[FF] H (highskoolers) – THREE

Title: H (highskoolers)
Genre: Teen Romance
Rating: PG
Length: Mini-series
Cast(s): Yoon Doojoon [BEAST], Choi Sooyoung [SNSD], Choi Minho [SHINee], Son Naeun [APINK].

highskoolers.jpg

***

Sooyoung menelusup di antara anak-anak murid lain yang berdesakan melihat kertas pengumuman baru tertempel di mading. Mendongak sedikit hingga keping cokelatnya menangkap kertas pertuliskan taruhan Choi Minho versus Yoon Doojoon, siapa yang akan menang? koor seruan seperti, “Sepuluh dollar untuk Yoon Doojoon!”—konyol sekali! Lihat bagaimana ricuhnya seisi sekolah hanya karena dua pemain Ace akan berhadapan satu sama lain di pekan olahraga minggu ini—oh bahkan ini bukan pertandingan seresmi itu.

Kesal, Sooyoung menggapai kertas itu hendak merobeknya, namun amat disayangkan Seungri menahannya sembari berkedip genit kemudian merangkul pundaknya menjauhi keramaian. Sooyoung jelas mengamuk setelahnya, “Apa-apaan itu maksudnya? Kau dalangnya?”

“Eiy, jangan diambil serius. Hal-hal seperti itu hanya untuk bersenang-senang!”

“Kau mungkin menganggapnya guyonan tapi jika Minho atau Doojoon tahu—”

“Sooyoung-ah, jebal, tidak bisakah tutup mulut sekali ini saja? Lagipula kalau kau mengacaukan itu—tadi, yang jadi amukan massal bukan aku, ‘kan? Aku baru saja menolongmu!” yang paling Sooyoung benci di sini adalah kebenaran perkataan Seungri. Ia memutuskan pergi setelah memelototi anak laki-laki itu. Seungri memang tukang tebar pesona dan ahlinya membuat masalah—ngomong-ngomong, kapan anak itu akan berhenti? Urgh. “Sooyoung-ah!”

“Apa lagi?” Sooyoung menyahut malas. Seungri menyusul langkah-langkahnya dan menanyakan sesuatu dengan mode biang gosip dan seharusnya, pertanyaan itu sudah jelas sekali apa jawabannya, “Aku tidak memihak siapa-siapa!” jawab Sooyoung ketus.

***

Jangan tanya mengapa Sooyoung dapat dengan mudah menemukan Yoon Doojoon di tengah-tengah para pemain rumput hijau. Agaknya ia sedikit terlambat datang karena piket kelas tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkan hal itu (lagipula, Lee Gikwang lebih sering terlambat daripadanya). Bergegas masuk ke dalam ruang loker, ia menyimpan ransel, mengeluarkan catatan dan sebuah pena, lalu duduk di bench dan matanya kembali bekerja mengamati perkembangan para pemain.

Di masa-masa Winter Cup kemarin, tungkai bawah Gikwang sempat cedera, nun melihat bagaimana ia mengambil kembali posisi striker, Sooyoung menduga kondisi laki-laki itu membaik. Woohyun tampak menemukan spesialisasinya belakangan ini (sebab semenjak bergabung ia bingung kemampuannya cocok ditempatkan dimana—ia gesit dan tangkas), Leo sudah tidak terlalu memforsir latihannya, Seungri mulai jarang membolos—itu bagus, dan Yoseob sepertinya kehilangan berat badan. “Fiuh,” Sooyoung mengendorkan pena di jarinya, selesai merangkum observasi singkat tim.

Kembali memperhatikan Doojoon, terlansir pertanyaan Seungri tadi siang, “Kau memihak siapa, Choi Minho atau Yoon Doojoon?” Sooyoung hanya menghembus napas lelah lantas berbelok pandangannya ke arah Minho, laki-laki itu jelas … gaya bermainnya sangat berkembang dari terakhir kali yang ia tahu …. Perkembangan yang seperti monster, luar biasa. Staminanya tak mudah habis, Sooyoung yakin fisik dan mentalnya telah ditekan habis-habisan selama di Amerika sana, siapapun gurunya—tertarik lengkung ujung bibir Sooyoung—Minho telah mendapatkan guru yang hebat.

“Karena kemampuan yang terlalu hebat itulah,” Minho mengabaikan isyarat Woohyun untuk mengoper, ia maju sendiri dan membuat gol untuk yang ketiga kali. “Minho-yah, kau harus berhenti berpikir bahwa permainan bisa kau kuasai seenaknya.” Sooyoung menutup notesnya dengan kalimat itu.

PRIIIT!

Pelatih mengomandokan anak-anak untuk menepi, ia selalu memberikan review sebelum latihan dibubarkan. Sesuai dugaan, pelatih juga beranggapan sama dengannya, bahwa permainan individualis Minho harus dikurangi. Minho tak banyak merespon melainkan fokus menghabiskan mineral dan mengatur napasnya kembali normal. “Baiklah, sekarang kalian istirahat yang cukup. Seungri, langsung pulang, jangan keluyuran! Sampai besok!”

“Kapan saya keluyuran? Itu pencemaran nama baik, Pak!” protes Seungri hiperbol kemudian menjelaskan bahwa ia membolos karena tidur siang di atap sekolah bukannya mangkir ke game center.

“Jadi kau tidak akan ikut ke game center?” karena kepanasan Yoseob melepas kaus latihannya hingga tersisa kaus dalamnya saja, Gikwang menjadi kroni dari samping, “Aku dan Gikwangie akan mampir sore ini.”

“Ibuku bisa marah lagi kalau aku pulang telat!” lalu Yoseob meledeknya anak mami yang anehnya, Seungri tidak marah-marah selain memberi sedikit lirikan tidak setuju. “Terserah!” Sengit Seungri sembari handuk telah di tangan dan menuju kamar mandi pria lebih dulu.

Sooyoung juga mengambil handuknya, bukan untuk dirinya sendiri tapi karena Doojoon masih terbiasa melap keringat dengan kausnya (tolong berhentilah)—dan ia terkikik menyaksikan pacarnya jauh lebih gelandangan daripada cap para siswi yang mengantri genit bahwa pemain sepakbola adalah replikasi dari kasanova—berlawanan sekali dari ekspetasi. Sooyoung berdiri, menyodorkan handuk itu agar Doojoon mendekat sebelum detik canggung menghentikan keduanya karena, karena Minho semena-mena merebut handuk yang ia kira untuknya lalu dipakainya lalu berterimakasih sekenanya pada Sooyoung.

Sooyoung tidak masalah. Namun satu yang membuat ia tertawa adalah reaksi geram Doojoon setelah kejadian itu. “Kenapa anak itu benci sekali padaku? Aku pernah salah apa padanya?”

“Masih belum ingat? Perlu ku ingatkan?” Doojoon mengecek Sooyoung yang tampak meyakinkan tapi ia berusaha tetap berwajah netral dan mengatakan akan mengingatnya sendiri. “Cobalah diingat lagi, Minho bilang dia sangat mengenalmu.”

Mwoya? Dia cerita macam-macam tentang aku? Yah Choi Minho!”

“APA, HAH!” Minho menyahut terdengar kesal seperti gunung meletus. Doojoon kaget, tidak menyangka Minho akan mendengar seruannya. Mereka berdua malah saling melempar argumen tidak berguna.

***

Adakalanya di hari-hari yang menyusul, Minho dengan pribadinya yang semakin kentara menunjukkan ini itu. Semakin terlihat pula amarah yang tidak main-main dari sorot matanya (ya, caranya menatap Doojoon serendah itu dan tiap kali mengganti topik obrolan yang berkaitan dengan laki-laki itu seolah, “Tidak bisakah kau tidak membicarakan laki-laki lain di depanku, Nuna?”) atau Sooyoung yang salah kaprah?

Tapi tidak—Minho pada tingkatan finalnya ketika pada suatu siang di kantin, cup latte jadi sasaran gunung meletus yang lainnya. Sooyoung menekan suaranya tetap tenang sembari bertanya apa yang membuat Minho ke luar dari karakter. “Yoon Doojoon,” jawab Minho singkat, padat, tepat sasaran—dan (lagi-lagi, akan selalu) Sooyoung tak butuh Minho untuk melanjutkan. “dia tidak akan ikut bermain di futsal pekan olahraga.”

Jujur saja Sooyoung tak tahu sama sekali perihal itu. Apa yang Minho bilang tadi? Doojoon tak akan bermain di futsal pekan olahraga nanti?

“Kau tahu darimana?” tanya Sooyoung hati-hati. “Pastikan informasi yang kau dapat itu bukan gosip—soalnya aku belum mendengar apa-apa dari Doojoon—”

“Aku mencuri dengar, dia sendiri yang mengatakannya.”

Setelah itu, Sooyoung tidak tahu harus bilang apa. Pilihannya hanya dua, ia menemui Doojoon dan menanyakannya sendiri, atau tidak. Bukan berarti ia seorang freak akan urusan orang lain seperti kebanyakan gossip girl tetapi, bagi Minho hal seperti ini amatlah mengecewakan. Sooyoung tahu seberapa inginnya Minho bertanding dengan Doojoon selain dari latihan rutin, maksudnya, pertandingan di lapangan minimalnya semi-resmi seperti ini. Sooyoung menahan intensi untuk menelepon Doojoon—ya, ya, lebih baik langsung menemuinya sekarang. Apa yang dipikirkan laki-laki itu sebenarnya?

“Apa yang aku pikirkan? Aku memikirkan anak yang ku kalahkan ketika pertandingan Nasional SMP.” Sejenak Doojoon menjeda, “Aku sudah ingat, Choi Minho si nomor sepuluh dari SMP Yeonju, betul? Aku turut menyesal perihal kekalahannya dulu—aku tidak tahu dia bisa sesakit hati itu—”

“Itu bukan hal yang penting sekarang, kenapa kau melakukan ini pada Minho!” setelah menarik tangan Doojoon dari kerumunan teman-teman kelasnya—dan membuang jauh-jauh rasa malu sebab memasuki wilayah sunbae(s), ia tidak menyangka akan mendapat jawaban sedangkal ini. Doojoon bahkan tak terlihat merasa bersalah. “Minho ingin sekali bertanding serius melawanmu, tapi kau—kau dengan tanpa merasa peduli, bilang tidak akan ikut bermain di pertandingan?”

“Aku punya rencana, dan aku pikir … kau tidak perlu tahu, Sooyoung-ah.”

“Kenapa?” pertanyaannya terdengar begitu putus asa, kenapa Doojoon seperti ini ia benar-benar tak mengerti.

Suara orang ketiga menengahi. “Sooyoung-nuna tidak boleh tahu? Kalau begitu katakan padaku apa rencanamu,” dengan tidak langsung Minho baru saja memperparah atmosfer persaingan dari bagaimana caranya menarik tangan Sooyoung dan menyuruhnya pergi. Wajah Minho berkeruh tepat di depan Doojoon yang tidak suka dengan distraksi tiba-tiba ini. Tidak bisakah bocah ini menerapkan etika pada senior?—geez.

“Kau akan menyesal jika mendengarnya.”

“Atas dasar apa kau memprediksi perasaanku?”

Doojoon menoleh pada Sooyoung, “Sooyoung-ah.” Lewat mimiknya ia meminta Sooyoung meninggalkan mereka berdua, yang secara gamblang ditolak—Sooyoung belum pernah menunjukkan sisi berontak ini padanya maka ia sedikit mengangkat alis terkejut.

“Aku tetap di sini.”

Doojoon sering bertemu tatap dengan replika tanah milik Sooyoung, jujur saja ia terbiasa dengan tatapan hangat dan cerah, tidak pada tajam menusuk—meski secuil dirinya mengagumi kepribadian kuat Sooyoung yang satu ini. Ia menghembus napas, memilih membiarkan keras kepala gadis itu.

“Ah … ini membuatku sulit. Kenapa kalian berdua menekanku begini?” Doojoon mengacak rambut belakangnya, gerik tiap kali suatu hal membuatnya terdesak. Mau tidak mau ia bocorkan juga, “Oke, oke! Sekarang pikirkan secara rasional, Choi Minho, aku tidak bermain karena aku ingin, tapi karena aku memang bukan pemain yang bisa masuk ke lapangan semauku. Paham?” Doojoon memulai dengan skema sederhana, Minho menangkap maksudnya, dengan kata lain, Doojoon merupakan pemain inti yang tidak sembarangan bisa diturunkan. “Kelas 3A dilatih oleh wali kelas kami langsung, Kim-sonsaengnim, dialah yang membuat aturan. Kalau kau bisa membuatnya marah ketika hari-H nanti, mungkin saja aku bisa diturunkan untuk bermain.”

“Membuatnya marah?”

“Kau tahu, apa yang akan membuat seorang pelatih marah?” Doojoon mengulang pertanyaan Minho, menggores ego laki-laki itu lewat kata-katanya. “Ketika para pemainnya dipermalukan di lapangan.”

“Hah … kenapa berbelit-belit, kau mau sok pintar di depanku? Bilang saja aku harus membuat tim-mu babak belur agar membuatmu turun tangan.”

“Kau tanggap juga.” Sooyoung menemukan tatapan mereka berselip sengit tanpa alasan jelas—laki-laki menganggap serius sekali pertandingan ini—namun ia mengenal Doojoon sebagai orang yang tidak pernah beromong kosong. Siapapun bisa memegang ucapannya. Tetapi kemudian, agaknya Doojoon sengaja menindas mental Minho sedikit lebih dalam lagi, “Bagaimana mungkin kau bisa mengalahkanku kalau membuatku turun bermain pun tidak bisa? Rancang strategimu dengan matang dan jangan membuatku kecewa, Choi Minho. Pemain yang tempramental bukan hanya membahayakan lawan, tapi juga tim dan dirinya sendiri.”

Minho memunggungi, “Cih.”

“Ah, ya. Satu lagi.” Interupsi Doojoon sejenak, matanya melempar senyum pada Sooyoung lalu berganti sorot jengah pada Minho. “Jangan bawa-bawa Sooyoung kemanapun seolah dia milikmu! Dasar kau! Dia itu—”

“Mau melakukan apapun itu terserah padaku! Kkaja, Nuna.” Minho menggandeng tangan Sooyoung menghasilkan gejala dongkol Doojoon kambuh. Untuk alasan satu ini, Doojoon pernah berpikiran menghadiahi Minho sebuah tinju.

***

Hari-H, hari pertama pekan olahraga, pertandingan futsal pertama pula yang dibuka oleh 1C melawan 3A. Antusiasme siswa-siswi sekolah bukan hanya dari kelas yang ditandingkan hari itu, Sooyoung rasakan jelas euforia seperti pertandingan nasional saja. ia menelurusi bangku penonton yang mulai penuh oleh siswi-siswi yang menyeru semangat pada Minho—gerombolan penggemarnya? Minho ternyata sepopuler ini? Di lain sisi, para siswa punya indikasi kuat terhadap kebutuhan taruhan (konyol!) dan apa mereka bilang? Kali ini lima belas dollar untuk Yoon Doojoon? Memang Yoon Doojoon adalah barang?!

Setelah nyaris sesak napas, pengap di atas, akhirnya—akhirnya Sooyoung sukses tiba di wilayah bench kelas 3A. Ia duduk di jajaran bangku anak-anak klub sepakbola seperti Leo, Gikwang, dan Yoseob. “Mana yang lain?” tanyanya. Yoseob menjawab kalau mereka terpisah-pisah karena desakan sana-sini, Sooyoung menyayangkan hal itu tapi … sudahlah.

Dua tim memasuki area hijau. Sorakan bercampur histeris mendengungkan kuping. Yoseob seketika mengumpat karena ia paling benci hal-hal yang membuat jantungnya melompat.

Satu per satu pemain bersalaman sebelum peluit resmi dibunyikan. Ketika selesai dengan itu, Doojoon tampak menelisik tiap sudut mencari seseorang dan, sampai pada titik dimana garis mata itu mengarah padanya seolah menemukan oasis, Doojoon tersenyum. Oh tidak, hatinya tidak boleh meleleh lebih dari ini.

“Apa tiada hari tanpa flirting bagi kalian? Orz!” dumal Yoseob. Apa salahnya tersenyum pada orang yang disukai? sahut Gikwang tak sependapat, sebal Yoseob mengabaikan.

(—mereka tidak menyadari, tatkala Sooyoung membalas senyum Doojoon, dari sudut pandang lain sepasang manik menonton dengan patah hati.)

***

Terasa kilat dimana waktu memampang sepuluh menit jalannya pertandingan, dalam arti lain setengah babak pertama berlalu sudah. Tiga buah gol tercipta murni dari tendangan Minho, tampaknya ada yang melanggar kesepakatan mengenai permainan tempramental waktu itu. Bila ditelaah baik-baik, permainan Minho sama sekali belum berubah. Ia hebat, menguasai bola dengan baik, namun tetap individualis. Leo menatapnya tidak suka membuat Sooyoung tahu bukan hanya ia yang iritasi dengan gaya permainan Minho. Itu haknya, namun … entahlah.

“Kalau begini sih aku bertaruh untuk Choi Minho saja!”

“Sudah tiga nol bocah kelas satu itu memimpin! Kenapa Yoon Doojoon belum bermain juga, aish! Aku bisa kalah taruhan!” seruan-seruan panik dari belakang Sooyoung, ia dengarkan tanpa sengaja. Bukan hanya satu-dua, tapi sepertinya tiap anak laki-laki mempertanyakan hal yang kurang lebih sama. Doojoon-ah, ada apa ini? Apa benar kau akan diam saja melihat tim-mu dikalahkan? Meskipun itu oleh Minho

Player change! Jung Joonyoung-15 oleh Yoon Doojoon-32!”

Suara-suara dari belakang kembali ribut. “Yoon Doojoon! Yoon Doojoon main! Akhirnya!” waktu yang tepat, komentar Yoseob.

“Kau tahu sesuatu?” tanya Sooyoung, Yoseob menggeleng tanda tak tahu, tapi tengah menerka-nerka dalam kepalanya. “Apa itu?”

“Jika perkiraanku benar. Aku pikir ini akan menjadi pertandingan yang tidak akan kita harapkan. Pertandingan yang tidak layak ditonton.”

“Apa maksudmu? Perkiraan seperti apa? Kenapa tidak layak ditonton? Katakan, Yoseob-ah!” Gikwang ikut penasaran, Leo juga menoleh pada Yoseob.

“Pertama, Doojoon tidak bermain di sepuluh menit pertama, artinya dia sengaja membuat tim Minho memimpin. Jika dia bilang kalau pelatih yang membuatnya duduk di bench, itu semata-mata alasan, sebab faktanya dia bisa masuk kapanpun dia mau bila dia meminta. Aku tahu ini karena aku sudah sering bermain di pertandingan resmi dengannya.” Yoseob tidak sedang main-main, entah kenapa Sooyoung agak was-was dengan bagaimana perkiraannya nanti. Semua masih menjadi puzzle. “Kedua, Doojoon pasti menggunakan sepuluh menit waktunya di bench untuk menganalisa permainan Minho, terutama menemukan titik lemahnya.”

“Itu terdengar seperti taktik biasa.”

“Yang kita bicarakan di sini adalah Yoon Doojoon, oke? Ingat bagaimana dia membuat Luhan hampir mati karena one on one?” Luhan adalah contoh pemain pemberontak sebelum hadirnya Minho, dan sekarang Luhan dapat disebut sebagai pemain paling loyal terhadap tim, uh—bocah boxing ini mengancam. “Ketika Doojoon memasuki lapangan bersama hasil pengamatan permainan Minho, ia akan dengan mudah mencuri skor, mungkin tidak sampai membalikkan keadaan tapi sampai membuat Minho kesal.”

Sedetik setelah penuturan Yoseob, suara keras dari speaker membedah suasana tegang. “GOOOLLL!”

Gol pertama untuk 3A dari … pemain bernomor 13, “Itu Lee Jinki-sunbae, bukan Doojoon yang membuat gol. Tampaknya perkiraanmu kurang pas, Yoseob-ah.” Gikwang buka suara.

“Dari siapa Lee Jinki-sunbae mendapat bola?”

“Dari …,” Gikwang, Leo, dan Sooyoung melihat jalur tendangan barusan, tidak salah lagi siapa satu-satunya pemilik operan itu, “… Doojoon.”

“Hah. Doojoon memang tidak ahli dalam deffense, tapi ia juga bukan tipe pemain yang suka turun tangan langsung.” Yoseob menyeringai—dan ketika lagi-lagi gol tercipta dari pemain-yang-mendapat-operan-dari-Doojoon, prediksi Yoseob merangkak naik, semuanya perlahan-lahan menjadi mengerikan.

“Tapi yang dia lakukan hanya mengoper!” bantah Sooyoung. Yoseob menggeleng, tidak seremeh itu—hal kecil seperti operan yang sempurna akan meningkatkan konsentrasi pemain dalam melakukan tindak selanjutnya, dengan kata lain, memudahkannya dalam menyerang.

“Kegagalan Doojoon dalam mengoper nyaris nol persen, percayalah. Sebab bukan sekali duakali aku melihatnya bertanding.” Yoseob luruskan anggapan Sooyoung seraya memaparkan lagi isi benaknya, “Seperti yang aku bilang tadi, bila perkiraanku benar. Pertandingan ini tidak layak ditonton.”

Yah, memang kenapa, kau membuatku penasaran!” Gikwang gemas.

“Kemungkinan terburuknya, pertandingan ini sebatas skenario yang Doojoon ciptakan.” Liur terteguk paksa, Sooyoung menyaksikan dengan tanpa penghalang apapun, bahwa memang benar satu per satu poin dugaan Yoseob, terjadi. “Hanya satu yang aku belum yakin, apa motivasinya melakukan ini pada Minho?”

(Ia tidak tahu, dan mungkin tidak ingin tahu, semua ini mulai membuatnya takut.)

***

Skor sementara di babak pertama, belum lima menit berlalu namun Doojoon berhasil membantu timnya mencetak dua angka. Selisih satu lagi hingga memulai semuanya dari awal—seri.

Keadaan ini membuat Yoseob mengungkapkan opini ketiganya, “Minho adalah pemain yang tempramen dan ceroboh, secara tidak sadar ia cenderung menggunakan pola serangan yang sama, itu benar-benar fatal. Maka ketika pertahanannya tersenggol, ia akan rubuh dengan mudah. Di titik ini, aku pikir Doojoon akan membalikkan keadaan.” Berdebar jantung Sooyoung dibalik kulitnya, ia tidak (belum) pernah tahu Yoseob punya kemampuan quasi seperti ini. “Gikwang-ah, apa yang akan kau lakukan bila jadi Minho?”

“Eh, aku? Errr—apa ya. Karena Doojoon lah yang memegang kendali bola, dan aku dalam situasi sulit karena posisiku sebagai striker, maka aku akan meminta pemain lain untuk menjaganya agar aku bisa menyerang.”

Geutchi, mengingat posisi dan strategi, daripada menghabiskan staminamu untuk menghadapi Doojoon, lebih baik meminta orang lain yang melakukannya selagi kau berusaha mencetak angka. Lihat apa yang dilakukan Minho sekarang,” tiga orang itu melihat dan—dan Minho tengah melakukan apa yang dikatakan Gikwang tadi, persis.

“Bukan main, mereka menjaga Doojoon dengan tiga orang? Igeo—wah, mereka betul-betul ketakutan sekarang—!” saking kagetnya Gikwang berjingkat dari bangku, sementara Leo dengan diamnya juga terkesima. Sooyoung membisukan lidah, ia tidak mau berkomentar, sisi satu ini mengenai Yoon Doojoon, sungguh hal baru baginya. Apa maksudmu sebenarnya, Doojoon-ah?

“Tentu saja, mereka menyadari operan itu dan tidak akan membiarkan Doojoon menyentuh bola lagi. Tapi bagaimana? Tentu saja Doojoon telah memberitahu cela kelemahan Minho pada pemain timnya, akan mudah menggagalkan serangan Minho kali ini, tidak seperti pada sepuluh menit awal.” Yoseob melanjutkan dengan tenang, keyakinan akan prediksinya semakin bulat dari detik ke detik berbanding lurus dengan kengerian apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pada taraf ini, yang dapat mereka tangkap adalah pertandingan yang betul-betul menjelma menjadi skenario rekaan. Doojoon tidak serius bertanding melawan Minho melainkan mempermainkan potensinya. Bahkan bisa jadi sejak awal Doojoon telah menentukan siapa pemenang dari pertandingan ini. Bila itu benar, merapat belah bibir Sooyoung, menunggu dan menyaksikan seksama dengan degup cemas berjalannya waktu pertandingan, kau sungguh kejam, Yoon Doojoon.

BRAKKK!

“Ada apa, Leo-ah?”

Beberapa helaan napas sebelum Leo tiba-tiba berdiri hingga bangku yang ia duduki tadi jatuh terjungkal, tatapannya berhenti memvonis Doojoon senior sialan yang mempermainkan juniornya tetapi, lebih dari itu, lebih dari tatapan terkesima ketika pemaparan Yoseob, ia tampak sulit berkata-kata namun ingin mengungkapkan sesuatu. “Doojoon-hyung …,”

Dari bangkunya Sooyoung mengikuti garis pandang Leo, mengarah pada Doojoon. Laki-laki itu memamerkan senyum? Fakta mengejutkan selanjutnya adalah … itu bukan senyum picik khas orang licik, itu senyum serupa senyum yang sering Doojoon sungging untuknya, pada …, “Dia tersenyum pada Minho? Apa maksudnya?” berbentur pertanyaan dalam kepala Sooyoung. Ia sering mengikuti olimpiade sains dan tak satupun membuat kepalanya pusing, yang ia tidak sangka adalah migrain akibat menonton pertandingan futsal.

“Astaga.” Gumam Yoseob takjub, tiba-tiba. “Aku pikir … aku tahu kenapa Junsu-hyung merekomendasikan Doojoon sebagai Kapten ….”

Lemas, Leo membetulkan bangku yang terjungkal tadi untuknya kembali duduk, ditambah mangu di bibir, ia tak bilang apa-apa tapi wajahnya tak terlihat baik-baik saja—meski tatapannya jauh lebih tenang dan teduh. “Dia tengah mengajarkan Minho caranya bertanding di lapangan dengan tim.”

Apa? Apa kau bilang?

“Astaga, astaga, astaga, Yoon Doojoon! Aku tahu itu, aku tahu!” Gikwang histeris di bangkunya, layaknya mendapat hadiah seakan baru saja selesai menyusun puzzle serumit rumus fisika. “Bila kalian reka ulang semuanya, sejak menit ke sepuluh dimana dia mulai main, dia terus-menerus membloking mental Minho dan membuatnya down. Secara tidak langsung, sebenarnya dia memaksa Minho meminta bantuan pada anggota timnya, tidak seperti menit-menit awal dimana dia handel semuanya seorang diri! Aihhh yeokshi uri kapten!”

Sooyoung berhasil mendesah hebat setelah tertahan oleh gusar bermenit-menit silam. Ia sandar punggungnya pada bangku, entah kenapa dadanya menghangat begitu pula wajahnya. Menonton senyum surealis Doojoon yang masih tersungging, ia tak bisa menahan matanya untuk tidak basah. Seperti basahnya lapangan outdoor itu akibat hujan, membuat pertandingan dihentikan secara paksa lewat peluit panjang.

***

Sudah hampir satu jam lamanya namun Doojoon belum juga ke luar dari ruang ganti. Dengan pertanyaan setengah panik Sooyoung menelusur sebelum ia memanggil-manggil nama Yoon Doojoon, dan menemukan laki-laki itu terhenyak di depan lokernya yang terbuka. Rambut dan seragam futsalnya basah. Sepatu Sooyoung menapak pelan-pelan, mendekat, mendengar deru napas Doojoon—ah, ia sedang menenangkan diri. Pada helaan napas yang ketiga, Sooyoung mencoba lebih dekat, “Mandi dan ganti pakaianmu, atau kau akan masuk angin.”

Doojoon mendengarkan, tapi tidak menoleh padanya. “Kau pasti kecewa padaku.”

“Sedikit.”

Sooyoung menyadari rona pipi yang pucat, ia sendiri memucat ketika merasakan suhu pipi Doojoon dengan kulitnya. Dingin. “Aku tidak akan bertanya kenapa kau melakukan itu. Jadi tidak apa-apa.”

“Aku memikirkan tim, perkataan pelatih, dan masa depannya … dan kau juga sangat peduli padanya.”

“Hm, aku tahu. Minho masih sangat kekanakan, dia bukan tipe orang yang mau mendengarkan nasehat dengan gratis. Memang harus sedikit diberi pelajaran agar paham. Lagipula, caramu itu tadi … keren, kok.” Selagi Doojoon menatapnya dengan mata yang sayu, Sooyoung mendapatkan handuk dari dalam loker dan sedikit berjinjit, mengeringkan rambutnya sebab Doojoon tampak tak berminat untuk mandi apalagi keramas.

“Kau sangat mengenalnya.”

“Kami sudah saling kenal sejak sekolah dasar, dia seperti adik bagiku.”

Hujan masih deras di luar, mulai hangat di dalam. Sooyoung membicarakan pertandingan yang diundur setelah mempertimbangkan konsekuensi cedera pemain karena lapangan becek. Namun di antara hening kecuali gerakan tangan Sooyoung, tiba-tiba Doojoon bicara lagi mengenai Minho. “Menurutku, Minho tidak melihatmu sebagai kakak.”

“Oh, kalau itu … dia memang sedikit kurang sopan.”

“Bukan soal itu.”

Terhenti, Sooyoung membiarkan handuk itu menggantung di leher Doojoon. Di momen seperti ini, sayup-sayup tapak kaki bergerilya dari luar, hanya mereka berdua di dalam. Sooyoung mencelupkan pandangan ke mata Doojoon. Dari caranya menunduk, sedikit menyisakan ruang sebelum Sooyoung memejamkan mata dan mengundang Doojoon lebih dekat, jantungnya berdentum, tangannya mengepal di dada. Ke-kenapa tiba-tiba?

Sampai pada akhirnya—pada akhirnya Doojoon menjatuhkan beban dagunya di pundak Sooyoung. Kulit Doojoon terlalu dingin menyentuh lehernya. Sooyoung menghitung detik, ia sangat gugup (dan meruntuk bodoh) sempat mengira Doojoon hendak menciumnya.

“Hari ini kau pulanglah dengan Minho dan gantikan aku bicara padanya. Sebab jika itu aku, dia tidak akan mau mendengarkan.”

“O-oh.”

“Dia boleh marah padaku. Tapi aku tetap tidak akan mau bertanding dengan serius kecuali dia mengubah pemikirannya—aku ingin pertandingan yang fair. Anggota tim bukan penghalangmu untuk menjadi pemenang. Meminta bantuan mereka bukan berarti kau pecundang. Kau memang tidak lemah, tapi kalian ada sebagai tim untuk saling support dan berbagi beban …. Tolong sampaikan padanya … seperti itu.”

“Um.”

Doojoon melepaskan setelah mengendus pucuk kepala Sooyoung, wangi. “Aku akan menghabiskan waktu dengan Yoseob dan Gikwang sebelum pulang. Sampai bertemu besok, dan,” terdengar lelah suaranya menoleh ke samping, “Choi Minho, antarkan Sooyoung pulang dengan selamat.”

“Minho?” Sooyoung ikut menoleh kaget. Ia sungguh tak sadar di sana ada Minho—sejak kapan? Uh, memalukan sekali. Wajahnya panas, pasti memerah.

Heol. Pria macam apa yang menitipkan pacarnya pada pria lain?” dan aku dengar semua perkataanmu tadi, Yoon Sial, berhentilah membuat orang lain terlihat tidak dewasa dan payah—sorot mata Minho tidak suka.

“Ah, itu urusanku. Kau antar saja dia pulang. Hati-hati di jalan, kalian berdua.” Doojoon bersandar pada pintu loker, mengamati air muka Minho yang keruh tetapi menuruti apa katanya. Ia berharap Sooyoung mampu menyampaikan pesannya pada Minho ketimbang ia sendiri yang melakukan sebab, terakhir kali ia mencoba bicara empat mata, yang ada Minho mengajaknya berkelahi.

***

A/N:

Sepertinya ga cukup tiga chapter. Mungkin akan jadi empat maksimalnya lima. Chapter terakhir akan diproteksi. Kalau mau password-nya bisa cantumkan email bersama komentar. Kenapa ga lewat LINE/Twitter lagi? Kendalanya dari kemarin banyak pembaca ga punya dua akun itu :))

Iklan

18 Comments Add yours

  1. beautyana berkata:

    Yeokshi, uri kapten! >_<

    Disini aku kesel sama Minho dan cara Minho maen bola disini itu persis banget sama aslinya. Dia memang individualis, lebih seneng maju sendiri daripada ngoper bola ke temen. Sebenernya aku juga ga suka sama polah aslinya kalo lagi tanding bola. Kaya yang aku liat di Isac sih, Minho tuh kaya yang ngerasa paling hebat banget. Hiks. Sorry, bukan bermaksud ngebias sih, cuma opini aja. XD

    Btw, next aku mau passwordnya ya Fan. Asik banget sama fanfiksi ini. 🙂

    Emailku vhieiyana@gmail.com

    Tengkyuuuu

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Nah kan bukan cuma aku yang ngerasa gitu. Untunglah tersampaikan dengan bener hehe.

      Ohya kamu tuh selalu paling pertama yang komen deh, terharu aku, masama entar kucatet email-nya :”)

      Suka

  2. beautyana berkata:

    Hihi, namanya juga pembaca setia XD tiap hari aku bolak balik ngecek blog kamu nunggu post terbaru. Fiuhhh~~

    Suka

  3. febryza berkata:

    Ah doojoon kapten bgt sih disini..
    Btw itu doojoon pas diruang ganti sengaja ya ngelakuin itu ke sooyoung padahal dia tau kalo ada minho disitu? Pembalasan gara2 sooyoung sama minho terus ya? Hahahahaha
    Eh kalo seandainya di protect aku minta by line aja ya gapapa kan?

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Oke gapapa lewat Line kalo ada mah 😉

      Suka

  4. fazrinadzani berkata:

    suka banget sama gaya bahasa fanneey ini ff kerrn banget sumpah ngebayangin sooyoung yang tomboi tapi feminim juga.

    plus akupun anak futsal jadi seneng banget sama ff ini>.<

    Suka

  5. Seotwin berkata:

    Haii aku pembaca baru disini,, barusan langsung baca fanfic ini dari pertama ampek ini~ commentnya jadi satu disini deh 😁😁

    Ntah kenapa dari awal baca udah seneng tuh soo ama doojoon,, tapi minho datang dan merubah segalanyaaa~~ pengen soo doojoon jadi,, tapi juga pengen minho soo,, tapi emang bener sih, minho kalo maen game pasti individualisme nya gedhe bgt,, pengen menang pulak~ untung minho ngga nangis deh ini,, hahaha 😆😆

    Suka

  6. sparkmvp berkata:

    baru kali ini kesel sama karakter minho kak/? biasa dia jadi adik lucu seru nakal menggemaskan /?
    btw aku sangat sangat sangat sangat suka bagian penjelasan tentang permainan dudu oleh yeosobntet /?
    nextnya ditunggu selalu kak! hwaitinggg

    Suka

  7. sparkmvp berkata:

    email aku chindywulandari@gmail.com ya kak. btw tumben kak ga gesrek ffnya 😹

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Sip kucatet email-nya.

      Btw Ya ampun ternyata image aku pembuat ff gesrek 😂

      Suka

  8. aku setiap kali bolak-balik nih blog.
    dan akhirnya muncul lah H (highskoolers) – THREE
    aku berharap dan penasaran banget sama endingnya karna kamu (bilang) bakal sampek THREE
    eh.. tapi masih mau diperpanjang. aku sih gak masalah soalnya suka banget kalo diperpanjang bakal banyak momentnya soo-joon

    dan di three ini kamu luwes banget ceritain masalah bola.dan aku yang gak ngerti harus ngikuti dengan teliti hehehe
    aku gak tahu kenapa doojoon nyuruh sooyoung pulang bareng minho. aku agak langsung kesel gitu sama doojoon (maaf pacar)
    toh minho juga uda dengar apa yang doojoon mau bilang kedia kenapa mesti doojoon nyuruh lagi sooyoung balik sama minho.
    padahal kan aku nunggu banget momentnya soo-joon

    kamu bakal post kapan?
    bakal aku pantengin terus nih blog.
    goodjob…

    Suka

  9. doovie berkata:

    Aku tiap hari bolak balik blog ini.. Akhirnya ada juga nih lanjutannya… Yee.. ~(^o^~)

    Gregetan deh sama uri Doojoon.. Bapak keren banget sih jd kapten.. Makin baper jadinya… Hehehe..
    Seru banget fan chapter ini.. Pengen nya sih lebih banyak lagi moment soo-joon nya.
    Minho mudah2an ngerti maksud baik kaptenku ya.. =D

    Buat chapter yg diproteksi, aku nanti minta via line ya fan. Aku add line km.. Hihi..
    Thank you. Semangath buat chapter selanjutnya. Ditunggu fan.. Hwaiting!!

    Suka

  10. Amelinda Amda berkata:

    Doojoon itu ogeb atau gimana sih? Ngesuruh sooyoung pulng sma minho lgi pdhal dia sndri agak cemburu ama minho -___-
    Minho main sndri aja trus, temennya nggak dioperin bola dah tuh jdinya
    kan kamu kalah lawan doojoon
    Doojoon kyak dewa perbolaan(?) kali ya bisa baca prgerakan minho gitu

    Suka

  11. Amelinda Amda berkata:

    Doojoon kok ngomong kasar gitu sih ke sooyoung pdhal disbelah soo ada naeun-__-
    Psti naeun kesenengan deh tuh
    Taruhannya subhanallah kocak bnget itu yg gikwang sma yoseob xd
    Minta pw ff part 5 donn
    Emailku: amelindaamda@yahoo.co.id

    Suka

  12. sifika berkata:

    njir moment soojoon di ruang ganti bikin greget :v
    gara-gara ni ff jadi suka beneran ama si doojoon💞
    btw , Itu napa si doojoon biarin sooyoung sama minho 😑

    Suka

  13. yuki-chan berkata:

    Ahe….ahe… *suara aneh apa ini
    Wuihh. Tapi emang bener sih kalo ngeliat minho main bola, dia suka main sendiri kek cr7. Tapi doojoon nya iniloh kakkk. Pollllllll, jadi fans dj gara2 ka fanni. Apalagi video yg waktu itu kakak share digroup. Sumpah ngakak. Intinya bang dj bikin baper disiniii. Kereeen syekaleh. Love doojoon. Btw maaf kak baru bacaaa. Habis kemaren2 ngga sempet *soksibuk *abaikan.
    Password nya bagi yah kak. Lewat line aja boleh kan???
    Dan juga maaf komennya absurd. Bhaks
    Fighting kak fanni ^^

    Suka

  14. Tidak menyangka Dujun ternyata secerdas itu dan sepeduli itu sama Minho padahal kukira dia benci banget sama tu anak:”) aku udh mau ngecap dujun aneh aneh garagara Yoseob:”). Emang kau itu buat orang pikir macam macam saja!

    CIEE DUJUN JELES SAMA MINHO CIEE!!! AKHIRNYA JELES JUGA NI ANAK:”) DARI DULU KEK GITU JELESNYAA:”)

    Dan buat Minho semoga diberi ketabahan hati dalam menjaga pacar orang ya Min 🙂

    Suka

  15. nisa berkata:

    udah bayak pikiran jelek tentang doojoon eh ternyata niatnya baikk… tapi agak gimana gitu waktu doojoon nitipin sooyoung ke minho padahal kan doojoon udah tau kalo minho itu rivalnya….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s