[FF] H (highskoolers) – FOUR

Title: H (highskoolers)
Genre: Teen Romance
Rating: PG
Length: Mini-series
Cast(s): Yoon Doojoon [BEAST], Choi Sooyoung [SNSD], Choi Minho [SHINee], Son Naeun [APINK].

highskoolers.jpg

***

“Huft—hahaha, hahahaha!” sudah dua ronde habis tapi tawa kencang masih saja bersahutan dari Yoseob dan Gikwang. Doojoon mulai jengkel, telinganya jadi tidak fokus mendengar jargon jagoannya di monitor. “Jadi kau membiarkan pacarmu dan orang yang menyukai pacarmu pulang bersama? Kau ini tolol atau idiot?” sembari masih tertawa, Yoseob nyaris menyemburkan tahu dari mulutnya (sebab cemilan berat adalah teman wajib gamers).

“Yoon Doojoon, pengalaman cintaku memang tidak lebih bagus darimu, tapi setidaknya aku tidak sebodoh kau!” kali ini Gikwang sok bersabda, ia di samping kanan Doojoon sementara Yoseob di samping kiri. Mereka tengah melepaskan stres di arcade langganan. Semenjak punya pacar, inilah pertama kali Doojoon mangkir lagi ke game center sebelum pulang ke rumah.

Bilamana Yoseob tinjau, ia bukan melatih kekuatan tangannya untuk menangkis pukulan Doojoon yang untungnya, dengan ini ia dapat menghindari benjolan di kepala.

“Doojoon-ah, apa kau pikir Sooyoung tahu kalau Minho suka padanya?” atensi Doojoon teralihkan oleh pertanyaan Gikwang. Didapat Gikwang sebuah gelengan. “Lalu apa rencanamu?”

“Tidak ada.” Bunyi buak keras dari layar, you wins! karakter kungfu Doojoon membuat K-O computer player untuk ketiga kalinya.

“Ayo kita ganti percakapan membosankan ini pada topik lain,” usul Yoseob tiba-tiba mendapat ide yang brilian pikirnya, “do or die, siapa yang kalah terima resikonya.”

“Aku ikut.” Putus Gikwang. Respon Doojoon cukup lama tapi akhirnya mengangguk juga. Mereka sepakat mempertaruhkan satu nyawa dari masing-masing karakter. Siapa yang mati lebih dulu harus melakukan apa kata yang masih bertahan.

“Aku memikirkan ini, Lee Gikwang, ada seorang gadis sedang yang kau sukai ‘kan?” Gikwang menjawab iya tanpa resolusi lalu Yoseob melanjut dengan senyum kripi, “Kalau kau kalah, nyatakan perasaanmu padanya sambil telanjang.”

“Sinting! Lakukan saja sendiri!”

“Aku sudah pernah melakukannya!”

“Diterima?”

“Ditolak lah! Yang ada aku dicap eksibiotis!” tawa menyembur dari Gikwang dan Doojoon, mereka kemudian mendengar curhatan Yoseob mengenai taruhannya dengan Seungri dan ia kalah, dan gadis yang disukainya pindah sekolah. Sungguh miris. “Tapi kenapa aku melakukannya meski itu memalukan? Karena aku adalah pria, man!” woah, dua rekannya berdecak kagum.

Call! Kalau begitu, aku lanjut.” Kini giliran Gikwang yang memutuskan hukuman apa yang cocok untuk Yoseob bila kalah, “Nah, kalau kau kalah, parodikan tarian pantat ‘How’s This?’ HyunA di depan umum.” Sudah pernah, jawab Yoseob pendek. “Buat surat cinta untuk Jo Sumi-sonsaengnim.” Sudah sering, jawabnya lagi. “Mengaku homo di kelas?” sudah basi.

“Tidak bisa cari ide kreatif ya, kau ini? Otakmu isinya lumba-lumba dan kuda nil sih!” gugat Yoseob sepihak. “Makanya tonton acara TV itu bukan melulu dunia laut! Dasar maniak Dolpino.”

Gikwang menggerutu tak terima sementara Doojoon memikirkannya dengan serius, kemudian, “Tahu Park Gyuri dari kelas 3C? Coba nyatakan cinta padanya tanpa dibalas tamparan.”

Sedetik duadetik Yoseob membeku di kursinya. Keringat sebiji kacang menetes beruntungnya tak terdeteksi dua rekan setim. “O-oke, aku sanggupi.”

Good boy.” Balas Doojoon, memuji.

Gikwang mengerling, berkonspirasi dengan Yoseob. Tombol di mesin permainan ditekan lebih keras, mereka tahu apa hukuman yang tepat untuk Doojoon bila kalah, “Yoon Doojoon, selesai pertandingan futsal ulang nanti, hampiri Choi Sooyoung dan cium bibirnya di depan kami semua, di depan penonton, terutama di depan Choi Minho. Call?”

“HAH?!” Doojoon melotot—tiba-tiba ingin sekali ia gantung dua orang itu di jembatan sungai Han.

***

Mencium? Di bibir? Doojoon merapatkan mulutnya kala teringat itu. Ia tidak menyanggupi ataupun menolak tetapi reaksi duo minion itu berlebihan sekali. Bodohnya ia karena terpancing emosi, akhirnya kalah sebelum menit ke dua berakhir—karakternya mati terkena jurus bola api. Sial.

Mengenai bibir—Choi Sooyoung, ahem, ia memang pernah sekali, bukan mencium, tepatnya dicium duluan oleh Sooyoung, sebelum mereka tahu perasaan suka satu sama lain. Ketika itu terjadi Doojoon tidak pernah mempermasalahkan, toh berciuman bukan tindak kriminal—yang ia herankan adalah kenapa Sooyoung menghindarinya setelah itu? Ah, tolong jangan dibahas lagi sampai sekarang sejujurnya ia masih bingung. Maka salah satu alasan ia belum pernah mencium Sooyoung adalah ini—tidak mencoba, takut Sooyoung menghindarinya lagi. Banyak alternatif lain menunjukkan perasaan selain berciuman, by the way.

Bibir Sooyoung tipis, kelihatan manis (sebetulnya ia sudah lupa rasanya), pink penuh tanpa perlu lipbalm dan mungkin seperti rambutnya, wangi. “Ey, aku berpikir seperti seorang mesum sekarang.” Doojoon mengusap wajah, menendang ke alaska bayangan bibir Sooyoung.

Pukul delapan malam ia mendapatkan tiket kereta untuk pulang. Siluet samping seorang siswi menarik perhatiannya, seragam SMP Seowon yang ia kenal. Ditepuknya pundak itu dan, “Hey, sudah malam begini belum pulang?”

“Doojoon-oppa!” Son Naeun, terpekik kaget hampir terjungkal, Doojoon menahan lengannya dan mewanti-wanti bak kakak laki-laki sebab, sejak pertama kali bertemu karakter Naeun persisten sekali, ceroboh. “Aku baru selesai kerja kelompok, lain kali jangan mengagetkanku begitu. Aku takut, ku kira Oppa orang jahat.”

“Kalau kau takut kenapa pulang sendirian?” tuntut Doojoon, Naeun baru menyadari tak ada siapa-siapa di sampingnya meski ia mengelak akan pulang bersama teman-temannya—mereka sudah janjian tapi Sohyun dan Youngji belum juga datang.

“I-itu mereka! Sohyun-ah! Youngji-yah!” melambai-lambai Naeun dari tempatnya. Dua siswi SMP itu membawa cup cokelat hangat masing-masing dua. Sembari mereka memperkenalkan diri, Sohyun memberi satu cup untuk Naeun dan Youngji memberi satu cup pula untuk Doojoon. Menerima tanpa curiga, Doojoon menyesapnya. Namun belum waktunya kereta tiba, Sohyun pamit pulang lebih dulu karena dijemput ayahnya dan Youngji tanpa alasan yang jelas tidak jadi mengantar Naeun.

Mereka ditinggal berdua. Ponsel Naeun bergetar menerima pesan dari Youngji tak lama selepas pergi, tanpa sengaja terbaca oleh Doojoon, “Good luck Naeun-ah titik dua kurung tutup, apa maksudnya itu? Youngji itu temanmu yang senyumnya tiga jari tadi?”

Oppa! Jangan sembarangan baca pesan dari ponsel orang, tidak sopan!”

“Kau marah sampai wajahmu merah begitu. Iya aku minta maaf, tidak akan mengulangi lagi—oh, keretanya sebentar lagi datang. Ayo.”

“Uh, wajah merah ini bukan karena marah,” Naeun bersungut pelan, memegangi kedua pipi—yang sialnya terdengar Doojoon. Naeun mengelak lagi dengan wajah yang lebih merah daripada sebelumnya mengakibatkan alis Doojoon naik sebelah—memilih hirau akan dusta itu agar hanyut dengan sendirinya. Selama berkereta, ia menghitung stasiun, memikirkan taruhan (ciuman itu, maaf), dan membiarkan kepala Naeun terkulai di pundaknya.

***

Dengung cicadas malam di luar, angin membuat gordennya berputar dan berkibar, jendela terbuka lebar. Doojoon menyeru kebohongan pada ibunya bahwa ia sudah mengantuk untuk melewatkan makan malam. Entah kenapa, karena membayangkan taruhan itu ia jadi tidak nafsu makan—apa semua laki-laki seperti ini atau hanya dirinya? Lancang sekali—pemikiran mengenai kencan, dengan perempuan, memang merepotkan.

Berguling ke sisi ranjang, ruangan yang dijaga gelap itu tak mampu membuat kelopak mata terpejam. Doojoon meraba perut kosongnya yang mulai kelaparan karena aksi mogok makannya barusan (ia bilang juga apa, pikiran ini lancang sekali bertindak sesukanya memang dia siapa?!). Doojoon memutuskan untuk menyelinap ke luar rumah dan mencari pengisi perut. Sweater abu menempel di tubuh, nyaris berjingkat ketika berhasil ke luar tanpa menimbulkan keributan.

Konbini jadi sasaran utama, dua nasi kepal, kimchi dan ramyun instan. Doojoon makan dalam tenang. Ia cek ponselnya, pukul sembilan malam lebih. Apa Sooyoung sudah tidur? Doojoon mendial nomor dua.

“Halo, Sooyoung-ah?” klik! Tidak biasanya Sooyoung mereject panggilan. Ia coba sekali lagi dan hasilnya sama saja. Lantas Doojoon menscroll daftar kontak, mencari nama Choi Minho, “Apa ini, aku tidak punya nomor Choi Minho? Yahhh menyebalkan.”

***

Deru langkahnya menajam dan mempercepat, sepatu Minho mendecit di outdoor field itu. Sooyoung sedikit kehabisan napasnya dan menengadah hanya demi melihat wajah Minho karena sejatinya, mengimbangi emosi laki-laki yang sedang brutal itu menyusakan sekali dan—“Minho-yah,” rengeknya.

Membuat Minho berhenti di tengah lapangan dan memicingkan mata padanya, menyadari sesuatu dari peluh yang membasahi kening Sooyoung. “Kalau tidak mau menemaniku, pulang saja.”

“Tidak ada jaminan kau akan pulang ke rumah, memangnya? Ini sudah sangat larut.” Mereka menapak ke luar dari garis pinggir lapangan, terutama Minho yang menutup semua panggung pertunjukan akan adrenalin dan keringat.

Semua ini ide—keinginan—Minho, tidak mau pulang sebelum seluruh kekesalan pada Yoon Doojoon sirna. Oh, dan perihal nasehat yang dititipkannya pada Sooyoung, Minho mendengar semuanya juga dan membuatnya semakin kesal. Doojoon menggunakan Sooyoung seperti asisten pribadinya saja, setidaknya Choi Sooyoung bukan telegram berjalan, ‘kan?

Lalu Sooyoung duduk dan mengecek tasnya—ponselnya, ada panggilan masuk. Minho mulai mendekat. “Dari siapa?”

“Yoon Doojoon.” Balas Sooyoung, wajahnya meyakinkan sekali gadis kasmaran. Minho merebut ponsel itu dan mereject panggilannya. “Choi Minho apa yang kau lakukan?”

“Ayo kita pulang.”

***

Malam itu hujan turun lagi. Dengusan Minho terprediksi setelah lengannya yang menyampir tas berat, terjatuh di sisi tubuh, Sooyoung hanya mencoba bebas perpihak dan mengatakan bahwa Minho terlalu keras pada dirinya sendiri, Doojoon mengkhawatirkanmu.

“Sejak kapan kalian berdua?” karena pertanyaan itu bukan yang seharusnya jadi jawaban maka Sooyoung pun menggembungkan pipi dan meletup dengan semburat merah. “Aku tidak perlu tahu dari orang lain, melihatnya saja membuatku jijik.”

“Kejam sekali.” Runtuk Sooyoung—dalam kejujuran dan masih bersemu merah. Mereka berdua menyusuri jalan menuju rumah Sooyoung dengan satu payung, Minho yang memegang.

“Aku tidak tahu apa-apa soal itu.”

“Kau tidak bertanya.”

“Apa kau adalah orang yang harus selalu ditanya?” Sooyoung rasakan delikan Minho membabat kali ini, tidak main-main. Nada suaranya kemudian turun, “Aku bahkan menceritakan semuanya padamu.”

“Uh, itu …,”

“Haha, tapi mungkin,” Minho mendesah (mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu banyak berharap pada gadis di sampingnya …). “Mungkin Yoon Doojoon ada benarnya, kadang-kadang,” ia melarikan diri dari tatapan Sooyoung sementara gadis itu dengan ragu, mendengarkannya melanjutkan konfesi. “aku tidak bertanya karena takut mendengar jawabanmu.”

Sooyoung berhenti. Perbincangan ini mulai membunyikan alarm dalam kepalanya. “Minho, Choi Minho!” bumi ke Minho, sembari mereka berhenti di tengah jalan yang sepi oleh lalu-lalang. Minho berjarak dua langkah di depannya. “Jangan hujan-hujanan! Kalau kau kalah karena sakit—!”

“Payung itu tidak cukup untuk kita berdua, lebih baik cari tempat berteduh dan tunggu hujan reda sebentar lagi,” sungut Minho, membawa lengan Sooyoung untuk duduk di bangku depan toko alat musik. Minho sedikit melirik ke belakang, memastikan tokonya memang sudah tutup.

“Tidak perlu marah-marah begitu.”

“Aku tidak marah.”

“Kau iya.”

Minho menggerakkan matanya kembali ke arah Sooyoung, lalu diam sejenak, menyerah akan kebohongannya. “Iya, aku marah. Aku kesal padamu. Tentang pertemuan kita yang tak pernah sampai, tentang aku yang menunggumu seperti orang bodoh, tentang kecerobohanku di depan Yoon Doojoon, tentang aku yang hanyalah adik bagimu …,” dan yang tidak Minho utarakan adalah; tentang aku yang menyukaimu.

Hujan mulai reda.

Keping cokelat Sooyoung berbayang di bawah lampu jalan, berkata seolah ia mengerti akan semua hal ini—mencapai titik dimana kekesalannya luntur ketika Sooyoung meraih tangannya yang lebih besar untuk digenggam. Lagi-lagi berlakon seperti kakak, “Itu lebih baik ketika sudah mengungkapkan semuanya ‘kan? Lihat sendiri, siapa yang memendam perasaan sekarang, hm? Aku paham kejadian hari ini pasti membuatmu kacau—”

“Tidak. Kau tidak paham.” Sehingga, di tengah keremangan jalan itu, ketika Minho menempelkan ciuman pertama mereka di sudut bibir Sooyoung yang tidak kering, tetapi dingin dan lembab—begitupula bibirnya, ia menarik hidungnya menjauh dan berkata dengan lembut, “Itu maksudku. Kau paham sekarang?”

Sooyoung hanya terdiam di situ, pupilnya membesar dan menerawang jauh dari logika Minho yang tak dapat ia tafsir. Ia berdiri dari bangku dan tergagap-gagap berkata akan pulang duluan. Sooyoung dengan gerakan kaku mengambil payungnya dan sepatunya berkecipak menapak trotoar.

Minho membiarkannya.

***

Hujan telah berhenti, tak lama setelah Sooyoung meninggalkan. Tapi Minho tahu ia tak sendirian. Ia berdiri, menendang kerikil ke balik sebuah mobil. Sorotnya mendeteksi keberadaan seseorang, “Setelah menguntit dan melihat semuanya, masih yakin tidak akan bertanding denganku?”

Hujan telah berhenti, tapi tetes-tetesnya masih terasa dingin menggeretak tulang. Yoon Doojoon ke luar dari persembunyian, “Akan ku pastikan kau tidak bisa menyentuh bola.”

Minho melirik, namun Doojoon sudah tidak ada di sana.

***

Esok kembali hadir, Doojoon melewatkan sarapan di rumah dengan alasan latihan pagi. Ia juga melewatkan sapaan kencang Naeun di gerbong penuh sesak karena tatapannya kosong. Naeun berteriak ketika tiba di sampingnya, seturunnya dari kereta, “Oppa!”

Doojoon terdorong satu langkah ke belakang. Baru menyadari keberadaan Naeun dari sentuhan di pundaknya. “Oh.”

“Belum sarapan ya? Pagi-pagi melamun.” Celoteh Naeun, Doojoon dapat mendengar senyum dari suaranya. Meski moodnya tak ada niat membalas senyum itu.

“Oh.” Doojoon mendesah, pendek dan gelisah. Ia berjalan lebih dulu, mendahului beberapa langkah di depan. Naeun berlari-lari kecil mengimbangi langkahnya yang lebar.

Oppa, Doojoon-oppa,” panggilnya, berharap Doojoon bisa menoleh ke belakang dan melihatnya—menunggunya. Naeun tidak menyerah sebelum Doojoon terpengaruh, sayangnya Doojoon belum juga menangkap implikasinya. Laki-laki itu terus melangkah mendului. Naeun mengejarnya lagi. “—boleh-bolehkah aku menonton pertandingan futsalmu besok, di SMA Seowon? Gedung sekolah kita hanya bersebelahan lagipula …, hoh—Op-oppa, tunggu!”

“Ya, boleh. Datanglah. Ajak teman-temanmu nonton juga.” Doojoon berhenti, akhirnya! “Tapi hati-hati dengan anak SMA, mereka berbahaya.”

“Hah?” apa maksudnya ungkapan yang terakhir itu? “Tapi Oppa nggak berbahaya kok—ah iya, aku belum bilang terimakasih untuk kemarin, karena mengantarkanku pulang dan karena di kereta aku ketiduran. Kenapa nggak membangunkanku? Memang pundak Oppa nggak sakit?”

“KAU ITU!”

“Eh, a-apa? Aku salah bicara?”

“Kalau aku bilang mereka berbahaya ya berbahaya, percaya kata-kataku. Apalagi anak kelas 1C, kalau diajak ngobrol atau dimintai nomor telepon, kabur saja atau tonjok mukanya. Bilang arraseo!”

Nde, arraseo.” Naeun terkikik kemudian, sikap Doojoon aneh sekali hari ini tapi malah semakin membuatnya tertarik.

“Dasar,” Doojoon membiarkan Naeun melangkah di sampingnya, kini derap langkah mereka beriringan, “pertama bertemu kau kelihatan seperti anak yang pemalu, ternyata aslinya blak-blakan, rusuh, dan merepotkan.”

Oppa juga! Hehe, pertama bertemu sok keren sekali, ternyata aslinya suka melucu.”

Aniya! Kapan aku melucu?”

“Tadi lagi melucu ‘kaaan—sok diam begitu … hayooo, hahaha.”

“Aih, tahu apa anak kecil.”

***

“Suasana apa ini? Membuatku tegang.” Suara Yoseob dengan bibit kewaspadaan kentara di wajah kecilnya. Gikwang menyetujui lewat matanya, garis bibirnya turun memperhatikan atmosfer dingin dalam gor.

Yoseob menduga Doojoon marah sekali soal taruhan kemarin malam, dan yeah itu mungkin pertama kalinya ia kalah dalam taruhannya sendiri, bodoh juga sih. “Doojoon bahkan tidak menyapaku.” Sahut Gikwang yakin.

“Dia tidak menyapa kalian itu wajar, kalian memang jarang kelihatan. Tapi anehnya dia juga tidak menyapa Sooyoung.” Seungri bergabung dalam obrolan gosip. Yoseob memelototi ketika Seungri bilang jarang kelihatan (maaf sekali tapi Yoseob-ah, Gikwang-ah, kalian memang …).

Doojoon datang ke gor lebih awal daripada yang lain, tidak biasanya. Latihan pun dimulai, anggota tak menyadari ada perang dingin di antara Doojoon dan Minho jika saja saat itu Minho tidak tergelincir. Pergelangan kakinya terluka. “Jangan bergerak. Biar ku balut lukamu.” Doojoon mereka ulang pemandangan ketika Sooyoung pernah membalut lukanya dulu, kini sosoknya terganti oleh Choi Minho.

Woohyun melihat jelas Doojoon yang menubruknya. Permainan Doojoon kasar hari ini tetapi hanya pada Minho—dan meyakini bukan hanya ia yang menyadarinya.

Doojoon juga tidak banyak bicara kecuali mengomentari beberapa anggota tim, melapor progress latihan harian pada pelatih, dan memberi komando anak-anak untuk cool-down. Sooyoung membuat makan siang untuk seluruh anggota hari ini tapi Doojoon tak ikut makan, ia mengaku punya janji makan bersama teman-teman kelasnya untuk merayakan kemenangan sementara pertandingan futsal kemarin. Sooyoung menerima alasan itu, dan memberi senyum tidak apa-apa. Termasuk ketika Doojoon melewatinya begitu saja sembari menggandeng ransel.

Botol minuman dingin menggantung di udara, senyum Sooyoung hilang.

(Lagi-lagi dinding ini, mirip seperti waktu itu, saat-saat dimana mereka berlagak tak saling kenal. Kali ini … karena apa?)

***

Malam habis tersingkir dan pagi menjelang hadir. Hari pertandingan ulang tiba membawa serta euforia yang tak kalah heboh dari kemarin hari, malah kiranya kian banyak orang berhamburan memenuhi penonton.

Sekedip Doojoon membeku selepas mengikat tali sepatu. Masih terduduk di bench, tahu-tahu saja anak-anak tim mendengar ia memutuskan sepihak, “Aku akan bermain dari awal.”

Lee Jinki mencegat, “Bagaimana dengan rencana waktu itu?”

“Aku merubahnya.” Sorot mata itu jelas bukan yang boleh diajak bercanda, tak ada yang menginterupsi kini, lantas Doojoon berdiri—menyambung perintahnya, “Biarkan mereka mencetak satu angka, aku akan urus sisanya. Percayalah padaku, kita akan menang telak hari ini dan ku jamin, si nomor sepuluh tidak bisa menyentuh bola.”

Jung Joonyoung merasakan kuduknya berdiri, ia menyikut rekan di sebelahnya, “Siapa yang sudah membuatnya marah?”

“Entahlah.” Balas Junhyung sembari mengaduh. “Tatapannya nyalang, seperti hewan buas. Untuk mencegah kemungkinan terburuk, turuti saja apa katanya.”

(—coba kita lihat, siapa yang akan menjadi bintang lapangan hari ini.)

***

Annyeong, Unni! Aku datang untuk menonton juga!” Sooyoung menoleh karena seruan itu, Son Naeun telah duduk di sampingnya. Senyum lebar menambah cerah di wajah, berbanding terbalik dengan dirinya (penyebabnya adalah sikap dingin Doojoon kemarin—mereka pun tak pulang bersama tanpa klarifikasi apa-apa). Tampaknya Naeun datang bersama dua temannya Sohyun dan Youngji. Sementara di samping kiri Sooyoung sudah duduk anggota tim sepakbola Seowon, Yoseob dan lain-lain.

Seungri mencuri-curi kesempatan mengajak anak-anak SMP itu berkenalan, anggota lain juga tidak ada bedanya, sama genitnya. Nun melanglang pikiran Sooyoung akan pertandingan hari ini, firasatnya tidak bagus. Mungkin hujan berniat turun lagi atau bahkan lebih buruk. Badai petir?

Tatkala saatnya peluit start dibunyikan, histeria dari berbagai sudut bak pertandingan nasional bersahutan. Naeun berisik sekali, mengelu-elukan nama Yoon Doojoon sejak awal—awal? Ya, laki-laki itu bermain dari awal pertandingan. Yoseob berpikir, “Apa dia merombak rencana?”

Namun yang Sooyoung lihat laki-laki itu malah tak punya rencana sama sekali. Bermain tak teratur asal timnya mencetak angka. Minho kesulitan mendapat bola, dan itu karena—Yoon Doojoon (siapapun bisa melihatnya). Gemetar jemari Sooyoung menyaksikan. Perilaku Doojoon hari ini tampak lebih aneh daripada kemarin. Ia tidak tahu kenapa peluh menetes-netes dan debaran jantungnya menggila.

Sorak sorai kembali menggema, gempita. Pendukung Yoon Doojoon membuat keributan karena senang. Terasa kilat bagaimana pertandingan dapat berakhir, kelas 3A ke luar sebagai pemenang dengan unggul sepuluh angka dari kelas 1C. Skor keseluruhan 1:11.

Mengerikan.

(Mereka bilang, tak ada yang lebih mengerikan dari Yoon Doojoon yang terpojok. Bahkan dalam pertandingan terbersih pun ….) Inikah … ?

Sooyoung menyapu pandangan pada dua kubu yang berlawanan, nanar. Minho menangis di bangku pemain, teman-temannya terlihat menyemangati padahal sama sakitnya. Sementara Doojoon dari sisi lainnya, tak terlihat senang sama sekali ia telah menang. Inikah apa yang Minho maksud waktu itu? Inikah kejadian tiga tahun lalu dimana Minho pernah dikalahkan secara memalukan? Selisih sepuluh angka atau bahkan … lebih buruk dari itu? Seketika, Sooyoung memejamkan mata meski tak sanggup membayangkan.

Doojoon melempar handuk yang basah oleh keringat itu, teman-teman kelas tersenyum bahagia atas kemenangan tapi tidak dengan Doojoon. Jinki menyaksikan tangan Doojoon mengepal dan emosinya berkobar, tapi tidak tahu kenapa, akhirnya ia hanya mendiamkan. Bukan karena marah, Doojoon lebih terlihat seperti orang yang … patah hati.

“Doojoon-ah, minum dulu,” tawaran Jinki diabaikan, dengan kikuk menarik lagi minuman ion itu kembali ke sisinya. Lalu Doojoon berbalik badan, langkah tegas menuju bangku pemain kelas 1C, menuju si nomor sepuluh Choi Minho.

Minho duduk, menunduk, menyembunyikan airmata kekalahannya. Doojoon berdiri, dagu  terangkat arogan, dan berkata dengan nada yang jauh dari ramah—teman-teman Minho memberi cela untuk mereka berdua berbicara, “Kau lihat sendiri hasilnya. Terlalu cepat seratus tahun bagimu bisa mengalahkanku karena kau tahu kenapa? Inilah perbedaan besar antara kau dan aku.” Doojoon menjeda, Minho belum juga menampakkan wajah pilunya, wajah pecundangnya. “Angkat kepalamu dan sadari posisimu, Choi Minho. Aku sudah memperingatkanmu agar tak membuatku kecewa tapi, … lupakan saja. Jangan bermimpi terlalu jauh.”

Sepeninggal Doojoon, Minho meninju tanah. Sekeliling berbisik takut-takut bahwa Yoon Doojoon-sunbae menyeramkan sekali.

Dan kini, Doojoon, berjalan ke arah Sooyoung yang meneguk liur. Wajah dengan garis-garis tegas itu tepat di depan wajah Sooyoung. Lengan Doojoon mengekang sisi tubuhnya sementara jemari tangan lain mengangkat dagunya, lalu menciumnya. Di depan penonton, di depan anggota klub, membuat Naeun yang tepat berada di samping kanan Sooyoung terbelalak begitupula Minho dari jauh sana. Sementara ia sendiri, dengan degup yang terlalu cepat ini, berusaha memahami semua tindak-tanduk Doojoon yang di luar nalar. Mencium bibirnya di depan umum?

Mulut para anak laki-laki—anggota klub—terbuka, terutama Yoseob yang mencanangkan ide ciuman itu tapi tetap tak menyangka Doojoon benar-benar melakukannya. Siapa yang sinting sekarang?!

Ciuman itu tak lebih dari sentuhan dua pasang bibir tanpa lidah dan apa-apa dan—tatkala Doojoon melepas pangutan, belah bibir mereka terpisah setelah ribuan kamera ponsel mengabadikan, namun yang Doojoon lakukan kemudian adalah membunuh semu merah muda pada pipinya dalam sekali tebas, “Apakah semudah ini laki-laki bisa menciummu?”

***

Iklan

27 Comments Add yours

  1. aku gak tahu kamu bakal ngepost secepat ini
    oh.. makasih banyak pulang kuliah langsung seger baca lanjutan ini.
    yaampun..
    aku bener-bener gak nyangka kamu bakal adain kiss scane nya sooyoung-minho
    dan doojoon jadi murka gitu.
    antara kasian sama doojoon yang uda liat pacarnya di cium sama orang yang menyukai pacarnya
    sama sooyoung yang dicum didepan umum trus doojoon “Apakah semudah ini laki-laki bisa menciummu?” doojoon ngucapin itu
    gak sabar gimana sooyoung-doojoon selanjutnya.
    ending part ini tuh pas banget buat aku gagal move on..

    kalau nanti di protek aku minta PW nya ya..
    via twitter boleh kan ya…

    good job
    semoga gak lama-lama
    terus ada cerita baru lagi yang makin seru. pasti sooyoung-doojoon ya.. hihihi

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Kalau ada Twitter/line boleh sih lewat itu aja mintanya :))

      Iya nih aku posting Cepet lagi semangat aja hehe gara2 nontonin fancam byushow kemaren kkkk

      Suka

  2. sparkmvp berkata:

    loh kok cepet!! wkwkwkkw makasih kak udah cepey
    doojon pls deh kok jadi kasar dan tolong naeun! kesel :((

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Huwaaa jangan benci Naeun ku plisss 😥😥

      Suka

  3. doovie berkata:

    Wiiihh.. Cepat banget update chapter lanjutannya.. Makasih fanni..

    Doojoon… Haduh.. Cemburu dan kesel sama Minho ya… Tapi kok aku suka ya liatnya. Kan kliatan gitu kalau doojoon tuh emang sayang sama Sooyoung.. Hihihi..
    Ini jadinya yg gak peka tuh Doojoon apa Sooyoung ya.. Greget banget sama mereka..
    Plis Minho sama Naeun aja deh.. Haha.. Jadi couple soo-joon aman.. Hihihi..

    Ceritanya bagus fan. Aku suka banget sama tulisan km.
    Aku udah add line km ya.. Kalau nanti diprotek minta PW nya ya.. 😀
    Hwaiting fanni..

    Suka

  4. febryza berkata:

    Seriusan kali ini kamu cepet bgt fan aku aja kaget pas pulang kerja iseng buka blog kamu terus liat awal2 kalo kamu update ini huaaaaaaa…
    Mana itu scene yg ada di trailer kamu yg aku tanyain itu bener2 keluar lagi dan bener2 doojoon liat adegan itu. Pantesan aja itu dia main bola kaya kemasukan setan gitu yampun doojoon yg pasif bisa sampe kaya gitu loh.
    Di scene2 awal aku sepakat tuh sama yoseob kenapa sih doojoon bego bener udh tau si minho suka sama sooyoung eh malah disuruh pulang bareng. Gataunya si doojoon bales minho dengan cara yg kaya gitu lagi hahahaha
    Part selanjutnya digembok? Aku minta by line aja ya kalo gitu

    Suka

  5. Kim Eun Ji berkata:

    gilak keren banget kak faaann><
    aku suka scene terakhirnya
    nunjukin banget jantan, buas, tapi sayang sama sooyoung, kebukti banget deh beneran
    masih ada lanjutanya kan? ayo semangat lanjutnya.
    .
    .
    .
    .
    .
    btw kapan ail dilanjut? kkkk

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Aku suka bingung kalo ada yang nanya ini/itu kapan dilanjut hehe sebab memang gatau mau kapan dilanjut nya atau malah gadilanjut 😲😲😲😖😫

      Suka

  6. fazrina berkata:

    suka banget sama marahnya doojoob manly banget tapi pas ending tbcnya nyesek sekali:(

    semangat ka fanneey lanjutin chaptrer selanjutnya

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Oke. semangat banget nih!

      Btw Fazrina ada email buat aku kirim pwnya? Atau mau lewat line/twitter?

      Suka

  7. Seotwin berkata:

    Udah lanjut ajaa ceritanyaa,, Aduh aku baca deg deg an sendiri rasanya~~ dan yaaah,, minho nangis, sesuai perkiraan kalok kalah pasti nangis ㅋㅋㅋ tapi endingnya itu,, doojoon ngomong begitu, jleeeeb bgt buat soo pasti~ kasian soo-unnie 😭😭😭 minho omegat,, naeun juga centil amat yee perasaan disini, wkwkwk~~ semoga happy ending lah buat soo,, btw ntar minho jangan dijadiin sama naeun yaa (korban korban patah hati) hahaha, minho jomblo ganteng ajaaa

    Suka

  8. sychacha berkata:

    Astaga,cepet banget updatenya fan,ga nyangka bakal update secepet ini..di chapter ini aku ngerasa doojoon jahat banget apalagi kalimat terakhirnya dia “Apakah semudah ini laki-laki bisa menciummu?”
    Astaga Doojoon!! Soo aja juga syok waktu dicium Minho.. wish the best buat Doojoon-Sooyoung aja deh,ya… btw,itu Naeun kok centil amat ya?
    Oh iya fan,aku minta pw lewat line aja boleh?line kamu apa?nanti aku add. Trimakasih,fanneey 😄

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Kalo ada Line/twitter boleh lewat dua itu
      idline: fanniwpbaru
      Twitter: @fanneeywp

      😄😄😄

      Suka

      1. sychacha berkata:

        Oke,makasih fan 😄

        Suka

  9. beautyana berkata:

    Aku telaaaat! Hiks T.T ini semua salah koneksi internet yang teri banget/? Udah berhari-hari ngajak ribut sampe ga sempet ninggalin komentar padahal udah baca -_-

    Sumpah aku puas banget sama kekalahan Minho yang telak banget itu. Sukurin, makanya jangan belagu! Berani-beraninya nyium Sooyoung padahal udah tahu Doojoon pacarnya. Ketauan lah sekarang, siapa bintang lapangan sesungguhnya *tuing

    Marahnya Doojoon itu greget banget buat aku. Langsung delulu gimana ekspresinya Dudu pas maen bola dengan emosi kaya gitu. Pasti ganteng *ehh Wajar sih dia marah, kan pacarnya dicium cowok lain, mana sengaja pula -_-

    Tapi, endingnya jleb banget Fan 😦

    Suka

  10. odiliagita20 berkata:

    Hai autor !
    Aku semalem iseng-iseng cari ff yg cast.nya sooyoung-doojoon dan akhirnya nemu blog ini ^^
    Dari pertama baca chapter one, aku langsung jatuh cinta sama jalan ceritanya, sampe baca chapter four makin penasaran kelanjutan ceritanya. Apa yang bakal dilakuin sooyoung setelah doojoon ngomong gitu, Haduh pokoknya penasaran bgt. Aku bakal menanti bgt kelanjutannya ceritanya hehe.
    Btw nnti kalo chapter berikutnya diprotect, bisa minta passwordnya lewat email gak ?

    Makasih autor dan semangat terus buat bikin cerita yang keren !

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Makasih yaw sudah berkunjung dan baca-baca.

      Boleh dong. Emailmu apa? 😄

      Suka

      1. odiliagita20 berkata:

        Iyaa sama2 hehe
        Lagian langka bgt ada ff yg pairingnya sooyoung-doojoon hehe. Jadi jgn bosen2 bikin ff yg pairingnya mereka ya hehe

        Ini emailku gitaodilia@gmail.com

        Makasih sebelumnya ^^

        Suka

  11. keniiablog berkata:

    Doojoon kesetanan itu main bolanya😁😁
    Ini hawa2nya kok doojoon sooyoung mau putus ya:((( grgr minho emang dasar ya😭
    Semangattt ya authorrr nglanjutinnya!!!😍😍😍

    Suka

  12. Amelinda Amda berkata:

    Doojoon kok ngomong kasar gitu sih ke sooyoung pdhal disbelah soo ada naeun-__-
    Psti naeun kesenengan deh tuh
    Taruhannya subhanallah kocak bnget itu yg gikwang sma yoseob xd
    Minta pw ff part 5 donn
    Emailku: amelindaamda@yahoo.co.id

    Suka

  13. Di berkata:

    Lah udah sampe end aja ini ff *ketinggalan berita. Gikwang Yoseob sebleng beneeer wakaka. Aduh Minho kamu ngapain sih ganggu ganggu hubungan orang cari yang lain gih jangan nyebelin >.<

    Suka

  14. RedPetal berkata:

    setelah baca ini aku jadi orang baru yang bakal ngeshipperin Sooyoung-Doodoo
    Terimakasih kak Fanfan sdh membuat ff yang indah ini dan dujun keliatan manly, ngomong-ngomong aku baru mapir ke sini dan kepincut sama ff kakak
    aku minta PW dong buat chap selanjutnya~

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Emailmu apa?

      Suka

  15. yuki-chan berkata:

    Kak fanniiiiiiii. Makin keren ajaaaaa nih. Daebak!. Makin ngefans sama mas dj kalo gini mah. Tapi serem yeh, dujun. Ya ampun kak. Greget sekali saya ketika baca yg terakhir itu kok pedes amat yah omongannya. Ih, tapi kok kek mereka mau putus ini?? Jangan dong kak. Heheh. Tapi password bagii yah. Lewat line aja boleh? Ini aku kak, afra. Inget? Ngga inget nggapapa juga sih xD. Ntar aku minta pw part 5 dong kak

    Suka

  16. …….
    Parah banget ya Dujun kalau udah ngamuk. Mengerikan. Ga nyangka aja sampe Sooyoung juga kena marah dan kata kata terakhir Dujun itu sangat….. menyakitkan. Kalau aku jadi Sooyoung mungkin aku bakal nonjok (minimal nampar maksimal bunuh) di tempat.

    Minho juga ih kenapa coba menyulut api udah tau kalau Dujun kemaren itu cemburu eh malamnya malah pacar orang dicium apa ga ngamuk tuh. Tapi aku juga ga tega liat Minho dibabat habis habisan sama Dujun sampe sampe 11-1. Astagaa:”) sampe nangis gitu dianya 😦

    Ada efek bagusnya sih Dujun nyium Syong di tengah tengah keramaian itu jadi yg cewe disebelah Syoung itu jadi tau diri untuk tidak mendekati pacar orang lagi (dan mau mengucapkan rasa prihatin sama dia yah gara gara dikacangin waktu di stasiun 🙂 )

    Suka

  17. nisa berkata:

    tuh kan ada apa apa kalo pacarmu dianter sama rivalmu… doojoon jahat banget sihh kan yang nyium si minho… gitu kan sama aja mempermaluin sooyoung….

    Suka

  18. sifika berkata:

    jangan sekali-kali menyulut marahnya orang kalem (tunjuk dudu) :v
    orang kalem sekali marah nyereminnya minta ampun -,-
    sampe pacarnya sendiri juga kena (padahal cuma salah paham)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s