[FF] Sekali Waktu, di Perpustakaan

Title: Sekali Waktu, di Perpustakaan
Author: wufanneey
Genre: Slice of Life
Rating: G
Length: Oneshot
Cast(s): Seo Joohyun [SNSD] and Yang Yoseob [BEAST]
Summary: “Imposibble means I’m possible.”

image

***

Mendapat nilai jelek adalah suatu keharaman bagi seorang penerus perusahaan besar seperti Seo Joohyun. Karena nilai turut memengaruhi peringkatnya, jika perusahaan sampai menyadari kinerja belajarnya menurun, status pewaris akan dicabut telak. Lebih buruknya jika Ayah dan Ibu tahu, harapan mereka akan hancur—Seohyun yang menghancurkannya. Sebab mereka bergantung padanya. Ia anak tunggal, satu-satunya penerus keluarga Seo, dan ia ingin menjadi tulang punggung bukan menjadi beban bagi keluarga.

Tetapi—

Nama: Seo Joohyun
Mata Pelajaran: Sejarah Korea
Skor: 63

Seohyun meremas kertas itu. Kertas ulangannya yang terpampang angka mengerikan enam dan tiga. Enam puluh tiga? Yang benar saja—ialah Seo Joohyun si siswi jenius! Tidak mungkin ia salah! Tidak mungkin nilainya—mungkin saja. Seohyun menangis. Ia lengah dan menyepelekan pelajaran ini. Seohyun menyesal untuk itu.

Bulan merayap naik. Hari sudah gelap dan Seohyun belum beranjak dari duduknya. Di sudut ruangan perpustakaan yang terhalang rak-rak buku nan tinggi. Tak ada seorangpun yang menyadari ia masih berada di Sekolah. Termasuk ketiga Unninya—Sooyoung, Jessica, dan Sunny. Kris-sunbaenim telah menculik Sooyoung-unni entah kemana, sedang Sica-unni pulang lebih dulu karena—Nona Blondie yang selalu tepat waktu dan perfeksionis, dan terakhir, Sunkyu-unni tengah asyik hang-out tanpa memedulikan yang lain—bersama Park Hyomin, ya, ya, Sunbaenim yang jutek itu.

Maka tinggallah Seohyun—dengan kertas ulangan bajingan. Sendirian. Tanpa ada yang menghiburnya. Oh, teman Seohyun cukup banyak—justru paling banyak di antara Unninya karena ia termasuk yang paling ramah dan mau bersosialisasi di kelas. Namun perihal nilai jelek ia tak mau membagi berita kepada siapapun, cukup dirinya. Semoga saja.

“Uh!” Seohyun menahan geramannya ketika melempar jauh-jauh remasan kertas itu. Berharap dengan itu perasaannya akan sedikit lebih baik. Errr—ya sedikit.

Beberapa detik berikutnya, ada suara ‘pluk’ dan ‘aduh’ terdengar samar-samar. Kepala seseorang tiba-tiba muncul di balik rak buku. Membuat Seohyun berjengit dan memekik keras—jarang sekali. Tiba-tiba Seohyun berpikiran mistis—apa kau, apa kau hantu sekolah? Siswa ngesot atau semacamnya? A-apa itu ya Tuhan—

“Kau yang melempar kertas ini?”

—eh, itu suara cowok.

Seohyun yang sudah siaga menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, menengok—melihat. Melihat seraut wajah pias khas bangun tidur seorang cowok. Alisnya tebal, matanya bulat, bibirnya tipis berwarna merah muda … dengan surai cokelat sewarna bola matanya. Wajah itu berhasil meraup kesadaran Seohyun untuk beberapa detik. Seragamnya kusut, sepertinya ia benar-benar baru bangun tidur—atau terbangun berkat terantuk lemparan kertas dari Seohyun.

“Maaf jika aku lancang. Tapi kenapa kau membuang kertas ulanganmu?” cowok manis itu bertanya.

Mendadak, wajah Seohyun merah padam, tidak suka. Bingung harus menjawab apa. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan baik dan buruk, akhirnya, akhirnya Seohyun menjawab malu-malu, “Aku takut Umma marah kalau melihat nilaiku jelek seperti itu.”

“Kau penerima beasiswa?” tidak—bukan begitu, namun lidahnya kelu. Ia berpikir akan jawaban lain dalam kepalanya namun tak ada, akhirnya ia mengangguk saja meski dalam hatinya maaf aku berbohong pada orang yang tak kukenal! Hei sepertinya cowok itu percaya—“Aku juga penerima beasiswa, dan sering mendapatkan nilai seperti ini.”

“Ba-bagaimana bisa dengan nilai standar kau menerima—ah, maaf, maaf aku lancang.” Seohyun menunduk malu, ya ampun ya ampun ya ampun aku ini apa-apaan kali ini rona merah pipinya bukan karena jengkel—ditambah cowok itu yang berjalan mendekat, bersimpuh di depannya, memandanginya—memandanginya?!

“Sebenarnya ini pengalaman pribadi dan rahasia, tapi untuk sesama penerima beasiswa sepertimu akan kuceritakan,” si cowok mencari posisi yang nyaman untuk duduk di samping Seohyun. Seohyun sungguh sangat ingin membaca nametag si cowok tapi penerangan tak mendukung. Wajahnya pun tidak terlihat begitu jelas selain karena pantulan sinar bulan. Tapi—tapi cowok ini tampak manis sekali. “Aku menyimpan semua nilai-nilai jelekku untuk memotivasi ujian setelahnya. Cara itu efektif meningkatkan motivasi belajarku sehingga beasiswa ini dapat dipertahankan. Begitulah.”

“Sampai seperti itu? Kenapa bisa?”

“Kau tahu apa antonim dari kata bisa?”

“Emh, itu—tidak bisa?”

“Bukan,” Seohyun dapat mendengar senyum cowok itu berkelit. “Sebetulnya, tidak ada lawan kata dari bisa. Maka semua yang kau pikir tidak bisa, cuma khayalmu saja yang terlalu menunda kebisaanmu. Maka sebetulnya kau bisa, semua orang bisa.”

Seohyun menoleh, bersamaan dengannya. Berakibat jarak pandang menyempit dan Seohyun merasa oksigen di sekitarnya lenyap dan rongga dadanya sesak, darah naik ke wajah—melukis rona merah di dua belah pipinya. “Emmm,” ia bingung harus merespon bagaimana ketika sang adam malah terlihat tenang sekali …

“Tidak kusangka kalimat seperti itu keluar dari bibirku. Tapi faktanya memang begitu, Seo Joohyun-ssi.”

“Na-namaku?”

“Maaf, aku membaca nametag-mu.” Cowok itu menyerahkan kertas ulangan Seohyun, membuat tangan mereka bersentuhan untuk beberapa detik. “Tolong jangan buang kertas ini. Aku rasa yang paling baik adalah melakukan segalanya ketika kamu bisa. Seperti—aku akan mendapatkan banyak uang sekarang dan bermain belakangan.”

“ … Y-ya, mungkin.”

Aigeu!”—cowok itu mengintip warna langit di luar—“Sudah gelap, aku harus pulang! Wah, untung saja ini hari Rabu ya, hari Perpustakaan buka hingga tengah malam jadi kita berdua tidak dikunci di sini, hahaha,”

“Cho-chogiyo!” Seohyun ikut berdiri mengikuti cowok itu. “Namamu … bila tidak keberatan …,”

“Ah! Yang Yoseob, nae ireumeun Yang Yoseob.”

“Yang Yoseob …,” lirih Seohyun sembari tubuh Yoseob hampir menghilang dari balik pintu keluar perpustakaan. Merasakan bahwa jantungnya bertalu di bawah sana dan wajahnya masih sepanas tadi. “Yoseob-ssi, bagaimana kalau kita … sekalian—” uh, tenggorokannya, jeongmal.

“Pulang bersama? Sini,” Yoseob menuntunnya keluar Perpustaan dan Seohyun menduga bahwa siswa di sebelahnya ini ahli membaca pikiran—tunggu, tanganku dan tangannya. Seohyun tersenyum tipis, menunduk, menemukan bahwa dirinya tidak apa-apa ketika mereka bergandengan tangan menuju pemberhentian Bus dan harus me-reject panggilan dari supir jemputan dan—mungkin saja untuk beberapa hari ke depan ia tidak membutuhkan Pak Supir atau Unnideul lagi.

Mengenai bagaimana Seohyun menghadapi Ibunya atau resiko atas apa yang ia peroleh hari ini, ia berharap dapat belajar banyak dari Yoseob kelak, setidaknya. Bagaimana Seohyun tergoda tatkala dirasakannya tangan seorang siswa seumurnya terlalu kasar—akibat dari keringat dan kerja keras, keras—Seohyun ingin mengenalnya lebih dalam.

***

Untuk [05/01] #HappyYSDay

YSFacts
#1 Member favorit Yoseob di SNSD adalah Maknae Seohyun.
#2 “Aku rasa yang paling baik adalah melakukan segalanya ketika kamu bisa. Aku akan mendapatkan banyak uang sekarang dan bermain belakangan.” – Yang Yoseob on 130123 ELLE Girl Korea’s interview.

Iklan

4 Comments Add yours

  1. ripri1211 berkata:

    Waah i loved it, aku suka bgt sama karakter mas yoseop disini. Ikutan nge fly deh bacanya ckck
    Makasih ya thor atas ffmu, it’s made my day! Suka bgt bgt sama yoseop oppa, si baby face itu ya g sangat manis XD
    Semangat thor, ditunggu ff beast selanjutnya

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Mikicih cuyung. Iya dong minggu ini aku bakal rajin update FF terutama BEAST dan Yoseobie. Semoga kamu nggak bosen bacanya ya ~^•^

      Disukai oleh 1 orang

  2. Aceslia berkata:

    Annyeong Author… perkenalkan aku reader baru *nemu* n ngubek2 F B2ST! haha n ini FF prtna di WP ini yg q bca. Aku suka aku suka… pesannya dpt.. ga prlu mengumbar adegan romantis n ud ngena bgt dg respon2 kecil dr mreka.. hehehe harusnya ini ada sequelnya.. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s