[FF] Second Life Sensation – Chapter 06

Title: Second Life Sensation
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Rating: G
Length: Series
Cast(s): Cho Kyuhyun [SUJU], Choi Sooyoung [SNSD], Shim Changmin [TVXQ], Lee Jonghyun [CNBLUE].
Pairing: Kyuhyun/Sooyoung
Summary: Cho Kyuhyun menyukai sahabatnya, Shim Changmin, yang ternyata malah menyukai Choi Sooyoung yang notabene musuh bebuyutannya di Sekolah. Tapi, siapa sangka? Kyuhyun memiliki kesempatan untuk mengubah takdir cintanya dalam waktu tiga hari.
Inspiration: “49days” Korean drama, “Ghost” Korean film, “Love is Cinta” Indonesian film.

image

***
Chapter Six – Still Alive

Dengan cepat aku mencengkram keras pergelangan tangannya sebelum membisikkan sesuatu yang membuat matanya melebar, “Aku mati, bukan berarti aku menghilang dari dunia ini. Karena aku di sini, aku masih hidup dalam diri Sooyoung. Berani kau menyakitinya lagi, aku tidak segan membuatmu pergi ke alamku.”

Yuri meneguk liurnya. “Kyu-kyuhyun-ah …,”

***
Sooyoung’s Pov

Aku bangun seperti biasanya. Menghirup aroma jeruk dari kamarku kemudian mengambil handuk dan melompat ke kamar mandi. Aku menyalakan shower lalu membersihkan tubuhku. Ah, ternyata kemarin malam itu hanya mimpi. Bodoh sekali, aku bermimpi bertemu Cho Kyuhyun. Dalam mimpiku, aku melihat arwahnya, dia meminta maaf padaku sambil tersenyum.

Senyumnya, entah sejak kapan aku sepertinya menyukai senyum Kyuhyun. Walau terkadang senyum itu terkesan menyebalkan.

Sarapan sendirian lagi. Para pelayan juga menungguku selesai sarapan lagi. Aku mendengus kesal, Mama pasti bermalam di hotel. Sudahlah, abaikan saja wanita itu.

Kakiku lebih berat melangkah ke sekolah hari ini.

***

Aku mendesah lelah melihat mejaku. Banyak coretan-coretan lagi di atasnya, padahal kemarin aku baru menggantinya dengan meja baru yang masih bagus dari gudang sekolah. Dan, sekarang? Apa aku harus mengangkut meja dari gudang sendirian lagi? Aish, menyebalkan!

“Hei, Choi Sooyoung!” aku menoleh saat Yu memanggilku, seperti yang biasa kulihat, Yoona dan Jessica—anjing penjaga gadis itu—mengekorinya di belakang.

“Apa?”

“Kau tahu kami sangat sedih dengan kepergian Kyuhyun, ‘kan? Maka jangan membuat kami marah berlagak cari perhatian di depan Changmin! Itu menjijikkan!”

“Memang apa yang kulakukan?”

“Kemarin, kau pura-pura pingsan dan Changmin menggendongmu, dia mengantarkanmu ke rumah sakit.” Aku tertawa sinis mendengar tuduhannya yang tidak jelas.

Aku ingat. Kemarin, di rumah sakit Changmin bilang aku pingsan di pemakaman Kyuhyun. Entahlah, aku bahkan tidak ingat kapan dan untuk apa aku menghadiri pemakamannya. Dan, saat Changmin hendak mengantarkanku pulang, Jonghyun mencegat kami. Akhirnya, dia yang mengantarkanku pulang. Cih, Jonghyun berlagak seolah dia masih temanku.

“Oh, akting pingsanku benar-benar membuat Changmin percaya, ya? Dia memang cowok bodoh yang gampang percaya sama cewek sepertiku.”

“Yah!”

Plak!

Yuri menamparku. Pipiku panas tapi tidak sepanas hatiku. Aku hampir menangis saat kemudian dia menjambak rambutku kasar. Anak lain yang melihat kami hanya diam saja, malah ada yang terlihat senang dan menyuruh kami berkelahi. Sialan.

Aku tidak melawan. Jujur, aku sangat malas menanggapi hal-hal sepele macam ini. Aku tidak sebodoh mereka-mereka yang hanya bisa mementingkan diri sendiri, yang mengagumi Cho Kyuhyun seperti mereka mengagumi seorang Dewa. Mereka percuma saja.

Yuri mendorong tubuhku ke tembok. Aku merasakan nyeri yang amat sangat saat kepalaku dengan sukses membentur tembok.

“Ah …,” kurasakan cairan hangat menetes dari dahiku. Yuri tampak terkejut.

“Yul, dahinya berdarah!” jerit Yoona.

“Aku … aku tidak sengaja mendorongnya!”

“Cari alasan lain kalau tidak ingin membuatku aku tertawa, Nona Kwon,” ucapku dingin. Yuri terlihat kelabakan saat darahku tidak berhenti mengucur.

“Itu salahmu! Kenapa kau diam saja dan tidak melawanku? Jelas-jelas itu salahmu yang terlalu lemah!” pekiknya dan, dia pergi begitu saja. Yoona dan Jessica mengekorinya, sekilas aku melihat wajah Yoona yang mencemaskanku.

“Pengecut,” desisku.

Murid lain melengos begitu saja saat perdebatanku dan Yuri berakhir. Mereka memang tidak pernah peduli padaku. Aku keluar kelas dengan kepalaku yang berdenyut-denyut. Kwon sialan! Sakit sekali! Aku segera masuk ke UKS kala aku sampai di depan pintu. Tidak ada yang sedang berjaga, sial sekali aku hari ini. Kepalaku semakin sakit, kakiku lemas, pandanganku perlahan mengabur …

Bruk!

Dan, aku ambruk di lantai UKS karena tidak sanggup menopang tubuhku.

“Sooyoung! Kepalamu berdarah, kenapa?!”

Aku berusaha mendongakkan kepalaku. Itu Changmin. Dia menatapku cemas kemudian membantuku berdiri dan mendudukkanku di ranjang UKS.

Aku tersenyum kecut, “Nggak penting apa penyebabnya, yang penting itu cara mengatasi akibatnya,” aku bilang, “bisa kau tolong aku?”

Dia menangguk penuh dan langsung mengambil kotak P3K. Dia mengompres lukaku, memberinya antiseptik sebelum menempelkan kapas—untuk menutupi lukaku—dengan telaten di kepalaku. Aku melihat wajahnya yang sangat serius mengobatiku.

“Kenapa memperhatikanku seserius itu?”

Aku tersadar, mengerjapkan mata beberapa kali, ugh … malu sekali. “Kurasa aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau obati lukaku seserius itu?”

“Ini bukan luka yang bisa diobati dengan main-main!” jawabnya tegas. Aku tertawa, lebih tepatnya mentertawai diriku sendiri. “Semua anak taekwondo kebanyakan bisa melakukan pertolongan pertama. Karena jika mereka cedera dalam latihan, mereka harus bisa mengobatinya sendiri.”

“Hm, kenapa seperti itu?”

“Supaya mandiri.” Dia memberikan plester terakhir, kemudian menatapku dan tersenyum.

Aku melihat senyumnya. Eugh … deja vu. Senyumnya mirip dengan seseorang. Mirip Cho Kyuhyun. Ah! Tidak, tidak! Kenapa teringat senyum cowok menyebalkan itu, sih?!

“Kau masih ingat rencana kita hari sabtu nanti, ‘kan?”

“Rencana apa?” tanyaku.

Dia menghela nafas malas, “Kencan kita.”

“Haha, aku tahu. Aku tahu. Jangan khawatir.” Aku tertawa lagi. Ya ampun, kenapa aku selalu tertawa jika berada di dekatnya? Apakah aku menyukainya?

Gomawo.” Kataku pelan.

“Sudalah, hal kecil begini … lagi pula aku membantumu karena anak medis sedang tidak ada.”

“Bukan itu,” potongku. “Eh, iya … itu juga termasuk, sih. Tapi lebih ke semuanya, ucapan terimakasihku itu, untuk semuanya. Membantuku mengerjakan tugas, mengantarkanku ke rumah sakit, mengobati lukaku … yah … intinya, kau terlalu baik padaku.”

Arrasseo. Aku memang baik padamu. Makanya …,” dia mengangguk-angguk sebelum melanjutkan, “ucapan itu, sering-seringlah …?”

“Aish, jeongmal.” Aku memutar bola mataku lalu memukul dadanya.

***

Beberapa waktu kemudian, selepas waktu istirahat …

Soo, datanglah ke taman belakang sekolah, ada yang ingin kutunjukkan padamu.
—Cho Kyuhyun.

Kyuhyun? Kapan dia menulis ini?

Aku menautkan alisku kala membaca pesan singkat yang terselip di buku catatanku itu.

Apa pula maksudnya ini? Tidak, tidak mungkin Kyuhyun (sewaktu dia masih ada) sengaja menulisnya. Lalu siapa? Siapa yang menulisnya? Kurang kerjaan sekali mengaku-ngaku sebagai Kyuhyun.

Aku mengacuhkannya dan memasukkan buku-bukuku lagi ke dalam tas. Aku lelah, aku ingin cepat pulang lalu tidur di kamarku.

“Kau tidak ke taman belakang sekolah? Kau bilang tadi kau mau bertemu …,”

Aku berhenti melangkah saat mendengar suara Yoona di belakangku.

“Bertemu siapa?” tanyaku pada Yoona. Perasaanku tidak enak sekarang. Ada yang aneh di sini.

Yoona tidak menjawab dan malah memasang ekspresi bingung. Hei, aku yang lebih bingung!
Melihat dia tidak kunjung bicara, akhirnya aku melangkahkan kakiku ke taman belakang sekolah. Tempat yang tertera di surat kecil itu.

Aku melihat Yuri menatapku galak.

“Ada apa kau menyuruhku kemari? Kau mau menyelesaikan masalah kita, sekarang?” dia langsung menyerbuku dengan pertanyaan yang membingungkan.

“Aku? Aku tidak …?” aku menggelengkan kepala.

“Cih … Jangan berlagak bodoh, deh. Aku tahu kau mau menjebakku! Tapi sayang, tidak bisa, Sooyoungie …,” dia menarik kepalaku kasar. Aku merintih kesakitan karena perlakuannya. Kepalaku masih terasa sakit karena luka tadi pagi. Dan sekarang dia mau menambah luka lagi di kepalaku. Dia gila apa?!

Kapan aku mengajaknya bertemu? Gadis ini kenapa sih? Kegilaannya makin menjadi saja!

“Arrrhh!”

Dia mendepak tubuhku hingga aku tersungkur ke tanah. Dia mengeluarkan tawa puas yang seperti nenek sihir melihatku terluka. Kurang ajar.

Aku ingin berdiri untuk melawan. Tapi kepalaku pening sekali. Kakiku juga sakit karena tendangan dari Yuri. Lagi-lagi pandanganku mengabur ….

***
Kyuhyun’s Pov

Sooyoung tertidur selama istirahat. Aku berinisiatif menggunakan tubuhnya. Aku berdecak saat melihat tulisan-tulisan yang mengotori mejanya. Kebanyakan menghinanya. Aku takjub padanya, dia bisa menahan amarah dari celaan dan hinaan yang orang lain lontarkan untuknya. Selama ini aku selalu menjahilinya, membuatnya marah, bahkan pernah sampai dia menangis karena aku, ternyata aku orang paling jahat, ya?

Kemarin malam—sepulang dari pemakamanku—aku ke rumah Sooyoung dan meminta maaf padanya atas semua perbuatanku selama aku hidup. Tidak kusangka dia bisa mendengar permintaan maafku dan dia bisa melihatku. Tapi polosnya Sooyoung, dia menganggap semua kejadian malam itu adalah mimpi. Dia pikir dia bermimpi bertemu denganku, padahal itu nyata.

“Yap, Choi Sooyoung! Permintaan maafku belum cukup, kan? Jadi, aku akan bantu kau membalas dendam sekarang!”

Joongki menatapku aneh karena aku bicara sendiri.

Aku balas menatapnya tajam, “Apa lihat-lihat?”

Aku mencari-cari Yuri—fans beratku—dan gengnya yang menggelikan. Tapi dia tidak terlihat di kelas, sepertinya di sudah keluar. Akhirnya aku menuju meja Yoona karena hanya dia yang ada di sini.

“Dimana Yuri?” tanyaku.

“Dia sedang di kantin dengan Jessica.” Jawab Yoona. “Sooyoung, kau tadi tidak apa-apa, ‘kan? Apa Yuri membuatmu terluka parah? Kau ini … biasanya kau selalu melawan dia.”

“Aktingmu membuatku mual.” Aku menatapnya dingin. Dan dia langsung diam. Hahaha, semua orang (kecuali Sooyoung) memang selalu ciut dengan tatapan Cho Kyuhyun yang sedingin es!

“Baiklah, aku mengerti jika kau membenciku karena Yuri ataupun Jessica. Tapi, jauh sebelum aku bertemu dengan mereka, aku ingin menjadi temanmu, Soo ….”

“Terserah saja.” Kataku cepat. “Katakan pada Nona-mu yang centil itu, aku menunggunya di halaman belakang setelah pulang sekolah. Aku akan mengembalikan semua perlakuannya padaku. Jangan kabur atau meminta bantuan, kita selesaikan secara jantan, satu lawan satu!” ujarku menggebu dengan sorot yang menyala-nyala.

Yoona melongo setelah aku selesai mengatakan itu. Aku pun pergi sambil menahan kikikan melihat tampang cengo Yoona.

Eh … rasanya ada yang salah dengan kalimatku tadi.

Aku bilang … ‘Selesaikan secara jantan?’

Aigoo … aku merasa aku menjadi laki-laki, padahal aku sedang pakai tubuh perempuan. Aku merusak image Sooyoung. Mianhae, Soo.

***

Jam istirahat belum habis, aku berjalan pelan melintasi taman sekolah. kumanfaatkan saja dengan menghirup udara segar selagi aku bisa. Inginnya sih, sekarang aku bermain game dengan PSPku, tapi kan tidak ada. Bisa tidak ya tiga hari aku lewati tanpa menyentuh PSP? Kedengarannya mustahil. Waktu itu saja aku demam tiga hari karena PSPku dicuri oleh fans.

“Sooyoung!”

Aku menoleh ke kanan. Changmin memanggilku dengan nama Sooyooung, ya tentu saja, aku kan pakai tubuhnya.

“Hei, Soo!”

Dari arah depanku muncul seseorang. Lee Jonghyun. Bagaimana bisa mereka menemuiku sekompak ini?

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Changmin pada Jonghyun.

“Harusnya aku yang bertanya, sejak kapan kau jadi mendekati Sooyoung-ku?”

‘Sooyoung-ku?’ aku nyaris muntah mendengarnya memanggil Sooyoung begitu. Aku yakin Sooyoung asli yang mendengarnya pun akan melakukan hal yang sama. Sedangkan Changmin mendelik kesal. Lalu beralih padaku dan memberikan senyumnya. Ya Tuhan, aku rindu senyum itu. Padahal aku tahu dia membenciku, tapi aku masih suka padanya.

“Mau ke kantin denganku?”

“Ayo kita ke kantin, Soo!”

Apalah ini … mereka mengajakku, ralat mereka mengajak Sooyoung, ke kantin bersamaan. Kompak sekali. Aku menahan tawa saat mereka saling memberikan death glare. Mereka sedang memperebutkan Sooyoung? Halo, aku bukan Sooyoung! Pasti sakit hati sekali mereka jika tahu aku adalah Kyuhyun.

“Aku tidak lapar.” Jawabku singkat. Tapi Changmin menarik tanganku dengan riang dan melengos pergi melewati Jonghyun. Jonghyun tampak kesal, dia lalu mengejar kami sampai ke kantin.

“Dua mangkuk mie hitam.” Pesannya pada seorang paman di kantin tanpa persetujuan dariku. “Aku tahu kau suka makan ini.”

“Tidak.” Jawabku. Aku memang tidak terlalu suka mie hitam.

“Seleramu berubah? Aku sering lihat kau makan ini dengan Jonghyun.”

Aku terpaku. Dia sering melihat Sooyoung? Dia selalu melihat Sooyoung diam-diam? Kenapa aku tidak tahu sama sekali? Kupikir—selama aku hidup—aku dan Changmin selalu bersama-sama setiap saat. Tapi aku tidak tahu dia suka memperhatikan Sooyoung.

Pesanan datang. Kemudian dia duduk di sebelah kananku setelah beberapa saat kemudian Jonghyun datang dan duduk di sebelah kiriku.

“Kau mengkopi menu makan siangku dengan Sooyoung?” Cibir Jonghyun.

Aku segera menyela perkataan Changmin saat ia hendak membalas cibiran Jonghyun, “Aku sedang tidak lapar, aku juga tidak terlalu suka mie hitam. Jadi, kalau kau tidak keberatan, ini untukmu saja.” Aku memberikan senyuman setelah menyodorkan semangkuk mie pada Jonghyun.

Changmin membulatkan matanya, “Hyah! Khau ngau kemanga?” kalimatnya terdengar aneh karena dia bertanya dengan mulut penuh.

“Kau tidak lapar? Tidak salah dengar aku? Benar-benar ajaib shikshin sepertimu bisa ‘tidak lapar’.” Jonghyun terheran-heran melihatku yang pergi begitu saja meninggalkan mereka.

“Kalian, makan sianglah bersama dengan tenang!” seruku.

Jonghyun dan Changmin langsung saling pandang. Lalu bergidik ngeri dan memalingkan wajah mereka. Aku sudah terpingkal melihatnya.

***

Aku menulis note kecil dan menyelipkannya pada buku Sooyoung. Tidak penting dia akan terkejut atau mendadak jantungan kala membacanya, yang jelas aku hanya ingin berpesan sesuatu padanya.

Soo, datanglah ke taman belakang sekolah, ada yang ingin kutunjukkan padamu.
—Cho Kyuhyun.

Yang kuingat setelahnya adalah Sooyoung membaca pesanku itu dan dia pergi ke taman belakang sekolah sesuai permintaanku. Aku sengaja membiarkannya bertemu Yuri lebih dulu di sana, aku melihat dan merasakan Yuri melakukan kekerasan pada Sooyoung tapi aku tak bisa berbuat apa pun. Sampai Sooyoung pingsan.

“Maaf Soo, aku membiarkanmu pingsan agar aku bisa memakai tubuhmu.” Bisikku pada Sooyoung—pada tubuh yang sedang kupakai.

Setelah sepenuhnya kesadaran Sooyoung menghilang, aku langsung beranjak dari tanah dan menguasai tubuh Sooyoung. Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu, Miss Kwon!

“Hhh … aku tidak pernah suka seragam yang kotor terkena tanah.” Kubersihkan tanah-tanah yang menempel di seragam Sooyoung. Kemudian aku memandang Jessica tajam dan menyunggingkan senyuman setanku. “Hai, Kwonyul,” sapaku—dulu aku biasa menyapa Yuri seperti itu.

Yuri tertegun sejenak. Lalu dia mengerjapkan mata beberapa kali. Aku yakin dia tahu semua kebiasaanku, gerak-gerikku, senyumanku, karena dia kan fansku yang nomor satu. Aku ingin memancingnya. Tidak apa-apa kan kalau dia tahu siapa aku sebenarnya?

“Jangan menyapaku seperti itu, Choi … beraninya, kau.” Sahutnya—dengan suara gemetar yang bisa kudengar jelas. “Kau meniru Kyuhyun supaya aku tunduk padamu, ‘kan?!” tuduhnya.

Aku tertawa. “Sejak kapan margaku berubah jadi Choi? Kau tahu, kan. Margaku Cho, Yuri sayang ….”

Kali ini dia benar-benar terbelalak. Dia berkata dengan nada gemetar, “Jangan menjahiliku, Choi Sooyoung!”

“Untuk apa aku menjahilimu? Aku hanya suka menjahili Sooyoung, aku yakin kau tahu itu.”

Aku berjalan mendekatinya. Tapi selangkah aku maju, selangkah pula dia mundur. Aku ingin terbahak-bahak melihat wajahnya yang ketakutan. Keringat dingin sudah menetesi wajahnya. Dia menatapku horor.

Dengan cepat aku mencengkram keras pergelangan tangannya sebelum membisikkan sesuatu yang membuat matanya melebar, “Aku mati, bukan berarti aku menghilang dari dunia ini. Karena aku di sini, aku masih hidup dalam diri Sooyoung. Berani kau menyakitinya lagi, aku tidak segan membuatmu pergi ke alamku.”

Jessica meneguk liurnya. “Kyu-kyuhyun-ah …,”

“Yul, kau sering menonton pertandinganku dan melihatku membanting orang, bukan? Jika kau ingin merasakannya, dengan senang hati akan kulakukan sekarang.”

“Tidak, Kyu—”

Brugh!

Yuri meringis kesakitan setelah dengan mulus punggungnya membentur tanah. Sarafku masih bekerja dengan baik walaupun ini bukan tubuhku. Ternyata kemampuan beladiriku masih ada. Aku tidak menyangka ternyata seperti ini rasanya membanting tubuh cewek, gyahaha! Menyenangkan sekali, sudah lama aku tidak membanting orang!

Aku segera mengambil ransel Sooyoung yang tergeletak di tanah. Oh ya, aku teringat sesuatu. Aku menghampiri Yuri dan meraih dagunya.

“Kau pernah membeli PSP yang sama denganku, ‘kan?”

Dia mengangguk masih dengan tatapannya yang ketakutan.

“Berikan padaku. Aku hampir mati karena seharian tidak memainkan benda itu.”

***

Iklan

3 Comments Add yours

  1. Rizky NOviri berkata:

    aibusyeeeet…
    kyuhyun songong ya ama cewe jg.. 😀 hahaha
    nyirii bgt klo dia *tuuut* 😀
    eh changmin ama jonghyun malah ditinggal beduaan mereka.. 😀
    sooyoung kasian ya dia.. itu s kyu berthan brapa lama ya.. 😀

    next next fan…

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Hahaha. Ngakak dah baca komenmu say

      Itu si kyu dibilang apa kok disensor begitu clueless aku wkwkwk~

      Suka

  2. febryza berkata:

    wakakakak kyuhyun kocak bgt masa abis ngebanting orang minta psp hahahaha, lucu banget pas sooyoung aka kyuhyun di rebutin sama jonghyun changmin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s