[FF] Ojou-sama no Nichijou – 16

Title: 16 – Beauty and The BEAST
Genre: Slice of Life, Family, dan mungkin … Comedy
Rating: G
Length: Oneshot
Cast(s): Choi Sooyoung [SNSD] and BEAST personel.

Cm7nTz3XEAAsjdy

***

Seorang anak perempuan berlari ke arah seseorang yang berjongkok sembari membuka tempat pelukan lebar untuknya. Choi Sooyoung namanya, menginjak tahun ke lima (umur Internasional) hidup di dunia, kedua tangan ia bentangkan lebar-lebar seakan hendak terbang—maklumilah cita-citanya adalah menjadi seorang pilot. “GIKWANGIE!” kemudian Sooyoung melompat tepat ke dalam pelukan sang kakak laki-laki.

“Wah, coba lihat seragamnya?” Gikwang menurunkan Sooyoung dari gendongan, ia terkikik sedikit melihat seragam TK Sooyoung, persis Nona Pilot versi mini. Orangtua Sooyoung memang sengaja menyekolahkan Sooyoung di Taman Kanak-Kanak khusus, jadi seragamnya bisa sesekali bertema cita-cita. Ditambah backpack My Little Pony dan bandana pink, Sooyoung benar-benar imut. “Wow, bandananya beli dimana? Cantik! Secantik yang pakai, hehe.”

“Oleh-oleh dari Bunda kemarin,” cerita Sooyoung dengan senyum. “Gikwangie, Gikwangie, hari ini mau ajak aku kemana?”

“Emmm, kemana ya …?” Gikwang pura-pura menerka, matanya membentuk bulan sabit ketika tersenyum. Kemudian, “Mau nggak ketemu teman-teman Oppa?”

Mata Sooyoung berbinar. “MAU!”

***

Singkat penjelasan, Sooyoung adalah anak dari pamannya Gikwang yang berarti bahwa mereka saudara sepupu. Sedari orok merah Sooyoung sering diasuh oleh Gikwang, hal ini sehubungan dengan pekerjaan orangtua Sooyoung yang memiliki jam terbang penuh. Lagipula Gikwang memang penyayang anak-anak, ketika ada waktu luang—bahkan ketika orangtua Sooyoung tidak meminta, Gikwang akan dengan senang hati menawarkan diri lebih dulu. Sooyoung sendiri lebih suka Gikwang yang menjemputnya pulang sekolah daripada supir keluarga, sebab Gikwang tidak selalu langsung mengantarkannya pulang ke rumah, biasanya mereka akan menghabiskan waktu di luar (jalan-jalan, bermain sepuasnya, kemana saja) sebelum pulang. Makanya Sooyoung sangat senang. Sooyoung sangat suka Gikwang.

Tapi, …

Sooyoung menengadah dan menoleh ke samping, dimana sebelah tangannya di gandeng Gikwang. “Gikwangie, ini dimana? Aku belum pernah ke sini.”

Sekeluarnya mereka dari mobil, Sooyoung melihat sebuah gedung yang sangat besar. Sooyoung belum bisa baca, ia tidak tahu ada tulisan apa di paling atas gedung itu tapi ada tiga huruf yang ia tahu. M, B, C! Maksudnya apa, ya?

“Ini gedung stasiun TV, tempat Oppa bekerja,” kata Gikwang. Sooyoung ber-oh kemudian meski sampai saat ini ia belum mengerti pekerjaan Gikwang itu seperti apa.

“Oh, iya! Pantas saja waktu itu aku lihat Gikwangie di TV! Oh … jadi Gikwangie kerja di TV? Kerja apa? Jadi apa? Namanya apa?”

“Penyanyi!” jelas Gikwang, mereka masih bergandengan tangan memasuki gedung. Tidak banyak orang memperhatikan sebab kesibukan masing-masing. Sooyoung suka mengobervasi sekitar, ia suka hal-hal baru baginya. Seperti ini contohnya, banyak orang!

“Oh iya, … Gikwangie penyanyi, suara Gikwangie memang bagus …,” puji Sooyoung. “jadi teman-teman Gikwangie penyanyi juga? Suaranya bagus juga? Ada berapa? Kalau temanku ada banyak di sekolah, tapi ada yang suka nakal namanya Kwon Yuri, masa dia pinjam lego  aku terus enggak dikembaliin lagi! Padahal itu Iron Man!”

“Ya ampun, masa begitu?” mendengar Sooyoung berceloteh kadang membuat gemas padahal anak perempuan itu sedang menceritakan kekesalan. Gikwang kebanyakan berperan pendengar kalau hang-out dengan Sooyoung.

“Iya! Tiap kali aku minta Yuri bilangnya kelupaan mulu, ketinggalan di rumah katanya, ih!” Sooyoung manyun-manyun. Mereka memasuki lift dan di sana ada dua orang perempuan, ikut tertawa kecil mendengar ocehan Sooyoung.

Oppa punya kok yang Iron Man di rumah, Sooyoung mau? Kapten Amerika juga ada, lebih keren.” Hibur Gikwang.

“Mau yang punya aku aja.” Sooyoung masih cemberut.

“Eh jadi inget, teman Oppa ada yang mirip Iron Man, loh—eh bukan, punya perisai wajah yang kayak Iron Man itu, bisa nutup sendiri terus matanya bisa nyala!” dua orang perempuan yang memperhatikan mereka sejak memasuki lift jadi ikutan gemas pada Gikwang sebab lama-kelamaan percapakan mereka berdua tidak seperti kakak dan adik, malah seperti teman sebaya. “Kayaknya hari ini dia bawa, soalnya itu multifungsi juga, bisa jadi pengganti masker buat ke bandara.”

“Kok aneh masa ada Iron Man di bandara, hehehe. Harusnya jadi Spiderman aja.”

“Dia juga punya topeng Spiderman!” tawa Gikwang kemudian. “Tapi sebenernya muka dia kayak Thomas, kadang-kadang kayak Yoda juga, namanya Yang Yoseob.”

“Thomas? Thomas and Friends? Kalau Huluk?” tanya Sooyoung. “Apa Yang Yo—Yocob punya topeng Huluk?”

“Hulk, Sooyoung-ah. Hehe, dan nama yang benar itu Yang Yoseob, Yo—seob. Hulk kayaknya dia nggak punya deh.” Ting! Lantai tujuan telah tiba! Pintu terbuka dan mereka berdua bersama dua perempuan di belakang ikut ke luar. Gikwang baru sadar ternyata dua perempuan itu adalah member Girlgrup Rookies Gugudan ketika ia disapa, lantas mereka pergi duluan setelah melempar senyum.

“Ih apaan senyum-senyum!”

“Lah kok Sooyoung yang ngambek?”

“Genit sih, Gikwangie ‘kan punya aku.”

“Ahaha.” Beriringan menuju ruang tunggu BEAST, mereka mengobrol sepanjang jalan.

***
Reaksi yang didapat Sooyoung ketika membuka pintu itu adalah, pelototan dan heran (“Gikwang-ah itu anak siapa!!!” / “Astaga.” / “Siapa Ibunya!!!” / “Astaga Gikwang-ah.”). Lalu Gikwang menjelaskan ini dan itu lalu yang Sooyoung dapat selanjutnya adalah pelukan bergantian. Awalnya banyak orang di ruang itu, Sooyoung pusing. Gikwang tanggap menyadarinya dan dengan sopan meminta mereka-mereka para staff dan sebagainya (kecuali empat orang) meninggalkan ruang itu demi Sooyoung. Empat orang yang masih di dalam memperkenalkan diri sebagai teman-teman Gikwang. Oh jadi ini …

“Kayak seragam sekolah aku kalau hari Senin,” tunjuk Sooyoung polos pada kostum panggung BEAST hari itu. Atasan biru muda dan bawahan hitam.

Sementara Gikwang berganti pakaian untuk perform, Sooyoung ditinggal bersama Yoseob (mukanya betul-betul mirip Thomas!—dan Sooyoung masih sebut namanya Yocob), Dongwoon-oppa (raksasa ini maunya dipanggil Oppa), Om Doojoon, dan Om Senang eh—bukan! Duh, Om siapa ya satu lagi … Om, … Om Junhyung!

“Sooyoungie ke sekolah pake seragam? Memang di sekolah belajar apa?”

“Om nggak pernah sekolah? Masa nggak tahu di sekolah belajar apa.” Jawab Sooyoung seadanya, menanggapi pertanyaan bodoh Dongwoon.

“Ganteng gini masa dipanggil Om, panggil Oppa, ya!”

“Iya, Oppa.” Sooyoung nurut. Ia duduk di sofa, ransel telah di simpan di samping sofa. Dongwoon bersimpuh di depannya dan di sampingnya Yoseob tekun main game di ponsel sesekali tertawa mendengar obrolan Sooyoung dan Dongwoon.

“Sooyoung-ah jangan salah sangka ya … aku nggak main game sembarangan, tapi main game sikat gigi untuk kebersihan!” Yoseob bilang tapi matanya tetap fokus pada layar ponsel. “Nih lihat, Sooyoungie mau coba?”

“Eit! Eitsss! Jangan—eh maksudnya, Sooyoungie nggak suka main ponsel!” Gikwang yang baru datang setengah berlari menggapai—membisiki—telinga Yoseob. “Jangan kenalin dia sama ponsel!”

“Aku nggak suka main ponsel, Bunda juga nggak ngebolehin aku main ponsel. Tapi sebenernya kalau main ponsel itu kenapa? Buat apa? Terus Om itu daritadi main ponsel juga.” Sooyoung menunjuk Junhyung di pojokan—yang ditunjuk malah tidak sadar karena menatap apa yang dipegangnya.

“Kalau Om, dia pegang ponsel untuk menghubungi Tante, sama seperti Bunda pegang ponsel untuk menghubungi Ayah, iya ‘kan? Nah kalau Sooyoungie pegang ponsel, mau ngehubungi siapa? Mau nelepon siapa?”

“Gikwangie!”

“Loh, tapi Gikwangie nggak main ponsel.”

“Oh iya ya ….”

“Woah daebak Lee Gikwang,” decak Yoseob terkagum-kagum. “tapi memangnya siapa si ‘Tante’ yang dihubungi Junhyung?”

Yah neo pabo. Itu cuma perumpamaan, yang Sooyoung tahu itu Om pasti pasangannya Tante, Ayah pasangannya Bunda, Oppa pasangannya Unni, kayak gitu.” Jelas Gikwang sedikit geregetan. Yoseob iya-iya aja padahal entah didengarkan penjelasan itu atau tidak.

“Eh bentar … kau nggak dipanggil Om ataupun Oppa, artinya nggak punya pasangan! Haha, emang jomblo udah nasib sih ye.”

“Apaan nih, semprul ngajak ribut?”

“Siapa takut sama koala montok, hahaha!”

“Aish, kau kutu air!”

“Ihhh, jangan berantem!” pekik Sooyoung, dia bangkit dari sofa lalu naik ke meja, memukul muka Yoseob dan Gikwang. “Aku mau main!”

“Tuh, Hyung. Nggak malu dilerai sama anak kecil? Ckck. Ayo main! Sooyoungie sukanya main apa?” Dongwoon ambil pertanyaan. Sooyoung menatapnya dan terdiam cukup lama karena mengingat-ingat.

“Aku suka main penjahat-polisi, rumah-rumahan, dan kereta-keretaan. Tapi sekarang aku mau main kereta-keretaan.” Sooyoung menutur. Semua yang ia sebutkan adalah permainan yang sering ia mainkan bersama Gikwang atau teman-temannya di TK.

“Oke, kita main berempat aja!” semangat Yoseob.

“Nggak mau! Aku maunya main sama Om itu sama Om itu juga!” telunjuk mungil Sooyoung mengarah pada Junhyung yang masih sibuk dengan ponselnya dan Doojoon yang baru datang bawa es krim tidak tahu apa-apa. Sooyoung menyambung, “Jadi … emmm, mainnya … ber—ber …,”

“Berenam, Sooyoungie.” Bantu Gikwang.

“Iya, berenam!”

***

Selain jadi pilot, Sooyoung kadang-kadang membayangkan bagaimana rasanya jadi masinis, makanya Sooyoung suka main kereta-keretaan. Ia ada di paling depan, lalu di belakangnya Doojoon memegang pundak Sooyoung (karena lebih—sangat—pendek sampai Doojoon membungkuk-bungkuk), di belakang Doojoon ada Yoseob, kemudian Gikwang, Junhyung, dan terakhir Dongwoon. Seperti ular-ularan, mereka berjalan memutari ruangan itu sambil benyanyi lagu kereta api. Kasihan Doojoon yang membungkuk-bungkuk karena harus memegangi pundak Sooyoung, sekalinya dilepas sebentar Sooyoung langsung ngambek. Maka mereka terus seperti itu di putaran lagu yang ke lima.

Lama-lama capek juga, maklum sih, apalagi yang jarang olahraga—(Junhyung sih mulai sering) nah ini nih, si Son Arab alias Dongwoon, … duak!!! Ia lengah lalu tersandung kakinya sendiri, olenglah tubuhnya. Dongwoon terjatuh menimpa Junhyung, Junhyung berpegangan pada pundak Gikwang tapi keduanya malah jatuh juga menimpa Yoseob, Yoseob tersungkur sendirian karena Doojoon berhasil menghindar.

Mereka berempat jatuh seperti domino. Melihatnya, Doojoon terbahak-bahak menertawai, sekalian bahagia karena berhasil selamat sendiri, “Hahahahaha!” tapi keempat orang yang jatuh malah balik menertawai Doojoon. “Hahahahaha!” tidak sadar ditertawai balik, tawa Doojoon malah semakin kencang. Hanya Sooyoung yang tidak kedengaran jelas suaranya.

“Bumblebee.”

“Hah?” celetukan kecil anak perempuan di belakang Doojoon. Apaan nih, ada yang aneh kayaknya? Kok kalau dirasa-rasa … kakiku kedinginan ya? Pak! Doojoon menepuk pahanya. Kok tepukannya terasa ke kulit … “WUAAAAAA!!!” Doojoon berteriak kaget karena celananya ternyata melorot.

“Ih Omnya pake celana dalem Bumblebee!” Sooyoung menunjuk-nunjuk pantat Doojoon. Hahahaha! Yoseob, Junhyung, dan Dongwoon masih menertawai. Dongwoon sampai gegulingan di lantai puas sekali menertawai Leader BEAST.

Gikwang bangkit menuju Sooyoung, menutup mata Sooyoung sambil masih tertawa juga. “Sooyoungie jangan lihat, itu aurat laki-laki, pffft—hahaha!”

“WOY TUTUP PINTUNYA!!!” histeris Doojoon, Junhyung langsung menutup pintu ruang tunggu itu. Doojoon lalu celingukan, “Di ruang ini nggak ada CCTV ‘kan?”

“BEGO SIH! HAHAHA! Kau yang paling terlihat memalukan malah tertawa paling keras!” Yoseob tertawa sampai sakit perut. Duh, kayaknya sebentar lagi harus ke kamar mandi. “Lagian, itu … itu daleman Bumblebee yang kemarin? Jorok!”

“Enggak lah!” Doojoon menarik celananya naik, membetulkannya. “Tahu gini aku pakai daleman yang Megatron. Aish. Siapa juga sih yang naruh Dongwoon di paling belakang, Troublemaker!”

“Enak aja nyalahin aku. Yoseob-hyung yang tadi berpegangan ke celana Hyung sampai melorot!” Dongwoon tak terima dirinya disalahkan. Doojoon melotot ke arah Yoseob. Yoseob berkicep datar. Pertunjukan diakhiri dengan Doojoon-Yoseob berkejar-kejaran dalam ruangan.

***

Gikwang perhasil menghentikan pertandingan gulat Doojoon vs Yoseob sebelum gedung MBC runtuh. Mereka masih punya banyak waktu sebelum tampil, daripada dipakai berantem, lebih baik menuruti apa kata Sooyoung. Awalnya Sooyoung mau main penjahat-polisi. Semuanya sangat setuju. Tapi ketika peran-peran sudah ditempatkan (oleh Sooyoung), yaitu polisi Sooyoung-Gikwang-Yoseob dan penjahat Doojoon-Junhyung-Dongwoon. Keributan pun terjadi …

Terutama tim penjahat karena tidak terima jadi penjahat.

“Kalau Doojoon sih masuk akal, tapi aku! Memang wajahku kayak penjahat?” Junhyung protes.

“WOY!” Doojoon mengelak labeling penjahat itu. Dongwoon juga memprotes orang ganteng nggak boleh jadi penjahat, sayang masa karunia Tuhan dipakai tindak kriminal? Doojoon unjuk rasa lagi dengan bawa-bawa nanti polisinya kalah sama penjahat kalo gini, masa polisinya kumpulan boncel? Gikwang dan Yoseob naik pitam. Mereka berlima malah berantem seperti kucing garong yang rebutan betina kutuan. Sooyoung jadi pusing. Akhirnya main penjahat-polisi batal.

***

Sebelum terjadi gempa karena kerusuhan, Gikwang menyarankan permainan lain yaitu rumah-rumahan. Sooyoung suka main rumah-rumahan, ia langsung setuju. Sementara yang lain tidak tahu cara mainnya kecuali Gikwang karena sering memainkan permainan ini dengan Sooyoung.

“Om Junhyung jadi Ibunya, Om Doojoon jadi Ayahnya, Gikwangia jadi anaknya.” Kata Sooyoung sambil bergelayutan di kaki Gikwang, Yoseob bertanya Sooyoungie jadi apa? lalu Sooyoung menyambung, “Aku jadi adiknya Oppa.” Ia memeluk kaki Gikwang manja.

“Ah, aku iri Hyung. Sooyoungie suka sekali padamu.”

“Gikwang-ah, tolong bedakan penyayang anak-anak dan penyuka anak-anak, ya.” Saran Yoseob sambil bergidik pada tatapan creepy Dongwoon. Karena insiden itulah terkualifikasi, Yoseob jadi Kakek dan Dongwoon jadi Petugas Pengantar Paket.

Take One

“Menantu! Mana makanannya, aku lapar!” Yoseob menepuk-nepuk meja. Sebelah kaki menginjak kursi bak makan di warung tegal. Doojoon, Gikwang, dan Sooyoung juga duduk melingkari meja pura-puranya itu meja makan.

Yah, terus aku harus apa?” linglung Junhyung.

“Ya buatin makanan lah, kalau kau beneran menantuku udah dipecat tahu nggak, ada ya menantu pabo kayak gitu. Ckckck.” Yoseob geleng-geleng kepala. Junhyung pura-pura ke dapur, ia duduk tak jauh dari mereka dan mengupaskan telur rebus—cemilan BEAST kalau di ruang tunggu.

“Istriku, masaknya pakai cinta ya?” Doojoon mengerling Junhyung.

“Pakai cileuh buat kamu mah.” Sahut Junhyung.

“Aish, kejamnya. Wkwkwk.”

Lalu bel manual berasal dari suara Dongwoon berbunyi, “Ting! Tong! Ada paket!” Junhyung membukakan pintu dan menerima paket virtual dari petugas Dongwoon.

“Tunggu, tunggu, masuk akal nggak sih petugas paket ganteng gini?” Dongwoon membujuk Sooyoung kemudian, “Sooyoung-ah, ganti peran Oppa dong.”

“Ya udah Oppa jadi pesulap aja. Tapi harus bisa sulap beneran.”

“HAH?” fix itu lebih error. Dongwoon pun latihan sulap dadakan lewat tutorial Y*uTube.

Take Two

Peran berganti. Gikwang dan Junhyung jadi Satpam penjaga rumah, Doojoon (masih) jadi Ayah, Yoseob jadi anak, Dongwoon jadi pesulap, Sooyoung jadi penonton sulap.

“Terus Ibunya ke mana?” tanya Yoseob sebelum permainan dimulai.

“Pura-puranya meninggal.”

“Okesip.”

Tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu dari luar, Yoseob yang berada di dalam, membukakan. Ternyata itu adalah Doojoon. Mereka pun mulai bermain peran sebagai ayah dan anak.

“Siapa kamu?”

“Ini Ayah ….” jawab Doojoon.

“Kamu bukan Ayahku! Kamu Bang Toyib! Pergi kamu dari sini! Sudah tiga kali puasa tiga kali lebaran kamu tidak pulang! Kamu membuat Ibuku menderita lalu meninggal karena kanker tulang!”

“I-istriku meninggal?!” Doojoon terkaget-kaget dan lantas mukanya berubah memelas, “Maafkan Ayah, Anakku …,” ia bersujud di depan kaki Yoseob, “bukan maksud hati meninggalkan kalian, tapi Ayah harus pergi mencari uang untuk membiayai pengobatan Adikmu.”

“Aku tidak punya Adik!”

“Oh, maaf, saya salah rumah ….”

Gikwang dan Junhyung yang mendengar itu seketika headbang.

Sementara itu Sooyoung tidak peduli sebab terlalu serius menonton pertunjukan sulap Dongwoon yang sudah kedelapan kali masih gagal memunculkan bunga dari tisu yang dibakar.

Take Three

Peran dishuffle kembali—tindak pencegahan dari kebakaran hasil dari sulap Dongwoon yang selalu gagal. Karena Sooyoung bosan menonton sulap Dongwoon yang gatot terus, ia kembali menjadi adiknya Gikwang, Gikwang dan Sooyoung jadi anak dari pasangan Yoseob (istri) dan Doojoon (suami—lagi-lagi). Junhyung? Junhyung pergi ke toilet untuk setor dadakan karena tadi dia makan telur rebus basi. Sedangkan Dongwoon jadi anjing penjaga rumah.

“Istriku, aku pergi kerja dulu, ya.” Doojoon pura-puranya membetulkan kerah berdasi sembari membawa tas laptop, ia berdiri di depan Yoseob yang memakai apron pink berbordir bunga-bunga seraya bersedekap dan memegang spatula.

“Ya udah sana.”

“Ciumannya mana?”

Doojoon kena tampar spatula.

“Pergilah cepat, pulanglah terlambat, dan jadilah pecundang!” bentak Yoseob sebagai ganti salam cinta. “Ahhh akhirnya pergi juga dia. Anak-anak, ayo kita sarapan!”

Di meja makan bohongan, Gikwang mulai terbawa suasana. “Ibu, jangan khawatir. Setelah lulus SMA, aku akan langsung mencari dan dapat pekerjaan dan membuat kalian berdua hidup nyaman.”

“Aish, musun mariya!” Yoseob menimpuk kepala Gikwang dengan spatula. “Setelah lulus SMA tentu saja kau harus masuk kuliah, oh! Pekerjaan akan lebih baik dengan gelar sarjana, sekarang cepat habiskan makanmu!”

Oppa …,” manik Sooyoung berkaca-kaca.

Kemudian muncul masalah lain pada keluarga bahagia itu, yaitu Junhyung! (yang baru datang dari toilet). “Hei, siapa kamu masuk-masuk rumah orang sembarangan?” Yoseob bangkit dan menyorot mata Junhyung galak.

“Aku—aku siapa?” Junhyung menunjuk dirinya sendiri kebingungan. “Ah! Aku baru ingat. Aku istrinya Yoon Doojoon!”

“Apa?! Aku istri Yoon Doojoon, akulah Nyonya Yoon!”

“Nyonya? Hahaha, kau hanyalah istri mudanya! Anak-anak, ayo pulang!”

“A-apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kanapa kami harus ikut kamu? Sebenarnya aku dan Sooyoungie itu anak siapa?” Gikwang bangkit, memeluk Sooyoung protektif, ia pun ikut kebingungan.

“Anakku …,” Yoseob menutup mulutnya dramatis.

“Tidak, kalian adalah anakku. Yoon Doojoon telah menipu kalian selama ini.” Ucap Junhyung.

Situasi makin runyam ketika anjing penjaga rumah, Dongwoon, bertransformasi menjadi MC Rhyme Elephant. MC Rako mengambil sendok, pura-pura ia gunakan sebagai mic. Dengan ekspresi tertanya-tanya ia berseru hiperbol, “Siapakah istri sebenarnya dari Yoon Doojoon? Apakah Yoon Doojoon akan mengakui salah satu ataukah keduanya? Lantas bagaimana nasib anak-anak ini kelak? Tonton kelanjutannya di episode berikutnya!”

To Be Continue

***

“Sooyoung-ah, hati-hati ya! Salam buat Ayah dan Bunda!” Dongwoon melempar-lempar heart sign pada Sooyoung.

“Nanti Oppa main ke rumah! Maaf sekarang nggak bisa nganterin Sooyoungie!” teriak Gikwang, dari dalam kaca mobil jemputan yang dibuka setengah, Sooyoung dadah-dadah pada BEAST member.

“Sooyoung-ah, saranghae!” pekik Yoseob. Sooyoung membalasnya dengan mehrong. Junhyung tersenyum cerah dan Doojoon tersenyum kebapakan.

Sesampainya di rumah, tanpa perlu ditanya lagi sebab telah menjadi suatu kebiasaan, Sooyoung menceritakan pengalaman hari ini pada Bunda. Kemudian, seraya mengelus puncak kepala Sooyoung, Bunda bertanya, “Tadi Gikwangie telepon, katanya kalau ada waktu Oppadeul BEAST mau main lagi sama Sooyoungie. Bunda sih boleh-boleh aja. Sooyoungie mau nggak?”

“Nggak mau. Main sama mereka malu-maluin. Sooyoungie kayak ngasuh anak kecil!”

“Ahahaha masa begitu. Oppadeul ‘kan baik, kalau dengar itu nanti mereka sedih loh.”

“Kalau sama Gikwangie mau. Tapi kalau sama Yocob, Dongni-oppa, Om Doojoon, dan Om Junhyung, nggak mau.” Sooyoung memeluk leher Bunda penuh manja, “Tapi lebih daripada siapapun, teman-teman Sooyoungie ataupun Gikwangie, Sooyoung mau main sama Bunda dan Ayah.”

Bunda balas memeluk si kecil, tersenyum kecut, tak menolak ataupun menyetujui, melainkan memukirkan kapan kira-kira keinginan anak semata wayangnya dapat terwujud di tengah kesibukan orangtuanya. Ia tidak pernah yakin.

***

KKEUT!

Fiuh. Fanfiksi Family pertama, bisa juga dianggap sebagai edufiksi untuk orangtua, tapi entah ya, kekeke. Fanfiksi ini juga terispirasi dari fakta-fakta yang bertebaran di twitter tentang comeback BEAST kemarin. Salah satunya dari SNUPER Sebin, “Setiap kali aku melewati ruang tunggu BEAST, selalu terdengar tawa tanpa henti. BEAST-sunbaenim menguarkan aura kegembiraan dimanapun mereka berada …,” /kuranglebih seperti itu XD/

Bonus, Magician Dongwoon.

CosNZw9UkAIKRJD

Iklan

4 Comments Add yours

  1. febryza berkata:

    Duuuuuhhhh lucu bgt sih mereka semuaaa… Terus itu juga kenapa beast mau aja main kaya begitu sama sooyoung kecil hahahaha
    Sumpah gajelas mereka emang kalo dikumpulin

    Suka

  2. Chansoo berkata:

    Yuhhhuuuuuu .. Akhirnyaa fanny apdet lagi, kirain romance awalnya, tau nya family
    Aku gak kebayang soo jadi ponakannya gikwangie. Tapi lucu juga sih.
    Mendadak pengen gantiin soo kecil, biar bisa main sama om2 ganteng 😂Fanny emng paling bisa nyuguhun ff yg fresh dan kocak abis. 👍👍
    Btw closed radio 5 apa kabar nih? Di tunggu loh 😁

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Bukan ponakan sih aku nulisnya, tapi sepupu, hehe. Bay de way sangkyu udah baca 😘

      Suka

  3. one656kimhyunra berkata:

    ahahahaha… itu beast pada keasikan sendiri maen rumah rumahannya..
    hahaha
    alabatan dr syoo 😀
    seru seru
    lucu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s