[FF] HOST Café’s Daily – Day 1

Title: HOST Café’s Daily
Genre: Reverse-Harem, Comedy, Friendship
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Choi Sooyoung [SNSD], Ahn Jaehyun, Kevin Woo [U-KISS], and the boys.
Summary: Bersamaan dengan pintu kamar mandi dekat ruang tamu yang terbuka—menampakkan sesosok gadis wangi, cantik dan berkaki jenjang—dan Jaehyun tidak sanggup mengalihkan tatapannya atau berkedip. Gadis itu membalas tatapannya. Ia merasa bodoh seolah jarum jam berhenti berdetik untuk degupan jantungnya yang terlalu berisik dan bagaimana air menetes dari hidung ke bibir gadis itu dan, … ke dadanya yang terbalut selembar handuk.

hcd-sooyoung-jaehyun.jpg

***

Day 1 – Between Friend or Fiance

Disela kesibukannya sebagai Putera Ahn yang di agung-agungkan sepanjang ia menginjakkan kaki, menyusuri karpet—kegiatan para, sebut saja bangsawan, mungkin—atau mengenai aktivitasnya di antara lembaran laporan buku tahunan, Presdir Ahn Jaehyun selalu menyisihkan waktu untuk undangan santap malam Keluarga Choi.

Ayah suka sekali dengan putri bungsu mereka (ya, ya, Keluarga Choi memiliki dua orang putri yang terakhir ia dengar—putri sulung telah dipinang dan menikah, tinggal di luar negeri). Namun sejujurnya, daripada seruan berisik Nyonya Choi bahwa ia sangat tampan dan mapan, ia ingin sekali saja sosok putri bungsu mereka muncul di hadapan selain dari selembar foto antik yang diberikan Sekretaris Lee.

“Choi Sooyoung?” ia mengusap dengan ibu jarinya selembar gadis terbakar matahari dibawah lensa. Dalam foto itu, ia hanya melihat seorang gadis berpakaian musim panas dengan senyum cerah dan mata berkelip, tidak hidup, seolah semuanya diatur sedemikian rupa guna memikat hati orang yang melihat.

Mungkin—nyatanya ia ‘sedikit’ penasaran tentang si gadis Choi.

“Sekiranya Anda mungkin dapat memaafkan Sooyoungie kami, putriku itu mirip sekali seperti Ayahnya, dia pekerja yang keras. Dia bahkan membangun perusahaannya sendiri dari nol,” ia menangkap penjelasan Nyonya Choi sebagai—tidakkah kau lihat? Apa kau tertarik padanya? Ia bukan gadis manja yang meminta disuap setiap hari.

Jadi Jaehyun hanya tersenyum tipis dan mengangguk, ia bergurau mungkin saja diluar sana gadis luarbiasa seperti itu sudah memiliki seorang pria. Ibu Ahn menyenggol sikutnya.

“Setidaknya pikirkanlah, Ibu ingin sekali melihatmu mengenalkan seorang gadis ke rumah,” bisik Ibunya di sela obrolan Ayah dan Suami-Istri Choi.

“Aku pernah,” keluh Jaehyun, meneguk limunnya.

“Kapan terakhir kali? Ketika kau lulus SMA? Oh, bahkan gadis itu tidak menunggumu selesai kuliah dengan baik hingga pulang ke Korea, dia mencampakkanmu, Sayang,” Ibunya terus membujuk, namun Jaehyun sedikit merengek mengenai usianya tidak lagi muda jadi jangan atur lagi kehidupan cintaku—“justru karena usiamu tak lagi muda, Ya Tuhan,” Ibunya memegang kening, pusing berkat—terimakasih putraku kenapa kau perlakukan Ibu seperti ini.

“Ck,” Jaehyun lebih memilih memperhatikan pelayan berlalu-lalang daripada akting pura-pura sakit kepala Ibunya.

“Hei,” tahu-tahu saja ia menangkap pemandangan yang bagus. Penduduk di satu meja itu kemudian menoleh kepadanya dan ia sadar mungkin seruannya menyebabkan kegaduhan. “Maaf, aku akan menemui temanku sebentar,” ia berdiri dan membungkuk.

Yah, Jaehyun-ah,” Ibunya memanggil tapi Jaehyun menghiraukannya. Sebab langka sekali ia bertemu orang itu di sini.

Si Pirang Asia, laki-laki tercantik di Universitasnya dulu, satu-satunya teman asal Korea ketika ia meneruskan studi di Amerika. “Kevin Woo!” panggilnya, kelewat keras.

Si—sebut saja Kevin—menoleh, kaget, ekspresif. “Tunggu, kau—jangan bilang—Jaehyun-hyung? Ahn Jaehyun?”

“Kau sudah pulang, huh, Woo Sunghyun,” Jaehyun merangkul pundaknya, tersenyum. Kevin tertawa, menyenggol lengannya dengan pundak yang Jaehyun rangkul.

“Aku baru saja menyelesaikan kuliahku, dan langsung pulang ke Korea,” Kevin meletakkan gelas minumnya. “How’s life?”

“Begitulah, aku masih jadi boneka,” gurau Jaehyun. Kevin selalu meledeknya, laki-laki itu tahu betul bagaimana kerasnya Keluarga Ahn—Ayah dan Ibunya di Korea, Jaehyun banyak bercerita ketika mereka sama-sama masih berstatus Mahasiswa di Harvard.

“Sebetulnya aku tengah menunggu seseorang, seorang teman lama,” Kevin bilang di antara obrolannya dengan Jaehyun mengingat kenangan lama mereka semasa lingkungan Cambridge, Massachusetts masih akrab.

“Jangan-jangan itu aku. Kau rindu betul padaku, aha.”

“Bukan,” Kevin melongok, mengintip jam yang menunjukkan pukul sembilan lebih tigapuluh menit. “seharusnya dia sudah datang, mungkin aku bisa mengenalkan kalian berdua nanti.”

“Terlambat?”

“Sepertinya, dia gadis yang sibuk.”

“Wah,” Jaehyun berdecak, “akhir-akhir ini wanita Korea selalu sibuk akan sesuatu yang pria tidak tahu.”

“Curhat kehidupan cintamu, Hyung?”

Jaehyun hanya menatapnya, “Yah … bisa dibilang begitu—hei, tunggu jangan-jangan gadis ini kekasihmu?”

Yah, Hyung—mana mungkin, terakhir kali ia bercerita ia tengah dijodohkan—sebentar,” Kevin merasakan saku celananya bergetar, “dia mengirim pesan … dia sudah menungguku di Itaewon, Vatos Urban—aish apa-apaan gadis ini.”

“Kau mau menyusulnya ke sana?”

Kevin menghabiskan minumnya, “Oh,” katanya, sebelum menyambung, “sebelum ia meledak, aku tidak mau dijajah seorang wanita tapi gadis ini berbeda. Hyung, aku duluan ya.”

“Hm, kalau ada waktu datanglah ke tempatku, akan kumasakkan sesuatu.”

“Oke!” Kevin memberinya lambaian sebelum pergi. Jaehyun menghela napas lelah, mari kita kembali ke meja percakapan jodoh dan cinta yang menyebalkan. Nasib, aku datang.

***

“Ada apa denganmu aku sudah menunggumu di Novotel selama sejam lebih!”

Si Pesolek itu mengomelinya habis-habisnya setibanya ia di Vatos Urban, Itaewon-dong, padahal ia dan Kimchinya betul-betul tidak bisa diganggu.

“Kev, tidakkah kau tahu apa itu waktu privat?” ia tidak peduli, mulut Kevin akan berbuih setelah ini, tapi itu justru bagus sebagai hadiah selamat datang ke Negeri Ginseng atas kepergiannya yang terlalu lama dan membuat Sooyoung—hei tidak, si bodoh itu pergi kenapa aku harus kesepian? Memangnya temanku hanya dia? DIA?

“Kau yang tidak tahu apa pengorbanan besar dari kata ‘menunggu’,” Kevin mengakhiri pidatonya setelah beberapa rengekan manja.

Sooyoung mengeluh sekali lagi, “Harusnya aku yang bilang begitu.”

Omo, kau menungguku? Kau menunggu kepulanganku ke Korea? Demi Tuhan, Choi Sooyoung sudah tidak waras. Tunggu, dari dulu kau memang tidak waras.”

Sooyoung menoyor keningnya dan Kevin balas mencubit pipinya tapi jujur itu sama sekali tidak sakit. Sialan, dia merindukan pria ini sampai rasanya ingin menerjangnya sekarang juga tapi, itu akan sangat menjatuhkan harga dirinya. Jadi Choi Sooyoung, tahan, kau bisa menyiksa pria ini beberapa hari lagi.

“Ngomong-ngomong,” Kevin memulai, mencuri kesempatan melahap Tacos ketika Sooyoung tidak melihat, “aku melihat orangtuamu tadi, dengan kroninya, apa itu tentang perjodohan yang kau katakan?”

“Betul juga,” pok! Alih-alih menepuk jidatnya sendiri, Sooyoung lebih suka menepuk jidat Kevin. “itu sebabnya aku mengajakmu bertemu di sini, kau gila ya mana mungkin aku bertemu mereka, keluarga pria itu.”

Geez,” Kevin mengusap jidatnya yang terkena tepuk, “memang pria itu sangat jelek? Mesum? Keparat? Kenapa tidak sekali saja kau ikut acara makan malamnya? Kau itu Nona Muda Choi!”

“Aku tidak tahu pasti tetapi yang kudengar—” Sooyoung menjerit, “pria itu sudah melewati batas usianya!”

“Kau akan menikahi seorang Ahjussi!” Kevin balas menjerit. “Apa kau berpikir mungkin saja itu Jo In Sung aktor favoritmu?”

ANIYA!” pekik Sooyoung.

GEUTCHI!”

Kegaduhan meja mereka berdua rupanya mengundang perhatian orang sekitar, dari pelototan dan decakan dan gelengan kepala mereka, Kevin lantas menutup mulutnya dan menunduk harap memaklumi—Sooyoung membiarkan saja toh ini negara bebas. Sementara Kevin kembali ke kepribadiannya yang dulu—pengomel dan caretaker akut Choi Sooyoung.

“Kau tahu … aku tertawa tiap kali mendengar alasan-alasan yang kau buat demi menghindari pertemuan keluarga itu.”

“Itu bukan alasan. Kau tidak bisa lihat? Aku memang wanita sibuk.”

“Iya, kau sibuk makan.”

“Sunghyun-ah,”

“Berhenti memanggilku begitu, menjijikkan.”

“Kev … bagaimana dong, nasibku ini?” Sooyoung menggeser bangku dan merengek di pundak Kevin dengan bibir mengerucut lucu, Kevin mengelus punggung gadis malang itu, memikirkan suatu cara atas permintaan sahabatnya yang menyedihkan.

“Paling tidak, bagaimana wajahnya? Uangnya?”

“Dia kaya dan sukses, tapi aku belum pernah melihat wajahnya,” ungkap Sooyoung.

“Serius?”

Satu anggukan yakin sebagai jawaban, Kevin membelo.

“Namanya?”

“Aku tidak ingat.”

Kevin hampir terjungkal dari kursi.

Ia mengenal gadis ini sudah begitu lama dan mengetahui bahwa pria ini—tunangan entah siapa namanya—tidak menarik perhatian Sooyoung sama sekali (yang namanya pun terlupakan, maaf kepada pria entah siapa), Kevin dapat menarik hipotesa jikalau pria ini specimen manusia paling membosankan. Bukannya pamer atau apa, namun Kevin mengenal Sooyoung lebih dari gadis itu memahami dirinya sendiri. Sooyoung tidak sadar, bahwa ia hanya memiliki ketertarikan pada sesuatu yang aneh dan berbeda dan abstrak dibanding yang pasti pasti dan konstan (oke, dirinya adalah salah satu bukti nyata dari sesuatu yang aneh, berbeda, dan abstrak itu).

Yeah—Kevin ingin sekali mencoba menceburkan gadis ini ke kolam ikan Mansion Choi siapa tahu kepalanya akan jadi lebih segar (kau tahu ‘kan istilah mencuci otak? Seperti itulah kurang lebih). Harusnya Choi Sooyoung percaya! Mana ada orangtua yang mau menjodohkan anaknya dengan seseorang yang dibawah standar—apalagi yang dibicarakan di sini adalah … CHOI.

“Apa kepalamu terbentur sesuatu? Kau baru saja menatapku penuh cinta.” Papar Sooyoung dalam mobil—tentu saja mesinnya belum dihidupkan—Kevin menunggu Sooyoung selesai dengan seatbelt-nya.

“Aku hanya penasaran, kau masih tinggal di rumah orangtuamu?”

“Tidak, aku tinggal sendiri sudah dari beberapa bulan yang lalu.”

“Apa ada kolam ikan di tempatmu yang sekarang?”

Sooyoung menggeleng, bingung, “Tidak, tapi ada kolam renang di belakang, dekat taman. Kenapa? Mau berenang? Aku bisa meminjamkanmu bikini.”

“Bagus.”

“Serius? Kau pakai bikini?”

“Bukan itu, Amor.”

“Terus apa?”

“Aku baru saja mendapat ide barangkali kepalamu akan jernih kalau aku ceburkan ke kolam.”

“Sebelum kau ceburkan kepalaku, kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu, Kev.” Kevin mendengar senyum psikopat dan suara ‘krek krek’ kepalan tangan Sooyoung. Hahaha, menggodai gadis ini memang selalu memperbaiki mood.

***

“Uh,” Kevin memegangi kepalanya yang berdenyut. Dimana ini …? Ia melihat dan tersadar bahwa ia ada di rumahnya, di kamarnya. Ia masih agak pusing, ia tidak ingat apa-apa soal semalam. Kalau tidak salah Sooyoung berkunjung tapi entahlah setelah itu.

Maka memutuskan untuk mandi dengan air hangat adalah yang terbaik—setelah getaran ponsel yang hampir tak terjangkau, dari Jaehyun-hyung. Aku sedang libur hari ini, mau ke tempatku?

Aish, dasar bujang tidak sabaran, Kevin terkekeh sembari ia mengetik balasannya. Aku ingin malas-malasan di rumah.

Tiga menit kemudian. Kalau begitu aku yang akan ke tempatmu, kirimkan alamatnya.

Kevin mengecek pesan itu sekali lagi, ada apa dengan Jaehyun-hyung hari ini? Sepertinya dia over-exited tentang sesuatu? “Entahlah,” pada akhirnya ia hanya melempar ponsel itu ke kasur dan angkat bahu malas peduli—tentu saja bohong, ia peduli, makanya ia mengirimkan alamat rumahnya pada Ahn Jaehyun.

Krek.

Seseorang membuka pintu kamarnya. Horor, Kevin menoleh. “Ya Choi Sooyoung aku sedang berganti pakaian tutup pintunya!”

“Hoammm, hhh, oke, oke,” pintu kembali ditutup.

Kevin membeku. Choi Sooyoung?

Choi Sooyoung?

Yah …

MWOYA IGEEE!!!

Brakkk! Kevin keluar kamar sudah berpakaian lengkap dan tatapan nyalang mencari-cari sosok gadis Choi sialan. Ia menemukan gadis itu tengah mengorek isi kulkas (kulkasnya) layaknya anak autis dengan hanya berbalut kemeja kebesaran miliknya (maafkan mataku ini, Sooyoung dengan kaki jenjang tanpa apa-apa membuat keperjakaan mataku hilang). “Kenapa kau tidak pulang, hah!”

“Aku ketiduran juga, masa kau lupa, kemarin kita berdua mabuk.”

Kevin mengusap wajahnya, “Astaga, yang benar saja. Jadi semalam kau tidur dimana?”

“Di sofa,” jawab Sooyoung polos, dan dengan bahagia ia mencuri sekotak es krim kelapa di depan pemiliknya.

“Di sofa? Yah! Kenapa tidak membangunkanku! Kau bisa tidur di kamarku kalau mau! Apa badanmu baik-baik saja? Ada yang sakit? Apa tidak kedinginan? Kau pakai selimutku ‘kan? Tidak, aku baru ingat, kau hanya pakai kemejaku! Demi Tuhan!”

Sooyoung menonton Kevin selesai dengan kuliah duha-nya, sebelum es krim itu meleleh di mulut. Ia menjilat tetesan terakhir yang tersisa di bibirnya. “Wah. Ini enak sekali.”

“Kau menghabiskannya?”

“Iya. Maaf ya.”

“Tidak apa-apa. Aku akan buat sarapan.” Kevin menghela napas lelah—lelah karena omelannya hanya angin lalu bagi Sooyoung, bukan lagi masuk telinga kiri keluar telinga kanan, tetapi masuk telinga kiri keluar telinga kiri pula—alias memantul.

“Soal percakapan kita kemarin malam,” ucapan Sooyoung menggantung sebentar.

“Ya?”

“Kau mau ‘kan?”

“Mau apa?”

“Kerja di tempatku. Maksudku, aku nggak bisa jauh-jauh lagi darimu, Kev, cukup empat tahun dan enggak lagi, dan ini hal yang beribu kali lebih bagus daripada kau ditawari mengabdi di perusahaan Ayah.”

“Ya, ya, akan kupikirkan,” ia menskip pemikiran mengenai apa maksud dari ‘Choi Sooyoung tidak bisa jauh-jauh dari Kevin Woo’ dan kenapa Sooyoung memilih kata ‘mengabdi’ daripada ‘bekerja’ di perusahaan Choi Jungnam.

“Kau sudah memikirkannya, kemarin malam,” cela Sooyoung agak ketus sekarang. “jadi pagi ini aku mau jawaban.”

Kevin mengusap wajahnya, “Ada apa sih, denganmu?”

“Banyak hal terjadi padaku belakangan ini. Kau nggak tahu rasanya sakit sekali. Aku hanya mau ada seseorang yang menjagaku, memerhatikanku di tempat kerja, lagipula … di sana kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama.”

O … ke? Dari penuturan si cantik di atas, Kevin persingkat saja seperti ini: penyakit Kevin-addict Sooyoung sedang kambuh.

“Memang pacarmu kemana?” mendengar pertanyaan itu, Sooyoung mempout bibirnya. Pacar yang dibicarakan di sini adalah pacarnya sebulan ke belakang, tinggi menjulang dan bermarga sama seperti Kevin.

“Dia mencampakkanku,” adunya pilu.

“Dia mencampakkanmu? Meninggalkanmu? Aku ubah pertanyaanku, dia mencampakkanmu atau kau mencampakkan dia?”

“Ralat. Aku mencampakkan dia,” Sooyoung nyengir.

Kevin mendesah lelah, sudah ia duga. “Kenapa?”

“Dia membotaki rambutnya, Kev, mataku iritasi setiap melihatnya jadi aku minta putus.”

“Mungkin dia harus pergi wamil!” Kevin gemas, perempuan satu ini benar-benar kekanakan. Hanya karena rambut cinta pergi entah kemana? Geez, dan perempuan pelit kasih ini adalah sahabatku? Kok bisa ya!

“Mana mungkin! Dia masih dua puluh lima!”

“Aish, sana pergi mandi.” Bicara dengan perempuan keras kepala seperti dia, bikin capek saja pagi-pagi. Lebih baik ia segera membuat sesuatu di dapur untuk mereka berdua sarapan.

“Tapi kau ‘iya’, ‘kan?”

“‘Iya’ apalagi?”

“Soal bekerja denganku.”

“Ck, iya, iya!”

“Baiklah, hehe, aku mandi dulu,” dari dapur, Kevin mendengar langkah gadis itu menuju kamarnya, “nggak mau mandi bareng, nih?”

“Aku sudah mandi, dan Choi Sooyoung, ambil saja pakaian dan handuk di lemariku,” ia berbalik namun gadis itu sudah menghilang, mungkin ke kamarnya—sebentar, ia ingat terakhir kali Sooyoung mengambil pakaian di lemarinya semua akan jadi kacau—haha, dasar keparat kecil itu—“tunggu biar aku ambilkan saja untukmu jangan ambil sendiri!”

Ia tergesa menuju kamar untuk mengecek namun pintu kamar mandi terlanjur ditutup keras tanda Sooyoung sudah masuk dan lemarinya—keadaan lemarinya … Kevin menjatuhkan spatula. Baju-baju berantakan, pakaian dalamnya ikut keluar kemana-mana. “Choi Sooyoung sebenarnya bagaimana caramu mengambil pakaian, hah! Gadis sialan!”

***

Ahn Jaehyun memacu langkah ke depan pintu tempat tinggal Kevin.

Hingga ia sampai di depan pintu otomatis, mengingat langkah selanjutnya adalah menekan bel selamat datang lalu menginterogasi si mantan mahasiswa seperantauan perihal pertanyaan-pertanyaan di pikirannya.

Ting!

Ting!

Apakah terlalu pagi? Jaehyun bertanya-tanya mungkin saja Kevin kelelahan akibat perjalanan dari negeri seberang ke negeri asal namun ia tidak bisa menunggu lama. Benar-benar ada hal penting yang harus dibicarakan.

Bila saja ia tidak mengajak Kevin berbincang kemarin mungkin ia tidak akan sadar selamanya—akan pertanyaan simpel Ibunya, “Siapa pria muda itu?”

“Teman lamaku dari Amerika, Kevin Woo.” Jaehyun menjawab seperlunya, ia tidak mengharap reaksi berlebihan dari Nyonya Choi ketika mendengar nama itu disebut.

“Kevin Woo? Apakah itu Sunghyunie? Ah, benar juga, aku ingat … dia melanjutkan studi ke Universitas yang sama denganmu, ya, fufufu,”

“Bagaimana—maaf, apakah Anda secara kebetulan juga mengenal Kevin Woo?”

Nyonya Choi tertawa saja, “Fufufu, anak manis itu adalah sahabat dekat putriku semenjak kecil. Bagaimana mungkin aku tidak mengenalnya?”

Sahabat dekat Choi Sooyoung? Laki-laki semacam Kevin? Jaehyun harus memutar otak beberapa kali begitu mendengar hal ini. Ia akan menanyakannya langsung kepada si Blondie Boy nanti—anehnya mengapa ia penasaran sekali menyangkut hal-hal remeh gadis itu, jangan-jangan Choi Sooyoung memakaikan guna-guna kepadanya. Sampai-sampai ia tahu jelas bagaimana komposisi wajah dan proporsi tubuh gadis itu padahal hanya bersumber dari selembar foto.

Ting!

Sekali lagi dia menekan tombol bel dan menyerukan nama Kevin.

Kali ini, ada sedikit pergerakan—terlalu rusuh, dan tergopoh, membuka pintu. Wajah panik—panik?—Kevin muncul di baliknya.

“Kau sehabis olahraga pagi? Wajahmu berkeringat,” heran Jaehyun, ia mendorong pintu agar terbuka lebih lebar tapi Kevin seolah menahan pintu itu.

“Tu—tunggu sebentar, Hyung, aku belum berpakaian,”

“Memangnya kau olahraga sambil telanjang?” Kevin terus mengatakan hal-hal tidak masuk akal yang mencegah Jaehyun untuk masuk dan laki-laki itu juga menghindari tatapan matanya, “Kau menyembunyikan seorang wanita di rumahmu, ya?”

“AAA—YAH! Mana mungkin hahaha—ha-ha-ha, yang benar saja, Hyung ini,”

“Kalau begitu biarkan aku masuk,”

“AAA—nanti!”

“Heee,” Jaehyun memasang smirk, melipat tangan di depan dada, “baiklah aku akan menunggu di sini sampai kau selesai menyembunyikan gadis itu—ah salah, mungkin bukan lagi ‘gadis’.”

“Gadis? Haha, gadis apa? Siapa? Hahaha,”

Di antara tawa Kevin, tangannya yang lengah menjaga pintu, berterimakasihlah pada postur tubuh atletis dan tinggi menjulang yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahn Jaehyun sebab, dengan ini ia berhasil mendorong pintu dan membuat Kevin jatuh tersungkur ke lantai rumahnya sendiri.

Bersamaan dengan pintu kamar mandi dekat ruang tamu yang terbuka—menampakkan sesosok gadis wangi, cantik dan berkaki jenjang—dan Jaehyun tidak sanggup mengalihkan tatapannya atau berkedip. Gadis itu membalas tatapannya. Ia merasa bodoh seolah jarum jam berhenti berdetik untuk degupan jantungnya yang terlalu berisik dan bagaimana air menetes dari hidung ke bibir gadis itu dan, … ke dadanya yang terbalut selembar handuk.

Jaehyun menemukan mimik muka Kevin yang kalang kabut dan ia baru saja menemukan fakta baru yang lebih hebat dari sekadar yang diketahui Nyonya Choi—bukan, Kevin Woo bukan sahabat dekat Choi Sooyoung, melainkan kekasihnya.

Lelucon macam apa ini.

Annyeonghaseyo,” sapa si gadis sembari kepalanya menunduk pelan—si gadis itu, putri bungsu keluarga Choi, seorang tunangan yang belum pernah ditemuinya secara riil, Choi Sooyoung!

Jaehyun balas menyapa saja, tapi … dengan busana sehabis mandi gadis itu sekarang, timbul rasa canggung dan membuat ia jadi malu sendiri.

Kevin yang menyadari kecanggungan ini lantas memekik, “Sooyoung-ah!” ia bergegas bangun dari posisi terjerembabnya dan mendorong pundak polos gadis itu ke sebuah kamar, plus pintunya ia tutup dan kunci dari luar.

“Maaf, maaf, haha, kau jadi melihat yang aneh-aneh. Lupakan saja. Lupakan semuanya, ya, anggap saja kau tidak pernah melihat gadis itu ada di sini, dia cuma penampakan lewat.”

“Penampakan lewat kau bilang?” Jaehyun mendecih, menarik kasar V-neck dari kaus yang dikenakan si lawan bicara dan berkata ketus, “Kevin Woo, kau kira aku pikun? Gadis itu Choi Sooyoung, putri bungsu Choi Jungnam, apa aku salah?”

“Woah. Daebak, dia terkenal ya?”

“Grrr!” Jaehyun memojokkan si pirang ke dinding, ukh—sesak, batin Kevin. “Aku tanya serius. Apa hubunganmu dengan dia?”

“Re-rekan kerja, Hyung—akh, apa-apaan ini, lepaskan!”

Jaehyun melepaskan cengkramannya pada leher Kevin. Ia menghela napas terlihat mengendalikan emosi, lantas bersedekap dengan dada yang sudah tidak setegang barusan. “Apakah wajar bila rekan kerja menginap dan numpang mandi?”

“Errr … Rekan kerja yang cukup dekat.”

“Hm?” tatapan dingin Jaehyun membuat Kevin menciut.

“Rekan kerja semenjak umur duabelas tahun? Cukup dekat ‘kan? Haha.”

“Woo Sunghyun, jangan berbelit-belit. Aku sudah bisa mengendalikan kesabaranku jadi tenang saja. Kau tidak akan mati di sini. Sekarang jawab dengan jujur … apakah dia pacarmu?”

Kevin menganga kaget seolah benaknya menyeruak, ‘Pacarku? Choi Sooyoung? Pacar? Hyung! Kau kira aku apaan?!’

***

Ketika pada akhirnya mereka bertiga harus sarapan dalam satu meja, dan Sooyoung lebih memilih duduk menempel pada Kevin ketimbang dirinya—Ahn Jaehyun, yang uh ia sudah mengaku kepada Kevin bahwa ia adalah tunangan Choi Sooyoung (berhasil menyemburkan tawa si pirang seperti orang sakau). Sementara di tempatnya duduk ia nyaris K.O. karena adegan-adegan cuddling di depan mata. Rasanya ingin sekali menghadiahkan Kevin bogeman selamat datang sekarang. Bisa-bisanya lelaki yang lebih muda darinya itu bermesraan dengan Sooyoung setelah sebelumnya menghina gadis itu, “Hyung, meskipun Sooyoungie cantik dan seksi, aku masih cukup waras untuk tidak memacarinya! Jadi sahabatnya saja sudah cukup menguras lelah dengan aksi penjajahan keji yang setiap hari dia lakukan, selebihnya untuk jadi pacar—tidak mungkin!”

Tatapan Jaehyun mungkin bisa melubangi wajah Kevin, tapi Sooyoung sepertinya tidak acuh dengan tamu asing di seberang meja. Sialan, ia bahkan harus menyebut dirinya sebagai orang asing di depan sosok tunangannya sendiri. Lebih menyedihkan lagi Kevin bilang Sooyoung tidak tertarik kepadanya, sekedar mengingat nama dan wajahnya pun gadis itu enggan.

Sementara ia terpuruk, tergila-gila pada gadis itu hanya dengan menjangkau foto-foto dan mendengar cerita-cerita dari Choi Soohee—Ibunda Sooyoung. Bodoh sekali mengetahui gadis itu tidak (belum) menggilainya balik.

“Tentu saja Sooyoung tidak tertarik padamu. Kau itu udik, kuno, formal, monoton, pasaran, muka gratis—terlebih soal wajah dan latar belakang keluarga, Sooyoung tidak peduli!”

“Tunggu—apa kau bilang? Muka gratis?!”

“Iya—pffft—haha, maksudku, cobalah buat dirimu lebih menarik kalau ingin membuat Sooyoung terpikat! Meskipun ketampananmu melebihi Poseidon, kalau sifatmu garing, percuma saja!”

Jadi ia harus bagaimana? Sebab angkat tangan sebelum bertempur itu bukan gayanya. Apalagi menerima penolakan sebelum gadis itu kenal dekat dengannya? Baru kali ini ia alami onesided-crush. Bukannya sombong—hei, nona-nona! Ia adalah kasanova selama di kampus maupun di kantor! Ia tinggi dan punya manner, dandy, good-looking, dan gadis-gadis di klub malam memujinya hottie. Namun mengenai penilaian Choi Sooyoung yang jungkir balik dari kebanyakan gadis umum—entah apa isi kepalanya—Ahn Jaehyun harus beberapa kali menyerap nasehat Kevin ke dalam IQ-nya yang tinggi sebelum ia betul-betul paham. Menyingkirkan jauh-jauh anggapan bahwa ia perlu menyerupai Kevin demi membuat gadis itu tertarik—nol besar—ia hanya perlu jadi diri sendiri, mendekati gadis itu perlahan-lahan.

Maka ketika Kevin selesai dengan sarapannya dan menarik kursi di samping Sooyoung, dalam hening beberapa detik ke depan, ia siap mendengar rencana yang telah mereka berdua sepakati (selama Sooyoung terkurung di kamar kedap suara Kevin, mereka berdua mensistem langkah-langkah pendekatan untuk sang tunangan).

“Sooyoung-ah, kau bilang Café-mu tengah membutuhkan waiter sekaligus host ‘kan?” Kevin memulai dengan formal, “Nah, sebenarnya ada alasan mengapa aku mengundang temanku ke sini. Aku ingin merekomendasikan dia untuk bekerja di tempatmu. Wajahnya tampan dan dia cocok melayani tamu-tamu sebagai host … Namanya Ahn Jaehyun—”

Jaehyun ikut berdiri dari kursinya lantaran hendak menyalami gadis itu—naasnya Sooyoung lebih mementingkan pancake bersirup apel dan membiarkan jabatan tangan Jaehyun beradu dengan udara kosong.

Sebelum dagunya hampir terbanting bersamaan dengan harga dirinya karena fitnah tiba-tiba Kevin yang tidak tercantum sama sekali dalam rencana krusial mereka, “—dan dia ini adalah seorang bi.”

Bi?” Sooyoung menoleh.

“Yup,” Kevin mengerling Jaehyun, “dia suka laki-laki dan perempuan, bukan begitu, Hyungnim?”

Mari sewa pembunuh bayaran untuk meneror Kevin seumur hidupnya.

***

A/N:

Untuk chapter satu belum semua pemain dimunculkan, hehe, tunggu tanggal main ‘reverse-harem’-nya. Ayo dukung pairing yang kira-kira bakal jadi favoritmu mulai dari sekarang! Kekeke.

With love,

Wufanneey

Iklan

32 Comments Add yours

  1. febryza berkata:

    omg jadi jadi jadi sooyoung itu sebenernya tunangan jaehyun dan jaehyun disitu karena ide kevin? hahahahaha daebak mana dibilang jaehyun bi juga lagi hahahahaha
    sooyoung-ah itu tunangan mu ganteng gitu juga kenapa ga tertarik sih hahahaha

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Feb, jaman sekarang orang ganteng itu banyak, udah pasaran. Jadi poin pentingnya, ya harus menarik dan punya ciri khas!

      Suka

      1. febryza berkata:

        setuju fan, cuma kayaknya kalo sooyoung agak rada2 error deh disini hahahaha eh aslinya juga kan

        Suka

      2. Yang Yojeong berkata:

        Aslinya juga xD
        Iya sih, terus kenapa gw suka, ya? Gw error jugak dong?!

        Suka

  2. nisa berkata:

    Oalah jadi sooyoung itu tunangannya jaehyun….tak kirain sama kevin beneran pacaran….kok sooyoung gamau sih sama jaehyun… sini sini jaehyun sama aku aja 😀 ditunggu yah kelanjutannya~ penasaran banget soalnya

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Bukan nggak mau, tapi belum waktunya, kekeke~

      Suka

  3. chaachaaz berkata:

    Waaah,Kevin parah banget! Jae hyun mau dijadiin host cafe cobaa,tapi gapapa lah~ Excited banget buat next chapternya, ditunggu bangeeet updatenya 😆😆

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Hi chacha! Makasih udah berkunjung dan menyempatkan baca fanfiksi saya! Wah, kamu ngefollow wp ini juga, ya? Haha, jadi malu. Tapi semoga betah yah! Tunggu aja kelanjutannya, sekali lagi makasih udah baca dan komen! 😀

      Suka

      1. chaachaaz berkata:

        Haha,kenapa malu? Aku malah yg ngerasa malu,aku pemula banget tapi kamu udah inget nama aku,sempetin baca dan komentarin ff aku juga,makasih banget yaa,tetep semangat nulisnya😁👍💪

        Suka

      2. Yang Yojeong berkata:

        Okay mikicih Chaaa :*

        Suka

  4. azalea berkata:

    hhaha sumpah ngakak baca ff ini..
    oh jadi soo dijodohin sama jaehyun..
    kasian jaehyun dia suka sama soo cuma lewat foto es soo nya mlah cuek bahkan lupa namanya..
    si kevin emang aneh..

    Suka

  5. azalea berkata:

    hhaha ngakak baca ff nya..
    jadi soo dijodohin sama jaehyun tpi soo ngga tertarik..
    kasian bgt bang jaehyun..
    hhehe
    si kevin emang aneh kali ya sifatnya..hhaha
    nice ff

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Ih kamu. Kevin aneh begitu tapi ganteng, bisa nyanyi, dan baik hati :*

      Suka

  6. Elisa Chokies berkata:

    AMBIL SPOT DULU.
    Komen Minggu.

    nb. sumpah blum baca, spot dulu aja.

    Suka

  7. Vi berkata:

    Dasar kevin kurang ajar, masa ahnjae dibilang ‘bi’ 😂😂
    Tpi setuju aja sih demi menarik perhatian sooyoung. Abis pola pikir soo sepernyanya dibuat antimaenstream ya? 😄

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Iya. Kak Vi tau aja! Sebab yang mainstream itu bukan style penulisnya hahahaha XD

      Suka

  8. Memel berkata:

    astaga cuma biar deket sama sooyoung. si kevin bilang jaehyun ‘bi’ gila sumpah wkwkwk. ngak bisa nebak pikiran sooyoung… dia suka sama kevin yaa? haha

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Hayo. Kalo penasaran ikuti terus kelanjutannya, haha.

      Suka

  9. Astaga kakk aku merasa berdosa… Aku bacanya dari kemarin tapi baru komen sekarang…Maaf kak._. Maaf bangettt
    Sooyoung Unnie kenapa mutusin Kris 😦 meskipun botak tapi tetap keren kok… Meskipun ga enak diliat si…. *salkuskeSooKris* tappi hebat gitu yaa lepas dari Kris tapi dapat tunangan super ganteng wkwk meskipun lebih tua (sedikit) wkwk tapi hotnya ga kalah kok sm si botak wkwk
    Kayaknya Kevin kelewat pintar sampe harus nyebut Jaehyun ‘Bi’ nanti kalau udah di cafe dan rumornya tersebar kan…. bisa ribet…. masa cowok ganteng (dari keluarga terhormat pula) sedikit belok/? Sooyoung bisa syok tu kalau tau tunangannya kayak gitu… eh tapi Sooyoung aja lupa sama tunangannya wkwk

    Ditunggu next partnya kak^^

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Say …. *nangis* kayaknya cuma kamu yang ngenotis kalo mantan pacar Sooyoung itu Kris T..T (iya dia botak dan bikin ilfil)

      Suka

  10. Elisa Chokies berkata:

    Ya ampun, ini… aku ngerasa kayak lagi baca novel best seller betulan, tahu. Deksripsinya vivid, narasinya ngalir, pokoknya ini sukses narik perhatian aku (dan ini bahkan baru interlude). Aku yakin ini bakal worth it banget buat dibaca. Duh, aku ga sabar nungguin lanjutannya! (Dan aku juga masih nungguin yg waktu itu aku polling lho. Terus aku berencana baca rerun marathon AIL kalau ketemu waktu luang).

    Omong-omong, Jaehyun itu cakep banget ;o; dan ngeliat dia, aku jadi keinget kalau Blood belum aku tonton sampe tamat.Disini aku ngebayangin Jaehyun pas dia meranin Jisang, stay cool abis— cowok yg emosinya kadang meluap scara tk terduga. Aw, Fani, km jail ya deskripsikan Jaehyun pas prolog kayak “the Duke of om²” , Haaaaa~

    Lastly, semoga lanjutan AIL yg diprotek itu cepet di-post yaaaw :3 ff yg aku polling juga masih ditunggu lho 😉 semangat bang Yos! (Boleh kan aku panggil gitu? wkwk

    Suka

    1. Elisa Chokies berkata:

      nb¹: Yos, km lagi suka Jaehyun yak?

      nb² : Ngomong-ngomong, diksinya dipertahanin kayak gini terus yak, asik tahu >_<

      Suka

    2. Yang Yojeong berkata:

      Wihihi bisa aja bilang ini kayak novel besseler. Kemarin-kemarin juga perasaan tulisanku kayak gini kok, haha (coba tengok berawal dari hujan xD)

      Yang waktu itu kakak voting sss kan ya? Ada slight soohun nya. Tenang, itu bakal diposting kok. Soalnya posternya syudah ada >,,-

      Jangan! Jangan panggil aku bang yos, aku maunya di panggil Yang (?) kan namanya Yang Yoseob, dia (a)yang aku.

      Suka

  11. Cicamica berkata:

    Oh my asdfghjkl gooood sumpah presdir kaya mapan perfecto cuma gara2 accident tak sengaja melihat unknown fiancé dirumah sahabatnya dia dijebloskan sahabatnya buat jadi host cafe. Daebak cant wait for the next 😻😻😻

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Kalo ada komentar kamu aku suka jadi semangat deh bikin lanjutannya :*

      Suka

  12. Jeni berkata:

    Bacaan yang ringan tapi berkualitas tinggi hehehe
    Suka deh sama gaya bahasanya
    Isi ceritanya juga keren
    Bayangin kevin dan sooyoung disini asik bangett
    🙂

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Aduh, berkualitas tinggi. Udah kayak produk makanan aja. Hahaha.

      Makasih jeni udah baca dan komen, bahagia deh daku.

      Suka

  13. Zee Anggita berkata:

    authornim salam kenal aku reader baru di blog ini..
    oy ff kamu semuanya kereen, bahasannya simple and gax ngebosennin..
    pertama buka blog ini aku baca ff Promiscuous eh langsung kecantol sama tuh ff coz ceritanya kereeen bngt..
    Eonnie aku izin baca ff kamu yg lainnya y, oy kalo bisa aku minta pw ff Promiscuous yg part endnya cz penasaran bngt pngn baca ke email zealylizza@gmail.com..
    Thanks..

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Hai! Met datang di fanney island!

      Makasih udah baca ffku, oiya coba cek email say tadi aku udah kirim 🙂

      Suka

  14. ismi khaerin berkata:

    “Bi” nya apaan tuh ? Biseks(?) Bipolar(?).
    Hadeuh otak gua lemot banget nh nyerna tulisanya . Ffmu lucu . But ada bbrpa bagian kata yang kyanya(?) Sh belum lengkap/ selesei tpi udah di cegat ama dialaog.

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Hahaha. Sori ya say, tapi yang kepotong sama dialog itu sengaja. Nanti-nanti bakal dikurangi deh.

      Suka

  15. yani yanuari berkata:

    yaa alloh baru tau adaa blog ff sooyoung jaehyun pairing kkkk :v alur ceritanya kurang feel dikit min, tpi bner” bkin ngakak sma tingkah’a soo-kevin yng klewat sahabat kecil wkwkwkwk :v jdi makin pnasaran ama next part’a min, keep waiting 😉 and me New readers min 🙂 Bangapta ^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s