[FF] Vēlu

Title: Vēlu
Genre: Romance
Rating: PG
Length: Oneshot
Pairing: Doojoon/Sooyoung
A/N: bila fanfiksi Préti diambil dari sudut pandang dujun, maka fanfiksi ini diambil dari sudut pandang suyong. Selamat bergalau (emang ini fiksi galau? orz enggak juga deh)

vēlu.jpeg

***

Setelah berhasil mencuri napas Doojoon dalam hitungan sekon ke belakang, Sooyoung membawa wajahnya mundur menyisakan senyap untuk mereka. Berdentum sesuatu di balik kulit dadanya, kencang, kencang, dan ia tak bisa mengangkat wajahnya kecuali membiarkan Doojoon melihat matanya yang berair. Ritme napas Sooyoung kembali bekerja di antara rona malu atau bersalah, ia lantas berdiri dan berlari meninggalkan ruang penyimpanan bola itu.

Doojoon sama sekali tak terlihat ingin mengejarnya.

***

Sehari setelah kemarin, Sooyoung mendapati cela matanya berwarna kehitaman, hasil dari insomnia karena terlalu memikirkan aksiden semalaman. Yoona memaksanya bercerita dan Sooyoung menghamburkan semuanya bersama tangis. “Aku mencium Doojoon kemarin, tepat di bibirnya.” Reaksi Yoona sangat berlebihan (ke arah positif)—errr reaksi tiap gadis sepertinya memang selalu begini. “Aku tidak akan ikut kegiatan klub hari ini.” Ungkapnya di akhir, terlihat amat putus asa.

“Loh, mereka sebentar lagi akan menghadapi final Winter Cup ‘kan? Kau harus ke sana, menyemangati mereka, dan yang lebih penting … Kapten Yoon.” Godaan Yoona justru membuat Sooyoung ingin menangis lagi. Ia tidak ingin bertemu Yoon Doojoon sekarang. Kenapa, tanya Yoona. Im Yoona bodoh, Sooyoung menjawabnya tanpa resolusi—dan jam makan siang dua gadis itu dihabiskan dengan saling ejek.

Sore ketika sekolah menyuarakan belnya, Sooyoung menitip pesan pada Luhan (teman sekelasnya merangkap teman satu klub), beralasan bahwa ia sedang tidak enak hati badan untuk bisa menemani mereka latihan sore ini. Untunglah Luhan tidak curiga.

***

Ada seseorang yang berbeda dari kebanyakan adam melalui perspektifnya. Pertamakali Choi Sooyoung mengetahui orang ini adalah ketika ia menonton kejuaraan sepak bola antar sekolah sekitar setahun yang lalu—ia masih di bangku kelas tiga SMP. Ia datang ke sana dengan Yoona, dan anak-anak kelasnya, untuk mendukung tim sekolahnya di lapangan.

Setelah babak penyisihan antar SMP hari itu usai. Ia sempatkan mampir ke restroom para pemain dari sekolahnya, menemani Im Yoona mengantarkan sepaket bekal makan. Bersinggungan lengannya dengan seseorang—yang tampak terburu-buru. Orang itu menjatuhkan sesuatu, meninggalkan Sooyoung dan benda yang ia jatuhkan. “Chogiyo!” lekas Sooyoung pungut dan usap kartu berlapis plastik padat itu, seraut wajah dan nama laki-laki kelas satu SMA tertera jelas; Yoon Doojoon, Seowon High School.

Sooyoung memandangi punggung bernomor tiga dan dua itu dalam diam akhirnya. Ia berpikir untuk mengembalikan tanda pengenal siswa ini. “Yoona-yah, kamu duluan saja. Aku mau ke lapangan lagi sebentar.”

Niat baik Sooyoung berbuah pada hal lain, ia tidak langsung mengembalikan tanda pengenal itu ketika tiba, tapi ikut melucuti pertandingan antar SMA yang terlanjur berlangsung di stadiun. Tim SMA Seowon dan pemain striker nomor tiga puluh dua itu di sana.

(Lantas mendapati dirinya terjebak dalam lingkup ruang pandang laki-laki itu, yang berlari dan menendang, peluh melintasi dahi jatuh menetes ke lehernya, kulit cokelat tertimpa terik, kontur wajah yang tegas—tampan. Mencolok di mata Sooyoung. Keberadaannya hanya terlalu berbeda hingga membuat laki-laki lain terlihat salah.)

Di jeda menuju babak kedua Sooyoung baru turun ke bench guna mengembalikan kartu pelajar Yoon Doojoon. “Oh iya, terimakasih.” Garis lengkung di ujung bibirnya—bukan karena senyum—yang jarang dimiliki kebanyakan orang, serta gelagap ia melap tangannya yang berkeringat sebelum menerima kartu itu. Seketika membuat Sooyoung terhenyak—tersentak melangkah mundur, dengan terbata mengatakan ia harus segera pergi.

***

Cerita lama itu bersambung ke titik dimana Sooyoung tahu-tahu merubah pilihan SMA menjadi Seowon, bukan SMA internasional seperti pilihan orangtuanya. Teman kecilnya Yoona, sesuai dugaan mengikuti. Ia berhasil masuk dengan nilai nyaris sempurna. Selama masanya kelas satu, ia tak mengikuti kegiatan klub apapun, sering menjuarai berbagai olimpiade terutama sains merupakan satu dari sekian alasannya. Namun alasan terbesarnya bukan itu, melainkan … ia belum berani menampakkan diri ke hadapan Yoon Doojoon lagi.

Belum sampai ia menginjak tahun kedua di Seowon.

(Mendaftar sebagai manajer klub tepat beberapa waktu sebelum laki-laki yang ia kagumi diangkat menjadi Kapten. Sangat keren. Sisi jeleknya, Doojoon tak ingat padanya termasuk kejadian setahun silam.)

***

Semua itu adalah masa lalu dari kisah cintanya yang belum selesai dan—dan sekarang …

Ia terlambat! Sooyoung mengejar gerbang sekolah, syal dan bootsnya serasa mengganggu karena salju, dan ia terjatuh sesampainya pada tiga langkah terakhir menuju gerbang. Seseorang—yang sama-sama telat—membantunya berdiri. Orang yang paling ingin dihindarinya, Yoon Doojoon.

“Aku kaget sekali waktu keretanya tiba-tiba mati, ternyata tidak hanya aku seorang siswa Seowon yang naik kereta itu. Jadi kita punya alasan untuk menjelaskan pada petugas piket.” Doojoon tersenyum sementara Sooyoung berusaha mengatur suhu tubuhnya kembali dingin—terutama permukaan kulit wajahnya.

“Y-y-y—ya.”

“Tidak perlu berlari lagi, santai saja.” Sepatu Doojoon menapak di salju, Sooyoung mengekorinya, melihat ke bawah dan mengagumi langkah lebar laki-laki itu. Ia tidak biasanya diam, namun mulutnya kini seakan terkunci rapat-rapat. Ia harap Doojoon tidak berbalik dan melihat mimiknya.

Sesuai perkataan Doojoon, mereka diperbolehkan masuk setelah keterlambatan 10 menit, terimakasih atas penjelasannya yang luwes membuat Sooyoung mendesah lega.

Geurom, aku duluan.” Sedikit lebih gesit Sooyoung mengganti bootsnya, mendengar suara Doojoon mengkhawatirkannya kemudian saja.

“Kondisimu sudah lebih baik dari kemarin? Apa hari ini kau bisa datang ke gor?” Sooyoung mengangguk sembari senyumnya menampar kecut alih dari pikirannya yang melantur, dia terlihat baik-baik saja sementara dengan bodohnya aku memikirkan terus ciuman itu.

***

Jadi Sooyoung betul-betul menepati kata-katanya. Anggota Tim menyambutnya dengan gembira, terutama Seungri diiringi celoteh rindunya yang sebetulnya tidak perlu. Selama latihan berlangsung, sebisa mungkin Sooyoung menjaga jarak dari Doojoon. Ia bahkan menahan diri untuk tidak melihat laki-laki itu melap keringatnya atau membuatnya jatuh—lagi.

Agaknya Yang Yoseob merupakan yang paling peka di antara para laki-laki, “Apa terjadi sesuatu di antara kau dan Doojoonie? Kau terlihat mengindarinya tapi dia … sepertinya tidak peduli?” ugh, Sooyoung perlu menutup mulutnya dengan burger di jam makan siang besok.

Senapas lelah para anggota tim, berebut kamar mandi seperti biasa. Takdir macam apa hingga kembali menyisakan Sooyoung dan Doojoon berdua di gor. “Karena rumah kita searah, apa kau mau pulang bersama—”

Sooyoung menatap rupa itu dalam-dalam, berusaha meregister semua ini. Fakta bahwa Yoon Doojoon lah yang mengajaknya lebih dulu, pertama kali. “Aku—aku harus pergi ke tempat lain sebelum pulang ke rumah.”

“Tidak masalah. Aku akan menemanimu.”

“Kau tidak akan suka tempat ini.”

“Apa kau tidak nyaman denganku?”

“Um–bukan, Sunbae, ini perpustakaan kota.” Kemudian Doojoon berhasil menutup ajakannya dengan gumaman baiklah hati-hati di jalan sebab mudah ditebak laki-laki semacam Doojoon alergi mendengar kata perpustakaan.

***

Ia tidak tahu, tepatnya, kapan ia harus berhenti menghindari Doojoon sepanjang hari, setiap bertemu di koridor, kantin, loker—dan berapa banyak lagi alasan yang dibutuhkan untuk membolos rutinitas klub. Doojoon menyapa tapi Sooyoung selalu pura-pura sibuk akan hal lain. Doojoon sering mengajaknya pulang bersama dan jawabannya akan selalu tidak. Doojoon bodoh tapi ia tahu ia lebih bodoh.

Yoona mulai lelah menasehatinya dan keingintahuan Yoseob sudah tidak ada batasnya. Sooyoung mengancam mereka berdua dengan pukulan bila berani membongkar ini pada Doojoon. “Membongkar apa?” Yoona bertanya.

“Perasaanku padanya, tentu saja.” Lalu Sooyoung tidak ingin mendengar tawa lahak Yoseob mengenai ketidaktajaman pikiran Doojoon, seorang gadis menciumnya dan dia belum mengerti apa maksud dari itu? Tolong bantingkan kepalanya. “Ide bagus maka dia akan amnesia aku pernah menciumnya dan aku akan terus hidup dengan rasa bersalah.”

Hingga—hingga kebodohan Sooyoung berujung pada kikisnya hubungan mereka. Seperti suatu kali mereka bertemu dan bersitatap, Doojoon tak lagi menyapanya atau mengajaknya pulang bersama.

(Oke, Choi Sooyoung, ini yang kau inginkan?)

***

Sapaan, gerutuan, cerita sepanjang lorong kelas, gurauan di akhir latihan, ajakan makan dan pulang—tidak ada. Sooyoung merindukan itu semua tapi ia tak ingin menemui Doojoon. Agaknya anggota tim menyadari ini dari dinding menjulang yang mereka berdua ciptakan satu sama lain. Yoseob tidak lagi menertawainya melainkan berbalik mengasihaninya. Ia jadi lebih dekat dengan anak itu—dan mungkin Seungri. Nun ia terluka sebab tak sedikitpun Doojoon menunjukkan rasa cemburu.

(Bahwa dari awal ia mendaftar sebagai manajer klub ini demi Yoon Doojoon, adalah sia-sia.)

***

Di tengah exagerasi Sooyoung dalam fokusnya memerhatikan anak-anak berlatih tanding, peluit tanda berakhirnya pertandingan dengan skor selisih satu membuatnya mengambil napas yang tak disadari telah ia tahan. Duduk di bench, ia menonton Lee Gikwang memberikan dua botol pocari pada Doojoon.

Ia merasa ada yang aneh tatkala derap langkah lelah Doojoon menghampirinya dan duduk di sampingnya. Doojoon memutar capnya lalu—“Minumlah.” Sooyoung menerima minuman ion itu dengan ragu—dengan canggung, seraya ia mendengar air itu melewati kerongkongan Doojoon dan gemetar, tidak sanggup menahan tumpah airmatanya ketika lugas Doojoon meminta maaf atas kelakukannya berhari-hari silam.

Gikwang berseru tidak sabaran, “Kami menyuruhmu untuk meminta maaf bukan membuatnya menangis!”

“Ah—bukan aku!” Doojoon menatapnya kelimpungan, menepuk pundaknya dengan tidak sabar, “Sooyoung-ah berhenti menangis ku mohon. Aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Ugh, aku tahu kau akan seperti ini makanya aku diam saja.”

“Aku takut,” pipi dan hidung Sooyoung memerah semuanya, “sikapmu sangat dingin kemarin-kemarin, kukira kau membenciku.”

“Kalau kau bicara soal ciuman itu dan bagaimana kau selalu menghiraukanku setelahnya, aku tidak membencimu.”

“Hiks. Uhuh,” Sooyoung semakin terisak kenapa Doojoon begitu gamblang membahas masalah itu? Laki-laki memang kejam.

Aniya—kenapa tangismu semakin keras. Apa aku salah bicara lagi? Maafkan aku, yah—”

Kemudian geram dan kesal anak-anak lain membegal Doojoon bergantian. Melinting tangannya, mengatainya bodoh karena perempuan paling malu jika membahas hal semacam itu di depan banyak orang, apalagi dominasi banyak orang itu adalah … laki-laki. Tangis Sooyoung bercampur tawa, lumayan terhibur mendengar Doojoon meringis memohon ampun terbuli anak buahnya sendiri.

***

Doojoon menguap lebar-lebar—sekalian memalingkan wajahnya dari Sooyoung yang duduk di depan terkantuk-kantuk sementara ia berdiri dan berusaha tetap terjaga. Selesai latihan tadi, Sooyoung memergoki Doojoon menatap nanar dompetnya yang mengering akibat mentraktir seluruh anggota di kedai ramyun dekat sekolah. Ia tertawa, mau-maunya saja Doojoon melakukan itu demi permintaan maafnya diterima.

Langit menggelap setelah semua perut terisi penuh. Doojoon memaksa agar ia mau ditemani pulang dengan alasan klise—berbahaya seorang gadis pulang malam sendirian. Sooyoung sulit menolak. Rumah mereka searah lagipula, errr.

“Tidur saja kalau kau mengantuk.”

“Kau juga mengantuk.” Sooyoung menjawab pendek.

“Memang tapi aku tidak akan bisa tidur, aku berdiri.” Doojoon menegakkan tubuhnya. Sooyoung menggeser duduknya sebab ruang sebetulnya kosong bila Doojoon mau menjatuhkan separuh badan. Mengalah, Doojoon ikut duduk dan membiarkan mulutnya menguapkan udara meski tak selebar tadi. Itu bukan pemandangan menarik tapi Sooyoung tak untuk bisa tak memerhatikannya.

(Doojoon benar-benar tertidur kemudian, di pundaknya.)

Kekeh Sooyoung mengisi perjalanan mereka menyusuri timbunan salju-salju yang belum dibersihkan menuju rumahnya. Permintaan maaf Doojoon terulang, kali ini karena membuat pundak Sooyoung sakit.

“Terimakasih untuk hari ini.” Sooyoung tertawa lewat matanya, sekali lagi—hari ini ia banyak tertawa, mereka telah melewati persimpangan berada di depan rumah Sooyoung. Ia membiarkan Doojoon mengusap kepalanya, poni tirainya, dan pipinya yang dingin.

“Sampai bertemu besok, kecuali kau menghindariku lagi, aku tak bisa berbuat apa-apa.” Ia tak rela melepas gurauan Doojoon pergi, tangan kecilnya menyangkut di lengan sweater Doojoon.

“Tu-tunggu. Aku ingin mengatakan sesuatu.” Sooyoung menggigit bibir dalamnya, gusar dan gugup menjadikan sunyi sekejap. Ayolah! Seharusnya ia telah terbiasa bertindak ofensif! “Aku … aku suka …,” kamu, kamu, ka—dan pada percobaan yang ketiga—kamu, dalam benaknya, Sooyoung merasakan syalnya ditarik ke atas menutupi dua belah pipinya yang bersemu, sorot mata Doojoon berkata tidak apa-apa.

Ia belum selesai tetapi Doojoon menuntun tangannya untuk digenggam, menyelipkan jemari di antara arteri yang berdetak langsung ke hatinya. “Aku sudah tahu. Maaf karena terlambat menyadarinya.”

Mereka berdiri di sana, di tengah dingin yang membekukan, Doojoon menjaganya tetap tegak dengan teduh di matanya yang kali ini mampu mengontrol rona muka Sooyoung, mendebarkan. Sooyoung-ah, panggilnya kemudian, dan mungkin ia tidak perlu meminta. Sebab Sooyoung menemukan kakinya berjinjit sendiri untuk dapat memeluk leher Doojoon, memejamkan mata dan membayangkan kencan pertama mereka.

***

.

.

.

.

.

R: ada apa nih, tiba-tiba nulis romance?
A: lagi exited nunggu bist kambek

Iklan

15 Comments Add yours

  1. beautyana berkata:

    Ihhhh!! Gemes! Gemes! Gemes! Pengen nyulik Doojoon bawa pulang :((

    Abis liat kelakuan idiotnya di Weekly Idol, langsung ngefly gegara Ff kamu Fan, paling jago deh bikin Doojoon tambah unyu, hahaha XD

    Disukai oleh 1 orang

    1. Yang Yojeong berkata:

      Aku setuju soal kamu bilang dia ‘idiot’ 😂😂😂

      Berkah itu siapapun nanti yang bakal jadi pacarnya dujun

      Suka

      1. beautyana berkata:

        Siapapun setuju kalo dia emanh idiot -_-

        Tapi siapapun juga setuju kalo dia super ganteng (pas lagi kalem) XD

        Suka

  2. febryza berkata:

    Aaahhhh baguuuss.. bacanya gemes2 gimana gitu kan terus terus mereka so sweet banget di akhir. Tapi itu yg buat doojoon tau siapa ya?
    Suka bgt disini anggota klubnya mereka kaya emang aware dan bikin mereka engga jauh-jauhan lagi..
    Duuuhhh fani gimana dong aku jadi suka sama pairing ini gara2 kamu bikin ff mereka bagus mulu

    Disukai oleh 1 orang

    1. Yang Yojeong berkata:

      Hm aku kurang ngejelasin kah di sini? Maksud aku dujun taunya uda lama, dari waktu ciuman itu dia tau cuma bingung harus gimana dianya(?)

      Suka

      1. febryza berkata:

        Ah iya ternyata setelah baca lagi aku baru nyadar fan hahahaha ga konek masa pas awal baca.
        Btw, sebelum baca ff kamu aku nonton weekly idol terus jadi ngakak sendiri ngebayangin kalo kencannya mereka doojoon joged2

        Suka

      2. Yang Yojeong berkata:

        Anjir ih malu-maluin :(((
        Liat aja teaser bist di vapp supaya jadi ganteng dan kalem dujunnya

        Suka

  3. KiHisa berkata:

    versi dua-duanya i like it so much!
    tapi yg versi preti lebih cenat-cenut (?) mungkin krn dari sudut pandang laki2nya ya, jd lebih aduhai (?)
    fix doojoon-sooyoung emang kamu masternya, paling jago lah ! (atau krn cuma kamu aja yg buat fan, hahaha..) (=,=)9
    we need ‘doo-young’ more and more pleaseuu
    nama shipper mrk apa nih? /ciaat
    love you fann

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Sedi ya cuma aku yang buat 😦 maafkeun dari dulu kurang suka pairing mainstream

      aku buat dj-sy supaya dj ga jadi perusak rumahtangga orang *ehem gikwang-gayoon* dan yup sudut pandang cowo memang lebi doki-doki ku akui 😳😳😳

      Nama shipper? Dooyoung bole lah asal jangan kurang o entar jadi member nct 😁😁😁

      Love u too

      Disukai oleh 1 orang

      1. KiHisa berkata:

        gpp kadang aku juga suka pairing anti mainstream, ya contohnya aku sama winwin gitu. *suara ombak*

        hahah..doyoung si makhluk sensi bin garing itu tiba2 di mensiong.. dia itu klo di ff bawaannya pengen aku jadiin temen deket sitokoh utama soalnya asik dibully haha

        gikwang gayoon? ga apalah gikwang pendek ini /okeganyambung/

        Suka

  4. yuki-chan berkata:

    Akhem. Greget. Nah kan jadi bingung komen apa. Udah baca telat pula. Bhaks. Nice ff. Keeo writing !!^^

    Suka

  5. one656kimhyunra berkata:

    o may got…
    itu td syoung lg maen tarik ulur.. hahaha

    cie cie
    jadian… jadian… jadian… 😀

    Suka

  6. Cicamica berkata:

    Ih kok berasa aku yang melting siiih og my god. Keren bikin melting banget sumpah udah lama ga baca ff, sekalinya baca bikin meleleh

    Suka

  7. AKHIRNYAA DUJUN PEKA YATUHAN. AKU YANG TERHARU :”) yha meskipun perlu ‘dilabrak’ dulu sama anggotanya sendiri:”)

    nb (lagi) : kak maafin ya komenku bakal pendek pendek bcoz aku sangat kepo akan kelanjutan ini semua:”)

    Suka

  8. nisa berkata:

    ihh si sooyoung nyalinya gede banget sih….. berani banget main cipok sama abang dujun(?) …. nahloh si dujunnya malah lempeng lempeng aja….. bikin geregetan ih.. wkwk akhirnya dibaca juga ff ini

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s