[FF] Berawal dari Hujan

Jisoo seringkali lupa ketika ke Sekolah, ia harus membiasakan memakai stoking, seragam ketat, dan rok pendek. Sekali lagi, ia tidak bohong bahwa ia mengenakan rok—pendek. Jadi beginilah caranya berkenalan dengan kehidupan SMA di Korea yang kerap kali diperdengarkan istilah bullying, apakah ia salah satu korbannya? Jisoo memalingkan wajah setiap kali ditanya begitu.

Ia hanya harus makan siang di toilet, bersembunyi dari para siswa yang masa-masanya menginginkan ‘itu’, adolens sialan—ia tidak mau seperti itu. Harusnya ia tinggal saja di Amerika dan tetap memakai nama Joshua Hong tetapi senyuman Bunda menangis seperti Angel ketika mendengar bahwa ia sudah bisa hidup mandiri di negara kelahirannya. Jadi—selamat tinggal, panti asuhan.

“Jisoo sayang, kamu dimana?”

Untuk ke sekian kalinya, ia berhasil lolos dari mereka.

Tapi mungkin tidak—jelas sekali suara-suara pembuli itu sudah menjauh sialnya kenapa ia bertemu Han Sanghyuk di depan pintu toilet!

“Jisoo-yah, kau tidak bisa terus seperti ini, aku bisa membantumu,”

“Tidak, tinggalkan aku.” Jisoo mendorong dada anak laki-laki itu, menyuruhnya memberi jalan untuk lewat. Namun sesaat kemudian langkah-langkah ribut kembali mendekat dan refleks Hyuk mendorong tubuh Jisoo yang lebih pendek darinya kembali masuk ke bilik kamar mandi.

Mulutnya dibekap, ia hanya melotot, berkeringat, Hyuk sama kuatirnya. Namun mereka sama-sama tak punya pilihan selain diam dan menunggu hingga orang-orang sialan itu berlalu.

“Tidak, tidak ada. Kemana dia pergi sebenarnya? Aku belum menyentuhnya hari ini.” suara si Brengsek, Jisoo tanpa sadar menggigit telapak tangan Hyuk.

“A—!” Hyuk menahan erangan—Jisoo memberinya wajah terkejut juga—kenapa kau tiba-tiba menggigit tanganku?

“Suara apa itu?”

“Tidak ada. Mungkin kau salah dengar. Ayo pergi.”

“Yah, kau membuatku takut!”

“…”

“Mereka sudah pergi?” Hyuk berbisik, mengintip melalui cela bilik, kosong.

“Maaf soal tanganmu—”

“Tidak apa-apa,” potong Hyuk. Kemudian mereka berdua keluar dari bilik dan Hyuk menuntunnya menuju tempat paling aman—tentu saja sembunyi-sembunyi (di manapun—atap, gudang, ruang guru, asal bukan toilet). “Sekolah ini sudah tidak waras, kapan kau mau pindah?” Jisoo melihatnya terus berbicara—mendumal—sembari ia mencari-cari sesuatu untuk mengganjal pintu atap. “Kau ketinggalan otakmu atau bagaimana sih? Aku tidak habis pikir kenapa kau mau-mau saja dibeginikan setiap hari. Aku tidak mau bayangkan kalau yang ada di posisimu itu adalah aku.”

“…”

“Hei, aku tidak sedang bicara dengan cleverbot atau semacamnya ‘kan?”

Jisoo menarik napas, “Setidaknya mereka membayarku.”

Omona, otakmu ikut-ikutan jalang seperti tubuhmu.”

“Makanya tinggalkan saja aku, aku menjijikkan, begitu pikirmu ‘kan.”

Selesai dengan urusan pintu, begitu ia yakin persegi panjang itu tidak bisa dibuka oleh selain dirinya, ia berbalik dan duduk bersandar pada pintu. Lantas menepuk tempat di sebelahnya meminta Jisoo duduk. Jisoo menurut saja, ia lupa dengan rok yang dikenakannya hingga menyikap kaki hingga paha yang kelewat ramping untuk ukuran laki-laki.

Hyuk mengerjap beberapa kali. “Woah. Kau memang cantik, sih. Jantungku jadi berdebar-debar.”

“Aku tidak cantik, aku ini laki-laki.”

“Tapi—yah Hong Jisoo, serius tidak akan pindah sekolah? Aku mungkin saja bisa membantumu! Daripada di sekolah khusus laki-laki, kau mungkin saja bisa jadi Kingka di sekolah campuran!”

“Aku paling benci dengan ketidakpastian. Kau mengucap ‘mungkin saja’ berkali-kali berarti kau tidak yakin dengan ucapanmu.” Jisoo memandang lurus, melihat langit, kosong. Satu-satunya harapannya untuk hidup adalah Bunda, sejujurnya Jisoo tidak apa-apa toh sampai saat ini dia masih bisa hidup sehat dan makan dengan baik. Untuk apa repot-repot menghamburkan uang dan pindah sekolah? Lagipula, Kingka? Kingka itu yang diteriaki dan di elu-elukan namanya oleh para gadis setiap kali ia lewat, bukan begitu? Sama sekali bukan hal yang disukai Jisoo.

“Masalahmu sebetulnya apa, sih? Uang?”

“Semua orang bermasalah dengan uang.”

“Ah, betul juga,” Hyuk mengangguk-angguk. “tapi kalau kau pikirkan sekali lagi, tentang pindah sekolah, aku juga akan pindah mengikutimu jadi kau tetap akan punya teman, tenang saja!”

“Bisa tidak sih kau tutup mulutmu? Kau ‘kan bukan temanku.”

“Bisa tidak sih kau berhenti bertingkah seperti cleverbot? Kucabut juga bateraimu!” Hyuk tertawa akan gurauannya sendiri namun sungguh Jisoo tidak dalam mood untuk ini. Hyuk memang baik—hingga terkadang kadar baiknya melebihi batas kesabaran Jisoo.

“Oh iya! Kalau masalahmu adalah uang, kau bisa berhenti bekerja sebagai Princess! Kau bisa ikut kerja sambilan denganku!”

“Gajinya tidak akan lebih besar daripada ini,”

“Dingin sekali, cih,” Hyuk manyun. “setidaknya kalau di tempat kerjaku kau bisa tinggal dan makan gratis.”

Jisoo meneguk liur. “Dimana?”

“HOST Café.”

***

Title: Berawal dari Hujan
Genre: (untuk edisi ini) Comedy, Friendship
Rating: G
Length: Series
Cast(s): Hong Jisoo [SEVENTEEN], Yong Junhyung [BEAST], Han Sanghyuk [VIXX], Choi Sooyoung [SNSD], Yang Yoseob [BEAST], and others.
A/N: Untuk merayakan [19/12], [26/12], [30/12], dan [31/12] yang sedikit terlambat, selamat membaca yeorobun.

image

***

Deras guyuran hujan tidak memburu-buru dirinya untuk pulang lebih awal—meski tercermin kilas cemas di wajah sebab Hyungnim di rumah sendirian saja. Apakah ia sudah makan? Buang air? Atau sedang tidur? (Omong-omong, Hyungnim adalah bulldog berusia enam bulan yang didapatnya dari Petshop beberapa minggu silam.)

Yong Junhyung mengecek ke dapur untuk terakhir kalinya. Ia benar-benar sudah mengunci semua pintu. Baiklah, jadi sebagai penanggungjawab hari Kamis, ia yang membereskan semuanya terakhir. Sayangnya laporan cuaca yang sengaja diabaikan Junhyung ketika santap pagi rumah tadi berdampak buruk—harusnya ia membawa payung. Hujan masih deras.

Ia duduk lagi, di salah satu kursi tamu, sembari matanya jeli memperhatikan jalanan. Barangkali Yoseob akan datang dengan payung di tangan dan bilang kalau kunci rumahnya ketinggalan ‘lagi’ atau Hyuk yang menerobos dengan jas hujan beralasan homework-nya butuh seseorang sebagai bantuan (biasanya dengan—Urgent! Hyung jebal!). Junhyung belum memikirkan mana yang lebih realistis atau apa Sooyoung yang datang sebagai pilihan ketiga, ketika … ketika yang dilihatnya seseorang menghampiri Café bukan ketiga orang dalam khayalnya barusan. Bukan Yoseob, Hyuk, apalagi Sooyoung—yang benar saja, Bos cantik-nya yang Mahasibuk itu mana mungkin.

Orang ini basah kuyup. Berseragam sailor—perempuan? Siswi? Gosam?—dengan tas punggung di tangan dan langkah terseok-seok. Sepertinya anak sekolahan itu butuh tempat berteduh. Paling tidak, Junhyung bisa menawarinya masuk.

“Anu, kau yang di sana,” tahu-tahu saja ia sudah melongokkan kepala melihat si gosam. “kalau butuh tempat berteduh, masuk saja.”

Junhyung mendapat respon, sebuah anggukan canggung dan langkah pelan-pelan memasuki Café. Rambut sebahu dan tubuhnya basah sekali, terlebih tasnya. Kasihan sekali, Junhyung membatin. Mungkin banyak buku-buku pelajaran dan tugas-tugas dalam tas itu yang sekarang basah tak bersisa. Tiba-tiba ia membayangkan kalau Hyuk yang sekarang ada di depannya, ia menjadi begitu prihatin.

Ia menyodorkan selembar handuk dan segelas chocolato. Gadis itu meraihnya dengan hati-hati, lalu menyeruputnya sedikit-sedikit merasakan bagaimana kepulan asap hangat menerpa pipi, hidung—wajahnya. Samar-samar Junhyung mendengar kata khamsahamnida dan akan saya balas kebaikan hati Anda dari bibir mungilnya. Ngomong-ngomong, mata dan bibir gadis ini mengingatkan Junhyung akan kucing, kalau Sooyoung melihat ini, bisa-bisa gadis ini dikeram berhari-hari di rumah si Bos.

Ah, pikiran Junhyung jadi melantur kemana-mana.

***

Esoknya, di Café, dua jam lebih awal dari kemarin, si gadis yang belum diketahui namanya lebih lanjut ini datang.

“Junhyung-oppa,” terpaksa ia meninggalkan meja pelangannya yang ke-12 hari itu—tolong mengerti, berhenti merengek, aku sudah melayanimu, ‘kan—demi memenuhi seruan Yoseob perihal seorang gadis yang datang mencarinya.

Yoseob bersedekap sinis, “Jadi begini caramu move on dari Goo Hara? Cari-cari yang lebih muda? Oke! Kau pikir aku nggak bisa?”

Serius. Apa sih masalah si bocil yang satu itu?

Yoseob berlalu ketika Junhyung hampir berhasil menendang bokongnya—tapi tidak kesampaian, ya sudahlah, sekarang perhatikan gadis gosam ini dulu. Tatkala Junhyung merasa ada tarikan kecil di lengan kemejanya.

“Saya akan membayar cokelat yang saya minum kemarin,” gadis itu bilang, suaranya mencicit namun tidak terlihat gugup sama sekali, “maaf baru bisa membayarnya hari ini, kemarin saya tidak ada uang—”

“Aih … kau. Tidak perlu, aku saja sudah lupa,”

“Tapi saya tidak seperti itu, saya tidak mudah melupakan kebaikan hati seseorang,” pertegas si gadis. “mohon dimengerti.”

Sebelumnya, Junhyung telah meneliti pakaian si gosam hari ini, masih berseragam sekolah. “Ah, baiklah, baiklah. Tapi sebelum itu … Kau membolos? Atau sudah pulang? Kenapa bisa bebas kelas di jam seperti ini?”

“Saya membolos,” tanpa ragu dia menjawab. “saya sengaja datang jam segini demi menghindari seseorang.”

“Siapa? Salah satu kenalanmu pelanggan tetap di sini?”

“Bukan, dia adalah karyawan di sini, kebetulan saya tidak mau bertemu dengannya karena dia salah satu teman kelas,” gadis ini menarik rok-nya ke bawah, pipinya memerah ketika mengatakan sebuah nama, “namanya Han Sanghyuk.”

Mendengarnya, Junhyung terjungkal.

***

Pertamakali tiba di Café—yang harusnya sebagai Bos ia datang lebih pagi, malah selalu paling akhir dan telat daripada yang lain, namun berkat statusnya ia tidak menerima protes siapapun (ada rule tidak tertulis dilarang memprotes keterlambatan Choi Sooyoung atas alasan apapun)—tahu-tahu menaruh binar-binar cahaya di mata melihat sesosok siswi SMA berbicara berdua dengan Yong Junhyung. “Siapa gadis itu?”

“Entahlah, mungkin gebetan baru Jun,” Yoseob menjawab seadanya. Mereka berdua bersekongkol untuk mengintip dari balik pintu yang membatasi dapur dengan meja-meja tamu. Duo weirdo, Leo yang melihat pura-pura tidak peduli.

“Aku tertarik sama dia. Harus kenalan, nih,” konfesi polos Sooyoung membuat kepala Yoseob terbentur nampan di atas meja.

“Kau normal, ‘kan,” Yoseob ragu ia akan menerima jawaban yang akan membuatnya kena struk mendadak. “kau cantik dan tinggi, kau Choi, punya gen yang bagus, pikirkan Ayah dan Ibumu, pikirkan Jo In Sung!”

“Aku bicara begini karena aku suka kucing. Tidak bisa lihat, ya? Wajahnya! Eyesmile dan bentuk bibirnya, demi apapun, aku ingin memelihara dia di rumahku,” Sooyoung berceloteh, kemudian mengatai bahwa Yoseob lah yang tidak normal karena tidak tertarik dengan gadis manis seperti itu.

“Aku ‘kan tertariknya padamu,” Yoseob bilang. Sooyoung memukul kepalanya, sialan. “Ibuku bilang aku harus mencari seseorang yang bertubuh tinggi dan berhidung mancung, agar memperbaiki keturunan katanya.”

“Kenapa tidak Leo? Kalian serasi, gay pun aku tidak peduli, yang jelas jangan denganku, Puppy, bagaimana bisa majikan menikahi hewan peliharaannya?” sembari terus mengobrol hal-hal yang tidak penting, duo atasan dan bawahan itu masih asyik mengintipi interaksi Junhyung dan si gadis kucing.

“Sudahlah, berhenti bicara, telingaku iritasi.” Keluh Yoseob, kemudian ia dan Junhyung tidak sengaja bersitatap dari jarak bermeter jauhnya dan ia menyadari, “Oh, gawat, gawat, mereka akan kemari!”

Yoseob dan Sooyoung sigap berdiri—tiba-tiba perbincangan mereka berubah menjadi bagaimana kepuasan pelanggan bulan ini dan Choi Sooyoung berhentilah datang terlambat ke kantormu sendiri, kantormu sendiri (“Hei kau melanggar rule nomor satu, Seobie!”).

“Tidak perlu sok membicarakan statistik kunjungan pelanggan bulan ini padahal aku tahu jelas kalian mengintip kami daritadi,” Junhyung tidak habis pikir, yang satu adalah Bos-nya dan satunya lagi adalah teman dekatnya, dan gosam di belakangnya ini adalah … ah, kepala Junhyung tiba-tiba berdenyut.

“Jun-ah,” Sooyoung nyengir, “hei, manis, siapa cewek ini?” Yoseob ikut-ikutan cengengesan tanpa alasan, bersama Junhyung yang lantas ingat akan sesuatu lantaran gadis itu berdiri canggung di belakangnya. Mengharap Junhyung mengatakan ‘hal itu’ yang tadi jadi topik perbincangan mereka.

“Dia sedang membutuhkan pekerjaan part-time—”

“Oh, ya ampun, di sini aku nggak menerima pekerja part-time, aku maunya full-time!”

“Yah dengar dulu!”

Sooyoung cekikikan, si gosam bingung apa yang terjadi. “Bercanda, kamu butuh kerjaan part-time, hm?” terbaca sudah. Si gosam mengangguk pasrah. Junhyung mengatakan kalau dia membutuhkan sesuatu untuk dikerjakan kemudian pergi.

Sooyoung gemas menilik gosam imut ini dari bawah ke atas, lalu tersenyum penuh sirat, Yoseob merasa ada yang janggal jadi dia memilih pergi juga menyusul Junhyung, di saat seperti ini Junhyung akan menjelaskan meskipun ia tidak minta, biasanya. Meninggalkan seringai Sooyoung yang bilang bahwa sebetulnya Café ini tidak membutuhkan pekerja perempuan karena ini HOST Café khusus pelayan laki-laki dan—tidak, kamu pengecualian, deh, katanya genit. Lalu mendorong si gosam masuk ke kamar ganti untuk mencoba beberapa seragam Café.

“Kau suka sekali dengan dia, ya?” Yoseob bergidik, sementara berbunga-bunga Sooyoung menyuruh Leo untuk membawakan stok seragam maid yang masih ada.

“Kenapa, sirik? Junhyung bilang apa padamu?”

“Junhyung bilang kau mungkin saja bisa kecewa karena menerimanya bekerja—”

“Tidak, tidak, tidak kecewa sama sekali, berhenti memprovokasiku, sana kerja lagi atau kupecat,” kata-kata keramat diucap, Yoseob kalah telak.

Leo tiba dengan ‘bukan-baju-maid’ yang tidak diinginkan Sooyoung. “Itu ‘kan seragam untuk laki-laki,” dia cemberut. Leo angkat bahu, berisyarat kalau cuma ini yang ada karena baju maid terakhir dibakar Jung Ilhoon karena emosi tidak mau dipaksa ikutan cosplay lagi. “Ya sudahlah, aku nanti pesan lagi, sampai saat itu tiba biarkan dia pakai ini dulu.”

“Tidak perlu sedih begitu, berikan padaku,” Junhyung merebut seragam berapron itu lalu ia masuk ke kamar ganti. Sooyoung menjerit, apa yang pria masokis itu lakukan! Baby-girl-ku sedang berganti baju di dalam dia gila ya!

Sooyoung menyusul Junhyung masuk ke dalam agak mengabaikan seruan Yoseob mengenai ‘jangan’ dan gelengan kepala ‘ckckck’ dari Leo. Apa yang terjadi sebenarnya?

***

Beberapa saat kemudian.

Annyeonghaseyo yeorobun. Aku pulang!” mengumbar aura ceria begitu sedetik sampai di depan ruang ganti pegawai, Hyuk terhenti begitu sosok Sooyoung menatapnya garang dari depan pintu. “Eh, ada apa ini?”

“Mulai hari ini salah satu teman sekelasmu akan kerja di sini,” Sooyoung puasa bicara semenjak insiden masuk ruang ganti, jadi Junhyung menggantikan untuk menjelaskan.

Hyuk kelihatan senang sekali—“Jinjja, jeongmalyo? Nuguseyo? Nugu?”

“Hong Jisoo.”

“Heol … Jisoo?!” Hyuk menerobos masuk dan ada sesosok anak laki-laki yang dikenalnya tengah berkaca di depan cermin ruang ganti. “Jisoo-yah! Akhirnya kau ikut kerja di sini juga, aku bilang apa, orang-orangnya baik ‘kan? Kau pasti akan betah! Soal gaji dan jam kerja, juga tidak perlu pusing! Lihatlah, sudah aku duga kau cocok pakai dasi, kau jadi tampan—meski lebih tampan aku, tapi kau tampan, kau bisa jadi idola di sini! woah—aku tidak pernah meleset—”

“Han Sanghyuk!” bentak Sooyoung tiba-tiba, Hyuk menoleh, mengerjap, bingung—tidak biasanya Sooyoung-nuna membentak Maknae, “kau sekolah di mana?”

“Di Hanlim, sekolah khusus laki-laki, kenapa?”

Sooyoung memejamkan mata, menarik satu napas panjang, lantas berlalu. Jadi, inilah alasan mengapa Yong Junhyung begitu syok hingga jatuh terjungkal ketika pertamakali mengetahui bahwa gadis manis yang baru dikenalnya sehari, bersekolah di sekolah yang sama (sekelas) dengan Hyuk. Singkat penjelasan, gadis itu laki-laki.

***

A/N: [19/12], [26/12], [30/12], dan [31/12]
Happy birthday Yong Junhyung! Akhir-akhir ini kamu gantengnya nggak manusiawi, apalagi di MV Stay Forever Young, semoga 2016 cepet dapet pacar ya! (sebetulnya aku ragu kamu beneran udah move on dari visual KARA apa enggak)
Happy birthday yang ketiga WordPress-ku! Semoga aku jadi gak males-malesan lagi posting FF setelah ini /uhuk/.
Happy birthday Hong Jisoo dan Kim Taehyung! Jisoo yang manis, imut, dan mungil udah mulai bereformasi jadi cowok semenjak Mansae Era, aku kangen Jisoo yang berponi dan doyan pout bibir (u..u), dan untuk Taehyungie, jangan sakit lagi ya kemarin-kemarin kamu bikin Army khawatir tau.
And … /jengjengjeng/ the last but not the least, TAHUN 2016 AKU DATANG!

PS. Maaf buat Afra yang aku kerjain perihal ‘gebetan’ di grup LINE (u must know what i mean, fufufu).

***

(Di SMA Hanlim, yang dimana semua muridnya bersex laki-laki, ada sebuah pekerjaan sekaligus budaya dan aturan, yang mengharuskan satu siswa (paling manis, paling girly, dan paling—ehem—pendek) dari setiap kelas menjadi crossdresser agar paling tidak dapat mengobati mata-mata para adolens yang haus gairah. Disebut Princess, mereka bersikap dan berpenampilan layaknya perempuan demi memuaskan dahaga teman-teman sesama jenis seumur jagung. Mereka dibayar (tidak murah) dan itulah salah satu alasan mengapa Hong Jisoo tidak menolak memakai stoking dan rok pendek.)

“Berarti sudah dua kali, ya, Sooyoung terkecoh perihal gender seperti ini.”

Hyuk menerawang, “Iya, yang pertama Ilhoon-hyung …,”

“Kau mau mati?” Ilhoon mengasah gunting rumput.

“Yah, … pada dasarnya dia pecinta sesuatu yang imut dan mungil sih jadi wajar saja.”

“Eh—tunggu, Ji, yang akan menggantikanmu jadi Princess di Sekolah siapa, dong?”

“Entahlah, mungkin Kim Taehyung.”

***

((bersambung ke serial  HOST Café Daily yang sesungguhnya, nantikan))

Iklan

13 Comments Add yours

  1. febryza berkata:

    wakakakkaka ternyata gosamnya si joshua hahahahahah sumpah ini host cafe apa bukan sih kok kayaknya merka kocak semua, ada bos yg cantik bgt tapi rada pea, terus ada ilhoon yg anti bener kayaknya ama skinship, terus ada yoseob yg yah begitulah kocak aja pas bagian dia ngobrol ama sooyoung tapi langsung pura2 ganti topik pas junhyung dateng hahahaha duh ini juga leo ngapa diem aja bang

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Kayaknya Leo emang cocoknya begitu aja. Dia gak bakal kukasih dialog buat ngomong, orang dianya juga males ngomong xD

      Suka

  2. winterchan berkata:

    Hahahahahahah ff ini asli hiburan!
    Suka sama yoseob deh wkwkwk
    Aku gatau harus komen apa lagi, pokoknya aku terhibur 😀

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Yoseob orangnya memang mudah disukai, aku paham kok :”)

      Suka

  3. Adegan awal awal membuat diriku berimajinasi sangat jauh :”) kukira bakal nyerempet ke yaoi HAHAHAHAHA /gilanyakumat/ tapi kasian sama Joshua, dibullynya gitu banget. Jahat ih anak anak sana.
    Hyuknya kasin gitu baru pulang udah kena pelototan big boss :”)

    Ditunggu yang selanjutnya kak^^

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Mau aku buat HyukJi (Sanghyuk-Jisoo) versi yaoi? Hahahaha *ini mah kemauan authornya*

      Ga deng bercanda bebs. Iya aku juga nunggu komen kamu kalo gitu xD

      Suka

  4. Okeyoungiester berkata:

    Gosam jadi inget splash splash love deh jadinyaa. Hihi.
    Buahaha. Kasihan Junhyung yang sampek terjungkal pas tau Jisoo cowo.
    Bang Sanghyuk seneng banget klo Jisoo ikut kerja sama dia *jangan jangan* Nooo. Don’t yaoi yaoi ya mereka, nnti yang di sini baper *tunjuk diri sendiri*. Leo mah di mana-mana juga gitu gitu aja, nggak di foto, di tv, di varshow, di ff, di mana mana hatiku senang *eh?* Ada bos Syoo yang tjanthekk juga. Suka suka suka. Ditunggu series yang sebenernyaaa…
    Semangat !!!

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Beibs! Aku juga nonton Pondang Pondang Love *uhuk* Yoon Doojoon – Kim Seulgi *uhuk*

      Ahhh Raja :***

      Suka

  5. nisa berkata:

    yeeay ada jisoo kirain ini series nya ternyata bukan yah??? wahh si yoseob lucu banget sih… kirain tadi jisoo lovelyz #ganyambung ehh ternyata jisoo lagi jadi gosam…….. emang jisoo cantik deh (?) ganteng maksudnya 😀 ketawa ketawa sendiri deh baca ff ini… si jisoo juga lucu sih…. ilhoon juga imut banget…. pantes kalo pernah dikira cewek…
    apaaa lanjutannya yang jadi princess nya taehyung?? ga kebayang deh…
    ditunggu banget series sebenarnya

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Jisoo Lovelyz kan nama aslinya Seo Jisoo, ini mah Hong Jisoo. Emang ya, nama “Jisoo” itu pasaran … *mianhae Josh*

      Suka

  6. dwiranran berkata:

    wkwkwk…
    ngebayangin muka nya soo pas tau jisoo ternyata co bkn cw yang seperti yg d harapkan.
    ini other storynya ternyata..
    sooyoung cw gesrek anti mainstream
    penggila hal yg imut dan manis.

    semangat wat cerita lainnya
    fan, tanya donk cerita utk ff sun , flower and winter nya discontinue ya..
    padahal aku penasaran banget dgn cinta segitiganya jonghyunsooyoungkris

    gomawo

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Ran! Aku bukannya ga mau ngelanjutin fanfiksi itu, tapi kamu tahu kan Kris belakangan ini kayak gimana? Setiap mau nulis cerita tentang dia tuh bawaannha ilfil, langsung gak mood, bete lah pokoknya. Mungkin fanfiksi itu bakal lanjut lagi kalo aku udah gak benci sama WYF :”(

      Suka

  7. ismi khaerin berkata:

    Sialan bkan cuma sooeoni aja yang ktipu gwe jga ktipu nh sma gerak2geriknya jisoo .hadeuhh

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s