[FF] An Involved Lover – 15

Title: An Involved Lover
Author: wufanneey
Genre: Fluff, Comedy
Rating: PG
Length: Series
Pairing: Sehun/Sooyoung
Cast(s): Choi Sooyoung [SNSD], Oh Sehun [EXO], Krystal Jung [f(x)], Kim Jongin [EXO], Choi Sulli.
Preview Previous Chapter: Sooyoung memang tidak pernah mengatakan dengan jelas kalau dia menyukai Sehun, tapi Sehun cukup tahu dengan tindakan wanita itu. Sampai momen di mana mereka terjebak di rumah berduaan dengan keadaan basah kuyup! “Nuna, kau suka padaku, ‘kan?”

AIL SooHun copy

***

Chapter 15 – Girl’s Heart

Bukan bunyi sreek sreek roda koper terseret yang Sehun harapkan begitu ia dan Sooyoung tiba di Apartemen. Sembari cemberut, ia hanya masuk mengekori Sooyoung-nuna yang belum juga menyapanya seharian ini. Sepulangnya dari Busan, mereka diantar hingga depan pintu mobil oleh segerombol anak-anak pebasket (Seungcheol cs) dan orangtuanya, orangtua Sooyoung-nuna, dan Ayah Kris-hyung. Sehun tidak bisa pura-pura tidak tahu, kalau memang ada yang aneh semenjak kejadian waktu itu (tentang perilakunya, sengaja memerangkap Sooyoung-nuna di kamarnya dan menciumnya tanpa ijin, maaf), mungkin wanita itu marah, mungkin juga tidak.

Sehun hampir menyerah. Sooyoung sama sekali tidak memedulikannya layaknya ia dinding beton, malah mengambil satu cup ramyun instan dari rak atas dapur dan menyeduhnya dan makan dengan lahap tanpa peduli Sehun memandanginya dengan memelas dari sudut pintu. Ya sudahlah, ia memang belum paham betul mengenai wanita—tiba-tiba ia ingat perkataan Kai.

Meski ia agak merindukan telur rebus atau chocolato-mashmallow Sooyoung di udara sedingin ini, tapi tidak apa-apa. Mungkin besok.

Jadi Sehun memutuskan untuk mencari tayangan bagus—siapatahu—dan ia memencet-mencet remot, mengubah-ubah channel mana yang tidak menampilkan acara berita atau opera sabun. Ketika layar tipis itu menampakkan iklan kosmetik, Sooyoung duduk di sebelahnya dengan komforter hangat pada perutnya. Wanita itu melenguh lalu bersandar pada sofa.

Rasa penasaran Sehun memuncak jua, “Nuna, kau kenapa sih?”

Dijawab Sooyoung dengan menengok cepat, ‘Kau tidak lihat? Aku sakit perut!’ oh bahkan Sehun tidak harus bertanya lebih lanjut mengenai kerutan di alis dan tatapan tajamnya.

Maka Sehun—setelah ‘hm, hm, oke’—berfokus saja pada layar televisi. Fokus. Satu. Dua. Persisten, tidak, ia masih bingung, kenapa, apa yang salah, ia penasaran—

“Tapi Nuna—”

“APA LAGI?!”

“Eh itu anu, errr—Kau belum menyapaku sejak tadi pagi—dan beberapa hari ke belakang. Apa kau marah padaku? Kalau aku berbuat salah sebaiknya kau bilang supaya aku tidak bingung.”

Wajah Sooyoung merah padam.

“Jangan ganggu aku.”

Sehun melongo, mengerjap, ia ditinggalkan sendirian di ruangan sebab Sooyoung pergi ke kamarnya begitu saja diiringi suara pintu ditutup begitu kencang. Sejauh ini berarti—ya, Sooyoung-nuna marah.

“Ish,” ia mendumal. Tanpa sengaja melihat schedule board di dinding dan menyadari kalau besok ia harus masuk sekolah. Kenapa rasanya menyebalkan, ya?

***

Lirik.

Hening.

Sehun lanjut menyikat gigi.

Tengok.

Masih hening.

Sehun berkumur, lantas melongok dari pintu kamar mandi. Kenapa belum ada tanda-tanda Sooyoung-nuna sudah bangun? Biasanya pukul lima pagi saja sudah ada grasak grusuk oseng-oseng di dapur, tapi ini sudah lewat tigapuluh menit jadi jam lima dan kamar Sooyoung pun sepertinya sunyi sekali. Ada apa sebenarnya?

Haruskah Sehun mengetuknya untuk memastikan?

Tok, tok—“Eh, pintunya tidak dikunci, ya.”

Gelap. Masih gelap?! Si rambut jamur menyalakan lampu kamar dan—ada Choi Sooyoung berbaring lemas seraya memeluk perut. Wajahnya berkeringat sangat banyak dan tiba-tiba Sehun teringat insiden demam Sooyoung di hari pertama salju turun dan ia tidak mau semuanya terulang lagi. Oh tidak, ia ingat betul semua pekerjaan rumah yang berat dan begitu kesepiannya ia ketika Sooyoung hanya berbaring di kasur tanpa ada menemaninya.

Nuna!” jeritnya. Menghampiri Sooyoung dan memastikan apakah dahinya panas. Tidak, tidak panas?

“Sehun-ah,” Sooyoung membuka kelopak matanya perlahan-lahan.

“Sebenarnya Nuna kenapa?” tapi tetap saja ia tidak bisa menutupi kekhawatirannya. Sebab Apartemen sebesar ini tanpa omelan Sooyoung benar-benar hampa. Ia kapok merasakan kekosongannya.

Sooyoung menyentuh tangan Sehun yang masih menempel di dahinya, senyum tipisnya berkata tidak apa-apa, dan kemudian gerakan mulutnya yang Sehun dapat baca … ia membaca …, “Kau sedang datang bulan?”

Plak!

Appo! Kenapa jadi menamparku?!”

“Tidak usah mengatakannya keras-keras! Aku sengaja tidak menyuarakannya supaya situasi ini tidak jadi terlalu vulgar bagi para pembaca, dasar bodoh!”

Sehun memegangi pipi kirinya yang berdenyut, “Wanita kasar …,”

“A-ah, jinjja, neomu appo,”

“Harusnya itu kalimatku,” keluh Sehun, sembari ia membenahi selimut menutupi tubuh Sooyoung. “jadi Nuna tidak akan ke Sekolah hari ini?”

“Yah. Tidak usah menutupi selimutnya sampai kepala!”

“Eh, kelebihan,” Sehun terkekeh, melihat Sooyoung-nuna yang menggerutu pagi hari sungguh membangkitkan mood-nya—garis miring selera humornya. “mau aku belikan sesuatu sepulang sekolah? Obat atau pemb—umph!”

“Cu-cukup! Cukup tutup mulut sok tahumu itu!”

“Iya, haha, maaf cuma bercanda,” Sooyoung menahan diri untuk tidak melayangkan tamparan kedua ke wajah sepupunya. Sebab, Bibi Oh menitipkan makhluk ini di rumahnya untuk ia urus, bukan untuk ia siksa, walaupun—geez, anak ini.

“Uh,” Sooyoung menggeser sedikit tubuhnya, memosisikan wajahnya agar bersitatap dengan Sehun. “ini hari pertama sekolah setelah liburan panjang, tidak mungkin aku membolos tapi, mungkin aku akan datang terlambat ke Sekolah jadi kamu duluan aja.”

Perkataan Sooyoung ada benarnya. Lagipula Sehun sudah tidak terlalu cemas lagi setelah tahu apa yang terjadi pada Sooyoung faktanya—kecemasan yang bodoh—tentu saja antibodi wanita kasar dan bertenaga super itu tidak seburuk dugaannya. Jadi Sehun membiarkan Sooyoung mengelus-elus puncak kepalanya sembari senyum wanita itu terus berbicara, “Melihat wajahmu pagi-pagi begini bikin perutku tambah mulas, tahu.”

Di cela sinar mentari pagi yang terselip di matanya, wajah Sooyoung, kemudian wajah Sehun maju menutup jarak di antara hidung mereka, bibirnya mengecup bibir Sooyoung. Satu detik. Hanya satu detik. “Aku senang kau baik-baik saja. Kutunggu nanti siang di Sekolah.”

Ekspresi wajah Sooyoung yang datar memang sulit dibaca, nun hawa panas yang menjalar ke kedua belah pipinya tidak dapat membohongi penglihatan Sehun. Ada jeda saling pandang beberapa detik sebelum Sooyoung menarik selimutnya dan menenggelamkan kepalanya, hingga yang terlihat hanyalah dua bola mata sewarna pekat yang bergerak-gerak risih menghindari tatapannya. Manis sekali!

“Sana mandi. Bau.”

“Tapi aku sudah sikat gigi, Nuna mau dicium lagi?”

“Sana pergi. Enyah dari pandanganku, Oh Sehun.”

***

“Kelas 2-A,” jawab Sehun begitu ia bertemu Kai di lorong menuju deretan kelas anak-anak tingkat dua. Pagi itu Kai terlihat seperti biasanya di mata Sehun walau si eksotis bersikeras kalau ada perbedaan style-nya di hari baru ini. “Apaan sih?” Sehun menyerah.

“Rambut! Rambut! Kau nggak lihat? Aku nggak berponi hari ini!” sempat-sempatnya Kai berkaca di jendela kelas sembari ia sewot dan berjalan terburu mengimbangi langkah Sehun.

“Itu Sulli!” tunjuk Sehun pura-pura kaget.

“Mana? Mana?” Kai rusuh.

“Bohong, deng.”

“Kau ngajak ribut? Baru juga ketemu. Saking kangennya sama aku, ya?”

“Dih,” Sehun buang muka. Namun ternyata sosok Sulli yang asli tahu-tahu muncul dari belokan lorong mereka berada sekarang, bersama Jiyoung dan seorang anak perempuan yang tidak Sehun kenali.

“Pagi, Chagi!” Kai menebar wink pada Sulli.

“Apaan sih, jijik,” Sulli menutup mulutnya menahan muntah. “untung kelas dua aku nggak sama kamu lagi.” Kalimat pertama yang menohok Kai setelah sekian minggu tidak bertemu sang pacar.

“Memang kamu di kelas apa?” tanya Kai. Mau tidak mau Sehun ikut berada di sana walaupun sebenarnya ia ingin cepat-cepat masuk ke dalam kelas sebelum bertemu warga sekolah absurd lainnya.

Dijawab Sulli dengan senyum lebar dan ‘mahal’ yang menyilaukan mata, “Aku sekelas sama Jing dan Krys! Kelas 2-A dan oh! Sama Sehun juga!”

“Oh?” Sehun tersenyum kepada dua siswi di sebelah Sulli.

Sehun merasa anak perempuan yang disebut Krys itu memandanginya sampai ia merasa dirinya tengah di telanjangi. “Ini Krystal Jung. Kamu belum kenal dia ‘kan? Dia temen aku juga, dulunya di kelas sebelah kita. Nah, Krys, ini Oh Sehun.” Pada akhirnya Sulli lah yang memecah kecanggungan di antara Sehun dan cewek Krys ini. Terimakasih, mungkin?

“Krystal Jung,” si Krys mengulur lengan menunggu jabatan tangan. Sehun memandanginya beberapa detik, agak kaget setelah Sulli menyenggol sikutnya agar segera membalas jabatan tangan itu.

“Ya, hai.”

“Kau Oh Sehun?” Krystal lagi-lagi memandanginya penuh selidik. Ada apa sih? Cantik memang, namun Sehun jadi merinding dibuatnya. Seolah tatapannya berkata sadis, ‘Heh. Jadi ini Oh Sehun?’

Hei kau terlalu langsung—“Tentu saja aku Oh Sehun. Memang kenapa?”

“Ehm, aku sedikit banyak tahu tentang kau,” Krystal terdiam sejenak. “dari Sulli.”

“Loh?” Sehun menoleh pada Sulli tapi si gadis auburn malah dengan sengaja memalingkan muka pada Jiyoung, pura-pura tidak mendengar percakapan mereka. “Yah, Choi Sulli …,”

“Hm? Apa? Sehun-ah, hm, hm? Eh bentar lagi bel ya ampun—yuk, ah, kita ke kelas bareng, hehe, yah, yah?” Sulli menggaet tangan kedua rekannya kemudian berlalu.

“Hah,” Sehun mengusap tengkuknya sembari ia mengeluh, bingung bagaimana harus menghadapi situasi ini. “Ada apa sih dengan para cewek belakangan ini? Tidak Sooyoung-nuna tidak Sulli atau teman-temannya, mereka semua aneh. Aish, ah, molla!” pun ia berlalu tanpa ingat fakta bahwa Kai juga ada di sana, ditinggalkan begitu saja.

“Cih. Aku ditinggal.” Kai meratapi nasibnya.

***

 

Di kelas.

Lagi-lagi Krystal Jung.

Tatap, tatap, tatap.

Uh, Sehun merasa sekujur tubuhnya gatal-gatal. Masa tiba-tiba ia panuan sih?

“Krystal Jung berhenti menatapku.” Sehun menoleh, tersenyum, mencoba sabar sejauh tatapan intimidasi Krystal masih di batas wajar. Oh yeah—takdir macam apa ini omong-omong Krystal duduk di sebelahnya.

“Aku bukan menatapmu, tapi memerhatikanmu,” perjelas si muda Jung, kelewat kalem. “dari ujung kaki … sampai ujung kepala, eks!” ia membuat tanda silang imajiner dari kaki sampai kepala Sehun.

Sehun tersenyum nyiyir, tidak habis pikir, ia menarik napas dalam sebelum ia membalas, “Kau mulai membuatku kesal. Apalah arti dari perbedaan kata kalau tindakannya sama? Kau. Berhentilah. Menggangguku!” kelewat keras.

Kelewat keras hingga Sonsaengnim yang mengaku sebagai Wali Kelas mereka mulai hari itu harus terusik di tengah penjelasannya mengenai pemilihan Ketua Kelas. “Haksaeng yang di sana sepertinya tidak sabaran sekali,” Kim Minseok membenahi letak kacamatanya. “kalau begitu Anda yang menjadi Ketua Kelas.”

Sehun terlonjak, Guru Kim sepertinya menunjuk ke arahnya tapi tidak ada siapapun di belakangnya setelah ia celingak-celinguk.

“Pssst—Sehun-ah, itu kau! Selamat!” urgh, bahkan ucapan selamat dari Choi Sulli terdengar menyebalkan sekali.

Sehun mendelik tajam pada Krystal. “Sebetulnya Krystal Jung yang mengajak saya mengobrol daritadi, Sam!”

“Oh, begitukah?” haha rasakan, Sehun tersenyum sinis, sedikit puas dengan pengakuannya. “Bagus. Krystal Jung mulai hari ini Anda bertugas membantu pekerjaan Ketua Kelas, sebab Anda adalah wakilnya.”

“Baik, Sam.”

APA?! Sehun memandang si Jung geram, tapi gadis itu mengacuhkannya seolah buku Fisika lebih baik untuk diperhatikan daripada atensinya. Sialan!

***

Sial. Sial sial sial.

“Kau sadar nggak sih mood-mu yang naik turun itu kayak cewek?” Kai mendesah capek, lalu mengunyah sisa roti melonnya yang tinggal setengah.

Sehun mengabaikannya. Ia tidak napsu makan—Krystal Jung adalah salah satu penyebabnya. Rasanya dari kemarin ia ingin sekali makan telur rebus atau apapun masakan buatan Sooyoung-nuna—jelas-jelas tidak pada masakan Ibu Kantin, jeongmal mianhamnida.

Namun, ada hal lain yang sungguh membuatnya harus memutar otak beberapa kali saking tidak masuk akalnya, adalah, “Choi Sulli kenapa si Jung ini duduk di sini? Di depanku!” ia perjelas sedikit hiperbol.

Sulli hanya menjawab dengan mulut penuh, “Tentu saja karena Krys temanku, kau kenapa sih? PMS?”

“Kau yang kenapa! Arrrh! Kalau Sooyoung-nuna melihat bagaimana, hah!”

“Oh, itu Sooyoung-sam!” pekik Kai meniru Sehun tadi pagi.

“Mana? Mana?” Sehun berdiri dan menengok cepat ke arah yang ditunjuk Kai. Nyatanya … nihil, Hitam Sialan.

“Bohong, deng.”

“Kau cari ribut, ya.”

“Kau begitu padaku tadi pagi, dasar sensian!”

“Dasar pendendam!”

“Hentikan, ini di kantin, tempat makan umum, kelakuan kalian berdua memalukan,” pertamakalinya Krystal angkat suara semenjak ia duduk di bangku kantin—mungkin gadis itu punya kebiasaan tidak berbicara ketika makan, dan bicaralah bila perlu setelah selesai makan—sungguh behavior wanita ningrat.

“Wah, komentarmu benar-benar menambah buruk suasana,” Sehun berdecak, ia tidak punya pilihan sebab bangku lain penuh selain beberapa yang tersisa di meja mereka, jadi ia kembali duduk.

“Itu Sooyoung-sam,” kata Kai lagi.

“Bohongan lagi,” decih Sehun, mengunyah nasi dengan wajah tertekuk. “arra, nan arrayo, Kim Jongin.”

“Tahu? Kau tahu apa, hm?” Sehun menengok kaget begitu ia mendengar suara Sooyoung tepat di samping bangkunya dan memang benar—“Sehun-ah makan makananmu dengan benar kenapa sampai muncrat-muncrat begitu, yah!”

“Nuna!” rasanya Sehun ingin mecurahkan semua kekesalannya kini, kalau ia adalah anak perempuan mungkin ia sudah menangis. Melihat Sooyoung secara riil, ia sungguh ingin memeluknya di sini saat ini juga, dan ia hampir-hampir mendapatkan kesempatan itu sebelum Sooyoung berhasil mencubit pinggangnya.

“Ayo, lanjutkan makan kalian, tidak perlu pedulikan Sehun,” Sooyoung menyebar tersenyum untuk ketiga murid lainnya.

Krystal melap bibirnya dengan tisu. “Saya sudah selesai, saya permisi dulu.” Ia berdiri dan membungkuk pada Sooyoung, lalu beralih menatap Sehun. “Jangan lupa tugas kita sepulang sekolah.”

“Ish, iya aku ingat, sana pergi, hush hush.”

“Sehun-ah!” Sulli tidak terima teman baiknnya dibegitukan walaupun sebenarnya Krystal sudah akan pergi tanpa perlu diusir.

Selepas kepergian Krystal dari pandangan Sehun, Sooyoung menanyai apa maksud dari ucapan Krystal yang terakhir padanya tadi. Namun Sulli mendahului sebelum ia menjawab kalau Sehun terpilih sebagai Ketua Kelas dan Krystal Jung adalah wakilnya, ck, tidak aneh cewek ini adalah pacar Kim Jongin.

“Jam pulang sekolahmu akan lebih larut daripada biasanya karena pekerjaan Ketua Kelas?”

“Iya. Jadi hari ini Nuna pulang duluan saja.” Dengan berat hati Sehun berhasil mengucap kalimat itu.

“Kalau begitu hari ini aku bisa pulang bareng, atau mungkin menyempatkan makan malam dengan Kris?”

Nunaaa,” Sehun merengek.

“Bercanda, bercanda,” kekeh Sooyoung. “kau kerjakan saja tugasmu dengan benar, nanti di rumah aku buatkan makan malam yang enak.”

So damn flirting, batin Kai-Sulli.

***

“Jung,” tanpa preambul, Sehun menaruh setumpuk kertas di meja Krystal. “ayo selesaikan dengan cepat, sebab aku harus segera pulang, seseorang menungguku di rumah.” Dia bilang.

Di tempatnya duduk, Krystal melepas dengusan lelah, “Kau mengatakannya seolah pekerjaan ini memberatkanmu.”

“Memang benar, aku keberatan,” ketus Sehun. “dari dulu aku tidak pernah dan tidak mau punya pengalaman menjadi Ketua Kelas.”

“Kau ingin aku bertanya kenapa?”

“Tidak.” Sayangnya kata-kata itu malah terdengar makin jelas bahwa Sehun ingin ditanya. Tapi tidak, Krystal sudah cukup makan hati bagaimana ia memahami isi kepala laki-laki. Jadi ia hanya mengulum senyum sembunyi-sembunyi.

“Baiklah, kita mulai saja dari jadwal piket.” Krystal membuka lembar kertas pertama dan menyiapkan bolpoinnya.

***

Tik! Pukul lima sore lebih tigapuluh menit. Sehun meyakinkan dirinya bahwa ini pekerjaan yang terakhir—hari ini. Menyusun organigram kelas. Aish, kegiatan monoton semacam ini tidak cocok dengan dominasi otak kanannya!

“Bagaimana kalau Kim Wonshik sebagai seksi peralatan, badannya cukup kekar untuk bisa disuruh-suruh membawa ini-itu—hei Oh Sehun kau mendengarkanku, ‘kan? Kembalilah ke bumi.” Krystal mengibaskan telapak tangannya beberapa kali di depan wajah Sehun. Lama-lama siswi itu prihatin juga melihat ekspresi tanpa rasa Sehun. Tawar.

Sehun menopang dagu dengan tangannya, “Kim Wonshik? Siapa Kim Wonshik?”

Sungguh mengenaskan. “Kim Wonshik, anak-anak memanggilnya Ravi, dia duduk tepat di depanmu. Ya ampun, kenapa orang se-apatis dirimu bisa kenal dekat dengan Junmyeon-sunbae, coba?”

“Hah? Siapa?”

“Ravi, aku bilang.”

“Bukan yang itu, Junmyeon? Kim Junmyeon? Suho-hyung maksudmu?”

“Iya—jangan pura-pura tidak tahu tentang Junmyeon-sunbae, Sul—” di detik kedua, Krystal tercengang. Ia menjatuhkan bolpoinnya ke lantai. Tiba-tiba tubuhnya kaku, kedoknya terobek tanpa ia sengaja. “—tidak kau bukan Sulli, aku salah, tidak tidak tidak kau tidak mendengar apapun ‘kan—”

“Oh! Oh aku mulai paham kenapa kau terus memandangku penuh selidik sejak pertama kita bertemu! Kau penasaran bagaimana orang sepertiku menjadi teman dekat Suho-hyung! Haha … kau suka Suho-hyung ya?”

Tidak. Sebenarnya Sehun hanya berkata iseng. Tetapi wajah Krystal merona dibuatnya.

“Eh … serius?”

“…”

“Krystal Jung,”

“…”

“Hei—aku tanya,”

“Iya! Iya! Iya! Puas?”

“Kau mau cerita?”

“Kau menyerupai cewek penggosip sekarang, duh.” Krystal mendelik. Dalam batin Sehun menyangkal tapi mungkin … ini gara-gara ia terbawa tabiat buruknya Baekhyun-hyung (di suatu tempat, Baekhyun kena sial).

“Ayo ceritakan, setidaknya ini lebih menarik daripada organigram kelas.”

Kau pikir kisahku adalah dongeng? Krystal menggerutu, tapi—“Ya sudahlah, apa boleh buat …,” Krystal mengambil napas lalu ia hembuskan pelan, seraya memegangi keningnya, berat hati ia memulai pengakuan, “motivasiku untuk bergabung dengan Klub Paduan Suara semenjak kelas satu adalah Junmyeon-sunbae, pemuda bersuara merdu dari keluarga seni yang ketenarannya sampai keluar sekolah—aku sangat mengaguminya, aku ingin sekali mengobrol dan berlatih bernyanyi bersamanya tapi bahkan dengan Ketua Klub pun ia jarang berbicara, jadi aku pikir—mana mungkin aku?”

“Tapi suatu ketika kau melihatnya mengobrol akrab denganku, kau dengar dari Sulli kalau aku memang berteman dengan Suho-hyung,” sambung Sehun. Krystal mengangguk pelan. “dan kau cemburu,” imbuhnya. Kedua kalinya, Krystal mengangguk.

“Aku kedengaran bodoh, iya ‘kan. Tertawa saja sepuasmu.”

“Yah,” gertak Sehun, Krystal sedikit terlonjak karena itu. “mana mungkin aku menertawai gadis yang sedang jatuh cinta!”

“Ha …?” wajah Krystal bersemu hingga ke kupingnya. “Ja-jangan mengatakannya terlalu keras! O-oh Sehun, tidak ada orang lain yang tahu hal ini selain Sulli—dan sekarang kau! Be-berhenti bicara macam-macam!”

“Apa? Aku tidak bicara macam-macam, aku bicara fakta—fakta bahwa Krystal Jung menyukai Kim Junmyeon! Hahaha!”

“Oh Sehun!”

“Ayolah, … mana ada orang yang bakal dengar di jam segini? Sekolah sudah sepi, yah Krystal Jung, jangan marah.”

“Aku marah,” Krystal mengambil bolpoinnya yang terjatuh lantas menyimpannya di tempat pensil, ia mulai membenahi barang-barangnya. “kau selesaikan organigram ini sendiri.”

“Yah,” Sehun memelas. “aku mana berani menjahili siswi teladan sepertimu, yah Krys, Krys-ah,”

“Tidak perlu meniru Sulli, menyebalkan!”

“Tidak. Aku serius. Mana berani aku mempermainkan perasaan gadis yang sedang jatuh cinta. Malah, mungkin baru saat ini kau bisa membuatku kagum, dengan mudahnya kau dapat mengakui perasaan suka pada seseorang …, bila aku adalah orang yang kau sukai, mungkin aku akan bahagia,” Krystal terhenti sejenak, mulai bersimpatik dengan kata-kata filosofis Sehun yang baru ia dengar—tunggu, Krystal pernah mendengar dari Sulli bahwa Sehun menyukai seseorang yang lebih tua darinya. “sebab bagi seorang pria, pengakuan cinta dari wanita itu berarti segalanya.”

“Kok kata-katamu terdengar menjijikkan, ya,” Krystal bergidik.

“Hahaha.”

“Kau terdengar sekarat ingin mendapat pengakuan cinta dari seseorang. Belum pernah ditembak cewek, ya?” gurau Krystal. Sehun senang ia berhasil mengembalikan mood gadis itu—meski dengan meledeknya (lihat saja besok-besok aku yang akan meledekmu).

“Enak saja. Aku ini lumayan populer di kalangan para siswi,”

“Itu karena kau yang terlalu menyedihkan. Para siswi itu pasti buta.” Meskipun kesal dan gadis ini masih sama menyebalkannya sebelum ia tahu siapa dan kenapa—Sehun menahan diri untuk membiarkan Krystal meledeknya hingga puas.

“Hei. Mau nomor ponsel Suho-hyung nggak?”

“Kau punya nomor ponselnya?”

“Tentu saja aku punya, tapi tidak gratis.”

Senyum Krystal hilang. “Neo jugo.”

***

Begitu melepas sepatu dan melempar tas ke lantai, yang pertama kali dilakukannya adalah melongok ke dapur—mencari makanan, apa lagi? Namun tidak mendapati apapun di meja makan, ia merengek, “Nuna, katanya mau masak makan malam?”

Sehun terdiam sejenak. Rasanya ada yang aneh dengan situasi ini. Ia harus mengecek ke kamar, barangkali sakit perutnya Sooyoung-nuna kambuh lagi.

Nuna-yah,”

Tidak ada. Kemana wanita itu? Masa belum pulang, sih?

Trek!

Sehun menoleh mendengar sebuah suara dari pintu depan. Ia bergegas melihat, dan mendapati bahwa Sooyoung baru tiba—dengan seragam Guru Shinju. “Kenapa baru pulang?” tanyanya kemudian, sedikit kesal.

Sooyoung menatapnya beberapa saat namun tidak cukup untuk menjawab pertanyaannya barusan. Sehun mendengus, ada apa lagi ini, lagi-lagi ia diabaikan.

Nuna, mau kemana?”

“Mandi lalu tidur, aku capek sekali,”

“Nggak akan buat makan malam?”

“Kamu masak sendiri yah, aku ‘kan bilang aku capek.” Sooyoung sudah berada di depan kamarnya sebelum Sehun hilang kesabaran. Melangkah tegas dan memegang pundak Sooyoung, menahannya untuk masuk ke kamar.

Sooyoung menolehkan kepalanya, malas, “Ada apa lagi?”

“Setidaknya temani aku makan,” dia bilang. “Nuna, tatap aku.”

“Ck,” Sooyoung menatap matanya, sepenuhnya berhadapan dengan Sehun, ia melipat tangan di dada dan ekspresi wajahnya betul-betul tidak menyenangkan.

“Aku sungguh tidak mengerti Nuna marah karena apa,” akunya, memegang kedua pundak Sooyoung.

“Kok bisa tahu aku marah?”

“Dari wajahmu?”

“Oh Sehun,” Sooyoung menyingkirkan kedua telapak tangan Sehun dari pundaknya dan mereka bersitatap, “sampai kapan …,” ada satu tarikan napas berat diambil, sebelum Sooyoung melanjutkan, “sampai kapan kau akan bermain-main denganku?”

“Bermain-main apa?”

“Kau tidak tahu permainan yang kau ciptakan sendiri?”

“Apa?”

“Baik—baiklah, aku perjelas di sini. Kau memang lebih cocok dengan gadis seusiamu, dari awal aku yang salah. Sudah, jadi lepaskan aku, aku lelah, Sehunie.”

Jangan-jangan Krystal Jung. “Nuna … jangan bilang kau—tidak, kau memang melihatku dengan Krystal sepulang sekolah tadi.”

“Iya. Siswi yang sebelumnya di kantin itu, ‘kan.”

“Wah,” Sehun memegang keningnya, tidak habis pikir, efek dari PMS bagi kaum hawa betul-betul luarbiasa. “jangan terlalu dipikirkan, Nuna, perempuan di hari merah itu biasanya sensitif, apa aku salah?”

“Sok tahu.”

“Ehem. Tadi,” Sehun menyentuh tangan Sooyoung, kemudian menggenggamnya. “Krystal bercerita kalau ada seseorang yang disukainya, bukan aku, tapi Suho-hyung.”

Bagus. Kali ini Sooyoung tidak mencoba melepaskan diri dari genggamannya. Jadi perlahan-lahan Sehun menautkan jemari mereka, mengetes seberapa tahan Sooyoung dengan skinship seperti ini.

“Jadi aku memberinya nomor ponsel Suho-hyung,” tutur Sehun pelan-pelan. “aku suka melihat gadis yang jujur dengan perasaannya seperti itu.”

Sehun sudah tahu bagaimana kebiasaan Sooyoung—terlalu mudah dibaca—ketika ia gugup atau malu—menghindari bertatapan mata dengannya. Manis sekali.

“Hei, masih marah?”

“…”

“Temani aku makan, ya.”

“… kau,”

“Hm?”

“Duduk saja, aku yang buatkan.”

“Hehe,” Sehun nyengir, Sooyoung memberinya delikan ganas tapi Sehun tahu ia telah menjelaskan semuanya dengan benar. Sooyoung-nuna benar-benar manis, bagaimana bisa aku menyukai orang lain?

***

Nuna, sebetulnya kau suka padaku, ‘kan?”

“…”

“Sooyoung-nuna,”

“…”

“Choi Sooyoung.”

“Makan saja dulu, baru bicara.”

“Buktinya kau cemburu,”

“Aku tidak—!” bodoh Choi Sooyoung, tentu saja yang tadi itu cemburu. Kemudian pundaknya naik-turun terkikis napas. Kehabisan kata-kata. Biarkan saja, untuk sekali ini Sehun memang benar—tapi tetap mulutnya bungkam enggan berkata (mengaku).

“Tidak mau mengaku?”

“Tidak,” pipi Sooyoung terasa panas. Aniya aniya kenapa jadi begini pipiku tenanglah! Hoh. Ya ampun, kenapa mendadak AC-nya tidak berfungsi? Sialnya, Sehun menyadari perubahan rona kulitnya yang memerah dan malah menikmati pemandangan itu.

“Aku,” Sehun menjeda sejenak, “—aku akan tutup mata! Nih, nih! Aku tidak lihat wajah Nuna.”

“Sudah kubilang aku nggak—” bibir Sooyoung mengerucut, Sehun benar-benar menutup rapat matanya. Apa sebegitu inginnya anak itu mendengar kata cemburu dariku? “Aku … nggak …,” bulu matanya bahkan tidak bergerak, kelopaknya terpejam tenang. Siasat jitu membuat jantung Sooyoung berisik tidak sabaran.

“Aish, Sehun-ah!”

“Mm.”

“Sehun-ah!”

“Ya?”

Sooyoung yang geram diacuhkan, maju demi menjangkau wajah Sehun kemudian mengecup bibirnya dengan marah, “Iya, aku cemburu!”

***

A/N: Penulisnya masih suka sama Sulli, dan lagi benci sama Kai (oke ini nggak penting abaikan). Errr yasudlah—chapter depan saya proteksi, ya, reader-deul *kecup terbang*

Oh iya promot lagi nih, kalau mau masuk grup LINE Sailor Club chat aku (fanniwpbaru).

***

Taktik Sehun

“Sehun-ah … kau ini sudah besar kenapa makanmu masih suka belepotan, ck,” Sooyoung menarik selembar tisu, hendak ia usapkan pada sudut bibir Sehun sebelum menyadari bahwa ujungnya tertarik—mengulas senyum.

Hampir saja berhasil—

Naas, tisu itu berakhir terlempar ke seluruh wajahnya dengan keras dan celotehan geram, “Kau sengaja ya! Kau sengaja ‘kan supaya aku mengusapnya untukmu, pikiran macam apa itu hah ide darimana kau bocah tengil—”

“Yah … gagal.”

“Iya, dan tidak akan berhasil untuk percobaan ke berapapun.”

—failed.

Iklan

15 Comments Add yours

  1. yuki-chan berkata:

    Kasian kai yah, digituin sama sulli xD. Waah krystal suka sama suho toh, ih jangann , suhonya buat aku ajaa #apaansih. Ngakak serius sooyoung lg pms dohh sensitif amat hahha. Si sehun selalu cari kesempatan aja buat dpet perhatian soo.Tapi tetep kok merekanya manis gak berlebihan.
    Lanjut nya yg cepet ya kakk. Fighting 😘 #hoek#lebay#dihajarauthor

    Suka

  2. febryza berkata:

    ehehehehehe gatau kenapa part ini bikin senyam senyum sendiri yah walaupun masih agak engga rela kalo sooyoung ga sama kris tapi apa mau dikata ini kan ffnya soohun entar biar fanni bikin fd lain aja yg temanya sookris hahahahaha

    Suka

  3. wiiaawiyu berkata:

    Egilak sumfaah ! eike pikir si lovely Krystal bakalan jadi orang ketiga gituuu.. untungnya enggak yah. Suka sama Suho nyak? heuh…
    Emang yah Krystal ini rada susah di tebak. Karakter Krsytal disini pas bangetz sama apa yg ada di benak aku tentang Jung Soojung. nais (baca nice)

    Cewek PMS ini emang yah, serba salah semua. bawaan sensi mulu udh kaya ibuk ibuk hamil. Garam jadi manis sedang gula jadi asin. (Pengalaman 😢)

    ehtapitapi…. kok Soohun moment nya dikit banget kak 😦 banyakan adegan Krsytal nya (meskipun sabanarnya akyu seneng banget ada tambahan cast dan itu bias) tapi teteup lah jiwa jiwa dressage yang haus akan kasih sayang, maksudnya haus akan soohun ini masih dan masih dan masih haussssssss sama soohun moment. Semoga next chap 90% soohun yak XD hahah.

    Kai, ente kesian benget disini, udh dicuekin sama Sehun, di cuekin sama pacar, di cuekin lagi sama author. Eleuh…. ibarat matematika, ke kasianan elu udh kuadrat gitu kai. Sabar nyak… *pukpukKai*

    Kak kalau di protek, minta kemana pw nya?

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Kalau diprotek, mintanya lewat LINE aku aja lah ya biar praktis.

      Udah dicantumin kok di situ

      Suka

  4. Elisa Chokies berkata:

    Fannniiii makasiiiiii udah update.

    Cieh. ganti tema baru. Temanya keren fan. oh ya coba pke tema twenty fourteen, tampilanya keren, itu menurut interpretasi aku sih.

    Oke fan, aku mau merusuh dulu. Jadi, ini sebenernya di luar ekspektasi aku fan /dikeplak/ eh maksud aku mah ini bener bener di luar ekspektasi………..karena bayanganku ngga bakal sampe kayak ini. Btw mereka uda pacaran? kok ciuman terus. Lalu aku beneran terhanyut …………iya gimana ceritanya Sooyoung yg gengsian itu mau ngaku kalau dia baper liat kristal ma Sehun. Haha, kecian si sooyoung, gantian deh cemburunya & disini dia sering blushing ya, auw bgt deh ,aku jd deg² kn sendiri.
    AIL keknya udah mendekati puncak.

    Si Kai item disini lawak bgt ya, poni aja diributin.
    KAIIIII!!!! SULLI PADAMUUUUUU.

    btewe fan, gaya tulisan km makin keren lho kesininya. Tingkatkan fan. Ganbatte. oh yeah si Kris gak nonggol disini. /kokmendadakjadikangenKris/

    KUDU KOMEN APA LAGI FAN SELAIN AKU SUKA FIC KAMU! MAKJLEB BANGET GINI ………….. kayanya banyak orang kudu baca fic kamu. Wks. Aduh maap aku nyepam! Ini ficnya sukses banget bikin kepo sama chapter 16. AH… fic 15 ini bagus banget. diksinya, idenya, alurnya, lawaknya dan cara kamu ngemas jadi satu itu buat aku ngga mainstream. aku jd ngiri.

    YG epilog LOL bgt si Sehun, modusnya keliatan bgt. Rasain!

    KEREEN! Love bgt karyamu Fan.

    Suka

  5. Elisa Chokies berkata:

    last, sepertinya sehun ini selalu jadi oknum childish kalo di tangan kamu, yaa hahahaha xD tapi aku sukaaaa ❤ apa ya. kesannya Sehun di depan Sooyoung itu jadi manja abise tp kalo di belakangnya jutek bgt sama org, hehehe. yah, apa ya… dia jadi image polosnya ilang.

    he's a top hipokrit selain si L.

    Aku harap chapter 16 mereka pacaran dan penuh dengan Soohun momen. karena disini dikit bgt.

    chapter 16 jgn setengah tahun ya fan.

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Maaf buat sehun yang image nya terbuat begitu aja oleh aku. Aku ga pernah kepikiran, iya juga ya, kalo gini dia 11 12 sama L

      But kak el mah ahlinya nyepet orang hahaha, enggak ga bakal setengah tahun kok ail 16, setahun aja sekalian wkwkwk

      Bantuin cari ide dongs

      Suka

  6. Di berkata:

    Sehun kok imut imut banget gitu sih??!! Jadi pengen di pacarin….hehehe. Cie akhirnya sooyoung udah mulai terbuka, udah mulai cium cium duluan pula itu sukaaa!!

    Suka

  7. Vi berkata:

    Rinduuuuuu rinduuuuu rinduuuuu….
    Rindu sangat sama ff ini 😍😍

    Seneng akhirnya sooyoung mulai berani nunjukin perasaannya.

    Rajin update please fan 😭😭

    Suka

  8. watashiwanuy77 berkata:

    Aku kira krystal bakal suka sama sehunn eeeh gak taunya diluar dugaan… cie sooyoung cemburu

    Suka

  9. ajeng shiksin berkata:

    lucu ceritanya sehun pantang nyerah.. hahaahaha
    sooyoung sama sehun aja.

    Suka

  10. Cicamica berkata:

    Dari semua part ini yang pling bikin senyum2 sendiri. (walaupun yang lain juga sih) but anyway krystal character is cool but cute abeeeezzzz
    Si syoo walaupun partnya nggak banyak tapi anyes banget di bagian terakhir
    Nextnya ditunggu 😃😃😃

    Suka

  11. nisa berkata:

    kekeke lucu deh liat tingkahnya sehun… kayaknya dia tuh dimana mana karakternya childish banget sih…. sooyoung nya yang dewasa…
    yah kalo urusan perempuan mah sehun mana tau :v
    kirain krystal mau jadi orang ketiga untung aja engga #legabanget
    senyum senyum sendiri deh baca ff ini 😀

    Suka

  12. winterchan berkata:

    SooHun nya makin ucule aduduw
    Krystalnya in character banget di sini, bener bener kaya sifat krystal yang selama ini aku bayangin (?)
    Good job!
    Suka sama tipe pacarannya Sulli-Kai wkwk, kayanya Kai rela rela aja dinistain pacar sendiri 😂😂😂

    Aku nunggu perkembangan lebih lanjut SooHun nih heheh 😀

    Suka

  13. yoonade berkata:

    😄 hahahaha… Soo eonni cemburu cie sehun seneng banget tuh, wow sehun sweetly deh, kalo seperti ini sooyoung eonni pasti gak akan pernah bisa nyembunyiin prasaan’y lg hihihihi…
    Dear author gomawo udah membuat soo eonni cemburu, klo gitu kan ceritanya jadi nambahh seru gak perlu sehun terus yg mrs panas heheheh…
    Tp klo boleh nih tambah new cast dong, yeoja pengganggu gitu yg pastinya over suka ma sehun, boleh ga’ dear author heheh…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s