[FF] Yanggaeng dan Tamu Asing

[KAMU TIDAK AKAN MENEMUKAN FANFIKSI MANAPUN DENGAN TOKOH UTAMA INI KECUALI DI SINI]

Title: Yanggaeng dan Tamu Asing
Genre: Friendship (ummm, errr, euiyyy, …)
Length: Oneshot
Rating: G
Cast(s): Yanggaeng, Suri, and Yang Yoseob [BEAST].
Summary: Master Appa pulang malam, tapi setelah menunggu seharian yang aku dapat bukan pelukan selamat datang.
Warning: Silahkan kaget, asal jangan nyesel kalau udah baca.

yanggaeng-suri.jpg

***

“Yanggaeng-ah!” suara Master Appa terdengar dari atas—benda hitam bulat yang menempel di lemari (apa ya disebutnya … aku lupa). Biasanya, panggilan itu pertanda kalau Appa sebentar lagi pulang. Yeay! Sudah lama aku menunggu. Tayangan TV dan mainan mahal juga sudah mulai membosankan (Appa bilang boneka dinosaurus mini warna hijau itu mainan mahal).

Terlampau semangat aku mengibas-ngibas ekor dan melompat, berguling-guling—ehhh hampir saja kena pup! Hehehe, kamarku ‘kan merangkap kamar mandi, jangan jijik ya soalnya aku cuma anjing!

Klik!

Appa! Appa pulang! “Guk, guk!” ekor sudah berkibas-kibas, telinga berdiri, aku menatap senang dari balik pintu berpagar—pokoknya kiyomi-super-attack yang selalu bikin Appa meleleh. Tapi … hul—Appa sengaja tidak melirik padaku! Aku tahu ‘kok, itu taktiknya supaya aku tambah kangen. Appa biasa mandi dulu sebelum memelukku, aku tahu, hm!

“Ah, aku rasa kita harus mandi bareng,” ma-mandi bareng? Bukan mengajakku, tapi makhluk yang ada di pelukannya! Appa tidak pulang sendiri hari itu, tapi sama siapa? Dia berbulu putih lebat seperti alas tidur, lebih besar dariku sepertinya, tapi masih kelihatan mungil di antara lengan Appa. Hei, makhluk itu … berekor? Matanya hitam bulat seperti kelereng mainanku dulu (uh jadi ingat kelereng itu dibuang Appa gara-gara hampir kutelan).

Itu—apa ya? Makhluk apa?

Aku duduk, menunggu suara shower berhenti, air yang mengucur di kamar mandi. Begitu mendengar pertamakali gonggongan makhluk itu, aku baru tahu ternyata dia anjing juga sama sepertiku. Appa sepertinya punya waktu yang menyenangkan memandikan dia, soalnya celotehannya terdengar bahagia. Aku penasaran … kenapa ya Appa bawa pulang anjing itu?

Aigu, rambutmu sangat lebat.” Bersama anjing itu Appa ke ruang TV, pengering udara di tangannya—itu loh, benda yang mengeluarkan angin panas dari lubangnya! Sehabis mandi aku juga suka dipakaikan itu.

“Guk, guk!” aku memelas. Aku juga ingin dipeluk!

“Nanti ya, Yanggaeng-ah, aku kenalkan kamu pada teman baru.” Teman baru? Anjing bulu lebat itu menoleh padaku, matanya betul-betul mirip kelereng, ingin kugigit.

***

Jadi anjing ini akhirnya numpang di kamarku. Kami bersebelahan tapi aku tidak ada niat ingin mengajaknya main. Aku lagi nggak ingin main, seharian tadi aku sudah main. Di kalungnya ada nama Suri dan Appa memanggilnya begitu juga. Kenapa aku tahu? Sebab aku memerhatikan Appa tengah bertelepon dengan teman-temannya membicarakan anjing bernama Suri ini.

“Aku nggak tega, selarut ini tapi dia sendirian di tepi jalan. Itulah kenapa aku menepikan mobil untuk mengambilnya dan membawanya pulang—ahhh, bukan-bukan. Bukan chicken, aku bicara soal anjing! Daging anjing? Apa? Delivery ke rumahmu? Disemur? Yah Yoon Doojoon!” uh … terdengar seperti teman Appa yang bar-bar, mukanya seram, senyumnya creepy, dan suka sembarangan pukul dan peluk orang—Yoon Doodle.

“Rumahmu ‘kan besar … kau bisa dapatkan teman untuk Hyungnim juga, apa salahnya? Huh, kalau aku … errr—rumahku kecil dan kau tahu ‘kan masalah Tokki waktu itu. Tokki—Tokki, ituloh anjingnya Jina-nuna! Bukan kelinci! Aish!” itu pasti appanya Hyungnim (seekor Buldog asal Amerika, temanku). Aku sebetulnya sedikit takut sama Hyungnim, dia badannya gendut dan mukanya seram (meski lebih seram Yoon Doodle).

“Gikwang-ah … tertarik untuk memelihara anjing? Ah—enggak, bukan sekarang. Aku cuma tanya barangkali, siapa tahu kau mau menampung dia untuk beberapa hari. Eh? Garam? Anjing nggak makan garam! Kenapa dia harus makan garam? Kau mau bikin dia kena stroke?!” itu Gikwangie! Matanya seperti kucing, aku benci kucing! Tapi aku nggak benci Gikwangie soalnya dia kucing baik dan mudah dibodohi.

“Dongwoon-ah! Kau tahu apa saudara jauhnya Tony Tony Chopper? Anjing! Hei—jadi gini, aku mau minta tolong, hanya untuk beberapa hari aku titip seekor anjing tinggal di tempatmu. Ya? Ya? Ya? Kau ‘kan baiiik—HAH? Lagi kencan? Siapa juga teman kencanmu Son Dongwoon jangan bohong!” kalau itu Dongni Pongni, namanya imut tapi orangnya enggak. Suka numpang makan di rumah Appa.

“Arh, apa nggak ada lagi yang bisa kumintai tolong?” ung—kasihan Appa terlihat kebingungan gara-gara Suri. “Hyunseungie? Ah—nggak mungkin, yang ada Suri mati kelaparan karena dia sendiri sibuk makan dan ngebo.”

Appa kemudian menatapku. “Ah … Yanggaeng-ah, aku sampai lupa padamu.” Dia melangkahkan kakinya untuk masuk dan duduk di kamarku. Dua tangannya menggendongku lalu … cup! Ciuman selamat datang. “Kalau Suri tinggal beberapa hari dengan kita, kamu nggak keberatan ‘kan? Hanya sampai aku menemukan pemiliknya, ne?”

yang-yo-seob1.jpg

“Ung—” aku melenguh, tidak mau, aku takut Suri jadi pengganggu nantinya. Waktu privasiku dengan Appa tidak boleh dirusak siapapun.

“Ayolah … aku janji Suri tidak akan tinggal lama-lama. Aku juga janji tidak akan melupakanmu hanya karena ada anjing yang lebih manis di rumah ini.”

Akhirnya aku mengangguk.

***

Appa duduk di ruang TV, laptop di depannya beralaskan meja. Kalau tidak dibarengi latihan fisik—push up tengah malam, Appa akan melatih suara sambil bekerja di depan laptop—namanya … ung, monitoring, ya, memonitoring penampilannya. Aku selalu mendengarkannya latihan bernyanyi sampai terkantuk-kantuk, hoammm. Suara Appa memang merdu. Aku hampir saja memejamkan mata.

“Kamu nggak bisa geser? Di sebelah sini sempit.” Dan ini Suri, setelah kenal beberapa jam lalu dia jadi mengoceh terus dan mengeluhkan banyak hal (dia juga mengeluh soal bau pupku, menyebalkan).

“Nggak bisa kasurku memang segini, kamu tidur aja di sebelah sana.” Aku bilang.

“Di rumahku bahkan kamar ini cuma setengah dari kamarku!” tuh ‘kan dia mulai ribut lagi, dan daritadi yang dibahas hanya seputar itu. Rumahnya besar lah, kamarnya besar lah, kamar mandinya luas dan lantainya dari keramik (memang apa itu keramik?).

Appa bilang kamu akan segera ke luar kok. Jadi tahan saja di kamar ini untuk beberapa hari.”

“Aku ingin pulang,” Suri bergeser padaku, kepala dan telinganya melemas ke bawah. Sepertinya dia benar-benar rindu rumahnya. Mungkin celotehan kesalnya adalah pelampiasan rasa rindunya.

“Memang Appamu siapa?”

“Aku nggak punya Appa.”

“Tapi di lehermu ada kalung kepemilikan?”

“Aku panggil dia Sooyoungie, Master-nim aku. Aku kangen Sooyoungie.” Suara Suri meraung sengau. “Harusnya tadi aku nggak main ke luar jauh-jauh. Aku lupa jalan pulang dan tersesat. Banyak anjing besar dan jahat di luar aku takut.”

“Sooyoungie orangnya seperti apa?”

“Baik. Suka memeluk dan mencium. Pipinya empuk seperti tahu dan matanya mirip dengan mataku. Sooyoungie cantik dan suka muncul di TV.”

“Hei … Appaku juga suka memeluk dan mencium! Juga muncul di TV, tapi bukan karena cantik, karena suara Appa bagus! Apa Sooyoungie ada di majalah juga seperti Appa?”

“Apa majalah itu gambar-gambar berisi wajah Sooyoungie? Iya, banyak yang seperti itu di rumah. Banyak sekali.”

“Berarti Sooyoungie sama seperti Appa, bekerja di TV dan majalah. Kita harus memberitahu Appa soal ini, barangkali dia kenal Sooyoungie.”

“Aku harap begitu.” Suri menunduk lemah, aku ikut senang Suri sudah tidak sebawel sebelumnya setelah dia cerita soal Sooyoungie. Lebih baik sekarang tidur saja, besok baru aku beritahu Appa.

***

Ketika pagi menjelang, aku terbangun sudah tanpa keberadaan Appa. Artinya Appa berangkat kerja pagi sekali. Haduh, apa dia cukup tidur? Bagaimana kalau jatuh sakit karena tidurnya sebentar? Appa ….

Pintu kamar tidak dikunci, aku melompat ke luar dan melihat tempat makan dan minumku sudah terisi penuh. Aku harus membangunkan Suri, dia pasti lapar. Kami menghabiskan sepiring penuh itu berdua. Semalam aku memikirkan cara bagaimana memberitahu Appa mengenai Sooyoungie, akhirnya aku dapat ide.

“Apa idenya?” aku bilang pada Suri kalau kita harus membongkar penyimpanan majalah Appa di laci dan lemari. Siapa tahu kita menemukan salah satu gambar Sooyoungie, supaya ditunjukkan pada Appa. “Kalau Appamu marah gimana?”

“Kita harus membereskan semuanya sebelum Appa pulang!”

Kami mulai bergerak. Membongkar sana-sini dan mendapatkan setumpuk kertas-kertas bergambar. Perlembar kami periksa. Aku yang membuka lembarannya dan Suri akan bilang iya kalau melihat gambar Sooyoungie. Huh … ini sudah majalah ketiga tapi Suri belum bilang iya! Aku capek menggerakkan kaki! Padahal aku sering ikut Appa latihan boxing, kok begini hasilnya ya?

“Sooyoungie itu perempuan, mungkin Appamu punya majalah bergambar perempuan?”

“Majalah dewasa?”

“Bukan! Sooyoungie tampil di majalah fashion!”

“Em, coba kamu yang periksa.” Kami menggigit majalah-majalah itu agar menyebar ke tiap bagian ruangan, kemudian Suri berjalan melihat satu-satu gambar depannya, aku mengekori di belakang. Lalu berhenti! Ya! Gambar perempuan! Suri memandangi gambar itu dengan bahagia. Akhirnya kami menemukan Sooyoungie!

***

YAH! MWOYA IGE!” kami lupa membereskan majalahnya karena terlalu senang, kami sedang main bola di sofa dengan Wilson dan lupa akan itu (Wilson adalah boneka beruang raksasa, warna bulunya seperti Suri). Tak kusangka Appa pulang lebih cepat. Aduh, bagaimana ini? Appa marah! “AISH … JEONGMALSESANGHAE …!” suara Appa meringis seolah nyaris menangis karena rumah berantakan sekali.

“Ung,” aku meringkuk bersebelahan dengan Suri. Berhenti memainkan bola dan mematung di pojokan memerhatikan kemarahan Appa.

Aniya! Jangan bertingkah seolah kalian berdua menyesal, hah, neo jigeum … aigh, jinjja …, huaaa! Ige ottokhae? Ottokhaji? Ugh.” Appa seram tapi imut kalau marah. dia menggigiti bibirnya dan menggaruk-garuk rambutnya. Dia tetap ngambek sembari membereskan kekacauan yang kami perbuat tadi.

AH—tapi itu! Majalah bergambar Sooyoungie! Aku lihat Suri melompat ketika Appa menyentuh majalah itu. Lalu menggigit kertasnya. Oh tidak sepertinya Appa salah paham dan mengira Suri memberontak! “Lepaskan Suri, aku harus membereskannya.”

Appa! Itu adalah Master-nim Suri, Sooyoungie!” aku ikut melompat dari atas sofa dan membantu Suri menjelaskan pada Appa. Kami menggonggong sebisanya.

Lama-kelamaan Appa diam, aku berharap dia mulai paham. “Tunggu, apa kalian mengacak majalah untuk mencari ini?” dia angkat dan perhatikan gambar depan majalah itu. Betul, Appa!

“Eiy, jangan bilang—” Appa menggelengkan kepala. Loh kenapa begitu?

“Guk! Guk!”

“Guk! Guk! Guk!”

“Hah? Se-serius?”

“GUK!”

“Suri, dia adalah majikanmu?” Appa menunjuk gambar perempuan cantik berambut cokelat panjang, wajahnya terlihat tak percaya. Suri mengiyakan keras sekali lalu Appa syok.

***

“Jadi aku memungut anjingnya SNSD Sooyoung,” sepanjang perjalanan Appa bercerita pada Dongni Pongni lewat telepon genggam. Kami berjalan di bawahnya disambung seikat tali ke pergelangan tangan Appa.

“Wow! Berikan padaku, Hyung! Biar aku yang antarkan ke rumahnya!”

“Giliran tahu pemiliknya siapa kau semangat ya! Dasar sial! Lagipula sudah terlambat, aku sekarang dalam perjalanan ke taman untuk bertemu dengan manajernya.”

“Kau tanggap sekali, Hyung.”

“Aku dapat nomor manajernya dari Manajer kita. Awalnya dia yang mau mengembalikan Suri pada pemiliknya tapi kupikir—ah, itu tidak sopan. Karena aku yang telah memungut jadi aku yang akan pulangkan Suri langsung.”

“Ya sudah kalau itu maumu, good luck, Hyung. Oh cham, kau ‘kan tidak pernah pakai insol ya?”

“Apa hubungannya semua ini dengan insol?”

Anieyo, Hyung. Kututup ya, bye!”

“Oh,” Appa memasukkan kembali benda persegi itu ke dalam saku. Aku dan Suri melangkah riang menyusuri trotoar, tidak sabar bertemu dengan Master-nim Suri. “aneh-aneh saja, tiba-tiba bahas insol.”

“Pokoknya Sooyoungie sangat cantik! Seperti malaikat!” Suri sangat bersemangat hingga kami bertiga tiba di taman. Seseorang menunggu di sana tetapi yang membuat Suri sangat kecewa adalah … dia bilang itu bukan Sooyoungie, tapi manajer-oppanya Sooyoungie. Ya ampun, aku tak tahu harus bilang apa untuk menghibur Suri!

Appa dan manajer itu berbincang sebentar. Manajer itu memberi Appa sekantung berisi sesuatu tapi senyum Appa menolaknya. Lalu Suri digendong oleh orang itu, laki-laki yang lebih tinggi dari Appa. Aku menatap Suri prihatin. Padahal Suri sangat rindu pada Sooyoungie tapi … ah, pekerjaan serupa Appa memang menyibukkan, aku paham kok. Dadah Suri, bisikku.

“Aish anak itu, dia bahkan tidak terlihat bahagia akan pulang ke rumahnya. Padahal kemarin malam berkoar-koar tanpa henti.” Appa pun menyadari ekspresi murung Suri ternyata. Suri … jangan sedih!

Terhitung Suri adalah teman keduaku setelah Hyungnim. Lain kali kami harus main lagi! Kapan Appa bisa membawaku ke rumah Suri, ya?

“Ayo Yanggaeng-ah, kita pulang juga.”

***

.

.

.

((yanggaengie makin hari makin imut, gatahan, dia bias wrecker aku))

.

.

.

***
Omake

Sooyoung langsung memeluk erat Suri dan menciuminya begitu Manajer-oppa mengantarnya masuk ke mobil. Bukannya sibuk, Sooyoung hanya enggan ke luar sebab ia adalah Idol, yang bukan main mudah dikenal semua orang. Kalau bertemu orang asing di sebuah taman itu akan mencurigakan!

Berhenti menciumi Suri, Sooyoung beralih melihat Manajernya yang telah bersiap di kursi kemudi. Dari belakang Sooyoung bertanya, “Kenapa orang itu bisa tahu nomor telepon Oppa?”

“Dia dapat nomorku dari manajernya, kau tahu BEAST ‘kan?”

“BEAST? Manajer BEAST maksud Oppa? Eh, orang ini … ada hubungan apa dengan manajer idolgrup memangnya?”

“Justru itu. Dia BEAST Yoseob, Yang Yoseob, orang ini yang menemukan Suri.”

“Huh? Eiyyy!”

“Aku mana pernah bohong padamu, untuk apa juga.”

“Aish, Oppa.”

“Serius! Yoseob-ssi sendiri mengaku bahwa dia menampung Suri di rumahnya kemarin, dan dia malah meminta maaf karena telah membuat khawatir. Aku memberinya bingkisan yang kau suruh tapi dia menolaknya baik-baik.”

God …, haha, beneran?” Sooyoung melongo tak mampu berkata-kata. “… dan dia ke luar rumah tanpa masker atau penyamaran apapun? Sementara aku? Ambil koran pun harus pakai tompel! Heol! Dunia macam apa ini! Kekejaman tanpa keadilan!”

Manajer manatap ngilu, menggeleng-geleng kepalanya bermimik ironi. “Itu, yang kau pikirkan?”

***

yanggaeng-suri2.jpg

Iklan

12 Comments Add yours

  1. KiHisa berkata:

    suka deh pemeran utamanya imut-imut!
    ini mengingatkanku sama ceritanya Dee, yg tokoh utamanya juga hewan!
    tapi klo yg punya Dee itu tokohnya kecoa! tapi keren juga ceritanya, coba baca deh fan itu keren bgt ceritanya 😀
    judulnya Ricco De Coro

    Terus berkarya fan ! love youu

    Suka

    1. KiHisa berkata:

      DEE : Dewi lestari maksudnya

      Suka

      1. Yang Yojeong berkata:

        Iya tau kak 😅
        Tak kukira ada yang tertarik baca fiksi gaje begindang 😅😅😅

        Disukai oleh 1 orang

      2. KiHisa berkata:

        Aku tak menganggap ini sbg sesuatu yg gaje =,=^

        Suka

  2. snowyautumn berkata:

    “Tapi aku nggak benci Gikwangie soalnya dia kucing baik dan mudah dibodohi.”
    Yanggaeng imut tapi rada pedes ya perkataannya (?)

    Semora suri yanggaeng dipertemukan lagi dan bisa jadi sahabat oqe 😌😌

    Suka deeeh. Baca ff ini berasa aku yang imut (?) 😌

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Rencananya aku mau buat fiksi “Cerita Tentang Ayah Bunda” pemerannya binatang peliharaan para seleb 😗😗😗

      Lmao, pikiranku sedang liar. Abaikan.

      Suka

      1. snowyautumn berkata:

        Ih gakpapa kaaaaak. Bikin doooong. Tapi anjing sooyoungnya masukin semua dong (?) Suri mori cherry 😌😌😌😌
        Anjingnya sehun, vivi, kan mirip sama suri tuh udah gitu sama sama cewek(?) Kayanya bagus tuh kak dijadiin fanfict ceritanya anjing mereka ketuker (?)
        😂😂😂😂

        Suka

  3. febryza berkata:

    Lucuuu.. yanggaeng sama suri kalo ketemu lagi gimana ya pasti tambah kompak deh mereka. Btw, itu yoseob kecewa soalnya yg ketemu sama dia manajernya ya bukan sooyoung hahaha dan apa itu maksud dongwoon, nyuruh yoseob pake insoles gitu biar ga malu2-in kalo sampingan sama sooyoung? Hahahaha

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Enggak tuh, yys nggak kecewa entah ya ku tak menjabarkan feel dia di sini secara detail wkwqwq 😂😄😄

      Suka

  4. azalea berkata:

    lucu..
    yanggaeng awalnya kya ngga mau nrima suri tapi akhirnya mereka malah deket..
    hhehe..
    pantesan disuruh pake insole biar kalo ketemu yoseob ngga minder sama tingginya soo..
    hhaha
    suka ff nya..

    Suka

  5. Chansoo berkata:

    Gemessssssh
    ini pertama kalinya baca ff yg main cast nya pets dan langsung suka 💘
    Itu yanggaeng sama suri ucul bgt sih. Aku yg baca sampe senyum2 game. Kelewat menghayati sampe berasa jadi pets juga 😂

    Next dong next
    Semangat fanny 💪😘

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Ini cassa nextnya hehe udah tamat tapi makasih banget udah baca dan suka :*

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s