[FF] SOSIS + DODOL – EPISODE 07

Title: SOSIS + DODOL

Genre: Friendship, Parody

Length: Series

Sosis: SNSD, BIGBANG, BEAST, Infinite, BAP.

Dodol: SHINee, MBLAQ, VIXX, KARA, 4minute.

Summary: Kami tertawa dan bercanda, bertengkar lalu berdamai, bertingkah bodoh atau bersikap konyol, menjahili orang lalu melarikan diri, semua dilakukan bersama-sama. Kehidupan keseharian kami … akahkah selamanya dapat berjalan seperti ini?

***

10 – Malam Minggu Sooyeon

Okay, di episode kali ini tampaknya aku yang kebagian bercerita. Absen sepuluh, Jung Sooyeon. Aku memang tidak terlalu menonjol di kelas. Sebab aku bukan murid kebanggaan para guru seperti Joohyun, ataupun murid yang kerap kali kena omel seperti Junhong. Bisa dibilang, aku ini murid hantu. Keberadaanku tidak banyak berpengaruh di kelas.

Tapi, karena sebuah insiden di suatu pagi, anak-anak cowok mulai sering mengajakku berbincang. Walaupun tujuh puluh lima persen dari perbincangan itu menjurus pada adik perempuanku satu-satunya, Soojung.

Oh iya, berbicara soal Soojung, dia sudah punya pacar. Namanya? Kai-tem.

*

“Jangan memanggilnya seperti itu, Unni!” rengek Soojung.

Ja. Geurae …,” Sooyeon teringat panggilan yang dibuat Jiyong untuk pacar Soojung, “Jongi-tem?”

“Hari ini Jongin mau berkunjung ke rumah, Unni jangan terlalu keras sama dia, yah?” Sooyeon menghentikan kunyahan biskuitnya. Ujung mata melirik Soojung yang duduk di sofa dengan ekspresi takut-takut.

“Kenapa baju kamu kayak gitu, kamu mau pergi?” selidik Sooyeon. “Apa rok itu nggak kependekan?”

“Jongin ngajak aku dinner,” Soojung mencicit. “Boleh ‘kan?”

“Che, orang susah kayak dia sok-sokan ngajak dinner.”

Unni!”

Beberapa menit setelah Jongin datang …

Unni, ini maksudnya apa?”

“Oh, ini?” ada senyum sinis di muka sang kakak.

Pasangan muda-mudi Soojung-Jongin seakan siap dikuliti hidup-hidup hanya dengan tatapan Sooyeon. Terlebih Jongin yang cengar-cengir terpaksa sebab tangan sudah gatal ingin menggrepe bersama Soojung. Eits! Jangan salah paham, menggrepe di sini maksudnya main kartu.

—jreng!

Sooyeon memamerkan tas Ted Baker sewarna safir keluaran terbaru yang pastinya bukan kawe, dia menyandar di sofa sembari bertumpak kaki, “Junmyeon, setiap kali ngapelin Soojungie, pasti bawain gue oleh-oleh macem ginian. Nah, elu, bisa beliin gue apa, Kai-tem?”

Nah, kan.

Boleh, Jongin gegulingan di lantai rumah pacarnya malam itu?

Tapi sayang, usaha disayang, kali ini Jongin tidak mengapel dengan tangan kosong. Dia membawa sesuatu, lebih tepatnya … seseorang. Jongin bangkit dari keterpurukan, ada efek latar belakang ombak dan api berkobar-kobar di matanya. Benar, waktunya Jongin beraksi! Rencananya pasti berhasil! Kalau dia bisa mendapatkan restu Sooyeon, dia akan menang telak dari si tukang mandi dollar, Junmyeon.

“Ekhem, gini, Mpok.” Sooyeon tersenyum merendah—kan. Syukur Jongin sudah bebal dibegitukan. “Sebenernya maksud gue ke sini, mau ngenalin Mpok sama Abang gue.”

“Cih. Kagak sudi gue, lu nya aja begitu, apalagi Abang lu.”

Seorang lelaki tahu-tahu memasuki ruang tamu keluarga Jung setelah mengucapkan permisi sebelumnya. Perawakan atletis, tinggi selayaknya anak basket, kulit putih, mata elang, rambut pirang, wajah kebule-bulean. Jongin menyeringai. Sooyeon meneguk liur.

Jongin persembahkan dengan bangga, “Kenalin Mpok, ini Abang gue.”

“Hai, gue Kris.”

HUWANJIIIR!

*

“Jadi, pada akhirnya, kamu ngasih restu resmi buat Jongin macarin Soojung?” tebak Miyoung, padahal Sooyeon belum menyelesaikan ceritanya hingga tuntas. Miyoung jadi penasaran Kris itu orang seperti apa sampai bisa membuat Sooyeon yang sebeku es saja mencair.

Sooyeon menggigiti ujung pensil, pipinya merona membayangkan wajah si Wu(tam)fan, “Pokoknya ganteng, tinggi, keren, uh … mirip-mirip lah sama Rui Hanazawa. Tapi yang jelas, dia nggak selevel sama anak-anak cowok di kelas kita.”

Telinga Nam Woohyun berdiri. “Helaw, Jung Sooyeon?”

*

Begitulah ceritanya. Apa? Tidak menarik? Hm, memang ku akui aku kurang pandai bercerita. Terlebih mengenai diriku sendiri. Aku harap kalian mengerti kepribadianku memang seperti ini. Tapi kalau kalian mau mengenalku lebih jauh, silahkan datang ke rumah bersama orangtua (jangan lupa buah tangannya), bila takdir mengizinkan aku akan membuka diriku sepenuhnya pada kalian. I’m available.

***

11 – I am you, you are I Bagian 2 (parodi Gintama)

 

Previous Episode:

Demi menghindari kewajiban bersih-bersih, Sooyoung kabur dari rumah. Dalam pelariannya, ia bertemu dengan Dongwoon, yang sedang dalam pengejaran menangkap Doojoon. Kemudian sebuah kecelakaan terjadi pada mereka berdua, sebuah kecelakaan tak masuk akal yang membuat kodrat mereka tertukar!

 

*

Kakofoni pagi hari di rumah Biseuteu; Junhyung menyiapkan sarapan, Yoseob menyapu halaman, Doojoon dan Hyunseung sudah membersihkan diri dan kini merapikan meja makan, Gikwang jelas-jelas masih tertidur di kamarnya—tidak aneh, karena yang paling aneh pagi ini adalah …

“BERISIK! INI MASIH JAM SETENGAH ENAM, BUBAR SEMUANYA!” prang! Gemerincing suara kaca pecah, kemudian Gikwang muncul dari pintu depan dengan kepala tertancap beling. Ia menangis darah.

“Waktu aku berusaha membangunkannya, dia ngelempar aku ke luar jendela!” raungnya dengan bola mata melotot. Dia yang dimaksud tentu saja Son Dongwoon yang dirasuki roh Choi Sooyoung.

Sementara di kediaman Sonyeoshidae ….

Pagi itu, Taeyeon terbangun dari tidurnya. Ia memang biasa bangun paling pagi daripada yang lain. Jelas itulah tugas seorang pemimpin. Seperti kebiasaannya, ia membersihkan diri dulu—gyurrr! Ah, mandi pagi memang segar luarbiasa. Setelah itu ia baru ke dapur untuk menyiapkan sarapan—

Flash! Jleb! Sebuah pisau lipat melayang dan tertancap di pintu kayu dapur, tepat di sebelah kepala Taeyeon. Helai-helai rambut sewarna tanah Taeyeon tertebas. Keringat dingin mengucur, kuduknya berdiri seketika. Sosok perempuan jangkung memakai apron pink berenda di counter dapur memberinya tatapan pembunuh.

“Pukul 05 lebih 34 menit 57 detik kau baru bangun dan belum membangunkan anak-anakmu, apa begini sikap seorang leader? Mulai sekarang aku menetapkan aturan harakiri bagi siapapun yang tidak disiplin!”

Harakiri? Kau pikir ini jaman penjajahan!”

Zrattt! Gunting melayang. “Pasal satu, siapapun yang protes harus dihukum.”

“GYAAAHHH! Choi Sooyoung kesurupan!” jeritan Taeyeon membangunkan seluruh penghuni kamar.

 

Satu-satunya orang paling idealis seharusnya—Son Dongwoon, yang kini terjebak dalam tubuh Choi Sooyoung.

*

Hari pertama sebelum memasuki gerbang Shinba menggunakan badan Dongwoon, Sooyoung menguap. Ia memilih naik bus dan meninggalkan motornya—motor Dongwoon—di garasi. Sementara anak-anak Biseteu yang lain menggoseh sepeda, mereka bilangnya sih sekalian olahraga pagi. Bah! Mendengarnya saja bikin malas.

“Apaan ini gaya rambut? Kuno banget!” runtuk Sooyoung di dalam bus. Ia mengaca lewat ponselnya. Rambut Dongwoon warnanya hitam pekat dan lurus, berponi panjang menutupi kening dan alis. Lalu Sooyoung mengeluarkan pome dari dalam ranselnya—barang yang ia ambil dari laci belajar Dongwoon. Ia oleskan pada poni, dibuatnya kening itu terlihat. Cling! “Nah begini lebih bagus.”

Dari samping terdengar cekakak-cekikik para siswi Shinba membicarakannya, “Lihat deh. Cowok itu keren ya.” Dalam pejam, Sooyoung tersenyum bangga.

Kemudian masuk rombongan siswi lain ke dalam bus itu, geng Sonyeoshidae. Dongwoon melihat Sooyoung, ia cepat-cepat mengambil bangku kosong di sebelahnya. Member lain duduk tak jauh dari mereka. “Choi Sooyoung, mana dasi dan jas seragammu?”

Mendengar suara menyebalkan—padahal itu suaranya sendiri, Sooyoung membuka mata dan melihat seraut wajah. “Hah? Apaan sih? Sesek tahu pakai dasi!”

“Kalau begitu kancingkan bajumu,” protes Dongwoon lagi, gerak tambah tangannya membetulkan kemeja Sooyoung yang terbuka. “cerminkan kalau Son Dongwoon itu teladan bagi siswa lain, jangan permalukan aku di sekolah!”

“Diem, diem! Kau nggak tahu apa membuka tiga kancing teratas kemeja itu Spanyol-oppa style?”

“Tapi aku bukan orang Spanyol, dan cara berpakaianmu ini menyalahi aturan sekolah kita! Kalau kau tahu diri, kau itu harusnya harakiri!” kesal Dongwoon, tangannya tak berhenti begitu saja.

Harakiri? Oke, kau mau aku bunuh diri dengan tubuhmu? Sehingga kau terjebak di tubuh itu selamanya? Mana ada laki-laki bicara tanpa komitmen seperti itu! Kau bilang jangan bertindak bodoh kemarin!”

“Ngaca, dong! Kau yang sudah bertindak bodoh!”

“Aku tidak dengar …,”

“YAISH!”

Member Sonyeoshidae lain melihat perdebatan dua orang itu sebagai opera sabun picisan. Pipi Hwang Miyoung bersemu menyaksikannya, “Uh, romantis …,”

*

Hari kedua.

[Shinba Today’s Hot]

 

Apakah Anda sekalian mengenal Son Dongwoon? Siswa yang terkenal akan kedisiplinannya? Hobi merajai chart dalam kategori akademik maupun spiritual? Dimulai dari kemarin, ia telah berpenampilan urakan untuk pertama kali! Hot Debut! Dengan kemeja yang sengaja tak dikancingkan dan jas seragam yang ia sampirkan di bahunya, ia sukses bertransformasi menjadi preman komplek! Bukan hanya itu, kelakuan aneh pun muncul padanya hari ini! Ia melangkah gontai dengan mata sayu dan wajah malas menuju kelas, tidur selama jam pelajaran, dan makan siang di kantin dengan kesetanan.

 

Namun entah mengapa, perubahan sikapnya ini malah mengundang perhatian kaum hawa? Setiap ia melewati siswi-siswi di koridor, mereka akan menjerit fangirling-an, lokernya membludak hadiah dan surat cinta penggemar, mejanya mendadak selalu dipenuhi gerombolan siswi, mau itu siswi kelasnya ataupun siswi kelas lain, dan anehnya … ia sama sekali tidak terganggu dengan itu! Malah sebaliknya, ia terlihat senang-senang saja menikmati kepopulerannya!

 

Maka dari itu, diramalkan meteor akan menghujani bumi.

 

Sekian Shinba Today’s Hot.

Yang bernyawa asli Dongwoon, sang pemilik tubuh asli laki-laki Son, mengambil kertas berita yang tertempel di mading itu lalu dirobek-robeknya dengan liar. Robekan kertasnya ia jatuhkan dan injak-injak dengan sepatunya. Ia ludahi dan tatap dengan penuh benci. Choi Sooyoung, grrr! Apa yang sudah kau lakukan pada image-ku! Gadis itu benar-benar harus di hukum gantung! Lihat saja!

“Sooyoung-unni, kau ini kenapa sih? Dari kemarin tingkahmu aneh.” Tanya dan khawatir Joohyun.

“Pasal dua, siapapun yang mempermasalahkan kepribadianku harus harakiri karena terlalu ikut campur!”

Joohyun membatu sedetik, lalu pura-pura menjatuhkan buku tidak dengar omongan Dongwoon. Benar, Son Dongwoon yang masa kecilnya di Manila lalu dideportasi ke Jepang lalu nyasar ke Arab sebelum bisa pulang ke kampung halamannya di Korea Selatan karena terlalu tampan, adalah yang ini.

*

Dongwoon selalu berharap ketika ia membuka mata ia dapat melihat wajahnya di cermin, bukan wajah Choi Sooyoung. Namun berlalu sudah hari ketiga dan semuanya masih sama semenjak ia ke luar dari rumah sakit karena kecelakaan. Ia sudah bingung cari alasan tiap kali ditanya oleh penghuni Sonyeoshidae mengapa tiap kali selesai mandi hidungnya mimisan.

Ia tidak tahan. Dagu rasanya mau copot melihat apa yang Sooyoung lakukan dari hari ke hari, bikin ulah tidak ada habisnya. Reputasinya di mata guru dan teman-teman sudah hancur. Tidak ada motivasi kenapa perempuan itu jadi begitu, mungkin karena depresi? Matanya bahkan hampir meloncat saking terkejutnya. “Lu nindik telinga gue? Curut lu! Sampah masyarakat!!!” makian-makian Dongwoon terlontar dengan begitu lancar.

Sooyoung menyelonjorkan kakinya ke atas meja. Dengan jari kelingking ia mengorek kupingnya seolah ia tengah menggali kubur untuk semua omong kosong Dongwoon. Sekeliling tampak tak begitu peduli dengan interaksi Dongwoon-Sooyoung yang—seharusnya—terhitung langka. “Lama-lama aku nyaman juga menggunakan tubuhmu, Son-ssi, soalnya kalau kencing nggak perlu repot—”

“Jangan—lanjutin—” bola mata Dongwoon berubah warna. “Ngomong-ngomong itu apaan?”

“Oh, ini,” Sooyoung mengeluarkan sekotak kecil yang telah terbuka bungkusan plastiknya dari kantong jas seragam. “rokok, mau?”

“LU MASUKIN NIKOTIN KE TUBUH GUE? BANGSYAAATTTHHH!”

Sekarang Dongwoon tidak yakin bisa hidup untuk empat puluh tahun ke depan.

*

Hari kelima.

Pusing kepala Dongwoon menghadapi kelakar Sooyoung. Padahal waktu masih jadi perempuan, dia tidak sebrutal ini. Perempuan sinting itu—makin menjelma menjadi laki-laki, di lain sisi yang ia runtuki, ia merasa Sooyoung versi laki-laki lebih jantan daripada waktu ia jadi laki-laki dulu—eh, tunggu, dulu? Huwa, bukan-bukan! Bu-bukan maksudnya ia nyaman menggunakan tubuh perempuan Sooyoung!

Tunggu, what.

“Semenjak aku merasakan pengalaman menjadi pria seutuhnya, aku menyadari bahwasanya pria-pria di seluruh dunia itu tidak ada yang berguna, mereka semua hanyalah upilnya kecoak.” Sooyoung merangkul pundak seorang siswi hits, Nicole Jung dari kelas Dodol. Ia mengerling pada cewek-cewek Kara di sekelilingnya. “Maka kalau kalian mau menemani oppadeul ini minum kopi sepulang sekolah, kalian akan diberi sedikit hadiah, bagaimana? Dan mungkin sedikit bonus di sana-sini …,”

“A-ah, Oppa—jangan pegang yang itu—”

“YA TUHAN!” tangis Dongwoon tak kuat menyaksikan lanjutan adegannya. “Siapa yang telah merubah gadis lugu itu menjadi playboy germo dalam beberapa hari? Hamba tak ingat pernah membesarkan putri seperti itu!”

“Cukup!” telinga Dongwoon berdiri. Ia menoleh ke belakang, itu Doojoon-hyung, bersama Taeyeon-nuna. Aura mencurigakan apa ini? Jangan-jangan mereka sudah tahu titik permasalahannya? Doojoon buka mulut, “Sehari dua hari aku masih membiarkanmu, tapi di kesekian hari … sudah sangat keterlaluan, semua tingkah lakumu tidak mencerminkan Son Dongwoon yang selama ini aku kenal. Kemana semua aturan kedisiplinanmu itu? Kemana perginya dongsaengku yang biasa menegakkan harakiri, hah!”

“Yoon Doojoon, Taeyeon-nun—unni,” ralat Dongwoon cepat—ia hampir saja menyebut nuna padahal wujudnya sekarang adalah Sooyoung. Taeyeon tersenyum keibuan lalu menepuk pundaknya sembari lewat. Maju ke hadapan Sooyoung lalu … PLAK! Digampar!

Sooyoung meyentuh pipinya yang kena tampar. “Untuk apa ini?”

“Untuk semua harapan yang Sooyoung taruh padamu! Aku mendengarnya selama ini, ia begitu menyukaimu! Ia bahkan menangisimu tiap malam! Tetapi bukannya membalas perasaannya, kau malah bermain dengan wanita lain di depan matanya! Yang upilnya kecoak itu adalah dirimu!”

Cha-chakammanyo.” Alis Dongwoon turun. “Kapan aku pernah menangisi si bodoh ini? Spekulasi darimana ‘aku menyukainya’ itu!”

“Tenanglah, Sooyoung-ah.” Doojoon mengusap-usap kepala Dongwoon seperti halnya menenangkan rengekan anak kecil. “Akan aku ajari lagi anak itu supaya kau tidak perlu cemas.”

“Cemas apanya! Kalian berdua salah paham!”

“Kau ..,” Sooyoung menatapnya dalam dan lama. “ternyata kau punya perasaan seperti itu padaku … Choi Sooyoung?”

“Napa juga lu ikutin peran skenario sampah ini! Gue bukan Choi Sooyoung!” Dongwoon frustasi, gara-gara fanfiksi ini ia jadi terlalu sering out of character.

*

Hari keenam, hari paling menjengahkan karena Dongwoon … sudah kehabisan darah untuk mimisan. Suatu siang, Sooyoung mengajak Dongwoon untuk berbicara empat mata, di atap sekolah. Dirogohnya kantung jaket, kemudian ia lembar amplop cokelat yang terlipat. “Pasti ada penjelasan di balik semua ini.”

Dongwoon memungut amplop itu, isinya adalah foto-foto sebuah mobil. Mobil kolbak yang waktu itu menabrak mereka. Terhenyak ia melihat satu-satu gambar bidikan itu, “Mobil ini?”

“Aku menyuruh orang-orangku untuk mencari informasi mengenai kejadian yang kita alami ini, tentu tidak ku katakan langsung bahwa aku yang mengalaminya sendiri, tapi Myung—maksudku fotografer andalanku berhasil memotret ini.”

Jawdropped. “Sebenarnya berapa banyak relasi yang kau buat menggunakan identitasku, sampai punya anak buah segala?”

“Kolbak itu tidak pernah ada.”

“Bagus—heh. Apa?”

“Myungsoo memeriksa CCTV di daerah itu dan menemukan rekaman kita. Ia berhasil mengetahui plat nomornya namun setelah dilakukan pencarian, tak pernah terdaftar nomor plat itu dimanapun. Sama halnya dengan hasil yang didapat Junhong, Seunghyun …,” Sooyoung menggelengkan kepalanya dramatis. “nol hasil. Kolbak itu tidak pernah ada.”

“Oi, kau membuatku takut.” Merinding Dongwoon, angin terasa lebih dingin menerpa kulit.

“Aku serius.” Sooyoung lalu menolehkan kepala, secara perlahan, menemui tatapan matanya. “Jadi simpulan yang aku tarik dari kejadian ini adalah … kita hanya perlu menerimanya.”

“Menerimanya?”

“Menerima keadaan kita sekarang. Aku, dan kau, mungkin kita memang seharusnya terlahir dengan sex seperti ini. Makanya aku akan berhenti memberontak.”

“Berhenti apa? Hei—ja-jadi tindakan tak senonohmu kemarin-kemarin itu aksi memberontak terhadap takdir? Tampil berantakan tak sesuai aturan, menindik telinga, merokok, berlaku tidak sopan, genit pada perempuan—semuanya kau lakukan karena kau tidak menerima tubuh itu? Sinting!”

“Oh—tapi yang terakhir itu beneran. Bukan karena menentang takdir.”

“Ap—”

“Dan, ya. Aku menyerah mencari tahu, dan mulai sekarang aku akan berlapang dada menerima keadaan. Jadi kau Son Dongwoon, harus melakukannya juga. Hiduplah dengan damai sebagai perempuan.”

“Maksudmu—aku harus … kita harus ….” ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Apa ini semua apa, apa artinya

“Hiduplah sebagai Choi Sooyoung selamanya.”

“TIDAKKKKKK!!!”

-fin-

“Tunggu dulu, apa-apaan? Ending macam apa itu?” Dongwoon menatap author, Sooyoung juga menatap author. Wajah melotot, seperti bukan idol yang biasa kalian lihat di stage dengan outfit keren dan senyum memabukkan, yang ada di hadapan author sekarang adalah kolaborasi dua pembunuh haus darah!

“Narasi macam apa itu!” oh tidak! Sooyoung bahkan bisa membaca narasi yang author tulis!

Dongwoon mengancam author dengan—dengan—tu-tunggu! Hardisk-ku! Harta karunku! “Aku belum pernah menjadi pemeran utama di fanfiksimu dan sekalinya aku muncul, dapat cerita parodi dari anime parodi yang sering memparodikan adegan parodi humor receh?”

“Be-bercanda, … pak.”

-fin yang bercanda, masih ada lanjutannya-

Sekian hari berlalu semenjak pertemuan di atap sekolah. Baik Sooyoung maupun Dongwoon sejak saat itu tidak pernah terlihat lagi di sekolah. Di rumah Biseuteu, tak ada kabar selain secarik surat berisi Dongwoon mengaku ia akan pulang ke rumah orangtuanya. Di rumah Sonyeoshidae pun sama, selembar bertuliskan ucapan perpisahan yang membuat Yoona menangis semalaman.

Satu bulan berlalu, ditandai oleh sebuah berita menghebohkan di seluruh Korea Selatan. Menjadi topik panas di in*tiz-ssi, p*ann-ssi, hot real time search di na*ver-ssi dan me*lon-ssi selama berminggu-minggu. Ditemukan sebuah pesawat alien yang setelah diteliti, para ilmuwa menyebutnya Deko*bokko. Para penganut aliran hermaprodit dimana peran perempuan dan laki-laki terdapat dalam satu tubuh saja. Mereka berhasil menciptakan suatu virus yang akan membuat seluruh penduduk di muka bumi memiliki dua jenis kelamin. Hal ini tentu saja membuat panik manusia, terutama Korea Selatan sebagai pusat dari keberadaan virus tersebut.

Namun … bagai turun tangan langsung dari Tuhan, dua orang utusan berhasil membobol markas alien Deko*bokko tersebut dengan mengaku sebagai pengikut mereka. Dua utusan tersebut kemudian menghancurkan virus tersebut dan kembali dengan gelar pahlawan seluruh muka bumi melebihi x*man dan dead*pool.

“Kau bodoh ya? Siapa yang bakal percaya cerita itu?” Sunkyu menguyah permen karet dengan malas, menanggapi tak minat cerita panjang lebar Sooyoung sekembalinya diia ke rumah Sonyeoshidae.

“Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku adalah salah satu dari dua pahlawan seluruh negeri tersebut!” koarnya bersemangat.

“Aku percaya.” Myungsoo tersenyum.

“Ya, kalian ‘kan pasangan bodoh.” Sunkyu melirik Sooyoung lagi, “Lalu siapa pahlawan yang satu lagi?”

“Itu …,” Sooyoung menerawang.

*

Rumah Biseuteu dipenuhi sorak sorai menyambut kepulangan Son Dongwoon, sang pahlawan pembasmi virus hermaprodit yang baru sembuh dari—pertukaran tubuhnya dengan Sooyoung (kini ia telah kembali normal berkat anti-virus yang dicurinya dari markas Deko*bokko).

Lee Sunkyu harus melihat enam orang bodoh yang berkumpul di sini agar percaya cerita itu.

***

 

Iklan

One Comment Add yours

  1. snowyautumn berkata:

    Aduh 😂😂😂😂😂
    Akhirnya beneran balik ke gender masing masing nih? 😂😂😂
    Dasar alien-alien gaada kerjaan! Hih!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s