[FF] AL2 – EPISODE 01

Title: Apartemen Lantai Dua
Genre: Action, Fantasy, Romance
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung, Yoon Doojoon, Kim Myungsoo, Son Naeun, and some Original Characters.

al2-poster.jpg

[Halo! Wufanneey di sini. Muncul lagi ke permukaan setelah sekian bulan *haha* menghilang tanpa kabar. Soalnya terakhir postingan saya bulan Januari dan itupun bukan fanfiksi, sih. Saya dateng dengan fanfiksi ini: AL2. Bukan judul baru, prolognya udah di publish waktu 2016 silam *hahaha*. Inti ceritanya bakal sama, tapi genrenya saya ganti *kok bisa?* bisalah *hahahaha* soalnya pingin coba genre action lagi setelah sekian lama saya nulis CONNECTION … *krik* *btw season 2 nya ga dilanjut, maap ya*. Entah kenapa, saya udah lelah dengan fanfiksi saya yang kebanyakan parodi-komedi-fluff-drama yang itu-itu lagi *padahal buatan sendiri*. Yoshlah kalaupun ga ada yang baca gapapa *sebab wp ini udah kayak kuburan*, fanfiksi ini dibuat demi kepuasan pribadi sebagai fangirl kok. Enjoy!]

***

Episode 01

Pertemuan (1)

 

Ini adalah akhir percakapan tercanggung yang pernah aku lakukan, alami sendiri. Seingatku, selama dua puluh lima tahun aku hidup, aku belum pernah merasa sebingung ini. Aroma yang terpentin dari kayu manis adalah refleksi hidangan penutup malam itu. Satu-satunya yang menarik perhatianku selain alunan violin dan angin sepoi-sepoi dari arah lautan. Aku lelah dan ingin tidur, mungkin satu gigit puding lagi sebelum aku terlelap bebas di kamar kapal. Tetapi sekalimat sakral yang membingungkanku itu tidak membolehkanku berbuat demikian.

“Maaf, tapi … kita harus berhenti sampai di sini, Sooyoung.”

Kau tahu apa yang kakekku selalu katakan sebelum makan? Berdoa. Untuk ketenangan dan kedamaian. Untuk perhatian dan Ridha Tuhan. Jelas doa khidmat sebelum makan tak pantas diakhiri dengan situasi menyedihkan. Berbahagialah selagi kau bisa makan, oke? Jadi aku mengambil tisu karena hampir tersedak potongan puding yang belum hancur sempurna dalam kunyahanku. Kyungho menatapku dengan ragu dan bersalah di wajahnya. Aku selalu menyukai ekspresi wajahnya namun tidak untuk yang satu itu.

“Sooyoung …,”

“Tu-tunggu sebentar,” violin itu masih melantun, begitupula angin malamnya, dan getaran-getaran kecil di meja makan karena ombak. Aku mencoba meraih tangan Kyungho tapi pria itu mencegahku sebelum terjadi. “maaf, tapi, … aku selalu cuci tangan sehabis dari kamar kecil, Jung Kyungho.” Kataku tersinggung.

“Maaf.”

“Hei.”

“Sooyoung-ah, aku ingin kita berpisah saja.”

“Hei—tidak, ini malam romantis kita, bukan?” dengan semua ini—rencana seharian yang kau atur sempurna, kencan dari pagi hingga makan malam di kapal pesiar mewah, persiapan yang kau buat ini, kukira kau akan melamarku sebagai adegan klimaksnya! “Kau … pasti punya penjelasan kenapa tiba-tiba mengatakan itu.” Aku coba menghadirkan segala dugaan postif selagi—

“Kau tahu apa alasannya.”

“Aku tidak tahu.”

“Choi Sooyoung, jangan membuatku mengatakannya.” Kyungho mendesah dan lagi-lagi tampak bersalah, kerutan di dahinya, keras rona wajahnya adalah pertanda yang sekali lagi, membuatku iritasi hanya dengan memandangnya.

“Kalau itu yang kau maksud. Aku kira kira kita telah selesai membahas itu, oke?”

“Itu hanyalah penyelesaian sepihak darimu yang tidak pernah aku setujui!”

“Hhh …,” aku tak habis pikir menghadapi pria ini. Aku sudah memberikan semua yang dimauinya tapi apa balasannya untukku? Menjadi seorang pembantah! Maka aku memutuskan, “Apa lagi? Apa lagi yang kau mau dariku? Apa yang belum aku lakukan untukmu?”

“Aku ingin kita berpisah baik-baik.”

Oppa!”

“Choi Sooyoung, buka matamu! Aku mohon.”

“Aku selalu melihatmu,” aku merengek padanya.

“Aku juga. Aku menyukaimu. Tapi aku pria brengsek.”

“Aku menerimamu apa adanya, Oppa.”

“Bagian itulah darimu yang membuatku takut, Sooyoung-ah. Kau melihat semua kekuranganku dan berlaku seolah tak tahu apa-apa.”

“Apa yang salah dengan itu? Ketidaktahuanku membuatmu bahagia, ‘kan? Aku suka padamu, Oppa. Aku rela lakukan apapun untukmu!”

“Melakukan apapun untukku? Ah—aku paham. Maka sejak awal kau menerima cintaku pun dengan rasa kasihan, karena kau rela melakukan apapun untukku, begitu? Faktanya, kau tidak pernah benar-benar melihatku apalagi menyukaiku.”

“Jung Kyungho,” gertakku, karena percakapan panas yang malah melenceng dari topik awal. Apa yang baru saja ia katakan? Aku sulit mempercayainya! Kalau selama ini aku tidak menyukainya, untuk apa aku berkencan dengannya? Aku atau ia yang bodoh? Apakah kami pasangan bodoh?

“Kalau begitu aku tanya,” Kyungho menyorot lekat ke dalam dua bola mataku, hitam dan menuntut. “Apa yang kau sukai dariku?”

“Aku—” aku menyukai ekspresimu. Seperti apa ekspresi yang kau buat ketika bahagia aku menerima pernyataan cintamu, ketika kau ketakutan menonton film hantu, ketika kau tertawa melihat porsi makanku, aku—aku—semua itu … apakah bukan jawaban yang kau mau?

“Tidak bisa menjawabnya?”

“Aku—” ucapanku sedikit tersendat sejurus kemudian, pikiranku terpecah kemana-mana, terutama momen-momen kebersamaanku dengan Kyungho. Pasti ada. Pasti terletak di suatu tempat perasaanku yang sejati untuk Kyungho, aku hanya perlu mencarinya.

Kyungho masih menunggu.

Oppa, aku—” tanganku menjadi dingin tanpa sebab yang jelas, denyut jantungku melemah, bersamaan dengan kebingungan yang menggaris rautku, aku bicara dengan suara pelan, “—aku mengira-ngira jawaban apakah yang ingin kau dengar.”

“Hah.”

Gagal. Aku gagal meyakinkannya untuk tinggal. Itu hasilnya setelah kutelisik mimik mukanya lebih jauh dan mendapati kekecewaan tertinggal. Aku pun kecewa pada diriku sendiri.

“Yah, lagipula, ini bukan masalah simpel yang akan terselesaikan gara-gara kau bisa menemukan alasan atas rasa sukamu padaku. Haha, bodohnya aku.”

“Kau … akan tinggal di sisiku?”

“Ini murni keputusanku. Aku tetap akan  pergi. Aku harap kau rawat dirimu baik-baik karena aku tidak akan memintamu menemaniku ke gym lagi.”

Jahat, umpatku. Berusaha menghiburku? Senyum palsu yang memuakkan. Aku benci orang-orang bila memperlihatkan sesuatu yang membuatku ingin muntah, sebab yang aku ingin lihat adalah ekspresi bahagiamu itu, senyum hangat dan tulusmu yang biasa itu, aku ingin melihatnya.

“Oh … tampaknya kau lebih tenang sekarang. Seakan kau sudah terbebas dari kekanganku, dan bisa lari kapanpun pada wanita itu? Si Jalang, betul?” amarahku, kekesalanku—membuahkan tebakan pedas dari mulutku dan dibalas tamparan oleh Kyungho. Tamparan yang masih kuingat kencangnya hingga saat ini, panas dan sakitnya mungkin yang pertama dan terakhir bagiku—juga sedikit menyebabkan trauma.

“Maaf tapi kau sudah keterlaluan.”

“Kau yang keterlaluan,” balasku dengan ringisan yang dilebih-lebihkan agar Kyungho batalkan niatannya pergi. Sayang ia tetap akan pergi, meski sebelumnya memanggil pelayan untuk mengantarkanku ke fasilitas kamar tidur dan mengusapi pipiku dengan sapu tangannya yang kuberi ketika musim dingin pertama kami—dengan sayang.

“Tolong pastikan ia istirahat, atau setidaknya jangan biarkan ia pulang sendirian malam ini.” Pesan Kyungho pada nona pelayan itu untuk kedua kali—ia mencemaskanku, huh, tindakannya tak bisa bohong.

Begitulah ceritanya. Beberapa menit yang lalu aku punya seorang kekasih yang lumayan tampan dan lumayan kaya, karirnya sebagai aktor senior lumayan bagus, dan prestisenya di mata orangtua dan teman-temanku cukup terjamin. Pekerjaan yang menuntutku berperilaku di depan kamera mendatangkan titel bahwa—aku, Choi Sooyoung anggota girlgrup Nasional dan aktor Jung Kyungho, kekasihku—adalah pasangan terlanggeng menurut netizen, kami dinilai cocok dan diprediksi akan melangkah hingga jenjang yang lebih serius. Wanita mana yang tak bangga akan hal itu? Namun beberapa menit kemudian aku hanyalah wanita kurang beruntung yang diputuskan secara kejam—ditampar pula. Disebabkan kekasihku yang kubangga-banggakan itu  tadi, ternyata punya wanita lain di hatinya—atau sebenarnya, wanita itulah yang ada di hatinya sekarang.

Tengah damai-damainya aku merenung, tiba-tiba—

Tuk!

Aku mendengar itu.

Tuk, tuk!

Ya, suara ujung kuku jari telunjuk yang beradu dengan kaca jendela. Kaca jendela! Siapa orang kurang kerjaan yang akan dan bisa mengetuk kaca jendela kamar yang mengapung di tengah laut. Secara teknis, orang iseng itu bisa saja sengaja berjalan di sisi tubuh kapal dengan bantuan tali pegangan untuk mencapai jendela kamarku dan mengetuknya tiga kali. Naas secara logis, adapun orang seperti itu, maka ia tidak waras.

Tuk!

Sebelum ketukan ke lima aku bangkitkan diri dan membuka jendela itu. Kepalaku bersiap dengan jeritan kebakaran atau pemberitahuan darurat nahkoda kapal barangkali di depan ada pusaran air raksasa, bukannya seraut wajah nyengir seorang pria Asia. (Karma memang berlaku—yang aku bilang orang tidak waras barusan nyatanya adalah rekanku.)

“Bagaimana kabarmu, Nona Manis?”

“Ise.” Keluhku. Membiarkannya saja masuk dengan ketidakwajaran yang memang telah mendarah daging selama ia berdiam di Korea. “Bentuknya persegi, berengsel di salah satu sisi panjangnya, dan berfungsi memudahkan orang masuk ke suatu ruangan. Namanya pintu. Paham?”

“Aku tidak terbiasa masuk lewat cara itu.”

“Kapan kau akan terbiasa? Semua orang normal menggunakan itu. Kau bahkan bukan Arséne Lupin yang perlu mengendap-endap memasuki kamar seorang gadis!”

“Di matamu, Arséne Lupin sepertinya orang mesum.”

“Bagaimanapun juga, Arséne Lupin adalah laki-laki,” dan semua laki-laki itu mesum, lanjutku tanpa menyuarakannya, cukup dalam benak sebab tatapan tajamku mampu membungkam omong-kosong Ise sementara waktu.

“Bicara soal laki-laki, aku turut menyesal atas kepergian Jung Kyungho.” Nah kan, apa aku bilang, hanya sementara waktu.

“Dia tidak mati!” aku menjitak kepalanya. Aku bahkan tidak ingin bertanya kenapa ia tahu soal kandasnya hubungan percintaanku dan apakah ia datang kemari karena menguntitku.

“Oke ….” katanya, sengaja dilamat-lamat, “jadi bagaimana, ingin aku menghiburmu? Aku punya banyak trik baru—kau harus lihat!” Ise bersemangat sekali tapi aku tidak punya tenaga tersisa—pikiranku agak terkuras oleh satu masalah kecil yang Kyungho buat. Ingin aku mengusir Ise tapi pria itu sudah jauh-jauh datang kemari dengan taruhan nyawa, aku tidak setega itu ….

“Sebenarnya, Ise, maaf sekali tapi—aku ingin tidur.” Mataku telah setengah terpejam ketika mengatakan itu.

“Baiklah ayo kita tidur!” dengan gembira, Ise melepas jasnya dan mulai mempreteli kancing kemeja birunya. Aku menendang lututnya, sebelum membanting bokongku di tepi kasur.

Selesai mengaduh Ise membuka mulut, “Uh, kejamnya.”

“Baiklah. Ada apa?” tuntutku, tanpa sedikitpun tertarik dengan apapun yang akan ia katakan. Aku lebih tertarik pada kemeja barunya yang licin itu, sepertinya karena kemeja birunya yang lama aku robek kemarin lusa. Salahnya sendiri karena masuk dan bersantai di rumahku seenaknya (terkutuklah keahliannya membobol password apartemen). “Ise, kau tidak akan pergi sebelum aku mendengar permintaanmu, ‘kan?”

Sembari menjentikkan jari dan seolah neon menyinari puncak kepalanya, Ise menarik simpul ceria, “Betul sekali! Aku tidak akan pergi—karena, yah, orang yang kucari ada di kapal ini.”

“Hm?” aku merenggangkan alis dan kelopak mataku pertanda jengah. Ise dan misi rahasia negaranya atau apalah itu. “Direct instruction, please.”

“Itu, lah. Apalagi?” Ise tampak enggan mengatakannya. “Aku butuh bantuanmu.”

“Bantuan? Baiklah, Isezaki-kun.” Aku mengambil dan menghembuskan setali napas pendek. “Siapa orang itu?”

***

Isezaki Chika. Manusia yang dideportasi dari negeri asalnya karena—aku tidak tahu apa alasan sebenarnya, tapi yang ia akui—ia tengah melakukan penyelidikan rahasia negaranya. Negara! Ia bilang ini adalah masalah negara, tentu saja aku tidak percaya. Ise adalah seorang Japanis yang kukenal sejak debutku di Jepang bertahun-tahun silam. Bisa dibilang, kami adalah teman masa kecil. Pekerjaannya? Semacam … agen rahasia? Buruh? Pesuruh? Entahlah—ia agak urakan semenjak dikeluarkan dari kepolisian tempatnya mengabdi dulu. Mengejutkan juga, faktanya orang seperti Ise adalah mantan aggota polisi.

Kalau saja ia tidak gila sejak saat ia berganti pekerjaan, tentu aku tidak akan malu mengakuinya sebagai temanku—ditambah, bilamana ia mau sedikit waras dan merawat diri, dilihat dari sudut manapun ia adalah pria tampan. Amat disayangkan.

“Ikut aku.” Tangan Ise yang berlapis satin menuntunku ke koridor kapal. Kami berjalan dengan kecepatan sedang, maka aku merasa genggaman erat tangan Ise sepertinya tidak perlu.

“Hei, ini,” aku berbisik.

“Ya, ruangan tempat kau dan mantan kekasihmu makan malam tadi. Kau bahkan belum memesan martini kesukaanmu itu tapi skenarionya telah berakhir, hahaha.”

Manikku memicing, mendeliknya tajam. Lalu, plak! Aku memberi lehernya hadiah kecil. “Ada nyamuk di lehermu.” Dustaku.

“Pukulanmu itu bagaikan tebasan petir bagiku, kau tahu.” Artinya: itu sakit, berhentilah menyiksaku.

Itu salahnya karena terus menggodaiku perihal putusnya hubunganku dengan Jung Kyungho. Di satu sisi aku menghargai leluconnya yang mencoba menghiburku tapi di sisi lain aku melampiaskan amarahku padanya karena—aku tidak bisa memukul Kyungho-oppa tersayang di sini, jadi aku memukul Ise sebagai gantinya.

“Itu, lihat, di sana,” Ise tahu-tahu menunjuk sesuatu dengan dagunya, seseorang. Aku bertanya-tanya kemana arah pandangannya. “jangan terlalu inten.” Peringatnya hati-hati.

“Yang mana, sih?”

Pundakku sedetik berikutnya mendapat rangkulan, membuatku bergeser sedikit dari tempatku berdiri dan melihat seorang pelayan menunggu roda berisi piring-piring kotor untuk lewat. Tersadar, aku menghalangi jalan! “Ah, silahkan.” Aku mengeyampingkan tubuhku dan sang pelayan wanita mendorong rodanya setelah menundukkan kepala sebentar. Begitu tersadar akan hal lain, aku menatap Ise dan pria itu cepat-cepat melepaskan rangkulannya.

“Jadi, yang mana orangnya tadi?”

“Pria tinggi yang makan malam bersama pacarnya—” aku menyikut perut Ise. “—uhuk! Bukan kau! Aku bicara soal orang yang incaranku itu! Kenapa sensitif sekali? Untuk ukuran seorang wanita yang bahkan tidak menangis ketika tahu kekasihnya berselingkuh—”

“Ise,” geramku.

Hai, hai, Ojou-chan, kau lihat? Tuan yang di sebelah sana.” Ise menunjuk punggung seseorang dengan sorot mata penuh keyakinan. Pria itukah? Pria bersetelan kasual yang berdiri berdampingan dengan seorang wanita di pinggiran kapal?

“Pasangan yang berbahagia itu? Maksudmu, kau mengincar pria itu?” Ise mengangguk yakin. Justru akulah yang tidak yakin—semenjak ia bukan lagi seorang polisi lalu tertarik dengan dunia sulap dan keintrikan sejenisnya, jujur saja—kepribadiannya jadi tidak meyakinkan.

“Uh-oh, mereka bukan pasangan bahagia. Sayang.”

Sayang? Batinku geli.

Membiarkan aku mendengar penjelasan Ise berlanjut, “Sang wanita jelas-jelas telah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan pada sang pria, belum lama, namun cukup menyakitkan.”

Bertepuk sebelah tangan? Tidak mungkin. “Tapi senyumnya selebar itu, wanita itu …,” elakku.

“Seolah-olah tidak ada hari esok, betul? Itu karena sang wanita sangat bahagia hari ini, akhirnya sang pria menerima ajakan kencannya meski bisa jadi ini yang pertama dan terakhir.”

Selain menjebol password apartemen tanpa alat bantu, ia juga punya kemampuan merangkai asumsi aneh dalam sekali lihat. Aku prihatin kalau tahu inilah faktor mengapa ia diberhentikan sebagai polisi di Jepang. “Rancu sekali.”

“Analisaku tak pernah meleset, maksudmu? Terimakasih.”

“Ya … sama-sama.” Sahutku malas. Ise memang selalu sepercayadiri itu lagipula, biarkanlah. “Berarti kau juga bisa mengira, kenapa pria itu tidak menerima cinta sang wanita?”

“Kenapa, ya?” Ise tersenyum misterius. “Kau pikir kenapa? Akan aku beri penghargaan bila kau tahu jawabannya.”

“Jawabannya?” aku terhenyak sesaat. ”Jawabannya … tidak ada alasan … untuk saling menyukai?” ugh. Aku teringat pertanyaan Kyungho tadi. Alasan untuk menyukai. Tanpa kusadari selama ini, aku masih saja memikirkan apa alasanku menyukai Kyungho ….

“Aku ingin sekali memberimu penghargaan. Tapi bukan itu jawabannya.”

“Lalu apa?”

Menatapku tenang tepat di mata, dan tatkala ia menjawab dengan kebanggaan dirinya yang berlebihan itu, “Tentu saja karena dia adalah targetku, sang Chollima.”

—terdengar jelas suara massa besar tercebur ke air.

***

(bersambung)

Pairing yang utama belum ditentukan. Bisa jadi dengan rencana awal Doojoon/Sooyoung, atau Myungsoo/Sooyoung, atau malah OC!Ise/Sooyoung wakakak. Enaknya aja nanti sama siapa (?).

Btw. Hei-hei. Adakah yang bisa nebak siapa pria incaran Ise? Doojoon atau Myungsoo? Dan apakah chollima itu? Kenapa Ise mengincar chollima dan kenapa dia minta bantuan Sooyoung? Hayooo—aku juga bingung jawabnya ahaha *digeplak*

Iklan

12 Comments Add yours

  1. Chansoo berkata:

    Ciee yg comeback ..
    Finally fanny apdet fanfic juga
    Meskipun di awal aku rada2 bingung sama si ise, kirain tuh ise nama jepang dari myung atau doojoon, eh raunya oc 😁. Btw ada perubahan genre dari komedi drama ke action juga nih seruu, tapi kok aku tetep ketawa baca nih ff 😂
    Next part di tunggu yaa 😘😂

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Kok bisa tetep ketawa? Udah bukan komedi nih wkwkwk. Makasih ya udah komen :*

      Suka

  2. iyanavhie berkata:

    Fannii, aku kangen sekali tulisanmu T.T sebenernya aku udah baca yang karakter cowok dua dimensi itu, tapi bingung mau komen apa soalnya gak terlalu suka anime atau manga 😀

    Seneng banget akhirnya AL2 diposting juga. Genrenya bakal keren banget kayanya, Fan. Aku suka yang action-action (kalo ada Dujun didalemnya). Ah, Dujun sekarang bukan Beast, ya? Tapi Highlight T.T

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Iyahhhh aku juga kangen nulis dan baca komentar readers makanya… Dan sekarang dujun HIGHLIGHT (hai-lai-teu). Bilangnya hateu aja biar gampang wkwkwk.

      Suka

  3. Febryza berkata:

    Eh halo fan, long time no comments on your fic hahahaha

    Ise itu siapa? Kok aku pas baca ini langsunv kebayang haruma miura atau shun oguri *lol*

    Chollima? Doojoon kah? Terus kenapa si ise ini minta bantuan sooyoung? Emang sooyoung bisa apa? *Digatak sooyoung*

    Duh seandainya beneran pasangan langgeng itu putus hahahaha

    Fan fan closed radio gamau dilanjutin lagi?

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Aduh nagihnya closed radio mulu wkwkwk gimana yah inginnya sih dilanjut tapi cuma kamu yang baca entar wkwwk

      Suka

      1. Febryza berkata:

        Yaudah gausah dipost tapi kirim ceritanya ke email aku aja kalo gitu fan hahahaha

        Suka

      2. Yang Yojeong berkata:

        Mau banget ya, okedeh aku post 😏

        Suka

  4. Nadya berkata:

    Wow wow wow. Aku ketawa-ketawa baca ff kakak pas guru lagi jelasin materi sistem pernafasan hewan dikelas.

    Ise? Huhu kamu kok lucu? Penasaran wujudnya gimana, emang siapa sih? Kasih aku gambaran juseyo 😭😭😭

    Ngakak banget suer, berasa songong banget tuh si bocah. Myungsoo aja dong yah yah? Udaah jarang banget nih baca ff myungyoung, aku kangen 😭😭

    Suka

  5. sifika berkata:

    coba aja pernyataan diatas bener (putusnya jungkyungho-sooyoung), aq bener2 bersyukur :v (ngarep banyak)

    *seketika jadi fans durhaka:v

    Suka

  6. diah ayu berkata:

    wkkk sekian lama tidak baca ff dan diputuskan buat ngunjungin web ini.. terobati juga rasa kangennya. suka sama pairing soo-joon. ini juga lucu kocak si syoo gayanya macem2. ise juga lucu.. jadi bayangin wajahnya ise…

    Suka

  7. Indahfida5 berkata:

    Bingung aja bacanya, tetep pengen baca AL2😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s