang telah memerah. Aku lepas blazerku dan ku sampirkan di pundak wanita itu.

“Nona, apa yang mau Anda lakukan?!” seorang staff meneriakiku.

Melepas sepatu berhak itu, aku panjat pembatas kapal dan berdiri di atasnya dengan kakiku, sebelum melirik staff tadi dengan ujung mataku, “Kalian terlalu lambat!”

Byurrr! Terjadilah. Wajahku adalah yang pertama masuk. Menerjang air laut di malam hari ternyata cukup buruk, selain karena dingin, juga tidak ada pencahayaan. Orang itu mungkin sudah terselam jauh ke dalam, aku berusaha menyimpan oksigen yang tersisa untuk terus menggerakkan kakiku ke dasar. Blup, blup, bluppp!

Tidak ada cara lain, pandanganku sekeliling sudah gelap total. Aku memaksa memakai bola mataku yang satunya untuk melihat. Pria itu! Akhirnya ku temukan! Tangannya terjulur seolah minta diraih, sepertinya ia masih punya sedikit kesadaran untuk bertahan. Aku tarik ia ke permukaan. Seketika angin laut kembali menampar pipiku bersamaan dengan mataku yang kembali seperti semula.

Dari atas, aku mendengar sorak sorai bersahutan. Ayolah, jangan buang-buang waktu lagi! Aku kedinginan di sini! Maka tatkala bantuan di turunkan, aku mengalihkan pria pingsan itu untuk dibopong. Kemudian kami kembali naik ke atas kapal.

Ise sudah ada di sana dan langsung memakaikanku handuk kimono. “Kau keren sekali!” pujinya. Aku membalas kalau ia tidak tahu malu, sebagai pria, seharusnya ia yang melakukan hal tadi dan bukannya aku. “Sayangnya aku tidak terbiasa jadi pusat perhatian orang-orang.” Yah, yah, ia punya banyak alasan—dan kebanyakan di antaranya tidak logis.

 “Kau bahkan tidak khawatir padaku,” kataku ketus tanpa memandangnya. “bisa saja aku yang tenggelam karena membawa beban berat pria tadi.”

“Tidak ada gunanya orang biasa sepertiku mengkhawatirkamu. Lagipula, kau,” ucapan Ise terjeda, “… sedang merajuk padaku?”

“Daya khayal berlebihanmu yang membuatku tampak demikian.”

“Tidak usah malu-malu. Ah, tapi tidak disangka, kau manis juga kalau malu-malu begitu.”

“Aku tidak merajuk dan aku tidak malu.” Kataku dongkol. Aku duduk di salah satu kursi dan memeluk diriku sendiri. Kerubunan orang memenuhi di depan, dimana pria itu dibaringkan. Apa pria itu sudah sadar?

Aku berdiri dan bermaksud menghampiri. Orang-orang memberiku jalan lewat sembari memuji-muji, “Oh, Nona Heroik ini! Nona, kau tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan orang tadi?”

“Dia …,” aku mengikuti arah pandang bapak-bapak yang bicara itu. Pria tadi sudah terduduk dengan sekujur tubuhnya basah kuyup—ia sudah sadar. Wanita muda di sebelahnya memakaikan handuk masih berlinangan airmata.

Aku menghampiri mereka berdua. Bersimpuh lalu memandang wajah pria itu. “Tuan, bagaimana keadaanmu? Sepertinya tadi kau menelan cukup banyak air dan, kenapa bisa tiba-tiba terjatuh ke lautan seperti itu?”

“Iya, Oppa kau ceroboh! Huhuhu!” wanita muda itu memeluk sang pria sekilas.

Pria itu terbatuk-batuk, dan saat ia balik memandang wajahku, alih dari menjawab pertanyaanku, dengan ketakjuban di matanya yang terpantul dalam binar-binar, ia berkata, “Merah.”

“Apa?”

“Nona … matamu tadi … di dalam air, berwarna merah.”

Pria itu perlahan-lahan mengangkat tangannya, ia bawa jemarinya menyentuh kulit pipiku. Dingin, tempat dimana pria itu menyentuhku terasa dingin. Namun kenapa timbul titik-titik peluh di keningku? Jemarinya dingin seperti es, namun wajahku panas, dan semakin memanas.

“Wajahmu … juga.” Lanjutnya, tangan itu bergerak dari pipi menuju keningku. Membandingkan suhunya sambil memandangiku keheranan. “Apa kau demam? Wajahmu sangat merah … dan kau berkeringat sangat banyak.”

Aku tidak bisa bergerak. Pria itu hanya terus menatap diriku. Mulai yakin dengan asumsinya, “Naeun-ah, aku sudah baik-baik saja. Jadi tolong antarkan Nona ini untuk beristirahat. Sepertinya dia sakit.”

“Aku—tidak apa-apa.” Aku mengangkat tanganku sendiri untuk mengkover tangannya di dahiku. Dengan senyum, “Tidak apa-apa, aku sangat sehat, Tuan.” Ulangku.

Pria itu meyakinkanku sekali lagi, “Choi Sooyoung?”

“Hah? Tu-tuan, apa maksudmu?” setengah berteriak, karena aku terkejut pria ini sadar siapa aku. Situasi yang sangat jarang aku alami sebab meski Girls’ Generation adalah girlgrup yang sangat populer, namun hawa keberadaanku di pentas sangatlah sedikit dan langka orang-orang mengenalku sebagai sosok selebritis.

“Kau Choi Sooyoung, ‘kan?”

Tidak—jelas-jelas aku tidak sehat—ada yang aneh denganku. Ada yang aneh dengan tubuh ini. Cucuran keringat di dahiku semakin membanjir, kali ini ditambah dengan jantungku yang berdegup-degup. Kencang seakan hendak melompat dari tempatnya. Apa yang kulewatkan di sini sehingga aku tidak mengerti apapun?

“Choi Sooyoung? Choi Sooyoung-unni?” dan wanita itu! Benar! Wanita itu dipanggil Naeun beberapa saat yang lalu! Mungkihkah—ia, Son Naeun yang terkenal akan kecantikannya itu?

Bila ia Son Naeun, maka pria ini siapa? Bila kuamati lebih dekat, aku tidak asing dengan wajahnya. Malah, sesuatu dalam diriku merasa, bahwa aku sangat mengenalnya. Ia berkelakar hangat, bersinar—seolah-olah sekelilingnya dilindungi oleh cahaya, dan kata-kata yang ia keluarkan sangat lembut—terdengar seperti rayuan manis. Bukan orang asing. Aku yakin orang ini—

“Begitu, ya. Doojoon-oppa, betul ini Sooyoung-unni.”

Doo—Doojoon?

Unni ini adalah Choi Sooyoung yang itu, sudah jangan menyebut namanya lagi. Unni sepertinya tidak nyaman.” Naeun meraih tanganku. “Ayo, Unni. Aku akan mengantarmu beristirahat, tubuhmu juga pasti masih kedinginan, kau harus cepat ganti baju.”

Gawat. Ini sangat gawat.

“Ah—”

Ucapanku terpotong oleh tindakan Ise yang mengambil pundakku dengan lengannya, menanam wajahku di dadanya. Di antara lengan Ise, aku mendengarnya berbicara pada Naeun dengan nada manis, “Terimakasih atas perhatianmu, Nona. Tapi karena kau sudah menyadari situasinya, biar aku yang mengurus sisanya. Sebab saat ini, wanita ini adalah tanggung jawabku.”

“Oh. Apa kalian datang bersama?”

“Ya.” Jawab Ise singkat. Masih rangkulku erat.

Beberapa detik kemudian, Naeun bersuara lagi, terdengar tidak nyaman, “Oh—kalian pasti sedang berkencan juga. Ma-maaf sudah mengganggu.”

“Tidak!” meski wajahku terpendam di antara lengan Ise, tentu saja aku harus memekik bila ada yang bilang begitu soal kami. Di sisi wajahku Ise tahu-tahu menghembus napas panjang, entah karena apa.

“Sooyoung-unni—”

“Psssh, cukup sampai di sini, Nona.” Ise menaruh satu jadi di bibirnya, seraya mengedip ia mengatakan sampai jumpa, “Aku menyesal harus berpisah dengan wanita secantik dirimu. Namun kita pasti akan bertemu kembali di bawah sinar bulan. Ja, ne.”

***

Aku membungkus diriku sendiri dengan selimut tebal. Tidak berhenti bertanya-tanya perihal insiden aneh tadi, terutama yang paling mengganggu pikiranku, adalah Yoon Doojoon. Selimut menutupi setengah wajahku, menyisakan setengah hidung dan mata. Ise memperhatikan tingkahku sembari duduk di kursi yang menghadap kasurku—menyamping jendela. Kondisi ini sudah berlangsung kurang lebih tiga puluh menit.

“Hei … kau tahu kenapa?”

“Kau tidak cerita, bagaimana aku tahu apapun?” Ise mengeluh, menekan-nekan ujung jemarinya satu sama lain.

“Sepertinya kau kesal?”

“Misiku untuk menangkap orang itu gagal karena kejadian tadi. Terimakasih berkatmu. Ya, aku cukup kesal. Untungnya bertemu wanita cantik membuatku kehilangan kekesalanku untuk beberapa menit. Namun melihat tingkahmu yang begitu membuatku kesal lagi.”

“Hei … kau tahu—”

“Aku tidak tahu.”

“Aku belum selesai!” pekikku, tanpa ku sadari bibirku mengerucut di balik selimut. “Tadi wajahku terasa panas dan keringat membanjiri dahiku. Padahal seharusnya aku kedinginan sehabis menceburkan diri ke laut di tengah malam. Jantungku juga berdetak lebih cepat daripada biasanya. Padahal aku tidak sedang kelelahan. Tanpa sebab yang jelas, semua itu …,”

Kelopak mata Ise berkedip sekali, kemudian membelo. “Be-benarkah? Kau … bisa merasakan hal seperti itu padaku? Mengejutkan juga, ya.”

“Bukan. Bukan padamu. Aku merasakannya ketika pria itu memandangku lekat. Yoon Doojoon. Kenapa ya kira-kira?”

 Tampak kecewa. Ise terdiam sejenak, merangkai deduksi dalam kepalanya dan mulai bertanya, “Kau tidak tahu?”

“Makanya aku bertanya padamu.” Aku meragu sesaat. “Sepertinya aku sakit, iya ‘kan?”

“Sakit? Yah,” Ise mengeringkan tenggorokkannya, lantas melanjutkan, “sakit atau bukan, ini juga cukup sulit bagiku menjelaskannya. Biar aku tanya sekali lagi, bagaimana kondisi tubuhmu bila berhadapan dengan Jung Kyungho?”

“Sehat-sehat saja.”

“Tidak ada indikasi-indikasi seperti barusan? Wajahmu dan jantungmu rasanya bagaimana?”

“Rasanya fit.” Jawabku.

“AHHH!”

Aku ikut terlonjak karena teriakan Ise, “Jangan tiba-tiba berteriak!”

Menutup wajahnya, bersisakan sebelah matanya untuk menatapku, Ise bicara sesuatu, merupakan pernyataan teraneh yang ia keluarkan hari itu. “Aku tidak mau mempercayainya. Aku tidak menyangka kau akan mengalaminya pertama kali karena orang lain dan bukannya aku. Tapi mendengar semua penjelasanmu, gejala-gejala yang kau alami … ya, kau sedang sakit, dan aku tahu apa penyakit yang kau derita.”

“Sudah ku duga! Apa itu? Meski kata-katamu tidak terjamin dan tidak layak dijadikan pegangan, namun aku ingin mendengar pendapatmu dulu!”

“Ah! Aku sangat tidak ingin mengatakannya kau tahu!”

“Kau membuatku penasaran!”

“Kau membuatku patah hati!”

“Hah?”

“Cinta. Kau menderita penyakit cinta.” Ise akhirnya memvonisku, lemas menengok ke samping—menghindari pandangannya dariku, ia memandang ke luar sembari bertopang dagu di sisi jendela. “Sepertinya … itu adalah cinta pada pandangan pertama.”

“Ise, kau gila?”

“Seandainya aku gila.”

Bahaya. Bila ia berkata begitu maka yang terjadi adalah kebalikannya: ia serius. Sungguh? Manik-manikku melotot dan menerawang jauh melewati batas yang aku tidak tahu. Tubuhku lemas dan perlahan-lahan kesadaranku menghilang. Tidak mungkin.

***

Yeyey! Terjawab bahwa orang incaran Ise adalah Doojoon! Tapi masih banyak sisa pertanyaan yang belum terjawab, dan masih ada karakter juga yang belum muncul yaitu Kim Myungsoo. Btw aku terharu ada yang baca dan ninggalin jejaknya di episode satu kemarin, makanya berikan pendapat kalian mengenai episode ini ya supaya aku semangat lanjutinnya ^^

Karena ada yang request ingin tahu seperti apa visual Ise, nanti aku gambar. Yang jelas dia bukan Haruma Miura, Shun Oguri, apalagi Kento Yamazaki sang pangeran dari negeri Shoujo Manga wkwkwk. Di episode berikutnya aku posting sekalian visual Ise.

Iklan

8 Comments Add yours

  1. iyanavhie berkata:

    Fani ini emang bisa banget bikin geregetan, bukan cuma karena ceritanya yang keren dan bikin penasaran tapi juga karena postingan kali ini. Aku sampe kaget, eh, kok pendek? 😔 biasanya kan kamu posting panjang 😭😭

    Makin penasaran sama ceritanya. Kenapa Ise ngincar Dujun? Buat diapain? Diculik? Dirampok atau dijadiin pacar (?)

    Keliatannya Ise ada rasa sama Sooyoung ya? Terus Naeun juga ada rasa sama Doojoon? Nantin Myung Soo ada rasa sama siapa? Apa mungkin aku? #plak

    Oke, Fan kutunggu lanjutannya iyaaa 😙😙

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Aku sekarang Cepet hilang mood kalo nulis hehehe jadi pendek2 dulu aja… Semoga semakin bertambah chapter semakin panjang/?

      Suka

  2. Febryza berkata:

    Bahahahaha disebutin yg aku duga..

    Ciye ciye sooyoung jatuh cinta tanpa sadar ya ke doojoon, loh ise patah hati? Yah kasian bener anak satu itu. Tapi fan aku suka loh sama penggambaran friendshipnya sooyoung sama ise disini bikin senyam senyum sediri gitu bacanya sama kaya ngeliat momentnya sooyoung sama minho atau sama donghae *eh hahahaha*

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Aku juga suka sama Ise 😙😙😙

      Awalnya aku tuh ingin pake idol cowok untuk karakter itu tapi ga ada yang cocok /pernah sempet mikir Minho ato Kris/ tapi tetep aja menurutku gak cocok makanya aku buat jadi OC ajahhh

      Suka

  3. Nadya berkata:

    Asik ya kalo punya temen cowok kayak si Ise, meskipun kadang nyebelin. Tapi mereka berdua gemes banget huhu.

    Itutuh juga ya si Soo udah langsung suka suka aja gitu sama Dujun? Duh kretek gak tuh hatinya si Ise? Cupcupcup

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Gatau ya kretek ato enggak. Orang yang terlalu jujur macem Ise itu patut dicurigai /loh?/ Hahaha

      Suka

  4. diah ayu berkata:

    duh doojoon aku juga kalo dipandang sama kamu jadi dag dig dug..
    iih kok gemes yah bayangin punya temen kaya ise. dia itu aneh tp ganteng(entah bayangan dari mana). syoo pake acara bego segala lagi ga tau kalo dia punya rasa sama mas doojoon wkwk.

    Suka

  5. Indahfida5 berkata:

    Bikin greget aja penasaran ama ceritanya , doojung syka sama sooyoung , cinta pertama.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s