[FF] Second Life Sensation – Chapter 08 End

Title: Second Life Sensation
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Rating: G
Length: Series
Cast(s): Cho Kyuhyun [SUJU], Choi Sooyoung [SNSD], Shim Changmin [TVXQ], Lee Jonghyun [CNBLUE].
Pairing: Kyuhyun/Sooyoung
Summary: Cho Kyuhyun menyukai sahabatnya, Shim Changmin, yang malah menyukai Choi Sooyoung yang notabene merupakan musuh bebuyutannya di sekolah. Namun, siapa sangka Cho Kyuhyun mempunyai kesempatan untuk merubah takdir cintanya!

wufanneey-106

***

“Yah—inilah alasan kenapa aku sangat membencimu.”

“Aku juga! Aku juga membencimu!” Sooyoung menyemburkan semuanya, wajahnya panas dan ia tak tahu karena apa tapi rasanya luarbiasa memalukan, “Aku begitu membencimu hingga ingin mati!”

***

“Sooyoung,”

“—young-ah,”

Bumi ke Sooyoung. Mengerjap bingung, lalu melihat seraut wajah cemas di hadapannya, Shim Changmin. Anak laki-laki itu mengerutkan kening, tidak paham, lalu kembali ke bangkunya duduk, di depannya.

Sooyoung tersenyum linglung. Ia harus sadar, sekarang ini dirinya dan Changmin tengah menikmati sepiring hidangan di rumah makan sederhana sebelum menonton film di bioskop seperti yang telah mereka rencanakan—kencan? Sooyoung menghela napas, lalu menenggak ocha pesanannya yang tinggal setengah.

“Sepertinya kau lagi nggak sehat?” duga Changmin, Sooyoung nyaris tersedak—lantas anak perempuan itu menarik selembar tisu dan diusapkannya ke sudut bibirnya yang tersembur minuman tehnya.

“Bukan—bukannya gitu,” elak Sooyoung, “aku hanya berpikir … kalau, kalau makanannya kurang enak.”

“Eh, masa, sih?” Changmin mencomot sesuap bolognesse dari piring Sooyoung dan berkomentar, “menurut lidahku baik-baik saja, kok. Mungkin kau lagi sakit makanya terasa hambar atau nggak enak.”

Sudahlah—lagipula Sooyoung tadi ‘kan hanya mencari-cari alasan, tentu saja makanan ini enak, sebab tidak ada makanan yang tak enak di lidahnya.

“ … mungkin,”

“Mau nanti saja nontonnya? Kalau kau lelah, lebih baik aku antar pulang, kita bisa merencakanan kencan ini lain kali,” himbau Changmin prihatin.

“Nggak—nggak apa-apa, aku mau nonton sekarang.”

“Bener?”

“Iya.”

Maaf, Shim Changmin. sebetulnya yang membuatku hilang konsentrasi adalah mantan teman mainmu itu.

[Flashback]

Sooyoung jadi malu setiap kali ia tanpa sengaja bersitatap dengan Kyuhyun sepulangnya mereka dari berbelanja. Konyol sekali—apa hanya dia yang seperti ini? Mungkin Kyuhyun tidak banyak ambil pusing lantaran ia dikelilingi gadis-gadis di sekolah setiap harinya—semasa hidupnya—mungkin … ciuman tadi bukan yang pertama baginya.

Sooyoung geram, terlampiaskan lewat genggaman yang terlalu erat pada kantung belanja. Sementara bagi Sooyoung satu-satunya lelaki hanya Lee Jonghyun (dan baru-baru ini mungkin Shim Changmin, dengan persisten menghancurkan dinding penghalang di antara mereka berdua semenjak kepergian Cho Kyuhyun). Kenapa dia masih bisa setenang itu? Terlihat tenang sekali—ia jadi merasa bodoh, geram akan dirinya sendiri, geez.

Soo—”

“Apa?”

Hei—kenapa bicaramu jadi ketus lagi?”

“Aku ‘kan memang begini, nggak usah sok baik di depanku, kau harus tahu,”

Kyuhyun tersenyum nyiyir—dasar gadis aneh: gadis aneh yang mendapatkan ciuman pertamaku, sialan, dan lebih sialannya lagi, aku mendapatkan ciuman pertamaku setelah aku mati—wtf. “Kau ingat apa yang aku bilang pagi ini?”

“Aku malas mengingatnya, langsung saja,” mereka berdua bersisian di trotoar (ditatap aneh orang-orang sekitar sebab yang terlihat adalah seorang gadis bicara sendirian), menuju perjalanan pulang ke rumah mewah Sooyoung.

Eh—mungkin sebaiknya kau pakai headset dulu,” saran Kyuhyun. “supaya orang-orang yang melihatmu tidak menganggapmu gila karena mengobrol tanpa lawan bicara, kalau pakai headset kau bisa beralasan sedang teleponan dengan seseorang.”

Sooyoung menatap Kyuhyun lama. “Baiklah.”

Kyuhyun menunggu Sooyoung selesai dengan headset-nya.

“Sudah? Nah aku mau bicara, soal yang tadi pagi—itu, errr, anu … hari terakhirku—”

Sooyoung berhenti melangkah, sebentar, ingatannya soal tadi pagi mendadak timbul, “Kyu—” benar juga … ini adalah hari terakhir Cho Kyuhyun. Apa yang harus dilakukannya?

“—ini, ini hari terakhirku, batasnya sampai jam tiga sore, jadi … aku cuma mau kasih tahu, mungkin ketika kau kembali dari acara kencanmu dengan Changmin, aku sudah nggak ada. Kau akan baik-baik saja, tidak perlu terganggu lagi dengan kehadiranku, ya begitulah … jadi emmm … aku mau min—minta maaf …,”

Sooyoung mengulum bibirnya—entah kenapa ada yang menutupi pandangan matanya hingga memburam—air, oh yang benar saja: Kenapa Cho Kyuhyun mengatakan kata-kata yang mengharukan begini?

“Jadi pada akhirnya kamu sadar kalau kehadiranmu itu menganggu?”

Errr—”

“Ya. Itu sangat menganggu. Semasa hidupmu hari-hariku tidak tenang karena kau selalu menjahiliku, begitu kau mati, ketika harusnya aku telah terbebas dari usikanmu, kau malah muncul lagi dan membuat hidupku jadi makin kacau. Aku harap di hari terakhir ini kita bisa menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan antara kau dan aku dengan baik-baik. Aku mau setelah ini tidak ada saling menarik kata-kata atau berbuat ulah.”

Berbuat ulah? Serius, mana bisa aku berbuat ulah setelah mati?”

“Bisa saja! Kau bisa gentayangan menerorku atau semacamnya!”

Yah—inilah alasan kenapa aku sangat membencimu.”

“Aku juga! Aku juga membencimu!” Sooyoung menyemburkan semuanya, wajahnya panas dan ia tak tahu karena apa tapi rasanya luarbiasa memalukan, “Aku begitu membencimu hingga ingin mati!”

Hahaha, wajahmu merah begitu, kenapa?”

“Awas! Minggir!” Sooyoung menoleh tajam pada Kyuhyun, “Dan … berhenti tertawa, jangan pikirkan apa kata-kataku tadi!”

Kata-katamu tadi? Yahaha memang kau bilang apa? Kau benci aku? Iya aku tahu, hei Choisoo—tunggu!”

Otak udang. Cho Kyuhyun bodoh. Anak laki-laki manapun memang tidak ada yang peka—semua sama saja. Sooyoung menutupi wajahnya—dia malu sekali, untung saja si bodoh itu tidak paham. Membenci Cho Kyuhyun hingga rasanya ingin mati? Heol. Rasa benci yang berlebihan itu artinya cinta! Arrrh Choi Sooyoung sudah gila!

[Flashback End]

Filmnya sebentar lagi diputar. Sooyoung sudah duduk manis di kursi penonton, di sebelah kirinya ada Changmin, di sebelah kanannya ada Jonghyun. Absurd, ia bertemu Jonghyun di tempat penukaran tiket dan tatapan anak laki-laki itu seolah terkejut dibuat-buat, “Oh, kamu juga berencana nonton ini? Kok bisa kebetulan?”

Kebetulan gundulmu.

Changmin berwajah masam begitu tahu Jonghyun mencuri bangku duduk di sebelah Sooyoung juga. Sooyoung mendesah, kehidupannya dikelilingi laki-laki konyol—apa ia harus berhenti menyukai laki-laki? Mereka sepertinya overacting setiap kali diberi harapan secuil.

“Psst—“ Jonghyun mencolek leher Changmin, bertanya dengan isyarat lewat mulutnya—membentuk kata-kata, “dia Choi Sooyoung ‘kan? Bukan Cho Kyuhyun?”

Changmin menangkap isyarat tanya tersebut, lantas mengetik sesuatu di ponselnya, “Serius. Aku pikir kau nggak perlu terlalu dalam memikirkannya, jangan terlalu delusional, aku berkencan dengan Choi Sooyoung. Titik.”

Jonghyun yang sebal membacanya, balas mengetik dengan ponselnya sendiri, mengirimnya lewat Kakao, “Delusional? Kau yang terlalu delusional karena berpikir Sooyoung menyukaimu, bah!”

Lord Voldemin reply, “Sialan. Lihat saja nanti, ketika dia merasa takut dia akan memelukku.”

Burning Jong reply, “Lagi bergurau, ya? Film yang kita tonton ini bukan film horor! Harry Potter? Mana ada Sooyoung memelukmu karena ketakutan, yang ada dia tertidur di pundakku karena filmnya terlalu monoton, membosankan!”

“Apa?! Kau menghina film kesukaanku!!!”

“Hahaha, iya, terus kenapa? Wuek.”

“Geez, untung ada Sooyoung, dan untung kita berada di bioskop, kalau tidak kau sudah kujadikan samsak tinju, keterlaluan!”

“Heh, memangnya aku takut! Aku ini mantan juara judo nasional bila saja tidak bergabung dengan band sekolah!”

“Apa peduliku? Kau doyan bolos dan ngeband nggak guna!”

“Bangsat. Kau hobi makan dan anjing penjaga Cho Kyuhyun!”

“Sooyoung juga hobi makan, mau bilang apa kau?”

“Mau bilang kalau aku suka padanya, puas?”

“Hah? Otakmu konslet ya? Atau barangkali ketinggalan di rumah?”

“Otakku berjalan dengan baik, satu paket dengan kepalaku, dasar buta. Setamatnya film ini aku akan mengantar Sooyoung pulang ke rumah dan menyatakan cinta. Jadi, kau—tamat. Tidak ada harapan. Case closed. Sad ending. Goodbye. HAHAHAhahaha.”

“Si brengsek ini—”

“Kalian ini kenapa sibuk dengan ponsel? Tidak menonton filmnya? Kalau cuma aku sendirian yang menikmatinya lebih baik aku pulang!” Sooyoung merampas bersamaan dua ponsel dari tangan Changmin dan Jonghyun.

Aniya, Choisoo—”

“Aku menikmati filmnya kok—”

“Nah,” Sooyoung mengukir senyum misterius, “kalau begitu ponselnya aku sita.”

ANDWAE!”

Sooyoung menyipitkan matanya, “Kenapa barengan gitu nolaknya? Kalian … jangan-jangan kalian dari tadi chatting satu sama lain ya? Ngomongin apa? Film jorok? Kalian ngomongin Ibuku ya!”

“AAA—aniya! Bukan gitu, kau salah paham!”

“PSSST!”

“Ups,” Jonghyun menutup lagi mulutnya. Sooyoung menatap kedua anak laki-laki itu dengan marah. Lalu memasukkan dua ponsel itu ke tas selendangnya, sebelum ia sedikit berdiri dan berbalik demi menundukkan kepala—memohon maaf atas keributan yang mereka bertiga buat pada penonton lainnya.

“Kau,” Sooyoung menujuk wajah Jonghyun, “dan kau,” lalu beralih pada Changmin. “nonton saja yang tenang, diam, mengerti?”

“Hah, oke, oke, dasar bawel.” Jonghyun menyamankan lehernya pada sandaran kursi. Begitupula Changmin, kemudian mereka saling lempar tatapan benci, dan membuang muka satu sama lain.

“Ya ampun,” Sooyoung mengeluh, merasa ia terjebak dalam situasi pertengkaran dua orang bodoh. Ia ingin cepat pergi.

***

Changmin merasa ada beban berat di pundaknya, “Choi Sooyoung?” bisiknya. Anak perempuan itu ternyata tertidur. Jadi benar kata Jonghyun? Jangan-jangan film ini membosankan? Tunggu—berarti daritadi dia satu-satunya yang semangat memerhatikan detail adegan yang tersaji di layar lebar? Heol.

“Soo—” ah, Changmin tak tega membangunkannya. Dari sejak makan siang di tempat makan spagetti tadi Sooyoung sudah tertangkap basah melamun beberapa kali—sepertinya ia capek, entah karena apa, Sooyoung memilih untuk tidak ceritanya yang sebenarnya pada Changmin.

Maka ia menemukan dirinya memandangi wajah pulas Sooyoung daripada scene adu mantra di layar. Hah, bersyukur ia tidak jadi memilih film romantis. Bila terjadi, mungkin Sooyoung telah terlelap sebelum menit ke sepuluh film diputar.

Tapi—tapi kenapa si brengsek Lee itu juga tertidur? Di pundak Sooyoung? “Wah,” Changmin berdecak tak habis pikir, “anak ini sengaja apa gimana.”

Lantas digoyang-goyangkan kepala si gitaris hingga nyaris terjerembab dari pundak Sooyoung.

“Yah!” omelnya. “Tidak bisa lihat orang tidur nyaman ya? Kau sungguh berhati bejat.”

“Tidak usah pura-pura lugu dengan sengaja tertidur di pundak Sooyoung, klasik,” balas Changmin sama pedasnya.

Direspon Jonghyun dengan mendecih, lalu menyamankan kembali posisi tidurnya, kali ini tidak melumpuhkan kepalanya pada pundak Sooyoung melainkan bersandar pada kursi bioskop. Ia kelewat mengantuk untuk membalas perkataan Changmin atau memedulikan posisi tidur Sooyoung yang mesra pada anak laki-laki itu—sudahlah.

Tetapi ketika dirinya sedikit tersadar, ia mencuri kesempatan untuk menyentuh tangan Sooyoung yang bebas—jatuh, membawanya naik dan menggenggamnya—barang sebentar saja. Sebab Sooyoung terlanjut kaget atas tindakannya itu hingga terbangun.

“Jam—” katanya terputus-putus, suaranya terkesan panik.

“Soo, kau sudah bangun?” tanya Changmin.

“Jam!” pekik Sooyoung tertahan, “Geez. Jam berapa sekarang?”

Changmin mengecek pergelangan tangannya, “Jam setengah tiga, memang ada apa—”

“Setengah tiga?! Tidak—aku harus pergi, kalian berdua yang akur saja. Sampai jumpa.” Sooyoung membenahi rambut dan tas selempangnya kemudian beranjak dengan agak terburu-buru, menunduk-nunduk melewati bangku penonton lain dan mengucap maaf berulang kali sembari ia meniti anak tangga menuju pintu exit ruang bioskop.

“Dia kenapa?” heran Changmin, memberi tatapan tanya pada Jonghyun.

Anak laki-laki itu angkat bahu acuh, kemudian ikut-ikutan berdiri mengikuti jejak Sooyoung.

“Hei!”

“Apa?” sahut Jonghyun lelah, mendelik, “Sudah aku bilang aku akan mengantar Sooyoung pulang ke rumah, ‘kan? Aku bawa motor. Tidak usah pedulikan kami dan lanjut saja menonton film kesukaanmu itu. Bye.”

“Enak saja,” Changmin geram menyusul Jonghyun yang sudah setengah jalan keluar pintu, “aku tidak akan biarkan kalian!”

***

Sooyoung berlari. Ia menubruk orang-orang yang lalu-lalang kemudian meminta maaf, lalu ia akan berlari lagi seolah tak ada lain waktu—dan kenyataannya memang tak akan ada lain waktu kecuali sekarang. Dua puluh lima menit lagi keparat—dimana Cho Kyuhyun? Dimana ia harus menemukannya? Kyuhyun bilang ia akan menghilang pukul tiga tepat tapi dimana tempat itu—tempat trakhirnya berada!

Aku—aku ingin melihatmu terakhir kali—batin Sooyoung. Dadanya sesak, ia merasa wajah Kyuhyun bisa menyembuhkan rasa sesak di dadanya, jadi ia butuh anak laki-laki itu sekarang.

“Aduh!”

Oh tidak. Mengapa terjatuh di saat seperti ini? Adalah ide Kyuhyun menyarankan ia memakai sepatu berhak lumayan tinggi hari ini—jadi mari salahkan si Cho, yang membuatnya susah bahkan di hari terakhir.

“Sooyoung!” suara klakson motor Jonghyun! Sooyoung menoleh, Jonghyun mengiyaratkan lewat kepalanya, “Ayo naik, kuantar pulang!”

Tanpa penolakan, gerakan cepat, Sooyoung menghampiri dan menaiki motor gede Jonghyun. “Tujuanku bukan ke rumah. Kau bisa ngebut?”

“Kemanapun, asal kau peluk perutku erat.” Sooyoung mengabulkannya, Jonghyun tersenyum lebar, “Kita kemana?”

“Keliling Seoul saja. Aku mencari seseorang.”

“Hei—serius! Kalau kau mencari seseorang cari di tempat yang biasanya dia kunjungi? Atau rumahnya?”

“Rumahnya! Betul juga,” Sooyoung berpikir sejenak, “tapi aku nggak tahu dimana dia tinggal.”

“Hah? Dia siapa?”

Apa … apa harus kukasih tahu? Apa Jonghyun kukasih tahu saja? Tapi … bukankah ini akan melanggar perjanjian langit?

“Hei, kalian berdua!” Sooyoung dan Jonghyun menoleh, yang memanggilnya, adalah Shim Changmin berlari ke arah mereka.

“Sialan, clockblocker memang ada dimana-mana,” keluh Jonghyun, “sudah aku bilang kau nonton saja, biar Sooyoung bersamaku!”

“Apa—!”

“Tidak, tidak, ini waktu yang tepat Changmin-ah, kau tahu dimana Cho Kyuhyun tinggal? Maksudku, rumahnya?” Sooyoung bertanya tiba-tiba.

“Rumah, rumah Kyuhyun? Di Anyelir XXX dekat denganku … memangnya ada apa?” jawab Changmin bingung.

“Kau mencari Kyuhyun?” kaget Jonghyun.

“Apa? Kau mencari Kyuhyun? Bukankah Kyuhyun sudah—”

“Jalan—jalan sekarang! Dan aku—aku bukan mencari Kyuhyun, aku mencari teman dekatnya! Nah, Lee Jonghyun kau dengar ‘kan tadi alamat rumahnya? Jadi cepat jalankan motormu!”

“Iya cerewet!” dan—brrrm! Jonghyun menggas motornya—melaju kencang membelah hiruk-pikuk jalanan kota.

“Woy—teman dekatnya? Aku dong?” Changmin menunjuk dirinya sendiri, “Tunggu … apakah Kyuhyun punya teman dekat selain aku?”

***

Di balik helm hitam yang Sooyoung kenakan, ia menggigiti bibirnya, panik—ia tidak tahu harus kemana lagi mencari bila di rumah Kyuhyun juga tetap tidak ada. Tersisa dua puluh menit lagi sebelum jam tiga sore. Sebetulnya dimana dirinya? Cho Kyuhyun!

“Kita sampai,” ujar Jonghyun, menghentikan motornya tak jauh dari pekarangan rumah keluarga Cho. Di depan rumah, mereka melihat sesosok prempuan muda—diduga kakak perempuan Kyuhyun, Cho Ahra, tengah membaca majalah dengan segelas teh lemon.

Sooyoung turun dari motor, “Kau tunggu di sini, aku akan ke dalam.”

“Hm, baiklah?”

Sooyoung menuju ke sana, terlihat berbicara dengan Cho Ahra lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah. Jonghyun tidak tertarik apa yang sebetulnya terjadi di dalam, namun pikiran-pikiran berkelibatan di kepalanya. Ada hubungan apa Choi Sooyoung dengan Cho Kyuhyun? Sejak kapan mereka menjadi dekat? Selama di sekolah, setahunya, Sooyoung hanya bergaul dengan dirinya saja. Sebab Kyuhyun dan Sooyoung? Sudah jelas mereka tidak memiliki ketertarikan satu sama lain. Bila bertemu, yang ada saling meludah atau mendelik atau membuang muka. Tapi kenapa … sebenarnya apa yang terjadi …

“Tidak ada!”

Sooyoung kembali ke motornya dengan wajah berkeringat dan napas terpotong, seperti habis lari marathon.

“Tidak ada? Apa yang tidak ada?”

“Nggak perlu banyak tanya! Sekarang kita ke tempat lain saja,” Sooyoung menaiki lagi motornya dan memeluk perut Jonghyun. Kyuhyun tidak ada di rumahnya, aku sudah mengecek ke seluruh bagian ruang, ia tak ditemukan di manapun, padahal sekarang belum jam tiga. Bagaimana ini? pikiran Sooyoung berantakan.

“Kemana?”

“Pikirkan satu tempat yang disukai pemain Judo!” pekik Sooyoung putus asa.

“Tempat latihan?”

“Pintar,” Sooyoung mengusap kepala Jonghyun, “ayo kita ke sekolah.”

***

“Kau mau aku tunggu di sini lagi?” tanya Jonghyun begitu Sooyoung turun dari pijakan dan melepas helm.

“Terserah,” balas Sooyoung cepat—atau tidak peduli? Maka Jonghyun memutuskan ia akan mengekori kemana Sooyoung pergi dan apa yang dicarinya kali ini.

Mereka tiba di sekolah sepuluh menit dari rumah Cho Kyuhyun. Bergegas Sooyoung dan Jonghyun pergi ke Gymnasium tempat latihan klub-klub olahraga—yang satu ini khusus Klub Judo.

Sooyoung berlari di depannya—buru-buru sekali. Jonghyun dibuat tidak paham untuk yang kesekian kali hari ini. Tapi ia biarkan saja, Sooyoung akan bercerita padanya bila ada waktu—nanti.

Setibanya di dalam Gym, Sooyoung memutar tatapan—meniti tiap sudut bagian—dan kecewa. Jonghyun memutuskan bertanya, “Tidak ada juga?”

Sooyoung menggeleng frustasi, tertunduk lemas, “Aku tidak tahu lagi harus kemana.”

“Ketika kau butuh waktu untuk menenangkan diri, sendirian …,” Jonghyun belum menyelesaikan ucapannya ketika Sooyoung lantas menarik pergelangan tangannya menuju suatu tempat.

“Atap sekolah!” pekiknya gembira. “Ini harapan terakhirku, kau penyelamatku, Jonghyun-ah, sungguh, terimakasih!”

Dilangkahinya satu-dua anak tangga—jalan menuju atap. Sooyoung hampir kehabisan napas. Jonghyun berpikir apa Sooyoung berkenan bila ia gendong? Sebab anak perempuan itu kelihatan lelah sekali. Jadi boleh ’kan? Ah, tidak, tidak boleh Lee Jonghyun, yang ada kau kena tampar.

“Cho Kyuhyun!” teriak Sooyoung begitu ia bisa membuka pintu menuju bagian paling tinggi gedusng sekolah. Ia berteriak lagi, memanggil-manggil, “Cho Kyuhyun!”

Sooyoung?”

Gasp!

Sooyoung terjatuh di kakinya. Lemas. Ia menangis. Akhirnya, akhirnya setelah aku seperti ini … kau baru terlihat di mataku. Kenapa kau hobi membuat orang lain susah?

“Sooyoung-ah, kenapa kau menangis?” Jonghyun bersimpuh di samping Sooyoung, mengusap airmata yang banjir di kedua pipinya.

“Aku lelah,” Sooyoung bilang, “aku sangat lelah tapi semuanya akan baik-baik saja.” Ia sesegukan.

Jonghyun sedikit ragu pada awalnya, namun akhirnya ia berhasil merangkul pundak Sooyoung perlahan-lahan.

“Terimakasih, Jonghyun-ah,” Sooyoung tersenyum pias—padanya.

Melihat senyum itu, Jonghyun gugup menarik saliva masuk kerongkongannya. “Eyyy—ya, kau bisa mengandalkanku kapanpun.”

Jadi kau kemari hanya ingin menunjukkan adegan percintaanmu di hadapanku?”

“Bukan begitu!” Sooyoung berdiri, menyingkirkan lengan Jonghyun yang melingkar di pundaknya. Sementara Jonghyun—lagi-lagi—dibuat bingung. “Kau nggak akan mengerti betapa capeknya aku mencarimu daritadi? Apa kau mau menghilang begitu saja? Tidak memikirkan bagaimana nantinya perasaan orang-orang yang kau tinggalkan?”

Apa masalahmu? Aku sudah mengucapkan selamat tinggal pada keluarga dan sahabatku. Lagipula, aku tidak minta kau mencariku sejauh ini ‘kan?”

“Kau—!” Sooyoung tersedak airmatanya sendiri yang jatuh ke mulutnya. “Kau tidak memikirkan perasaanku yang akan kau tinggalkan? Pergi begitu saja? Aku nggak akan biarkan itu terjadi! Setidaknya—setidaknya kau harus tahu satu hal—”

Kyuhyun menunggu Sooyoung selesai dengan ucapannya. Ia berusaha jadi pendengar yang baik kali ini. Mengenai bagaimana perasaan anak perempuan, mungkin akan jadi pelajaran terakhir baginya sebelum menghilang dari muka bumi untuk selamanya.

“Kamu harus tahu satu hal … mengenai aku, pe-perasaanku—” Sooyoung menahan napasnya sebentar, “—aku membencimu,” ia bilang pada akhirnya.

Errr—ya?”

“Aku membencimu sampai rasanya aku akan gila! Saking bencinya hingga teman-teman bilang kalau itu artinya cinta! Bukan saja sejak kau mati, tapi jauh sebelum itu! Aku—aku kesal tiap kali kau menjahiliku di sekolah, tapi aku merindukannya ketika hidupku terlalu tenang tanpa ulahmu. Aku bingung, aku tidak tahu harus bagaimana ketika aku tersadar aku jatuh cinta pada musuhku sendiri!”

Kyuhyun terperangah. Jonghyun pun—yang tidak mengerti apa-apa, terperangah mendengar pengakuan cinta Choi Sooyoung yang entah untuk siapa—musuhnya? Satu-satunya musuh besar Choi Sooyoung adalah … Cho Kyuhyun!!!

Menyerap konfesi seseorang di hari terakhirnya, terlebih orang itu Choi Sooyoung. Siswi luarbiasa yang ia kira punya segalanya—teman-teman, uang, keluarga. Namun lebih dari itu—ternyata Choi Sooyoung hanya gadis lemah yang tidak bisa apa-apa tanpa orang di sekitarnya, yang di asingkan oleh Ibu kandungnya sendiri, dan hidup tertekan oleh tatapan-tatapan sirik orang-orang di kelas—di sekolah. Dialah Choi Sooyoung, yang beberapa hari ini Kyuhyun akui kecantikannya.

—yang beberapa hari ini, Kyuhyun terlambat menyadari bahwa sebetulnya, waktu tiga hari yang ia dapatkan setelah kematiannya … adalah untuk menyadari perasaannya sendiri betapa ia salah menafsirkan bahwa Shim Changmin lah orang yang ia sukai—bukan.

Tapi Choi Sooyoung!

Ia cemburu kenapa Changmin menyukai Sooyoung. Ia tidak tahan melihat mereka berdua menghabiskan waktu di perpustakaan. Ia tidak mau Sooyoung berkencan dengan Changmin, memedulikan Changmin daripada dirinya. Jadi ia banyak bertingkah, mencari perhatian gadis itu, dengan cara yang salah. Ia menyesal kenapa tidak memperlakukan Sooyoung dengan baik ketika ruh dan raganya masih menempel. Ia meminta maaf untuk semua yang terlambat ia sadari dalam hidupnya.

Tertuang dengan airmata yang jatuh. Di wajahnya begitupula Sooyoung.

Tiga hari ini adalah anugerah—takdir. Maka bila saja ia tidak bernasib terjebak di tubuh Choi Sooyoung yang mengalami kecelakaan ketika itu—semuanya tidak akan terkuak. Inilah keajaiban dari rahasia-Nya.

Lega telah mengungkapkan semuanya, mengetahui fakta sebenarnya. Saat-saat terakhir paling tepat untuk pergi.

Ia menatap Sooyoung, menghampirinya. Ibujarinya terangkat mengusap airmata di pipi gadis itu namun tak bisa. Kyuhyun hanya tersenyum sepa. Meskipun kini rasanya lebih baik untuk pergi, namun penyesalan yang terlambat tentu saja ada.

Bila aku masih hidup, aku ingin mengusap airmatamu. Aku ingin berada di sampingmu, jadi orang pertama yang mengatakan kata-kata cantik dan bilang semua akan baik-baik saja.”

Sooyoung menangis semakin kencang. Tapi Kyuhyun tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa detik tersisa sebelum tubuhnya menghilang tertelan angin. Park Gyuri-cheonsa memerhatikan mereka berdua dalam diam. Membayangkan skenario nyata dari rencana yang telah tertulis di buku kematiannya.

“Wajahmu, bisakah aku menyentuhnya?” lirih Sooyoung, ujung jarinya menyentuh permukaan kulit wajah Kyuhyun yang dingin. Jadi begitu, pikirnya, jadi ia lenyap perlahan-lahan bermula dari kakinya—bagian bawah tubuhnya.

Cup.

Sooyoung memejamkan mata. Mencium pipi Kyuhyun. Kyuhyun merasa pipinya juga basah oleh airmata Sooyoung yang tidak berhenti. Tetapi ia biarkan saja. Toh, ini terakhir kali.

Sooyoung-ah, sudah—”

“Jangan lihat! Jangan melihat apa-apa,” bisik Sooyoung, tidak tega mengatakan bahwa kaki Kyuhyun telah menghilang. “Aku mohon, biarkan aku melakukannya sampai aku tidak bisa merasakan kehadiranmu lagi …,” harapnya.

Bibirnya. Bibirnya semakin lama semakin tidak merasakan apa-apa. Ia memejamkan mata jadi ia tak tahu bagaimana proses Kyuhyun semakin lama semakin memias bersamaan dengan airmatanya yang mengering. Hingga akhirnya sesuatu yang disentuh bibir Sooyoung bukan permukaan kulit, melainkan angin kosong.

Sooyoung perlahan membuka kelopak matanya. Menyadari kalau matanya tak dapat menangkap sosok Cho Kyuhyun dimanapun. Kepalanya berat, ia frustasi, bukan hanya dadanya—namun juga kepalanya perih luarbiasa, semuanya lenyap—pergi, Cho Kyuhyun sudah menghilang, bersamaan dengan kesadarannya yang perlahan menghilang ditelan gelap.

Aku juga menyukaimu.”

***

Pemakaman berangsur sepi. Tertinggal dua anak laki-laki bersetelan hitam. Salah satunya bersimpuh di samping batu nisan sementara yang lain memilih berdiri memerhatikan.

“Dia mendapat kecelakaan di hari yang sama ketika Cho Kyuhyun meninggal.”

“Bukan begitu,” sanggah Changmin, “dia adalah pelaku sebenarnya pengendara mobil tabrak lari itu. Dia mengendarai mobil yang menabrak Kyuhyun hingga tewas.”

“Dia tidak pernah cerita,” lirih Jonghyun, “aku sudah memperlakukannya sangat jahat semasa ia hidup. Mungkin karena itu dia tak percaya lagi padaku dan mengganggapku orang asing, bahkan tak menceritakan apa masalah yang tengah dia hadapi.”

“Tapi kenapa …,”

“Dokter bilang kepalanya terbentur kencang ketika mobilnya terjerembab. Dia terkena gangguan otak yang serius, penyakit itu bisa meledak kapan saja seperti bom waktu, dan bom waktu itu merenggut kebersamaannya bersama kita di hari terakhir, … kemarin.”

Changmin menaruh sebuket bunga krisan di depan nisannya.

“Selamat tinggal, Choi Sooyoung.”

***

A/N:

Akhirnya! Tamat juga! Yeyeyey! *nari sambalado*
Terimakasih atas rahmat dari-Nya, saya bisa menyelesaikan fanfiksi ini. Fanfiksi series ketiga (apa keempat maaf) saya yang akhirnya telah tamat.
Terimakasih juga buat pembaca setia, saya nggak akan bisa menyelesaikan ini tanpa komentar-komentar membangun dari kalian. Terimakasih sekali! Maaf saya nggak bisa sebutkan nama-namanya, pokoknya kalian penyemangat saya dalam melanjutkan fanfiksi ini. Apalagi yang sering nagih lewat fb, meski ngeganggu, tapi sebenernya saya seneng!
Muah muah muah buat kalian!
Dan … selamat Cho Kyuhyun!
Akhirnya kamu dapat ending yang bagus selain dari FF Promiscuous.
Kyu: Bagus apanya! Lu mah hobi nistain gw di setiap FF!
Duh, bikin FF dengan cast kamu tuh paling bikin aku seneng tau, Kyu.
Kyu: Seneng nistain iya!
Hahaha, maaf maaf, maaf buat Cho Kyuhyun yang keseringan saya sengsarain, maaf buat fansnya, maaf buat fans Kyuyoung. Pokoknya maaf sekaligus terimakasih! Aku cinta kalian!
*kemudian ngeliat daftar series lain yang belum tamat dengan nanar*
Ternyata saya masih banyak kerjaan selain series ini, bye bye! Sampai jumpa di fanfiksi wufanneey lainnya!

***

sepotong adegan yang tidak diinginkan pembaca

“CUT!”

Kamera berhenti dihidupkan. Layar gelap. Semua lelah di posisi. Lee Donghae datang dan menepuk pundak Sooyoung.

“Bagus, bagus, film yang kalian buat ini bagus. Aku bahkan nggak nyangka Jonghyun yang kalem bisa akting sejahat itu! Juga, adegan ciuman Sooyoung dan Kyuhyun terasa sangat natural walaupun cuma sebentar! Kalian sudah seperti pemain film profesional!” pujinya dengan semangat.

“Ecie!” Changmin menyenggol lengan Kyuhyun. Dibalas tatapan ‘apasih lo’ kemudian Changmin kembali bungkam.

“Tapi—!” Lee Donghae menjeda rasa senang para pemain dan kru. “Kenapa kalian menyelipkan unsur-unsur homo di filmya (baca episode-episode awal)! Di awal lagi! Itulah yang membuat rasa ketertarikan penonton! Kalau kalian mau menyelipkan unsur begituan, kalau mau ditengah-tengah aja! Aduh, kalian ini!”

“Tapi cocok ‘kok! Kyuhyun-oppa dan Changmin-oppa!” protes Sooyoung. “Nggak apa-apa, aku MinKyu shipper, kalian tenang aja.”

“Tapi sebenernya jadi ilfil kalo cowok yang nonton,” ungkap Jonghyun. “penonton harusnya dikasih kode meskipun di awal agak-agak homreng tapi sebetulnya film ini murni straight.”

“Ya terus gimana?” Kyuhyun mulai bosan.

“Kalian syuting lagi, bagian awalnya aja, ya? Sedikit lagi!” bujuk Donghae, seorang kakak kelas yang sekaligus menjabat sutradara di film festival sekolah garapan mereka.

“Nggak ah,” tolak Kyuhyun.

“Aku juga males, udah laper nih.”

“Tuh kan, jangan Donghae-oppa, biarin aja! Biarkan fujoshi bahagia untuk beberapa adegan.”

“Yah!” Jonghyun memukul pundak Sooyoung. “Dasar cewek ajaib.”

“Hei—hei dengar dulu, kalian harus syuting lagi, pokoknya nggak mau tahu, kalau kalian biarkan ada adegan itu, nanti nggak bakal di tayangkan di festifal sekolah, hei! Duo evil! WOY!”

Tapi Changmin dan Kyuhyun terlanjur pergi tidak peduli. Sooyoung senang-senang saja dengan adegan MxM yang mencuci mata. Jonghyun tetap ilfil tidak tahu harus bagaimana.

Lee Donghae sakit kepala.

Begitulah.

sepotong adegan yang tidak diinginkan pembaca—tamat

Iklan

10 Comments Add yours

  1. febryza berkata:

    hah? apa? jaadi ternyata sooyoung yg jadi pelaku tabrak lari kyuhyun dan itu semua halusinasinya sooyoung? yampun ga plot twistnya hebat bgt sih fan sumpah engga nyangka bakalan berakhirnya kaya gini. big applause buat fanni *tepuktanganheboh*
    disini kyuhyun dapet ending ama sooyoung juga yah walaupun begitu sih tapi gapapa lah seenggaknya ada romancenya ama sooypung masa mau ama changmin mulu hahahahaha..
    semangat fanni buat ff series yg lainnya hehehehhe

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Makasih udah ngikutin cerita ini dari awal sampai tamat *bow*

      Semangat! Yeah, series lainnya menunggu untuk diselesaikan *ehem*

      Meski aku ga janji buat series Soohun “This Isn’t Love Story”

      …. Krik.

      Suka

  2. Di berkata:

    Aku melongo sebentar begitu habis baca ending. Pinter amat sih bikin plot twist… Lebih terbengong lagi waktu baca ending yang ada donghae nya. Sialan, kocak.
    Faniiii bikin Sooyoung-Donghae dong kayanya belum ada ya disini. Suka aja gitu liat mereka sekarang apalagi waktu liat foto Soo-Hae sama sutradara atau pd itu berdua, gif di Smtown konser (yang sooyoung pasangin kacamata untuk donghae) *-* aduh kok jadi panjang cerita. Pokoknya untuk ff ini suka aja. Enggak perlu ragu baca karena kamu yang buat.

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      aku juga suka sooyoung-donghae tapi untuk fanfiksi mungkin belum bisa hehehe soalnya mau selesain series yang lain

      Makasih udah baca dan meninggalkan komentar, di, saranghae :*

      Suka

  3. Jadi… ending sebenarnya mereka lagi buat film kan kak? Bukan pas Sooyoungnya (sm Kyuhyun) mati kan? Iyakan? Iyakan? Iyakan aja kak, ga rela liat Sooyoung mati gitu aja 😦 Kalau Kyuhyun sih gapapa HAHAHAHA *ketawasetan*
    Sebenarnya masih bingung sm karakternya Jonghyun, dia itu sebenarnya tulus sama Sooyoung atau ada maksud lain. Kalau tulus kenapa dia ngomong kayak gitu sm anak anak CNBLUE kalau engga kenapa sampe mau bersaing sm Changmin :/ Dasar orang aneh untung sayang/?
    Eh… buat Donghae adegan MinKyu jangan dihapus….. Bagus kok…. Biarkan MinKyu shipper senang napa?!

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Terserah sih kamu mau ambil ending yang mana. Bebas aja. Tanpa ada paksaan(?)

      Kalau soal Lee Jonghyun, kamu tanya aja langsung ke orangnya, hahaha. Saya juga bingung di pikiran dia ada apa.

      Suka

  4. febryza berkata:

    gapapa sih itu kan haknya author mau ngelanjutin ff yg mana, kalo aku pribadi sih nungguin ff kamu yg castnya kris-sooyoung-jonghyun sama yg sequelnya connection eh sama yg jiyoung deng soalnya penasaran sama kelanjutan doojoon-sooyoung wakakakaka banyak yg ditungguin
    semangat faaaaaannn!!!!

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Oh iya ya … Connection ada sekuel nya. Wakakak, saya ini author bejad emang ya.

      Suka

  5. ismi berkata:

    Xixixixi . Yang adegan sepotong ituloh yang mlh bkin nambah tertarik.

    Suka

  6. Rizky NOviri berkata:

    etjieh… akhirnya ternyata kyuhyun normal.. hahaha..
    lagian lu bang knp malah ngerasa homreng.. :v

    salah sutradara sendiri sih, milih pemaen evil2 semua, mana mau mereka d suruh2 taat 😀 hahaha

    kece .. kece .. kece…… fany….
    hahaha.. seru. cerita mu itu lho selalu kocak 😀 ending na kyk gtu geh, bikin g keberatan.. hahaha..
    bagus bagus..

    ff lain ditunggu.. 🙂

    with love,
    Rizky NOviri

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s