[FF] H (highskoolers) – ONE

Title: H (highskoolers)
Genre: Teen Romance, Shoujo Theme(?)
Rating: PG
Length: Mini-series
Cast(s): Yoon Doojoon [BEAST], Choi Sooyoung [SNSD], Choi Minho [SHINee], Son Naeun [APINK].
Summary: Mereka hanya pemula yang tiap harinya mencoba lebih tegar, sekuat mahogani, setajam eskalibur, membiarkan bahagia datang sekarang dan takut esok hari saja.

highskoolers.jpg

A/N: [4/7] untuk #HappyDJDay dan [14/7] untuk #Ribbon1stWin

***

Senja ke delapan belas musim panas di bulan Juni, tiga tahun lalu, mimpi seorang anak laki-laki tewas terbunuh quasi—dan dirinya, Yoon Doojoon, tidak pernah tahu karena ia tidak pernah, tidak sekalipun ingin mencari tahu, ada apa.

***

“Ahhh, iya, di situ!”

“Di sini? Apa sebegitu sakitnya?”

Aniyo, gwenchanayo. A-ah.”

Telapak tangan kecil Sooyoung mencengkram lagi pundak Doojoon, ditekan dan diusap bergantian oleh jemari seraya laki-laki itu meluruskan kaki. Mereka berada di lapangan, di tengah-tengah peluit istirahat lima menit. Doojoon biasanya tidak meminta bantuan siapapun perihal keluhan pada pundak atau betisnya tapi berhubung ini Manager Choi, gadis itu berinisiatif lebih dulu. Menawarkan pijatan padanya yang tampak putus asa.

Geez!” Yoseob menampar wajah Doojoon dengan handuk—memang tidak bisa dihindari. Oh sialan si maniak boxing itu. “Ketika kalian berjauhan, itu mengganggu. Tapi ketika kalian bersama, ternyata lebih menganggu. Aih, bermesraanlah di tempat lain, dasar menjijikkan!”

Doojoon acuh menatap mulut berbuih Yoseob yang kemudian dibekap Leo. “Maksud Yoseob-hyung adalah, jangan pamer bahwa kalian sudah pacaran pada kami yang masih sendiri.”

Ani-aniyo—” Sooyoung mencabut pijatannya dan—ouh, Doojoon sedikit menyesali gangguan di timnya tapi, ia hanya harus berganti peran dengan Sooyoung hingga tangannya menyentuh pundak itu. Kupingnya tuli akan ocehan Woohyun selanjutnya mengenai semoga kau segera dicampakkan, Hyung.

“Kau juga lelah ‘kan, anak-anak itu membuatmu kerja terus.” Doojoon bilang disela kegiatan tangannya. Kemudian ia dengar lagi Woohyun mengumpat, alis Doojoon turun, “Aish Nam Woohyun larilah tiga putaran lagi!”

“Apa?!”

“Daripada tenagamu dipakai untuk mengomeliku lebih baik lari kelilingi lapangan, itu lebih berguna untuk membangun stamina.” Dalam hati Doojoon menertawai, Woohyun betul-betul mematuhi apa katanya. Adakalanya hak prerogatif sebagai Kapten ia jadikan keuntungan pribadi seperti ini. “Yoseob-ah kalau kau ingin menemani Woohyunie berlari, silahkan saja.”

Heol!”

Sebab Jumat berarti latihan mati-matian sebelum days off Sabtu dan Minggu, bersama canda, gurau lainnya, lalu makan, mandi mandi dan pulang.

(Khusus Doojoon, ialah yang pertamakali dalam delapan belas tahun hidupnya, menantikan permainan bola selesai untuk bisa menjemput tangan Sooyoung yang terbuka, menggandengnya di jalanan arteri Seoul.)

***

Doojoon mengenal Sooyoung sebagai tipe gadis dengan filosofi simpel, blak-blakan namun sopan sekalinya berkomitmen. Berkata iya untuk hal yang disukainya dan menolak beberapa hal yang tak sesuai. Sooyoung muncul dalam ingatannya ketika itu; ia hampir-hampir diangkat menjadi Kapten dan—kemudian ia sungguh menjadi Kapten baru Tim Sepakbola Seowon. Tidak ada satupun siswa—sepengetahuannya—yang tidak menyukai Choi Sooyoung (terkecuali dirinya waktu itu). Sebab Sooyoung perlambang bunga mekar, dan para siswa itu bagai lebah yang membutuhkan nektar. Sooyoung idola dan Doojoon cukup tahu ini tanpa perlu resolusi. Tapi Sooyoung sendirilah yang membuatnya salah akan pemikiran dangkal itu, dan ia jatuh cinta di waktu yang terlambat.

Lucu sekali—perlu gadis itu menjauhinya dulu baru ia merasa ada yang hilang, perlu anak-anak klub membujuknya dahulu agar ia mengaku kalah. Itu Yoon Doojoon? Iya, Yoon Doojoon yang lebih suka bertindak pasif.

Bulan ini adalah musim panas. Terhitung dua bulan terlewat setelah konfesi yang tidak tuntas—mungkin, tidak akan pernah tuntas—dari Sooyoung bersama latar malam bersalju itu. Terlewat dua bulan pula hingga ia mampu menggenggam tangan mungil ini dengan leluasa, tanpa lagi merasa jantungnya tidak wajar.

Kadang-kadang Sooyoung tidak berubah sejak pertama kulit dingin mereka beradu—menyatu seperti belah palung dan merapat. Pipinya sering bersemu dan suaranya mencicit malu-malu. Doojoon tidak tahu Sooyoung bisa semanis ini. Toh selama berkencan, mereka tak pernah skinship selain bergandengan tangan.

“Doojoon, Doojoon-ah,” terdorong langkah Doojoon ke belakang, ia memandangi Sooyoung selama perjalanan sampai tak sadar mereka telah ada dimana. “terimakasih sudah mengantarku pulang, dan—um, sampai besok?”

“Ah, besok …,” gumaman Doojoon terdengar samar di gerus lalang mobil sejurus kemudian, tautan kecil dilepas, guna Doojoon menahan tali ranselnya yang tersampir. “bukahkah besok hari Sabtu? Sekolah libur.”

Sooyoung terkesiap. Tidak tampak melupakan fakta itu tapi ia rupanya ingin mengatakan sesuatu, “Maksudku, aku free besok.”

“Ah, aku juga. Mungkin aku akan di rumah saja, anak-anak biasa berkunjung dan memainkan playstation di kamarku. Tapi … bisa jadi kita berakhir street futsal di lapangan kecil komplek beberapa jam setelah main game. Kau tahu, adrenalin bisa terpacu meski hanya latih tanding di Winning Eleven.” Doojoon sedikit menahan tawa teringat teman-teman di klub, mereka semua tidak ada yang punya pacar jadi terkadang membuat rusuh kamarnya di hari Sabtu (hari Kencan Nasional).

“Kalau begitu Minggu. Aku juga kosong hari Minggu.”

Berkedip kelopak mata Doojoon. Keheranan. “Sepertinya kau punya banyak waktu luang ya?”

“Dasar bodoh!” pekik Sooyoung meloncat. “Ma-maksudku adalah … ayo kita berkencan!” tunggu, apa? Apa telinganya betul-betul mendengar ia dikatai bodoh—hei! Bukan, bukan itu intinya, tapi ajakan kencan?

“Oh, … itu. Harusnya kau bilang langsung supaya aku paham. Mau kapan, hm, besok?” Doojoon menawarkan senyum mekanikal tanpa menyadari perubahan warna pipi Sooyoung. Napas kasar berhembus lewat hidungnya, Sooyoung tidak menjawab pertanyaan itu tapi ditinggalkannya Doojoon membisu setelah mengumpat untuk yang kedua kali dengan suara lebih kecil.

“Yoon Doojoon bodoh.” Mirip seperti bisikan, sebelum langkahnya kabur bersama rona merah dan tergesa-gesa masuk—menutup pagar rumahnya.

Dimana Doojoon menendang kerikil, membanting dirinya berjongkok di antara kakinya dan menunduk, menengadah, mengusap wajah dilakukan bergantian. Sedikit memerah di kupingnya diiringi kekeh, sesekali mencuri pandang ke arah pagar tinggi rumah Sooyoung, “Kenapa dia manis sekali ketika mengumpat?”

***

“Yoong!” Sooyoung bergegas ke kamarnya setelah makan malam usai, tanpa melewatkan rutinitas es krim di musim panas, ia mengambil sekotak untuk dikunci berduaan. Mengambil ponsel dan berhasil mendial Im Yoona, menit-menit berikutnya setelah accept di seberang, Sooyoung meluncurkan semua pengalaman ini terutama soal ia mengumpat. “Aku mengatainya bodoh, ya ampun, aku tidak bisa berpikir jernih karena dia memang bodoh. Padahal aku sudah susah payah mengatakannya. Tapi dia—tapi-tapi—”

“Berhentilah bertindak agresif. Kau terlalu banyak berinisiatif, Soo!” celoteh Yoona menyahut curhatnya. “Tapi … Yoon Doojoon ternyata laki-laki yang menarik.”

“Ja-jangan menyukainya!”

“Kau berdelusi, ya? Gadis mana di sekolah kita yang tidak suka Yoon Doojoon?”

Musun mariya Im Yoona!”

“Kenapa tiba-tiba membentakku! Dengar dulu, jangan salah paham. Dia itu laki-laki baik, orang-orang menyukainya dan guru-guru juga—meski bukan karena alasan nilainya yang, yah kau tahu sendiri. Tapi dia orang yang sulit untuk dibenci. Jadi maksudku, bukan dalam nuansa romantis—itu mungkin hanya kau—tapi menyukainya sebagai seorang manusia, paham?”

“Oh … Iya.” Dia memang mustahil untuk dibenci, dan sulit untuk disukai (dalam artian lebih). Terhenyak Sooyoung dalam lamunan yang membawanya mundur, tatkala masanya newbie di klub, bagaimana Doojoon bersikap padanya meski mereka tak kenal dekat. Ia takut untuk menyukai Doojoon, laki-laki itu terlalu baik hingga perempuan bisa salah paham dan berakhir sakit. Tapi, itu dulu.

(Mengembang senyum artifisial itu, ia simpan kotak es krim di meja lantas bergulingan mengitari ranjangnya—benar-benar khas anak perempuan yang jatuh cinta.)

“Lalu … aku harus bagaimana?”

Mendengar nasehat Yoona selepas bercerita sepuasnya—semalaman suntuk, yang ia ingat baterai ponselnya merah sekarat sebelum ia jatuh terlelap. Melupakan krim dan chocochip dan blanket yang menganggur. Kalimat terakhir Yoona hari itu mengalun di mimpi, “Buatlah jantungnya berdebar karenamu.” Membuat jantungnya berdebar? Hn—entahlah, Yoong … selama ini justru dia yang selalu membuatku begitu.

***

Esok hari berjalan menyebalkan. Doojoon tidak bisa menepati rencana kencan karena teman-temannya yang bar-bar—teman-teman lelaki dari kelasnya main ke rumah untuk alasan remeh, amat tiba-tiba dan membuat Sooyoung mendepak sepatu cantiknya ke kolong kasur. Ia tidak bisa mencerna semua ini. “Mereka memang makhluk-makhluk tidak jelas, jadi wajar kalau tindakan mereka juga tidak jelas.” Doojoon masih saja bisa bercanda di saat ia marah!

Sooyoung mendengar suara laki-laki lain, “Dudu, hei, aku pinjam kausmu—” dan teriakan mulus samar-samar, “Woy pizza dan cola datang!” ia tak bisa menelan penasaran ada siapa di rumahmu? “Oh, itu Yong Junhyung, dan temanku satu lagi Jung Joonyoung. Kau pasti tidak kenal karena mereka memang bukan orang penting. Oh iya. Soal yang tadi. Jadi … tidak apa-apa ‘kan? Kalau hari Minggu?”

“Sebetulnya tempat-tempat wisata akan lebih ramai di hari Minggu.” Bibir Sooyoung membentuk kerucut, berbaring dan menatap langit kamar yang putih. Ia terus mendengarkan sembari membiarkan pakaian barunya kusut dan rambut yang telah ditata mencuat lagi karena bantal.

“Aku akan carikan tempat yang tidak ramai dan menyenangkan.” Saran Doojoon, satu tarikan napas lagi, “Ada sebuah peternakan di pinggir kota—ah, tempatnya cukup jauh, apa aku harus meminjam mobil Ayahku?”

Sooyoung menggeleng reflek. “Tidak perlu. Naik bus saja, supaya hemat. Eh tadi kau bilang … peternakan?”

“Peternakan sapi! Aku selalu ingin mencoba memerah dan membuat keju, dan pakai topi ladang, menurutku itu keren. Kalau tidak bisa jadi pemain sepakbola nasional, aku ingin jadi peternak.”

“Aneh, itu tidak keren!” Sooyoung menarik diri ke sisi kasur, ia melinting ujung roknya dan membayangkan sesuatu. Kau sudah paling keren ketika bertanding di lapangan. Tentu saja ia tak mengucapnya.

“Tapi kau mau ke sana, ‘kan?”

“Aku mau.” Sooyoung tak dapat menyembunyikan senyumnya setelah laki-laki itu mengakhiri panggilan dengan rencana kedua jam sembilan besok pagi. Sooyoung tidak ingin jadi gadis merepotkan maka mereka akan bertemu langsung di halte bus, Doojoon tak perlu menjemputnya ke rumah.

***

Bukannya Sooyoung sengaja mengulur waktu tapi, sedikit susah mengatur bedheadnya pagi ini, dan hairdryer entah dimana membuat ia mencak-mencak pada Soojin kakak perempuannya yang hendak berangkat kuliah. Sooyoung akhirnya berhasil mengepang rambut panjangnya di jam sembilan tiga nol, artinya ia telat tiga puluh menit.

Doojoon duduk tenang di bangku ketika ia datang, mengenakan kemeja dan celana bahan. Ah, Doojoon juga sudah menyesuaikan pakaiannya dengan kondisi di peternakan kelak. Napas Sooyoung belum teratur dan keningnya sudah basah oleh keringat. Ia berhenti sejenak. Tidak peduli lagi, ia telah berlari-lari dari rumah pasti wujudnya sudah sangat kacau sekarang. “Maaf terlambat, aku lupa kemarin—aku melempar sepatu ke kolong kasur dan kebingungan mencarinya pagi ini, juga pengering rambutku—”

Langkah Doojoon berhenti di depannya dengan satu tangan besar yang terjulur, menggiring selipat sapu tangan untuk diusapkan pada biji-biji peluh keningnya. Melongo Sooyoung, tertutup mulutnya menunggu Doojoon mengatakan sesuatu, “Kau mengepang rambutmu?”

“Kau bilang kita akan ke peternakan, jadi aku ingin melakukan sesuatu pada rambutku supaya tidak menganggu—”

“Cantik.”

“Eh?”

“Sayang sekali, aku pikir kau sengaja berdandan untukku. Ternyata untuk sapi-sapi itu, hahaha.”

Sooyoung membelo di tempatnya melihat gestur Doojoon tertawa. Seenteng itukah pujian cantik mampu diucapnya? Bersama dengan Yoon Doojoon memang mengancam kesehatan jantung. Sooyoung tidak berani menatap cermin dan merefleksi semerah apa wajahnya kini.

***

Setelah melewati empat pemberhentian, mereka akhirnya turun. Perlu mendaki lebih atas menuju peternakan, jalan yang berbatu, sama sekali bukan jalanan yang biasa dilalui umum. Tapi menyaksikan semangat Doojoon dan celotehnya tanpa henti sepanjang mereka berdampingan, sinar di matanya yang seketika indah, Sooyoung rasa lebih dari cukup. Ditambah bagaimana Doojoon selalu sigap menahan tubuhnya (atau tangannya) ketika Sooyoung terpeleset dan hampir jatuh, ia tidak bisa lebih berdebar daripada ini.

Maka pikiran untuk membuat laki-laki itu berdebar untuknya … terdengar nyaris mustahil?

Sapi-sapi itu menyambut mereka—urm, tidak juga? Pemilik ternak memang membuka tempat ini untuk umum. Sapi-sapi jantan dan anak-anaknya dilepas di kandang outdoor, sedang para betina di indoor bertemankan fasilitas ternyaman guna diambil perah susunya. Mereka meminjam dua pasang boots, Doojoon tidak sabaran sekali memasuki kandang sedang Sooyoung meringis berulang tiap kali ia menginjak sesuatu. Doojoon akan datang dan menertawainya dan Sooyoung balas mencibirnya.

Ada seekor anak sapi—imut sekali. Merubah Sooyoung menjadi juru foto dadakan Doojoon dan sang anak sapi, tahu-tahu tingkat keimutan mereka berdua di foto itu melebihi batas wajar. “Kau sangat imut berfoto dengan anak sapi,” kikik Sooyoung, menunjukkan jepretan cahaya DSLRnya.

“Imut apanya aku ini laki-laki—tapi woah, fotonya bagus juga.”

“Senyummu, lihat. Seperti anak kecil. Imut kok!” didengarnya lagi gerutuan Doojoon tapi Sooyoung menghiraukan dan mencela lebih jauh, “Kyeomi Dudu, kau harus memanggilku Nuna mulai sekarang.”

“Dudu? Darimana tahu panggilan itu?”

“Kemarin Junhyung-sunbae memanggilmu begitu masa aku tidak boleh?”

Doojoon berdecak lalu merangkul pundaknya, napasnya mengenai telinga Sooyoung ketika ia bicara, “Ku beritahu ya, Yong Junhyung itu memang aneh. Semenjak putus dengan pacarnya dia jadi miring.”

“Oh jadi panggilan itu cuma boleh disebut Yong Junhyung?”

Doojoon mengelak tapi tawanya tergelak lepas, bukan tawa mekanik ketika mendengar lelucon garing, bukan juga tawa lahak hingga ia perlu memukul (menyiksa) seseorang di sebelahnya. Ia hanya tertawa, sebagai Yoon Doojoon, sisi yang mungkin belum dilihat orang lain kecuali Choi Sooyoung. “Ah, betul juga.” Sooyoung tersadar satu hal. Doojoon berhenti, memasang mimik kenapa dan senyum tipis Sooyoung tersungging natural melalui matanya. “Bagaimana kalau …,”

Suara mo panjang dari sapi di tengah-tengah ladang membuat hening kemudian. Terik tak terasa telah naik. Membentuk jelas bayang dari siluet rupawan Doojoon—dari hidung, jawline, turun ke jakun, kecoklatan dan peluh. Poninya basah akibat kepanasan—ia juga, bukan hanya Doojoon. Tetapi cengiran Doojoon kaku seraya ia menggaruk rambutnya dan mengusulkan agar mereka lebih baik ke pondok dulu untuk makan siang, tidak bisa Sooyoung tolak.

***

Setelah wajah lumayan kering, Sooyoung ke kamar kecil untuk mencuci muka dan memakai lagi sunblocknya sementara Doojoon hanya mengusap wajahnya dengan sehelai tisu basah lalu menungguinya selesai (Sooyoung tidak pernah habis pikir kenapa laki-laki selalu menyepelekan penampilan).

Pondok di peternakan itu sengaja dibuat untuk pengunjung, mereka memesan makanan dan makan tentram ditemani pemandangan hijau sekeliling dan pengunjung-pengunjung lain yang ada—tidak terlalu banyak seperti kata Doojoon. Laki-laki itu makan cepat sekali, menggemaskan mendengar ketidaksabarannya ingin mencoba memerah susu dan mengaduk keju. Sebagai penutup, Sooyoung mentraktir es krim, cocok untuk cuaca panas hari ini.

“Perkataanmu yang tadi belum disambung,” cetus Doojoon ditengah jilatan krim cokelat, sedikit belepotan mulut laki-laki itu—dasar. Tapi Sooyoung biarkan.

“Yang tadi? Aku cuma … oh, itu karena kau tidak mau memanggilku Nuna barang sekali, dan karena kau juga setahun lebih tua dariku. Aku berpikir kalau … bagaimana, bagaimana kalau aku memanggilmu Oppa?”

Tahu-tahu terjatuh es krim dari tangan Doojoon, mengotori kemejanya. Sooyoung ikut kaget, meminta Doojoon diam sedangkan ia ambil tisu dan membersihkan kemeja itu, kemeja biru tua untunglah tidak terlalu kontras dengan krim susu cokelat. Lembar tisu selanjutnya Sooyoung usap pada sudut-sudut bibir Doojoon yang terciprat krim.

Jemari Sooyoung berhenti bergerak sebab tersadar akan innernya, yang seketika beku meregister salah tingkah Doojoon. Ia terlanjur melihat semburat merah terlukis di kontur yang terbiasa tegas itu sebelum Doojoon membuang muka dan menutup mulutnya dengan sebelah punggung tangan.

(—dia malu? Seorang Yoon Doojoon? Wajahnya bersemu karenaku?)

***

Sooyoung tidak sempat menerka apakah Doojoon malu dipanggil Oppa atau diusap noda krim di bibirnya, atau kedua-duanya. Karena insiden itu ia jadi terbawa salah tingkah dan waktu berlalu sedikit canggung sekian menit berikutnya. “Sooyoung-ah, linting lengan kemejamu.”

Doojoon memuaskan dirinya dalam percobaan menjadi peternak sapi seharian, dan kini giliran Sooyoung—tak terasa, ia merinding mendengar mo panjang lagi-lagi dan bagaimana kalau sapi itu tiba-tiba menendang ketika hendak ia perah susunya?

“Jangan takut, ayo coba, kemari.” Sooyoung membiarkan pergelangan tangannya dituntun, sebab Doojoon adalah magnet dan Sooyoung berusaha keras untuk tak menjerit kegelian karena menyentuh kulit sapi.

“Uh,” keluhan Sooyoung tak berhenti.

“Pakai sarung karetnya dan linting lengan kemejamu,” instruksi Doojoon sekali lagi terdengar seperti seorang pro, tak ayal membangkitkan naluri cibir Sooyoung. Terkekeh santai laki-laki itu menanggapinya, lalu ambil alih ia memakaikan sarung tangan itu (dan dari belakang, menyerupai back hug bila dilihat orang)–sodekuru, Doojoon menggulung ke atas kemeja yang menutupi lengannya. Jantungnya, jantungnya tidak dapat diajak kompromi merasakan permukaan kulit Doojoon—yang sering terbakar matahari—menggesek, menyentuhnya (tidak kasar, malah lembut—lembut sekali). “Nah, sekarang coba, tidak sulit kok. Apa perlu ku bantu juga memerahnya?”

“A-aku bisa sendiri!”

Mengkhayalkan pose memerah susu semisal Doojoon mengkaver tangannya, dengan tangan yang lebih besar itu dari belakang, dan punggungnya menempel di dada Doojoon, merasakan detak dan rona muka menjadi kacau, kaku, mati. Sooyoung benar-benar tak sanggup.

***

Ponsel memampang pukul empat sore ketika harusnya mereka tiba di rumah. Banyak yang terjadi hari ini sepertinya membuat Sooyoung lelah. Doojoon menyesal membawa Sooyoung kencan ke tempat yang jauh (apa? Kencan? Apakah hal seperti ini bisa disebut kencan?). Namun tentu Sooyoung jawab menyenangkan ketika ia bertanya. Sooyoung terlihat mengantuk, Doojoon menawarkan pundaknya di dalam bus dan Sooyoung sungguh tertidur—benar saja, memberatkan pundaknya.

Honestly Sooyoung tak terduga sepanjang hari ini berlalu. Mulai dari penampilannya—oh lagi-lagi ia melupakan petuah Seungri (yeah Seungri bilang pujilah perempuan dengan apa saja yang mereka kenakan). Sebab pakaian Sooyoung manis sekali hari ini—kemeja, sweater, dan celana pendek (setelan musim panas). Sooyoung juga mengepang rambutnya yang jarang-jarang, ia tulus bilang Sooyoung cantik pagi ini bukan karena petuah kolot Seungri.

Ia sentuh pelan-pelan fragmen cokelat itu, yang lurus, lembut menutup kening Sooyoung. Mendesah, membayangkan sejak kapan ia teradiksi segala sesuatu yang berurusan dengan Sooyoung.

(Selama apa Choi Sooyoung membuatnya jatuh cinta—tidak ada jawaban sebab itu bukan pertanyaan.)

***

“Doojoon-ah,” di depan pagar menjulang, Sooyoung memulai pernyataannya ketika Doojoon selesai mengusap puncak rambutnya sebagai salam sampai jumpa. “Terimakasih untuk hari ini.”

Tatapan Doojoon mungkin lebih terang daripada yang pernah diberikan, ini kencan ke sekian mereka namun pertamakalinya ia yang menyusun rencana serta mencarikan tempat. Kali ini berbeda. Ia senang Sooyoung tidak kecewa. “Sama-sama.”

Nun kata-kata itu tertahan di ujung kendali, seperti Sooyoung menahannya sebentar kemudian menempelkan ciuman hangat di pipinya karena sudah mengantarnya pulang. “Sampai jumpa besok, Doojoon-oppa.”

Adalah ketika Doojoon merasa langit menjadi pink ataukah pipinya yang menjadi pink karena ciuman itu dan panggilan yang paling ingin dihindarinya. Doojoon lebih suka mendengar Sooyoung memanggilnya dengan nama depan saja daripada sebutan untuk kakak laki-laki. Sooyoung sungguh, seperti yang ia bilang, sungguh tidak terduga hari ini.

***

Di sore latihan yang agak mendung berhari-hari kemudian, derap langkah terengah anak-anak klub ditemani Sooyoung yang menonton mereka seperti biasa tampak sama. Hanya raut wajah pelatih yang lebih ceria membuat beberapa dari mereka penasaran apa yang terjadi. Bila bukan karena undangan berlatih tanding dari SMA terkuat, atau kabar bagus mengenai lolos babak kualifikasi, lalu apa?

“Seorang pemain berbakat, pindahan dari Amerika, akan bergabung dengan tim ini. Aku bahkan tidak perlu mengetesnya untuk tahu dia cocok dimasukkan ke tim mana. Tim Inti, bersiaplah menerima anggota baru.”

“Murid pindahan langsung masuk tim inti? Yang benar saja!” Doojoon mendengar anak-anak mengumpat di belakang pelatih, sejujurnya ia mengerti perasaan itu. Banyak dari mereka berlatih keras untuk bisa bermain di official match, namun hasilnya hanya sebatas menonton pemain lain dari bangku cadangan. Menyakitkan, bukan?

Latihan dicukupkan sebelum waktunya. Pak Pelatih pulang lebih dulu sebelum memperkenalkan sang anak baru, besok ia datang, janjinya. Kemudian anggota tim mengerubungi Doojoon menanyakan apakah Kapten tahu mengenai ini, “Aku juga baru mendengarnya sekarang sama seperti kalian.”

“Memang Kapten setuju ada anak baru, kelas satu pula, tiba-tiba masuk tim inti?” protes Woohyun. Doojoon mengingat bahwa Woohyun juga baru kelas satu, dan ia belum pernah bertanding di pertandingan resmi—pasti anak itu cemburu.

“Kalau dia punya kemampuan, apa salahnya?” Doojoon mencoba menenangkan semuanya tapi anak-anak itu kian ribut. Di lain sudut, Sooyoung memerhatikan. Mengerling lewat matanya agar ia mengerti mereka. Doojoon menangkap apa maksudnya dan menyahut, aku mengerti, aku selalu berusaha mengerti mereka selama ini.

Kemudian, Doojoon menemukan skema yang tidak sepenuhnya kebetulan, ia rasa, tatkala seorang anak laki-laki berseragam persis—seragam Seowon—melangkah ke area lapangan lantas berhenti di depan Sooyoung yang terkejut.

Dimulainya sapaan ramah dari sang laki-laki, “Apa kabar, Nuna?”

***

(bersambung)

Pojok Curhat:

  • Jadi gini. Fanfiksi series ini kepikiran setelah kemarin malem aku nonton KBS Cool Kiz on The Block season soccer tahun 2014. Waktu itu males banget nontonnya, baru sampai ep2. Eh kemaren tiba-tiba ingin ngelanjutin nonton dan tada! Terkejut banget waktu ep3 ada guest special SHINee Minho dan BTOB Minhyuk. Pemain regulernya Dujun dan Gikwang lagi, duh bener-bener cuci mata. Sesuai ekspetasi Dujun-Gikwang-Minhyuk satu tim ngelawan Minho-danlainlain. Tiba-tiba keinget kok ya Minho sama Dujun nggak pernah satu tim kalo main bola? Dari jaman ISC 2013 sampai 2015 kalo ketemu auranya forever rival gitu. Menangnya pun gantian. Terus tiba-tiba ingin bikin ff yang ada scene Minho vs Dujun xDDD
  • Terus pas lanjut nonton ep4, ternyata Minho ditarik jadi pemain reguler! Ya ampun! Dujun dan Minho satu tim! Tapi ternyata oh ternyata … kerjasama Dujun-Minho buruk banget, malah terkesan main individual, bukan tim. Seolah mereka memang nggak bisa dimasukin ke tim yang sama.
  • Dan yang bikin nggak nyangka lagi adalah, di ep4 ada guest special juga. APINK sebagai tim cheers! Hehehe, makanya kepikiran pemeran cewek keduanya Naeun.
  • Mohon maklum ya penulisnya ngeship Minho-Sooyoung dan Doojoon-Naeun.
  • Mohon maaf lahir batin juga dan karena curhatnya kepanjangan.
Iklan

14 Comments Add yours

  1. sparkmvp berkata:

    nahloh…… choi bersaudara (?)

    Suka

  2. febryza berkata:

    Aaaaaaahhhh ini lanjutan kisah doojoon-sooyoung yg kemaren ya?
    Duuuhh mereka so sweet bgt sekarang deh udh sering skinship juga yah walaupun kebanyakan mereka engga sadar sama skinship mereka jadi kesannya natural bgt ih..
    Btw, pas dibilang ada pindahan dari amerika terus masih kelas 1 dan manggil sooyoung itu nuna langsung mikir minho loh soalnya kan awalnya emang sooyoung mau masuk sma international tapi gajadi terus yg deket ama sooyoumg dan jago main bola ya minho…
    Hayoloh doojoon, rival kamu nambah 1 dan ini pasti bakalan sengit bgt deh. Btw, nanti naeun ada terus sooyoung gimana? Awas aja kalo doojoon selingkuh, kalo sooyoung yg selingkuh gapapa *jahatbgt * *pilihkasih* *abisgimanachoisiblingitu* btw, untung ga ditambah inguk, hot couple sekarang nanti makin pusing hahaha

    Suka

  3. beautyana berkata:

    Ahh~~ akhirnya kamu update Fani T.T kerasa banget belakangan bolak balik buka blog kamu dan akhirnya bisa jejingkrakan bahagia baca FF Doojoon-Sooyoung yang selalu sukses bikin dugeun-dugeun😍😍

    Dan ini series ya? Artinya masih ada lanjutan. HOREEE~~ seneng banget ngebayangin nanti bakal ada cinta bersegi diantara Doojoon – Sooyoung dan langsung kebayang muka-muka jealousnya Dudu gara-gara Minho, haha. Ditunggu lanjutannya ya Faan… usahain cepet XD ga sabar loh ini aku Haha XD

    Suka

  4. Di berkata:

    MINHOOOOO!! Di antara sooyoung pairing lainnya yang udah mulai pada mati, minho-sooyoung malah makin berjaya wahahaha. Suka sama mereka!! Fashion-couple wakakaka
    Doojoon-ssi kamu kok pasif amat! Bikin gemes >.<

    Suka

  5. sychacha berkata:

    Oh astagaaaaa! Minho mau dateng,ntar tambah Naeun pula, jadi rumit deh 😭

    Suka

  6. keniiablog berkata:

    Ya ampun choi couple😍😍
    Plis doojoon jangan selingkuh😢
    Ditunggu update slanjutnyaaa… Keren deh ceritanya👍👍

    Suka

  7. one656kimhyunra berkata:

    aduh baru juga sweet sweet an weeked kmren. udh ads rival aja.. 😀

    next next
    weh minho euy… 😀 XD

    Suka

  8. Seotwin berkata:

    Barusan buka hape trus kepikiran baca ini dari ep 1 lagi,, dan entah kenapa baca kedua tapi masih deg deg an seneng gara gara Soo Doojoon~~ disini pas ending pas si minho ngomong apa kabar noona, tiba tiba kebayang mukanya minho yang senyum senyum gaje gitu,, wkwkwk~~ fighting!

    Suka

  9. Sifika berkata:

    Doojoon, kamu kok nggak peka amat sihh??? -_-

    btw itu moment sooyoung-doojoonnya bikin melting >///<

    Suka

  10. Amelinda Amda berkata:

    Moment doojoon-sooyoung nya manis bnget *-*
    Duh ada choi couple jgakk
    Minho ini psti jdi rivalnya doojoon nanti ><

    Suka

  11. Asik banget yha kencan kalian:”) mau juga kali punya boyfie kayak Dujun meskipun mukanya sanggar tp berhati malaikat maana kreatif lg milih tempat kencannya. Anti mainstream gituu:”)
    AKKKK CHO MINHO IS COMING!!!!! HATI HATI DUJUN DITIKUNG SAMA MINHO!! SOOYOUNGNYA DIJAGA BAIK BAIK~

    Suka

  12. nisa berkata:

    uhh pertama baca langsung senyum senyum sendiri 😁😄 bayangin masa masa sma penuh romantisme kaya gitu~ hah jadi suka sama couple iniii
    sempet sebel waktu doojon ga peka waktu diajakin kencan…. kadang kadang gemes banget lihat cowok gak peka..padahal kita udah beraniin buat ngode ngode……

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Hai Nisa sangkyu komennya! Tapi apa kamu udah baca prekuel ff ini: “preti” dan “velu” 😄

      Suka

      1. nisa berkata:

        hehe habis gatau arti judulnya sih … jadi belum kubaca…. ternyata ff ini ada prekuelnyaaa… hah sempet kaget waktu tau beast ninggalin cube habis baca ff ini.. pokoknya beast jjang!!

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s