[FF] Second Life Sensation – Chapter 07

Title: Second Life Sensation
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Rating: PG
Length: Series
Cast(s): Cho Kyuhyun [SUJU], Choi Sooyoung [SNSD], Shim Changmin [TVXQ], Lee Jonghyun [CNBLUE].
Pairing: Kyuhyun/Sooyoung
Summary: Cho Kyuhyun menyukai sahabatnya, Shim Changmin, yang ternyata malah menyukai Choi Sooyoung yang notabene musuh bebuyutannya di Sekolah. Tapi, siapa sangka? Kyuhyun memiliki kesempatan untuk mengubah takdir cintanya dalam waktu tiga hari.
Inspiration: “49days” Korean drama, “Ghost” Korean film, “Love is Cinta” Indonesian film.

wufanneey-106

***
Chapter Seven – Fallin Again

“Aku hanya diberi kesempatan tiga hari untuk melanjutkan misi hidupku yang sedikit tertunda, eum … maksudku urusan dunia yang belum kutuntaskan. Dan hari ini adalah … hari terakhirku untuk menyelesaikannya.” Kyuhyun menampakkan senyum manisnya. Tidak, bukan. Itu bukan senyum seringai yang biasa Kyuhyun pamerkan. Senyum ini berbeda, terlihat manis dan … tulus. Walau Sooyoung bisa melihat sedikit gurat kesedihan di wajah Kyuhyun.

Eh?

Kenapa hatinya jadi berdebar melihat senyum Kyuhyun?

***

Cho Kyuhyun membolak-balikkan tangannya sendiri. Menerawang dalam cahaya pagi hari yang menyeleneng masuk melalui celah tirai kamar mewah tempatnya berada. Kyuhyun mengernyitkan alisnya bingung. Seharusnya ini hal yang biasa jika mengingat ia sudah mati, karena saat terkena sinar matahari—atau apapun yang penting cahaya benderang—ia melihat tangan dan tubuhnya sendiri dengan kondisi tembus pandang. Memang bodoh, Kyuhyun kadang sering syok sendiri melihat tubuhnya yang tembus pandang, mungkin dia belum terbiasa dengan status ‘arwah gaib’nya. Mungkin juga faktor karena ia juga sedang tidak berada di dalam tubuh Sooyoung. Kenapa bisa begitu? Memang membingungkan, karena beberapa hari yang lalu dia terjebak di dalam tubuh Sooyoung dan tidak bisa keluar, tapi sekarang?

Dia bisa bergerak-gerak bebas di luar tubuh Sooyoung!

Yah, walau dalam keadaan kasat mata alias orang lain tidak akan mampu melihatnya.

Sebenarnya Cheonsa kemarin sudah menjelaskan tentang hal ini padanya. Kyuhyun mengingat-ingat lagi percakapan terakhirnya dengan Cheonsa itu—Park Gyuri, “Di hari terakhirmu nanti, jangan terkejut jika kau mungkin tak akan bisa memasuki tubuh Sooyoung lagi, karena satu tubuh tidak bisa berlama-lama dimasuki dua arwah sekaligus.”

“Terus aku gentayangan gitu?”

“Tentu saja. Tapi jangan menampakkan tubuhmu pada orang lain, mereka bisa pingsan melihatnya!”

“Jadi aku bisa menampakkan tubuhku di hadapan Sooyoung?”

“Bisa saja kalau kau ingin membuat gadis itu jantungan mendadak lalu mati di tempat.”

“Yah!”

“Tanpa perlu kau menampakkan tubuhmu di hadapannya pun, kau masih bisa bertemu dengannya, kok. Jadi tenang saja.”

“Maksudmu?”

“Sudah ya, aku pergi dulu. Masih ada urusan lain. Dan jangan lupa, aku akan menjemputmu jam 3 sore besok. Persiapkan mentalmu!”

Setelah dia tersadar pagi itu, yang dia tahu, dia sedang berbaring di samping Sooyoung yang sedang tertidur dengan suara mendengkur yang cukup khas. Kyuhyun terkesiap sesaat. Wajahnya tepat berada di depan wajah gadis polos yang memejamkan matanya itu. Mereka berhadapan. Kyuhyun diam saja dengan posisi masih memperhatikan wajah Sooyoung yang tertidur dengan damai. Entah dia memang malas bergerak atau tidak mau mengalihkan pandangannya dari Sooyoung. Mata cokelatnya terus menatap wajah cantik itu lurus, ada sebercak perasaan lega di hatinya. Wajah Sooyoung yang terlelap sangatlah menenangkan perasaannya, entah kenapa. Alisnya yang melengkung sempurnya, kelopak mata yang membungkus kedua bola mata bulat Sooyoung, hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih bersih, rambut panjang-kecokelatannya yang tergerai berantakan tapi tetap membingkai indah wajah gadis itu. Astaga… kenapa Sooyoung menjadi secantik ini?

Atau memang dia saja yang baru menyadarinya? Tidak mungkin! Mana bisa gadis tomboy macam Sooyoung yang bisanya menjambak rambut orang kini terlihat anggun dan cantik saat tertidur?! Aneh! Selama Kyuhyun hidup pun, tidak pernah dia melihat Sooyoung bersikap feminin atau semacamnya, itu juga—sikap tomboy Sooyoung—yang membuatnya senang menjahili gadis itu.

Ah, jadi teringat semasa dulu. Kenangan dengan Sooyoung saat dia hidup dulu. Pastinya bukan kenangan manis nan romantis sepasang kekasih, malah kebalikan dari itu, yaitu kenangan memilukan sepasang rival. Kala ia dan Sooyoung saling meledek dan berteriak, mengolok-olok satu sama lain, apalagi saat Sooyoung menjambaki rambutnya, itu paling dia ingat. Paling dia ingat … eh, bukan sengaja mengingatnya, kan? Cho Kyuhyun?

“Arrrh … ada apa denganku?”

Kyuhyun mengusap wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. Pikirannya mendadak ngelantur dan dadanya terasa menghangat sesaat setelah dia sadari dia keasyikan memperhatikan putri tidur di sampingnya. Ck, Cho Kyuhyun kau aneh sekali. memangnya hantu sepertinya bisa merasakan kehangatan? Entahlah, tanya saja padanya.

“Ckckck … bukannya aku menyukai Changmin?” tanyanya pada diri sendiri, yang ia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan perasaan itu karena Changmin jadi amat sangat menjengkelkan semenjak dia tidak ada—mati. Oh, sepertinya perasaan ‘suka’ yang tidak wajar pada Changmin itu meluntur sedikit dari hatinya. Bisa jadi?

“Yah Choi Sooyoung, kau itu sangat menyebalkan, ya. Aku sudah mati saja kau masih membuatku kesal,” kesal karena bingung, lanjutnya tanpa suara, ia membatin.

Kyuhyun merasa ranjang yang ia tempati sedikit berguncang. Dilihatnya sekarang Sooyoung membuka kelopak matanya perlahan. Awalnya lelaki tembus pandang itu terkejut, tapi sedetik berikutnya ia sadar kalau Sooyoung tak mungkin melihatnya sekarang. Dia, kan, memang tidak kelihatan. Seharusnya.

“Eum, pagi.” Bodoh. Sekarang siapa yang menyapa Sooyoung lebih dulu dengan nada canggung, heh? Lagipula Sooyoung kan tidak akan bisa mendengar—

“Kau?” manik bulat Sooyoung kini sukses terbuka seutuhnya, malah lebih melebar dari seharusnya. Dia menyahut perkataan Kyuhyun kah?!

Hah? Ba-bagaimana bisa Sooyoung … bagaimana bisa Sooyoung melihat Kyuhyun? Benar! Tatapan penuh keheranan dengan peluh dingin perlahan mengucuri dahi indah Sooyoung, jelas dia bisa melihat Kyuhyun! Ekspresinya menunjukkan begitu!

“Ka-kau kan … Cho … Kyuhyun?” terdengar suaranya bergetar dan terbata-bata. Tak kalah bingung seperti Sooyoung, Kyuhyun malah kian kelabakan saat tatapan Sooyoung benar-benar tertuju padanya, menatap matanya penuh tanda tanya!

“Eh, anu, aku …,” Kyuhyun sama bingungnya. Dia menjawab pertanyaan Sooyoung dengan terputus-putus.

“Bukankah … kau … sudah …?” Sooyoung masih keheranan. Ya, ini memang mengherankan tentu saja!

“Mati? Ha, ha, ha … iya, sih.” Respon Kyuhyun, kikuk.

Manik Sooyoung membulat lagi setelah mendengar itu. Mimik wajahnya kini ketakukan setengah hidup. Dengan tergesa dia beranjak dari ranjangnya dan menarik selimut dengan paksa—juga dengan sengaja. Membuat Kyuhyun yang sedang berada di atas selimut terguling-guling di kasur sampai jatuh dan sukses mendaratkan bokongnya dengan tidak indah di tehel putih kamar Sooyoung.

“Awh!” Kyuhyun meringis seraya mengusap-ngusap bagian sensitifnya yang beradu dengan lantai. “Kok aku bisa merasakan sakit, sih?” tanyanya bingung, entah ditujukan pada siapa.

“Kau, Cho—”

“Iya, iya, aku Cho Kyuhyun yang kau kenal! Tapi aku masih ada di sini karena masih belum mau pergi ke akhirat! Puas, kau huh? Setelah aku mati kau masih saja menyiksaku! Jahat sekali kau padaku, Choi Sooyoung!” jerit Kyuhyun dengan emosi meluap-luap.

Sooyoung malah bergidik ngeri setelah sesaat sebelumnya dia sempat tebengong-bengong. “Aku tidak percaya kau sudah mati! Kau pasti masih hidup lalu menyelinap ke kamarku dan berusaha memperkosaku di rumahku sendiri, ya! Beraninya kau!” Sooyoung balas berteriak. Dia kemudian menghampiri Kyuhyun dan menarik rambutnya paksa—jika tidak bisa dikatakan menjambak. “Kugunduli juga rambutmu! Enyahlah dari hadapanku, Cho Kyuhyun menyebalkaaan!”

“Awh! Sakit! Sakiiit! Yaaah, lepaskan rambutkuuu!”

“Keluar kamarku sekarang atau kulempar kau dari balkon kamarku?!” bukannya melepaskan jambakannya, gadis yang menyandang status musuh bebuyutan Kyuhyun itu malah mengancam mahkluk tanpa nyawa yang kini memasang ekspresi kesakitan sekaligus merana padanya.

Ada dua fakta di sini. Satu, bagaimana Kyuhyun bisa keluar kamar Sooyoung jika gadis itu menarik-narik rambutnya terus? Dua, Kyuhyun tidak mau mati konyol untuk kedua kalinya karena dilempar Sooyoung dari balkon kamarnya yang berada di lantai tiga!

Yack, kenapa jadi hantu pun Kyuhyun harus sedepresi ini? Malang sekali nasibnya.

“KELUAR KAU!” jerit Sooyoung.

Brak!

Seketika saja pintu kamarnya terbuka sempurnya—seperti habis didobrak—oleh para pelayan di rumah itu. Para pelayan itu langsung menghampiri Sooyoung dan menanya-nanyainya dengan panik.

“Apa yang terjadi, Nona?”

“Apakah ada pencuri?”

“Nona tidak terluka, kan?”

Pertanyaan itu bertubi-tubi Sooyoung terima. Gadis itu lalu menghentakkan tangannya kasar saat seorang pelayan berwajah paling panik memegangnya. Sooyoung memasang wajah galaknya.

“Kalian itu bisa kerja dengan benar tidak, sih? Masa bisa sampai ada yang menyelinap ke kamarku? Kalian punya mata, tidak? Lihat orang itu! Dia berusaha memperkosaku!” tunjuk Sooyoung pada Kyuhyun yang kini berdiri mematung dengan wajah ketakutan, kalau Sooyoung saja bisa melihat tubuhnya … berarti manusia lain juga bisa—

“Dimana, Nona?” tanya seorang pelayan dengan raut wajah bertanya. Pelayan lain juga tampak kebingungan dan celingukan mencari-cari orang yang Nona Muda mereka maksud.

Heh?

Kyuhyun yang paling bingung di sini. Dia melambai-lambaikan tangannya ke salah satu pelayan, tapi… pelayan itu seakan tidak melihat apapun! Atau memang sang pelayan tak melihat dirinya ada di sana dengan kondisi rambut—setelah dijambak Sooyoung habis-habisan—yang mengenaskan?

“Itu! Cowok itu!” tunjuk Sooyoung lagi. “Masa tidak lihat? Kalian jangan menjahili aku, dong!”

“Ahaha, mungkin Nona cuma bermimpi … karena Nona kemarin malam tidurnya nyenyak sekali,” ujar salah seorang pelayan, berusaha tenang.

“Aku tidak mimpi! Dia ada di situ dengan tampang bodohnya!”

Para pelayan itu hanya tersenyum kecil menanggapi, lalu pergi begitu saja meninggalkan Sooyoung yang tampak jengkel. Ya, mungkin Nona Muda mereka benar-benar bermimpi sembari ngelindur, eoh?

***

Hari sabtu, Shinju Cyber School memang meliburkan semua siswa-siswinya di hari sabtu. Kecuali beberapa siswa yang mengikuti ekstrakulikuler di hari sabtu, mereka harus rela mengorbankan hari libur sekolah yang amat berharga untuk ditukarkan dengan secuil ilmu dari kegiatan ekstrakulikuler yang mereka ikuti. Termasuk diantara mereka pemeran utama kedua cerita ini, yaitu Shim Changmin. Lelaki jangkung yang hobi makan itu memang (masih) mengikuti klub taekwondo. Malah hari ini dia berlatih lebih semangat dari biasanya, wajahnya cerah dan tersenyum setiap waktu walau berkali-kali lawan latihannya menjatuhkannya.

“Yah, kau bisa serius tidak, sih? Daritadi kau tersenyum terus, terlalu mengerikan untuk dilihat!” protes lawan latihannya, Kim Junsu.

“Maaf, maaf, baiklah sekarang aku akan serius.” Tanggap Changmin sekenanya, lalu, memasang senyum menyebalkan lagi yang membuat Junsu ingin menaboknya.

“Jadi dari tadi kau tidak serius? Ck …,” decak Junsu. Lalu bersiap lagi dengan kuda-kudanya.

Changmin nyengir menanggapi. Dia memang sedang dalam mood yang baik hari ini. Bagaimana tidak? Ini adalah hari sabtu, hari yang ditunggu-tunggunya. Tebak saja, hari ini ia akan berkencan dengan Choi Sooyoung! Ooh, jadi itu alasannya dia terus memamerkan senyumnya yang Junsu bilang ‘mengerikan’?

Selesai latihan, Changmin cepat-cepat berganti pakaian dan melesat pergi ke luar gerbang sekolah. Sebelum helm dengan mantap terpasang di kepalanya, seseorang memanggilnya. Terpaksa Changmin menengok dan melihat.

“Changmin, tunggu!”

“Ng?”

Dia mengernyitkan alisnya, tanda keheranan. “Lee Jonghyun?”

“Aku mau bicara padamu. Bisa?” tanya Jonghyun, tak seperti biasanya. Memang dia ada urusan apa dengan Changmin? “Ini tentang Sooyoung,” lanjut Jonghyun membuat Changmin paham.

“Baiklah, kita bicara di sana saja.” Jawab Changmin kalem. Ataukah berusaha kalem? Sepertinya akan ada yang mereka—Jonghyun dan Changmin—perdebatkan dalam pembicaraan ini, jelas, sepertinya memakan waktu juga.

Changmin kemudian membuntuti Jonghyun seraya mengetikkan pesan singkat lalu mengirimnya pada Sooyoung.

Kalau aku bilang tidak bisa menjemputmu untuk kencan kita sore ini, tidak apa, kan?
Aku ada sedikit urusan.
To : Sooyoungie
26/06/2013

Santai saja.
Kita bertemu langsung di bioskop jam 2, eotte?
From : Sooyoungie
26/06/2013

***

Kyuhyun tak henti-hentinya berdecak kagum melihat isi lemari Sooyoung. Bayangkan saja, isinya pakaian bermerek semua, mahal dan sudah pasti modelnya keren! Oh benar, satu poin penting lagi, semua model pakaiannya untuk laki-laki! Tidak satu helai pun yang berbau perempuan selain seragam sekolahnya (tentu saja karena itu rok).

“Kalau saja aku tahu dari dulu tentang selera fashion-mu, mungkin kita bisa jadi soulmate fashion paling klop se-antero sekolah, kau tahu?” ucap Kyuhyun setelah Sooyoung baru keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk membalut tubuh rampingnya.

“Terlambat mengatakan itu, ck. Lagipula jangan membandingan selera berpakaianmu yang kolot dengan style-ku yang keren. Level kita berbeda jauh, Cho.” Sahut Sooyoung sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Aroma shamponya menyeruak memenuhi tiap sudut ruangan. Sejenak aroma lavender rambut panjang Sooyoung membius Kyuhyun.

“Berarti busana kolotku itu yang menarik perhatian para cewek di sekolah, haha! Daripada busana keren bermerek tingkat tinggimu yang cuma diminati oleh Jonghyun.” Dan Changmin, lanjut Kyuhyun dalam hati.

Gadis bertubuh tinggi itu memutar bola matanya malas mendengar ocehan Kyuhyun. Dia sedang tidak dalam mood yang baik untuk menjambak rambut Kyuhyun sekarang. Dia, kan, mau nonton dengan Changmin. Jadi harus menyimpan tenaganya untuk melihat adegan Harry vs Voldemort di bioskop nanti.

Sooyoung mulai memilah-milih bajunya dalam lemari, dia berdiri tepat di depan Kyuhyun. Posisinya yang memunggungi Kyuhyun membuat aroma tubuhnya sehabis mandi masuk indera penciuman Kyuhyun dengan utuh.

Argh, kenapa cewek ini wangi sekali? Aku ingin memeluknya, cih.

“Bagaimana dengan baju ini?” Sooyoung menanyakan pendapat Kyuhyun.

“Eh … apa? Itu?” Kyuhyun tergagap, tampak kikuk. Semoga Sooyoung tak tahu tadi dia sempat berpikiran aneh-aneh. Haha, tentu saja Sooyoung tak tahu. Dasar Kyuhyun.

Jangan heran melihat mereka yang mengobrol biasa seperti itu. Setelah beberapa jam yang lalu Kyuhyun menjelaskan segalanya kepada Sooyoung, dibantu dengan Cheonsa pendampingnya yang entah kenapa tiba-tiba datang dan disangkut-pautkan oleh Kyuhyun. Kyuhyun benar-benar menceritakan semuanya kepada Sooyoung. Tentang kematiannya, tentang dia yang tidak mau ke akhirat dan akhirnya meminjam tubuh Sooyoung, tentang semuanya. Kecuali tentang perasaannya pada Changmin, tentu saja.

Dan Sooyoung memang kesal karena Kyuhyun berarti sudah memakai tubuhnya tanpa izin. Belum lagi hal-hal memalukan yang mungkin Kyuhyun lakukan semasa menggunakan tubuhnya. Bukannya asal menuduh, tapi Kyuhyun kan … orangnya memang suka bikin malu. Namun ajaibnya, lelaki itu tak pernah sadar dengan setiap kejadian memalukan yang pernah dibuatnya. Bodoh, kan?

Sudahlah, terlanjur terjadi. Percuma juga Sooyoung menghabiskan tenaganya untuk marah-marah pada Kyuhyun. Toh, bocah laki-laki tak bernyawa itu pasti cuma menanggapinya dengan satu kata ‘maaf’ dan setelah itu, terbang saja semua kalimat ngambek Sooyoung entah kemana.

“Kau tidak bisa pergi dengan Changmin menggunakan itu. Kau itu cewek aneh, ya. Kalau cewek lain pasti berusaha secantik mungkin untuk kencannya, tapi kau …,” Kyuhyun menggelengkan kepalanya melihat pilihan baju Sooyoung.

Kaus oblong dibalut kemeja kotak-kotak warna biru. Dipadukan dengan blazer cokelat panjang menutupi setengah pahanya. Sooyoung memakai jeans sederhana yang membuat kaki panjangnya nampak sempurna. Sangat terlihat sederhana, tapi Kyuhyun tidak bisa berbohong untuk tidak mengatakan …

“… keren.”

“Apa kau bilang?”

“Maksudku, kau keren untuk ukuran cewek abnormal.”

“Yah Cho Kyuhyun!” Sooyoung siap mengambil posisi untuk menjambak rambut Kyuhyun. Dengan cepat lelaki itu menghindar lalu terkikik setan.

“Tenanglah. Kau harusnya bersikap baik padaku di hari terakhirku ini.” Ucapan Kyuhyun membuat Sooyoung berhenti mengejarnya.

“Hari terakhir?” heran Sooyoung.

“Aku hanya diberi kesempatan tiga hari untuk melanjutkan misi hidupku yang sedikit tertunda, eum… maksudku urusan dunia yang belum kutuntaskan. Dan hari ini adalah… hari terakhirku untuk menyelesaikannya.” Kyuhyun menampakkan senyum manisnya. Tidak, bukan. Itu bukan senyum seringai yang biasa Kyuhyun pamerkan. Senyum ini berbeda, terlihat manis dan… tulus. Walau Sooyoung bisa melihat sedikit gurat kesedihan di wajah Kyuhyun.

Eh?

Kenapa hatinya jadi berdebar melihat senyum Kyuhyun?

Oke, Kyuhyun memang … errr—tampan. Tapi, Sooyoung tidak pernah merasakan sesuatu yang hangat menjalari hatinya melihat senyum itu. Sangat manis.

“Ah, gimana kalau aku menemanimu belanja pakaian yang lebih pantas? Maksudku, untuk seorang cewek tomboy yang butuh baju feminin, kalau kau mau, sih. Aku bisa bantu pilihkan.”

Ajakan Kyuhyun menyadarkan Sooyoung dari lamunannya mengagumi senyum Kyuhyun. Cish, apa yang baru kau kagumi, Choi Sooyoung pabo.

“Hm, tidak ada salahnya mencoba pilihanmu.” Balas Sooyoung, secara tak langsung menerima ajakan itu.

***

“Apa yang mau kau bicarakan denganku?” tanya Changmin.

“Sebenarnya aku juga tidak yakin, soal ini. Tapi aku hanya ingin memberitahumu saja.” Jawab Jonghyun.

“Apa?” sepertinya Changmin mulai tak sabaran.

[Flashback]

“Kau lihat Sooyoung?” tanya Jonghyun pada Joongki setelah bel pulang sekolah berbunyi. Jonghyun heran, dia baru saja mau mengajak Sooyoung pulang bersama tapi secepat kilat gadis itu sudah lenyap dari bangkunya, menghilang entah kemana.

Dia dapati Joongki yang menggeleng atas pertanyaannya.

“Dia menemui Yuri di taman belakang sekolah.” Ujar seseorang tiba-tiba. Itu Yoona.

“Untuk apa?” heran Jonghyun.

“Errr … mereka harus menyelesaikan suatu masalah dan …,”

“Tidak usah berbelit-belit, katakan saja langsung!”

“Kurasa Yuri akan memberi pelajaran pada Sooyoung, atau sebaliknya.”

Secepat kilat Jonghyun berlari ke taman belakang sekolah. Mendapati Yuri dan Sooyoung di sana. Yuri tampak berwajah ketakutan dan Sooyoung dengan senyum seringaian yang aneh. Seperti bukan Sooyoung. Terlihat rok Sooyoung yang kotor, sepertinya dia baru tersungkur di tanah.

“Hhh … aku tidak pernah suka seragam yang kotor terkena tanah.” Sooyoung menepuk tanah-tanah yang menempel di roknya. Kemudian ia memandang Jessica tajam dan menyunggingkan senyuman. “Hai, Yul.”

Jonghyun menautkan alisnya. Sejak kapan Sooyoung memanggil Yuri seperti itu?

Terlihat Yuri tertegun sejenak. Lalu dia mengerjapkan mata beberapa kali.

“Jangan menyapaku seperti itu, Choi … beraninya, kau.” Sahut gadis itu—dengan suara gemetar yang bisa Jonghyun dengar jelas. “Kau meniru Kyuhyun supaya aku tunduk padamu, kan?!” tuduhnya kemudian.

Meniru Kyuhyun? Kini Jonghyun kian bingung.

Sooyoung tertawa. “Sejak kapan margaku berubah jadi Choi? Kau tahu, kan. Margaku Cho, Yuri sayang ….”

Kali ini Jonghyun maupun Yuri benar-benar terbelalak. Cho? Sejak kapan marga Sooyoung menjadi Cho? Cho Sooyoung begitu?

“Jangan menjahiliku, Choi Sooyoung!” deru Yuri dengan nada gemetar.

Sementara Jonghyun makin menajamkan pendengarannya di balik tempat mengupingnya. Ada yang janggal diantara perbincangan mereka!

“Untuk apa aku menjahilimu? Aku hanya suka menjahili Sooyoung, aku yakin kau tahu itu.” Ucap Sooyoung.

Ini makin membingungkan. Sooyoung suka menjahili dirinya sendiri? Aiiush … apa-apaan ini?!

Sooyoung berjalan mendekat Jessica. Tapi selangkah Sooyoung maju, selangkah pula Yuri mundur. Dengan cepat Sooyoung mencengkram keras pergelangan tangan Yuri sebelum dia membisikkan sesuatu yang membuat mata Yuri—dan Jonghyun—melebar, “Aku mati, bukan berarti aku menghilang dari dunia ini. Karena aku di sini, aku masih hidup dalam diri Sooyoung. Berani kau menyakitinya lagi, aku tidak segan membuatmu pergi ke alamku.”

Yuri meneguk liurnya. “Kyu … Kyuhyun-ah …,”

“Kau sering menonton pertandinganku dan melihatku membanting orang, bukan? Jika kau ingin merasakannya, dengan senang hati akan kulakukan sekarang.”

“Tidak, Kyu—”

Brugh!

Yuri meringis kesakitan setelah dengan mulus punggungnya membentur tanah.

Jonghyun membeku. Apa maksudnya? Kyuhyun hidup di dalam tubuh Sooyoung? Cho Kyuhyun yang sudah mati itu?

[End of Flashback]

Sama terkejutnya dengan Jonghyun. Changmin berusaha tenang dalam menanggapi cerita Jonghyun itu. Bagaimana pun, dia tidak mau terlalu cepat percaya dengan sesuatu yang tidak ada buktinya. Dia memasang wajah rileksnya sebisa mungkin.

“Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya memberitahumu. Dan kurasa kemarin pun Sooyoung sedikit bertiingkah aneh. Dia selalu membawa-bawa PSP, bermain dengan benda itu setiap saat.” Ujar Jonghyun.

“Itu kebiasaan Kyuhyun,” desis Changmin. “Dan kau ingat saat aku memesankan mie hitam favorit Sooyoung di kantin tempo hari?”

“Ya?” Jonghyun mengangguk. “Dia menolaknya dan malah memberikannya padaku, kan? Itu sangat aneh mengingat dia sangat menyukai mie hitam, dan dia shikshin juga.”

“Aku ingat betul Kyuhyun tidak suka mie hitam,” lirih Changmin.

Jonghyun meneguk liurnya. “Ja… Jadi?”

Changmin diam dan menatap ke arah lain. Begitu pula Jonghyun yang menundukkan wajahnya. Ya, mereka berdua kini sudah tahu jawabannya. Kyuhyun. Masih. Hidup. Dalam diri seorang Choi Sooyoung.

***

Sooyoung membawa beberapa setel pakaian wanita yang Kyuhyun pilihkan untuknya. Semacam dress sederhana, rok selutut yang manis, dan sebagainya. Orang yang melihatnya mungkin akan menyangka Sooyoung gila karena terkadang gadis itu tampak berbicara sendirian—padahal dia sedang berbicara dengan Kyuhyun.

“Coba semuanya,” kata Kyuhyun, lebih terdengar seperti perintah untuk Sooyoung. Sooyoung cemberut. “Jangan membantah.” Lanjut Kyuhyun membuat Sooyoung bergegas masuk ruang ganti.

Sooyoung keluar dari ruang ganti beberapa menit kemudian. Dia memasang wajah kesal menunggu reaksi dari Kyuhyun melihatnya mengenakan dress pink dengan rompi.

Kyuhyun menyilangkan tangannya di depan dada, dengan wajah dibuat-buat serius malah membuat Sooyoung ingin mengikatnya lalu melemparnya ke sungai Han.

Sooyoung lalu mengganti pakaiannya. Lalu Kyuhyun kembali menggelengkan kepalanya. Sungguh ini sangat membuat Sooyoung sebal karena sudah lebih dari empat kali Kyuhyun menyuruhnya mengganti baju. Jadi empat setel lebih pakaian itu tak ada yang cocok dengannya? Apakah dia seburuk itu dalam berpakaian?

“Cih … Cho Kyuhyun, lihat saja nanti.” Desis Sooyoung tertahan—dari dalam bilik ruang ganti.

Dia hendak melepaskan resleting bajunya di bagian punggung kala suara Kyuhyun mengagetkannya.

“Hei, aku dapat baju yang bagus, coba kau pakai ini!” seru Kyuhyun dari luar. Sooyoung memejamkan matanya sejenak, berusaha bersabar. Dia memijat-mijat keningnya berlagak sakit kepala yang padahal tidak apa-apa.

Kau harus sabar Sooyoung, bersikaplah baik padanya, ini hari terakhirnya, ingat?

Ya, ya, ya, aku ingat, aku tahu itu. Baiklah, terserah padamu, Tuan Cho. Kau pilihkan saja baju sesukamu!

Brak!

Sooyoung membuka pintu ruang ganti dengan sekali hentakan cepat. Dia melangkahkan kakinya untuk keluar tapi karena terlalu tergesa akhirnya dia terpeleset. Sooyoung limbung dan nyaris terjatuh, tapi beruntung dia berhasil menahan tubuhnya dengan berpegangan pada knop pintu.

Hanya saja …

Kenapa bibirnya terasa … dingin?

Oh, tidak. Bukan terasa dingin, tapi memang bersentuhan dengan sesuatu yang dingin.

Jangan.

Jangan katakan …

Manik diagrem Sooyoung membulat sempurna sekarang. Irama jantungnya seketika mengalunkan musik beat dengan tempo paling cepat. Dilihatnya bola mata cokelat milik Kyuhyun. Tatapan mereka bertemu intens sejalan dengan bibir mereka yang bersentuhan!

My first kiss!

Batin keduanya menjerit.

***

Iklan

5 Comments Add yours

  1. febryza berkata:

    changmin sama jonghyun tau dong kalo kyuhyun kadang pake tubuhnya sooyoung… lah kan kyuhyun udah jadi arwah kok bisa nyium sooyoung?

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Bisa yah? Hahaha. Kyuhyun itu hari terakhirnya di dunia. Kek scheduler 49days di hari kerja terakhirnya kan bisa tampak dan nyata disentuh, gitu loh.

      Suka

  2. Rizky NOviri berkata:

    ya ampuuuun… sooyoung bisa interaksi ama kyuhyun… kenapa di saat dia udh jadi arwah.. ckck
    mereka terlihat sweeteu…

    jonghyun liat wktu syoo ksurupan s kyu… uwoooooo
    dikira mau berantem ama changmin.. 😀

    aduh ileh… first kiss… aheuuu…. 😀

    tp ini hari terakhir si kiyu ya.. udah gtu dia ngilang selamanya pan.. aahh…
    next next fann… semangaaattt 🙂

    Suka

  3. Di berkata:

    Ya ampun aku suka kyuhyun sooyoung disini (tapi tetap aja perhatian fokus ke changmin huehehe). Penasaran sama endingnya. Itu si kyu beneran mati atau enggak sih?

    Suka

  4. Ecie.. first kissnya Soooyoung sama hantu ciee… pasti gabakal terlupakan tu seumur hidup wkwk
    Wah Jonghyun sm Changmin udah tau Kyuhyun masih hidup. Gimana ya reaksi Changmin pas kencan sama Sooyoung nanti ditambah Sooyoung yang pakaian berubah jadi feminim wkwk. Kagetnya 2 kali tuu
    Eh tapi.. kan si Gyuri ada bilang target/? selanjutnya itu Sooyoung… berarti Sooyoung entar lagi mati dong? Aih… kasian banget padahal Changmin udah setengah perjalanan tu 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s