[FF] it’s been a long time

Title: it’s been a long time
Genre: Romance, Historical, Poetry
Rating: PG
Length: Oneshot
Pairing: Doojoon/Sooyoung
Summary: Sudah lama sekali sejak—bagi Sooyoung, semuanya tidak akan pernah sama.

its-been-a-long-time.jpg.jpeg

A/N: Maafkeun judul yang kepanjangan *ga pinter bikin judul*, summary yang orz entahlah, dan hati-hati melow, jadi bacanya pelan-pelan aja.

***

Bagi Sooyoung, semuanya tidak akan pernah sama.

Malam kelam berbutiran putih di luar, kontras dengan perapian di dalam—menemani Sooyoung sebuah syal dan sepasang sarung tangan usang yang tak sepenuhnya membantu. Ia tetap menggigil kecil di balik jendela berdebu, kristal cokelat jernihnya menapak kelabu, terhalangi pemandangan luar oleh kabut dan salju. Sooyoung menunggu.

Ayah pergi tiba-tiba sekali barusan, tak sempat Sooyoung bertanya ada apa kecuali yang ia tahu, ada panggilan dari kepala polisi. Pertanyaan asing untuk anak seusianya, menginjak tujuh tahun ini. Hari ulangtahunnya, namun ayah lebih mementingkan urusan lain—tidak apa, lagipula, tahun lalu mereka sudah makan manisan bersama dan meniup lilin, tidak apa. Maka Sooyoung tidak marah, kesabarannya berbuah ayah tiba setelah kayu bakar habis setengah.

“Sooyoungie,” suara ayah parau, parau—dingin, beku, membatu. Sooyoung membawakan cokelat hangat namun ayah tersenyum ke padanya, mungkin, dan berkata bahwa ada urusan sedikit lagi sebelum ia pulang dan bisa memeluknya erat. Menceritakan hal-hal tentang ibu sebelum tidur. Sooyoung turunkan cangkir di genggaman, di depan wajahnya yang kecewa. “Ayah tidak apa-apa, berikan saja cokelat itu padanya.”

Benar, sebab malam itu ayah tidak datang sendirian.

***

Merah, merah, merah—pakaian robek dan penuh luka di tubuhnya, berlumur darah. Sooyoung nyaris memekik ketika melihat kondisi anak laki-laki ini, yang di antar ayah ke rumahnya bermenit silam—sekarang ayah pergi lagi meninggalkannya bersama sang anak asing. “Dia anak dari teman ayah. Keluarganya dibunuh oleh perompak.” Penuturan singkat ayah membuat Sooyoung paham, dan iba.

Ia—anak asing itu—terduduk saja di kamar, ekspresinya seperti orang mati. Sooyoung mengetuk pintu yang terbuka itu, membawa serta air hangat dan lap di pangkuan. “Boleh aku membersihkan lukamu?”

Tangan mungil Sooyoung memeras kain dan menyentuh wajah sang anak laki-laki, tak ada komentar. Mulus wajah itu tak tergores sedikitpun, merah di sana sini bukan berasal dari darahnya.

Terkulum bibir Sooyoung, tersirat simpatik, berbayang hitam sebagian wajah-wajah kecil mereka oleh api perapian, syukurlah ini hanya cipratan, semua ini bukan darahnya. Sooyoung memecah hening dengan pertanyaan lain, “Kau tidak keberatan kalau aku melepas bajumu?”

Satu-satu Sooyoung preteli kancing itu, kemeja lengan panjang dengan cravat, berkerah tinggi, sosok aristokrat yang tak bisa bohong dalam keadaan tergelandangan sekali pun—ia anak bangsawan, simpul Sooyoung. Desah lega berhembus tulus, sesuai dugaan tak ada luka di bagian perut, semuanya hanya darah orang lain. Sembari ia menyuarakan kelegaannya bersama basa-basi, mata anak itu diam-diam mulai melirik, Sooyoung menyadari ini dari gerik kecil bayangan di lantai, dan mulai membuka pertanyaan lain, “Siapa namamu?”

“Yoon …,”

“Yoon-gun?” ulang Sooyoung, tanpa menatapnya masih membersihkan noda-noda merah yang menutupi kulitnya, persisten, perlahan, lembut kain itu mengusapinya.

“… Doojoon.”

“Ah … Yoon Doojoon. Nama yang bagus, aku Choi Sooyoung.” Bintang di mata Sooyoung ketika senyum itu tampak, kemudian pudar oleh minim penerangan, namun keduanya tahu bahwa semua berlangsung hangat sejak saat itu.

***

Kuda telah dipersiapkan—seekor yang tampan dan berwarna cokelat. Hari ini adalah hari ke sekian—seratus, seribu, sepuluh ribu?—sudah darilama Sooyoung berhenti menghitung, yang ia tahu kini usianya enam belas. Ayah membawa seekor kuda tampan ini ketika kembali dari pelabuhan (pulang dari pekerjaannya yang mengharuskan ia keliling kota dan negara—merantau jauh dari kampung). “Ini hadiah ulangtahun untuk Sooyoung-ku.” Ayah bilang. Doojoon menahan tawa melihat gembiranya seorang gadis baru tumbuh memeluk seekor kuda. “Kebanyakan gadis di luar sana menginginkan gaun, bunga, dan sepatu tapi lihat yang saudarimu inginkan. Dia bahkan tak pantas disebut lady,” bisik ayah pada Doojoon—yang mungkin, Choi, marganya kini.

“Doojoon-ah,” senyum Sooyoung mengembang kelewat lebar, meminta. Doojoon membantu Sooyoung naik ke atas sandelnya, tak segan mendorong pinggang kecil itu lebih kuat hingga—“Ah! Hati-hati!” kemudian menepuk pelupuk moncong kuda itu, sebelum menuntunnya ke lapangan. Belajar berkuda.

***

Di hari yang lain, Sooyoung akan mengendap-endap ke kamar Doojoon dan mengguncang pundaknya dari jeratan ranjang. “Ayo bangun, ajari aku berkuda.” Setiap kali rengekannya adalah sama—dan aneh untuk seorang gadis. Lalu mereka akan mengeluarkan Brown dari kandang—kuda Sooyoung, nama yang sederhana karena kulit dan rambutnya sewarna tanah—tanpa sepengetahuan ayah, Brown yang ditunggangi Doojoon dan Sooyoung akan menjelajah ladang, melewati rumput, atau mengitari pondok dan bukit.

Sooyoung duduk di depan dan Doojoon menarik kekang kuda itu dari belakangnya, dengan dua lengan besar seakan merengkuhnya. Sooyoung suka aroma rumput dan embun, terlebih aroma tubuh Doojoon yang membaur di dalamnya, di pagi hari seperti ini. Hingga tegapnya dada Doojoon menyentuh punggungnya—kekar, dan kulitnya lebih gelap sekarang karena banyak bekerja di bawah sinar matahari. Meski begitu, aura kebangsawanan yang terpoles padanya sejak lahir tak pernah luntur.

Doojoon mengayunkan kaki, langkah kuda turut bersamanya, perlahan-lahan melewati jalan yang masih gelap, mentari yang masih bersembunyi. Tawa Sooyoung melontar tiap kali tali kekang ditarik, kuda berlari, ia berpegangan. Sesekali kekang itu dialihkan padanya agar sedikit-sedikit belajar mengendalikan Brown, Doojoon akan memeluk pinggangnya kala laju Brown kencang tapi masih dalam kendali.

“Pelan-pelan saja, Sooyoung-ah,” peringat Doojoon, tangan kiri mengkover tangan Sooyoung sementara tangan kanannya melingkari perut Sooyoung. Mengamankannya dari lonjakan jalan tak rata yang mereka lalui.

“Aku bisa, lihat!” ujar Sooyoung mencoba terdengar semeyakinkan mungkin. Menunggangi Brown membuat helai-helai rambut Sooyoung yang tak pernah disanggul tersibak ke belakang menutupi pandangan Doojoon. Pria itu menggerutu sembari merapikannya.

“Ikat rambutmu sesekali,” nasehatnya, Sooyoung merespon dengan enggan—tidak pernah serius masalah kefeminiman, selalu begitu. “atau tidak akan ada yang mau menikahimu.”

“Uh-hum.” Ada. Kau, barangkali? darah Sooyoung berdesir hangat—sakit. Ia pikir … semuanya sempurna, sudah cukup sebagaimana mestinya, sebatas adik tanpa perlu dipandang wanita.

***

Di usianya yang ke delapan belas, ia mendengar namanya dijual dengan tidak adil. Ayah menerima lamaran seorang pemuda pelukis dari kota seberang (kota yang terakhir kali ayah kunjungi). Tampan, ramah, beretika, dan memperlakukannya seperti seorang puteri, Luhan namanya. Para tetangga bisa menyebutnya bahagia tapi bagi Sooyoung, kebahagiaan tidaklah terpaksa.

(—ia merelakan ketika tangannya digenggam, ketika tubuhnya dirangkul, ketika bibirnya dikecup, ketika wajah itu ada dan bukan Doojoon melainkan Luhan, ia belajar mencintai. Namun satu yang membuatnya menelan pedih adalah senyum di mata Doojoon yang berdoa untuknya. Seakan eksistensinya di hati pria itu selama ini, kosong.)

***

Ia bermimpi buruk di ulangtahunnya yang ke dua puluh. Api berkobar. Penduduk berlarian. Harta benda dirampas dan pelabuhan terbakar. Pecah, jendela-jendela manor dihancurkan, pecahannya tajam dan jatuh berkeping-keping menitik darah di telapak kakinya. Ia berlari dari pintu ke ujung lorong, menangis dan memanggil ayah, memanggil Luhan. Para perompak itu mengejarnya. Gontai derap langkahnya karena lesu, kemudian limbung badannya tak sanggup menopang.

Doojoon menemukannya meringkuk di antara lemari dan perapian mati dengan dinding-dinding yang mulai roboh berkat kobaran api, sebagian gaunnya telah hangus dilalapi, merah menyala itu nyaris menyentuh, menguliti—perih, panas. Sooyoung memeluk erat leher Doojoon ketika tubuhnya dibopong. Ceruk leher dan tengkuk Doojoon basah oleh peluh bercampur deras bening dari matanya. Namun Doojoon masih sanggup berbisik menenangkannya meski keadaan pria itu sendiri seratus kali lebih kacau, “Mereka yang membunuh orangtuaku dulu, mereka mengincarku, pergilah dan jangan kembali. Jangan tunggu aku atau ayah, atau Luhan, kami yang akan menghampirimu nanti.”

Tenaga Sooyoung terlalu tipis untuk bisa membalas ucapan itu. Aku tidak mau, seguknya tanpa suara. Aku tidak mau pergi sendirian. Doojoon tidak menyahut, ia menaiki sedal Brown seraya menahan tubuh Sooyoung yang rentan, ia dekap wajah itu di dadanya—kuat sekali selayak tak bisa ia lakukan ini di lain hari.

“Bertanhanlah,” Doojoon bilang berulang kali—bagai memantrai, terus bergantian pucuk kepalanya Doojoon hirup dan ciumi, berharap dengan itu sedikit cemasnya terobati. “Aku di sini, shhh … tidak apa-apa.” Suaranya terdengar letih. Tergesa-gesa ia membawa Sooyoung jauh dari perkotaan. Menyembunyikannya di hutan. Rambut Sooyoung diusap lagi dan senyum itu tidak mengizinkannya menunggu. “Aku akan mencari ayah dan Luhan, dan memastikan mereka kembali dengan selamat padamu.”

Kau mungkin yang tidak akan kembali.

“Ambil beberapa dedaunan untuk menutupi luka bakarnya.” Sooyoung tidak mengangguk mengerti, titik-titik oranye kecil di sana membuatnya ingat bahwa mekanisme pembabatan kejam para perompak itu belum usai. Sooyoung menggeleng, tak ingin melepas pria itu ke sana lagi. Ia mungkin kejam pada ayah dan Luhan, tetapi … bisa jadi ia kehilangan Doojoon.

“Jangan,” Sooyoung menangis.

Dengan sigap, Doojoon menariknya sembari ia berlutut, mengelus punggungnya diiringi tidak apa-apa yang lain—yang tidak ingin Sooyoung dengar membuatnya menulikan kuping ke tingkatan yang mungkin tak bisa dicapai. “Jika kau tidak keberatan, izinkan aku mengaku sekarang, Sooyoung-ah.” Selepas pelukan singkat itu, bola mata Sooyoung bergerak-gerak liar, mencari kebohongan dalam sorot Doojoon meski nyatanya nihil. Pria itu lirih ketika berkata kemudian, “Aku mencintaimu.”

Sementara Sooyoung berusaha mencerna pengakuan yang amat terlambat itu, Doojoon telah membawa bibirnya dekat untuk disentuh dalam ciuman perih dan amis—oleh darah dan airmata.

***

Pelita hampir padam di seberang sana. Guyuran air dari langit yang membuatnya redup. Semua menjadi basah, gaun robeknya, rambutnya, tubuhnya, dan pepohonan yang melindunginya. Malam pembantaian berlalu dihempas angin dan cahaya nampak di ufuk timur. Namun rusuknya terlanjur mendingin dan pandangannya membeku lalu kabur.

***

Bagi Sooyoung, semuanya tidak akan pernah sama.

Sudah lama sekali sejak malam hari dimana Sooyoung berhenti mengitung hari. Sejak kepingnya lelah mengamati dan langkahnya lemas mencari. Setelah hari itu, setiap malam ia melanggar janji, menunggu seseorang yang telah lama melarikan diri.

Sudah lama sekali sejak malam hari tiga belas tahun silam Doojoon muncul dengan pakaian lusuh dan wajah kumal, bercak darah berluluran, serupa mayat walau kenyataan napasnya tak tercekal—sejak ia balas hampa tiap pertanyaan Sooyoung dengan bebal.

Sudah lama sekali sejak malam hari tiga belas tahun kemudian Doojoon lenyap, luka gores dan udara panas yang pengap, langkah goyah berbekal pelukan sigap, dan sebuah ciuman singkat di tengah gelap—sejak ia menenangkan Sooyoung berharap semua hanyalah bunga lelap.

Benar, sebab malam itu ayah datang sendirian.

***

((It’s been a long time since I love you.))

***

A/N (lagi):

Debut saya di genre historical! Errr … latar waktu dan tempat sekitar masa-masa pemberontakan di inggris (saya lupa tahunnya), saking banyaknya penjahat di sana ketika itu, mereka sampai mentransfer narapidana ke negara jajahan, ada yang bisa bantu? Saya lupa lupa lupa ingat kronologisnya wkwkwk.
Komentar ya, ingin tahu pendapat pembaca mengenai genre debut saya ini *tebar senyum*
Ps. Baru saya sadari ternyata karakter mz dujun fleksibel sekali, bisa dibuat serius atau lawak, daridulu saya mencari-cari role chara seperti ini. lop yu mz.

Iklan

21 Comments Add yours

  1. Kim Eun Ji berkata:

    tinggalkan komentar dulu baru baca ya kak><
    ((mumpung on pc))

    Suka

    1. Dorky Desy berkata:

      hai, kak! maaf aku baru balik
      ngecoba bantu aja (maaf kalo mungkin kurang tepat) munkin peristiwa yang dimaksud itu revolusi industri (abis dark agealias zaman kegelapan). dimana pada saat itu inggris mengalami kemajuan di bidang teknologi sehingga buruh tidak lagi dibutuhkan sehingga pengangguran membludak. hal itu menyebabkan perbedaan kasta antara kaum borju dan rakyat jelata sehingga terjadilah kriminalitas besar-besaran (karena rakjel sebal sama kaum borju) yang akhirnya penjara-penjara di inggris enggak sanggup menampung mereka sehingga mereka dibuang di tanah jajahan aka australia dan amerika. ini seingetku aja sih hhehehe
      .
      btw kok dujun mati sih? kan kasihan suyangienya ditinggal
      terus luhan kemana pula?

      Suka

      1. Yang Yojeong berkata:

        yeayyy makasih udah bantu yah mungkin itu maksudnya hehe

        luhan meninggal juga kan disitu ditulis “ayah datang sendirian” T..T
        maaf ya…

        Disukai oleh 1 orang

      2. Dorky Desy berkata:

        ah kurang teliti berarti aku ah maaf deh kak><
        makasih kembali itu seingetku aja sih soalnya materi itu udah enggak aku baca ulang hampir 2 tahun hhehe

        Suka

  2. beautyana berkata:

    Ini keren sekali Faniiii! T.T khas novel terjemahan sekali. Suka banget. Tapi, Doojoon mati yaa 😭😭😭

    Btw, aku belum dpt password Highskooler Fan 😀😀

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Iya dia meninggal 😭😭😭

      Eh aku ngirim ke emailmu kok udah dicek?

      Disukai oleh 1 orang

  3. doovie berkata:

    Faniii.. Tulisan km keren deh beneran.. Kaya lagi baca novel. Cm ini novel versi pendek aja. Hehe..
    Terus berkarya dalam tulisannya ya fan.
    Aku menunggu tulisan” km selanjutnya dgn cast doojoon.. Hihihi.. Paling suka kalau km bikin ceritanya doojoon jd keren. Hehe..

    Fan aku udah minta password highskoolers via line ya. Ditunggu balasannya. Gak sabaran mau baca endingnya soalnya..
    Gomawo fanii.. :-*

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      maaf banget belum bisa bales via line, paling entar malem ya soalnya aku bocah kuota malam wkwkwk sabar aja ya…

      Suka

  4. Sifika berkata:

    Ffnya bagus kak,
    serasa baca novel roman ala eropa , n couple soojoon bikin merinding(?)

    btw aq reader baru disini, salam kenal kak,

    Suka

  5. Sifika berkata:

    Ff nya bagus kak
    serasa baca novel roman ala eropa
    ,itu moment soojoonnya bikin merinding(?) masa

    Suka

  6. febryza berkata:

    Bagus fan serius deh.. gaya bahasanya kaya historical novel deh cuma memang engga terlalu baku dan kurang kosakata yg biasa digunain untuk novel dengan genre kaya gitu. . *Maklum penggemar novel historical romance hehehe* dan engga nyangka loh karakter mereka cocok buat genre yg kaya gini

    Oiya aku juga pernah baca tuh yg pas di inggris lagi banyak pemberontakan cuma ga inget tahunnya hahahaha

    Sediiih dujun engga balik lagi, nyesek aja gitu dia baru ngaku kalo dia cinta sama suyong pas suyong udh nikah terus dujun mau pergi nyelametin yg lain hiks hiks.

    Fan, minta pw highskooler ya. Aku udh minta by line sih hehehehe

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      duh jadi malu direview langsung sama pembaca fiksi histo-romance hihihi… makasih yooo

      btw maaf belum sempet bales di line, paling entar malem soalnya adanya kuota malem wkwkwk sabar ya

      Suka

  7. sparkmvp berkata:

    eh dujun ketam dujun ketam. sedih aku :(((

    Suka

  8. sychacha berkata:

    OMG,Fan,ini aku berasa baca novel terjemahan coba.. keren banget,suka banget 👍👍👍 Tapi sayang si doojoon mati,kasihan sooyoung 😭

    Suka

  9. KiHisa berkata:

    aku pengen kamu buat genre kek gini lgi fan..hehehe

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Maunya aja kak, buat sendiri aja wkwkwk #eh kidding

      Disukai oleh 1 orang

      1. KiHisa berkata:

        mbuat sendiri rasanya beda fan wkwk

        Suka

  10. fransisca24 berkata:

    suka ff historical begini ><
    kalo bisa bikin lg thor :v kyk gini hehe
    sedih sih doojoon mati… sehrsnya dia ga ush balik nyelamatin mereka #evil :v
    ditunggu ff lainnya, author hwaiting!

    Suka

  11. Cicamica berkata:

    Cerita historical yang fanny banget, walaupun ceritanya ala ala eropa tapi tetep faany banget salut pokoknya

    Suka

  12. seungky berkata:

    Halo kak, aku new reader, ijin baca ya ^^. Aku suka gaya bahasanya, cuman endingnya bikin rada sedih ^^. Nice, ff sooyoung yg lain ditunggu

    Suka

  13. Chansoo berkata:

    Ajibbb bener fann, kek berasa baca novel terjemahan.
    Keke fanny emang idola 😍
    Tapi kok sad ending yak ?! Baper bacanya 😥. kasian dujun -sooyoung kisah cintanya mengenaskan 😔

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s