[FF] H (highskoolers) 2 – ONE

Title: H (highskoolers) 2
Genre: Teen Romance
Rating: PG
Length: Mini-series
Cast(s): Heo Gayoon [4MINUTE], Lee Gikwang [BEAST], Yoon Doojoon [BEAST], Choi Sooyoung [SNSD].
Summary: Heo Gayoon tidak terbiasa berdiri dengan satu kaki, tak akan pernah sebelum ia sentuh sendiri, kepahitan yang secepatnya ingin ia hindari.

highskoolers-2.jpg.jpeg

.

.

.

***

ONE

Teruntuk Yoon Doojoon, dari seseorang yang selalu mengamati.

Hai.

Aku tidak akan bertele-tele, karena aku tahu kamu orangnya kurang suka basa-basi. Makanya, aku hanya mau kasih tahu satu hal penting ….

Meskipun kamu kucel, remang, kelihatan M, payah, PHP, dan tidak pernah lolos 100 besar peringkat akademik satu sekolah, aku tetap menyukaimu apa adanya, kok.

Salam cinta :*

Paragraf di atas adalah isi dari sebuah surat—tidak, tidak, lebih mirip catatan kecil yang ditulis sembarangan dengan tanpa memerhatikan kerapihan karena kalimat yang berhasil terbaca sesungguhnya, cuma di bagian penghinaannya saja. Membuat laki-laki yang tertera nama Yoon Doojoon di pin seragam Seowon itu, mengernyit dongkol.

Secarik kertas warna pink pastel itu ditemukan terlipat dua di dalam lokernya, senja hari ketika Doojoon selesai latihan rutin di gor. Sang pengirim pasti memasukkan suratnya ke dalam dengan teknik menyempilkannya di antara celah bawah pintu loker yang tak rapat. Doojoon membacanya sekali lagi, tapi tidak pada enam kata terakhir.

“Woy! Siapa yang menyimpan tulisan ini di sini? Ngajak ribut?”

Bicara soal laki-laki yang kemudian malah menuduh satu-satu siswa lain di sekitarnya, menanyai apa kau yang menulisnya dibalas bukan berintonasi mirip preman pasar—mana ada pula yang bakal mengaku kalau ditanya bak menginterogasi penjahat begitu?

Dapat surat cinta, kok marah?!

Deretan loker-loker tersusun seperti rak, panjang-panjang, menutupi sosok perempuan yang diam-diam melucuti pandangan, terabaikan. Sembari Heo Gayoon mengeluarkan sepatu dari dalam penyimpanan, ia mendengar gerutuan Doojoon yang terlampau keras menyerah untuk tahu siapa si pengirim surat misterius—yang dianggapnya surat tantangan berkelahi itu. Atas alasan itulah cuping telinga Gayoon terbakar. Pintu kecil loker jadi sasaran banting, Gayoon melewati Doojoon tanpa menyapa melainkan ujung mata melirik benci.

***

Neo ji?” Gayoon punya kebiasaan berangkat sekolah pagi sekali karena meski ia bukan seorang yang addict terhadap kata perfeksionis tetapi ia berkomitmen pada satu jalur. Sarapan roti dan telur panggang, minum segelas susu, sudah cukup baginya. Suhu kurang bersahabat menyebabkan tidak banyak orang tiba di sekolah sepagi ini namun anehnya, kali ini—Gayoon menemukan seraut wajah selepas tertutupnya pintu loker yang kemarin ia jadikan pelampiasan emosi. Hingga sekali lagi, “Kau, ‘kan?”

“Kau …,” Gayoon tidak dapat berkata-kata, ia memertahankan ekspresi wajahnya tetap pasif. “kau datang sepagi ini ke sekolah, kau bangun pagi? Amazing.”

“Itu nanti dulu!” mendengar sambungan tuduhan nada laki-laki itu meninggi, Gayoon menutup mulut, “Kau … kemarin itu kau, kan?”

“Apanya?” Gayoon bukan tergolong siswi pintar, bukan dari kalangan orang kaya, tidak juga bergabung dalam lingkup pergaulan anak-anak hits (dalam arti yang relasinya ada dimana-mana). Makanya, kenal dekat Lee Gikwang sang pangeran kesiangan adalah suatu keuntungan.

Ngomong-ngomong, mengapa dipanggil pangeran kesiangan sebab Gikwang dan ontime dalam satu kalimat adalah definisi dari mustahil.

“Orang yang mengirim surat cinta untuk Doojoonie. Kau, ‘kan?”

Doojoon. Pertama mendengar namanya saja, Gayoon pikir—ah, bagus sekali. Marganya Yoon, adalah seorang senior, satu tingkat di atasnya. Ia sangat terkenal di kalangan siswa karena permainan bolanya, dan juga jabatannya sebagai Kapten Tim Sepakbola Seowon. Di samping kekurangan-kekurangannya yang ia paparkan dalam surat cinta itu, ialah sosok nyata laki-laki jentel bermanner, berjiwa leadership dan yang pasti … tampan—menurut persepsi Gayoon sendiri dilihat dari jarak seribu mil saja segala sesuatu yang teradiksi dengannya sudah memesona.

Maka sangat jelas pertanyaan Gikwang padanya tadi itu, jawabannya adalah benar. “Memang aku. Terus kenapa?”

Terus Gikwang mengomelinya.

Gayoon beralasan bahwa kemarin adalah pertama kalinya ia menyatakan cinta pada seseorang lewat surat dan—bagaimana cara menulis Rayuan Pulau Kelapa yang benar? Ia bukan Kim Jonghyun si penggombal ulung. Tapi toh ia telah berupaya menanyai beberapa teman kelas yang berpengalaman soal ini—dan mendapat rumus simpel … tembak dia dengan gayamu.

Mendapat saran semua orang kecuali satu. Alumni SMPnya yang sangat berpengalaman masalah percintaan ini, malah tidak peduli, menyebalkan sekali!

“Kau bahkan tidak memberiku saran waktu itu, kenapa sekarang malah comel? Terlambat!” tuntut Gayoon, melangkah selebar mungkin supaya Gikwang tak bisa menyusulnya. Sial karena jam masuk masih lama, Gikwang tak akan mundur sampai waktunya tiba.

“Berkomentar! Bukannya comel, marah, atau sok ikut campur. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikirmu, gayamu, kau benar-benar supergirl Gayoon-ah,” lalu suara tawa berdenting, manis, lembut—Gayoon tak perlu menoleh untuk memastikan manik Gikwang membentuk bulan sabit yang indah.

Sebab ia terjepit di tengah situasi marah. “Lebih dari apapun, yang membuatku sangat jengkel kemarin, karena dia tidak membaca surat itu sebagai surat cinta! Padahal dengan segenap pemikiran aku menulisnya!”

“Tentu lah! Bahasanya saja kasar begitu, isinya kata-kata hinaan semua. Meskipun fakta, sih, hahaha!” kasar dari mananya coba! Bersama emosi Gayoon berbalik lalu kepalan tangannya meninju, kosong—karena Gikwang gesit mengelik—terimakasih pada bertahun-tahun capai fisik dan batin menerima pukulan Gayoon membuatnya terbiasa refleks. “Ups, hati-hati.” Tinju kecil ditahan, Gikwang mengerling. Gayoon melepas kesal dengan dengusan lain.

Dan laki-laki ini, adalah—seperti berkali-kali telah tersebut namanya, teman lama semenjak SMP, tetangga rumah merangkap tetangga kelas, berhubungan baik antar keluarga. Satu klub dengan Doojoon. Poin tidak penting, punya hobi menjahilinya.

Maka dari itulah, jangan heran Gayoon punya kepalan tinju sekeras anak laki-laki, hasil dari terlatih menonjok muka Gikwang.

***

Pagi adalah kelas. Siang adalah kantin. Sore adalah kegiatan klub. Gayoon yakin tujuh dari sepuluh murid punya rutinitas seperti itu, termasuk dirinya. Tapi siang ini Gayoon terpaksa—bahagia—harus melewatkan kantin. Alasannya, ia melihat beberapa siswa bermain sepakbola di lapangan outdoor! Siapa yang perlu keterangan lebih lanjut? Bola artinya Doojoon!

Rusuh sekonyong-konyong Gayoon menggandeng lengan Jeon Jiyoon untuk menemaninya duduk di bangku penonton, bangku yang dekat sekali dengan garis luar pembatas lapangan. Jiyoon menggodainya—tahu bahwa Doojoon dalang dibalik sikap hipernya, selalu Gayoon respon dengan blak-blakan. Lagipula tidak ada anak-anak kelas yang tidak tahu siapa laki-laki yang disukai Heo Gayoon. Percuma pula menyembunyikan, buat apa?

Bukan hanya mereka berdua siswi yang menonton permainan bola itu, banyak siswi-siswi genit penggemar Choi Minho ikutan memenuhi spot duduk. Berteriak-teriak heboh tak jauh beda dengan Gayoon—kecuali objek yang digilai.

(Diselip beberapa jeda, adu mulut antara Gayoon dan beberapa siswi centil itu perihal spekulasi pertandingan Minho melawan Doojoon berminggu silam adalah kebetulan dan rekayasa. Dengan kata lain mereka masih tak terima kemenangan Yoon Doojoon dan kekalahan Choi Minho. Sontak temper Gayoon membuncah; rekayasa apanya, kalah telak skor sebelas banding satu begitu! Ngefans boleh, bego jangan!(**))

“Doojoon kucel banget kalau lagi main bola, keringatnya kemana-mana, pasti bau. Tapi kok aku sukaaa,” selepas fanwar dengan Minho-stan, Gayoon kembali pada kesibukan fangirling, senyam-senyum autis dibalas delikan maklum Jiyoon. “mungkin ini yang dinamakan orang ganteng itu bebas, apalagi kalau lagi nggak sama pacarnya …, ganteng luar binas—!”

DUAKKK!

“Gayoon-ah!” Jiyoon menahan pekikan ngilu.

Karena secuplik adegan kemudian kepala Gayoon jadi sasaran tendang bola tanpa sengaja, sakit sih biasa tapi malunya! Sembari mengaduh calmly Gayoon bangkit dari duduknya dan berjongkok mengambil bola yang terjatuh. Setelah itu, tubuh dan wajahnya kembali tegak. Sorot onyx menscan muka tiap-tiap terduga pelaku, “YAH! Siapa di antara kalian yang melempar bola ini? Memangnya kepalaku gawang? Mengakulah, dasar banci!”

“Oh? Gayoon-ah! Maaf, tapi bisa kau lemparkan bolanya ke sini?” ternyata Lee Gikwang! Dengan wajah tanpa dosa melambai kedua tangannya, mentang-mentang korban insiden adalah teman dekat sendiri!

“Grrr! Lee Gikwang, kau—” perempatan muncul di jidat. Gayoon bersiap diposisi pelempar. Kaki kanan di angkat, paha sejajar dengan tanah, gravitasi di genggaman. Sacrifice fly tepat maniknya membidik kepala Gikwang. Bola ditolak sekuat tenaga, melayang jauh. Inilah hukuman karena berani menantang Ratu Pitcher Klub Softball Seowon, sialan Lee Gikwang! Jadilah bubur! “—kau mau bola, huh? Makan tuh bola!”

JEDAGHHH!

Sayangnya Gayoon melupakan satu hal—

“YOON DOOJOON!”

—kemampuan menghindar Gikwang yang patut dianugerahi medali emas PON XIX.

***

Dokter klinik sekolah (mudahnya UKS), Eric-sonsaengnim menginformasikan jikalau Doojoon terkena gegar otak ringan akibat benturan bola di keningnya tadi. Gayoon menggigit bibir merasa bersalah, tetapi Gikwang malah lahak menertawai kekonyolannya.

“Sana masuk. Minta maaf.” Tidak ada kepekaan barang sejengkal, padahal Gayoon malu luarbiasa. Tidak bisakah Gikwang bantu minimal mendampinginya?

“Tanpa dibilangin juga bakal minta maaf, kok. Tapi temani aku.” Sungutnya, setelah mengukuhkan jantung agar detaknya tetap konstan. Iya, iya, Kanjeng Ratu, Gikwang menyahut lebih mirip ejekan daripada murni sufix memuja. Jengkel Gayoon kuadrat.

Tok, tok.

Langkah pendek Gayoon diekori Gikwang menuju ranjang. Kendati telah menguatkan hati dan pikiran, tetap saja semua buyar tatkala saat itu, menit itu, detik itu, Doojoon memandangnya.

“Gayoonie?”—memandang dan memanggil namanya.

“Maaf, kepalamu .. itu, karena aku.” Kekeh canggung dari Gayoon, malu sekali! Korban tak berdosa jatuh karena kecerobohannya. Dibalas luwes permohonan maafnya oleh tawa yang berjatuhan seperti rintik hujan dari mulut Doojoon, mengatakan gwenchana dibarengi luka kecil begini tidak ada apa-apanya. “Luka kecil tapi sampai diperban begitu.” Timpal Gayoon tak enak hati.

“Serius, di klub kami luka seperti itu sudah biasa,” Gikwang memperjelas maksud Doojoon. Disambung sebuah konfes bahwasanya minggu lalu saja Doojoon habis jadi bahan amukan mantan kapten mereka yang sekarang mahasiswa jurusan hukum, Kim Junsu-sunbae. Gayoon tercengang sebagai reaksi.

Setelah suasana lumayan akseptabel, dimana Gayoon tak sekikuk awal (pada dasarnya ia bukan specimen yang tak memandang berat masalah ringan), Doojoon membuka pertanyaan baru seraya ia menuruni ranjang klinik, “Oh iya, Gayoon-ah, hari ini klub softball latihan?”

“Latihan, seperti biasa. Memang ada apa?”

Liptail naik menyimpul senyum simetris, detik itu pula Gayoon berhenti mempertanyakan mengapa Moses dapat membelah laut merah, analoginya mungkin serupa menyaksikan senyum Doojoon dengan kedua netranya, sama-sama keajaiban. Hiperbol memang, namun ia terpana. “Aku ada perlu dengan Yang Seungho.”

“Dengan Ketua? O-oke … nanti … aku sampaikan.”

“Baiklah, terimakasih. Berhubung jam istirahat sudah habis, aku ke kelas dulu ya. Sampai nanti.” Pundaknya ditepuk pelan sewaktu Doojoon melintasinya. Tampangnya pasti bodoh lantaran terbayang senyum Doojoon sampai-sampai Gikwang harus menoyor keningnya.

“Aku juga duluan, bye-yeom(*). Oh cham, Gungju-nim, jangan pingsan di sini.”

Alah. Peduli setan dengan nasehat seekor nyamuk!

***

Tahun lalu, ketika ia masih kelas satu. SMA Seowon adalah juara umum Softball se-Korea Selatan. Saat itu ia telah menjadi anggota regu inti. Dengan dagu diangkat wajah mereka mengisi headline koran sekolah dan tabloid olahraga nasional. Satu regu itu mendapat sorotan kamera dengan piala bergilir, kemudian satu foto untuk seluruh member bersama pelatih. Pada sesi wawancara oleh tabloid olahraga tersebut, ada pertanyaan ikonik yang Gayoon ingat betul perdetil, yaitu … hal apa yang paling kau banggakan dalam hidupmu?

Gayoon tidak lama merenung, ia jawab kedua orangtuanya tanpa pikir ulang.

Sebelumnya.

Sebelum ia menyadari bahwa softball lah, yang ada di urutan ke dua hal-hal yang Gayoon seharusnya pikirkan. Hidupnya tak terpisahkan dengan olahraga ini, ibarat sudah menyatu layaknya sebagian dari pecagan kaca kenangannya sejak SMP. Warna kuning pada bola dengan grip merah, tipe lapangan tiga base yang berskema khusus, suara pantulan bola dengan bat—hingga membuatnya terbang jauh di ketinggian atas kepala, fly, fly, sangat elok. Tidak rumit, justu unsur-unsur sederhana itu cukup sebagai alasan mengapa salah satu jenis olahraga bola tangan itu tak mungkin membuatnya bosan.

(Bahkan bisa jadi, kecintaannya pada olahraga ini sampai pada fase dimana adakalanya, ia punya pikiran sinting bilamana esok kiamat aku musti bermain softball untuk terakhir kali.)

Pat!—berbarengan dengan glove yang mulus menangkap benda bulat kuning itu, pijakan sepatu menyentuh home plate, peluit nyaring dibunyikan pelatih. Napas Gayoon tersendat lelah di posnya, zona striker, dua tapak jauhnya dari basement tiga. Bila setidaknya ia sedetik lebih cepat berlari, mungkin saja Key tidak akan sukses mencetak angka!

Butiran peluh menjatuhi kening dan hidungnya, terkucir satu cokelat lurus itu di atas kepala, tampak sempurna proporsi leher terlihat. Gayoon mendesah kelelahan, menghiraukan tepukan tangan Song Jieun, “Jangan terlalu dipikirkan, ini ‘kan cuma latihan. Nih, minum dulu!”

Botol minum diterima, terimakasih kecil meluruh darinya. Jieun kemudian berbisik di telinganya sambil anak perempuan itu menunjuk seseorang yang baru saja memasuki lapangan kini tengah berbicara serius dengan Ketua Yang Seungho. Terbuka lebar dua kelopak mata Gayoon, “Itu bukannya Yoon Doo—puahhh!”

“Jorok, sih! Pelan-pelan!” omel Jieun, mengusap-usap punggung Gayoon. Sementara itu ekspresi Gayoon berbunga-bunga tak biasa karena, Doojoon medeteksi kehadirannya lalu mengirim lambaian tangan dan hai tanpa suara. “Tapi ada keperluan apa ya, tumben Doojoon-sunbae berkunjung ke sini.”

“Apapun itu, aku mencium sesuatu yang bagus.” Yakinnya dengan ekslamasi tinggi, menonton interaksi dua ketua klub tersebut yang langka, mengalihatensikan seluruh perhatian tatkala pada akhirnya—

“Semuanya, saya punya pengumuman!” lantas gesit para pemain mengerumuni sumber suara, Seungho. Termasuk Gayoon yang sedia mendengar berita bagus. “Kalian pasti tahu siapa Yoon Doojoon-ssi, nah … atas nama anggota klub sepakbola, beliau mengajak kita untuk latihan bersama—”

“Bukan latihan, tapi menginap bersama. Karena kalau latihan pastinya metoda klub masing-masing berbeda, hehe,” ralat Doojoon singkat.

“Ahaha, betul. Menginap bersama menjelang perlombaan softball dan soccer nasional yang sebentar lagi tiba. Bagaimana?”

Eh?

Kehebohan anak-anak yang bereaksi di sekeliling mengagetkan Gayoon, terutama, “Kirain apa, Sunbae, menginap bersama ujung-ujungnya juga buat latihan!” si mata kucing Key memprotes, yang terkenal akan kemetroseksualan plus kefeminimannya. “Ahhh, mati aku liburan musim panas diisi dengan latihan.”

“Coba kalau diajak nginap barengnya sama cewek-cewek cheers, baru boleh tuh, dicoba.” Timpal Kim Jonghyun genit, berdampak tinju Jieun ia dapat di pundak.

Sepertinya klub sepakbola menganggap masalah ini esensial sekali, tampak jelas dari bagaimana ceruk leher Doojoon diusap tak nyaman mendapati respon kurang bersahabat anggota klub softball. “Sejujurnya, kami mengajak klub ini untuk menginap bersama karena klub ini punya banyak anggota perempuan. Errr … kalian tahu sendiri, di lingkungan kami, perempuan hanya seorang, yaitu manajer kami, dan akan aneh kalau kami mengadakan acara menginap—meski demi kepentingan klub—tetap saja satu perempuan di kelilingi banyak laki-laki, dapat menimbulkan kesalahpahaman.”

Negatif. Itu bukan berita bagus, dipandang dari sudut manapun, nol besar. Tanggapan Gayoon yang nyiyir antiklimatik, ia berusaha tetap mendengar hingga putusan mufakat.

“Ah … aku paham. Karena klub kami punya anggota perempuan juga, bisa dimanfaatkan untuk menemani manajer kalian, begitu?” Key utarakan daya tangkapnya.

Bukan senyum, Doojoon memamerkan deret gigi tupainya, “Terdengar kejam juga kau bilang begitu … tapi … iya. Lagipula kalau kalian ikut, kami tanggung penuh biaya penginapannya.”

Ketua Seungho turun tangan mewakili anggotanya menyetujui MoU tak tertulis itu, mendengar senyum-senyum empatik dan guyon dan girang teman-temannya, kontra dengan desisan sinis Gayoon bersama katupan mulutnya yang menjadi dingin. Baru sekarang ia tak sepaham dengan tindakan Seungho-sunbae sebab, menginap bersama klub sepakbola? Bertemu, menemani manajer mereka? Choi Sooyoung yang tidak lain adalah pacar Yoon Doojoon—cih! Mau ada pertumpahan darah?!

“Gayoon-ah, kok jadi cemberut gitu? Kamu nggak senang? Nanti bakal seharian ketemu Doojoon-sunbae, dong.” Gurauan Jieun menggodanya namun Gayoon menghardik ketus dengan api yang telah tersulut di ubun-ubun.

“Senang apanya!”

Terkaget Jieun dibuatnya, satu sentakan lagi sebelum ia melangkah mundur, tak berencana mengacaukan mood sang ratu lebih jauh. Benar, Gayoon adalah tipikal yang blak-blakan soal perasaannya. Saat senang tak segan ia umbar, sebaliknya pun sama. Semua orang yang kenal dengannya tahu betul itu.

Jieun membiarkan Gayoon melesat ke balik pintu ruang ganti, sebelum celotehan Jonghyun terdengar dari samping telinganya tentang acara menginap tadi, “Jieun-ah, nanti hati-hati sama anak futsal, mereka memang ganteng tapi yang ganteng biasanya sombong.”

Langsung Jieun balas sinyal tak setuju, “Daripada kau mencemaskan itu, lebih baik cemaskan Gayoonie! Bujuk dia supaya ikut acara itu karena sepertinya, kemungkinan besar … dia tidak mau ikut!”

“APA?!” bukan hanya Jonghyun tapi yang lain ikut melotot. Sebab jika Gayoon tidak ikut, artinya Gayoon tidak latihan. Tidak latihan, tidak ada yang bisa menggantikan lemparan bola legendarisnya. Tanpa lemparan itu, tidak mudah menang. Tidak menang, berdampak pada prestise dan riwayat hidup klub! Lihatlah betapa nelangsanya klub softball di tangan seorang anak perempuan yang emosinya mudah meletup!

Oleh sebab itu, sepeninggal pelatih dan ketika Seungho mengantar Doojoon sembari mereka asyik mengobrolkan hal lain—berlokasi di ruang ganti perempuan, para anggota laki-laki sujud-sujud di bawah kaki Gayoon memohon agar ia mau ikut acara menginap.

Sadis, Gayoon menikmati rengekan mereka. Finalnya, ia mengiyakan negosiasi menyedihkan itu setelah masing-masing perengek mau berguling dan menggonggong tiga kali seperti anjing retriever. Perkenalkan, inilah Heo Gayoon si Ratu Tega.

***

.

.

.

(*) bye-yeom, thank-yeom, menambahkan akhiran –yeom: bahasa alay Gikwang dan Yoseob.

(**) Ngefans boleh, bego jangan; quote dari seorang kakak yang saya kenal.

A/N: Hai haiii! Berjumpa lagi sama saya, kali ini bukan bawa couple dooyoung tapi yeah, gikwang/gayoon! Saya tau mereka inces tapi apa daya kalo saya udah terlanjur ngeship, gimandos mereka unyu sih~

PS. Ada yang menyadari endorse PON XIX Jabar? Wkwkwk.

Iklan

3 Comments Add yours

  1. febryza berkata:

    Hahahaha gayoon sama gikwang lucu deh ternyata, mana gayoon nulis surat cinta begitu lagi hahaha
    Eh jadi ini diambil setelah kejadian doojoon-sooyoung-minho yg itu? Yah gayoon kasian bgt, doojoon kayaknya mantep bgt sama sooyoung, tapi gapapa sih kan nanti gayoon sama gikwang hehehe

    Suka

  2. Cicamica berkata:

    Yeay idah ada another story from H series. Beneran deh kalo ada cewe yg bisa nulis surat cinta buat cowo yg dia suka malah terkesan ngajak ribut gitu pasti cewenya anti mainstreem banget. Ga kebayang si gilwang kena friendzone wkwkwk. Kelanjutannya ditunggu fanny 🙂

    Suka

    1. Cicamica berkata:

      Duh malah typonya banyak

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s