[FF] 이야기

Title: 이야기
Genre: Drama
Rating: PG
Length: Novella
Pairing: Doojoon/Sooyoung
Cast(s): Choi Sooyoung [SNSD], Yoon Doojoon [BEAST], Lee Joon, Kwon Yuri [SNSD], Lee Gikwang [BEAST], Seo In Guk, Park Hae Jin.
Warning: Alot, abal, alay, panjang, melow, fake, siapkan tisu dan kantung muntah.
Note: polisi!doojoon, joon, yuri, gikwang, inguk, florist!sooyoung, pelukis!haejin, di sini sooyoung ceritanya buta dan warna matanya adalah kuning terang kayak orang barat, ga singkron sih sama foto tapi ya anggap aja warna matanya begitu (soalnya malas saya edit satu-satu fotonya, maaf ya).

00-Cover-1

 

***

BEGIN OF STORY(이야기)

SEMUA dimulai dari sepucuk surat yang muncul di mejanya pada hari Senin, udara masih dingin, dan gorden jendela berkibar karena angin, baru saja Pak Pos mengantarkan sebuah surat dan ia menerimanya dengan bertanya-tanya. Tak ada nama pengirim di amplopnya, kata sang petugas pengantar.

01

Kemudian ia duduk di sofa ruang tamu dan mulai merobek sisi kanan amplop dengan hati-hati, mengeluarkan selembar kertas yang terlipat untuk dibukanya. Ia meraba. Braille.

Florist Choi, bisakah Anda mengantarkan beberapa tangkai bunga ke tempat kerja saya? Meja saya bau apek, beberapa batang lily mungkin akan membuatnya lebih baik.

 

Lee Joon

 

(PS. Sepertinya hal ini merupakan hukuman karena aku terlalu tekun bekerja hingga akhir-akhir ini jarang mengunjungimu. Maafkan aku.)

Ada senyum di wajah Choi Sooyoung selepas membaca itu.

***

“Hari ini kau datang lagi, Sooyoung-ah,”

Tiga hari. Tiga hari tepat ketika Yoon Doojoon mulai menghitung frekuensi kunjungan gadis Sooyoung itu ke kantor kepolisian Seoul. Bila ia teliti—dan sebetulnya, akibat dari habit dan juga pekerjaannya, ia memang selalu teliti—gadis itu akan datang setiap jam delapan pagi, bersamaan dengan segelas kopi tanpa gula yang diantar office boy ke mejanya, jarum panjang menunjuk angka dua belas dan jarum pendek menunjuk angka delapan pada jam tangan Doojoon. Pas.

“Taruh saja bunganya di situ, di bawah kakimu, Sooyoung-ah, nanti Ketua Lee sendiri yang akan mengambilnya,” yang Doojoon tahu—dari hasil memantau, Inspektur Kwon Yuri tidak biasanya ramah pada seseorang tetapi ketentuan itu tampak tak berlaku bagi gadis ini.

Namanya Sooyoung, marga Choi. Sudah tiga hari berturut-turut selalu mengantarkan buket bunga ke kantor polisi cabang tempat Doojoon bekerja. Berdasarkan hasil pengamatan Doojoon (lagi), Sooyoung selalu datang bersama seekor anjing kecil berambut sewarna susu—lebat dan agak gembul, ia mengenakan mantel berwarna yang berbeda tiap harinya, namun selalu dengan scarf merah yang terlihat usang kadang-kadang tidak cocok sama sekali dengan mantel atau bootnya. Brunette gadis itu terkucir satu—sedikit ikal, manik honeydew dan belo, pipi bulat dan penuh, bibir tipis non-lipgloss—singkat kata—

“Sooyoung-ssi selalu terlihat cantik tanpa make up sekalipun, iya ‘kan?” Lee Gikwang menekan pipinya dengan jari telunjuk dari samping. Doojoon menoleh. “Woah … ternyata di muka bumi ini masih ada gadis yang cantiknya luar dalam, ck.”

“Apa?”

“Berhenti menatapnya begitu, lama-lama kau menjijikkan,” Gikwang bilang.

“Apa?”

“Sssh,”—Gikwang menggeleng-geleng takjub—“tapi memangnya kau tidak penasaran kenapa Ketua Lee memesan buket-buket bunga itu?” bisik Gikwang misterius. “Kalau aku sih penasaran tingkat tinggi sampai rela mencari tahu.”

“Apa?” kali ini Doojoon mempertanyakan dengan nada lebih serius, sembari ia kembali menyesap kopinya.

“Jangan ‘apa’ padaku lagi setelah ini!” Gikwang mendengus, lalu manyun, bibir tebalnya kian terlihat penuh. “Aku dengar ini dari Inspektur Kwon—tapi kau jangan bilang-bilang yang lain ya—bahwa Ketua Lee memesan bunga-bunga itu, karena dia terjangkit suatu sindrom ketergantungan terhadap aroma bunga. Makanya—”

“Uhuk!” Doojoon tiba-tiba tersedak, berakibat air berkafein di tengah kerongkongannya sedikit menyembur.

“Wa-wah! Kenapa kau jorok sekali, ish, hampir saja semburan kopinya kena kemejaku, baru nih!” Gikwang melangkah mundur demi mengamankan setelan kerjanya hari itu (kemeja dwimatra berbalut jaket kulit). Berada di samping Yoon Doojoon yang tengah minum kopi memang danger area. “Aish … dasar sial.”

“Maaf, apa?”

YAH!”

Doojoon memang dikenal ekspresif, dari mimik wajahnya Gikwang cukup tahu bahwa pria itu meminta maaf. Ia terbatuk lagi dan segera melap bibirnya dengan selembar tisu yang ada di meja.

“Ah, sudahlah, aku pergi dulu,” Gikwang merapikan jaketnya dan balas menatap Doojoon. “Ketahuilah, aku ini detektif yang jauh lebih sibuk darimu.” Gikwang menepuk bahu Doojoon pelan, na kkanda, itu gerakan bibirnya sebelum benar-benar tubuhnya berbalik.

Bola mata Doojoon mengekori langkah Gikwang hingga ke ujung pintu ke luar, hingga tanpa disengaja ia melihat Choi Sooyoung, yang ternyata masih berdiri di sana, setelah meletakkan sebuket bunga yang ia antar, kemudian menatapnya. Lama. Lurus.

Tidak.

Bukan menatapnya. Tapi—menatap ke arahnya.

Doojoon berdeham. Gadis itu menatap ke arahku? Ia mencari alibi untuk menoleh ke belakang mengecek barangkali orang lain berada di belakangnya namun … nihil. Gadis itu menatap ke arahku, sepasang honeydew itu! Tetapi kosong? Bukan tatapan menyelidik bak korban yang merasa dibuntuti selama tiga hari, melainkan tatapan kosong—seperti tidak menatap apa-apa. Jangan-jangan melamun?

Isi gelas kopinya sudah tandas ke perut, lagipula, tidak ada salahnya menyapa gadis itu sesekali—oke, memang belum pernah sama sekali, berarti sapaan ini adalah yang pertama kali. Tegap, ia melangkah menghampiri gadis itu.

Belum selesai sapaannya terlontar, tinggal satu langkah lagi ke dekat si gadis. Namun gadis yang ia kira menunggu untuk dihampiri itu malah, tak disangka berbalik badan mengikuti jejak-jejak kecil anjingnya menuju pintu ke luar. Doojoon mengangkat alis kirinya, sedikit tersinggung.

“Hei, Nona,” seru Doojoon.

Gadis itu berhenti melangkah. “Suri-yah, cheonchori.” Ia diam sampai Doojoon ke hadapannya. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

“Saya rasa Anda paham mengapa saya menyapa Anda,”

“Maaf?”

Astaga.

Ini cuma salah paham. Ketika telah ada di hadapannya, mata gadis itu justru tidak tertuju kepada Doojoon. Potongan puzzle terangkai dalam kepalanya. Alasan dibalik pakaian gadis itu yang tidak pernah sewarna, anjing yang menuntun langkahnya, dan tatapan kosongnya. Mengapa ia baru menyadari itu semua? Bahwa selama ini … selama ini … tentu saja gadis itu tidak merasa dirinya diamati, sementara dirinya sendiri tidak bisa mengamati! Mendadak Doojoon merasa berdosa. Gadis ini buta.

“Yoon Doojoon,” tawar Doojoon sebagai konfesi maaf. Tentu tidak akan secara langsung ia utarakan permintaan maafnya atas sikap marah kekanakan yang barusan, karena merasa diabaikan.

02

“Ya? Oh—saya Choi Sooyoung.”  Lentur di tangannya ketika terulur, kurus dan rentan—layaknya gelas kaca, bersambut tangan Doojoon yang kasar dan berbuku, kapalan di sana-sini akibat terlalu sering bergesekan dengan senjata api.

Mungkin dari sinilah …

“Tanganmu …,” ujar Choi Sooyoung. Doojoon dengan cepat menampar tangannya kembali ke sisi tubuhnya sementara Sooyoung tersenyum samar sekali—memaklumi.

“Maaf,” balasnya.

“Mengapa Anda meminta maaf?”

“Ah, bukan mengenai hal ini, tapi yang tadi, dan yang sebelum-sebelumnya …,”

 

Sial, kenapa aku malah bilang? Di lain waktu mungkin Doojoon akan menyempatkan diri untuk menghukum mulutnya sendiri karena selalu jujur tanpa henti seperti kereta listrik. Habit yang satu ini juga, berkat keprofesiannya.

Oh! Terimakasih, sekarang Choi Sooyoung bermimik curiga.

“Mengenai apa?” sepertinya gadis itu mulai self-consious akan sesuatu yang Doojoon akan katakan setelah ini.

“Sudah tiga hari berturut-turut Anda mengantarkan buket bunga ke kantor ini, selama tiga hari itu saya selalu memperhatikan tetapi Anda tidak pernah sadar. Makanya saya agak curiga ketika Anda menatap ke arah saya untuk pertamakalinya tadi, saya kira Anda marah dan meminta saya untuk menghampiri—”

“Ah—itu—Doojoon-ssi pasti salah paham. Saya tidak bermaksud menatap ke arah Anda, bahkan saya tidak tahu dimana posisi Anda tadi, ahaha,” jelas itu bukan gurauan yang mudah diucapkan bagi seorang tunanetra—Yoon Doojoon bodoh.

Cheosonghamnida, Sooyoung-ssi.”

Terlebih dari semua itu. Yoon Doojoon biasa dengan kecaman atau gagap-gagap para pelaku kriminal. Berbeda dalam kasus ini, seharusnya ia meminta saran dari Lee Gikwang yang lebih akrab berurusan dengan makhluk berbangsa hawa. Maka ketika topik perbincangan mereka habis, Doojoon tidak kelimpungan menghadapi situasi.

Bagaimana seharusnya ia berbincang dengan seseorang yang bahkan tidak bisa melihat wajahnya?

***

Satu paket rangkaian bunga berbalut kertas dan plastik transparan mengantarkan Sooyoung kembali ke depan kantor itu. Setelah tiga hari kemarin, berarti ini yang keempat.

Sooyoung mengayunkan kaki sekali lagi. Pintu terbuka di hadapannya, seperti biasa, Suri ada bersamanya masuk ke dalam lebih dulu.

Hari ini pun tak luput dari perhatian Yoon Doojoon (entah atas pemikiran apa ia datang duapuluh menit lebih cepat dari delapan nol nol, bukan karena Choi Sooyoung, geutchi?).

“Sooyoung-ssi, biar saya saja yang bawakan, bunga ini untuk Ketua Lee, ‘kan?”

“Ah …,” kedua tangan kurus gadis itu menggapai-gapai udara kosong, sebab sebuket aneka flora itu telah diambil alih oleh seseorang tanpa ijin.

“Saya Yoon Doojoon. Errr—yang kemarin minta maaf tiba-tiba.”

“Doojoon-ssi,” Sooyoung menutup mulutnya dan Doojoon tahu gadis itu menahan tawa. Doojoon tidak sanggup menahan lekukan bibir ketika melihat wajah gadis itu—cerah, seperti matahari, seperti dua kelereng honeydewnya.

Singkat cerita, setelah momen canggung hari kemarin, Doojoon sendiri tidak menyangka ia masih punya muka untuk menyapa Sooyoung. Sengaja menyisihkan waktu tidurnya yang biasa lebih lama, datang ke kantor labih pagi, hanya demi ini.

“Sudah-sudah, saya bisa mengantarnya sendiri.”

“Kali ini saja, sebagai permintaan maaf.”

“Tapi saya tidak suka rasa prihatin, Doojoon-ssi. Jadi biarkan saya yang menyelesaikan. Ini tugas sekaligus pekerjaan saya.” Kalimat panjang pertama gadis itu melumpuhkan Doojoon, dikembalikannya lagi buket bunga itu pada Sooyoung. Membiarkan detik-detik berikutnya memisahkan mereka, menunggu Sooyoung menaruh buket itu pada tempatnya.

Doojoon mencerna pemahaman ini cermat-cermat. Benar, dirinyalah yang terlalu berlebihan. Seseorang yang kekurangan indra tidaklah mau dianggap remeh orang lain. Setidaknya, dalam hal ini, Choi Sooyoung. Tipikal gadis dalam balutan fashion sederhana dan tanpa pernah terpoles wajahnya, sosok yang luwes dalam kelumit masa hidupnya—mungkin saja, duga Doojoon.

Maka keputusan untuk mentraktirnya teh hangat di bangku taman tidak jauh dari kantor adalah tindakan yang lebih baik, ketimbang memerlakukannya seperti tadi—seperti gadis lemah, garis bawahi—biarkan Doojoon belajar sesuatu secara alami mengenai kaum hawa hari ini. Kursi itu bergetar ketika ia duduki, dua cup plastik di tangannya ia serahkan salah satu pada Choi Sooyoung.

Diterima gadis itu, sedetik ia menghirup aroma kamomil sebelum bibir non-lipgloss itu (anehnya tidak kering sama sekali, bagaimana gadis itu merawat bibirnya? Tetap pinkish dan ehem—) menyeruput pelan-pelan, dalam rasa tenang. “Terimakasih.” Tulusnya.

“Jadi,” Doojoon memulai daripada waktu terbunuh oleh hening berkepanjangan seperti kemarin—pelajaran atas topik membosankan kemarin, dan mana yang boleh dijadikan bahan pembicaraan terhadap gadis yang baru dikenal, ketahuilah, Doojoon berselancar semalaman untuk ini (silahkan tertawa, sebab honestly, ia adalah sosok yang awkward bila dihadapkan pada nona-nona, pria Yoon yang bervisual kasanova tanpa jiwa kasanova, panggil saja begitu), “tentang bunga-bunga itu … maksud saya, jadi pekerjaan Anda adalah?”

“Saya punya toko bunga,” Sooyoung bercerita, seolah memahami kekakuan Doojoon dari nada suaranya yang kelewat lembut—sekaligus menenangkan, “biasanya tidak ada pelanggan yang minta diantarkan pesanannya, ini pertamakali. Makanya saya sedikit gugup ketika mengantarnya di hari pertama.”

“Kalau boleh tahu …?”

Sooyoung menciptakan jeda sejenak. “Anda tahu orangnya. Ketua Tim Lee Joon.”

Jari Doojoon bergerak menekan ujung-ujung gelas plastik yang dipegangnya, tersisa setengah. “Errr—ya, saya tahu, hanya ingin memastikan saja. Sebetulnya saya berada di dalam tim yang dikomandoi Beliau.”

“Begitukah? Wah …,”

“Ya. Kalau Anda ingin tahu tentangnya, Beliau itu Leader yang hebat, tanggap dalam menyelesaikan kasus, tetapi tetap bekerja dengan metode superteam, diam-diam saya merasa iri.”

“Hmmm. Saya pun sering mendengar warga distrik membicarakan Beliau setiap kali berkunjung ke toko.” Sepasang manik itu menjelajah ke memori yang tak bisa Doojoon terka.

Memiliki suatu hubungankah … Choi Sooyoung dan Ketua Timnya? Ia memang berkawan baik dengan praduga dan hipotesa, namun entah, kali ini ia berharap praduganya melenceng.

“Ketua Lee sering berkunjung?”

“Begitulah.”

“Hubungan kalian sepertinya dekat?”

“Begitulah.” Sejurus berikutnya, Sooyoung membeku, tersadar akan sekata yang ia ucapkan sebab terbawa suasana.

Oh tidak. Yoon Doojoon kau melompat terlalu jauh.

“A-ah, ya ampun, lagi-lagi saya mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasia …,” Sooyoung menutup mulutnya tidak percaya, terlihat bingung meski sebetulnya gadis itu tidak terlalu ekspresif. “tapi Doojoon-ssi terlanjur mendengarnya … bagaimana ini?”

“Cerita saja. Tidak akan saya sebarkan, kok.”

“Begini … sebetulnya Beliau adalah seorang Kakak bagi saya.”

“Ketua Lee, kakak Anda?”

Sooyoung mengibaskan tangannya di depan wajah, kepalanya menggeleng kecil. “Bukan kakak kandung, tetapi sosok yang saya anggap kakak karena telah bersama-sama sedari kecil.”

“Ah,” mengangguk kepala Doojoon, “tapi kenapa hal itu harus dirahasiakan?” Yoon Doojoon! Gadis ini bukan pelaku kriminal yang patut kau interogasi! Demi Tuhan, kau dan kebiasaan penyidikmu itu! Ups. Doojoon mencatat momen ini guna menampar mulutnya kelak.

Bersyukurlah, Sooyoung tidak keberatan dengan sikapnya yang bar-bar untuk ukuran polisi yang seharusnya tenang dan berwibawa, pekerja masyarakat—sebagaimana ditafsir Inspektur Kwon Yuri.

03

“Mengenai itu … Beliau hanya terlalu khawatir, kalau Anda berpikir akan pekerjaannya. Betul, Beliau khawatir saya ikut terbawa masalah kalau terlalu berdekatan dengannya, Anda yang jelas lebih tahu, pekerjaan seperti itu berurusan dengan apa. Beliau hanya terlalu memikirkan apa yang tidak dan apa yang seharusnya bagi saya. Itu saja.”

Tercengang Doojoon mendengarnya. Sebab faktanya, bahwa selama lebih kurang dua bulan Lee Joon diangkat sebagai Ketua Tim yang beranggotakan dirinya, Lee Gikwang, Kwon Yuri, dan Seo Inguk, baru sekarang ia mengetahui Lee Joon punya seorang gadis yang ia jaga baik-baik dalam hidupnya.

Aigeu, Hyung satu itu, seharusnya dia kenalkan Choi Sooyoung padaku sejak lama …,” dalam candanya, Doojoon berdecak. Seketika tawa kecil Sooyoung tumpah, menggelitik pendengarannya.

***

Sepulang dari kunjungannya yang keempat, sebelum hari terlalu senja, Lee Joon menoleh padanya sementara ia yang tengah membuat teh mashmallow di dapur sebagai kata sambut atas kunjungan Joon hari ini (ditelaah dari kekosongan berhari-hari ke belakang, Sooyoung sebernarnya agak merindukan situasi ini), mendengar pria itu berkomentar, “Moodmu terlihat baik, Sooyoung-ah. Apa ada hal menarik terjadi?” tanpa ragu mengkonklusikan, bertanya.

04

“Aku hanya senang Oppa ada di sini,” jawab Sooyoung. Suri di kakinya menuntun langkah, menuju sofa dimana Joon duduk dan memperhatikan gerik gadis itu.

Sementara Sooyoung menaruh nampan hati-hati, dengan sedikit meraba-raba pinggiran gelas, ia melewatkan bagaimana bibir Joon melengkung asimetris dalam senyum yang tak dapat Sooyoung lihat, dan membiarkan gadis itu sedikit berbohong. “Aku mau kau mengantarkan bunga besok juga, dan mungkin besoknya lagi.”

“Tapi kau tidak pernah ada di sana ketika aku tiba,” keluh Sooyoung.

“Tapi tidakkah kau bertemu seseorang yang menarik?”

“Hm? Seperti Nona Kwon Yuri?”

“Ah, belumkah?”

“Siapa, Oppa?”

“… Kau akan tahu seiring dengan waktu.”

 “Jinjjayo, aku tidak begitu paham denganmu, berlandaskan apa kau menginginkan bunga-bunga itu? Kau bisa kemari jika hanya ingin menghirup aromanya.”

“Untuk ungkapan yang pertama, maafkan aku.” Joon membunuh jarak untuk dapat meraih pundak Sooyoung dan menenggelamkan wajahnya di sana. “Untuk yang kedua, aku bukannya menginginkan bunga-bunga itu ada di sana, aku menginginkan kau yang ke sana.”

“Ada apa dengan Oppa—”

“Juga—meski aku tidak ada di sana, di sampingmu, bukan berarti aku tidak tahu apa-apa. Jangan lupakan itu ya, Sooyoung-ah?”

Ah, lagi-lagi soal itu. “Aku … tidak lupa.”

***

“Hari ini lebih banyak mawar,”

“Ah—kkamchakiya,” runtuk Sooyoung, setelah hembus napas Doojoon berbisik di samping telinganya. Pria itu bertubuh lebih tinggi, setidaknya beberapa sentimeter di atas kepala Sooyoung—begitu siluet yang ia gambar dalam benaknya.

Terhitung dengan hari ini, berarti sudah lima hari Sooyoung mengantarkan bunga ke kantor tempat sang pemesan bekerja—yang kali ini Yoon Doojoon telah ketahui, mengenai kakak laki-laki berharganya, Lee Joon. Setelah dua hari lalu berbincang dengan gadis ini, setiap pagi sebelum Sooyoung kembali ke tokonya dan sebelum Doojoon berkutik dengan panggilan kasus, mereka telah banyak bertukar fakta dan persepsi.

Ia bercerita mengenai Lee Joon-oppanya. Bagaimana hubungan mereka dan sejak kapan hubungan itu dimulai—berkali ia tekankan mereka bukan sepasang kekasih (karena pria Yoon itu tak lelah menggodainya)—Doojoon bilang ceri merah bersarang di pipinya tiap kali nama Lee Joon disebut. Ia tidak menyangka sosok asli dari Doojoon yang kaku dan gagap ketika pertamakali bertemu adalah Doojoon yang jahil dan usil.

Sebaliknya, pria itu juga bercerita mengenai kehidupannya. Usianya setahun di atas Sooyoung (karena alasan tahun lahir inilah Doojoon menyarankan agar mereka berbicara banmal saja). Bahwa mengabdi pada masyarakat—seorang polisi salah satunya—bukanlah cita-cita Doojoon yang utama. Pria itu menyukai olahraga, sepak bola, ia memimpikan bermain di lapangan hijau atas nama Tim Nasional Korea namun keinginan Ayahnya bertentangan dengan hal itu. Berazaskan cerita lama tersebutlah, Sooyoung menangkap bakti seorang anak yang menghormati pilihan orangtuanya dalam diri Doojoon.

“Lebih banyak mawar … dan lebih banyak buket.” Sooyoung tidak tahu jelasnya, kecuali fakta bahwa aroma tubuh Doojoon lebih kuat menyergap penciumannya, mungkin tubuh lelaki itu tengah condong ke padanya—atau pada buket-buket bunga yang dibawanya.

“Itu—kau tahu,” mulai Sooyoung, sedikit melangkah mundur, meminimalisir aroma maskulin yang terlalu kuat itu. Suri menggonggong kecil, seolah mengerti majikannya meminta jarak.

“Anjingmu sepertinya tidak suka padaku.” Setelah sedikit lama dan dengan normal aroma itu tak sekuat tadi, Doojoon sepertinya salah pengertian menanggapi Suri.

“Namanya Suri,” ralat Sooyoung, Suri sudah berhenti menggonggong, “dia tidak terlalu suka seorang pria berdekatan denganku—terlalu dekat seperti itu.”

“Ahhh maafkan aku, aku bukannya—maksudku, tadi aku mengamati bunga-bunga itu, hanya heran mengapa hari ini kau membawa banyak.”

“Tolong jangan tersinggung, Doojoon-ssi—”

“Aku bilang Doojoon saja, aku juga akan memanggilmu Sooyoung … atau Sooyoung-ah?”

“Aih …,” Sooyoung mengambil jeda, “aku dengar SMP dan SMA dekat kantor ini, pada hari ini mengadakan upacara kelulusan, pasti akan ada banyak orang yang memerlukan bunga untuk diberikan pada para lulusan …,” ia mengingatkan Doojoon akan pertanyaan awalnya.

Geuraesso …,” Doojoon menerka. “kau akan ada di sekitar sini seharian?”

“Mungkin akan sampai sore,” jawab Sooyoung.

“Aku juga hari ini harus merapikan berkas-berkas, sepertinya akan seharian di kantor. Kita berdua akan sama-sama sibuk hari ini.” Cerita Doojoon, maka Sooyoung diam dan mendengarkan (seperti yang biasa ia lakukan), mulai menyesuaikan dengan perlahan, pribadi pria ini yang bergitu jujur dan ada sisi polos dalam dirinya, terbuka pada siapa saja … sosok yang akan banyak orang rindukan.

“Cih, untuk ungkapan yang terakhir, sok tahu.”

“Hei … itu cuma perkiraan.”

“Woa woa woa … apa yang kulihat pagi ini? Halusinasikah? Florist Choi Sooyoung dan … pecundang Yoon Doojoon? Beauty and The Beast?” suara seorang wanita, Sooyoung menyimpul senyum, adalah Kwon Yuri.

Orang kedua yang ia kenal di kantor ini setelah Lee Joon, adalah Inspektur wanita Kwon Yuri. Sosok yang ramah padanya, namun galak pada pria, sangat tegas dan kuat untuk ukuran wanita. Sooyoung agak iri dengan pribadi Kwon Yuri.

“Yuri-yah,” ia menyapa. Yuri membalas dengan merangkul pundaknya.

“Siapa yang kau katai pecundang, perawan tua—”

“Yoon Doojoon sial, besok Ketua Lee akan memecatmu dari tim karena mengencani wanitanya, lihat saja.” Balas Yuri, ketus, tetapi berubah akrab ketika bicara pada Sooyoung, “Sooyoung-ah, tenang saja, akan aku adukan pada Ketua Lee kalau ada pria mesum yang menggodamu.”

“Pria mesum apanya …,” ia dapat mendengar senyum jenaka Doojoon dibalik gerutuan kecil itu, dan bagaimana selanjutnya Yuri berkokok lebih lebar, menguak aib-aib Doojoon yang dipertanyakan kebenarannya.

Ah.

Rasanya … hangat.

***

Sooyoung biasa pulang sebelum hari terlalu terik. Ketika ia mengecek smartphone (yang didesain dengan perintah lisan bagi orang berkebutuhan khusus seperti dirinya) sebagai satu-satunya pengingat waktu, dan udara—selain persegi pintar itu, kini menyuarakan pukul enam sore, ia tahu ada sesuatu yang telah ia langgar. Ia memeluk Suri sebentar, yang seharian ini telah membantunya berjualan bunga. Suri pasti kelelahan, ia telah memberinya snack hari ini namun terasa masih kurang.

Diusapinya tubuh anjing kecil itu. “Maafkan aku ya, Suri, mungkin pengalaman yang kita lalui hari ini akan menjadi yang pertama dan terakhir ….”

Suri mengangguk-menggonggong—mengerti ucapannya, Suri selalu mengerti, apa yang ia rasakan, mereka telah bersama sejak setahun lalu, dimana Lee Joon menyarankan agar Sooyoung tak lagi memakai tongkat bantu, namun … seekor puppy lebih cocok untukmu, sarannya saat itu.

“Tapi Suri, hari ini aku senang sekali. Lebih banyak pembeli dibanding aku berjaga di toko, aku benar ‘kan? Kenapa ya baru aku lakukan ini sekarang, seharusnya dari dulu saja … jika begitu mungkin aku akan cepat kaya—” sembari ia terus berceloteh, tiba-tiba tubuh Suri menegang dan ia menggeram. “Hei, hei, tenang … Suri-yah, ada apa?”

“Aish, anjing itu selalu mengacaukan kejutanku.”

Oh … pria ini.

“Yoon Doojoon,” Sooyoung menoleh ke asal suara. “sudah kukatakan, namanya Suri.”

05

“Iya, Suri, maaf. Aku tidak akan mengganggu majikanmu lagi.”

“Kedengarannya ungkapan itu tidak tulus.”

“Aku tulus—sungguh! Aigeu, dinginnya—lagipula sudah sesore ini, mau kuantarkan pulang?” tawar Doojoon, Sooyoung mempersepsikan tawaran itu sebagai penguat konfesi maaf sebelumnya, atau empatik pada seorang gadis buta yang sendirian di tengah kota menjelang malam, atau lainnya (yang tidak mau Sooyoung prakirakan apa-apa saja, ia hanya berusaha berpositifistik).

Tetapi Sooyoung tak langsung mengiyakan ajakan itu, untuk sejenak. Ketika ia menutup kedua kelopak mata untuk mengikis angin, ia membuat dua pilihan. Pertama, ia mensket mimik wajah penuh harap Yoon Doojoon dalam meja lilin dan; kedua, ia duduk sendirian (kedinginan dan kelaparan) di perjalanan bus malam.

06

07

Setelah berapa lama, melewati lekuk dan kerutan di alis, Sooyoung menghela napas dan menjawab, “Aku tinggal sendiri. Di rumahku tidak ada persediaan makanan karena seharian ini aku di luar dan tidak memasak. Ngomong-ngomong, aku dan Suri belum makan. Apa kau mau menemaniku ke kedai bubur sebelum mengantarkanku ke rumah?”

(Sayang ia tak dapat melihat bagaimana ujung mata Doojoon mengkerut dan bibir itu melengkung naik mendengar permintaan polosnya.)

***

Asap bubur mengepul dari mangkuk, hangat menerpa wajah Sooyoung. Hidung dan pipi gadis itu sudah semerah apel. Sebelum menatap mangkuknya sendiri, Doojoon merasa pemandangan gadis di depannya lebih menarik. Sementara di sampingnya, Suri juga sedang makan sesuai porsi yang disediakan—anjing dan pemiliknya sama-sama imut, pikir Doojoon.

“Sooyoung, di sudut bibirmu,” Doojoon memberikan selembar tisu. Sooyoung menerima tisu itu lantas mengusap bibirnya—sedikit merona.

“Ini memalukan … makan di depan pria lain selain Joon-oppa dan …,”

“Tapi kau tidak punya pilihan, kau lapar sekali hari ini. Haish, ottokhae?” Doojoon membantu menyekakan bibir Sooyoung karena gadis itu salah posisi mengusap sudut bibirnya. Doojoon hanya tidak tahu bahwa rona pipi Sooyoung yang kian memerah bukan karena udara panas dari bubur.

“Be-begitulah …,” Sooyoung menarik wajahnya, “terimakasih ….”

“Buburnya sepanas itukah? Wajahmu merah sekali.” Doojoon mengambil mangkuk bubur itu dan mengangkat sendok—hendak menyuapi. “Aku suapi saja. Ah—”

“Doojoon-ssi aku bukan anak kecil,” melihat bibir Sooyoung mengerucut sembari mengelak bahwa ia bukan anak kecil, sama sekali tidak singkron.

“Doojoon-ssi, Doojoon-ssi, aku bilang panggil saja Doojoon,” persistennya, ditambah ungkapan, “atau Dudu juga boleh.”

Mangkuk itu kembali ke tangan Sooyoung. Doojoon mencerna secara spontan, kepribadian polos gadis itu ketika sedang lapar dan keluhan-keluhannya yang terdengar menggemaskan di telinga (atau telinganya yang aneh?). Membiarkan dirinya kembali dalam rasa dingin dan lapar, tatkala melihat wujud penyajian bubur nan menggoda itu teringat belum ia sentuh. Maka tidak ada alasan bagi Doojoon untuk mengabaikan perutnya. Ia masih punya beberapa menit lagi sebelum mengantarkan gadis itu ke peraduan—untuk menggoda gadis itu sepuasnya dalam perjalanan nanti. Well. Selamat makan.

***

SEHARUSNYA Sooyoung lebih memprediksi ini. Bila ia mau menghitung mundur atas tindak-tanduk Lee Joon-oppa yang sedikit aneh belakangan ini, tentu saja jawabannya adalah … iya. Pria itu biasanya elit dengan sikap aristokrat yang terpoles bertahun lamanya, tanpa pernah ada cela. Maka ketika ia mendapati Lee Joon berdiri di depan pintu rumahnya, dengan tanpa balutan penghangat tubuh, Sooyoung yang terkejut dalam sepersekian sekon langsung menyentuh betapa dingin belah pipi itu.

(Kenapa kau jadi sekurus ini? Apa saja yang sebenarnya kau lakukan?)

Oppa …,” panggilnya, “sejak kapan berdiri di sini?”

“Aku menunggumu. Sekitar … dua jam lalu—” dan kepala yang terbiasa tegak penuh ambisi itu kini terkulai di pundaknya.

***

Sooyoung memilih duduk di tepi pembaringan. Menggenggam tangan Joon, berusaha menyalurkan hawa panas tubuhnya lewat genggaman tangan sederhana itu. Sementara yang terbaring, dengan masih kedinginan susah payah tidur menyamping, menyaksikan seraut abstain Sooyoung. Ia mengatupkan kedua tangannya membungkus tangan kecil Sooyoung, menciumnya cukup lama.

“Berbaringlah di sini,” pintanya.

Di samping Lee Joon, dulu ia terbiasa tidur, meminta hal seperti itu untuk sekarang membuat memori Sooyoung terbang ke masa lalu. Ia merangkak naik perlahan, membiarkan dua tangan besar Joon bergantung padanya, supaya telinganya mendengar jelas detak jantung pria yang terlampau tenang itu, mereka diam dalam rasa aman.

“Kemana saja kau pergi hari ini?” tanya Joon dalam bisikan.

“Aku menjual bunga di dekat kantormu,” Sooyoung tersenyum—tidak samar—di antara lengan pria itu. “aku tidak sadar telah senja, terlalu senang karena banyak pembeli.”

“Hmmm,” Joon mengendus rambutnya, menciuminya. Sementara Sooyoung melanjutkan ceritanya.

“Apa kau sudah tidak sibuk lagi? Kau akan sering ke sini lagi? Oppa?”

“Hmmm …,”

“Tapi bila kau minta diantarkan bunga setiap hari, aku tidak keberatan. Aku mulai sedikit menyukai kantormu.”

Terbuka kelopak mata Joon mendengar itu. “Kau suka kantorku?”

“Ya, aku suka, suasananya hangat.”

“Itu hanya tampak luarnya saja.” Joon melepaskan rangkulan itu, kini tangannya beralih mengangkat wajah Sooyoung hingga berhadapan dengan wajahnya. “Sooyoung-ah,”

“Hm?”

“—maafkan aku, maafkan aku karena tidak pernah mengerti perasaanmu, bagaimana gelisahnya kau menungguiku setiap hari … di sini … mianhaeyo, jeongmal mianhae ….”

Di tengah perjalanan mimpinya menuju awan, Sooyoung merasa ditampar kembali ke bumi dengan kasar saat itu juga. Tidak, Oppa, jangan meminta maaf. Tetapi Joon menghiraukan. Aku mohon.

(Dan permintaan maaf itu terngiang, lagi.)

***

Tatkala Sooyoung terbangun keesokan harinya, ia menyikap selimut yang sudah tidak lagi dingin itu, dan menepuk-nepuk bagian kosong di sampingnya, yang seharusnya terbaring seseorang sejak semalam. Ia bangkit dengan tenaga yang mulai terkumpul, bekas-bekas tangan Joon masih terasa jelas, melingkari tubuhnya, dan entah mengapa membuatnya enggan pergi ke mana-mana hari ini.

***

Sudah delapan lebih sepuluh, pampang jam digital pada smartphonenya. Sehari duahari tidak akan mengubah apapun, semacam itulah yang mendasari pemikiran Doojoon ketika dirasanya detik-detik sudah melebihi waktu kedatangan Choi Sooyoung.

Doojoon sengaja memilih gradasi abu-abu untuk setelannya hari ini—sedikit lebih formal dan rapi daripada biasanya membuat Lee Gikwang bersiul di sepanjang koridor. Mengumbar-umbar pada semua orang bahwa akan ada idiot yang pergi kencan sebentar lagi. Idiot? Untuk labeling yang satu itu (setidaknya pada hari ini), Doojoon cukup geram menerimanya tapi sebetulnya tidak salah juga. Ia memang idiot. Untuk apa susah-susah memilih warna dan mode pakaian sementara honeydew itu tak dapat melukis cahaya dengan retinanya? Ew, yeah—jadi semua ini kembali mengorbit pada gadis itu, ujung-ujungnya.

“Selamat pagi, Doojoon-ah.”

“Joon-hyung?”

Doojoon tidak bisa berpura-pura tidak terkejut karena pada kenyatannya, ia terkejut sekali. Apakah kepentingan yang membawa Lee Joon tiba sepagi ini? Pria itu biasanya sibuk patroli ke sana ke mari, ia memang terikat dengan jabatan Ketua Tim Divisi Intel, tetapi kadang panggilan dari atasan terus berdatangan karena kinerjanya yang kian baik dari hari ke hari. Kalau tidak salah ia juga lah yang membongkar markas perdagangan organ tubuh manusia dan menangkap sang pemimpin bisnis—ia bersama Tim Investigasi Khusus yang wow.

“Tidak biasanya—”

“Berhari-hari aku menghilang, bukan berarti aku melupakan anggota Tim-ku, ‘kan?” ada sesuatu yang Doojoon tidak tahu di balik senyumnya, kepribadiannya yang cermat, namun seperti was-was setiap saat, seolah akan ada yang hilang dari dirinya kapan saja.

Dan apakah … itu?

“Aku lumayan rindu padamu, Hyung.”

“Kulihat tidak begitu?”

Apa—apa maksudmu

Retoris, mereka sama-sama mengerti. Dengan fanatis dan kekolotan masing-masing bahwa hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuat ajang saling pintar dan debat akan sesuatu yang tidak pernah pasti mereka utarakan. Katakan saja—katakan! Apa yang kau ingin aku dengar darimu, Hyung?

“Aih—tampaknya betul kau tengah menunggu seseorang. Aku mendengar koar-koar Lee Gikwang barusan.” Dua cangkir kopi di tangan Joon sejak pertama ia menghampiri Doojoon, akhirnya diserahkan jua ke pada sang lawan bicara. Sudah agak dingin. Tepatnya, semenjak kapankah kopi ini ada di tangannya?

Sejak kapankah … pria ini memerhatikannya?

“Belakangan ini aku merasa bangun pagi lebih membugarkan tubuhku makanya—”

Risau di mata Doojoon, ketika (lagi-lagi) Joon memotong perkataannya. “Kau tahu apa yang membuat tubuh lebih bugar daripada sekedar bangun lebih pagi? Wewangian alami, contohnya … kuncup bunga yang baru mekar, kemudian dirangkai dan diletakkan di atas meja kerjamu. Kau bisa merasakan bagaimana tubuhmu bereaksi akan aromanya yang adiktif. Sekali duakali mencoba kau akan ketagihan—aku bilang, bunga itu adiktif.”

Dan bunga itu milikku.

Dari bagaimana Joon menghentikan pembicaraan itu, secara sepihak, matanya tertuju pada Doojoon, elang yang lebih tajam dari biasanya (bila tatapan itu layaknya pisau ia pasti sudah berdarah). Ia tertangkap basah, tanpa taktik rumit mampu mencuri sesuatu yang berharga dari yang-semua-orang-agung-agungkan-Lee-Joon-ssi begitu saja. Kemungkinan satu, Joon mengamati. Kemungkinan dua, Joon memprediksi. Dan sekarang, ia memilih untuk menghadapi kedua kemungkinan itu.

Satu yang dapat menjadi konklusi adalah … bunga milik Lee Joon, (mungkin) ia tertarik untuk memilikinya juga.

***

Setiap kali Sooyoung meluncur dari bibir Joon (dengan embel-embel –ah yang khas, alto berat namun hangat hanya padanya), dalam artikulasi khusus (yang juga hanya padanya) meminta penjelasan lebih atas kejadian hari ini, hari lalu, apa yang kau lakukan, dan apakah kau terluka. Sooyoung hanya mampu bergelimang di posisinya, menyadari bahwa meski sebesar apapun usaha pria itu, sekuat apapun pria itu mencoba lebih dekat, pada realita ada dan tiada, yang sering ia tatap dalam mimpinya, Sooyoung melihat jarak mereka kian menjauh. Gapaian dan perintah untuk mundur berbisik bergantian di telinga kanan dan kirinya.

08

Ia selalu memandang Lee Joon sebagai sosok yang komprehensif namun sesekali individualistik, ia merasa dikekang dalam sangkar pria itu namun aman. Semua itu aman tetapi tidak terasa nyaman.

Ada rentang sekitar sepuluh tahun lalu dimana ia kehilangan pelindungnya, Ayah dan Ibunya, dalam kecelakaan yang juga membuatnya tak mampu menjumpai sinar ultra dan senjakala. Dalam kepalanya, ada jarum yang berdetik, konstan. Seperti telah dilaluinya sepuluh tahun ini bersama Joon, hanya malam hari. Tiap detik, tiap menit, tiap jam, setiap waktu—waktu—namun apakah itu waktu? Apa yang berguna lagi dalam hidupnya ketika ia tak bisa mendeteksi waktu? Toh, baginya, setiap saat adalah sama.

09

“Joon-oppa lama sekali …,”

Suri belum dimandikan, Sooyoung tak begitu peduli sudah jalan-jalan kemana saja anjing kecil itu, apa yang diinjaknya, apakah mengotori karpet atau sofa, yang ada pikirannya melanglang pada janji pria itu.

Joon sudah merasakan bagaimana resahnya mendambakan atensi seseorang. Aku menungguimu, gumam Sooyoung. Setiap hari, kemarin, sekarang, dan janjimu tadi malam. Oppa, kau lupa? Kau melarangku melupakanmu tetapi kau sendiri tak membuat larangan itu untuk dirimu?

Klining—

Itu bel, pertanda seseorang masuk ke tokonya. Bergegas Sooyoung beranjak dari perantauan, dan mengecek. Ia meraba dinding karena Suri entah pergi kemana lagi (bila ada di rumah, Suri senang bermain-main sendiri).

Seseorang datang.

Adalah aroma keringat yang terinterferensi parfum hinggap di penciuman Sooyoung, menyamarkan wewangian bunga yang baru dipetiknya dari rumah kaca. Ia melangkah mendekati orang itu, ia punya feeling, jemarinya terjulur hendak meraba seraut wajah namun gapaiannya jatuh pada hampa.

Oppa?” kemamnya. “Joon-oppa, kau mau kemana?”

Langkah itu di sampingnya, lalu ke belakang. Maka Sooyoung (dengan pengalaman tinggal seorang diri selama ini) merasa ketir ketika sang sosok tak kunjung merespon. Tidak—Joon-oppa tidak begini.

Bruk.

Apa—apa itu

“Suri? Suri-yah? Suri-yah!” kemana Suri? Mengapa anjing itu tak menggonggong?

Jantungnya berdentum dengan ritme yang mulai tidak statis. Detik di kepalanya terasa lebih cepat. Kelimat gerak-gerik seseorang itu mengacaukan kepalanya. Baunya—baunya menyebar. Aroma keringat orang ini lebih kuat dari sebelumnya, ia mendekat—ke arah Sooyoung. Gadis itu refleks mundur untuk pertahanan diri, meraba-raba sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memukul kalau-kalau orang ini adalah mesum keparat.

Namun selintas, pergerakan kasat melewati dimana Sooyoung berpijak, sang sosok menghilang ditandai oleh bau parfum yang turut memudar.

Akhirnya ia menghembuskan napas yang tanpa sadari telah ditahan.

Sooyoung rasanya dapat menebak siapa orang itu.

***

“Ada sesuatu yang ingin kau katakan?”

Sooyoung menarik dirinya ke permukaan. Joon di sampingnya, hampir terlupakan, oleh samar-samar bayang seseorang yang mengunjunginya hari ini. Ia telah menimbang akan melaporkan kejadian hari ini atau menyimpannya untuk diri sendiri. Atas dasar kelak kemungkinan apa yang akan terjadi, ia memilih pilihan pertama.

“Tidak ada apa-apa.” Pinggiran mug berisi cokelat itu masih penuh, asapnya tidak semengepul pertama kali, sebab bibir Sooyoung belum menyentuhnya semenjak Joon memberikan mug itu padanya.

Joon membiarkan altonya menggema dalam ruangan, bayang-bayang perapian menyembunyikan sebelah matanya. “Kau tahu kapan kau harus mengatakannya, baiklah.”

Sooyoung berdoa ini bukan pertanda dimana hal-hal yang lebih buruk akan datang.

***

Satu-satunya kekurangan manusia paling kentara adalah, mereka tak pernah dapat memerkirakan kecenderungan setiap hari, kemarin, esok dan, kini. Doojoon termasuk yang tahu, sebab itulah yang terjadi padanya. Ketika kemarin ia menunggui seseorang nun tak kunjung datang, ternyata hari ini orang tersebut datang tanpa ditunggu.

Ia menemukan Sooyoung duduk di salah satu kursi di lobi kantor, sebuket bunga di tangannya—digenggaman jemari lentik itu, di sebelahnya seorang anak laki-laki berceloteh semangat sekali, yang membuat Doojoon tertawa adalah perbincangan berat sebelah antara Sooyoung dan sang anak. Hingga ketika wanita paruh baya menjemput sang anak, anak itu mencium pipi Sooyoung sebagai salam sampai jumpa kemudian pergi bersama wanita yang menjemputnya, Sooyoung menyentuh pipinya dengan mimik terkejut, lalu terukir senyum maklum.

Satu lagi yang menarik perhatian Doojoon adalah, mahkota bunga yang dikenakan gadis itu. Maka ia memutuskan muncul di hadapan Sooyoung dan menyapanya. Saat Sooyoung menyadarinya, gadis itu mendesah tanpa alasan yang Doojoon pahami.

Doojoon menyentuh mahkota bunga di kepala Sooyoung hati-hati—takut merusaknya, lantas bertanya, “Apa yang membuatmu mengenakan ini?”

“Daripada waktu terbuang, aku membuat mahkota bunga ini sembari menunggu. Kemudian seorang anak laki-laki memintaku memakainya,” ungkap Sooyoung.

Geureomyo … aku tidak seharusnya bertanya.” Ia duduk di samping Sooyoung dan tertawa. “Aku melihatmu dan anak itu, tadi.”

“Tidak ada yang lucu,” Sooyoung meninju kecil sisi tubuh Doojoon. Setelah beberapa pukulan dibalas keluhan, Doojoon menangkup tangan Sooyoung.

“Kau berdarah,” ia bilang, heran dan cemas di wajahnya meski tak mampu Sooyoung lihat.

“Ah—jangan sentuh yang itu.” Sooyoung meringis ngilu saat tiba-tiba Doojoon mengusap setitik merah pada ujung jari telunjuk Sooyoung dengan ibujarinya. “Mungkin terkena duri mawar, aku tidak begitu ingat, aku banyak merangkai bunga hari ini. Atau mungkin karena tergesek aspal—”

“Sikutmu tergores juga—kau—kau terjatuh?”

“Kecelakaan kecil, seseorang hampir menabrakku pagi ini.”

“Kalau begitu seharusnya kau ke rumah sakit, bukan ke sini!” Doojoon bertutur diiringi gesit tangannya membalut luka kecil Sooyoung dengan plester cepat yang dirogohnya dari kantung coat. “Jadi kau ke sini berniat melaporkan si pengemudi?”

“Ummm, tidak juga. Justru pengemudi itu yang tengah melaporkan sendriri perbuatannya …,” pengakuan Sooyoung menggantung, “aku suka … pria yang bertanggung jawab seperti itu.”

Doojoon mengangkat alis, tanda penasaran. Ternyata masih ada warga sipil sejantan itu di Korea. “Siapa?”

Bibir Sooyoung mengucap satu nama familiar. Begitu mendengar, Doojoon terbengong. “Lee Gikwang.”

***

“Aku terburu-buru! Waktu tadi Sooyoung lagi berjalan di trotoar, dan aku hilang kemudi karena terpesona olehnya!” Gikwang menjelaskan sambil ia memasukkan roti selai kacang ke mulutnya, lalu mengunyah, menelan, lalu menatap wajah-wajah di meja itu, dan melotot kaget ketika tatapannya menuju Kwon Yuri.

“Hilang kemudi? Kau hilang akal! Bersiaplah, rapatkan gigimu.” Dengan tangan terkepal, Yuri berdiri dari kursinya.

“Kau mau apa? Hah? Aku sudah melapor, hei itu bukan kecelakaan terencana!” kelit Gikwang, menggeser tempat duduknya ke sebelah Sooyoung dan bersembunyi di balik pundak gadis itu. “Sooyoung-ah, kau memaafkanku, ‘kan?”

10

“Bukan masalah besar, kok, Yuri-yah, hanya beberapa goresan kecil.”

Nyatanya, konfirmasi Sooyoung tidak berdampak apa-apa, malah menambah jengkel Yuri. “Goresan kecil pada kulit mulus berhargamu! Aigeu, ketika Ketua Lee melihat itu nanti, kau bisa mati, Lee Gikwang.”

“Itu urusanku!” Gikwang mencomot sepotong roti lagi, ia kover ke mulutnya penuh-penuh. “Lihat? Sooyoung saja tidak ada masalah, kenapa kau yang repot. Bah!”

“Bukan cuma soal Sooyoung, tapi kau bisa saja kehilangan lisensi mengemudimu. Kau, Tuan Lee, seorang Detektif tanpa lisensi mengemudi, yang benar saja. Bagaimana kau bisa hidup seperti itu?”

11

“Aku hidup seperti ini, Inspektur Kwon.”

“Anak ini benar-benar—”

BUAGH!

YAAAH! SAKIT!”

Selagi Sooyoung mendengarkan debat lanjutan kedua petugas kepolisian itu, ia mencelupkan roti pada jus tomat sebelum dikudapnya.

Mahkota dan buket bunga yang dibawa Sooyoung, Doojoon simpan ke bawah meja. Kemudian lanjut lagi Doojoon menyesap kopinya. Ia menoleh pada Sooyoung yang sudah menghabiskan roti, kini beralih pada jus tomat. Ia meletakkan cup kopi lalu menumpukan dagunya pada sebelah tangan, senyumnya kelewat lebar disebabkan pemandangan Sooyoung di sampingnya amat manis. Bukan hanya ketika mereka makan bubur (yang berarti ini adalah kedua kalinya) tetapi bagaimana mungkin seorang gadis bisa semanis itu ketika sedang makan?

Gikwang dan Yuri bersipandang satu sama lain, mengisyaratkan rencana lewat mata, mengenai bagaimana Doojoon memandang Sooyoung, mereka saling melempar mimik tanya lalu gelengan tak tahu—tak tahu lebih jauh kecuali—Gikwang meyeringai. Yuri kembali menikmati cheesecakenya.

“Pelayan, tolong billnya,” Gikwang mengangkat tangannya meminta kertas tagihan untuk diantar ke meja. Kemudian mengatakan dengan keras-keras (dan tanpa persetujuan sang tersebut) bahwa, “Detektif Yoon akan membayar semuanya.” Senyumnya membentuk mata sabit yang khas.

Doojoon bertolak pada Gikwang dengan mata membelo, tertohok di tenggorokan, mengingat isi dompetnya yang hanya tinggal beberapa lembar. Tapi kemudian ia mengalah karena senyum tanpa dosa koalisi dua rekan kerjanya. Ia harus dapat memaklumi lebih jauh jikalau Lee Gikwang hanyalah bocah annoying, dan Kwon Yuri hanyalah … cheapstake sialan.

“Doojoon-ah,” Yuri memandang pria itu tak lama—Doojoon menengok setelah mengeluarkan isi dompet akhir bulan dengan sedikit tidak rela, “aku mendapatkan ijin Ketua Lee untukmu mengantarkan Sooyoung pulang.”

“Harus dengan seijinnya, ya?” Doojoon memasukkan dompetnya ke balik long coat sewarna tanah sembari malas ia memutar bola mata.

“Jadi bukan aku?” tunjuk Gikwang pada dirinya sendiri, memprotes.

“Memang kau yang bersalah dan seharusnya bertanggungjawab atas keselamatan Sooyoung sampai di rumah, tapi tidak, kalau aku pikir-pikir, kau bisa saja mencelakakannya lagi.” Yuri lanjut memapar ketus, “Keurigo, Ketua Lee tidak mengijinkan jika itu adalah kau.”

“Oh, geez,” untuk ukuran dua orang yang baru berbincang karena insiden tabrakan tidak disengaja, Lee Gikwang kelewat menganggap teman Choi Sooyoung—garis miring sang korban.

***

Ketika telah sampai pada persimpangan terakhir yang harus mereka lalui, dalam roda empat kendaraan transport hitam Doojoon, pria itu menanyakan untuk yang ketiga kali, “Kau yakin tidak ingin ke rumah sakit dulu?”

“Aku tidak apa-apa.” Tolak Sooyoung halus. “Terlebih aku kurang suka suasana rumah sakit dan bebauan obat.”

“Kau tahu betul soal itu,” gurau Doojoon, ban mobil berputar pada aspal, dalam beberapa meter mereka akan tiba di tujuan. “Yosh, silahkan turun, Nona.”

Doojoon ke luar lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Sooyoung. Suri menuturi seperti biasa, sementara Doojoon kembali pada bagasi di bagian belakang untuk mengambil sesuatu.

“Kau tahu,” katanya, setelah Sooyoung membuka pintu rumah dan ia ikut masuk tanpa ragu. “polisi selalu memiliki benda seperti ini dalam bagasi mobil mereka.”

“Benda seperti apa?” Doojoon membiarkan Sooyoung meraba kotak persegi berisikan kapas-kapas, perban, dan peralatan pertolongan pertama semacamnya. Gadis itu kemudian membentuk bulat mulutnya, baru paham.

“Duduklah,” Doojoon menarik tangan gadis itu mempersilahkannya duduk (yang ironis sekali siapa pemilik rumah dan siapa tamu), dalam hal ini Sooyoung melontar tawa, menuruti saja titah-titah pria itu.

Doojoon mengamati goresan tak beratur pada sikut Sooyoung, tidak terlalu dalam, ia berpikir akan pembersih yang ada pada kotak obatnya, sebelum pelan-pelan dan cermat ia membalutnya dengan perawatan seolah Sooyoung anak anjing yang tersesat. Ia yakin senyumnya kini terlalu konyol untuk dihiraukan—syukurlah Sooyoung tak melihat—sembari ia elus pekerjaannya dengan sayang dan menoleh pada luka sisi lainnya.

“Satu lagi, jari telunjukmu,” ia menahan tangan gadis itu bergerak, membuka plester yang menempel untuk digantinya dengan yang baru.

Sial, Yoon Doojoon, apa-apaan ini ….

Tindakannya jelas bentuk oposisi dari hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Kulit tangan Sooyoung, jemari, telapak, dan pergelangan tangan, yang jauh lebih kecil darinya, begitu halus dan pas digenggaman. Ia tahu ia sengaja melambatkan gerakannya agar dapat lebih lama menyentuh tangan Sooyoung secara riil.

Mungkin Sooyoung menyadari.

Apa—apa isi pikiranmu? Kau seorang fetish tangan kanan? Memastikan volumenya agar kelak kau jadikan model ukiran? Terlihat dari gugup gadis itu menarik tangan ke sisinya cepat-cepat, berdalih akan bunga-bunga yang harus ia sirami.

Doojoon mengekori, ke belakang rumah, yang langsung terhubung dengan toko bunga Sooyoung. Sepatu dan kaus kaki ia simpan dekat dengan bench taman, dimana Sooyoung memutar keran dan mengambil selang biru, bila dilihat sekilas, gadis itu tidak seperti apa kenyataannya—bahwa ia, tidak bisa melihat letak dan posisi—kalau-kalau bukan karena kemahirannya yang terlatih bertahun dalam merawat tamannya, Doojoon bisa rasakan itu.

“Jadi apa tugasku?” tawarnya.

“Kupikir kau akan kembali ke kantor.” Sooyoung bilang. “Tapi kalau kau memaksa, tolong pindahkan pot-pot ini ke area yang terkena cahaya matahari.”

“Ya, ya. Aku akan kembali ke kantor …,” Doojoon melirik jarum penunjuk pada jam minimalisnya, “beberapa menit lagi, tidak masalah. Kau bilang yang mana? Pot-pot di bawah itu?”

“Ya, mereka harusnya diterpa cahaya alami beberapa jam sehari.”

Doojoon melepas coat panjangnya, ia gantung pada gantungan di samping pintu, kemudian melinting kemejanya hingga seperempat lengan. “Sejak kapan, ngomong-ngomong, kau mulai melakukan hal ini?”

“Melakukan apa? Toko bunga?”

“Eyyy—ya, termasuk itu.”

“Aku sudah merawatnya sejak SMP, bersama Ibuku.” Walaupun toko itu sedikit berdebu dan sepi, karena pemiliknya tak membalik tanda open hari ini, Doojoon bisa paham hanya dengan sekali lihat, bahwa segar tanaman yang terpelihara bukan hanya dalam setahun-duatahun, tetapi bertahun-tahun.

Lagi, seharusnya ia tidak bertanya. Perubahan rona muka Choi Sooyoung adalah alasannya.

Namun Doojoon ingin bertanya tentang hidup, gadis itu, dan kebutaannya, sejak kapankah? Sekejap kemudian, Sooyoung kembali pada honeydew yang berbinar (walau dalam visualnya, gelap), dan erat pada selang pemancar air, basah mengenai tanaman-tanaman itu, dan tangannya.

12

Senyumnya berkata tidak apa-apa.

Adalah bagaimana Sooyoung mengajarinya arti kerelaan.

“Ayahku membuat berbagai macam perhitungan dalam membuat rumah kaca ini. Beliau adalah seorang yang terlalu memerhatikan logika.”

“Ilmuwan?”

“Itu terlalu jauh. Apoteker, sebetulnya.” Sinar di matanya masih sama, dengan kilat nostalgia. Sooyoung terjebak dalam privasi memori yang tak dapat Doojoon masuki semudah itu, mengenai keluarganya, masa lalunya.

“—ah.”

Hingga sesaat, entah itu sepersekian detik, atau sejenak keabadian selanjutnya, Sooyoung tersenyum sedikit miris, dan Doojoon membeku setelah memindahkan pot yang terakhir, berjaga akan airmata yang mungkin terjatuh dari bagaimana sorot gadis itu meredup. Tapi tidak. Sooyoung tidak menangis.

“Toko ini tidak memiliki nama.” Ceritanya. Guyuran air terus meluncur, sepercik demi sepercik, mengecil, ia tahan dengan jari tengah dan jari telunjuknya.

Doojoon mendengarkan—menelan dehaman, dan merasakan tenggorokannya menjadi kering. “Kenapa?”

Geunyang,” sesingkat itu, cukup sesingkat itu, “tidak sempat, orangtuaku meninggal sebelum mendapat nama yang cocok.”

“Hingga sekarang?”

“Mungkin ….” Sooyoung tidak berhenti, ia belum berhenti. “Ada fase dimana seseorang, siapa saja, tidak dapat berpindah sesuai dengan yang diinginkannya. Mereka mengalami apa yang bernama kejenuhan, ketika terus-menerus ada tanpa perubahan yang signifikan dalam dirinya. Dan aku juga, sepertinya … cukup lama berpijak pada fase itu, karena beberapa faktor.”

“Faktor?” apa? Apa maksudmu? Apa yang mau kau katakan? Gwenchana? Jeongmal gwenchakenni?

Ribuan detik jarum jam di kepalanya, telah Sooyoung lewati sepuluh tahun belakangan ini, dan rasa ingin tahu, Yoon Doojoon, menghianati artimianya sendiri.

Sooyoung menjawab antiklimatik, membuat Doojoon terpukul dengan waktu yang berbentur di tempatnya. “Penyesalan.”

Langit menggelap. Keran dimatikan. Rintik perlahan turun membasahi tanah di luar area mereka sekarang. Berlawanan dengan tangan Sooyoung yang mulai mengering—dingin dan mengeriput.

“Kau membasahi plesternya.” Doojoon bilang. “Cukup dengan siramannya. Ayo masuk ke dalam sebelum kau kedinginan.”

Naas tawa itu tidak terlihat manis—sama sekali, Sooyoung berpikir, akan sesuatu—seseorang, bukan Joon, Doojoon, ataupun dirinya sendiri. Hanya seseorang yang pernah singgah. “Aku selalu kedinginan.”

“Apa?” menoleh, mengerjap, dengan gerakan yang tak terprediksi, Sooyoung mengaitkan jemari pada ujung kemeja Doojoon.

Sooyoung tidak melontarkan pernyataan, atau menawarkan pertanyaan, atau komentar-komentar lain yang membuat Doojoon menutup mulut menganganya. Tidak. Melainkan, tangan gadis itu, secara perlahan naik dari kemejanya, ke pundak, leher, hingga wajah pria itu. Permukaan kulitnya, yang panas, berpeluh, terlalu banyak diterpa sinar mentari. Dengan, sentuhan-rabaan itu Sooyoung tengah mengukir wajah Doojoon di atas meja lilinnya.

Dan dari celah mata itu, dalam kilatan tentatif, seakan melucuti semua yang Doojoon kenakan—padahal negatif, negatif, sedangkan udara dicuri dari dunianya. Bersamaan dengan sentuhan terakhir Sooyoung di ujung hidungnya, Doojoon terjatuh (dalam artian).

***

Setelah momen yang membuat akal sehatnya kacau, telusuk superegonya menentang mengunjungi gadis itu lagi, namun tindakannya tidak demikian. Doojoon datang lagi, disela senggang tugas kemasyarakatannya, ia akan selalu menyempatkan diri datang dan membantu Sooyoung dengan pekerjaan floristnya. Ada saja, kadang ia memegang obeng, berkutat dengan sesuatu yang harus diperbaiki (padahal gadis itu tidak meminta). Di lain waktu, ia akan menggantikannya menyiram, memetik, dan Sooyoung mengajarinya merangkai, dengan warna dan ukuran yang gadis itu tanam dalam ingatannya, Ia mempelajari dengan seksama. Ia hanya ingin, hanya ingin … punya alasan untuk bersama Sooyoung lebih lama.

“Sooyoung?” gadis berkucir yang telah akrab ditemuinya, kira Doojoon, ia lihat melalui kaca mobil. “Kenapa malam-malam begini dia di luar rumah?”

13

Ini malam hari, pandangan berkabut, jelas-jelas sangat berbahaya bagi seorang gadis—apalagi tinggal sendiri. Berdecak Doojoon di kursi kemudi, kemudian klakson ia bunyikan beberapa kali agar Sooyoung di depannya berhenti melangkah.

Di sebelah gadis itu berdiri, di trotoar, Doojoon melongokkan kepalanya lewat jendela mobil setelah menepikan sejenak lajunya. “Masuklah!”

Terkejut Sooyoung oleh seruan itu. “Yoon Doojoon?”

“Masuklah,” suaranya melembut, “aku antar kau pulang.”

“Tidak perlu repot-repot, aku bisa pulang sendiri.” Tolak Sooyoung—niatan gadis itu bersikap sopan, namun Doojoon malah kesal dibuatnya.

“Aku bukan orang jahat, aish, ayo masuk saja,” akhirnya Doojoon turun tangan menarik Sooyoung masuk ke mobilnya, ia dudukkan di jok sebelahnya. Lantas ia sendiri segera memutar ke pintu satunya dan kembali duduk di depan stir, bersiap menyalakan mesin.

“Padahal aku tidak apa-apa.” Mengerucut bibir Sooyoung.

Tanpa menoleh Doojoon menyahut, seperti meladeni anak kecil yang tidak mendapatkan mainan—“Tapi aku yang apa-apa.”

“Kenapa begitu?”

“Begini ya, Sooyoungie. Kalau besok muncul berita buruk tentang Nona Florist yang pulang sendirian malam-malam, maka aku tidak pantas lagi hidup di dunia.”

Hul, apa-apaan itu …,” gerutu Sooyoung, dan apa pula Sooyoungie? “jadi kau mendoakanku kejelekan—”

Terpotong kalimat Sooyoung, seperti terpotong napasnya oleh minim jarak yang Doojoon ciptakan antar muka mereka karena tahu-tahu, ia mencondongkan diri untuk ditariknya seatbelt jok melintasi dimana Sooyoung terduduk—kaku, gugup, tidak tahu harus bagaimana, seketika ditahannya napas, dan berhasil melenguh bebas hanya ketika hidung Doojoon menjauh. “Hampir saja lupa memakaikan ini, maaf ya.”

“—ya.” Temaram neon pinggir jalan menggelapkan rona terang di pipi Sooyoung.

***

Esok hari bertandang memamerkan hal yang sedikit berbeda di pelupuk mata. Di depan hunian Sooyoung, sepasang sepatu hitam tersisir rapi menyambut ambang pintu menuju ruang tamu.

Melihatnya sekilas saja, Doojoon langsung tahu.

“Lee Joon-hyung.”

Tajam sorot mata yang biasanya, berubah ramah—hangat dan mencair ketika sepasang obsidian itu menatap Sooyoung. Doojoon merasa menjadi orang lain.

“Yoon Doojoon?” Sooyoung menyadarinya. “Kemarilah.”

14

Doojoon tidak bergerak, ia hanya memandang dari tempatnya berdiri. Melihat mereka berdua di taman, tepatnya, Lee Joon sedang membantu Sooyoung memetik beberapa tangkai bunga untuk dirangkai. Dalam sebuah box, di samping Sooyoung, Joon meletakkan tangkai-tangkai itu.

“Hari ini cukup beberapa,” ujarnya. “kau sudah memeriksanya?”

15

“Um.” Sooyoung mengambil setangkai dan menghirupnya. “Gomawoyo, Oppa.”

Geurae. Ngomong-ngomong, Doojoon-ah,” Joon beralih menatapnya, tidak sebagai seorang atasan namun bertemu sebagai kawan. “neo wasseo?”

Ye,”

Isanghae.

Melihat keakraban dua orang itu untuk pertama kali dengan matanya sendiri, terasa aneh dan janggal.

Mereka bertiga berakhir di meja makan yang sama. Atas saran dan hidangan yang sengaja Joon pesankan kilat. Pria Lee itu bahkan tidak perlu meminta ijin ketika jempolnya menyeka noda saus di bibir Sooyoung (reaksi gadis itu pun berbeda jauh ketika dulu ia pernah melakukan hal yang sama, uh).

“Kau sering kemari, Doojoon-ah?” Jelas sekali itu bukan pertanyaan pintar bagi seorang Lee Joon yang luarbiasa, berdeham di tempatnya, Doojoon menatap Hyung itu dengan anggukan.

“Ah—” tampaknya Sooyoung menyadari kesalahannya, “maaf aku lupa menceritakannya pada Oppa.”

Oppa? Memicing mata Doojoon dibuatnya, membuat makanan tertahan di tenggorokan, didorongnya dengan paksa oleh segelas air. Menampar diri bahwa ialah sang sosok yang mudah dilupakan, baiklah!

“Tidak perlu, aku sudah mengenal Doojoon seperti adikku sendiri,”

“Sepertinya semua orang yang lebih muda darimu, kau anggap adik, Hyung,” cela Doojoon bersirat sarkasme, otomatis mendapat pukulan tangan Sooyoung. “apa kau anak tunggal? Atau pernah punya adik?” atau kau … orang yang kesepian?

Disahut sang bukan kakak kandung dengan tawa yang Doojoon tidak suka—entah kenapa, padahal pria itu tidak melakukan kesalahan apa-apa padanya.

“Dilihat dari situasi, sepertinya kau tidak terkejut aku ada di rumah Sooyoung,” Joon memulai lagi pembicaraan lain. membungkam Doojoon dengan jawaban lain dari pertanyaannya—sialan.

“Sooyoung sudah ceritakan padaku tentangmu,” tekan Doojoon di akhir kata, “semuanya.”

“Yah—”

“Kau memang ceritakan semuanya, ‘kan?” protes Doojoon.

“Bukan berarti kau tahu segalanya, ada apa sih denganmu?” mengecil nada suara Sooyoung ketika mengucap tanya, Doojoon tidak menjawab karena ia sendiri pun tak tahu, bodoh.

“Ngomong-ngomong, kau belum mengganti krisannya dengan yang baru?” melerai debat pikiran dua adik di depannya, Joon menunjuk pajangan bunga di atas meja dengan sumpit.

“Oh itu. Aku kira Oppa tidak akan datang hari ini, jadi aku tidak menggantinya.”

“Jadi selama ini kau hanya menggantinya ketika aku akan datang? Aish anak ini.” Joon mengacak poni tirai Sooyoung. “Belajarlah mandiri, hm.”

Krisan itu sengaja diletakkan untuk Lee Joon? Doojoon menatap vas berwarna pink koral berpajangkan tangkai-tangkai bunga krisan itu. “Memangnya apa yang spesial dengan bunga krisan?” ia mengambil kesempatan bertanya, Joon memandangnya dan langsung menjawab tanpa resolusi.

“Karena aku menyukainya. Makanya Sooyoung memajang bunga itu.”

Sumpit yang Doojoon pegang makin berat saja. Tidak memungkinkan baginya mengisi perut lebih banyak, rasanya semua sudah terisi penuh dan hampir-hampir membuatnya mual. Doojoon beranjak dari kursinya dan berdalih kalau urusan lain menanti untuk dikerjakan. “Aku—uh, terimakasih atas hidangannya, aku pergi dulu.” Dari sisi matanya, ia menangkap Joon tidak terbohongi barang sedetik oleh alasan klise itu, tetapi menghiraukan saja. Nun Sooyoung? Gadis itu malah seakan tidak mengharapkan kehadirannya—sama sekali.

Dalam perjalanan menuju mobil, Doojoon mendecih.

***

Pada akhirnya, mobilnya berhenti di cafetaria tak jauh dari letak kantor. Istirahat jam makan siang di isi Doojoon bersama tiga rekan kerjanya. Sementara Gikwang berkicau di samping telingannya, sedikit kesal ia membaringkan kepalanya tanpa tenaga pada meja—(ia sudah menceritakan semuanya, tentang hubungan Ketua Tim Lee dan Choi Sooyoung, dan menjadi obat nyamuk). “Mau yang imut? Ada Lizzy. Mau yang unik? Ada Naeun. Mau yang seksi? Ada Gain. Kau maunya yang bagaimana? Bilang-juseyo, Yoon-sonsaengnim—”

“Gikwang-ah …,” Doojoon bangun dan membekap mulut laki-laki muda Lee itu. Sedikit geram dan risih Doojoon malah membuat Lee Gikwang tertawa hingga matanya seolah hilang.

“Kau sebetulnya … kalau aku boleh jujur …,” kali ini Seo Inguk ikut buka mulut.

“Aku kenapa?”

“Terlihat depresi ingin melakukan hal-hal seksual pada Choi Sooyoung-ssi—”

BUAGH!—pukulan pertama diluncurkan, telak mendarat, membuat merah ujung bibir dan belah pipi kanan si pria. Kwon Yuri adalah pelakunya, dan korban? Seo Inguk yang naas memegangi sebelah pipi.

“Yoon Doojoon, berkacalah dari kejadian ini, dan jangan ganggu temanku lagi.” Ketus Yuri, bekas hantaman pada pipi Inguk ia anggap sebagai olahraga ringan karena belakangan ini tinjunya menjadi kaku. “Atau—ini.” Krek—suara gertak kepalan tangan Yuri.

“Temanmu? Memang siapa temanmu? Kami bukan temanmu?” kencang Gikwang memprotes.

“Aku tidak mengada-ngada,” di antara Gikwang versus Yuri, Seo Inguk ikut bersuara, menengahi, “Kau tahu, hasil berfilsafat? Berlandaskan kekaguman, insiden nyata dan asumsi yang merujuk. Mungkin Socrates ada benarnya, bahwa apa yang terlihat bukanlah yang ideal, bahwa yang aku dapat tafsirkan dari pemikiran Doojoon adalah … rasa cemburunya melihat Ketua Lee menyentuh Sooyoung. Akui saja. Maksudku—”

“Aku tidak bilang Joon-hyung menyentuh Sooyoung!” ralat Doojoon cepat. “Jangan berpikiran aneh-aneh, mereka tidak berhubungan semacam itu!”

“Terlihat jelas kau yang berpikiran aneh-aneh, tolol,” kening Doojoon mendapat hadiah sentilan dari Yuri—oh terimakasih banyak Nona Penjajah.

“Bisakah kita mengobrol dengan bahasa yang terfilter? Aku merekamnya!” unjuk Gikwang sembari menyembunyikan ponsel ke saku jaketnya dalam-dalam.

“Pendek! Berikan ponselmu!”

“Bahasa kotormu bahkan sudah tak terhitung, hahaha! Lihat saja kau akan ditarik denda berap—uhukkk!” Yuri melotot lalu mencekik leher yang berjuluk eyesmiley-man itu—gelak tawa Gikwang sampai berganti batuk rintih seperti kakek-kakek.

“Bisakah kita lebih serius di sini?” keluh Inguk berbonus peluh.

“Kapan kita pernah serius selain di depan Joon-hyung,” Doojoon cepat-cepat menyambung sebelum terbuka lagi suara Inguk, “jangan sok serius.”

“Soal tadi, aku belum menspesifikasikan menyentuh yang seperti apa—kau setan cabul,” Inguk tetap melanjutkan, meski harus menelan bulat-bulat unek batin sebelumnya, “dengar, Yoon Doojoon, kau punya lebih banyak kesempatan berduaan dengannya daripada Ketua Lee. You can grope her anytime whenever you want, anyway.”

“Wow,” decak Gikwang takjub, Yuri sampai melongo dan terhenti aktivitasnya mencekik Gikwang.

Mwoya? Yang setan cabul itu kau Seo Byuntae!” pekik Yuri.

YAH!” Doojoon langsung bangun dari duduk untuk menarik kencang kerah kemeja Inguk menghimpit jalur napas lehernya. Dibalas pria itu tatapan dan desahan tabah—kau, pria, tatapannya bilang, kau pria payah yang jatuh cinta. Doojoon membeku—menahan berang. “Kau—Sipit—kau menghipnotisku, ya!”

“Tuduhan tanpa bukti mudah dijerat hukum, Yoon-gun.” Inguk membalasnya dengan senyum miring.

“Demi Tuhan, aku tidak bisa hidup seperti ini,” Yuri memegang kening—mendadak pening, beranjak dari kursi setelah menghabiskan potongan terakhir cheesecake dan mencuri teguk coffee-mocha Inguk hingga ludes. “aku duluan, masih banyak urusan, dan kalian bertiga pria-pria pengangguran, renungilah dosa-dosa kalian.”

Sepeninggal Yuri dari meja, cerocos Gikwang langsung menyembur-nyembur bak shinkansen, “Tidak aneh dia belum menikah di umur segitu, wueks, leherku! Dasar ahjumma telat kawin! Satu-satunya yang bagus dari dia cuma kekuatan ototnya! Grrrr!”

“Terus dada dan perutmu itu apa? Pantat Ayam?” semprot Inguk skakmat. “Kau juga sama saja, Minion!”

“Aish,” Doojoon membanting pandangan ke luar jendela, menghiraukan kelangsungan pertanyaan tolol Gikwang dan keluhan Inguk mengenai pipinya yang jadi korban kesewenangan-wenangan wanita penjajah. Kapan aku bisa pindah Tim, deritanya.

***

Sooyoung baru saja menyadari sesuatu, dan Doojoon menyadari ini dari sorot matanya yang menajam tetapi gerakannya melambat; kakofoni di luar sana, dan aroma yang tak Doojoon mengerti, Sooyoung berkata, menghujam udara. “Kupikir sebentar lagi akan turun hujan.” Suatu kali, Sooyoung bilang, menatap keluar dinding rumah kacanya. “Aku bisa mencium aroma tanah mendekat.”

“Aku tidak mencium apapun,” Doojoon membaui sekitar, meski tak dapat mencium bau yang disebut.

“Aku menciumnya lewat jendela,” jelas Sooyoung, “dan aku bisa merasakan cahaya alami semakin menipis.”

Semua itu menjadi jelas ketika langit dalam sekon-sekon selanjutnya menggelap mendung. Doojoon lalu menarik tangan Sooyoung masuk ke dalam rumah, barangkali akan hujan yang dikatakan gadis itu benar.

Lagi-lagi ia tak menyadari langgaran privasi yang dengan ini terhitung berulang, membunyikan alarm di kepalanya untuk segera melepas lingkar tangan yang kecil itu—bersama ketidakrelaan sebetulnya, dipendam oleh suaranya saja, “Duduklah.”

Sooyoung mendudukkan diri di antara bantalan kursi, didengarnya suara keran wastafel mengucur. Setelah Doojoon mencuci tangannya, ia ikut duduk di samping gadis itu, membuat Sooyoung sedikit bergeser, matanya mengawah pada meja yang kosong, selain krisantium terpajang yang hampir layu. Baunya, tidak sesegar kemarin-kemarin.

“Bunga itu … Krisan, yang sengaja kau simpan untuk Joon-hyung …,”

Nde?”

“Apa arti bunga itu?” Doojoon berjongkok di samping meja, menyentuh ujung kelopak krisan yang meredup dimakan waktu. “Kau sengaja menyimpannya di sini, selain karena Joon-hyung menyukainya, sebagai penghias ruangan kah?”

“Di Eropa, krisantium berarti kematian,” ungkapan ringan Sooyoung sekaligus menjawab keheranan Doojoon. Datar raut gadis itu diiringi monotonisnya menjelaskan, “namun di Jepang, krisantium berarti kebahagiaan.”

“Kenapa ia memiliki dua arti berlainan?”

“Justru karena dua arti yang saling bertolak itulah, Joon-oppa menyukainya, ah … hingga kini aku pun belum memecahkan dengan pasti.”

Dan dua belah bibir pinkish itu melengkung, kristal honeydew mengarah padanya, lentik bulumata yang menyamarkan matanya, bayang-bayang menambah artistik wajah Sooyoung. Ia hanya bodoh, menyadari bahwa kecantikan Choi Sooyoung mungkin menyaingi seorang Aphrodite sekalipun (bila legenda menyebutkan bahwa Dewi Cinta adalah yang tercantik, maka Doojoon meragu), apa yang membuat Sooyoung bermandikan sinar lampu terlihat begitu aneh (aneh, cantik, terlalu cantik) hingga mampu mengikis habis napasnya?

(“… You can grope her anytime whenever you want, anyway.”)—ditambah, teringat perkataan Seo Inguk di saat begini, sungguh tidak bagus.

Doojoon beranjak dari simpuhnya, memposisikan diri di lurus pandang gadis itu, dimana Sooyoung duduk dan merasakan kehadiran Doojoon tepat di depan mukanya. Doojoon tidak bilang apa-apa, hanya menyampirkan helaian brunette Sooyoung ke belakang daun telinganya. “Doojoon, apa yang kau lakukan?”

“Aku penasaran akan sesuatu.”

Ia mungkin—telah—berkelakar seperti predator tanpa tanggung jawab, seperti bagaimana Sooyoung menaikkan seluruh indra ke batasan yang lebih awas. Lucu melihat tangan gadis itu mengepal percuma. “Tidak. Yoon Doojoon, berhenti.”

Alarm itu mati—cela Doojoon naif, sengaja mendusta agar ia dapat menutup kosong di antara mereka, dan sepasang kenyal bibir itu menyentuh ujung hidung Sooyoung, cukup di ujung hidung. Memasrahkan Sooyoung terkejut, dalam tempo yang tak membuatnya berpikir jernih untuk dapat mengatupkan mata dan bibirnya, dan dingin namun menerima itu tanpa pergerakan tambah. Telapak tangan Doojoon mengkover tengkuk Sooyoung, yang di luar dugaan amat kecil, mungkin rapuh, dan ia berhati-hati. Namun tak sampai hati ia mencuri ciuman bibir Sooyoung karena terlanjur gadis itu mendorong pundaknya defensif.

“Kau tidak suka?” lirih Doojoon bertanya.

Sooyoung menunduk, tidak mengelak bahwa jantungnya berdentum, namun pikirnya salah. Telunjuknya menyentuh bibir Doojoon. “Cukup sampai sini.”

“Apa karena Lee Joon?” tanya Doojoon lagi, hawa panasnya menguar, keningnya beradu rapat dengan kening Sooyoung.

“Aku mohon … jangan.”

“Kenapa?” tenggorokannya tersendat ketika ia tanyakan lagi, yang seharusnya sejak lama telah menjadi satu-satunya peringatan normatif Doojoon untuk jangan-gadis-ini, jangan dia. Ia memang bodoh—“Aku pikir … aku jatuh cinta padamu, Sooyoung-ah.”—dan hanya mengaku sebatas ini.

“Kau seorang polisi, pekerja sosial. Kau punya masa depan yang cerah, tetapi bukan denganku. Tidak dengan gadis buta seperti aku.” Sooyoung menjeda sejenak, mengambil napas dan kekuatan sebelum menambah dalam nada rendah. “Kau berempatik padaku, kau salah paham, itu bukan cinta.”

“Tidak. Bukan begitu.” Elak Doojoon. Bukan, ini bukan mengenai apa yang Sooyoung kira. Meski—meski Doojoon berangan bilamana mereka sewaktu-waktu bertemu dalam situasi yang sama sekali berbeda, dimana ia bukan seorang polisi dan Sooyoung dapat melihat—melihatnya, ia pikir, ia tetap akan jatuh cinta pada gadis itu.

Apa yang salah?

“Kau harus pergi,” Doojoon sedikit terluka ketika gerak non preambul Sooyoung menepis tangannya. “terlalu lama berada di sini membuang-buang waktumu.”

“Kau tidak ingin aku ke sini lagi?”

Sooyoung menggeleng.

“Kau membenciku?”

“Aku tidak—” Sooyoung mempause, “bukan seperti itu …,”

“Kalau begitu, karena kau pasti tidak akan datang ke kantor lagi, maka bolehkah aku tetap mengunjungimu di lain hari?” pintanya. “Aku mohon?”

Bukan jawaban yang Doojoon terima, melainkan diam seorang gadis yang ia artikan sebagai iya. “Baiklah, aku mengerti, terimakasih, Sooyoung-ah.” Doojoon tersenyum seperti biasa, kemudian mengenakan coat merahnya yang tersampir di sofa. Dengan hasil kunjungan hari itu, setidaknya ia telah mengutarakan apa yang membuat risau dirinya sejak Choi Sooyoung mencuri napasnya dengan kristal kuning menyala itu (ditambah, sentuhan sederhana namun menyetrum yang dapat menghilangkan gravitasi Doojoon kapan saja, Choi Sooyoung, tentu kau tidak tahu).

***

16

Malam itu, Sooyoung menerima telepon dari Lee Joon menginformasikan bahwa lagi-lagi, pria itu sibuk dan melupakan jadwal berkunjung. Sooyoung mempererat genggaman pada ponsel pintarnya. Memberanikan diri bertanya dengan susah payah—nada yang biasa, normal, “Oppa dengan Tim … begitu sibukkah minggu ini?”

Joon mempause agak lama sebelum memberi jawaban, “Ya.” Singkatnya. “Apa yang akan kau lakukan selama aku tidak ada?”

Maka Doojoon juga akan sibuk, mereka, Joon-oppa dan Doojoon, bukankah keduanya bekerja dalam satu Tim?

“—young.”

(“Aku pikir … aku jatuh cinta padamu, Sooyoung-ah.”)

“Sooyoung-ah.”

17

“Ah—ya. Maafkan aku.”

“Apa yang kau lamunkan?”

“Aku—(Yoon Doojoon, aku melamunkan pria lain dan bukannya kau)—aku akan kesepian, kalau begitu.”

“Haruskah aku minta maaf? Aku selalu mengecewakanmu,” ia mendengar nada penyesalan yang sama dari Joon, selama ini, selalu begini.

“Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya.”

“Baiklah, jaga dirimu, selamat malam.”

“Um. Selamat … malam.”

Panggilan ditutup dengan jantung Sooyoung yang berdetak lebih cepat dua kali lipat dari dencing metal jam dinding. Satu yang ia tahu, detakan itu sama sekali bukan untuk pria di seberang telepon.

(Apabila ia mereka adegan dalam memonya, kecupan singkat itu, ia dapat merasakan dengan jelas bibir Doojoon yang kering menyentuh kulitnya—ujung kulit hidungnya—untuk pertama kali, perlakuan sederhana seorang pria mampu begitu memikat dan anehnya, panas di wajah, deru napas, perasannya—asing. Ia merasa kembali berumur tujuh belas.)

***

Sejak beberapa hari yang lalu, Sooyoung telah menghitung mundur.

Dimulai dari penanggalan ketika telepon terakhir Joon memberitahukan kesibukannya, juga permintaan Doojoon untuk tetap diperbolehkan mengunjunginya, telah Sooyoung hitung untuk entah yang ke berapa hari, sebab terlalu banyak, terlalu jenuh.

Di tengah masa-masa kesendiriannya di toko, selain dari melayani pelanggan yang datang dan pergi menyapanya, berdialog dengan mereka, bermain dengan Suri, ke taman, dan berbelanja ketika persediaan makanan habis, Choi Sooyoung menemukan dirinya merindu seseorang. Selain orangtuanya, selain Lee Joon. Melainkan dia.

18

Tiap lelap malam, ia bermimpi dan mengingat mimpinya. Berada dalam peluk seseorang, Yoon Doojoon, namun jauh dari gapaiannya, raut kesepian Lee Joon, berbalik memunggunginya, lalu meninggalkannya, lalu memudar ditelan awan. Apa artinya? Lee Joon akan meninggalkannya? Mengapa? Apa karena Doojoon?

Setiap kali—bukan sekali, ia mendapatkan mimpi seperti itu. Ketika ia terbangun, meraba pinggiran ranjang—yang selalu kosong, biji peluh berjatuhan dari wajah ke lehernya, membasahi semuanya, ia mendekap selimut kuat-kuat, memejamkan mata, mencoba kembali terlelap walau nyatanya ia akan terjaga hingga udara menghangat.

Absurd.

Di malam yang lain, mimpi itu akan datang dengan sedikit oposisi di sana-sini. Sooyoung teringat akan seorang pengunjung misterius yang masuk sebentar lalu ke luar lagi, tanpa mengatakan apa-apa kecuali meninggalkan bau parfum menyengat. Mimpi ini tetap mengenai Yoon Doojoon, sedang yang mendistraksinya adalah sosok lain itu, bukan Lee Joon. Ia ditatap tajam, oleh sosok tinggi dan dingin itu, entah siapa. Dia menarik pelukan Yoon Doojoon darinya, lalu keduanya—Doojoon dan sosok tidak jelas itu—menghilang di telan gelap.

Dan ketika terbangun (lagi), ia berpikir, berpikir—(Apakah aku gadis yang serakah? Naif? Mengapa?)—dengan napas tersengal, ia kembali akan terjaga serupa everest mencair.

***

Esok hari pun tak semulus yang ia kira.

Sebab ada seseorang yang memerhatikannya.

Dalam langkah-langkah kecil menuju tujuannya, bersama Suri, bilamana ia menoleh mungkin saja sejentik kehadiran seseorang ada di sana, melarikan diri dari tatapannya yang memang tak dapat menangkap, namun Sooyoung dapat merasakan ketika dirinya tengah diawasi. Seperti pengalamannya, Lee Joon, kekangan yang sedikit berbeban lebih dari perhatian—Sooyoung rasakan tak jauh berbeda dengan sekarang.

Namun seseorang ini, bukanlah Joon. Joon tidak berjalan mengendap, Joon tidak mengawasi terlalu dekat, tatapan Joon tidak sefrontal itu—

Ia percepat langkah pulang, tetapi orang itu—yang tak menyerah jua, membuntutinya. Hosh, hosh, hosh, napasnya bertemu pintu kayu. Bergesek dengan kenop, sigap ia putar dan masuki.

Orang itu pun tiba di sana, di balik pintu (firasat jelek Sooyoung terbukti benar). Walau sejengkal, tetapi tetap bisa Sooyoung rasakan pergerakan dari luar pertanda atensi seseorang. Apa niat orang itu sebenarnya? Sooyoung menduga akan orang yang sama yang mengunjunginya tanpa salam dan meninggalkan bekas parfum waktu itu, sebab aroma ini pun … sama.

(Karena—)

Deg. Jantungnya berpacu. Sampai titik dimana ia sanggup melupakan detakan yang lain kecuali hiperbol otot sarafnya, merasa gusar dan terancam.

Tuk.

Orang itu menyentuh kenop pintu. Tubuh Sooyoung gemetar, kenop pintu ia tahan semampunya, dengan sisa napas dan tenaga akibat kikisan ketakutan—namun yang dikira akan terbuka pintu itu, tidak bergerak sama sekali.

(Karena tangan itu menjauh.)

“Sooyoung-ah …,” dan suaranya dalam, lembut (terinterpretasi sirat-sirat ancaman dalam sebait tanya selanjutnya), “negakkieok?”

19

***

Jadwal kosong setelah berhari-hari disibukkan dengan kasus pembunuhan berantai (yang akhirnya sang pelaku dapat tertangkap), terimakasih kepada rekan-rekan kerjanya dan tentu saja Ketua Tim Lee Joon, hingga hari dimana Doojoon dapat melonggarkan dasi. Ia tertarik untuk mencermati surat berlogo yang ditutup rapat di antara ceceran kertas. Dibuka dan dibacanya secarik itu, tak ada reaksi yang lebih pantas selain mengernyit—kemudian mendengus. Rupaya NSS belum menyerah jua, Doojoon membuang surat itu ke tempat sampah, maka seharusnya mereka tahu bahwa ia—sampai kapan pun—akan berikan jawaban sama. Ia tak butuh NSS.

Bergelung Doojoon dengan pikirnya, pekerjaannya sekarang memang bukan impian namun ia merasa tengah berada dalam fase aman (rekan-rekan kerja menyebalkan, pimpinan misterius, dan seorang gadis yang menarik), ia rasa alasan itu cukup sebagai mengapa NSS bukan langkah karir yang benar.

Jarum jam tahu-tahu cemas dan menatapnya, Doojoon terhenyak, senja hampir habis! Bukahkah ia merencanakan kunjungan ke Unnamed Flower Shop’s Choi Sooyoung hari ini? Oh—hampir saja!

Sebelum berangkat, ia memarkirkan mobil ke sebuah restoran kudapan dan membungkus tiga porsi pupur untuk dijadikan buah tangan, dalam jejak-jejaknya, dan ketika sampai pada titik dimana ia mengetuk pintu, agak berdegup di dada dan khawatir apakah ia menganggu bila muncul tanpa menghubungi terlebih dulu? (Tetap saja simpul senyum itu menapak mengusir segala hal negatif lainnya—ini kejutan, mungkin).

Ting! Tok, tok, tok—

“Sooyoung-ah?” panggilnya, dengan nada spesial tersendiri terserap oleh gadis bersurai sewarna tanah.

20

Mulanya, mimik gadis itu adalah … terkejut. Nun kesimpulan lain atas merah pada pipinya, merambat ke hidungnya, dan terjatuh dalam bentuk tetes-tetes—Doojoon tidak mengerti ada apa.

“Hei, kenapa menangis?”

Airmata gadis itu tidak berhenti mengalir. Mimiknya mengungkap jengah dan gerah yang tak mampu Doojoon dengar. Bagaimana pilu gadis itu merindunya setiap malam. Dalam mimpi, seruan fakta dan fiksi mengenai apa yang bisa dan tidak bisa ia miliki.

Sooyoung hanya berdiri di depan Doojoon dan terus menangis. Ia tidak tahu—tidak tahu bahwa airmata adalah wujud dari rasa sayang. Bahwa dengan mendengar suara pria itu, rindunya melewati batas kecukupan. Sejak kapan Yoon Doojoon membuatnya terjatuh begitu dalam?

“Sooyoung-ah, apa yang terjadi?”

Doojoon tetap bertanya walau nol jawaban ia dapat. Ia mendorong pundak Sooyoung perlahan-lahan, menutup pintu rumahnya, hingga lelah atas hatinya, sekenanya menatap wajah cantik itu lamat-lamat—menahan diri untuk tidak memeluknya saat itu juga dan mengatakan bahwa; ia juga rindu.

***

“Sampai kapan kau akan menghiraukanku?”

Sudah tigapuluh menit sejak Doojoon masuk ke dalam rumah, dan membiarkan bubur dalam plastik itu mendingin. Tangis Sooyoung membisu bersama kata-katanya. Suri yang biasa di sampingnya tertidur tenang, tidak terganggu.

Napas panjang Doojoon berhembus, dalih atas frustasi—lama-kelamaan—karena Sooyoung tak kunjung meresponnya, “Tunggulah di sini, aku akan menghangatkan buburnya.”

Tapi cubitan Sooyoung pada mantelnya, menghentikan langkah Doojoon. Menunduk ia, perlahan melepaskan tangan Sooyoung di sana, mengisyaratkan sebentar saja, kemudian diusapnya butir peluh pada dahi Sooyoung.

“Baiklah, selagi kau menungguku menghangatkan bubur, sebaiknya kau istirahat. Aku bisa melihat jelas lingkar hitam di bawah matamu, ckckck … sebetulnya sesibuk apa kau ini sampai tidak tidur dengan baik?” Sooyoung menampar risih lengan Doojoon sedikit menyenggol pundaknya—raut Doojoon melemah, niat baik menggendongnya ke kamar ditolak mentah-mentah (alasan selingan, oke, keinginan menyentuh walau cuma seukur kuku). “Kau bisa berjalan sendiri ke kamar?”

Tangan Sooyoung bergetar ketika kali ini, bukan pada ujung kemeja ataupun mantelnya, melainkan menahan tangan Doojoon. Tanpa menjawab pernyataan Doojoon, ia bertanya, “Mau kemana?”

Ah.

Agaknya Doojoon mulai paham apa yang terjadi.

“Aku tidak akan pergi lagi. Aku janji.” Ia bilang, melembut, sembari usapan kecil pada dahi Sooyoung, poni tirai yang basah oleh stress. Doojoon membayangkan seberat yang telah dilalui gadis itu selama ia tidak ada hingga mengakibatkan kekacauan kondisinya. “Jadi sekarang. Kau, tidurlah.”

***

Jadi, butuh waktu sepuluh menit untuknya mendorong pintu kayu itu lagi dan menemukan Choi Sooyoung (yang tidak berderit ketika bergesek dengan ubin), mendongak dengan ketersiapan dan kelegaan yang bergantian begitu cepat. Doojoon menatap Sooyoung tepat di mata. Dua mangkuk bubur ia taruh di meja samping pembaringan.

“Sooyoung-ah, apa aku boleh bertanya?” ia memanggil gadis itu dengan detak yang berakselerasi tidak sejalan dengan denting dan detik konstan pada perkakas dinding waktu.

Sooyoung menunggu.

“Apa yang kau pikirkan tentang aku?”

Nun lidah Sooyoung kelu. Pikirnya gelap, untuk sesaat. Padahal Doojoon ada di sana, di sampingnya, dan Sooyoung meminta dengan tanpa ungkapan lisan bahwa ia ingin Doojoon berbaring mendekapnya—ironi sekali mengingat berkali-kali aksi penolakannya membuat Doojoon dibabat dan tergerus—tetapi kini yang ia inginkan adalah itu. Dan Doojoon, entah bagaimana, melakukannya tanpa komentar—selain pertanyaan awalnya yang Sooyoung sendiri takut untuk tanyakan pada dirinya.

Apa yang aku pikirkan tentangmu?

“Aku tidak memikirkan apa-apa tentangmu,” mulai Sooyoung, napasnya menerpa dada Doojoon, telinganya kini dapat mendengar jelas debar-debar pria itu. “tetapi ketika aku memikirkan bahwa kau tidak ada, rasanya menyakitkan.”

Butuh waktu antara sedetik hingga tak terbatas bagi Doojoon untuk dapat menyerap konfesi itu.

Sekali lagi, konfesi.

Dan saat ia berkedip sekali, ia masih terbangun, ia merasakan jantungnya, merasakan hangat tubuh Sooyoung menempel di antara lengannya. Sentuhan jarinya pada dagu Sooyoung yang mungkin kasar, membakar dalam rasa yang sama ketika pertama kali Sooyoung menyentuh wajahnya, dan membawanya dekat untuk mengecup hidungnya.

“Apa kau paham dengan apa yang baru kau katakan?” senyum tersembunyi itu tak membohongi siapa-siapa kecuali Sooyoung—yang kemudian menggeleng, dan tangannya mencengkram erat lembar kemeja Doojoon—seolah itu penentuan untuk hidup atau jatuh.

“Aku tidak tahu, Doojoon. Apa ada yang salah dengan kata-kataku?”—untuk alasan polos ketidakmengertiannya, yang salah adalah mengapa kau begitu inosen?

“Apa kau mempermainkanku?” sekali lagi, Doojoon bertanya. Meski Sooyoung memberi respon yang sama, sebuah gelengan. Doojoon menghapus setitik airmata tertinggal dengan ibujarinya, “Atau kau ingin aku akan menciummu?”

“Kau sudah pernah—” semburat semu terplester di wajah Sooyoung, “—waktu itu, dan tadi …!”

“Aku tidak ingat pernah melakukan apapun.” Senyum dan jahilnya teralis jadi satu, baiklah, Doojoon menyimak kebodohannya sendiri. Jadi pada akhirnya ialah si setan cabul yang dibilang Inguk. Ia hanya memerhatikan, pinkish itu, dari hari ke hari, dan merasa semakin kurang ajar ketika kemarin malam mimpinya mempertontonkan siklus kencan adam dan hawa—ah, lupakan saja.

“Doojoon—”

“Maaf, maaf. Jangan anggap serius kata-kataku. Tidurlah, sudah malam.” Doojoon harusnya bangkit daripada membiarkan nalurinya tersalur dengan salah, bilamana ia tidak mendengar kalimat Sooyoung yang sempat tersela tadi.

 “—kau boleh melakukannya, mungkin.”

“Mungkin?”

“ … ya.”

Dan Doojoon terkekeh—menyaksikan dengan tanpa pengaruh internal senyum gadis itu malu-malu ke padanya. Seperti pria yang jatuh cinta pada umumnya, ia sampai pada titik dimana ia tidak sanggup menahannya (lagi).

Doojoon hanya perlu membawa dagu Sooyoung mendekat untuk ia beri ciuman manis pada bibirnya yang sedikit terbuka, di sela aroma terpentin dan bertalu-talu di balik kulitnya—kulit mereka, dan tanpa melepas tautan—bibir kering Doojoon bergerak, meminta, “Pejamkan matamu, Sooyoung-ah.”

Sooyoung menurutinya. Dituntunnya kedua tangan Sooyoung, melingkar di leher Doojoon, teredam dan timbul bibir mereka bersama detik metal dan uap bubur yang mulai terlupakan. Seolah terhenti. Semua tak berarti lagi tatkala manik madu yang membuat Doojoon meleleh itu turut menikmati, cara ketika Doojoon memiringkan wajahnya untuk mengecup dagu Sooyoung, dan pipinya, dahinya, turun ke kedua kelopak matanya, lalu hidungnya lagi, dan—dan jatuh ke bibirnya.

Malam ini, ia tidak begitu ingin pulang.

**

“YOON Doojoon, bangunlah,”

Berjengit Doojoon dari lelapnya. Di dalam ruangan—kamar bernuansa puccino itu—setelan kemarin yang telah terlepas, berganti kaus dan celana (tetap) katun, segar betul dalam ingatannya. Sooyoung membiarkan kelopaknya menutup kembali beberapa detik, Doojoon menghambur di tengkuknya, berencana tidur lagi.

“Kau harus pergi kerja,” Sooyoung bergerak-gerak dalam kukungannya, kepalanya menengadah sehingga dapat menangkup rupa pias Doojoon dengan lembut, oleh kedua tangannya.

“Aih … aku dapat cuti atas kerja kerasku di hari-hari yang lalu, percayalah,” suaranya lelah, Doojoon kemudian meraih tengkuk Sooyoung dengan bibirnya.

“Ah—”

“Geli?”

“Kenapa mencium leherku—”

Polos sekali.

Semu dan rona di pipi Sooyoung, Doojoon mendongak untuk ia sentuh dengan hati-hati, layaknya salah satu dari ukiran termahal yang pernah dibuat. Mencari-cari hal lain, barangkali, selain putih pada pengalaman pertamanya bermalam dengan seorang pria.

“Itu—bukan geli. Tapi rasanya aneh.”

Doojoon sengaja berdeham. “Aku tidak akan melakukannya lagi jika kau tidak suka.”

“Aku tidak suka, jangan melakukannya lagi.”

Melotot, Doojoon tidak tahu Sooyoung akan serius menanggapi gelagat isengnya. Gelagapan ia beralasan (jujur saja tidak mungkin ia menghilangkan kesempatan mencumbu selanjut-selanjutnya), “Errr—tapi tidakkah itu sedikit menyenangkan bisa merasakan hawa panas seolah darahmu ikut mendidih?”

“Itu yang kau rasakan?”

“Uh …,”

“Kenapa gordennya sudah terbuka?”

“Tadi aku bangun dan membukanya,” parau Doojoon yang beban tangannya melingkari perut Sooyoung, “ jadi biarkan aku memelukmu sebentar lagi—”

“Kau sudah bangun, lalu kenapa berbaring lagi?”

“Sebentar saja, sebentar lagi.”

Sebab Sooyoung tercium seperti dedaunan yang berembun—green tea, tepatnya. Menjelang subuh sebelum mentari naik, di puncak bukit, sejuk dan hijau di sekeliling—adalah yang Doojoon rasakan ketika Sooyoung berada di dekatnya. Gelombang helai-helai rambutnya menggelitik wajah Doojoon saat ia menghirup aroma itu lebih dekat—Joon-hyung terbukti benar soal keadiktifan Sooyoung.

Sooyoung merengut seraya tangan kecil itu mendorong dadanya. Kendati terselip bujuk sesal dalam kekehannya begitu mendengar gerutuan Sooyoung, namun Doojoon tetap pada usilnya yang Sooyoung kenali—dan mungkin sukai. Mengatakan maaf tetapi aku tidak akan berhenti menciumimu.

“Sooyoung-ah,” di antara ceruk lehernya, Doojoon memanggil, dengan matanya yang terkatup, “kau bisa tahu bahwa gordennya terbuka. Artinya, kau bisa merasakan cahaya matahari?”

“Aku bisa,”

“Boleh aku bertaya lagi?”

“Kau sedang mencoba menginterogasiku?”

“Ahaha—bukan, aku hanya penasaran, tentang … matamu.” Ucapnya. Goldilocks itu, yang Doojoon damba ketika pertama kali melihatnya, berkilau dan memesona. “Aku suka warna matamu.” Sambungnya.

21

“Aku bahkan tidak tahu apa warna mataku sekarang, putih tanpa bulatan hitam seperti hantu?”

Doojoon tergelak kecil, gadis ini sungguh lucu, “Kenapa? Bukankah keren punya mata seperti itu?”

“Jadi benar mataku begitu?”

“Ah—jinjja—”

“Kau tertawa, kau bohong ya!” dipukuli Sooyoung, Doojoon menghentikan tawanya dengan terbatuk-batuk, lalu Sooyoung menuntunnya menoleh dan menatap. “Jahat, kau menjadikan gadis yang tidak bisa melihat sebagai bahan lelucon!”

“Memang betul, kau tidak bisa melihat,” Doojoon membelai pipi Sooyoung dengan bibirnya, “namun melalui matamu, untuk pertama kali dalam hidupku, aku bisa melihat matahari.”

22

***

Pilihan Doojoon untuk tidak pulang ke rumah kemarin malam—menginap di tempat Sooyoung, adalah penyebab scarf merah yang melingkari lehernya kini. Kejadiannya adalah tadi pagi, sebelum Doojoon melangkah keluar pintu, Sooyoung berdiri dan terdiam sedikit lama, dan tahu-tahu berjinjit untuk melingkari selembar penghangat ke kulit lehernya (dan tolong jangan ingatkan Doojoon pada momen dimana Sooyoung meraba-raba sebelum scarf itu mendarat di tempat yang seharusnya—sampai ia  tak berani melihat cermin).

“Memang jelek, tapi di luar dingin,” katanya, bukan awal tahun, namun bulan memang belum bersahabat. Sooyoung benar, napasnya saja beruap.

Setelah itu, Sooyoung melangkah mundur, tanpa menambah kata-kata lagi membiarkan Doojoon berangkat dengan suhu (dan hati) yang lebih hangat. Oh, sungguh, yang membuatnya berbunga-bunga adalah ia tahu, bahwa syal merah yang Sooyoung berikan padanya ini, adalah favorit gadis itu.

***

“Hei,” tangan berlapis sarung hangat Gikwang menepuk pelan pundaknya setibanya ia di parkiran, beberapa langkah keluar dari mobil, Gikwang dan Yuri di sana, keluar dari mobil yang sama. “kau … tampak berbeda hari ini.”

“Kau juga—kalian, berangkat ke kantor bersama-sama?” Doojoon menunjuk satu-satunya inspektur wanita dalam tim, memberi sinyal selidik. Gikwang berdeham membalasnya, kami hanya bertemu dalam perjalananan kemari. “Oh, ya?” Doojoon ragu.

“Tapi tidakkah yang aneh adalah kau?” Gikwang mencubit ujung rajutan wol itu dengan dua jarinya, scarf yang dikenakan Doojoon. “Style yang bagus, pffft—” lalu menahan tawa.

“Benarkah? Ah, aku pikir juga begitu! Terimakasih!”

“Kau tidak peka? Itu bukan pujian,” serampangan Yuri bicara, “aigu—darimana pula kau dapat barang semacam itu, ck!”

Doojoon hanya memamerkan senyum khasnya, tidak peduli kritikan Gikwang akan selera fesyen scarf yang kuno dan terlalu feminin, daripada bagaimana bentuknya, kau harus lebih tahu bagaimana perjuanganku mendapatkannya bagaikan anugerah. Yuri menghela napas, rengekan perutnya tidak bisa berkompromi lebih lama di antara perdebatan dua orang bodoh, lekas menginjak kaki Gikwang agar diajaknya pergi.

“Ayo kita makan.”

“Wow, aku memang belum makan, kau tahu saja, Inspektur!”

“Ini karena aku juga lapar, ayolah.”

Doojoon tertinggal beberapa langkah di belakang, “Wah … kalian meninggalkanku? Omona, jinjjayo? Aigeu …,”

“Cerewet, bilang saja kau juga mau ikut!”

“Kau tahu saja Inspektur, kkaja!”

“Aish … Tim ini hanya berisi orang-orang tukang makan.” Dumal Yuri disertai senyum kecil—bukan kesal kali ini.

***

Sepanjang sisa harinya, Sooyoung biasa dalam rutinitas memetik rose, anggrek, dan atau baby breath dengan hati-hati dan merangkai buket, kadang Sooyoung merona akan memori-memori baru yang ia sisihkan rapat-rapat dalam sudut privasi hidupnya—bersama Yoon Doojoon, seperti kebanyakan perempuan yang, jatuh cinta.

Namun tidak kali ini, ketika kunjungan surprise beberapa menit setelah kepergian Doojoon ke kantor, Joon tiba dengan sekantung buah tangan dan sekejap pelukan—memergoki apa yang susah payah disembunyikan. Berdiri dinding awas Sooyoung.

“Sepertinya ada yang datang kemari sebelum diriku.” Kalimat itu dikatakan sederhana dan ringan, namun menjadi kalimat yang membuatnya dapat bermimpi buruk, tenggorokannya tiba-tiba kering. Joon-oppa, apakah ia memerhatikan? Tidak—ia, memang selalu memerhatikan.

“Sepagi ini, memang siapa yang datang, Sooyoung-ah, pelanggan kah?”

Sembari menjaga wajahnya tetap datar, Sooyoung tidak menjawab melainkan mempersilahkan pria itu masuk. Lagipula, Joon tampak tak memerlukan jawaban. Meski dibalas keengganan nyata bersama kelekatan aristokratis, Joon beralasan ia kemari hanya sekadar mampir dan memberikan oleh-oleh.

Tapi tidak berjalan selaras itu—

“Mengapa Yoon Doojoon?”

Sooyoung merasa pening seketika. Mengapa Yoon Doojoon? Ia ulang lagi pertanyaan serupa untuk dirinya. Mengapa? “Aku tidak tahu. Apa yang Oppa bicarakan?”

“Dari sekian banyak pria, mengapa Yoon Doojoon?” Sooyoung terbanting oleh retoris itu—angannya, dan terus bertanya-tanya mengapa. Membiarkan Joon memeluknya sangat erat sembari dibisikkan sekalimat di dekat telinganya, “Semua hal ada konsekuensinya, Sooyoung-ah.”

***

Di antara langkah-langkah cermat sol-sol sepatu hingga ke sapuan mata pemiliknya terhadap dinding dan board di depan ruangan, ini adalah hari pertama Tim Lima Divisi Intel bertemu kembali setelah kasus terakhir yang mereka tangani beberapa hari lalu—yang diselang libur istirahat.

Joon sedikit mengernyit ketika tiga orang staffnya hadir bersamaan, sementara Inguk telah datang lebih dulu daripada mereka, tengah memilah-milah dokumen objek kasus kali ini.

“Maaf, kami tadi sedikit terjebak pertengkaran konyol Inspektur Kwon dengan seorang ahjumma yang menyerobot antrean di Restoran China.”

Yuri menepuk bokong Gikwang kelewat keras. Doojoon mengerling pesan lewat matanya menyuruh Gikwang segera duduk dibanding melaporkan kesintingan Kwon Yuri lebih jauh, untuk berakhir di meja sidang Ketua Tim tidak lebih buruk daripada bunuh diri.

Doojoon membuka suasana hangat dengan menyimpan kopi yang dibelinya sekalian pulang dari Restoran tadi, di masing-masing meja Inguk, Gikwang, Yuri, dan Lee Joon.

“Ckckck, kalian masih bisa sarapan di saat-saat genting begini?” Inguk menyindir tanpa melihat kerutan kesal di kening Yuri.

“Tutup mulutmu, minum saja kopinya.” Yuri mendesis sinis, “Sudah untung kami bawakan sesuatu.”

Menghela napas, lantas Joon membuka pertemuan dengan masuk ke pokok pembahasan daripada berlarut dalam debat tidak berguna antar anggota Tim. “Doojoon-ah, kau yang bertanggung jawab melacak keberadaan Park Haejin.”

23

“Kasus orang itu dibuka lagi?” Doojoon berjengit, Inguk menyodorkan berkas-berkas pelaku yang bersangkutan tadi ke padanya—foto dan informasi personal Park Hae Jin.

24

25

Doojoon membuka lembar demi lembar, dari profil Park Haejin, ke latar belakangnya, dan seterusnya, sembari Joon menerangkan tanpa hambatan, “Ini bukan kasus lama, tetapi belakangan terjadi pembunuhan berantai di daerah Gyeonggi-do.”

“Kenapa Tim Investigasi menyimpulkan bahwa tersangkanya adalah Park Haejin?” Yuri mendekat ke sisi kiri Doojoon, ikut melihat profil diduga tersangka yang tertera di sana.

26

“Ini bukan simpulan mereka, ini spekulasiku,” Joon berdiri di sebelah blackboard, tertempel foto-foto mayat dari TKP, ia menunjuk salah satu foto, berfokus pada satu titik di pergelangan tangan sang tak hidup.

“Itu …,” Gikwang menggumam, “apa itu?”

“Yah, aku kira kau tahu!” Gikwang mendapat luka di kepalanya, dari Yuri. “Itu bekas suntikan, iya ‘kan?”

“Bekas suntikan.” Inguk memamerkan seringai tipisnya, “Psikopat ini menyukai darah.”

“Bukan itu,” Joon menyela untuk menyambung dengan keluwesan dan kepercayadirian di atas Inguk, “dia melakukan aksinya hanya ketika turun hujan, sebab darah akan tercium lebih amis bila terkena air, maka yang disukainya bukan darah, melainkan aromanya.”

“Menyukai bau darah? Psikopat macam apa lagi ini …,” Yuri menyerocos untuk dirinya sendiri namun sayang Joon dapat mendengarnya.

“Total korban hingga saat ini adalah 11 orang, semuanya wanita, belum menikah, dan rata-rata mereka tinggal sendiri atau tengah sendirian berada di rumah,” Joon bilang, dengan meninggikan volume suara, seraya tuk tuk tongkat penunjuknya mengetuki papan kaca di hadapan mereka.

Doojoon, yang sedari tadi mendengarkan dalam pikirnya, mulai was-was ketika Joon memaparkan informasi-informasi seputar korban. Begitu mendapat kesan muram di wajah Joon, Doojoon tahu bahwa Joon cemas, semua ciri-ciri itu ada pada Sooyoung.

Sepersekian sekon berlalu dengan bidikan kilat kelereng cokelat Joon padanya, ada ekspresi yang tak dapat Doojoon terka. Namun sejauh ini, ia dapat mengerti perasaan laki-laki itu—mungkin, mungkin, tatkala disadarinya bidikan itu merupakan sinyal untuk waspada.

Lee Joon tahu, bahwasanya ia juga cemas—mencemaskannya.

***

“Kenapa Ketua memberiku tugas melacak keberadaan Park Haejin?” pertanyaan itu berulang dalam kepalanya, berhasil meloncat dari mulut ketika jarum panjang menunjuk angka waktu berakhirnya pertemuan, dan hanya ada mereka berdua dalam ruangan.

Doojoon sengaja menunggu Joon selesai berbenah. “Karena kau juga mengkhawatirkan dia.”

Mulutnya terdesak, akan keinginan untuk membalas ungkapan itu juga namun, sebatas tertahan di ujung lidah. Sebab ia tak dapat menemukan pilihan selain menurut, menyingkirkan ego yang ingin dilontarkannya, menuduh bahwa, Joon tengah menjadikannya pion demi keuntungan orang itu sendiri.

Tapi tidak, memberi perintah adalah wewenang sang ketua.

Maka Doojoon mundur teratur dari keegoisannya, kembali dalam rasa hormat melihat Joon selesai dengan barang-barang itu, kini menghadapnya.

Joon berputar, rendah tatapannya tertuju langsung pada Doojoon—tidak laki-laki itu ketahui—pikirnya, yang ia anggap Nam-dongsaeng selama ini ternyata jauh lebih berani dari dugaannya.

“Sejak awal,” Joon menepuk pundak Doojoon sembari ia melewatinya, dan berhenti sebentar untuk berbisik dengan senyuman bisnis yang dibuat wajar, “aku sudah tahu kau akan melihatnya. Selama ini aku telah lengah, dan membiarkanmu bermain terlalu jauh, tolong maafkan aku.”

Joon meniti langkahnya hingga berjarak satu ubin dari pintu ke luar, membalikkan tubuhnya seolah-olah ia adalah dinding tinggi yang lebih hebat dibanding mahogani yang bisa kapan saja ditebas, di antara Doojoon dan Sooyoung.

“Melihat hasil kerjamu, aku percaya kau bisa memuaskanku lagi,”

“Kau bisa percayakan padaku, Hyung,” terima Doojoon. “dan soal Sooyoung …,”

“Aku tidak sedang membicarakan gadis itu, Detektif. Tugasmu adalah menerima perintahku, dengan atau tanpa keinginan pribadimu.” Ia berbicara dengan intonasi datar, yang hanya dengan itu mampu membuat semua orang yang pernah bertemu sapa dengan dirinya mengerti bahwa ia tidak sedang bermain-main. Lee Joon tidak pernah bermain-main.

“Gadis itu? Dia punya nama, Choi Sooyoung,” maafkan sikap blak-blakan Doojoon tetapi rasanya panggilan yang seolah merendahkan itu tidak bisa ditolelir lagi. “dari sikapmu, Hyung, aku tahu kau berusaha membicarakan dia. Aku tahu kau ingin menunjukkan bahwa dia memang ada di sisimu, namun sikapmu yang seperti inilah … yang entah mengapa membuatku muak.”

Baiklah. Sudah terlanjur, beberkan saja semuanya.

“Jadi tolong dengarkan aku, sekali ini saja. Soal Sooyoung, kau mungkin marah. Tidak apa-apa, kau bisa marah padaku, aku memang sengaja mendekati Sooyoung.”

“Detektif Yoon—”

“TAPI, HYUNG! Kali ini, situasinya berbeda. Dia bisa saja dalam bahaya, Park Haejin adalah mantan kekasihnya, apa aku salah? Pembunuh setingkat Park Haejin tengah mengincar nyawanya, tidak seharusnya kita perang dingin untuk sesuatu yang tidak penting. Berhentilah menjadi kekanakan, Hyung, aku mohon …,”

Joon mendelik, namun ia menunggu sebab Doojoon belum selesai bicara.

“Iya. Aku sudah mencari tahu dan mendapatkan fakta itu, meski Sooyoung tak pernah cerita apapun mengenainya.”

“Ck, sesuai dugaan dari seorang detektif andal.” Joon menyingkirkan basa-basi seketika, “Langsung saja, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Doojoon tercekat, rona-rona bersalah sekaligus malu kini bersarang di pipinya, nun tak ia hindari kontak mata dengan Joon ketika dengan penuh resolusi ia menjawab lugas, “Aku menginginkan adikmu, lebih dari apapun.”

Ditatap Doojoon punggung sang ketua itu tegap, hingga ia berjalan dan mulai membawa dirinya hilang dari pandangan Doojoon, ke balik pintu, dalam momentum terakhirnya yang terasa mutlak, Doojoon mendengar, “Ini mungkin kasus terakhirmu sebagai polisi. Begitu pelakunya tertangkap, aku akan langsung mengurus mutasimu ke NSS, tawaran mereka sudah terlalu lama kau anggurkan.”

Bam! Pintu itu berdebum pelan di balik punggung Doojoon, meninggalkan hening akan kesendiriannya kini dalam ruangan diskusi.

Berdecih Doojoon kemudian, “Kau juga sama saja, kenapa tidak langsung kau katakan isi hatimu? Jikalau kau ingin aku menyerah pada Sooyoung dan segera meninggalkan kota ini.”

***

Sejenak, nihil reaksi bahagia yang kentara dari Sooyoung akan kedatangannya yang tak bilang-bilang. Setelah menekan bel rumah sederhana itu, ting ting bunyinya memecah kesunyian malam, mungkin sedikit mengusik tetangga, tetapi Doojoon tidak bisa menunggu esok hari untuk menemuinya.

Garis muka Doojoon agak mengkerut, mendapati Sooyoung mematung di hadapannya setelah dua detik kenop pintu berhasil diputar, “Doojoon—”

“Pssst—persilahkan dulu tamu ini masuk, Nona,” telunjuk Doojoon pada bibir Sooyoung, kemudian didorongnya pundak kecil itu bersama tubuhnya sendiri, masuk ke dalam.

“Bagaimana—bagaimana bisa—?”

“Mengunjungimu selarut ini? Aku bisa. Maafkan aku,” tanpa perlu diundang lebih jauh, Sooyoung menerobos lengan Doojoon, yang secara reflek kemudian mengayun lengan Doojoon membalas pelukan itu.

Hanya nyala satu pelita dalam ruang tamu rumah itu, hingga jam yang menempel di dinding berbayang hitam. Samar-samar tiupan angin dari luar, menyelinap melalui cela gorden yang tak tertutup sempurna. Wewangian pinus di taman belakang, dan bunga-bunga, pucuk dedaunan yang berembun ketika malam, serta derak-derik jarum pengingat waktu, bersama hal lainnya yang familiar bagi mereka berdua.

Doojoon melepas pelukan itu untuk bergerak ke sisi jendela, menutup gorden dan merapatkannya. “Kunci semua pintu dan jalan masuk ketika hari malam, aku yakin ibumu pernah berkata demikian.”

Sooyoung mengekorinya seperti puppy, menghiraukan nasehat Doojoon berganti kalimatnya yang terpatah-patah, “Joon-oppa kemari, tadi pagi, selepas beberapa menit kau pergi. Aku—aku khawatir sekali. Makanya aku bingung kau bisa kemari. Bagaimana bisa?”

“Aku di sini,” Doojoon berbalik, mencondongkan wajahnya untuk dapat Sooyoung sentuh dengan leluasa—hingga halus telapak tangan Sooyoung mengukir tampan itu.

“Kau di sini,” suaranya hampir menangis. “kau sudah bertemu Joon-oppa? Apa yang dikatakannya padamu?”

27

Doojoon melepas jasnya, lalu menuntun Sooyoung untuk duduk di sofa lembut yang biasa. Ia biarkan sorot Sooyoung meredup dan menghangat, terpantul goldilocks itu oleh cahaya lampu di atas mereka. Ketika sudah tenang, Doojoon berlutut di hadapannya, menyentuh wajah Sooyoung hati-hati sekali, menangkap raut (aku memikirkanmu, selalu) yang sama, seperti kemarin. Hingga Sooyoung menundukkan kepalanya, dahi mereka bersentuhan dan, mengalungkan tangannya ke sekitar bahu Doojoon agar ditariknya mendekat.

“Kakakmu memberiku sebuah tugas yang cukup berat.” Doojoon mengerahkan tangannya yang kalus mengelus pipi Sooyoung.

“Itu saja? Kau yakin? Ia biasanya sangat konservatif mengenai aku. Lalu apa lagi?”

Sebentar Doojoon tergelak, lalu mencium lagi aroma rambut Sooyoung yang seperti mint. “Mungkin karena aku bilang padanya bahwa, … aku menginginkan adiknya.”

“Kau bilang apa?”

“Aku bilang,” hidung itu seperti mengendus cuping telinga Sooyoung, sementara bibirnya mencium pipi gadis itu sekali, dan jantungnya berdetak. “aku menginginkanmu.”

“Kau—bilang—” terbata-bata Sooyoung karena terkejut, “Berhenti bertingkah seolah kau tidak tahu seperti apa dia! Atau kau benar-benar tidak tahu?”

“Tenanglah. Kenapa kau cemas sekali?”

“Aku cemas sekali! Kenapa kau tidak mengerti?” mata Sooyoung menyipit, diulangnya pertanyaan awal kedatangan Doojoon, “lalu apa yang dikatakannya padamu? Selain itu, pasti ada lagi, ‘kan?”

Dia ingin aku meninggalkan kota ini, meninggalkanmu. “Bukan apa-apa.” Doojoon menggigit bagian dalam pipinya, dan memandang lurus mata Sooyoung meski gadis itu tak tahu. Sisi main-mainnya bangkit. “Manfaatkan saja aku selagi di sini. Untukmu, aku rela bekerja tanpa dibayar.”

“Kau sedang terburu-buru?” ditangkup Sooyoung kedua pipi Doojoon.

“Tidak.” Atas ini, gerutu Sooyoung menanggapi candaan tidak bermutunya, senyum Doojoon berdenting (tersirat) menggambar lingkaran-lingkaran imajiner di bahu Sooyoung. Aku mungkin akan pergi. “Aku tidak akan kemana-mana.”

Sooyoung mendorong namun dengan tidak sungkan, senyumnya bernapas lega. Wajah Doojoon menelusuri jalur sensitif di lehernya—padahal telah ia peringatkan untuk tidak melakukannya lagi, tertawa ia menanggapinya, “Kalau begitu selesaikan saja pekerjaanmu, Tuan.”

“Aku sudah menyelesaikannya, yeah, sedikit lagi, tapi nanti. Mencari seseorang ini … cukup sulit. Ahhh … aku tak seharusnya bercerita padamu, kau tak akan mengerti, geutchi?”

“Yoon Doojoon … sekarang jam satu pagi, biarkan aku tidur,” dengan Doojoon dalam jarak satu napas (dan kian mendekat), mengisi ruang memori tertentu dalam paradoks kepala Sooyoung, membuatnya dapat mengingat—untuk pertamakali—sosok seorang pria telaten—yang tak pernah, secara nyata tertangkap retinanya.

“Boleh aku menciummu?”

Rona menjalari belah pipi Sooyoung. “Kau selalu bertanya begitu.”

“Jadi?”

“Tuan Polisi, apa kau tidak lelah? Gunakanlah waktumu dengan bijaksana.”

“Begini caraku menggunakan waktu—” Doojoon tertawa lepas hingga perlahan-lahan bibir mereka melekat, ciuman yang bertalu-talu masih layaknya pertamakali, manis, lembut, dalam pejam Doojoon mendamba. Entah bagaimana hidupnya bila ia kehilangan Sooyoung (—denganmu).

Maka ketika sinar hangat di ufuk tiba, Doojoon tahu bahwa gravitasi hidupnya telah berubah. Ia merasa seperti di rumah.

***

YAH! Ppaliwa!” Doojoon melangkahkan kakinya cepat sebab sang rekan kerja wanita terus memanggilnya.

“Lihat ini,” Yuri menunjukkan selembar foto padanya. Melihat foto itu, sontak Doojoon menautkan alisnya. “aku berhasil mengambil foto Kim Sohyun sebelum mereka membawanya ke ruang otopsi.” Kim Sohyun, delapan belas tahun, seorang siswi SMA, dibunuh ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, di sebuah gang minim pencahayaan tanpa CCTV terdeteksi. “Ini membingungkan!” seru Yuri tertahan.

Doojoon menghela napas pendek sebab, setiap lima menit sekali ia mendengar keluhan Yuri. Lantas diarahkannya lagi sepasang manik itu pada selembar foto yang ditunjukkan Yuri, lamat-lamat. “Orang ini jelas-jelas sering melakukan pembunuhan, lihat,” tunjuk Doojoon pada luka tusuk di perut mayat gadis Kim Sohyun, “teknik yang sama, tanpa cela, pembunuh ini tengah menunjukkan dirinya pada kita, dia ingin kita mengakui kemampuannya.”

“Kenapa seorang saikopat selalu berwajah tampan, Oh Gosh.” Runtuk Yuri.

“Park Haejin belum didakwa, kita tak bisa sembarangan menuduhnya,” dikembalikannya foto itu ke tangan Yuri.

“Kalau begitu cepat cari dia, itu tugasmu, ‘kan!” suasana sehabis kepergian ambulans, tak sechaos tadi, garis tepi polisi membatasi warga sekitar yang hendak melihat. Dengan bersedekap tangan, Yuri memerhatikan, “Pertamakali Park Haejin membunuh adalah dua tahun lalu di kediamannya sendiri, seorang pencuri. Kedua orangtuanya ikut meninggal dalam insiden itu. Tetapi ia dibebaskan karena tindakan pembunuhannya saat itu dinilai sebagai bentuk pertahanan diri, … kau tahu apa yang menarik darinya?”

Doojoon berjongkok, menyentuh—meraba-raba dengan kulitnya—tektur tanah di sana, sementara Yuri dalam geram akan sosok yang ia ceritakan, melanjutkan, “Detektif yang menangani kasusnya saat itu, menunjukkan hasil pemeriksaan kejiwaan Park Haejin, ternyata ia dinovis menderita disorientasi psikis, yang dalam hal ini kita menyebutnya, psikopat.”

“Inspektur Kwon!” seruan Gikwang tiba-tiba membuat Yuri terkesiap dalam sekali hentak. Doojoon melirik tanda isyarat.

“Pelaku macam apa yang melakukan pembunuhan dengan begitu rapi? Inguk bilang pelakunya saikopat!” Gikwang menggebu-gebu. Yuri  memaksakan senyum—analisis Inguk dan Doojoon selalu tepat, mereka serasi dalam hal tertentu—misalnya ini. Dilihatnya Doojoon telah beranjak dan kini menepuk-nepuk lengan kemejanya.

“Karena kalian berdua sudah ada di sini, aku pergi dulu,” pamit Doojoon, Yuri sedikit memprotes tetapi pria muda Yoon itu menepuk pundaknya sekali.

“Kau bisa mengatasinya selama menunggu informasi lebih lanjut dari kami.” Ia bilang, Yuri mengangguk kemudian tanpa menatapnya.

Inguk menunggu selagi ia baru akan menyalakan mesin mobil, namun aktivitasnya terhenti sejenak ketika dilihatnya seseorang berdiri tak jauh darinya, memunggungi, tampak sedang bertelepon—Lee Joon-hyung, nyiyirnya. Ia pasti sedang menghubungi Sooyoung, memastikan keadaan gadis itu.

28

29

“Ayo jalan,” ajakan Inguk menyadarkannya. Segera ia lajukan mesin empat roda itu, memecah kerumunan warga awam yang terhalang lintang kuning polisi. Senyum remeh Inguk menebar ketika melewati orang-orang tak penting yang penasaran itu.

Tak ada perbincangan dalam mobil, diliriknya sebentar, Inguk serius sekali membaca dokumen laporan dari Gikwang, mereka harus kembali ke kantor dan memecahkan kasus ini intensif—dalam tenang. “Kau tidak sedang memikirkan hal lain?”

Stir mobil tak terlalu kencang dikemudikannya, Doojoon menyahut. “Apa? Kau menemukan sesuatu?”

Ada desah kecil sebelum kalimat itu Inguk ucap, “Pagi ini tidak hujan.”

CKIIIT! Tahu-tahu Doojoon membanting stir dengan isi kepala yang mulai tidak benar. Detik waktu rasanya terhenti. Membulat maniknya, dibalas sorot minim dari Inguk, kurva di ujung bibir sang Kriminolog terbentuk miring, menahan gelak atas kekonyolan mereka yang terlupa.

Hari ini memang tidak hujan, belum, Doojoon menghentikan mobilnya di sisi jalan. Bukti kuat dan dugaan tak terbantah, hasil spekulasi kemarin, sang buron akan melakukan aksinya hanya ketika hari hujan sebab kegilaannya akan bau darah. Maka ini salah! Salah hari—salah hari mendatangi tempat ini! Pembunuhan hari ini tidak seharusnya terjadi!

“Kamuflase,” desis Inguk sebagai simpulan.

Mobil putihnya dibalikkan kilat bersamaan Joon yang melintas. Dalam kurun sepersekian detik Doojoon menangkap tatapan gelap Joon entah ditujukan untuk siapa. Ia seharusnya tahu.

30

***

Seseorang yang tanpa menunggu dipersilahkan itu, masuk. Sooyoung terpaku, memandang lurus dan ditangkapnya gelap—selalu. Namun kehadiran orang ini, yang tiba-tiba setelah merobohkan dinding di perbatasan, mengusik kegiatannya menyiram tanaman siang itu.

Menelisik derap langkahnya, Suri menempel di kakinya sembari menggonggongi sesuatu, tidak biasa. Sooyoung menjaga mimiknya tetap datar. Ia harus tenang. “Suri, kamu kenapa?”

Gemetar tubuh anjing kecil itu, karena gemas, Sooyoung berjongkok lalu menggendong Suri. Kini ia melangkah dengan meraba-raba dinding rumah. Dalam gendongannya, jantung Suri berdegup kencang sekali, Suri tidak biasanya seperti ini kecuali sesuatu terjadi. Sooyoung mencoba untuk tidak terkecoh apapun sekarang.

“Guk! Guk!”

“Apa, hm? Pintu ini?” bisik Sooyoung, diayunnya pintu kamar, seketika ia merasakan atensi orang selain dirinya dalam kamar itu. Seseorang ini, yang acapkali diam-diam mengunjunginya—Sooyoung cukup tahu dari aura kehadirannya.

“Mengapa kau diam saja, Sooyoung-ah?” suara itu duduk di atas kasur, menyapanya. Tubuh tegap menghadap Sooyoung dengan ekspresi muram.

31

32

Mengatup rapat mulut Sooyoung, ia timpa dengan kedua tangannya, yang gemetar, menyadari bahwasanya keadaan ini bukan lagi dalam jangkau aman.

Berdirinya mulai tertatih, hingga mungkin ia bisa terjatuh kapan saja karena goyah, melompat Suri dari pelukannya entah pergi kemana, membuat ia terpojok seorang diri di bawah kaki orang—yang tidak asing—itu. Berkendut bibirnya namun tak sanggup ia bersuara—takut, ia takut luarbiasa padanya.

33

“Park … Haejin,” terbata nama itu berhasil diucapnya. Aku yakin sudah mengunci pintu rumah, benak Sooyoung kacau. Park Haejin—Park Haejin—PARK HAEJIN! O-orang itu—kenapa bisa—?!

“Apa kau merasa bersalah padaku?”

“Kenapa—aku harus merasa bersalah padamu?”

“Detektif yang menangani kasusku berkata demikian, dia bilang kau harusnya merasa bersalah padaku,” balas Haejin, suaranya berat dan dalam—tidak berubah sejak terakhir kali pria itu memanggil namanya dengan intonasi yang sebaliknya. Di meja, getaran ponsel Sooyoung mengalihkan perhatian Haejin. “Kebetulan sekali, orang yang aku bicarakan meneleponmu.” Diambil lalu diserahkannya ponsel itu pada Sooyoung.

34

Ragu, Sooyoung menerimanya. Joon-oppa? Joon-oppa yang menangani kasusnya dua tahun lalu? Aku tak tahu apapun …, batinnya bertanya-tanya, tetap dalam waspada berada di sekitar Park Haejin. Namun benarkah apa yang dikatakannya? “Kenapa Joon-oppa berkata demikian? Kenapa aku harus merasa bersalah padamu?”

35

“Aku tidak tahu, makanya aku datang untuk menanyakan padamu langsung,” Haejin bersimpuh, Sooyoung dapat merasakan geriknya dan, auranya dekat. “Angkat saja teleponnya.”

(deg deg deg deg—)

Pip.

“Ha-halo, Oppa?” suaraku, berhentilah bergetar! Sooyoung menggigit bibir, atas alam sadarnya, sakit memang, tetapi salah suara membuatnya demikian!

“…”

Oppa, kau di sana? Ada apa kau menghubungiku?” tetap tak ada jawaban berkalipun pertanyaan berbeda diucap. Dua, tiga, empat detik, hingga lima dan seterusnya … akhirnya panggilan itu Sooyoung putus.

36

“Faktor utama seseorang menghubungi orang yang lain adalah … untuk memastikan, dan dari cara bagaimana dia tidak menjawab sapaanmu, aku rasa dia sudah dapat memastikan hanya dari nada suaramu,” Haejin menarik simpul.

“Apa? Apa yang dia pastikan?”

“Dia tahu aku di sini,”

“Berarti sebentar lagi dia akan datang dan menolongku.” Melotot mata Sooyoung mengatakannya.

“Prediksiku tidak begitu,” Haejin bilang, “Aku sudah mengenalnya sejak dua tahun lalu, Detektif Lee adalah seorang pemimpin dalam bertindak, ia tidak bergerak, tetapi mendukung pion-pionnya dari belakang.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku adalah,” mengambang, berdampak buruk pada penasaran Sooyoung dan warna kulitnya yang memucat. Apa maksudmu apa maksudmu, nyalang matanya menjamah hitam. “dia memberi kita waktu berbicara berdua saja. Dia tidak akan datang.”

37

Kian terpojok tubuh Sooyoung, meringkuk di tepi dinding, dekat dengan balkon yang menyambung ke luar rumah, ditandai dengan helai rambut sewarna tanah berombak-ombak ujungnya oleh terpaan angin. Haejin menyentuh dagunya.

“Omong kosong!” tukas Sooyoung dengan nada bergetar, tangannya terlihat basah oleh keringat dingin ketika dirasa kasar ia menepis jemari yang menyentuhnya tanpa izin itu. “Dari dulu, kau bukan orang yang seharusnya kupercaya!” sebut saja aku bodoh, tolol, untuk pernah melakukannya—memberimu kepercayaan itu.

“Sadarlah, Sooyoung-ah … kau mengatakan itu pada orang yang salah.”

“Orang yang salah, huh? Kau berniat membunuhku!” sentak Sooyoung ketakutan, wujud dari peluhnya yang membanjiri pelipis, pipi, menetes hingga menyentuh lantai.

“Aku tidak ingat,” desis Haejin tajam, terlihat kesal, “aku betul-betul tidak ingat pernah mencoba untuk membunuhmu, Sooyoung-ah.”

“JANGAN PANGGIL NAMAKU LAGI! NEON SAIKOPAT SAEKKI!” klimaks Sooyoung menjerit, sekuat tenaga sampai ke titik dimana ia tak peduli bila pita suaranya putus asalkan pria ini menghilang dari runtut hayatnya—kehidupan yang hampir damai tanpa Park Haejin—ia akan baik-baik saja. “Kau tidak pernah ingat saat-saat itu, mereka bilang kau gila, Oppa-yah.”

“Aku tidak pernah membunuh!” tukas Haejin gusar, elak atas fitnah berkepanjangan yang tak mampu otaknya serap, mengapa.

“KAU! Tidak ingatkah orangtuamu, pencuri itu, wanita-wanita itu? Kau—kau sendiri yang bilang padaku, kau membunuh mereka semua! PEMBUNUH GILA! DIRIMU YANG HARUSNYA SADAR!”

Membeku ujung jemari Haejin selepas mendengarnya, menatap manik kuning Sooyoung yang lurus dan tajam, mencari-cari sesuatu di sana selain ketakutan dan, sikap berontak yang kukuh.

“Dan setelah mereka, kau menargetkan aku …, iya ‘kan, Oppa?” lemas Sooyoung berkata, mulai menyerah akan ucapannya yang sia-sia tak didengarkan. “Awalnya aku tidak menyangka, kupikir kau membeli bensin-bensin itu hanya untuk menghemat biaya keperluan lukisanmu, bukan untuk menghilangkan jejak mayat!”

“Jangan percaya kata-kata mereka, mereka menipumu,” bisik Haejin lemah, nadanya kembali tenang tidak semarah sebelumnya. Diperlakukan begini, justru Sooyoung semakin gentar.

“Lalu mengapa kau selalu ada di tempat kejadian, sebelum dan sesudah pembunuhan? Je-jelaskan padaku—Oppa,”

Tiba-tiba Haejin merasa tatapan Sooyoung membuat kepalanya sedikit aneh dan berdenyut. “Aku … tidak ingat.”

“Seseorang mengirimkan foto-foto kau sebelum dan sesudah terjadinya pembunuhan ke kantor polisi, sejak itu kau menjadi buronan, tetapi jejakmu tak pernah ditemukan. Kemana kau menghilang selama ini? Bisa kau jelaskan itu?”

Haejin memegang kepalanya, keras-keras. Tuduhan-tuduhan Sooyoung berputar dan memukul setitik bagian dalam memori yang sulit ia gapai—seakan-akan seseorang sengaja menguburnya dalam sekali, jauh dan pudar—selama kepergiannya dari jarak pandang Sooyoung, yang tak gadis itu ketahui, ia selalu berusaha. Ia selalu berusaha untuk mengingat. Tetapi—“Aku benar-benar tidak ingat …,”

Geurae, kau tak pernah ingat! Mereka juga bilang kau selalu hilang ingatan satu jam sebelumnya, dan kau membunuh mereka ketika ingatanmu hilang!”

“TIDAKKAH KAU PAHAM? AKU TIDAK PERNAH—!”

Hoek! Keji sorot mata itu ditujukan untuk Sooyoung, bersama cekikan leher yang semakin lama semakin kuat, dirasa Sooyoung amat sesak hingga terkikis sedikit demi sedikit napasnya. Terbatuk-batuk dan melemah suaranya, “Hahaha—lucu sekali, kau mengelaknya … seraya kau melakukannya. Maka kali ini ingatlah … ingatlah saat-saat dimana kau membunuhku. Seperti ini, jangan lupa, Oppa, kau—uhuk, men-mencekikku—aku—aku takut sekali—padamu—hhhk!”

Membelo mata Haejin, merah di sudut-sudut garis kelopaknya. Membentuk amarah nyata dan, tidak sadar, berkecamuk pikiran dalam kepalanya. Terutama mendengarkan Sooyoung bicara, seperti ini, tercekik di depan mata sendiri seseorang yang pernah tumbuh di tanahnya, bukan ditebas, namun terbang pergi, meninggalkannya—serasa mencelos jantungnya.

Sakit sekali. Leher Sooyoung perih. Kulitnya sudah mengkerut karena bekas cengkraman kuat tangan Haejin. Wajahnya memutih kebiruan. Sulit rasanya untuk membuka mata lebih lebar. Jemari tangannya pun mulai mati rasa. Bilamana ia ditakdirkan mati di sini, di tangan seseorang yang pernah spesial—setidaknya, dalam detik-detik jarum jam kepalanya, yang masih bergerak konstan, ia teringat akan lengan mereka yang pernah saling merindukan.

Senyumnya, mimpinya—mimpi tiap malam yang membuatnya terjaga, kontra antara perasaan kini dan dulu, ada dan tiada, yang tak lekas terhapus. Membilur seluruhnya, hari-hari belakangan, berbatang-batang krisantium yang layu seiring ia menunggu kepulangan Lee Joon, sepi mengingatnya, namun Yoon Doojoon.

Ah—Yoon Doojoon, pria itu.

(Seandainya aku lebih serius mengukir wajahnya.)

Bagaimana nanti? Bagaimana hidupnya bila aku tidak ada? Dan bagaimana hidupku … bila ia tidak ada? Kantung matanya tebal, seharusnya aku menyuruhnya tidur lebih banyak. Ia juga tak perlu terlalu sering datang ke toko untuk membantuku. Ia sangat sibuk tetapi membohongiku dengan waktu liburannya. Leluconnya juga sama sekali tidak pernah lucu. Ah … sejak kapan aku terlalu jauh mengenalnya? Seharusnya tidak begini …. Pria dengan gagap-gagap manis di pertemuan pertama, ternyata lebih liar dan memesona namun adakalanya ia terlihat gelandangan dari sikap dan tindakannya—konyol sekali.

Konyol sekali …,

Doojoon-ah.

“Park Haejin-ssi, jangan bergerak!”

Ambruk tubuh Sooyoung di tangan Park Haejin.

***

38

Moncong pistol siap membidik, wajah yang diduga tersangka menoleh di antara lingkaran kecil sasaran tembak Doojoon. Tarik—tinggal tarik, namun gerakan itu terhalang oleh tubuh Sooyoung yang berada dekat Park Haejin. Ia awas bilamana ketika ia memilih menembak, ternyata tubuh Sooyoung dijadikan tameng peluru.

Ditendangnya pikiran busuk itu jauh-jauh. Detik telah berjalan ke lima. Posisi tetap sama. Doojoon meneguk kosong udara dengan tenaga sisa yang ia punya. Disorot tajam pria itu. Ekspresi mukanya, perawakannya, tingginya dan pembawaannya. Segala aspek yang ia temukan dan telah analisis, sekaranglah waktunya.

39

40

Satuan intelejensi 180, psikopat, tidak pernah ditemukan sidik jadi, rambut, airliur maupun cairan lainnya dalam setiap pembunuhan yang ia lakukan. Teknik, tak pernah berhasil dipecahkan secara pasti. Target, selain pencuri laki-laki di rumahnya dua tahun lalu, seluruhnya perempuan. Namun seluruh bukti mati kuat mengarah padanya terutama, foto-foto dari pengirim anonim mengabadikan momennya setiapkali jatuh korban. Dan terakhir, bukti paling nyata itu sendiri, saksi mata sekaligus calon korban—sebab gagal dibunuh—sebelum akhirnya keberadannya menghilang, Choi Sooyoung.

Sial—kenapa kepalaku merapal itu semua di saat-saat seperti ini?!

Tetapi pria itu benar-benar diam. Haejin benar-benar diam begitu Doojoon perintahkan. Kenapa aneh? Bila ia menembak—dan pastinya tepat sasaran—maka semua akan begitu mudah, dan tentu saja aneh bagi buron setingkat Park Haejin.

Doojoon tergugu dengan alam akalnya yang porak-poranda, ide untuk menembak dan tidak berseliweran bersama kemungkinan yang terjadi bila ia lakukan.

BRAK!

Pintu rumah didobrak kuat-kuat membuat engsel lepas dari rangkanya, berlari dari arah belakang Doojoon—Ketua Lee dan Inspektur Kwon yang tanpa sengaja menyandang gelar pahlawan kesiangan.

Doojoon berhasil membuang napas. “Ketua—”

41

Terputus oleh keterkejutan seruan Doojoon karena tiba-tiba Lee Joon merebut pistol dari tangannya dan menarik pelatuk itu dalam kilat sederhana namun sesuai—mengenai pundak sang calon narapidana.

42

43

Peluru menembus—melubangi—jaket yang dikenakan Haejin—mungkin mengenai daging juga, membuatnya terluka. Ditutupnya luka itu seraya berdiri lalu tergopoh-gopoh menuju balkon rumah. Doojoon mengejarnya sedikit telat sebab Haejin terlanjur melompat. Ia sempat bersitatap sepersekian sekon dengan Haejin ketika pria itu sukses mendarat bertumpu pada lutut dan telapak kakinya.

“Gikwang-ah, tangkap dia!” Gikwang terkesiap mendengar perintah Doojoon dari balkon lantai atas, lantas di arahkan pandangannya ke depan, ada Park Haejin yang hendak kabur.

44

Ckiiit! Mobil warga sipil yang tahu-tahu lewat di jalan lenggang itu dihentikan Haejin, ditariknya ke luar sang pengemudi untuk kemudian mobil tersebut ia ambil alih dengan paksa.

“Inguk, bawa mobilnya!” pinta Gikwang langsung, sementara ia berlari mengejar mobil yang dikemudikan Haejin, agar disusul Inguk kemudian membawa serta mobil dinas.

Meloncat Gikwang ke dalam mobil bersama Inguk di dalamnya, mengebut Inguk memacu laju mobil, Haejin di depan mereka sama kencangnya, belum jua tersusul. Di menit yang tak sampai, sudut mata sabit Gikwang memicing karena menangkap tikungan di depan, ia isyaratkan Inguk bersiap untuk belokan tajam.

Inguk menangkap isyarat itu kemudian gas penuh diinjaknya, meroket mereka memecah jalan yang kian menyempit di himpit rumah-rumah, antara tua dan kokoh. Mobil Haejin di depan mereka tampak mulai tak terkendalikan. Kesempatan bagus untuk Inguk menyalip, dan berhasil! Lantas diinjaknya kuat-kuat pedal rem hingga berdecit sepasang ban hitam depan mobil itu, berputar-terbanting mereka berdua di jok, gagahnya besi bermesin itu memotong jalan kabur mobil Haejin, yang naasnya masih belum berhenti. Tabrakan pun tak dapat dihindari antara sisi mobil dinas dengan moncong mobil curian dari warga sipil itu.

CIIIT! BRAKKK!

Abu-abu melukis udara, mengepul asap berasal dari mesin mobil Haejin.

Duk! Dibanting pintu mobil mereka oleh Gikwang, setelah cepat-cepat kedua petugas aparat tersebut ke luar dari mobil.

“Terkunci,” Inguk bilang begitu memeriksa pintu mobil Haejin. Di dalam, pria yang diburu tampak sehabis berbenturan kepala dengan stir, terlihat dari kucuran banyak merah dari keningnya.

45

46

“Minggir,” Inguk lalu menyingkir, kepalan tangan Gikwang bersiap dan—prang! Kaca mobil pecah dalam sekali jotos.

Dicengkramnya leher kaus Haejin kasar. “Hei, meski kau lebih tua dariku, Park Haejin-ssi, tapi aku tidak akan memanggilmu Hyung karena sudah menyusahkan kami!”

Buagh! Bogeman kedua diberikan, kali ini pada wajah Haejin yang sudah bercucuran darah—sekaligus menambah tanda ungu pada pipinya.

Inguk berdecak menontonnya, “Kau tahu ‘kan dia tak akan sadar meski kau tonjoki hingga mampus?”

Gikwang akhirnya, berhenti di pukulan yang keempat.

***

47

SAYATAN menoreh pipinya cukup dalam ia biarkan perih oleh angin. Doojoon berlari sejauh ia dapat menjangkau gedung rumah sakit beberapa meter di depannya. Sedikit lagi. Menemui seseorang.

Dan senyum laknat itu masih ada—di mata Doojoon, yang membuat kakinya gatal ingin menjungkirbalikkan.

Tak butuh lima menit, satu jam, apalagi esok hari baginya untuk tiba di bangunan berdominan cat putih dan bebauan obat—yang kontras sekali dengan setelannya yang sedikit lebih gelap, Doojoon memacu langkah tergesa-gesa dengan sesekali geraman yang tak bisa ditahan lagi, menuju Lee Joon. Pria itu memaku diri sebatas di depan pintu ruang rawat inap Choi Sooyoung.

Bening pemisah ruang itu menampakkan sosok gadis terbaring dengan selang infus di nadi. Belum juga sadar sejak beberapa jam yang lalu ia ditimpa musibah mengerikan.

Hyung,” Doojoon hampir-hampir memekik ketika memanggil Joon. “sementara Sooyoung beristirahat, bisakah aku mengajakmu berbicara, di luar?”

Dengan santai, Joon mengiyakan.

***

BUGH! Lebam di wajah jadi hadiah selamat datang atas keberhasilan Ketua Tim Lee Joon dalam misi mereka menangkap Park Haejin, rupanya. Ia membalas singkat, “Apakah ini hadiah yang pantas, Doojoon-ah?”

“Tidak—tapi aku benar-benar ingin memukulmu,” gumam Doojoon, dingin, tanpa pengampunan, dan krek krek jemarinya berbunyi sebelum tonjokan kedua menghantam membekas lebam lainnya di wajah Joon.

Pada jarak sedekat ini, Doojoon dapat melihat bayangannya sendiri dalam mata hitam Joon, yang suram tanpa kilat, ia pikir pantas menyebut Joon pria brengsek tak berperasaan sekarang—semuanya hampir jelas.

“Mengapa kau mengarahkan pistolmu pada Sooyoung?”

Ah, jadi karena itu. Joon bergeming, seolah pertanyaan Doojoon telah terpatri dan menjadi quasi dalam permainannya, Doojoon merupakan satu-satunya pion garis depan yang pergerakannya sangat determinan.

“Mengapa kau tidak menembak Park Haejin?” seisi amarah terasa berbalik melawannya, Doojoon terpojok oleh pertanyaan itu.

“Sebab dia bisa saja menjadikan Sooyoung tameng untuk melindungi dirinya sendiri. Aku tidak langsung menembaknya karena berpikir akan kemungkinan itu.” Jawab Doojoon setelah menghamburkan sekian detik diam dan menunggu.

Joon tersenyum. Doojoon yang sudah ia didik seperti adik sendiri, akan paham betul bahwa dari bibirnya sendirilah meluncur jawaban atas pertanyaannya tadi. Doojoon terkadang kekanakan di antara satu dan lain hal tetapi itu wajar di usianya yang belum cukup matang, kecuali garis dan lekuk wajahnya, rahangnya, yang berkata lain. Maka Joon tak mungkin menundukkan ego untuk anak asuhnya sendiri.

“Bila dia punya kesempatan untuk mengorbankan nyawa Sooyoung, maka dia pun punya kesempatan untuk melakukan hal sebaliknya—mengorbankan nyawanya sendiri untuk Sooyoung,” komentarnya, dan ini lebih bisa membuat Doojoon tercengang untuk beberapa detik terbuang, “tetapi masa lalunya, yang pernah merindukan gadis itu, memaksa dia untuk memilih kecenderungan kedua. Maka aku sengaja menembakkan peluru pada Sooyoung, karena Haejin pasti akan melindungi Sooyoung dengan tubuhnya—dengan atau tanpa keinginannya sendiri.”

Itu benar. Itu memang benar. Batin Doojoon bergolak panas. “Maksudmu, dia pembunuh atau bukan pembunuh? Bagaimana bisa dia melindungi seseorang yang beberapa menit sebelumnya akan dia bunuh?”

Joon sengaja tidak menjawab pertanyaan pertama, “Karena dia tidak mau membiarkan mangsanya mati di tangan orang lain—”

“Dan mengorbankan nyawanya sendiri demi hal itu?” pertanyaan, yang lebih menyerupai cibiran tidak suka. Doojoon memandang remeh.

Mengepal tangan Joon, berpikir betapa kurang ajarnya Doojoon hingga berani memotong kata-katanya. “Kau belum mengerti apa-apa.”

“Aku memang masih perlu banyak belajar, seharusnya kau menolak tawaran NSS itu, aku tak perlu bergabung dengan mereka.”

“Itu akan membantu karirmu—”

“Aku bilang aku tak butuh, Hyung!”

Inilah. Doojoon melepas napas seperti ia mempertahankan ujung nyawanya, topik yang sama sekali tak berhubungan dengan perbincangan awal mereka. Ia kemari, bukan untuk begitu saja mundur. Inilah yang ingin dikatakannya, selama Joon mematrinya dalam segala macam aturan, inilah yang mengganjal dalam hatinya.

“Pikirmu terlalu dangkal, dan usiamu masih hijau. Kelak kau akan mencabut kata-katamu.” Perintah Joon, kembali dalam lugas harga dirinya setelah mengatur napas atas koinsiden di luar jangkau inderanya ini. “Aku penasaran mengapa tiba-tiba kau membahas persoalan ini.”

Aku hanya ingin tahu, bagaimana diriku terlihat di matamu, Hyung. Kenapa kau ingin aku pergi setelah kau kenalkan Sooyoung padaku? “Berapapun banyaknya aku berbicara, bahkan hingga mulutku berbuih atau bibirku tak bisa berkendut lagi, tampaknya kau tak akan pernah jujur padaku, atas apapun.”

Itu bukan ancaman, tangkap Joon, meski sedikit terpukul karena tuduhan itu, namun brengsek saja senyum di wajahnya yang masih sama—terkecuali luka-luka ungu kebiruan hadiah dari Doojoon itu.

“Kalau begitu bisakah kau juga menghilangkan kebiasaanmu bertele-tele? Katakan saja langsung intinya maka semua akan lebih mudah.”

“Tampaknya kau yang tidak mengerti, Hyung, semua hal ada alurnya.” Doojoon menjeda dengan intonasi yang—ia tidak sangka—akan lebih tenang daripada sebelumnya. “Aku hanya akan mengatakan ini sekali. Selama caramu melihat orang lain masih di satu sisi, maka kau tidak akan bisa memaksanya—kau tidak bisa memaksa kami.”

Tidak ada kerut sesal di wajah Doojoon ketika punggung itu berbalik, meninggalkan Joon setelah mendeklarasikan konfrontasi terang-terangan itu, yang mungkin Doojoon tahu, tidak akan mengubah apapun.

Kami?” terbebas tawa Joon teringat kata-kata tadi, membuat Doojoon berhenti melangkah. “Siapa yang kau maksud? Tolong jangan membuat dirimu terjatuh begitu dalam, Sooyoung bahkan tidak pernah menganggapmu spesial.”

“Pengetahuanmu yang setingkat apapun belum tentu akurat. Jangan bicara seolah semua ada di genggamanmu, Hyung.”

Ekor mata Joon menelisik tajam. “Tidak bisakah kau lupakan Sooyoung? Entah sampai kapan kalian akan bahagia, pada akhirnya kau akan meninggalkannya.”

“Untuk alasan ini, aku benar-benar membencimu!” ucapnya lantang. Ia lalu menonjok lagi pipi Joon. Joon terdorong hampir jatuh, tapi bertahan dengan gerakan kaki yang terpoles bertahun-tahun.

Bertumpu dengan tangan, ia memutar tendangan membalik keadaan. Kini Doojoon yang terlempar ke tanah, gerigi batu-batu kecil menggores kulitnya, menimbulkan merah. Doojoon sedikit mengaduh.

“Memang, aku berbohong bila aku katakan bahwa aku melakukan ini demi kebaikan kalian berdua. Nyatanya semua ini demi keuntunganku sendiri.” Joon naik ke pandangan Doojoon, berjongkok di samping tubuhnya, seakan atensinya saja dapat membunuh Doojoon kapan saja. “Aku sudah mengirim surat persetujuan ke NSS. Baiknya kau bersiap sekarang sebelum mereka menyeretmu paksa dan membuat orang-orang di sekelilingmu terluka.”

“Beraninya kau, Hyung!” ujar Doojoon retorik.

“Sekali kau terikat kontrak, lebih baik jangan mengingkarinya, terlebih urusanmu dengan bangsa hedon semacam mereka.” Peringat Joon. “Kuberi kau waktu terakhir untuk menemui Sooyoung, besok malam atau tidak sama sekali.”

***

48

Deras kucuran shower menusuk-nusuk kulit punggungnya. Dingin. Muram. Sedingin napasnya, semuram wajahnya. Berat berhasil lolos dari hidung, Joon membiarkan rambutnya lebih basah begitupula jari-jarinya, yang mengkerut dimakan air.

49

Adakah salah dalam caranya mendidik adik sendiri? Adakah salah dalam caranya melindungi Sooyoung sampai-sampai kesayangannya itu terjatuh dalam jerat delusif bernama cinta? Bersama Doojoon—yang ia rencanakan pada awalnya semata-mata untuk menjadi teman bagi Sooyoung, dan mungkin berperan melindunginya bila ia tidak ada. Sooyoung akan bahagia, ia tanam dalam kepalanya, seperti persisten Doojoon dan komitmen-komitmennya meluncur seperti air, namun bertahankah? Joon kenal betul dengan dunia yang penuh cela ini, tak pernah ada seorang pun akan berbaik hati mengatur kronologi manusia di waktu mendatang. Maka ia berani mendefinisikan kebahagiaan bagai satu banding seribu penderitaan.

Mengapa Sooyoung tidak juga paham?

Kebahagiaan yang bersumber dari nafsu sesaat, menelan orangtuanya—dan hal bodoh yang disebut cinta tak dapat membawa orangtuanya kembali, kecuali memunculkan kebahagiaan lain yang akhirnya menyisakan pedih.

(Perpisahan.)

***

Sooyoung-ah. Bisakah kau ke luar sebentar? Sooyoung hanya mengusap layar ponselnya dengan berbagai macam perhitungan di kepala, lelah dan jengah. Begitu terbangun dari pembaringan rumah sakit yang selalu ia hindari, Joon duduk di bagian kecil kasurnya dan menanyakan kondisinya seperti biasa—seperti seharusnya.

Sooyoung tidak cukup bodoh untuk ditipu.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Park Haejin?”

Gerak Joon berhenti. Ia tidak menjawab, Sooyoung tahu akan seperti ini tetapi entah mengapa ada sesuatu yang aneh di hatinya. Tatapan Joon bilang; aku tidak suka, mengapa kau bertanya soal dia?

“Sebelum kau kemari, aku sempat terbangun,” jelas Sooyoung, menyambung kalimatnya bahwa Yuri dan yang lain sudah kemari sebelum kau, dan—dan aku mendengar semua yang terjadi, semua.

Erangan jengkel itu lihai disembunyikan, seperti ekspresi wajahnya yang selalu berkata baik-baik saja—tidak ada yang terjadi, dan tidurlah, lupakan semuanya—akrab bersapa dengan Sooyoung, Joon langsir dari duduknya.

“Dia belum sadar.” Ungkap Joon, akhirnya.

Nada cemas Sooyoung kemudian ditangkap indera Joon. “Bagaimana lukanya?”

“Tidak dalam, pelurunya berhasil dikeluarkan.”

Syukurlah, lega inner Sooyoung merespon. “Lalu bagaimana dengan Yoon Doojoon? Apa Oppa melihatnya? Mengapa ia tak mengunjungiku?”

Mengapa kau jadi seberani itu? Tangan Joon mencengkram tangan satunya, ada rasa kurang nyaman merayapi hatinya. “Tidakkah kau seharusnya menanyakan dulu bagaimana perasaanku?”

“Apa?” jantung Sooyoung berdegup.

“Yoon Doojoon,” katanya, menggema di telinga Sooyoung, mengambang di langit-langit kamar. “dia sudah menghubungimu ‘kan? Mengapa kau tanyakan lagi padaku?”

Dengan serampangan Sooyoung menjatuhkan ponsel yang dipegangnya, bertemu kasur, akibat dari tangannya yang tahu-tahu gemetar. “Kau … sudah tahu.”

“Aku yang menyuruhnya,” kuasanya berkata lagi, selalu, seperti ini akhir ceritanya bila Joon tahu ada orang lain—ada pria lain selain dirinya.

“Hah,” seringai Sooyoung lemah, lalu apa yang kau ingin aku lakukan? Kau berhasil menyingkirkan Park Haejin dan sekarang Yoon Doojoon? Kau hanya akan berhenti ketika aku mati, begitu? “karena Oppa sudah tahu, aku ingin menemuinya.”

“Temui saja. Aku tidak pernah melarangmu.”

Kau tidak pernah melarangku—secara langsung, iya, secara kasat mata, kau selalu. “Oppa, aku merasa … kau berusaha memisahkan kami.”

“Bagus untukmu, kali ini peka dengan tindakanku?” Joon tidak lagi menatapnya, melainkan berbalik memunggunginya, tinggi tegap yang sulit diterobos siapa saja, Sooyoung sadari—dan terkadang membuat nyalinya ciut. Ia tak punya apa-apa untuk melawan.

“Aku menyayangimu juga tetapi bukan seperti ini caranya,” gumam Sooyoung dengan senyum tipis. “tidakkah kau mengerti?”

“Tidakkah kau mengerti juga? Hal-hal yang membuatmu kehilangan semuanya? Orangtuamu, penglihatanmu?” tuntut Joon beruntun, tampak ingin mengakhiri konversasi ini tetapi Sooyoung menambah dan terus menambah hingga kata-katanya runyam dan lepas kendali.

“Semua orang mengalami musibah, semua, dan aku hanyalah salah satu dari sekian ketidakberuntungan yang menimpa manusia. Aku harus bergerak ke depan, Oppa, kita harus. Jadi berhentilah hanya melihatku, kau mengabaikan dirimu sendiri karena aku. Aku mohon, cukup mencampuri kehidupanku.” Sooyoung masih memandang punggung itu, yang tidak juga bergerak, selain naik turun napasnya terdengar kasar. “Kau tidak menjawab?”

“Mengapa kau masih di sini? Bukankah kau ingin menemuinya?” bukan itu jawaban yang benar, tanggap Sooyoung kecewa.

BLAM!

Pandangan Sooyoung berputar spiral ketika Joon meninggalkan ruangan dalam kelam. Ia menertawai kepengecutannya sendiri, Sooyoung, lalu menyentuh metal dingin yang mengunci kuat pergelangan kakinya. Rantai? Bagaimana bisa aku menemuinya bila kau merantai kakiku?

***

Doojoon membiarkan koper dan segala macam bawaannya mendekam di bagasi. Segera ia keluar dan mengintip ke area luar gedung rumah sakit. Malam ini, ia kalah total dan mengakuinya sendiri. Ia melakukan apa yang Joon perintahkan. Sekarang siapa yang bicara? Joon boleh menginjak-injak dirinya asalkan Sooyoung baik-baik saja.

50

“Tolong berhenti,” dua penjaga bersetelan menggelikan, Doojoon menertawai dua orang bodyguard yang berdiri di depan ruang rawat inap Sooyoung. Menahan langkahnya lebih jauh, ia menurut di depan pintu.

“Aku tidak akan macam-macam, selama kalian tutup mulut,” bujuk Doojoon, “kalian boleh melakukan apapun padaku bila aku melanggar.”

Dua anjing penjaga itu berpandangan, saling mengerling lewat mata. Doojoon menangkap sinyal bagus melalui mimik salah satu dari mereka yang mengiyakan dengan berat hati. Bergeser dua tubuh itu dari pintu, membebaskan tangan Doojoon untuk mengetuknya.

Sebelum itu terjadi, ia bertanya ramah, “Aku Yoon Doojoon. Siapa nama kalian?”

“Wooseok, Jung Wooseok,” pria satunya memukul kepala Wooseok setelah tanpa curiga sang rekan semena-mena memberitahu namanya, “dia Lee Hwitaek, Hwitaek-hyung.”

“Kelihatannya kalian masih muda.” Senyum Doojoon.

“Kami baru bergabung.” Ungkap Wooseok.

“Apa yang kau katakan pada musuh, hah?” geram Hwitaek.

“Musuh? Woah. Kau melukai harga diriku. Aku ini pria baik-baik yang hebat dan diakui, kalau tidak, bagaimana mungkin NSS mengajakku bergabung?” Hwitaek dan Wooseok agak tidak dapat mengontrol wajah mereka yang tercengang-cengang mendengar kesombongan Doojoon yang diselip canda. Doojoon menepuk pundak dua orang itu. memberi nasehat yang sebetulnya tidak begitu penting, “Tapi apakah kalian tahu? Ditarik ke NSS ternyata tidak semenyenangkan itu. Maka bekerjalah dengan bahagia selagi bisa.”

Hwitaek berdeham sementara Wooseok mengangguk semangat diembel-embeli terimakasih Doojoon-hyung.

Tok. Tok. “Sooyoung-ah, na wasseo.”

Derik metal—atau besi? Yang bergesek jelas dengan lantai, membuat Doojoon meneguk liur di tempatnya berpijak, seketika rasa bersalah dan tidak rela menyinggahi hatinya. Joon-hyung merantainya? Huh, pria itu masih saja menunjukkan rasa sayangnya dengan salah. Sekali lagi, Doojoon terluka.

51

Pintu ditahan dari dalam ketika Doojoon telah setengah mendorongnya. Sengau suara Sooyoung memohon, “Jangan masuk.”

Aku mengerti. Maafkan aku. Kau pasti tidak ingin aku melihat keadaanmu yang menyedihkan, Sooyoung-ah. “Baiklah. Aku berdiri di luar saja. Bagaimana keadaanmu?” mulainya, lembut dan prihatin.

“Aku baik-baik saja.” Sooyoung membiarkan Doojoon berfantasi dengan keadaannya tanpa perlu ia beritahu lebih lanjut, atau ia akan khawatir. Bagaimana denganmu? Disuruh melakukan sesuatu yang kau tidak suka, rasanya pasti menyebalkan.

“Ah,” ya, menyebalkan sekali, aku bahkan tidak bisa melihatmu di waktu yang tak ternilai ini. Serapi mungkin Doojoon mengatur kata-katanya, “aku benar-benar tak boleh masuk?”

Sooyoung menggeleng, tetapi Doojoon pasti dapat mengerti dari ketidaksetujuan intonasi nadanya. “Um.”

“Sebentar saja?”

“Jangan.” Tolaknya sekali lagi, sebagai peneguh. Walau Doojoon belum menyerah.

“Kalau begitu,” Doojoon memohon dengan harapan (mungkin, bisa jadi) terakhir pada Sooyoung, “biarkan aku menyentuh tanganmu, hanya tanganmu, jebal?”

Dan tangan yang mungil dan halus itu dijulurkan ke luar pintu, seketika Doojoon menggenggamnya dengan sayang, mengelusnya, tangan kanan seseorang yang membuatnya tergila-gila. Apa kau sudah tahu? Mungkin setelah ini aku tidak bisa menggenggam tanganmu lagi. “Dingin sekali, kau tidak menyalakan penghangatnya?”

“Mereka menyalakannya, tapi tanganku memang selalu dingin.” Jawab Sooyoung, mungkin akan semakin dingin karena kelak kau tidak ada, sejujurnya, aku mulai hangat oleh kehadiranmu.

“Pertamakali aku bertemu denganmu, kita bersalaman, seperti ini,” Doojoon mempraktikkannya dengan tawa yang sengaja dibuat baik-baik saja. Meski faktanya jauh dari itu. Bolehkah aku menculikmu?

Tahan dirimu untuk menculikku. Jabatan tangan Doojoon seolah ingin menariknya ke luar, lalu melarikan diri ke tampat yang jauh, meninggalkan kota ini, mungkin negara ini. dimana hanya ada mereka berdua di sebuah rumah sederhana di pinggir ternak, sebuah desa yang nyaman. Sooyoung bergumam sebagai reaksi, senyumnya belajar merelakan. “Kau pria yang mudah gugup di depan wanita.”

“Iya.” Aku Doojoon. Tautan tangan mereka melonggar, Doojoon yang berinisiatif melepaskan, kontra dengan sisi lain benaknya. Bila tidak, bolehkah aku meminjammu (seumur hidupku)?

“Leluconmu menyebalkan.” Sooyoung menarik tangannya sendiri dari pandangan Doojoon, menyembunyikannya, bersama dirinya, di balik pintu kayu yang memisahkan mereka.

“Aku tidak bercanda.”

“Hm?”

Kita belum pernah pergi kencan. “Sering-seringlah ke luar rumah bersama Suri.”

Kau sok sibuk dan kadang-kadang melupakanku, mengunjungiku di waktu tidur, dan pergi pagi-pagi sekali keesokan harinya. Kapan kita punya waktu berkencan? “Aku tidak butuh nasehat seperti itu, memangnya aku anak kecil.”

“Kau lucu seperti anak kecil.” Main-main Doojoon bilang, tenggorokannya mulai sakit. Sepertinya tidak bisa lebih lama lagi atau ia berakhir mendobrak pintu itu dan membawa kabur anak gadis orang lain.

“Doojoon-ah—”

“Ah! Sudah hampir waktunya. Aku harus pergi. Sooyoung-ah, jangan ragu untuk makan banyak. Bahkan di depan seorang pria, ya? Aku pergi dulu.”

Begitu saja? Hanya begitu? Sooyoung menjangkau lembar sweater Doojoon, menahannya sebentar saja untuk saat-saat yang tidak banyak ini. Sembari menawarkan, ia menahan airmatanya agar tak tumpah. “Ada satu hal yang pernah kau tanyakan dulu. Aku belum sempat menjawabnya dengan benar.” Pertanyaan itu, apa yang aku pikirkan tentangmu? “Dengarkan aku—”

Perlahan Doojoon meloloskan sweaternya yang dicubit Sooyoung, “Maaf. Aku benar-benar harus pergi. Kau bisa mengatakannya lain kali. Tidak apa-apa.”

Tunggu. Aku, maksudku—“Doojoon-ah.”

Tidak perlu kau katakan, Sooyoung-ah, aku perlu pergi tanpa beban. “Selamat tinggal.” Aku sayang padamu.

“Doojoon-ah—” tenaganya yang tersisa Sooyoung gunakan untuk menahan isak tangisnya. Itu bukan sampai jumpa, batinnya menjerit, maka kapan aku bisa mengatakannya padamu kalau bukan sekarang, bodoh? Aku juga sayang padamu.

***

Kini Sooyoung tahu, bahwa ribuan pun detik yang berdetak, tidak akan terasa seperti selamanya.

Ia terbangun dalam satu sentakan langsung. Dinding putih di sekeliling seakan-akan runtuh memenjarainya, lenyap bersama pondasinya hingga ke dasar. Ia dibuat mual dengan bebauan yang tersuplai ke otaknya sebagai jawaban atas pertanyaan dimana ia berada sekarang, kamar perawatan rumah sakit. Agak pusing dengan segala warna putih yang samar-samar namun menyilaukan.

(Menyilaukan?)

Sosok seseorang, wanita muda, seingatnya seragam putih beratribut itu adalah identitas perawat, dan seorang dokter wanita yang lebih tua diserukannya segera untuk kemari. Masih dalam bayang-bayang setengah sadar, Sooyoung menggapai titik terjauh pengamatannya. Kali ini wanita lain, setelah sang dokter wanita tiba, memeriksanya dengan segala environmen kedokteran yang tak ia pahami, wanita lainnya diperbolehkan masuk, berpakaian kasual.

Sooyoung hanya pasrah mengikuti aba-aba sang dokter wanita, ia tutup dan buka kelopak matanya. Semakin sering ia lakukan, semakin bilur-bilur itu menjadi jelas terlihat. Memicing matanya, di kejauhan terdengar suara-suara ribut, suasana pagi hari dimana orang sibuk-sibuknya bekerja, atau siang hari? Membuat Sooyoung secara insting melemaskan seluruh otot tubuhnya.

“Pasti terasa kaku setelah seharian Anda tertidur, tapi dengan menggerak-gerakkan kecil bagian tubuh, seiring waktu sendi-sendi otot Anda akan kembali normal, Sooyoung-ssi.” Tutur sang dokter ringan sembari merapikan alat-alat pemeriksaan. Sang suster di sampingnya terlihat mencentang sesuatu di kertas.

Sementara wanita yang baru masuk, yang berpakaian kasual itu, menggenggam erat tangannya sembari membisikkan kata-kata khawatir.

“Siapa kau?” tanya Sooyoung linglung.

“Sooyoung-ah,” wanita muda itu nyaris menangis. “ini aku, Yuri.” Kemudian yang bernama Yuri itu gelisah—mengenai ini dan itu dan ia mungkin amnesia dan blablabla lainnya. Berisik! Sooyoung risih dan memejamkan mata saja, ia ingin tidur dan beristirahat panjang.

“Tidak apa-apa Yuri-ssi, ini hanyalah efek samping sementara dari pemakaian expalane yang berlebihan, untungnya ketika itu Sooyoung-ssi segera dibawa ke rumah sakit, telat sedikit saja mungkin berdampak fatal.” Dokter itu kemudian menjelaskan, tangis haru Yuri berlanjut hingga ke taraf letak pendengaran Sooyoung yang terganggu oleh noise, ia menyesal akan kebohongan melupakan Yuri yang tentu saja—tidak mungkin, satu-satunya teman seumuran sejenis Yuri.

Sooyoung menutup mata dengan sebelah tangannya, dan memelankan deru napasnya, membebaskan Yuri bereuforia sementara ia ingin tidur, dan bermimpi akan Doojoon. Rusuknya selalu sakit.

Ia berhasil menyelip ke fana mimpi ketika Yuri bangkit dari bangkunya, dan meninggalkannya seorang diri tanpa suara.

***

Jadi ia memaksa, tatkala pada akhirnya Yuri mau membeberkan semuanya. Alasan mengapa dan kemana ingatannya hilang selama dua minggu ke belakang.

52

Sooyoung telah lama, terhitung sepuluh tahun, mungkin lebih setelah orangtuanya tiada, ia menamai Lee Joon sebagai satu-satunya yang dekat layaknya keluarga.

Ia berkata demikian sebab dalam dua puluh tujuh tahun hidupnya, tak pernah ia merasakan bagaimana dikhianati keluarga, dan ia melihatnya—mendengarnya, bahwa Joon tak ingin ia mengetahui usahanya bernegosiasi dengan siapapun agar memperbolehkan Sooyoung mengonsumsi expalane itu—dalam harap segala macam ingatan mengangkut dirinya, dan Joon itu sendiri, lenyap.

53

“Aku tak mengerti,” Yuri mulai terbelalak dan panik setiap kali Sooyoung bilang kepalanya menjadi pening mendengar penjelasan-penjelasan itu. Boleh dikata rumit, mungkin.

“Kalau begitu lain kali saja aku cerita,” putusnya.

“Jangan,” sela Sooyoung, memohon, ditahannya tangan Yuri, “aku ingin tahu semuanya, sekarang.”

“Ketua Tim Lee tidak ingin kau mengingatnya lagi karena ia dipecat,” jeda Yuri beberapa saat, Sooyoung terlihat begitu tenang sedang ia sendiri tidak kuat mengatakan fakta mengerikan ini pada sang kawan, “pelaku sebenarnya dari kasus pembunuhan sebelas orang wanita sudah tertangkap, … dan Ketua Lee … ia pernah sengaja mengkambinghitamkan Park Haejin atas dakwaan pembunuhan berantai itu. Begitu mengetahuinya, Kepala Polisi memecatnya saat itu juga.”

Meski napasnya seakan diambil dari dunianya namun tak ingin Sooyoung berhenti di tempat dan menjadi pengecut. “Tolong lanjutkan, Yuri-ah, aku mohon.” Pintanya.

“Ketua yang memanipulasi keberadaan Haejin di setiap TKP kemudian membuatnya lupa pernah mendatangi tempat-tempat perkara pembunuhan, seperti bagaimana ia membuatmu lupa apa saja yang terjadi dua minggu ke belakang. Tapi Sooyoung-ah, aku harap kau tidak membencinya ataupun mencarinya, bila kau tanya aku atau kami, tak ada satu pun yang tahu. Lagipula kurasa … dia tidak ingin kau melihatnya begitu rendah.”

“Lalu Haejin-oppa? Bagaimana dengannya? Pada akhirnya dia bukanlah tersangka. Dimana—dimana dia?”

Yuri mungkin telah matang-matang menkalkulasi apa-bagaimana reaksinya ketika ia mendengar ini, dan rasanya bola mata Sooyoung ditusuk dari arah depan, Park Haejin adalah alasan mengapa kau bisa melihat lagi.

***

Sooyoung perlu mengedip beberapa kali untuk yakin bahwa ini bukanlah halusinasi.

Pejam, maka gelap.

Ketika suara itu muncul lagi, detik konstan pengingat waktu, penghitung hari, dalam kepalanya. Hari dimana ia membuang mentah-mentah semua ucapan Haejin-oppa, pembelaannya, tentang dirinya—ia menyadari yang buta bukanlah matanya, melainkan hatinya. Seharusnya, seharusnya—percuma bila diutarakan sekarang, desisnya kecewa.

Kedua kali ia pejamkan, kemudian buka lagi kelopak matanya, maka terang.

Ia dapat melihat spektrum-spektrum aurora di puncak kutub, tak lekang oleh ufuk maupun senja. Mereka bertemu tanpa resonasi, Sooyoung mampu menikmati dari kejauhan. Perlahan mendekat, mendekat, menyentuh kulitnya, Sooyoung merasa hangat (meski seharusnya tidak), dalam satuan yang tak ternilai berapapun, ia dibawa turun menginjak padang salju yang dingin menusuk telapak kaki.

Maka di bukaan matanya yang ketiga kali, ia melihat Doojoon—sebatas imaji, lagi.

Pipi tembamnya yang bersemu merah seperti juga bibirnya, dan lepas dari segala artian kekang, berhasil menangkapnya di tengah hiruk pikuk lalu-lalang taman bermain yang memusingkan. Di antara komidi putar dan rusa elektrik. Apakah kita berkencan? Tanyanya polos. Sebagaimana ia telah mengenal Doojoon, yang selalu diam-diam menemuinya dan dekap dan setiap ruang kebutuhannya, bukan hanya sekali, setiap kali—waktu, waktu, detik familiar bagi mereka berdua—kenangan.

Apakah kau perlu menanyakan itu? Dencing tawa pria itu menggelitik, hangat di hatinya.

Lalu, di tengah-tengah semua itu, ia mengingat Joon-oppa yang pernah bertanya, Mengapa Yoon Doojoon?

Mengapa? Ia juga tidak mengerti. Ia tidak punya cukup kapasitas guna memahami hal-hal remeh seperti ini. Sebagai final, ia terus menanyai Doojoon. Apakah kita berkencan? Mengapa?

Sooyoung mendengar senyum Doojoon bersama gelaknya, begitu lepas, seakan ini pertanyaan terbodoh yang pernah ke luar dari mulut sepasang kekasih sekalipun. Kemudian, tawanya berhenti (tetapi jantungnya tidak, ia berdetak, terus, semakin kencang dan kencang, dan Doojoon lah yang membuatnya hidup).

“Karena kau menyayangiku,” ucapnya, tegas namun tidak pernah menghakimi, “paling tidak, aku ingin berpikir demikian.” Jangkauan Doojoon mendekat padanya, seakan sanggup ia meraup dunia di sekeliling mereka.

“Bila aku betul-betul menyayangimu, akankah kau kembali?” tuntut Sooyoung, manja, tidak ke pada pria lain kecuali Doojoon, ia menonjolkan poros utama hidupnya, kau.

“Yang perlu aku tanyakan apakah dulu, bukan sekarang, kau pernah menyayangiku?”

Sooyoung tidak menjawab, matanya diarahkan ke langit yang berubah menjadi malam itu, dengan lalu-lalang orang menghilang, bergantikan beribu bintang dan awan-awan abstrak menyelimutinya. Sampai ketika angin memutari mereka dan hujan pun turun, satu persatu membasahi tanah hingga menyentuh kulit mereka, membuat Doojoon perlahan memudar bersama tiap tetesnya. Sooyoung berusaha meraihnya, dan mencengkeramnya untuk tidak kemana-mana lagi.

“Joon-oppa tidak di sampingku lagi, Haejin-oppa sudah pergi, dan kau juga—akan meninggalkanku?” desaknya, merasa begitu putus asa.

Tangan Doojoon mendekapnya, tetapi ia rasakan pula bahwa tangan itu mulai mengabur pada udara, Sooyoung menjaganya, membalas pelukan itu. Bait-bait napasnya yang tersisa sedikit hangat seperti mentari pagi, hinggap di telinga Sooyoung. “Aku tidak akan kemana-mana.”

54

“Kau bohong,” tangisnya, “pada akhirnya, kau meninggalkanku,” isaknya. Di antara pusaran waktu dan hujan, dan malam yang mengekang, berayun-ayun kalimat itu dalam kepala Sooyoung—dan ia melihat Doojoon, kini sepenuhnya membaur seolah ialah tetes-tetes hujan, dihirupnya aroma maskulin itu untuk (mungkin) yang terakhir kali.

Ia tak bergerak dari hujan, menyembunyikan airmatanya. Harus berapa lama lagi … aku memercayai kebohonganmu?

55

***

Bertandanglah musim panas. Hingga Sooyoung dapat mendengar dengan lucu permintaan Seo Nari ingin mengganti tangkai-tangkai krisan yang telah layu dengan yang baru. Senyum Sooyoung mengiyakan, dalam telaten dan hati-hati ia mengajari anak itu bagaimana merawat flora. Ia memandang Nari dari jendela rumah kecilnya, kemudian menghampiri sang anak.

Tercium aroma khas dari kelopak kuning itu, yang telah menemaninya hidup, mengergap hidungnya. Sooyoung bahkan tak berani menghitung ini adalah tangkai bunga yang ke berapa. Seratus? Seribu? Ah—usia Nari saja sudah lebih dari itu.

“Kenapa bunga krisan?” lugu perempuan kecil itu bertanya. Sooyoung kadang-kadang menggeleng, kali ini sebab pertanyaan ke empat belas Nari.

“Karena aku tak sempat menanyakan apa bunga kesukaannya,” jawab Sooyoung, dan karena … bunga ini memiliki dua arti yang bertolakbelakang, seperti hubungan kami.

“Siapa?” membulat bibir mungil Nari, inosen dan putih.

“Sooyoung-ah,” menoleh Sooyoung begitu terpanggil namanya, klining suara lonceng di pinggir pintu toko, Yuri datang untuk menjemput putrinya. Seketika melompat Nari dari pangkuan Sooyoung, menghambur di pelukan Ibunya yang lebar, bagaimanapun—lirih Sooyoung, di sanalah rumahnya. “Tidak perlu bilang apa-apa lagi—pssst.” Yuri mengerling ke padanya, dituruti dengan senang hati oleh Sooyoung.

Bibir Nari membulat lagi—ketika bingung, Nari mungil selalu memasang ekspresi-ekspresi yang membuat orang dewasa gemas ingin menerkamnya. “Kenapa Sooyoung-ahjumma tidak boleh bilang apa-apa?”

“Karena Umma yang akan bilang,” Yuri berbisik di telinga Nari. Terkejut kali ini mimik muka Nari, tampak girang dan senang sekali—kerut alis Sooyoung penasaran apa kebohongan lainnya yang mungkin dikatakan Yuri. “Kali ini aku tidak berbohong, Sooyoung-ah!” itu gerakan bibir Yuri yang dapat dibacanya, begitu lompatan Nari beralih dari pangkuan Yuri ke dekapan ayahnya yang baru ke luar dari mobil.

Yuri bangkit dan mendekat pada Sooyoung, dikeluarkannya secarik kertas berlogo sebuah lembaga pertahanan nasional Korea. “Surat ini dikirim dari markas NSS satu bulan yang lalu, tetapi baru sampai hari ini, aih bayangkan rintangan yang telah dilalui selembar surat. Keamanan di sana sangat ketat, bersyukur saja kau berhasil menerima suratnya meski yah … amat sangat terlambat.”

“NSS?” pucat tangan kurus Sooyoung menerima itu.

Aku ingin kau yang membacanya lebih dulu, menggeleng kepala Yuri begitu Sooyoung memberinya tatap tanya, beritahu aku isinya kapan saja, bila kau sudah siap. Dari luar, Inguk telah memanggil-manggil istrinya tidak mau menunggu lebih lama, dan Yuri memberi kecupan sampai jumpa dan jaga dirimu ketika meninggalkan Sooyoung bersama suratnya.

Tidak akan—serunya memersiapkan mental, aku tidak gemetar dan aku tidak menangis. Aku tidak

Dibukanya perlahan-lahan surat itu, sedikit lecek dan mungkin pernah basah karena tintanya yang luntur namun mengering di sana sini, dan (Sooyoung menahan senyum) melihat tulisan yang jauh dari kata rapi.

Nona Florist, ketika kau membaca surat ini, aku pasti sudah tidak bekerja di kepolisian lagi. Aku bekerja di … tempat terjauh dan berbahaya (intinya, jangan datang kemari), dan jangan khawatir! Aku tidak dengan berat hati menjalankan tugas ini, yang merupakan permintaan terakhir Joon-hyung yang keras kepala. Memang menyebalkan, dimanapun orang itu berada, dia selalu bisa mengekangku semaunya. Tapi padamu, dia tidak ‘kan?

 

Oh ya …,

 

Ngomong-ngomong, apa kau merindukanku baik-baik saja?

 

Yoon Doojoon

Hidung Sooyoung memerah karena tawa. Sigap ia tutup mulut dengan satu tangannya, menahan kuat-kuat airmatanya untuk bertahan di pelupuk, sudah hampir jatuh—dialihkan dan dikedip-kedipkan pandangannya ke langit-langit rumah.

Aku tidak keberatan, juga tidak baik-baik saja.

Sebab ia sudah berjanji, kini—berapa lama pun ia menunggu, ia tak akan menangis lagi.

(Karena aku juga merindukanmu).

 

56

 

END OF STORY(이야기)

Iklan

11 Comments Add yours

  1. Elisa Chokies berkata:

    AAAAAHHHHHHH AKU MAMPERR LAGIII

    DUH INI FIC TERPANJANG YG PERNAH DIBUAT FANI. CONGRATSS

    NGIRI FANI BISA BUAT ONESHOT SEPANJANG INI. NGIRIII /Amaterasu/ Berapa word nih? 12000?

    Dan yesssss, abis ini AIL diposting, tapi entah kpn dikau bakal posting. Shy, Shy, Shy /Sana Twice/

    Lagi lagi aku membaca fic yg genrenya dramatis gini,,karena emang suka baca yg begini hahaaha,

    cerita yg begini emang seru dan berasa kayak lagi nonton drakor,,, hahaha,,,

    Sooyoung kece badai matanya, walaupun km ya—maaf—gak—bisa liat dan kontras sama punya orang lain. but, Young, mata km kayak matanya Edward Cullen deh pas mode pertahanan. Keren. Eciyee Fani suka ya sama Haejin Ahjussi? wuwuw~ Aku kirain Park haejin jd apa eh teryata jd begitu, duh orang dewasa yg terjebak di wajah anak2, serah deh km jd apa yg penting main -___- eh. FAIL BANGET TEBAKANKU hahaha.

    Ah, di epilog answernya Sooyoung bikin ku ternganga lah ya Fan. Romantis mellow2 ckck DAEBAK!

    Baiklah, Aku akan merindukan AIL muuuuu huhu 😦

    n. b: kok pas mau posting komentar sring gagal ya? ada apa fan.

    Suka

  2. febryza berkata:

    Fannnniiiiii huhuhuhu kangen sama ff kamu loh akunya terus kamu balik2 dengan ff ini yg yampun bagus dan panjang bgt kali inih…
    Kayaknya ini ff kamu yg paling panjang ya?
    Sumpah sumpah ga nyangka loh dengan pairing sooyoung-doojoon yg itungannya agak crack kan itu tapi ini feelsnya dapet anet loh ..
    Lee joon tuh kenapa sih fan? Dia pengen sooyoung engga percaya cinta gitu kaya dia?
    Eh eh fan sebenernya aku kesel loh pas baca endingnya kenapa begitu? Kan kalo begitu jadi pengen minta ada sequelnya because doojoon-sooyoung deserve to be together fan hehehehe

    Suka

  3. Chansoo berkata:

    SERIUS ONESHOT SATU INI PECAH BANGET FAN!!

    SERU ABISSSST ! MANA BAHASANYA KEREN BADAI, berasa lagi baca novel. Kamu jago ngaduk emosi pembaca. Bikin galau + baperan wkwkwk😂

    Btw selamat fan, kamu berhasil ngebuat aku jatuh cinta sama karakternya mas. doojoon. Mungkin abis ini aku bakal ngeship mereka (sooyoung -doojoon) ❤❤❤🙈🙈

    Suka

  4. nanodieo berkata:

    NJIR, awal baca udah males duluan gara gara kepanjangan, pas nyoba baca “anjir kok seru” dari segi diksi juga udah novel banget. Petjahhhhh. Malah ditengah ada si bebeb HaeJin, fotonya juga mendukung story bgt haha. Pas end kok gue ngerasa masih kurang banyak /oi/
    Otsukare faniiii

    Suka

  5. Di berkata:

    Ini udah panjang banget tapi kenapa kok kayanya masih KURAAAANG pengen lebiiiih!! Haejin sunBAE memang paling ganteng, yang lain kalah. Tapi tapi tapi kok jadi pengen punya lakik kaya Doojoon sweet sweet lawak gimanaaaa gitu. Dipikir yuri bakalan sama Gikwang taunya…. Duh, itu Joon oppa kok gitu ya. Ada apa dengan Joon mungkin masih misteri.

    Sukaaaaaa banget sama ini. Aku baca tengah malam dari yang tadinya ngantuk sampe melek, tanggung jawab! Hehehe

    Suka

  6. Cicamica berkata:

    Well long time no visit fani gue terlalu njlimet sama skripsi gue sampe lupa hobi baca fanfict gue. Udaaaaah lama banget dari terakhir gue baca2 fanfict and this is first time after a long time not read the fanfiction. And i dunno why I choose to visit this blog, sebenernya gue mau nge chek bakal ada kelanjutannya an involved lovers apa enggak, ehhhhh ternyata ada dae young oppa disini.
    And surprised cos fani ga pernah nulis sepanjang ini kayaknya.
    Tottaly I missed your story. Moga aja aku ga lupa2 berkunjung disini.

    Sincerely

    Your biggest fans

    Suka

  7. Kim Eun Ji berkata:

    satu kata: HEBAT
    aku udah gabisa ngomong apa-apa wow

    Suka

  8. Nadya Choi berkata:

    Ini wow banget, pecah guelaaa. Aku kemaren cuman liat ini dan scroll kayaknya banjang buangat jadi ditampung dulu. DAN ARGH, NYESEL BARU BACA AAAAAAA.

    Ini, ini feelnya dapet banget. Nano Rasanya, panjang banget pula ah aku ngiri ㅠㅠ

    Suka

  9. panjang banget ini bisa satu episode…
    baca ini langsung keinget sama bag guys. kamu ntn juga? aku bar-baru aja download dan ntn sekitar 1 bulan lalu lah. karna gak ada drama yang mau ditonton. trus langsung suka sama gendre-gendre kayak bag guys

    uda berapa lama nulis?
    tulisannya bagus.
    semangat selanjutnya.
    banyakkin sooyoung doojoon. sebab baca ini langsung ngship mereka. heheheh

    makasih ff nya

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Iya. Aku suka banget drama kayak gitu, bukan cuma bad guys, tapi mrs. Cop juga keren xD

      Makasih udah ninggalin jejak dewi 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s