[FF] HOST Café’s Daily – Day 2

Title: HOST Café’s Daily
Genre: Reverse-Harem, Comedy, Friendship
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung [SNSD] and the boys.
Summary: Namun di antara tangan pria itu yang menggantung, bertumpu tubuh pada sebuah pegangan, Sooyoung bukan pura-pura tidak tahu, bahwa ia mendapati Jaehyun melirik, dalam frekuensi yang tak tentu, semakin lama semakin transparan, mengacaukan hatinya.

image

***

Day 2 – Shocking Day

Gloria kenikmatan nyaris di ambang sebagai penutup malam ini. Ia melenguh, menyisipkan helai poni gadis itu ke samping diiringi lullaby. Mengecup keningnya—dan Sooyoung menuntun tangannya untuk menyentuh—kecup, lebam di tengkuk, membiru. Di sana, ah, ya, ya, itu, “Ah,” lantas Sooyoung memohon lebih dalam.

“Begini?” Jaehyun tercekat—nafasnya panas. Udara panas, terkuras, bersamaan dengan tangan Sooyoung di lehernya, mendorong kepalanya maju, naluriah menyesuaikan sudut pertemuan bibir mereka.

Ia memprediksi yang terjadi selanjutnya adalah dua kenyal pinkish alami itu bertemu—tersentuh, dan keduanya merekat, dalam buai dimana seprai dan selimut tersibak serta ada aroma keringat, dan shampo—Choi Sooyoung …

“Ah … Hyung,”

“Hah!” ia hanya tidak memprediksi akan terbangun pagi itu dengan terengah-engah dan (memang) ada keringat mengucuri kaus tidurnya. Ia membelo, mengusap wajah, terdampar di kasurnya, di kamarnya, dengan kejadian luarbiasa beberapa detik lalu yang ternyata tak lebih dari sekedar fana—bunga tidur belaka. “Gi-gila … mimpi apa barusan?”

***

Ia berkali-kali menuduh Kevin dalam batin soal penyebab mimpi buruk malapetaka yang menimpanya tadi. Bagian awalnya memang bagus—hei, tentu saja, ia bermain dengan Choi Sooyoung yang nakal walaupun hanya setengah jalan—oh! Tapi semuanya jadi buyar ketika di akhir lawan mainnya berubah menjadi si lelaki metroseksual rekannya sendiri, Kevin Woo, please, please go die soon.

“Apa-apaan Hyung! Pagi-pagi begini kirim pesan menyuruhku untuk mati!” sembur Kevin di telepon sembari Jaehyun sibuk menguyah sandwich tuna dalam perjalanannya menuju halte Bus (ia sadar diri untuk tidak cukup gila mengemudikan mobil pribadi dengan pikiran kacau sehabis mimpi basah, jujur saja).

Jadi bashing saja Kevin Woo selama ia sanggup, “Ini gara-gara kau. Kematianmu akan membuatku bahagia jadi, kau, matilah.”

“Mati? Apa yang akan kau lakukan bila kau jadi aku? Bunuh diri? Hyung!”

“Aku tidak peduli, ck. Tadi malam aku bermimpi aneh—tidak, sekarang aku hampir telat berangkat ke kantor—!” Jaehyun sengaja menskip deretan protes Kevin beserta julukan-julukan kejam yang diberikan pria itu kepadanya. “Busnya datang, kita bicara lagi nanti.”

Hyuuung—”

Bahkan rengekan Kevin masih berdenging (layaknya gelombang kelelawar) di telinganya ketika ia sudah menaiki Bus dan berdiri di antara pengguna jalan yang sibuk. Berhimpit, terdorong dari kedua sisi, ugh jinjjamungkin aku harus mencari supir pribadi saja, nanti.

Di pemberhentian pertama yang ia lewati, beberapa penumpang bergiliran turun sehingga keadaan tidak sesesak tadi. Ia menemukan cela untuk duduk di salah satu bangku kosong namun ia teringat akan wanita muda di sampingnya, maka ia mundur dengan gentle dan mempersilahkan.

Wanita itu menengok, Jaehyun mengira ucapan terimakasih yang akan ia terima selanjutnya namun—tidak. Wanita muda ini … menatapnya lama tanpa mengucap apa-apa. Kerut di alisnya membuat Jaehyun tahu akan kebingungan wanita itu.

“Maaf. Apakah kita pernah bertemu, Tuan?”

Astaga. Wanita ini—serius, dia benar-benar—!

“Kemarin. Kita bertemu, di tempat Kevin Woo, kita bertukar sapa dan senyum, kalau-kalau ingatanmu masih tidak bisa diajak kompromi,” Jaehyun tersenyum nyiyir, tertinggal jelas jejak kejengkelan di wajah mulus itu, “Choi Sooyoung-ssi.” Tekannya.

Bertemu Choi Sooyoung di dalam bus, ah yeah, kesialan lainnya.

“Er … Siapa lagi namamu?”

“Ahn Jaehyun,” tunanganmu, suami masa depanmu, baru kemarin kita bertemu kau sudah melupakan namaku?!—mau tidak mau, dengan dongkol Jaehyun mulai mempertimbangkan keempirisan dari opini Kevin mengenai wajahnya yang kelewat tampan tapi pasaran.

“Ah, ya. Terimakasih, Ahn Jaehyun-ssi.” Sooyoung menempatkan dirinya duduk di dekat jendela. “Di sebelahku kosong, mau duduk?”

“Tidak, aku berdiri saja.” Sooyoung tidak berkomentar non-sense atas keengganan nyata dan sopan santun si pria Ahn atas penolakan tawarannya. Ia hanya beralih pandang pada pemandangan di luar jendela dan tidak peduli—kenapa Ahn Jaehyun menatapinya lama sekali?

Pria itu tidak ada bedanya dengan kebanyakan orang yang ditemuinya di Klub malam. Dinamis, elegan, sedikit hottie namun tidak vulgar—ia mengakui. Ada dingin di matanya dan sikapnya yang tak-tak-tak, Sooyoung sudah kenyang menghadapi pria-pria semacam ini, tidak lagi—meski diluar nalar sedikit kemungkinan seorang pria bi tertarik kepadanya, heol, tidak mungkin.

Namun di antara tangan pria itu yang menggantung, bertumpu tubuh pada sebuah pegangan, Sooyoung bukan pura-pura tidak tahu, bahwa ia mendapati Jaehyun melirik, dalam frekuensi yang tak tentu, semakin lama semakin transparan, mengacaukan hatinya.

“Kau perlu memerhatikan tempat pemberhentianmu, aku tidak akan bertanggung jawab bila kau telat kerja karena kelamaan menatapku,” sindir Sooyoung, dalih atas malu karena perlakuan Jaehyun yang terus-menerus begitu.

Jaehyun berdeham, lalu membuang pandangan, memilih untuk tidak berkata apa-apa. Selain, dalam hatinya—Choi Sooyoung cantik, memesona sepuluh kali lipat dibandingkan foto-fotonya—ia bukanlah tipe pria yang mengelak pada wanita cantik (hei, perihal tudingan bi yang dilontarkan Kevin kemarin tentu saja bohong!). Jaehyun hanya masih agak tidak percaya pada akhirnya ia dapat bertemu Choi Sooyoung asli. Asli. Faktual, di hadapannya—oh tidak, figur sekujur tubuh Choi Sooyoung yang basah memelintir seprai ranjangnya membuat ia menjadi lelaki hina—mimpinya tadi malam benar-benar kurang ajar.

“Ngomong-ngomong,” mulainya, tidak bagus situasi sehening ini padahal jelas-jelas mereka saling kenal—maka Jaehyun memilah-milih kalimat tanya yang tepat, “kau turun di pemberhentian mana?”

“Sebentar lagi,” singkat sekali, terimakasih, sekarang ia harus mencari bahan obrolan lainnya—atau mungkin tidak, “bagaimana denganmu? Kevin bilang padaku kau sedang butuh pekerjaan, kukira kau pengangguran, ternyata … outfit itu …,”

“Aku—bekerja, ya. Kau tidak salah.” Jawabnya, sebelum mendapat glare tidak menyenangkan dari Sooyoung ia mengimbuh, “Tapi perihal bekerja di tempatmu, aku juga membutuhkannya. Ini soal kebutuhan tambahan, pekerjaan sampingan.”

“Aku belum tahu kinerjamu, tapi dilihat dari penampilanmu (dan perihal ketertarikanmu yang sedikit menyeleweng dari kebanyakan pria Korea) … kau tipe orang yang mudah menarik perhatian orang, bukan begitu?”

“Tidak juga,” tidak termasuk dirimu, gadis bebal. “aku tidak seperti itu, jangan percaya kata-kata Kevin.”

“Aku lebih percaya Kevin daripada kau.” Sooyoung melenguh. “Kenapa kau tidak duduk saja? Leherku pegal kalau harus menatapmu dari bawah sini.”

Manatapku dari bawah sana? Geu yeoja-ga jinjja—Sembari Jaehyun merapikan dasi yang sebetulnya, tidak perlu, ia mendengus pasrah, “Kata-katamu itu yang membuat orang lain yang mendengar bisa salah paham.”

“Memangnya aku bilang apa?”

“Baiklah aku duduk,” mulutnya tertekuk ketika ia berkata, duduk dengan posisi tegap terlalu formal yang telah terpoles bertahun-tahun lamanya, “ada lagi yang lainnya?”

“Kalau kau memang tertarik dengan pekerjaan sampingan itu, datanglah untuk wawancara ke Café hari ini, aku tidak akan mengusirmu.”

“Maaf?”

Sooyoung menoleh cepat, telunjuk kecilnya terjulur menyentuh—menekan dada Jaehyun tepat di atas jasnya. “Di samping itu—aku sebetulnya meragukanmu, tapi Kevin bersikeras entah kenapa, aku tidak tahu. Jadi jangan kecewakan aku, Tuan.”

***

Seturunnya dari Bus, Sooyoung menyilangkan tangannya, defensif. Belum ia menanyakan dengan galak mengenai apa yang lelaki Ahn itu lakukan di sini, di perusahaan ini, sementara dirinya terjebak dalam argumen tiba-tiba mereka berdua, mengetahui fakta keduanya turun di pemberhentian yang sama. Kenapa?!

“Kau tidak bilang tujuanmu adalah ke sini, Sulhwa Grup,” hei—kenapa jadi pria itu yang kelihatan tidak senang? Sooyoung yang sedang marah di sini! Langkah mereka saling mengejar, Sooyoung agak tertinggal di belakang namun tarikan langsung pada kerah tinggi jasnya tidak bisa ditunda. “Apa maumu? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Kau yang harusnya menjelaskan, kenapa kau bekerja di sini?”

“Nanti—nanti akan kujelaskan, sekarang tidak bisa, aku mohon Sooyoung-ssi—” sebab ia tidak pandai mencari alasan bila tiba-tiba salah satu bawahannya melihat dan memanggilnya Sajangnim dan … tamat. Sooyoung akan tahu. Terbongkar. Kkeut.

“Apa jabatanmu, aku belum bertanya soal itu, kan,” Sooyoung mencegatnya sekali lagi.

“Kenapa kau ingin tahu?” balas Jaehyun, sedikit ketus. Sooyoung mundur beberapa langkah ketika lantas laki-laki itu balik menghadang tubuhnya, ia merasa kecil dibanding pundak Jaehyun yang lebar. “Segala sesuatu tentangku, seharusnya tidak penting bagimu.”

“Apa?”

“Apa?”

“Kau—kau aneh! Aku hanya tidak menyangka kau bekerja di sini. Jangan bilang siapa-siapa kalau aku datang ke sini, terutama Presdir—kau tidak pura-pura bodoh untuk tidak tahu siapa aku bagi Presdir Sulhwa, ‘kan?”

Jaehyun tidak menjawab, untuk sesaat, ketika ia menutup kedua mata untuk menenangkan pikirannya dan membuka kembali kelopaknya, ia berucap dengan penuh penekanan di tiap kata, “Kau Choi Sooyoung, tunangannya.”

“Nah, kau tahu, jadi tutup mulutmu.”

“Kenapa kau tidak mau bertemu dengannya? Dia adalah tunanganmu,” sementara Sooyoung mencari-cari jawaban pada pandangannya yang menolak menatap mata Jaehyun, ia melewatkan sudut senyum Jaehyun terangkat lebih tinggi daripada sisi sebaliknya, senyum itu dingin, sebagaimana tatapannya merendah, membiarkan Sooyoung tak menjawab pertanyaan itu kali ini saja. “Apa kau menyembunyikan sesuatu darinya?”

“Aku—tidak mau menganggu waktu kerjanya, haha, jadi minggir, seseorang menungguku,” ia mendorong bahu Jaehyun yang rasa-rasanya semakin menjepit tubuhnya di antara tembok. “lagipula ini bukan urusanmu.”

Jaehyun menahan pergelangan tangan yang kecil itu, menilik melalui matanya. “Karena kau begitu memesona ketika marah, aku akan membiarkanmu, tapi lain kali … Nona, tidak akan terjadi lagi.” Bisiknya di samping telinga Sooyoung—nyaris seperti hembusan nafas membakar kulitnya.

Pria itu kembali pada orbit tata krama dan suara monotonisnya ketika jarak wajah mereka berdua kembali mendingin. Dasi yang mengantung patuh di leher jadi fokus pandang Sooyoung. Gugup. Sedikit meruntuk kesal akan panas pipinya dan ia melonjak tertahan, “A-apa maksudmu,” dalih akan ketidaktahanannya akan kata-kata Jaehyun yang tak ia mengerti, “dasar bi!”

Untuk kali ini Jaehyun mensyukuri kepergian terburu-buru gadis itu mendorong pundaknya agar memberi jalan, demi menyembunyikan detakan jantungnya yang tak logis. Hingga, ia harus berakhir menampar pipinya sendiri akibat fantasi bibir Choi Sooyoung yang kissable.

***

“Junhyung-ah,” Sooyoung berseru ketika berhasil meniti langkah ke studio Yong Junhyung—rekannya, seseorang yang mengajaknya untuk bertemu, di sini—sial sekali. Biarkan ia memaki si masokis itu, pria yang duduk santai di kursi sadar dengan headphone dan kertas berserakan.

“Kau tepat waktu, ada apa?” Sooyoung tidak suka seseorang bicara tanpa menatap matanya maka ia melepas paksa headphone dari kedua kuping si Yong—bertujuan meminta perhatian nun diterimanya sorotan jengah dan lelah, “aku hampir selesai, tunggulah sebentar lagi.”

“Aku nggak mau kau mengajakku bertemu di sini, lagi, ini yang terakhir kali, oke?” rayunya. Melihat Junhyung mengangguk entah karena ucapannya atau karena musik yang ia dengar—whatever. “Kapan lagu ini bisa kudengar, ngomong-ngomong?”

“Aku tidak menduga kau adalah orang pertama yang akan mendengarnya,” Junhyung menghela nafas, capek, celotehan gadis itu tidak akan berhenti dengan mudah—maka ia menaruh headphone itu di telinga Sooyoung dan mengatur nadanya kembali ke awal. “Aku berpikir Yoseob bisa mengisi chorusnya, dan juga Leo untuk—”

Sesuai ekspetasi—hening, senyum di bibir, dan mengikuti melodi yang telah dikomposisi Junhyung. “Ini lagu ballad.” Komentar Sooyoung.

“Itu bukan pujian,” Junhyung tersenyum miring, meminta lebih. Sedikit nada menggerutu didapatnya dari Sooyoung kemudian, sungguh lucu—oh geez aku bukan kritikus musik tolong jangan minta pendapatku. “Oke aku tidak mengharapkan review dari seseorang yang buta nada.”

“Aku bisa bernyanyi,” ketus Sooyoung tersinggung. “dan tolong hargai perasaan wanita, mereka rapuh, Jun.”

“Aku tidak peduli,” namun senyum miring itu berubah lebih jenaka seraya Junhyung membenahi perlengkapannya, meletakkannya kembali ke asal. Ia pikir Sooyoung tak akan bisa menunggu lebih lama. “Oh iya … apa maksudmu soal yang tadi, tidak mau ke sini lagi? Kau bertemu Presdir?”

Sooyoung teringat akan permintaan awalnya pada Junhyung. “Enggak, tapi bisa saja ada orang yang melaporkanku sering datang ke sini.”

“Kau sudah tinggal sendiri sekarang, seharusnya antek-antek orangtuamu tidak lagi mengikutimu ke mana-mana,” Junhyung berujar, beranjak ke satu meja bertumpuk berkas-berkas dan alat-alat tulis—projek lainnya yang belum selesai. Ia menghilang ke bawah meja, tempat brangkas dimana ia menyimpan barang-barang berharga. Didengarnya Sooyoung berseru bahwa bukan antek-antek itu, melainkan orang lain yang ia kenali, bertemu di sini, sebelum ia menemui Junhyung di studio. “kau tidak perlu setakut itu, Presir Ahn tidak terlihat seperti Ahjussi di mataku. Lagipula … apa salahnya, sih?”

“Dia tidak terlihat seperti Ahjussi, tetapi dia Ahjussi. Wajah memang menipu, cih, aku benci pria.” Gerutuan Sooyoung dipenuhi kesoktahuan, nyata sekali, bila ia telah bertemu Presdir Ahn Jaehyun, pikir Junhyung—ia tidak akan mampu lagi menilai pria dengan sembarangan. Sooyoung hanya belum tahu, dan Junhyung yang malas memberitahu, sebab Junhyung berkawan baik dengan konsep ‘semua akan jelas pada waktunya’.

“Mantan pacarmu, pria. Kau amnesia?”

“Kalau aku tidak benci pria, dia tidak akan jadi mantan pacarku. Neo pabo.”

“Aku jenius musik. Kau tidak bisa sembarangan mengatai seorang writer, komposer, produser, soon-to-be CEO sepertiku.”

“Hei,” Sooyoung berseru riang—transform drastis nada suaranya mengingat semenit lalu gadis cantik itu baru saja cemberut, cemberut, “terimakasih telah mengingatkanku, kapan lagi aku bisa mengataimu bodoh kalau bukan sekarang? Nanti-nanti, kan, kau akan jadi orang hebat—Jun-ah! Bila hari itu tiba, jangan sombong padaku, ya.”

“Aish tutup mulutmu kita pergi sekarang,”

Sooyoung terkekeh, membuntuti Junhyung yang kemudian keluar dan mengunci ruang studio pribadi dengan kunci perak. Oh! Nyamannya pekerjaan yang bisa menuntutmu keluar masuk kantormu sesuka hati—diam-diam ia iri pada Junhyung. Well, itu dulu, sekarang dirinya pun bisa bebas datang kapan saja ke tempat kerja, toh … menjadi Owner adalah sesuatu yang mudah.

“Jun, aku hampir lupa memberitahumu,” jeda sejenak sebelum Junhyung membukakan pintu mobil untuk Sooyoung, ia mendengar dengan terlalu jelas senyum Sooyoung berkata, “Kevin sudah kembali ke Korea.”

“Oh … ya?”

“Humph, dia akan membantuku mengurus Café mulai sekarang.”

Lidah Junhyung kaku. Pikirannya blank, untuk sekian sekon. Butuh tangan Sooyoung guna menepuk ringan pundaknya agar Junhyung dapat menangkap kegembiraan hiperbol dari ungkapan supel itu. “Yeah, bagus … selama kau senang.”

“Aku bisa lebih senang daripada ini!” tangan kecil itu berpindah, dari pundak ke lehernya, bergelayut, berceloteh semangat sekali, “Aku harus memberinya banyak kerjaan nanti—supaya dia nggak bisa kabur kemana-mana, dan mungkin kita bertiga harus sering-sering hangout bersama kayak dulu—aigu, aku harus ajak Yoseobie juga—”

Bukan keinginan Junhyung untuk menulikan kuping—ia hanya tidak mau membaca senyum Sooyoung lebih jauh lagi, tidak, tidak pada Kevin Woo.

***

A/N:
Kemunculan pertama Yong Junhyung, yosh. Sulit sekali membuat karakter semacam do’i yang cool tapi humoris dan masa bodoh(?). Penulis sendiri syok karena berhasil ngebangun kemistri yang bagus antara JH-SY. Dari sini pembaca mungkin sudah bisa beranggapan kalau main pairing adalah Jaehyun/Sooyoung (Jaesoo?), tapi belum jelas siapa side-pair (tentunya bakal ada slight couple lain, dan beberapa pengganggu hubungan Jaesoo).

Sedikit spoiler untuk next day:
Ahn Jaehyun, sesuai perjanjian tetap datang ke Café Sooyoung untuk melamar kerja, di sana dia bakal ketemu Yong Junhyung—yang ternyata adalah bawahannya di Sulhwa Grup. Selain Junhyung, dia juga bakal ketemu semua pegawai Sooyoung yang antara lain adalah tokoh-tokoh yang ada di Characters Image Preview sebelumnya. Hayo, gimana jadinya, yah?

Iklan

10 Comments Add yours

  1. dwiranran berkata:

    ooohhh ahn jaehyunnn
    sebegitu inginnya engkau kepada sooyoung…
    baru ketemu sekali aja dah bisa mimpi basah pa lagi tiap hari ketemu dan d gelayutin ma soo.
    anak orang bisa d makan”

    seneng klo liat cw cantik tapi gesrek jadi aku tahu klo allah maha adil d mana ada kelebihan d situ ada kekurangan.
    ada apanich antar kevin sama junhyung???
    sepertinya ada sesuatu yg d sembunyikan nich.
    ayo semangat wat next part n other storynya ..
    seneng dech bacanya
    buat senyum” sendiri

    Suka

  2. febryza berkata:

    aku kira pas baca scene awal jaehyun sama sooyoung beneran, udah mikir hebat juga nih hubungan mereka berkembang cepet eh gataunya itu cuma one of wet dream from ahn jaehyun :’D
    jadi junhyung bawahannya jaehyun? berarti nanti kalo jaehyun kerja di cafenya sooyoung dia salah satu yg tau jaehyun siapa ke sooyoung dong?
    yg sabar ya jaehyun sooyoung emang gitu orangnya ga pekaan dan oiya kamu kayaknya bakalan punya saingan banyak deh 😀

    Suka

  3. memel berkata:

    ohhh ternyata oh ternyata…. saking cinta sampai sampai kebawa mimpi hahahahah … apa junhyung suka sama Soo yah? keliatan sih iya…. tapi tapi soo suka sama Kevin kah??????

    Suka

  4. Zee Anggita berkata:

    ff’nya wow bngt Eonn, kira’in di awal scene beneran ternyata oh ternyata cuma mimpinya Ahn jaehyun..
    jaehyun kayanya suka pada pandangan pertama ke soo eon..
    penasran bngtt sama nextnya apalagi kedatangan jaehyun ke cafe soo eon bakal ngebuat junhyung bingung..
    nextnya di tunggu..

    Suka

  5. Di berkata:

    CRACK PAIRING LAGI, YEAY!!! Junhyung sooyoung kayanya cocok juga ya padahal sebelumnya nggak pernah kepikiran (nggak ada fanfic nya sih…hehe). Jaehyun pikiran mu itu nak kotor sekali tapi saya suka hohoho lanjutkan!

    Suka

  6. Elisa Chokies berkata:

    WOY YEOKSHI URI CHINGU FANI

    Aku baca ini tadi atraksi banget, lagi buat mie goreng,eh wajannya miring gegara baca ini.HAHAHA

    Ih, Jaehyun cool cool gemez. Aku suka gimana dia mengimajinasikan Sooyoung,aih sampai sebegitunya. Lalu disini L jd apa? pelayan juga? atau malah marketing cafe. Forgive me if i’m wrong yes.

    shezzz, mimpi basah? duh porno ah km bang, pke dibawa ke alam tidur. Jadi menurutku dari awal emang ada sesuatu yang beda hahay makanya pas di akhir aku bisa nebak itu cumak mimpi—tahu, soalnya Sooyoung kn belum love²an , wahaha pantessss.

    Nonton Blood jadi terbantu banget iih. Jadi bisa ngebayangin karakter Bang Jae dengan mendekati sempurna 😀

    ini good good good nice fic, fan! HAPPY WRITING.

    Suka

  7. Jeni berkata:

    Wahwah jaehyun bener bener terkesan sama sooyoung sampe kebawa ke mimpi hahaha
    Waiting for the next chapter 😉

    Suka

  8. nisa berkata:

    weh weh si kevin kok ganggu sih… si jaehyun emang bener bener suka yah sama sooyoung sampe kebawa mimpi gitu… ihh perannya junhyung pas banget…. keren deh… itu maksudnya junhyung cemburu ama si kevin?? ahh kalo aku mah tetep nunggu si jisoo muncul 😀 ditunggu part selanjutnya… muga muga aja deh si jisoo nongol ama si yoseob

    Suka

  9. Awalnya aku bingung loh kak, kok ada adegan +++ padahal love storynya aja masih ga jelas kan yaa._. Dan sebenarnya aku ga ngerti pas adegan +++ itu wkwk (masih polos)
    Jaehyun syok banget kayaknya dilupain sama tunangannya sendiri secara kan dia mana pernah ditolak cewek tapi pas ketemu tunangannya… eh… nama aja dilupain. Poor Jaehyun.
    Sooyoung heh belum tau tunangannya sendiri malah Junhyung yg tau (yaiyala) ga ngebanyangin pas Jaehyun datang ke cafe dan Junhyung juga ada. Gimana ya reaksinyaa….
    Dan emm… kayaknya Junhyung agak jealous gitu yaa liat Sooyoung sayang banget ke Kevin? Ada apa? Love triangle udah dimulai nih hahaha

    Ditunggu selanjutnyaa kakkk^^
    (as always selalu fokus ke kata ‘mantan pacar)

    Suka

  10. yani yanuari berkata:

    bner” kaga bisa coment min!! hahahaha 😀 karakter pairing’a bner” beda sma yng lain wkwkwkwk :v jdi makin pnasaran sma sikapnya junhyung salah tau klo presdir’a jdi pegawai cafe’a soo eonni hahaha 😀 kajja d’next part’a min, keep waiting yawhhh hahha :v

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s