[FF] SOSIS + DODOL – EPISODE 06

Title: SOSIS + DODOL
Genre: Friendship, Parody
Length: Series
Rating: NC untuk bahasa kasar
Cast(s): (hanya di episode ini) Choi Sooyoung [SNSD], Son Dongwoon [BEAST], SNSD personel, BEAST personel.
Summary: Aku si cantik, dan dia si … tampan. Harusnya sih jodoh, namun motto hidup kami berlawanan. (Bukan cerita Beauty and The Beast)

***

09 – I am you, you are I Bagian 1 (parodi Gintama)

Kesampingkan judul cerita episode kali ini yang malah mirip lagunya Zic* (Z: woy kampret napa nama gue disensor!), sebab orbit di episode kali ini bukan cowok brengsek diare yang baru putus (Z: giliran bahasa kasar nggak lu sensor, nyet!). Tapi—

BRUAGHHH!

Pintu terjerembab ke jalan karena di tendang, kepulan tanah mengepul di udara, menyamari wajah sang pelaku di belakangnya. “Uhuk-uhuk!” Sooyoung terbatuk-batuk, perempuan tinggi yang jadi korban memandang ngeri, melihat wajah Taeyeon memerah karena marah, ia sendiri memucat.

“Choi Sooyoung, giliranmu untuk piket hari ini.”

“Errr,” tertawa terpaksa, Sooyoung memicingkan mata mencari celah, dan ketika sebuah mobil melesat lewat di depan rumah, ia bergegas beranjak lalu sigap melompat ke luar pagar.

“CHOI SOOYOUNG!!!” Kim Taeyeon memekik, anjing penjaga rumah sampai terkejut dan bersembunyi ke dalam. Penghuni rumah yang tak lain adalah tujuh saudarinya yang lain, siswi-siswi kelas Sosis, tidak terganggu tuh … pasalnya memang sudah biasa.

Petir menyambar. Gemuruh di awan, mendung cikal bakal hujan, Sooyoung berlari kencang setelah menoleh ke belakang dan mendapati Taeyeon mengejarnya. Meski tubuhnya mungil, tetapi Taeyeon itu larinya gesit sekali! Seperti tikus! Hampir ketangkap Sooyoung bila saja ia tidak berinisiatif menaiki kolbak—mobil yang tadi melintasi rumahnya—guna menghindari cengkraman Ibu Monster Kecil itu.

Demi menghindari jadwal piket, semua ini dilakukan Sooyoung? Jawabannya adalah, “Iya! Mana mau aku bersih-bersih rumah yang isinya cewek-cewek buas. Rumah kayak bak sampah gitu! Bisa rusak tangan mulusku nanti, bisa kelilipan mata jernihku, bisa kotor wajah cantikku!”

Tapi masalahnya sekarang, ketika ia pulang ke rumah nanti dan kalau-kalau rumah ternyata sudah rapi—karena Taeyeon pasti akan menggantikannya piket, siap-siap saja ia dijadikan samsak tinju! Mengikuti jadwal piket? Mimpi buruk yang berlawanan dengan motto hidup Sooyoung, “Sebab aturan dibuat untuk dilanggar!”

*

“Doojoon-hyung,”

Di tempat yang berbeda, ada situasi yang sama. Kali ini pendobrak pintu adalah Son Dongwoon, dengan korban yang terkapar di jalan adalah Yoon Doojoon. Sedikit perbedaan, pipi Doojoon sudah membiru terkena bogeman.

“Kerjaanmu di hari libur cuma main, makan, tidur, main, makan, boker, tidur, malas-malasan, kapan latihannya?”

“Aku latihan otot jempol di kamar—”

DZIGGGHHH! Sepatu melayang membentur kepala. Untung yang punya kepala batu hingga tidak bocor, Doojoon malah menyeringai senang dan mengambil sepatu itu lalu dipakainya, bersiap melarikan diri.

“Otot jempol nggak perlu dilatih! Tuh liat perutmu yang membuncit karena fisikmu nggak pernah beraktivitas! Bersiaplah untuk harakiri karena kurang disiplin!”

“Aku pergi dulu, jaga rumah, Dongwoon-ah!”

HYUUUNGGG!!!”

Mana ada maknae menyiksa leadernya seperti ini, tapi Dongwoon tidak punya pilihan. Hyungnya ini memang pemalas kalau lagi liburan, ia tidak mau diajak ke gym atau olahraga barang jongging—apalagi kalau tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Masalahnya, Dongwoon lebih suka bola tenis daripada sepak bola!

Namun rasa-rasanya kini sudah keterlaluan, Jung Joony*ung temannya Yong Junhyung yang adalah Hyungnya juga, bercerita kalau tiap kali dia gaming online malam-malam, pasti akan selalu ada satu username yang on … yaitu Yoon Doojoon!

Pantas saja ada ceruk hitam di bawah matanya, ternyata karena begadang. Dongwoon tidak habis pikir tertular siapa Hyungnya ini jadi kecanduan game. Dasarnya Doojoon-hyung memang gamer, tapi dulu tidak separah ini! Jujur, ia sendiri terciprat virusnya meski tidak parah (yang lain juga sih kecuali Yoseob-hyung).

“Mati kalau kau tertangkap, Hyung,” tekad Dongwoon sembari memakai sepatunya. Menyidik pandangan ke depan yang sudah hilang sosok Doojoon ditelan jarak. “sebab peraturan dibuat untuk ditegakkan!”

*

Kolbak itu berhenti. Supirnya mangkir untuk makan siang ke warung tegal. Dasar sial! Sooyoung diharuskan turun untuk mencari tempat pelarian yang lebih efektif. Berhasil tanpa menimbulkan jejak, Sooyoung mengikat rambutnya supaya tidak merepotkan—menghalangi wajah. Ia menoleh ke warteg itu, perutnya berbunyi tapi makan tidak bisa di saat sedang perang! Belum waktunya gencatan senjata!

Dap, dap, dap! Langkah-langkahnya menghujam tanah, keringat bercucur berlawanan dengan suhu dingin. Di seberang langkahnya seseorang sama juga berlari. Mereka berdua berhenti ketika berhadapan.

Sooyoung melangkah ke sebelah kiri, orang itu juga. Sooyoung melangkah ke sebelah kanan, orang itu ikutan. “MINGGIR! LU JANGAN NGEHALANGIN DONG!” bentaknya geram.

“Lu yang minggir, gue lagi bertugas! Urjen mengejar buronan polisi!” dusta Dongwoon, supaya Sooyoung mengalah.

“Heh! Ngajak berantem?!” tuding Sooyoung, tanpa aba-aba menjambak rambut Dongwoon lalu dihempaskannya sekuat mungkin setelah ia punya celah untuk lewat.

Merasa diperlakukan seperti sampah, Dongwoon yang terjatuh langsung menahan kaki Sooyoung yang hendak melangkah. Ia peluk dan pegang kuat-kuat. Berniat balas dendam. “Berkelahi melawanmu? Bukan ide buruk! Kau sedang kabur dari Taeyeon-nuna ‘kan? Biar aku tahan di sini sampai dia datang dan menangkapmu!” todongan Dongwoon membuat Sooyoung seolah tertombak di ulu hatinya. Jlabbb! Dengan wajah dibuat menyeramkan Sooyoung menengok ke bawah, ke pada si unta.

“Kau juga sedang mengejar Yoon Doojoon ‘kan? Tadi aku melihatnya masuk pachinko. Kalau kau bergerak cepat, mungkin dia masih di sana.” Sudut-sudut bibir Sooyoung tertarik melukis seringai. Keringat dingin menetesi dahi Dongwoon satu-satu.

“Halah, bohong!” semprot Dongwoon.

“Aku tidak boho—”

“Choi Sooyoung!”

“Kim Taeyeon?” dari kejauhan suara Taeyeon terdengar manggil-manggil, perempatan muncul di bawah mata Sooyoung. “Let me go, Son Dongwoon, please! Aku tahu kamu menyukaiku tapi bukan seperti ini caranya!”

Mwoya? Itu pernyataan terdelusional yang pernah aku dengar.” Dongwoon melepas pegangan pada kaki Sooyoung lalu ia berdiri. Belum sempat Sooyoung kabur, Dongwoon sekali lagi berhasil menarik pergelangan tangannya yang kecil lalu—crek! Ia borgol tangan kanan Sooyoung dengan tangan kirinya. “Nah, kalau begini, mantep ‘kan.”

“Mantep apanya unta sialan lu mau gue menjemput ajal?! Lagian darimana dapetnya itu borgol!” kalau bisa menangis darah, mungkin Sooyoung akan melakukannya. Saking kesal dan geramnya pada laki-laki Korea coret di sampingnya ini.

“Bukannya aku bilang tadi sedang mengejar buronan polisi? Ya harus bawa borgol, lah!” penjelasan Dongwoon kalem sekali, membuat Sooyoung kian bernafsu mencolok hidung si unta. Sementara Taeyeon perlahan-lahan mendekat ke arah mereka, terdeteksi dari jangkauan suara yang makin terdengar jelas. Ditebar senyum sejuta watt Dongwoon yang melelehkan hati ribuan hawa kecuali Sooyoung. “Lagipula … membantu pekerjaan Taeyeon-nuna juga termasuk tindakan baik, urusan dengan Doojoon-hyung bisa belakangan. Hukumanmu nanti akan sangat berat, Choi Sooyoung, melalaikan tugas patut harakiri.”

“Ternyata, ternyata lu bukan unta …,” napas jengah berhembus melalui hidung, Sooyoung menundukkan wajahnya sebelum ia angkat lamat-lamat … kemudian manik matanya secara ajaib bersitatap dengan sepasang milik Dongwoon. “tapi monyet! DASAR!!!”

Dengan tangan kirinya yang tak diborgol Sooyoung menjambak rambut Dongwoon kasar, anarkis, brutal, sadis. Membuat Dongwoon yang hanyalah laki-laki masokis, berteriak sakit. Seperti kesetanan Sooyoung menarik-narik rambut hitam sang anak laki-laki, beberapa helai bahkan tercabut saking kencangnya tarikan perempuan itu. Dongwoon merintih tapi tak tinggal diam. Sedapat mungkin ia menahan tangan Sooyoung menyentuh rambutnya. Offense Sooyoung vs Defense Dongwoon, siapakah yang akan unggul?

“AAAGGGHHH!”

Sooyoung berhasil membuat Dongwoon melenguh keperihan karena lututnya menyodok pedang kecil di bawah sana!

“MONYET BANCIII!”

“DIEM O-OY RAMBUT GUE, ARGH WUOYYY! Ka-kalau gini caranya lu bakal double harakiri!” setelah lututnya menyundul keras kejantanan lawan, kini tangan kanannya kembali beraksi mencabuti rambut kepala karena Dongwoon lengah!

Namun hal itu malah mendatangkan kesempatan bagi Dongwoon, ia melihat pertahanan Sooyoung melemah karena terlalu fokus menjadi attacker, Dongwoon pun memanfaatkannya! Tangan kanan Dongwoon yang bebas ia gunakan untuk merangkul perut kecil Sooyoung lalu diangkatnya, ia lempar ke pundaknya seperti menggendong karung beras. Sekarang Sooyoung yang kelabakan hanya bisa memukul-mukul punggung Dongwoon.

“Ganteng dan manly gini dipanggil monyet banci? Ngaca coba, kau justru ikan asin! Udah kerempeng, gosong, hidup lagi!”

“Apa? Aku bukannya kerempeng tapi langsing, dan aku tidak gosong, tapi eksotis!”

“Halah!”

Memberontak, kaki Sooyoung mengepak-ngepak seperti berenang di kolam. Agar diam, tangan kanan Dongwoon mengunci pergerakan itu. “Turunin, Son Dongwoon! Turunin! Aku muntah nih, aku muntahin punggung kamu!”

“Hahah, nggak takut!”

“OEK!”

“SIALAN, BENERAN MUNTAH?! HUWAAA!” Dongwoon rasanya ingin nangis ketika punggung kausnya terasa basah. Cewek ini menjijikkan sekali! Ia tak berani membayangkan. Padahal Sooyoung tidak jadi muntah, basah itu karena hujan.

“E-EH? HUJAN!” keduanya memekik bersamaan.

Mengenyampingkan sejenak Dongwoon-Sooyoung, sang supir kolbak sudah selesai makan siang. Ia ke luar dari warteg dengan perut penuh dan segera menaiki mobilnya. Brrrm! Mesin di nyalakan, tubuh besinya bergetar-getar, kerikil di tanah bergeser karena ban, lampu belakang mobil yang hidup karena suasana jalanan menggelap, menyorot sosok Dongwoon dan Sooyoung (yang masih di gendongannya).

Dua orang itu melotot.

BRUGGGHHH! CKIIITTT! DUARRR!

Tak lama kemudian ….

WIUUU, WIUUU, WIUUU!

*

“Tidak ada luka serius selain cedera ringan di kepala. Tapi bersyukurlah karena tindakan Anda, korban satu lagi yang seorang wanita dapat selamat tanpa luka sedikitpun. Anda benar-benar gentleman.” Penjelasan dokter wanita itu membuat Sooyoung bingung. Korban satu lagi? Apakah ada orang lain di tempat kejadian tadi? Ia sungguh tak ingat.

Sonsaengnim, aku sedikit lupa kecelakaan itu … siapa, siapa lagi korbannya?”

Omo, jangan-jangan …,” sang dokter mengendalikan air mukanya untuk tenang, ia membuka lembar pemeriksaan di papan dada itu lalu bertanya hati-hati, “sebelum itu, bisakah Anda sebutkan siapa nama dan apa pekerjaan Anda?”

“Aku?” seruan pendek itu bersumber dari dua orang yang terduduk di ranjang yang bersebelahan, berbataskan gorden putih panjang di ruang rawat rumah sakit kota. “Choi Sooyoung,”/“Son Dongwoon,” kata mereka bersamaan, “murid SMA Shinba.”

“Oh?” dua dokter itu melihat catatan di kertasnya. Satu dokter lalu memandang dokter sebelahnya dengan maklum, “Ya ampun, sepertinya data kalian tertukar. Begitu ‘kan, Kim-sonsaengnim? Maaf atas kesalahan rumah sakit kami.”

“Ah, … iya-iya.” Dua dokter dari pasien yang bersebelahan itu bertukar data, kemudian mengecek kembali. Lalu tersenyum, “Nah ini sudah benar. Geurom, tidak ada kesalahan apa-apa pada kepala Anda, Choi Sooyoung-ssi. Bila ada gejala atau keluhan timbul, boleh langsung datang agar diberitahukan tindak lanjutnya seperti apa.”

“Ya, terimakasih, Sonsaengnim.”

Tap! Sooyoung turun dari ranjang. Setelah kecelakaan, apa tinggi badannya bertambah, ya? Tap! Orang di seberang pun turun dari ranjangnya. Sooyoung membungkuk hormat pada dua dokter itu sebelum menuju pintu ke luar ruang rawat.

Zeeet-z! Pintu dibuka dan ditutup, lalu terdengar dibuka dan ditutup lagi. Lalu Sooyoung—dua orang itu meninggalkan rumah sakit tanpa beban berarti.

*

Meski Taeyeon marah padanya, tapi keterlaluan sekali, sih! Unninya itu, ia baru saja tertimpa musibah tapi tak dijenguk! Tak ada satu pun orang rumah yang peduli, sepertinya. Sooyoung menendang kerikil. Kalau begini caranya, sepertinya ia tidak pulang pun tidak jadi masalah. Toh mereka tidak melihatnya! Tidak peduli dia ada dimana dan melakukan apa, bahkan setelah kecelakaan pun—! Aish menyebalkan!!!

“Aku pulang ….” Kata-katanya terucap lemas. Sepatu dilepas, sengaja tak disisihkan di rak karena malas. Sooyoung melangkah masuk. “Loh, kok?” kosong? Kemana mereka? Taeyeon? Yoona? Semuanya?

Sooyoung makin jengkel saja. “Jangan-jangan di hari libur ini … setelah beres-beres rumah tanpa aku, mereka kemudian main ke luar tanpa aku juga? Cewek-cewek sialan …!” sebagai pelampiasan Sooyoung hamburkan isi kulkas dan, dimakannya tanpa berniat meninggalkan sisa barang seremah.

*

Bukannya berhasil menangkap Doojoon-hyung, malah tertabrak ekor mobil kolbak. Sial betul ia hari ini. Padahal niatnya dari rumah sudah baik. Ingin membuat Doojoon-hyung mau berolahraga itu termasuk kebaikan ‘kan? Toh kebugaran tubuh itu mahal harganya kalau sudah terjatuh sakit! Tapi ah, sudahlah, intinya misi hari ini gagal total.

Lebih baik ia pulang saja, siapa tahu Yoseob-hyung sudah selesai masak. Gara-gara berkelahi dengan Choi Sooyoung tadi energinya habis. Ngomong-ngomong, ia belum melihat Sooyoung lagi sekeluarnya dari rumah sakit tadi, kemana ya dia? Jangan-jangan yang tertabrak mobil hanya dirinya sendiri, sehingga waktu ia pingsan menunggu kedatangan ambulan, Sooyoung melarikan diri? Walah, tak tahu diuntung itu anak!

“Ck … memikirkannya saja bikin tambah kesal, tambah lapar.” Monolog Dongwoon di depan rumahnya. Hmmm, tercium wangi tonkatsu! Wah-wah, sepertinya Yoseob-hyung tidak memasak hari ini, melainkan delivery makanan! Cintaku, calon isi perutku, aku datang!

Brak! Pintu dibuka dari luar. Dongwoon melepas sepatunya, menginjak lantai rumah dengan semangat, mata berbinar. Hidangan di meja makan membuat liurnya nyaris menetes. Ia berseru gembira, “Tonkatsu! Yeay!”

Namun—pluk! Gelas plastik tiba-tiba terjatuh, airnya tumpah kemana-mana. Sementara gelasnya, menggelinding hingga menyentuh ujung jempol kaki Dongwoon. Heran, Dongwoon memungutnya dan, ketika ia menegakkan kembali tubuhnya, Yoseob di sana (orang yang baru saja menjatuhkan gelas itu) memandangnya horor.

“Aku tahu kau suka makan, cinta makanan, tapi bukan berarti kau bisa makan di rumah orang lain seenaknya …, Choi Sooyoung!”

*

“Hei, ngapain kau di sini, Son Dongwoon?”

“Hah?” sejemang isi mulut ditelan, minum melancarkan tenggorokan, Sooyoung akhirnya berhasil mengucap ‘hah’ itu. Bertampang cengo ia menunjuk diri sendiri. “Kau tanya kenapa aku di sini dan mengucap namaku dengan salah, apa sebegitu bencinya kau padaku hanya karena aku tidak mau piket, Kim Taeyeon?”

“Aku sedang tidak mood meladenimu, jadi tolong ke luar sekarang. Aku masih bisa bersabar untuk tidak menelepon polisi karena kau adalah temannya temanku makanya … tolong pergi selagi aku berbaik hati.” Tangan Taeyeon bersilang di depan perut, wajahnya tampak serius dan itu yang membuat Sooyoung takut. Taeyeon benar-benar … marah.

Tanpa berkata-kata lagi, ia memakai sepatunya lalu ke luar dari rumah itu. Di halaman, ternyata ada saudari-saudarinya. Sesuai dugaan mereka pasti baru pulang dari jalan-jalan. Cukup memandang sekilas, lantas Sooyoung mendecih. Eh … ada yang aneh? Mengapa wajah-wajah mereka murung? Dan kalau diingat-ingat wajah Taeyeon tadi pun, lebih mirip marah bercampur kesedihan?

“Harusnya dia bilang saja kalau dia tidak mau membersihkan rumah, tidak perlu pergi tanpa kata-kata perpisahan seperti ini, hiks hiks …,” tangisan Yoona paling keras (iya! Sebab bukan hanya Yoona yang menangis tapi semuanya! Hen!). “Sooyoungie …,”

Sooyoungie itu … aku, ‘kan? Mereka menangisi aku? Kok bodoh sih membicarakan objek di depan objeknya sendiri? Tapi tunggu, mereka memang kumpulan orang bodoh.

“Jangan berpikiran negatiif, Unni.” Itu Joohyun yang mengusap-usap pundak Yoona. “Mungkin Sooyoung-unni tak ingin kita melihatnya terluka parah, sehingga dia pergi duluan sebelum kita sampai ke rumah sakit. Mungkin dia pulang ke rumah orangtuanya untuk memulihkan kondisi.”

O … ke? Kalimat itu rasanya … agak rancu?

“Tapi—tapi tetap saja … uri Sooyoungie, huweee!” mereka bertujuh kemudian berpelukan. Sooyoung deadpanned. Apa yang terjadi sebenarnya?

Sudahlah. Sekeluarnya dari pagar rumah, meninggalkan orang-orang aneh itu, Sooyoung merogoh ponselnya. Ia tak begitu ingat kenapa letak ponselnya berpindah ke saku celana belakang. Ia juga tak sadar casingnya berubah warna. Dicarinya satu nama di kontak panggilan. Di saat seperti ini yang ia butuhkan untuk dijadikan teman berbincang adalah … Kim Myungsoo. Hm, Sooyoung menyimpul senyum, ia tahu Myungsoo akan selalu ada untuknya. Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dalam kaya maupun miskin. Sahabat terbaik sepanjang masa. Tes, ah Sooyoung sampai menitikkan air mata saja.

Teeet—ah, diangkat!

“Halo. Myung—”

Tut—langsung ditutup.

“—BANGSAAATTT!!!”

*

“Bi, pesan yang biasa, ya!”

Dua orang masuk, duduk bersamaan dan bersebelahan, mengucap satu kalimat andalan yang dihapal betul sang Bibi pemilik rumah makan sederhana.

Satu porsi makanan serba hijau di terima tangan kemudian. “Hijau-hijau ini apaan, Bi?” ceplos Sooyoung keheranan.

Si bibi warung tampak menimbang-nimbang, raut sama bingungnya, “Loh, bukannya Nak Dongwoon lagi diet? Biasanya juga pesan itu ‘kan? Oh, plus dada ayam, ya! Saya lupa.”

“Bi, hijau-hijauan dan dada ayam itu biasa pesanan saya,” dari samping suara berasal, sembari mengangkat sebelah tangan orang itu bilang. Bersama si bibi, Sooyoung ikut menolehkan muka.

Tatap dibalas tatap. Sama-sama diam kemudian. Masing-masing menganalisa struktur wajah manusia didepannya. Mata, hidung, bibir, keseluruhan, dari atas ke bawah … peluh mengalir deras dari kening keduanya.

Doeng-doeng!

Bruk!

“Eh, Nak Dongwoon malah pingsan!”

*

Masih berada di bangku warung ketika Sooyoung tersadar dari pingsannya kemudian. Sebuah suara menginterupsi lamunannya. “Sepertinya aku paham apa yang terjadi sekarang, kenapa Yoseob-hyung mengusirku dari rumah ketika aku mau makan tonkatsu padahal aku sedang sangat menginginkannya.”

Dongkol, Sooyoung menghantam meja kayu itu dengan sikutnya, “Bisa di skip bagian tonkatsunya? Yang lebih penting, kenapa aku nggak dipindahin ke tempat yang lebih nyaman sewaktu pingsan?! Di kasur kek, di sofa kek, dasar lelaki berhati dingin!”

“Lelaki? Sekarang ini aku wanita,” Dongwoon—yang menggunakan wajah Sooyoung—menatap Sooyoung. Ugh, rasanya aneh menatap wajah sendiri. Kemudian satu tangan laki-laki—eh bukan, perempuan, eh bukan juga, banci taman lawang—(WOY!!!) oh sebut saja dia Son Dongwoon yang memakai tubuh Choi Sooyoung (KEPANJANGAN PE’A!) ya sudah sebut saja dia Dongwoon—kemudian satu tangan Dongwoon terangkat menyentuh sesuatu, sesuatu yang teksturnya seperti puding, “sekarang aku punya dua gundukan—”

DUAGHHH!

Sooyoung menonjok pipinya tanpa belas kasih, dengan beringas menarik kerah baju sang marga Son dan mendesis, ada api di matanya, “Jangan pegang-pegang tubuh gue.” Sedetik, dua detik. Menyadari sesuatu, kemudian Sooyoung histeris, “Tunggu, aku baru saja menonjok wajahku sendiri! Oh My God my precious face! Wajahku sayang! Huhuhu!”

Terkaget Dongwoon membekap mulutnya, membalas desisan Sooyoung dengan panik, “Kau sendiri jangan nangis pakai wajahku! Ssshhh!”

Tahu-tahu banyak tawa kecil mengisi pendengaran mereka berdua. Tersadar mereka berada dimana, Sooyoung tergagap-gagap minta maaf lalu beranjak, merapikan pakaiannya. Dongwoon mengikuti, keadaan kembali tenang. “Fufufu, Nak Dongwoon kalau mau ena-ena jangan di warung saya, di rumah sendiri aja, fufufu. Pastikan juga pintu kamarnya terkunci, ya.”

“Siap, Bi.”

“Kenapa elu yang jawab, amplas!” maki Sooyoung, yang jadi Dongwoon sekarang ‘kan gue! “Lagian elu pacar aja nggak punya, mau ena-ena sama siapa? Sama Doojoon?”

“Hah? Kau mau aku ena-ena dengan Doojoon-hyung menggunakan tubuhmu?” Dongwoon salah dengar menimbulkan salah paham fatal. “Tidak ku sangka kau mencari uang dengan cara hina seperti itu, cabe-cabean, ck.”

“Gue bukan cabe-cabean!”

“Bukan cabe-cabean? Jadi … jablay?” hening beberapa detik. Boleh Sooyoung mengikat leher Dongwoon dan membiarkannya menggantung di koridor sekolah? Biar mati sekalian! Siapa tahu kalau hidup lagi otaknya jadi bener! “Tapi maaf saja, aku tidak bisa meniduri Hyungku sendiri sekalipun kau meminta.” Dongwoon berdeham, Sooyoung menatapnya dengan ragu. “Aku masih waras, dan perlu kau tahu, ya … aku tidak bisa menidurinya karena peranku sekarang adalah … orang yang ditiduri!”

“Kalo gitu mah elu yang jablay!”

*

“Woi.”

“Oh.”

“Pertama, berikan aku ponselku. Ada di kantong bajuku. Gara-gara aku menelepon Myungsoo menggunakan ponselmu aku jadi mengatainya bang—hal yang tidak baik—”

“Kau sudah pakai ponselku? Kau pakai ponsel orang lain tanpa pinjam? Seharusnya kau sudah menyadari ponsel itu bukan milikmu dari awal, mikir dikit dong, bego. Sekarang kembalikan ponselku.”

“Bego?” dagu Sooyoung mengeras, “Yang bego itu elu …,”

“Hah?”

Sunyi menjamah.

“KEMBALIKAN TUBUHKU!!!” Sooyoung menarik kaus leher Dongwoon begitupula Dongwoon mencengkram kerah lehernya. Mereka berdua beradu tatap sengit.

“Tidak pernah ada aturan siswa terpintar di Shinba boleh masuk ke tubuh orang lain!” bentak Dongwoon di depan muka Sooyoung. Airliurnya sampai muncrat-muncrat.

“Lu itu yang udah masuk ke tubuh gue! Gue mergokin elu!”

“Lu bego ‘kan? Lu bego?! Gimana caranya lu bisa mergokin gue!”

Buak! Buk! Buk! Gdebummm! “Gue nggak bego! Lu yang sampah! Sampah masyarakat! Pencuri tubuh orang lain yang perlu dilapor ke polisi! Lu itu cuma gelandangan yang nggak punya tempat tinggal sekarang karena diusir dari rumah sendiri!”

Buak! Dzig! Zig! Duarrr! “Lapor polisi? Polisi itu cuma orang-orang bego yang doyan makan uang pajak! Lu pikir berguna mereka?!”

Pertarungan berlangsung hingga tetes peluh terakhir.

 “Hoh hoh hoh ….”

“Hoh, hoh, ….”

“Ah.”

“Sudahlah.”

Sooyoung merapikan pakaiannya. “Jangan bodoh terlalu jauh. Berkelahi tidak akan mengembalikan tubuh kita ke kondisi semula.”

Satu hembus napas lelah kemudian, Dongwoon menyetujui, “Benar.” Karena kalap, mereka berdua lupa kalau berkelahi malah akan merusak tubuh masing-masing. “Hei, Choi Sooyoung.”

“Oh.”

“Aku bermimpi. Mimpi yang terasa sangat nyata. Mungkin saja ini memang kejadian sebenarnya.” Mulai Dongwoon. “Waktu itu, … setelah kita tertabrak kolbak, aku melihat tubuh kita berdua terlempar lalu terkapar di tanah.”

“A-apa maksudmu …?”

“Perasaanku tidak enak. Pikiranku bilang, bila aku tidak segera kembali ke tubuhku, aku tidak akan bisa kembali selamanya. Aku pun melesat menuju tubuhku, namun ketika itu … ada bola gosong aneh yang terbang dari belakangku.”

“Tunggu, apa bola gosong itu aku? Kenapa gosong begitu?!”

Dongwoon menghiraukan komentar Sooyoung dan melanjutkan ceritanya, “Aku berbenturan dengan bola gosong itu dan, … salah arah. Terhuyung-huyung aku pun masuk ke tubuhmu, sementara bola gosong itu masuk ke tubuhku.”

“Ja-jadi begitu ceritanya?”

“Singkatnya, saat tubuh kita secara ajaib selamat dari kecelakaan mobil kolbak, roh kita ke luar dan kita bertubah tubuh. Itulah yang terjadi.”

“Huh, jadi … kau duga aku akan percaya ceritamu? Jadi … jadi satu-satunya cara agar tubuh kita kembali … adalah dengan mendapatkan pengalaman hampir mati dan mengeluarkan roh dari tubuh kita lagi!”

“KALEM WOYYY!” Sooyoung menyudutkan Dongwoon di ujung atap gedung, tempat mereka berbincang empat mata sekarang. Satu langkah mundur lagi maka game over, satu nyawa mati konyol.

“Berisik!”

“LU BEGO YA! Kalau jatuh dari ketinggian ini, roh lu enggak bakal punya tempat untuk kembali!” jeda melanda. Sooyoung terhenyak memandang Dongwoon. “Iya ‘kan? Gue bener ‘kan?”

Geuronikka …,” perempuan itu menaruh jari telunjuk di dagunya, lalu maju selangkah ke pinggiran gedung. “aku hanya harus membuat wadah rohmu ini hancur juga.”

“TENANG WOI!” padahal ia sendiri sudah panik dan frustasi—menghadapi polah superb Sooyoung dan jalan pikirnya. “Memang kau bisa menjamin roh kita ke luar kalau kita hampir mati lagi? Bisa-bisa kita malah mati beneran! Sebelum kta menemukan cara yang benar untuk membuat semua normal, jangan melakukan hal bodoh!”

“Memangnya cara yang benar itu ada?”

“Aku tidak tahu.” Bersedekap kedua tangan Dongwoon. “Tapi … tidak boleh ada orang lain yang tahu ini, hal terburuk yang mungkin terjadi kalau hal ini ketahuan dunia luar … kita bisa jadi bahan penelitian orang-orang gila yang menspesifikasi ilmu pengetahuan terlalu dalam. Satu-satunya cara adalah … kita cari tahu sendiri solusinya.”

“Jangan bercanda!”

“Tak ada pilihan lain selain hidup dengan tubuh itu!” dengan terpaksa, Dongwoon menyambung, “Aku akan hidup sebagai Choi Sooyoung dari Sonyeoshidae, dan kau … harus hidup sebagai Son Dongwoon dari Biseteu.”

(bersambung ke I am you, you are I bagian dua)

***

[10/10] untuk #PentagonDebutDay (cek CUBE Official Channel titel trek mereka GORILLA) dan #HappySeungheeDay (CLC Leader + Main Vocalist Oh Seunghee)

Iklan

6 Comments Add yours

  1. febryza berkata:

    Mereka berdua ceritanya ketuker jiwanya gitu fan? Tapi kok kayaknya engga itu aja deh , ah aku bingung jadinya

    Btw fan, Closed Radio engga mau dilanjutin?

    Suka

  2. beautyana berkata:

    Hahaha XD ini apaan coba? Ternyata begini jadinya jika dua makhluk narsis dengan kadar kepercayaan diri tingkat tinggi dipertemukan. Lawak sekali XD Tapi kayaknya pairing ini ga bisa nyatu ya Fan? ga bakal romantis soalnya saling hina mulu XD

    PS : Apartemen lantai 2 kok gak dilanjut lagi sih Fan? Padahal seru 😦

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Kyaaaah kamu baca ff nista ini ku malu wkwkwk iya nih ini genrenya juga bukan romance kok /sebab masih baper dujun suyong/

      AL2 udah ada plot, tinggal dituangkan aja. Tunggu tanggal mainnya oke.

      Disukai oleh 1 orang

  3. snowyautumn berkata:

    Ena-ena 😂😂😂😂😂
    Ngakak ah mereka. Gimana hayoh itu mau balikin tubuh masing masing

    Suka

  4. Soobeautifulchoi berkata:

    absurd bgt 😂, biar begitu ttp aja ditunggu update-annya wkwkw
    fighting yooo~ 😤👍

    Suka

  5. one656kimhyunra berkata:

    Hahahahahaha
    aduh gile, sooyoung dongwoon ketuker. Wakakakak itu sih asik asik berantem mulu, bukannya cpet panggil taeyeon nya yg katanya udh dket. Hahahaha

    itu myungsoo aduh,kasian. S sooyoung udah bangga banggain aja eh langsung d tutup. Sekmen itu gila ngakak abis akunya. Hahahahaha

    bagian duan ASAP yah.. 😀 mangatse fany-aa~

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s