[FF] No More

Title: No More
Author: wufanneey
Genre: (a bit) Romance
Rating: G
Length: Oneshot
Cast(s): Yang Yoseob [BEAST] and Bae Suzy [Miss A]
Summary: “Mengapa kau tak bisa melupakanku seperti orang bodoh?”

image

***

Ia tidak pernah melewatkan barang sehari untuk mengecek akun sosial medianya meski hanya untuk membalas salah satu mention dari penggemarnya yang berjibun—Yeobos, Beauties. Maka setibanya ia di Korea, seharusnya Doojoon menyeretnya pulang ke dormitory tapi Leader Yoon itu juga terlalu lelah untuk mengomel setelah menghabiskan berjam-jam penerbangan dari Guangzhou. Alhasil, Yoseob menemukan kesempatan untuk menyelinap keluar mencari tempat yang tenang sembari ia tertawa sembunyi-sembunyi—ia memang lelah tapi fans seolah memanggilnya terus-terusan, sudah sangat merindukannya—oke, oke.

Ia pakai topi, kacamata hitam, dan mantel dengan keliman. Berbelok ke sebuah taman dan duduk dengan nyaman, ada gadget yang sudah siap di tangan, lantas ia berselancar dalam rasa aman.

[@all4b2uty replies]

Oppa apa yang harus aku lakukan aku merindukanmu.”—aku juga merindukanmu! Ia mengetik balasan untuk seorang B2UTY.

Oppa hari ini aku makan burger bersama teman-temanku, kau iri ‘kan?”—sayangnya aku tidak suka burger jadi … gagal! Hahaha.

Oppa tolong balas titik! Titik saja!” Yoseob mengabulkan, memberi sang fan ( . ). Ia terkikik geli, dasar fans ada-ada saja.

Oppa aku juga mau, titik itu!”—nih, titik, tulisnya.

Matanya berhenti ketika membaca satu twit yang masuk. Satu yang menarik perhatiannya. “Hari ini aku harus belajar, ini hari pertamaku masuk sekolah setelah liburan, tapi Oppa, aku tidak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan Oppa.”—hei, ia mengetik—terhenti sejenak. Sepertinya ia pernah mendapatkan twit atau kata-kata yang sejenis ini tapi kapan, dimana, dari siapa, ya?

Kalau begitu belajarlah, jangan pikirkan aku karena kemanapun kau mencariku, aku selalu ada di sini, mengetik balasan untukmu, di ponselmu, di dalam hatimu.

Yoseob merasa kalimat yang ia ketik sendiri tidak asing. Bukannya mengcopy dari mesin pencari atau apa, faktanya ia memang sedikit cheesy terhadap para penggemar tetapi sepertinya kalimat yang satu itu—“Oppa, aku harus belajar untuk ujian masuk universitas tapi pikiran-pikiran tentang Oppa mengangguku!”—ah, ia ingat.

Ada baiknya ia mendinginkan kepala dahulu, tidak baik memikirkan gadis lain sembari ia membaca satu-persatu mention yang masuk ke akun twitternya dari B2UTY.

Maka ramyun instan di minimarket akan jadi pilihan pertamanya—Yeobos maafkan aku sekali ini saja please, ia membatin. Tetapi gangguan datang bukan dari benaknya melainkan bisikan orang-orang mengenai siapa orang ini sepertinya aku pernah melihat apakah dia—hei dia seorang idol ‘kan?

Celaka. Ia tidak mau malam tenangnya diisi dengan diajak foto bareng atau lebih parah fansigning dadakan. Celaka! Siaga satu! Gulp! Yoseob berbalik, membungkuk, menghidari tatapan orang-orang tadi namun terlambat—bukan, bukan dirinya yang dimaksud tetapi … itu! Yoseob melongo. Miss A Suzy! Serius?! Ke-kenapa dia malam-malam ada di sini dan-dan tanpa perlindungan apa-apa di wajahnya (memang seharusnya idols aman berkeliaran di hari malam tapi untuk female-idol fenomenal semacam Bae Suzy, tentu jangan, amat dilarang!).

Yoseob menepuk keningnya dan mengeluh, “Haduh, dia ini selalu bikin orang susah!”

Oppa!” pekik sang hawa, sebab tangannya ditarik paksa dari tempatnya berdiri tadi—tepian kombini, yang benar saja, member girlgroup semacam dia? “Ini … ini Yoseob-oppa, iya ‘kan?”

Tap! Tap! Tap!

Dituntunnya tangan mungil itu, merasakan bahwa kulitnya dingin. Yoseob mengira sudah berapa lama gadis itu menunggu—menunggui siapa? Pacarnya, kah? Tetapi kenapa mulutnya tidak bisa ditutup dulu sebentar? Gadis ini cerewet tidak seperti yang kebanyakan orang tahu. Yah—“Hei, iya, iya, ini aku, kau ini kenapa ceroboh sekali—”

“Yoseob-oppa? kalau begitu lepaskan tanganku!”

Tepat setelah itu—mereka berhenti berlari. Di tempat yang tak seramai tadi, sampai saat ini mungkin akan aman. Yoseob celingak-celinguk memastikan tidak ada yang mengenali mereka sebagai sepasang idol yang hang-out malam-malam. Lantas ia lepas kacamata gelapnya dan dipakaikannya pada Suzy.

“Kenapa Oppa ada di sana?”

“Aku hanya ingin beli ramyun—nggak, aku yang harusnya tanya kenapa kau di sana!”

“Aku lagi nunggu seseorang, aku nggak harus bilang dia siapa, ‘kan.”

“Oh, aku tahu, pacarmu, ya,” lirih Yoseob. Suzy mencengkram tali tas sampirnya. Yoseob memerhatikan kepala gadis itu yang lantas mengangguk sekali. “kau mau kembali ke sana lagi dan lanjut menunggu dia? Okelah, kalau gitu aku pulang duluan, annyeong.”

Aniya—”

Serak?

“Pada akhirnya, kita bertemu lagi, walau dengan keadaan seperti ini. Ini pertamakalinya Oppa berbicara denganku semenjak kita putus!” Suzy tertunduk pilu, sementara dirinya, tidak menyangka topik sesakral itu yang tahu-tahu diangkat di pertemuan aksidental semacam ini. “Apa cuma aku yang merasa kalau kita menjadi canggung, kenapa aku merasa sebal, dan merasa senang di saat yang bersamaan karena Oppa menyadari kehadiranku?”

Yoseob terperangah. “Suzy-ah,”

Mata Suzy berair dibalik kacamata hitam yang Yoseob pakaikan tadi, suaranya semakin parau tapi ia tidak berhenti mengeluarkan unek-uneknya selama ini, apa yang ia rasakan setelah memutuskan hubungan dengan Yoseob secara sepihak. “Jelas-jelas aku yang menemukan orang lain, punya kekasih baru yang jauh lebih baik daripada Oppa, tapi aku merasa Oppa lebih bahagia dariku!” ironisnya, seketika, tangis Suzy pecah.

Yoseob menelan ludahnya dengan berat. Berusaha setia mendengarkan ocehan—curahan hati wanita—lantaran Suzy masih belum puas dengan ceritanya resahnya. “Oppa bahkan … tidak, kau tidak bertanya kenapa aku meminta putus! Setelah hari itu, kabarmu menghilang bersama dirimu yang entah kemana,” Suzy terseguk pedih.

Ah, meskipun gadis ini terlihat kasar diluar, kata-kata tak mengenakkan hati yang dikeluarkannya sebagai alihan, Yoseob tetap tidak tahan melihatnya menangis. Bagaimanapun, ia adalah perempuan, perempuan yang pernah spesial.

“Suzy-ah,” panggilnya pelan, terukir senyum layu, membujuk, “kenapa kau masih di sini, hm? Minho-oppa-mu nanti datang. Kau lagi menunggu dia ‘kan.” Imbaunya. Mencoba menyentuh pundak Suzy namun hardikan kasar ia dapatkan.

Suzy menepis tangannya—yang bahkan belum sampai menyentuh ujung pundak gadis itu, “Aku bohong!” ungkapnya kesal. “Aku—aku tahu hari ini Oppa baru pulang dari China, aku tahu Oppa akan menyempatkan chit-chat dengan fans disela senggang, jadi aku menunggu! Aku tahu Oppa akan datang, melihatku, jadi aku menunggumu!” teriak dan tangisnya di saat bersamaan, terdengar marah, putus asa, sekaligus sendu. Paraunya kian kentara, nyaris habis terkuras napas.

Yoseob merasa naas, ia mengelus puncak kepala gadis itu—yang dikenangnya beberapa saat ke belakang berkat satu mention sederhana dari penggemar. Ia menghambur, hanya sedikit merangkul pundak gadis itu, namun direspon dengan pelukan erat Suzy meraih punggungnya, terseguk kencang. Menumpahkan semua perasaannya.

Oh, My. Kapan terakhir kali Bae Suzy memeluknya seerat ini? Tetapi mengapa, … ia tak dapat membalas sama eratnya?

Jemarinya kaku—ia ingin menyentuh helai rambut itu lebih jauh namun semuanya terasa salah. “Peluk aku, Oppa!” pinta Suzy putus asa, menginginkan lebih dari sekedar rangkulan awkward—mustahil.

“Sudah cukup!—arh, aku tidak bisa,” tolak Yoseob tak tega. “kepalamu pasti sedang kacau, ya? Apa yang terjadi hari ini sebenarnya?”

“Bukan itu—”

“Bae Suzy,” potong Yoseob, “biasanya … aku akan menyanyikan lagu setiap kali moodmu sedang buruk, ingin mendengarnya kali ini?” di dadanya, tubuh Suzy beku untuk beberapa saat sebelum kepalanya bergerak—mengangguk lugu pertanda iya. Yoseob menyirat senyum lemah—ia memandang lurus ke sepanjang trotoar seraya elusannya pada puncak kepala Suzy tidak berhenti.

Ia memulai—

Wae babogati nal motjigo geurego inni? Wae ajikkaji nan nege joheun saramin geonni? Uri heeojin jiga beolsseo myoeot dari jinan neunde. Wae ajikdo neon … jinan chuege salgo inni?” nyanyian Yoseob terhenti sejenak karena isakan di dadanya, basah karena airmata yang terlalu banyak bahkan kacamata tak berpengaruh menghalangi lagi. “Kenapa menangis? Apa suaraku terlalu merdu?” namun yang diterima ialas isakan pilu yang kian keras daripada sebelumnya.

Joheun saram gyeote maljanha, saeron sarang sijakhaedo gwenchana, useumnyeon niga … jeongmal haengbokhagil baralge. Hemaneun nega nune balpyeoseo, saeron sarang sijakhal su objanha … uh yeah, ireoke neojeon sigane neon.

“Wae tto chajawanni neol ttonaboneun bigeophan nainde? Mun neomoro deullyeooneun seulpeun ureumsori. Wae tto chajawanna imi chagapge sigeobeorin naege? Neoege nanwo jul ongiga deoneun eomneunde … ijen aniya, ijen aniya, nega gidael saram …,

Yoseob berhenti setelah selesai dengan reff, tangis Suzy sudah padam, namun lengan gadis itu tak lepas melingkari perutnya. Suzy memohon inosen, “Hiks—la-lanjutkan bagian rap-nya, dulu Oppa suka ambil rap-partnya Junhyung-oppa meskipun jadi tidak terlalu bagus ….”

Dibalas gelak tawa khas, gadis ini masih ingat saja—membuat dirinya tak bisa menolak.

Geurae maeumkkeot ureo geurokhae nal ssiseonael su itdamyeon. Ne mamsok miryeon da jiwonael su itdamyeon. Nega apeul mankeum gatchi inneun saram, aniya. Yejeonchoreom neorang gatchi inneun saram, aniya. Neol saranghaesseo bonaendan geuron gotjimal gateun geon hagi shireo nan. Oneulman gatchi isseojulke eolleun ireona. Son naemireo jul su itjiman igeotdo oneulkkajiman ….”

Dan beginilah malam Yoseob berlalu.

***

[Lyric Trans]

Mengapa kau tak bisa melupakanku seperti orang bodoh?
Mengapa bagimu aku masih saja menjadi orang yang baik?
Sudah beberapa bulan sejak kita putus
Namun mengapa kau masih tinggal dalam kenangan itu?

Ada banyak orang baik di sekelilingmu
Tak apa jika kau memulai cinta baru
Aku tulus berharap kau bahagia dengan sebuah senyuman
Namun aku masih melihatmu berkeliaran
Jadi aku tak bisa memulai cinta baru
Di saat malam kau …

Mengapa kau menemuiku padahal akulah yang pengecut melepaskanmu?
Aku mendengarmu menangis dari balik pintu
Mengapa kau menemuiku di saat aku sudah tenang?
Aku tak lagi punya kehangatan untukmu
Aku bukan lagi orang yang bisa menjadi sandaran bagimu

Baiklah, menangislah sebanyak yang kau mau bila itu bisa menghapusku
Jika itu yang diperlukan untuk menghapus penyesalan dalam hatimu
Aku tak layak menjadi alasan untukmu terluka
Aku bukan orang yang sama yang dulu bersamamu
Aku tak ingin berbohong dan mengatakan aku melepasmu sebab aku mencintaimu
Aku hanya akan tinggal denganmu untuk hari ini
Bangunlah, aku akan mengulurkan tanganku hanya hari ini

[Sepenggal lagu yang dinyanyikan Yoseob, No More by BEAST]

***

Untuk [05/01] #HappyYSDay

YSFacts

#3 Yoseob ada tipe ideal Miss A Suzy jauh sebelum Suzy pacaran dengan Lee Min Ho. Bahkan di antara 2PM Taecyeon, 2PM Wooyoung, dan Kim Soo Hyun, Suzy tetap memilih Yoseob.

#4 Di Invicible Youth 2, ketika bintang tamu (waktu itu BEAST) disuruh memilih pasangan untuk kuis couple, Suzy main kode kalau dia ingin berpasangan sama cowok yang pakai celana pendek (di situ wajah Yoseob keliatan kaget, soalnya dia pakai celana pendek, meskipun ada empat member lain yang pakai celana pendek tapi mungkin dia ngerasa dikodein Suzy lol). Tapi pada akhirnya nggak ada satu member BEAST pun yang milih Suzy, (Suzy bilang kalau dia bakal melorotin celana itu cowok yang nggak nangkep kodenya dia, Yoseob langsung melotot kaget di situ sumpah ngakak) tapi dengan wolesnya kemudian Yoseob milih Kang Jiyoung sebagai partner kuisnya. (Mungkin dari situlah hubungan mereka kandas ckckck /ini apaan author delusional banget//abaikan/)

***

Doojoon yang bingung vs Yoseob yang lelah

“Woy, darimana saja kau?”

Yoseob terlonjak, setibanya di dorm langsung disuguhi pemandangan Doojoon berkacak pinggang tak henti mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan beruntun.

“Tanya saja pada Jia besok!”

“Kok bawa-bawa nama Jia?” heran Doojoon lugu.

“Pokoknya, kalau Jia nggak cerita, berarti nggak ada apa-apa,” Yoseob menenggak sebotol mineral hingga ludes setengah isinya. “ahhh—sudah, aku mau tidur, jangan berkicau lagi.”

“Wah—lihat anak ini, mentang-mentang sudah menginjak duapuluh tujuh, begini ya kelakukanmu, hah! Yang Yoseob! Aku tanya—hei—!”

Tamat dengan gaje

Iklan

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s