[FF] H (highskoolers) – TWO

Title: H (highskoolers)
Genre: Teen Romance
Rating: PG
Length: Mini-series
Cast(s): Choi Sooyoung [SNSD], Yoon Doojoon [BEAST], Choi Minho [SHINee], Son Naeun [APINK].
Summary: Mereka hanya pemula yang tiap harinya mencoba lebih tegar, sekuat mahogani, setajam eskalibur, membiarkan bahagia datang sekarang dan takut esok hari saja.

highskoolers.jpg


***

“Apa kabar, Nuna?”

Choi Minho. Benak Sooyoung mengeja lagi nama itu. Dalam ingatannya, terakhir kali Minho muncul adalah tiga tahun lalu. Minho adalah adik kelasnya, ia masih anggota sepak bola, dan dari bagaimana Sooyoung mengenalnya, tidak mungkin Minho tidak menyukai permainan bola itu hingga sekarang. Jadi ia diam dan menerka, menunggu Minho menjelaskan.

“Minho-yah,” pertanyaan menimbun kepalanya, tapi Sooyoung tak bisa ucapkan. Untuk alasan tertentu, di sini ada Yoon Doojoon, entah kenapa.

“Ah—aku ke sini tidak berencana menemuimu, sebetulnya, aku punya urusan dengan seseorang, tapi tetap saja … bangapta, Nuna.” Suaranya berubah, lebih berat—dan tubuhnya sekarang lebih tinggi dari Sooyoung. Minho tidak tersenyum, Sooyoung tidak ingat senyuman Minho tiga tahun lalu, ia belum pernah melihatnya lagi. “Yo, Yoon Doojoon.”

Semua pasang mata kini tertuju pada sang siswa berseragam. Doojoon, baru selesai berbenah dan kini dengan pakaian gantinya, menatap balik Minho. Wajahnya tak berkata apa-apa. “Kau anak baru itu? Pelatih bilang kau baru datang besok.”

“Oh, aku merubah rencana. Aku kemari hanya untuk menyapa, tidak sabar bertemu denganmu.” Anak-anak mundur, seolah memberi jalan bagi Minho untuk membaur, langkahnya tertuju pada Yoon Doojoon yang menghela napas berat.

“Aku?” Doojoon pikir Minho mungkin sudah tahu kalau ia adalah Kapten—okay? Tapi … bukan?

“Kau tidak ingat padaku?”

“Ya?”

“Oh, bajingan. Setelah apa yang kau lakukan—”

Musun mariya jigeum?” itu Yoseob yang menyahut, nada suaranya meninggi. Doojoon menarik napas lagi, untuk seseorang yang memiliki banyak koneksi, Doojoon termasuk payah dalam mengingat.

“Yoseob-ah,” Doojoon memperingatkan, anak laki-laki itu mundur lagi dan membiarkan Doojoon maju selangkah untuk menepuk pundak Minho dengan akrab. “Maaf kalau aku melupakanmu … Emmm, Choi Minho? Lain kali aku akan berusaha mengingatnya, sampai jumpa di latihan besok.”

“Siapa bilang kau boleh pergi, geu Saekki-ya?” Minho mencengkram tangan di pundaknya, menekan pergelangan tangan Doojoon. Apa maksudmu … anak baru—mereka bersitatap lama. “Bertandinglah denganku sekarang.”

“Kami baru selesai latihan—”

“Aku akan membuatmu mengingatku,” Minho berseru pada Gikwang, “Oi pendek kemarikan bola itu!” dengan enteng Gikwang menendang bola pada Minho, setelahnya Yoseob menghadiahi kepalanya sebuah luka karena mau-maunya disebut pendek meski itu fakta.

“Apapun alasanmu, sekarang benar-benar tidak bisa. Aku tidak dalam mood untuk bertanding.” Elak Doojoon, Minho tidak berhenti, ia menyeringai. Ia memanas-manasi kalau Doojoon takut kalah karena staminanya sedang tidak penuh. Nun ketika laki-laki itu tetap acuh dan—tentu saja siapa yang akan terpancing oleh kalimat bocah itu—hampir berhasil pulang jika saja Minho tidak melempar bola pada kepalanya.

DUKKK!

“AISH! KAU MAU MATI YA? SIALAN SAKIT SEKALI—”

“Maka bertandinglah denganku, oke? Sekarang.”

Geurae!” Doojoon melempar tasnya dan menoleh pada Sooyoung. Ia memutar bahu lengannya sedikit. “Sooyoung-ah, pulanglah duluan.”

“Tidak, Sooyoung-nuna tunggulah sebentar. Aku punya sesuatu untuk dibicarakan denganmu jadi pulanglah bersamaku.” Sooyoung tidak tahu harus mematuhi yang mana, hei—ia masih belum paham ada apa ini. Ada hubungan apa Doojoon dan Minho? Ia tidak tahu Minho mengenalnya begitupula Doojoon.

“Sudahlah. Kita lihat saja, kau juga penasaran, ‘kan? Kemampuan si anak baru itu? Dan … shhh, ada apa di antara mereka?” celoteh Seungri membuat Sooyoung mendengarkan.

***

Memang bulu kuduknya berdiri ketika Woohyun menyuarakan aba-aba, ia tidak bisa memprakirakan siapa yang akan unggul seperti bagaimana ia mempersepsi beberapa orang. One on one dengan Doojoon mengambil alih offence, cukup langka—sebab selama ini laki-laki itu lebih akrab menyerang gawang lawan. Tetapi peluit nyaring dan mimik tak bersahabat tanda temper Pak Pelatih meroket, membuat hening seketika. Sooyoung tahu ia harus mengubur rasa penasarannya dalam-dalam.

Ia memberi Doojoon raut sesal ketika laki-laki itu tak sempat melirik, mengusap wajahnya dengan leher kaus. Terlambat untuk mengulang, Minho lebih cepat merangkul pundaknya ke luar arena tanpa preambul.

Dalam kereta, mereka berdua duduk bersebelahan. Sooyoung memulai konversasi dengan yang paling sederhana, “Apa kabar?”

Minho tidak menjawab untuk beberapa detik. “Awalnya buruk.” Ia bilang, Sooyoung menarik alis. “Tapi semua berjalan baik-baik saja kemudian. Di Amerika, hariku diisi dengan latihan. Aku dapat banyak teman meski sebagian memakai topeng, tapi yah … Korea tetap rumahku.”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku pergi untuk bertambah kuat,” cerita Minho, bahunya naik turun dengan konstan. “dan menunggumu, sebenarnya, tapi kau tidak datang.”

“Soal itu …,”

“Iya. Kau sudah menjelaskannya, sih. Tapi tetap saja aku kecewa. Sulit mencari kenalan sebangsa di sana, yang bermata sipit dan berkulit pucat. Mereka meremehkan kemampuanku, seperti yang Yoon Doojoon lakukan.”

Yoon Doojoon. Nama itu terucap begitu saja. “Jangan-jangan … orang yang pernah kau ceritakan ketika pertandingan nasional …,” hari terakhir ia melihat Minho menangis di ruang loker. Sooyoung tidak menyadari jemarinya gemetar. Ia ingat, mungkin—secuil adegan, Minho pernah bercerita bahwa ia sakit hati, ia dipermalukan di lapangan, di depan ratusan kamera dan jurnalis, dibuat babakbelur—oleh seseorang yang belum pernah Sooyoung dengar namanya.

“Kau benar. Aku kembali untuk menunjukkan perkembanganku, hasil latihanmu selama ini. Orang itu tidak bisa meremehkanku lagi sekarang.”

“Doojoon bukan orang seperti itu.”

“Kenapa kau membelanya?”

“Aku mengenalnya.”

“Aku juga mengenalnya,” Minho menatapnya kali ini, kemudian mata mereka bertemu dalam kilat panjang dan dalam. Ada amarah, tangkap Sooyoung. Ada amarah yang dikubur, perlahan muncul ke permukaan seakan siap diluncurkan kapan saja. “Akan ku tunjukkan permainanku yang sekarang. Dia akan tahu bagaimana rasanya dikalahkan.”

Lalu Sooyoung membuang pandangan, tertawa. Skema balas dendam yang konyol, kecamnya. Meski fisik Minho sedikit berubah, laki-laki itu tetaplah lebih muda, kekanakan. Ia melewatkan bagaimana Minho memandang tawanya dengan teduh dan—sepertinya—rindu yang menguap.

***

Sopran memekik kecil ketika Doojoon melonggarkan pegangan dalam kereta sesak itu, pagi hari sewajarnya bagi warga yang tak menganggur, seperti ini. Ia menjelikan kuping dan matanya, ternyata pekikan itu berasal dari seorang gadis, berseragam, terperangkap kekang laki-laki tua kurang ajar—Doojoon menghampiri saat itu juga. “Tolong minggir. Dia adik perempuan saya,” dustanya. Bapak-bapak tak bertanggung jawab itu menutup wajahnya karena malu, semua mata memandang jijik. Doojoon berdiri di sebelah sang siswi hingga pemberhentian tujuannya.

Dalam langkahnya, ia teringat Sooyoung. Tidak bertemu dengannya di stasiun pagi ini, apa Sooyoung terlambat? Bagaimana bila ada laki-laki iseng yang menganggunya juga seperti yang perempuan ini alami? Sulit untuk bertemu di stasiun yang selalu pengap. Doojoon hanya mencoba berpikiran positif sekarang.

“Terimakasih,” cicitnya seraya memandang. Matanya bulat—sedikit merah, mungkin sempat menahan tangis—dan pipinya agak tirus, rambutnya hitam legam, panjang terurai. Tanpa ia sadari malah mengidentifikasi rupa perempuan itu.

“Rokmu terlalu pendek,” komentar Doojoon tahu-tahu. Normalnya, perempuan akan marah bila pakaiannya dikomentari tak sedap, terlebih oleh orang asing. Namun perempuan ini—“kalau bisa berangkatlah ke sekolah bersama teman atau kakakmu, untuk menghindari hal-hal seperti tadi.”

“Y-ya. Maafkan aku.” Loh, perempuan ini kenapa? Demam?

“Wajahmu merah—”

“Son Naeun.” Potongnya bersama uluran tangan, berangsur hilang jejak-jejak merah pada pipinya berganti seulas senyum. “Tolong ingat namaku, kalau bertemu lagi aku akan membalas kebaikanmu.”

“Ah.” Doojoon menyambut uluran tangan itu. “Aku Yoon Doojoon.”

“Dari SMA Seowon, betul? Boleh aku memanggil Doojoon-oppa?”

“Apa?”

“Aku dari SMP Seowon, kelas satu. Oppa kelas berapa?”

“APA?!”

Perempuan ini terlalu tinggi untuk ukuran siswi kelas satu! Itu berarti … jarak umur mereka lima tahun? Geez, Doojoon tidak nyaman dipanggil oppa tapi rasa-rasanya tidak mungkin (dan tidak sopan) dengan senjang usia ini namun Naeun memanggilnya nama saja. Oleh karenanya Doojoon mengiyakan. Mereka pun berjalan berdampingan hingga gerbang di depan sebab utamanya, gedung SMP dan SMA Seowon bersebelahan. Sungguh lucu.

“Aku ingin kita bertemu lagi!” lambaian Naeun sebelum siswi-siswi SMP lain—terlihat seperti teman-temannya, mengandeng tangan Naeun dan saling berbisik—sedikit rona dan genit memandanginya, membuat Doojoon mengangkat alis tersinggung—mereka sedang menilaiku?

“Apa maksudnya tentu kita akan bertemu lagi, sekolahmu berdiri di sebelah sekolahku mana mungkin tidak bertemu, ck.” Sahut Doojoon meninggalkan kikik-kikik gerombolan siswi SMP itu. Sebelum berhasil melewati gerbang, perhatiannya tertarik pada laju mobil hitam yang tampak mahal berhenti anggun. Dua orang ke luar dari dalamnya mengundang wes-wos membisingkan, ternyata Choi Minho—cih anak itu dari keluarga kaya rupaya—dan satunya lagi perempuan … Choi Sooyoung?

Keduanya melangkah bersisian tanpa ragu, tak sempat melihat mulut terbuka Doojoon. Lalu mengatup dan meneguk udara kosong. Entah kenapa, betisnya tiba-tiba berat melangkah.

***

Doojoon melewatkan obrolan pagi dengan dingin menusuk kulit, siang dengan hangat dan aroma makanan, sore dengan senja yang sengaja dicat oranye sementara hijau di lapangan, dibiarkan mengabur kelabu tergantikan Minho yang menempeli Sooyoung sepanjang hari. Kecuali angin apa yang membawa banyak penonton di latihan rutin senja ini. Siswi-siswi pergumul di bangku penonton, mereka terlihat manis dan membawa hadiah-hadiah, semangat sekali menanti kemunculan seseorang.

“Apa mereka akhirnya menyadari kehebatanku? Aku memang jadi lebih keren semenjak ikut boxing sih.” Yoseob menyibak poni yang telah memanjang ke belakang, Seungri membantah kalau para penonton ini, yaitu siswi-siswi ini datang untuk menontonnya latihan.

“Beginilah seharusnya hidupku, dikelilingi gadis-gadis,” katanya dua detik sebelum Minho selesai berganti setelan training dan masuk ke lapangan dan teriakan para siswi melebur bersama kepercayadirian Seungri. Seketika Seungri mendendam si anak baru.

Doojoon juga sudah mengganti seragamnya dengan kaus untuk latihan. Ia memperhatikan Minho yang kemudian menghampiri Sooyoung (lagi). Ia mendesah, belum menyapa Sooyoung hari ini dan sepertinya … tidak perlu.

***

“Sooyoung-ah, mau pulang bersama?”

Sooyoung menyetujui dari senyumnya yang tidak samar. Akhirnya perbincangan mereka setelah seharian tidak bertemu—dari sisi Sooyoung, padahal sesungguhnya Doojoon memperhatikan, jeli sekali tindak-tanduk perempuan ini dan siapa yang hari ini bergelimang di sekitarnya. Ia hanya tutup mulut, ingin Sooyoung sendiri yang membeberkan semuanya.

“Minho menjemputku ke rumah pagi ini, jadi kami berangkat bersama ke sekolah.” Untuk alasan tertentu, Doojoon membiarkan tangan Sooyoung mendingin di sisi tubuhnya sementara ia sendiri, menahan diri untuk tidak mengenggamnya—sekali ini saja.

“Baguslah. Aku senang kau tidak pergi sendirian.” Ia pandai meredakan perasaan ganjal ketika teringat hal lain yang membuatnya luluh. “Hari ini aku melihat seorang gadis yang hampir dilecehkan di dalam kereta, aku teringat padamu dan mengkhawatirkanmu. Untunglah kau ternyata bersama Choi Minho.”

Sooyoung mengerjap sekali. Terkejut, inilah salah satu alasan mengapa Sooyoung memesona. Dari caranya mencemaskan orang lain. “Lalu bagaimana … gadis itu?”

“Yeah, baik-baik saja. Aku sedikit membantunya.”

“Benarkah? Kau menonjok laki-laki mesum itu?”

Aniya—hanya sedikit berbohong, aku mengaku sebagai kakaknya lalu berdiri di sampingnya hingga kami sampai stasiun.” Doojoon berdeham menyembunyikan gugup, tatapan berbinar Sooyoung mendengarkan ceritanya seperti anak kecil yang menemukan sosok heroik panutan. Ia menggaruk tengkuk dan menoleh, berlagak deru mesin mobil lebih menarik dilihat. “Sooyoung-ah.”

“Hm?”

“Besok, errr … apa kau, aku—aku berpikir apa kau … mau berangkat sekolah bersamaku?”

“A-apa?” keping cokelat jernih itu mengklaim tatapannya, Doojoon mengutuk kalimatnya yang patah-patah seperti pecundang mengajak perempuan ke sekolah bersama pun serumit ini. Ada apa denganku?! Dikedipkan matanya beberapa kali dan—dan terpoles cengiran kaku di bibir itu, mempertontonkan rata gigirnya, bola mata yang tak bisa diam menyorot satu titik—payah sekali, “Kalau mungkin, emmm—mungkin waktunya memang mepet di pagi hari … um, kalau keberatan kau tidak perlu memaksa, yeah … kita bisa bertemu di sekolah seperti biasa. Seperti … itu.”

Joayo.” Jawab Sooyoung langsung.

“Aku akan menunggumu di loket.”

“Di loket tiket?”

“Di dekat loket, lima menit sebelum keberangkatan kereta?”

“O-oke. Kalau begitu.”

(—dari sekian senyum yang Doojoon sungging seharian ini, baru ini (yang asli).)

***

Selama dua bulan terakhir, berinteraksi dengan Yoon Doojoon adalah bagian dari bagaimana cara Sooyoung menarik oksigen ke paru-parunya. Menonton dengan geli rambut laki-laki itu di pagi hari, ketika tidak basah, akan selalu berlawanan dengan gravitasi. Sooyoung pernah melakukannya tapi tidak sering—um, mengusap (menyisir dengan jemari) rambutnya? Yang di luar dugaan amat lembut seperti rambut perempuan. Setelah itu mereka akan mengobrol—apa saja, apa saja—di sepanjang lorong sebelum bel masuk kelas berbunyi. Sampai siang menjelang, ia akan bercanda dengan Yoona di kantin, kadang-kadang Luhan ikut untuk membicarakan kegiatan klub, dan ia punya kebiasaan menatap meja dua deret dari depan dimana Yoon Doojoon bersama teman-temannya biasa makan—lalu keping mata mereka saling melempar senyum. Ketika sore menjelang, ia menyiapkan bekal makanan untuk dimakan bersama semuanya, terkadang Doojoon menemaninya beli beberapa botol minuman di konbini depan, terkadang beberapa anak masih suka menggodai mereka, terkadang. Dan ketika waktunya pulang, tangannya tidak bosan menunggu untuk dijemput, sebab genggaman Doojoon hangat dan segala sesuatu mengenai dirinya tidak pernah membosankan, sebab Sooyoung baru mengenal … apa yang perempuan seumurnya bicarakan di pesta tidur, laki-laki, jatuh cinta, perasaan yang … menyenangkan?

Sebab begitulah seharusnya.

***

Lima menit sebelum keberangkatan sesuai perjanjian mereka kemarin. Sooyoung kecewa, Doojoon tidak datang. Ia berpikir mungkin laki-laki itu telat bangun atau mereka berselingan ketika memasuki pintu kereta. Beruntungnya Sooyoung mendapatkan tempat duduk di antara penuh penumpang.

Tepat di tujuan, ia turun. Satu pintu dari kiri jaraknya, ia juga melihat Doojoon turun. Nah, kan—mereka hanya berselingan, memang sih penumpang amat berdesakan tadi. “Dooj—” Sooyoung tidak berhasil menyuarakan lanjutannya, sebab Doojoon tidak sendirian melainkan dengan seorang perempuan yang tidak ia kenal.

“Oh! Sooyoung-ah!” Doojoon menoleh padanya, melihatnya. Begitupula perempuan itu. “Selamat pagi?”

“Um, ya … pagi.” Sooyoung membalasnya (suaranya tidak terdengar aneh, ‘kan?). “Dan … dia adalah …?”

Perempuan itu menatapnya, menundukkan kepala sedikit daripada mengenalkan dirinya. “Son Naeun, siswi yang aku ceritakan itu. Naeun-ah, ini Choi Sooyoung.” Tatapan dua siswi itu kemudian bertemu—Sooyoung mendeteksi kilat di mata Naeun (apa maksudnya?), mereka mungkin tengah menilai satu sama lain.

“Sooyoung-unni? Boleh aku memanggil begitu?”

“Tentu. Tentu saja.” Kilat di mata Naeun seketika menjelma senyuman.

Dari sana, tiga orang itu berjalan bersama hingga sekolah. Naeun berada di tengah. Sementara Doojoon sendiri minta maaf karena tidak berhasil menemuinya sesuai janji mereka tapi Sooyoung tidak apa-apa. Di situasi ini, Naeun sepertinya merasa risih dari diamnya dan melangkah lebih pelan sehingga kini berada di belakang Doojoon dan Sooyoung.

Merangsang Doojoon berhenti untuk bertanya, “Ada apa, Naeun-ah?”

“Daripada menjadi penganggu, lebih baik kalian duluan saja. Aku belakangan. Lagipula kalian … sepasang kekasih, ‘kan? Kenapa tidak bergandengan tangan? Pasti karena ada aku.”

Sedikit merah di pipi Sooyoung namun Doojoon malah tertawa. “Apa setiap orang yang bergandengan tangan disebut pacaran? Aku sering menggandeng tangan anggota timku apa artinya aku memacari mereka semua? Haha—dasar ada-ada saja.”

Mwoya! Tentu saja itu lain lagi kasusnya!” Sooyoung memukul lengan atas Doojoon.

“Ahaha. Pipimu jadi tomat, Sooyoung-ah …,”

“Ya terus kenapa?! Kau juga begitu kalau aku panggil Oppa! Ngomong-ngomong, kenapa Naeun boleh memanggilmu Oppa?”

“Kenapa ya? Ah! Itu—itu lain lagi kasusnya.”

“Aih. Mwoyaaa.”

Dalam diamnya Naeun menonton—(Lihat? Mereka baik-baik saja. Kau mungkin telah memilih orang yang salah.)

***

Naeun masih kelas satu sekolah menengah pertama. Satu yang membuat Sooyoung kaget sekali. Hal kedua adalah—ia tiba-tiba teringat perkataan Yoona, bahwa Doojoon adalah tipe laki-laki yang mudah disukai (sebagai manusia?) tapi Sooyoung menangkapnya tidak begitu. Ugh, ia telah lama mengalami ini dan itu. Bagaimana Naeun melihat Doojoon persis seperti bagaimana ia melihat Doojoon bertahun yang lalu—kejadian dimana ia mengembalikan tanda pengenal laki-laki itu.

“Kalau dibiarkan terus, sepertinya Naeun akan menyukaimu,” ungkap Sooyoung. Langkah dua insan itu telah jauh dari gerbang SMP Seowon.

“Akan?”

“Waktu pertamakali kalian bertemu, dia pasti telah melihatmu …,”

“Kau ini bicara apa, hm. Ayo masuk.” Tahu-tahu saja jemari mereka bertautan, Sooyoung ditarik hingga mereka bersisian. Ia hanya mengulum bibir, mengungkapkan kalimat selanjutnya sendirian, dia pasti telah melihatmu bertindak keren, seperti aku dulu.

***

Siang hari artinya kantin—bersama Im Yoona (kadang-kadang juga Park Shinhye dan Kwon Yuri dari kelas sebelah). Empat anak perempuan itu berkumpul di satu meja. Di sebelah mereka, ada segerombolan anak laki-laki, dua orang yang Sooyoung kenali adalah rekan satu klub, Yoseob dan Gikwang.

“Apa yang cowok-cowok itu ributkan?” Yuri penasaran. Entahlah, sahut Yoona tapi tampak ingin tahu juga.

Yoseob mungkin mendengarnya, karena laki-laki itu langsung menoleh dan bangkit, berjalan sedikit ke meja para siswi. “Kalian ingin tahu? Cek jadwal pertandingan futsal untuk pekan olahraga Seowon minggu ini.”

“Mereka sudah turun? Kenapa Doojoon tidak memberitahuku? Atau dia juga belum tahu?” Sooyoung lantas membuka ponselnya.

Heol! Doojoon selalu jadi orang pertama yang tahu! Kenapa dia tidak memberitahumu? Kau akan tahu kenapa.” Gumam Yoseob sok misterius.

“Kenapa?”

“Ya makanya lihat sendiri, duh.”

Sooyoung melihat layar ponselnya. Semua yang di meja memperhatikan ekspresi Sooyoung. Sulit terbaca, Yuri lantas merebut ponsel itu dan melihat sebenarnya apa yang salah. “Apa ini? Hanya jadwal biasa?”

“Jadwal itu—itu.” Potong Sooyoung, ia berpandangan dengan Yoseob. Gusar. “Pertandingan pertama, kelas 1C melawan 3A.”

“Kelas 3A adalah kelas Junhyungie, ada apa dengan itu?” kali ini Shinhye ambil bersuara. “Oh! Dan kelas 1C adalah kelas si kening lebar Goo Hara! Takdir macam apa itu hahaha!”

“Kau cemburu, Shinhye-ssi?” goda Yuri.

“Hah, kenapa harus cemburu?” meski mengelak, wajahnya tak bilang begitu. Shinhye menyedot minumannya keras-keras.

Yoseob gemas tak tahan lagi ingin meluruskan salah kaprah para siswi itu. Satu-satunya yang paham situasi hanya Sooyoung terlihat dari cemas di wajahnya—tak dapat berkata-kata. “Aishhh bukan-bukan, bukan soal itu! Tidak bisakah kalian ambil tokoh utamanya, gadis-gadis? Futsal pertama dibuka oleh 1C versus 3A, dua kelas yang masing-masing memiliki Ace yang seantero sekolah sudah tahu—kelas 1C Choi Minho dan kelas 3A Yoon Doojoon. Dengan kata lain, pertandingan pertama adalah Minho versus Doojoon!”

***

Pojok Curhat:

Maaf lama postingnya dan, huh, merasa tersentil begitu liat lineup mbc isc kemarin. Ga ada shinee (karena artis sm lagi liburan) dan ga ada beast. Ga ada minho dan dujun, ga ada yang bisa ditonton kecuali btob minhyuk .___.

Iklan

17 Comments Add yours

  1. beautyana berkata:

    Kyaah! Akhirnya posting >_< kamu tahu betapa gelisahnya aku bolak balik ngecek blok kamu Fani??

    Ini cuma perasaan aku aja (karena terlalu menikmati) atau emang Chap ini pendek? Heuu, penasaran ih sama Doojoon Sooyoung Minho dan Na Eun sepertinya … ah sudahlah (?)

    Soal line up MBC Isac. Aneh banget Dujun (selaku ace) enggak ada. Dujun ga pernah absen kan. Gimana mungkin Isac tanpa Yoon Dujun? Masa iya Dujun enggak diajak, atau Dujunnya ga bisa ikut? Huaaa~~ ga mau nonton kalo gitu :p

    Suka

  2. keniiablog berkata:

    Akhirnya nge post juga… Bbrp kali bolak-balik blog ini buat ngecheck wkwkwkwk
    Btw sensi bgt aku bacanya si doojoon sama naeun:(( jangan sampe sooyoung-doojoon pisah😭

    Suka

  3. Di berkata:

    Tapi aku malah seneng artis sm nggak ada yang ikut isc its mean no one get hurt tapi rada kecewa juga sih ya wakakaka. Minho-Sooyoung-Doojoon semuanya favorite akuuuu >.< apalagi minho-sooyoung lagi gencar gencarnya pamer keunyuan rangkul rangkulan di smtown osaka kemarin (kayanya ditiap pertemuan mereka memang gitu sih ya kelakuannya). Btw Naeun masih kecil bangeet.

    Suka

  4. febryza berkata:

    Duuuhhh fanniiii akhirnya kamu update juga ih, kangen tau sama ff-ff kamu yg fresh bahasanya hehehehee..
    Tuhkan bener minho nungguin sooyoung buat nyusul dia ke luar negeri terus ternyata minho kenal doojoon yaaa? Tapi kok kayaknya minho gatau ya kalo sooyoung sama doojoon itu pacaran? Naeun aja langsung tau kalo mereka pacaran hahaha, ehiya btw itu naeun kecil bgt masih smp kalo diliat dari beda umurnya sama doojoon kayaknya naeun lebih cocok smp kelas 2 kan?

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Ah masa? Naeun itu 94 berarti jarak umur sama dujun 5 taun, bener kok. Aku gamau ngerubah fakta umur soalnya hahaha.

      Suka

  5. doovie berkata:

    Halo Fanii.. Aku suka banget sama tulisan km.. Aku suka sama Doojoon dan Sooyoung. HIhi.. Ditunggu chapter lanjutannya ya.

    Suka

  6. Doovie berkata:

    Hai Faniii… Aku suka banget sama tulisan kamu. Aku suka sama Doojoon dan Sooyoung. Ditunggu chapter lanjutannya yaa… Hihi..

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Makasih doovie hehe komennya sampe double gitu

      Suka

  7. KiHisa berkata:

    ini komen aku gabung dr highskooler 1-2 ya.
    sebenernya dr ff kamu sebelumnya aku tahu kalau doo-young moment bakal sweet bgt kayak gini, tapi ternyata aku belum siap buat baca scene dating (officially) mrk yg kelewat gwiyowo ala anak highschool yg bikin ngeblush sendiri *maklum jomblowati*
    dan ketika tau rivalnya minho… minho yg punya bnyak momment sama sooyoung di real life,,, udh suka bgt si sama dooyoung di ff ini, tp klo keinget moment suyong-minho di real life itu jd greget >,< mrk imut bgt~
    next nya ditunggu fan~~~

    Suka

  8. one656kimhyunra berkata:

    itu typo ya fan??? di akhir kok jd 1A lwan 3A bkn 1 C
    huhuhu

    aduuuhhh.. greget
    iyalah naeun terpesona. doojoon pan g peka. syoung yg tabah yah. hahaha

    next 😀

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Oh iya typo HAHAHAHA maaf ._.

      Suka

  9. sychacha berkata:

    Oh astaga,akhirnya diposting juga *say thanks in every language* aku bolak balik ngecheck kamu udah update apa belum,yah seminggu terakhir ini sih enggak,hehe.
    Nah loh,itu mau tanding si Doojoon sama Minho. Wah,bakal panas nih pertandingannya. Aku penasaran juga sama Naeun,kok rasa-rasanya dia emang udah lama perhatiin Doojoon?macam si Soo sebelum pacaran sama Doojoon,tapi ya entahlah.
    Dan,sama kayak kamu fani,aku berasa aneh nggak lihat nama beast di isac besok. Kalo Minho mah jelas bakal liburan cantik,nah kalo Doojoon kemana coba? Jangan-jangan dia nggak mau ikut isac gara-gara ga ada rival selevel #tolongabaikan
    Yang jelas ditunggu banget update ceritanya,fani ~

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Duh makasih udah nungguin akutuh seneng kalo ada yang nunggu /heol/ cD

      Ps. Perihal isc, sepertinya jadwal beautiful show bentrok sama isc (kalau lawan yang sebanding masih ada vixx leo sih hehehe)

      Suka

  10. Sifika berkata:

    kayaknya minho sama doojoon itu semacam rival sejati ya o_ o
    .di ff ini keliatan minho benci bgt sama si doojoon, ntah karna alesan apa,,
    .minho kentara kalo suka sooyoung, tapi gue gak rela TT ,udah terlanjur suka soojoon soalnya
    (btw itu si yoseob sma gikwang bkin salah fokus :v )

    Suka

  11. Amelinda Amda berkata:

    Minho bru dtng langsung cari masalah ih sma doojoon
    Naeun dsini kyak sok baik ya sma sooyoung dan entah knpa aku pndanginnya gitu
    Susah jga sih ngebayangin naeun anak smp yg kecil imut” haha ><

    Suka

  12. Jiahh si Minho baru masuk udah nantangin si kapten pake acara ambil ambil pacar si kapten lagi apa ga kebakar tuh jenggot si kapten untung si kapten masih sabar dengan semua ini. #prayforCaptain
    Kasian amat Syoo nunggu sendirian gitu sedangkan Dujun malah asik duaduaan. Cih. Kalau Syoo diambil baru tau.
    And pho versi cewe yang jahatnya kayak nenek lampir mulai muncul. hati hati aja kamu kalau muntah paku itu pasti dari aku 🙂

    Suka

  13. nisa berkata:

    waa rival telah tiba….. mau ngerebut pacar kapten lagi… kalo ada naeun sih gpp asal jangan jadi orang ketiga diantara dooyoung…. oh iya kak boleh dong kapan kapan bikin fanfik yang cast nya ada seventeen nya yang jisoo sama sungcheol ok ok makasihh

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s