[FF] An Involved Lover – 14

Title: An Involved Lover
Author: wufanneey
Genre: Fluff, Comedy
Rating: PG
Length: Series
Pairing: Sehun/Sooyoung
Cast(s): Choi Sooyoung [SNSD], Oh Sehun [EXO], Kris Wu, SEVENTEEN.
Preview Previous Chapter: Liburan kenaikan semester tahun ini, Sehun diajak pulang kampung ke Busan oleh Umma, tentu saja bersama Sooyoung-nuna, tapi kok … Kris-hyung juga ikut sih? Sehun sudah kenyang dibuat kesal melihat ‘kemesraan’ mereka, sudah kenyang pula digantung perasaannya oleh Sooyoung-nuna. Jadi Nuna ini maunya apa? Bikin linglung saja!

image

***

Chapter 14 – It’s hard to say I love you

“Pagi, Umma,” suara tuk tuk tuk selop rumah menuruni undak tangga, mengalihatensikan Nyonya Choi akan kegiatan ‘dapur’ matahari terbitnya. Baru kemarin putrinya ini pulang dari Seoul, memutuskan menghabiskan waktu liburan dengan membantu bisnis keluarga di Busan. Ada kerut di sudut bibir dan kelopak matanya yang jarang ketika senyum itu muncul, menandakan usianya yang tak lagi muda. Ah, melihat putrinya telah tumbuh sebesar ini, membuatnya bahagia saja di pagi hari.

“Sooyoungie,” panggilnya.

“Ngggh … Pagi, Ommonim,” namun wajah anak tetangga muncul tak lama setelah kehadiran putrinya.

PRANG!

Umma ada apa?” bingung tiba-tiba sang Ibu menjatuhkan penanak nasi—yang untungnya belum terisi, Sooyoung lekas menghampiri dan membantu mengambilkan. “Kenapa syok begitu? Sehun memang bermalam di sini tadi—kemarin.”

“Apa?!”

“Apanya?” heran Sooyoung.

“Ada apa?” Sehun duduk di sebuah bangku yang menghadap langsung ke arah dapur. Mengucek kedua matanya, terkadang ia terkantuk-kantuk, jidatnya hampir bertemu dengan meja.

“Ke-kenapa Sehun keluar dari kamarmu, Sooyoung-ah?” Ibu Choi masih syok.

“Kenapa ya? Eung, karena tentu saja kami berdua tidur di sana?”

“APA?!” kali ini syok bercampur histeris featuring sakit kepala. Baru pertamakali Sooyoung melihat mimik muka Ibunya seperti ini, ngeri.Ia memang di besarkan oleh keluarga yang lumayan konservatif dari kebanyakan orang Korea tapi, reaksi Ibunya terlalu berlebihan hanya mengetahui Sehun tidur seranjang dengannya kemarin. “Apa—apa—kalian—Sooyoung-ah, a-a-a—Ya Tuhan, omo, omo—”

“Tenanglah Umma, memang apa yang bisa dilakukan anak seumur Sehun terhadapku? Hahaha,” Sooyoung tertawa garing. Sehun melihatnya hanya bertopang dagu. Tidak sepenuhnya, akan sedikit bumbu kebohongan dari yang diutarakan Sooyoung.

“Aku bisa melakukan apa yang pria dewasa lakukan, kok,” desisnya tajam. “Nuna saja belum tahu.”

“Heee,” Sooyoung memasang smirk, “memang apa yang biasa pria dewasa lakukan?”

“Itu, eung,” cuping telinga Sehun memerah, “ma—ma—”

“Ma apa? Kekeke,” Sooyoung menanamtangan, tampak menikmati menggodai Sehun seperti ini. Ibu Choi mulai tidak mempedulikan dua orang itu meski jantungnya nyaris copot tadi, tapi sepertinya kata-kata putrinya sendiri lebih bisa dipegang. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang terpotong tadi, menyiapkan sarapan.

“Ma—ma, main kartu?”

GUBRAK!

“Loh, Umma, ada apa lagi?”

“Ti-tidak ada apa-apa Sooyoung-ah, ka-kalian berdua silahkan lanjutkan, pf—uhuk uhuk!” kenyataannya, Ibu Choi pura-pura batuk untuk menutupi suara tawanya. Airmatanya sampai keluar saking kuatnya menahan tawa di dada.

Sooyoung mendelik Sehun pesat, “Sehunie ini gara-gara kamu Umma jadi batuk-batuk, ayo cepat tanggung jawab.”

“Kok jadi aku?” manik Sehun memicing dengan alis merendah agak surealis, dan masih berwajah masam ketika Nyonya Choi beralasan ia hanya terbatuk karena udara dingin.

***

Selesai sarapan, Sooyoung menyemburkan terimakasih atas hidangannya dan lantas kembali menapak tangga menuju kamarnya. Derap langkahnya belum hilang terdengar ketika Sehun cepat-cepat menghabiskan sarapannya dan berterimakasih dan mengikuti Sooyoung menaiki lantai dua.

Si rambut jamur hanya memerhatikan wanita itu di ujung pintu. Menunggu wanita itu menyadari presensinya sembari mempertahankan mimik abstain andalan, tidak, kebiasaan.

“Kamu mau masuk atau berdiri saja di situ?” Sooyoung membuka kopernya dan mulai mengeluarkan satu-persatu pakaiannya. “Aku mau merapikan barang bawaanku dari Seoul, kalau mau membantu, masuk saja.”

“Malas ah, aku mau melihat saja.”

“Pulang sana.”

“Iya iya aku bantu,” meski telah berkata demikian, tapi Sehun hanya mengekori Sooyoung layaknya tak ada hal lain yang bisa ia lakukan.

“Yah!” Sooyoung menghardik, berbalik menghadapnya tiba-tiba. Kaget, Sehun mendadak mundur satu langkah. “Kalau nggak ada kerjaan dan malah menggangguku, lebih baik pulang saja!”

Nuna,” Sehun—masih dengan membelo—mengurut dadanya, “Bikin kaget saja.”

“Aku sedang tidak dalam mood untuk meladeni kelakuanmu Sehunie, jadi daripada kau menggangguku seperti ini, lebih baik pulang saja ke rumahmu dan tidur lagi.” Dumalnya, mendorong dada Sehun perlahan-lahan.

Sehun berdecak, lantas ia tangkis tangan itu dan digenggamnya. Agak terkejut, ia memang pernah beberapa kali menggenggam tangan Sooyoung tapi rasanya kali ini tangan itu jauh lebih kecil dari yang ia pikirkan. “Tempatku untuk pulang ‘kan hanya kau, Nuna.”

“Sedang tidak butuh gombalan.” Sooyoung mencoba menarik tangannya lepas dari genggaman Sehun tapi tidak bisa. “Sehun-ah,” serunya.

Sehun tidak merespon, tapi ia tidak diam. Ia menelusukkan jari-jemarinya yang panjang di antara jemari Sooyoung yang kecil—dan lebih kurus, terlihat mungil dan manis di mata Sehun. Sooyoung mengerjap, bingung, jantung dan napasnya mulai tidak seirama.

“Sehun-ah, lepaskan, aku mau melakukan sesuatu.”

“Melakukan apa?”

“Membereskan barang-barangku, tadi ‘kan aku sudah bilang.”

“Nanti saja.”

“Aku mau melakukannya sekarang.”

“Aku bisa melakukannya untukmu, jadi nanti saja.” Tatapan Sehun kini lurus ke matanya. Sooyoung meneguk kerongkongannya yang kering, entah untuk apa, tapi tatapan Sehun membuatnya ingin mengalihkan perhatian pada sesuatu yang lain.

Jemari mereka masih terpaut satu dan lainnya, tanpa aba-aba Sehun membawa punggung tangan Sooyoung mendekati bibirnya, untuk kemudian ia kecup dengan pelan, dan panas. Permukaan kulit pada punggung tangan dimana Sehun mengecupnya terasa panas, terbakar. Seperti Sooyoung merasa pipinya direbus dan itu sama sekali bukan disebabkan oleh udara Busan.

“Se—Sehun-ah!” terpekik tanpa sengaja, secepat mungkin ia tarik tangannya, dalam kepalan, ia bawa menghadap dadanya. Membungkus itu dengan tangan satunya. Kedua belah kulit pipi merona, napas berhembus lebih berat dan amat panas. Sooyoung tidak dapat lebih malu lagi dari ini. Rasanya seperti ingin menceburkan diri ke dalam sungai es ketika dengan tanpa alkohol lekas ia berteriak, “Ke—keluar dari kamarku!”

BRAK!

Sehun didorong paksa dan, pintu kamar itu Sooyoung banting tepat di depan hidungnya. Sebetulnya bukan hanya Sooyoung yang terkejut, ia juga tidak menyangka pada dirinya sendiri mengapa bisa melakukan hal seperti itu. Ia tidak pernah merencanakan atau menginginkan untuk mengecup punggung tangan Sooyoung sebelumnya tapi, kejadian tadi di luar batas nalurinya.

Sehun membalikkan tubuh, kini ia bersandar pada pintu dan, berusaha menutup semburat merah di wajahnya dengan sebelah telapak tangannya. Terlintas bayang wajah Sooyoung yang merona dan berteriak gelagapan menyuruhnya keluar kamar. Ia benar-benar tidak tahan. “Sial, Sooyoung-nuna manis sekali,” ia meraba bibirnya, kecupan itu hanya sebentar, di ujung bibir, hanya di ujung bibir, namun Sehun tidak bisa untuk tidak memikirkannya, “dan kulitnya sangat lembut. Aku bisa gila.”

***

“Sooyoung-ah bisa kau bantu Ibu petikkan stroberi yang sudah matang?”

Nde,” Sooyoung menutup keran air, lantas menggulung selang. Begitu selesai menyiram tanaman di depan rumah, ia menghampiri Ibunya. Menanyakan stroberi yang mana dan untuk apa, Ibunya menjawab kalau Nyonya Oh suka sekali pai stroberi buatannya meski agak asam dan berniat untuk membuat itu lalu dikirim ke rumah sang tetangga tersebut. Sooyoung mengiyakan dengan suara kecil.

Terlintas sepupu Oh-nya tersebut dalam benak. Sejak kejadian tadi pagi Sooyoung tidak bisa menghindar akan intensi tiap pemikirannya pada si jangkung itu, tapi bukan kehendaknya. Ia mendesah hebat, hal kecil yang Sehun lakukan berdampak luarbiasa pada dirinya. Ibunya bahkan melihatnya clumsy beberapa kali. Mianhae, Umma.

“Nah, yang besar dan merah itu,” tunjuk Ibunya.

Umma,”Sooyoung memanggil, setelah keranjangnya terisi setengah dari hasil memetik buah. “kalau bisa buatkan juga pai itu untuk Paman Wu. Beliau ‘kan hanya tinggal dengan Wufan, itu pun hanya ketika Wufan bisa pulang. Jika tidak, beliau sendirian saja di rumahnya.”

“Ah, geurae,” ia dapat mendengar senyum Ibunya berkata, “kau begitu memperhatikan Kris.”

“Aku memperhatikan Ayahnya.” Ralat Sooyoung. “Nah, sudah semua, aku simpan di kulkas ya?”

“Ya, tolong, Nak.”

Belum sempat Sooyoung masuk ke dalam rumah, ia mendengar suara Kris menyapanya.Kris melongok melalui pagar dan berdiri di hadapannya. Tidak melewatkan untuk menyalami Ibunda Sooyoung yang juga ada di sana. Dia terlihat agak kikuk bagi Sooyoung saja atau … Absurd!

“Hei,” sapanya untuk yang kedua kali.

“Hei? Ada … apa?” kali ini Sooyoung membalas sapaan lelaki itu dan, melihatnya membawakan sebuket bunga di balik punggung. Yeah, Kris mungkin berniat menyembunyikannya tetapi Sooyoung terlanjur melihatnya lebih dulu. “Apa itu untukku?” tebaknya menunjuk pada sejumput flora itu.

“A-apa? O-oh, ini, yah …,” ia melihat Kris mengalihkan pandangannya untuk beberapa detik ketika lelaki itu akhirnya memutuskan untuk mengulurkan buket bunga tersebut. “Jadi … bagaimana?” ia mengusapi tengkuknya, Sooyoung menyimpul senyum riil menyadari kegugupan Kris.

“Terimakasih, ini cantik sekali,” ia mencium aromanya dan berkata dengan satu senyuman lagi.

Sekian jeda sebelum Kris mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang. “Errr—bunga yang cantik untuk wanita yang cantik?”

“Eeeh, kau terdengar ragu dengan apa yang kau ungkapkan, ck,” Sooyoung menyimpan buket bunga itu dalam keranjang stroberinya.

“Aku merangkainya sendiri dari kebun Ibuku,” Kris bilang. “kau tahu, Ayahku masih tekun merawat kebun itu.”

“Itu bagus,” senyum Kris semakin mekar saja mendengarnya. “dan sekali lagi, terimakasih, aku belum pernah mendapat buket bunga dari pria manapun selama ini, apalagi yang khusus dirangkai untukku.”

“Ya, itu limited edition, haha.”

“Em, jadi?”

“A-ah, tidak ada, hanya … bunga-bunga itu membuatku teringat padamu, itu saja dan, … Yeah, aku pergi. Dah.”

“Dah,” Sooyoung melambaikan tangan. Lantas, teringat akan satu hal ketika langkah Kris telah menapak di luar jangkau pagar rumahnya. “Oh iya, Wufan! Ibuku akan membuatkan kalianpai stroberi hari ini!”

“Apa? Benarkah?”

“Ya! Aku akan mengantarnya ke rumahmu segera!”

“Oh! Aku tunggu!”

“Baiklah, sampai nanti!”

“Eyyy—ya! Sampai nanti!” setengah jalan terlindas, Kris berbalik untuk berseru terakhir kali, “Hei, Soo! Aku … aku pikir kau mau menghabiskan sore dengan segelas limun! Atau cokelat? Bersamaku?”

“Oke! Ide bagus!”

“Benar! Ya, eiy, kutunggu sore ini, sore ini!” Kris mengulangnya.

Sooyoung tertawa atas keteguhan pria itu.

Tatkala Kris benar-benar menghilang dari jarak pandangnya, ia baru menurunkan lambaian tangannya. Ada sinar di wajah Kris dan itu ikut membuatnya senang.

“Ehem!”

Sooyoung menoleh karena suara dehaman, ia kira Ibunya yang merasa terabaikan sejak tadi, tetapi ia menilik Ibunya telah tak ada di bagian manapun halaman rumah. Sebab dehaman itu berasal dari arah belakangnya. Sooyoung menengok dan memperoleh sosok Oh Sehun, berdiri dengan wajah tertekuk di depan pintu rumah.

“Hei … Sehun-ah, darimana kamu masuk?”

“Aku masuk dari pintu belakang, tadinya mau mengejutkan Nuna, tapi malah berakhir menguping percakapan menyebalkan.”

“Tidak lebih menyebalkan dari dirimu.” Kekeh Sooyoung.

“Aku bukannya menyebalkan, tapi memesona.” Ia memasang senyum asimetris.

“Dasar narsis.” Sooyoung menyentil dahinya, membuat Sehun mengerang kecil memegangi bagian dahinya yang kena sentil.

“Sakit, duh. Eh… Itu apa?” Sehun beralih menunjuk isi keranjang yang Sooyoung bawa dengan dagunya. Sooyoung dibuat geram oleh sifat arogannya yang satu ini, setidaknya.

“Masa tidak tahu. Ini keranjang.”

“Isinya. Bunga? Nuna, kau suka bunga?”

“Semua wanita suka bunga.”

Dalam sekejap mode cemburu Sehun berganti ke mode terkejut. Terlihat dari kelopak sipitnya yang terbelalak dan binar di matanya. Seolah berkata, aku baru tahu! “Yang benar?”

“Tentu saja, memang kenapa?” heran Sooyoung.

“Aku akan mencarikanmu bunga yang lebih bagus dari itu.” Sehun menyusun rencana dalam kepalanya, ia bisa saja menanyai Choi Sulli (nona kaya metropolitan itu) perihal bunga yang banyak disukai kaum hawa. Atau Bae Suzy? Ah, tidak tidak setahunya Suzy lebih merestui hubungan Sooyoung-nuna dengan Kris-hyung huh dasar penghianat.

“Terserah saja,” Sooyoung mulai bosan dengan topik ini. “Jangan menghalangi pintu, Sehun-ah, tempat orang lewat.” Sehun menyamping untuk membiarkan Sooyoung melewatinya, ketika itu, dalam kecepatan kilat Sehun mencium pipinya.

Nuna, hari ini pergi ke pantai bersamaku, ya.” Tak diberikan kesempatan menyetujui, sang Oh muda langsung saja angkat kaki, menyisakan Sooyoung yang berdiri mematung sembari memegang sebelah pipi.

***

JEDAGH!

Sial. Belum juga selesai pekerjaannya mencari bunga (bunga, iya iya itu, janjinya pada Sooyoung-nuna siang tadi), yang didapat malah benturan dramatis bola basket di kepala. Sehun mengaduh, lantas mata nyalang mencari-cari sang pelaku yang melakukan ini padanya. Lagipula, hell, memang bisa bermain basket di pantai? “Kamu, ya!” tunjuknya pada seorang anak yang menghampiri nyaris bilang, maaf itu bola kami bisa kau kembalikan?

Tapi alih-alih meminta maaf atau memohon agar bolanya dikembalikan, anak itu malah berbalik dan kabur menuju dimana teman-temannya menunggu (yang tengah bermain basket itu). “Sungcheol-hyung!” adunya. “Aku dimarahin Hyung itu, takut!”

“Apa! Memangnya wajahku seram? Geez,” Sehun melangkah sangar menghampiri mereka dengan bola oranye bergaris hitam itu masih di tangannya. “Hei, tunggu, mereka masih anak-anak, kelihatannya anak SMP.” Hei hei … sepertinya situasi ini dapat dimanfaatkan, pikir Sehun jahat.

“Tolong kembalikan bola itu,” yang paling jangkung di antara mereka buka suara.

“Baiklah, baiklah, aku tidak akan membahas masalah kepalaku bakal jadi benjol atau apa, tapi bagaimana bila kita ganti kesepakatannya?”

“Kesepakatan? Memang kita membuat kesepakatan ya? Chan, tadi kau bilang apa ke Hyung itu?”

“Aku nggak bilang apa-apa! Kenapa mengintimidasiku!” yang disebut Chan merengek. “Sungcheol-hyung, aku dimarahin Mingyu-hyung,” ia bersembunyi di belakang tubuh orang yang ia sebut namanya tadi.

“Bukan mengintimidasi namanya, tapi menginterogasi,” ralat Sungcheol. “dan kenapa kau selalu mengadu padaku?” bingungnya.

Sebelum Sehun jawdrop lebih jauh, ia harus cepat mengutarakan niatnya memanfaatkan kepolosan anak-anak. “Ehem, begini, aku akan memaafkan kalian lalu mengembalikan bola ini jika—hanya satu, kalian mau mencarikanku sebuah bunga yang warnanya kuning dan biru.”

Anak-anak itu saling pandang.

“Dimana?” tanya Sungcheol.

“Dimana saja, aku tidak peduli, jumlah kalian ‘kan lumayan banyak, kalian bisa berpencar mencarinya di seluruh penjuru daerah ini, yang jelas bisa kutunjukkan pada seseorang.”

“Siapa?” tanyanya lagi.

“Hei Boy, keputusannya mau atau tidak?”

“Oke, tapi kami juga punya satu syarat.”

“Kenapa jadi kau—” ck, baiklah Oh Sehun biarkan saja kau butuh ini ‘kan tidak mungkin kau mencari setangkai bunga kecil itu sendirian, “apa syaratmu?”

“Hapali wajah, nama lengkap, dan nama panggilan kami semua. Kami bertigabelas.”

***

Jadi, Sooyoung menerima ajakan Kris di tengah tegukan limunnya sore itu ketika sang pria kelahiran Canada melewatkan sesuatu yang amat penting. Untungnya pria itu tidak tersandung kakinya sendiri saking terburunya—Sooyoung hanya mengikutinya dalam rasa aman. Langkah Kris menunjukannya sebuah pemandangan biru membentang—luas, di atas dan di bawah, Sooyoung menemukan dirinya terperangkap dalam view memabukkan pantai Gwangalli di hari sesenja ini.

Wassup, Kids!” suara Kris menamparnya ke bumi. Sooyoung melihat pria itu kemudian kerubungi anak-anak lelaki—beberapa di antaranya mengeluh dan mengejek Kris akan keterlambatan pria itu membuat mereka menunggu.

Sooyoung mendebat dalam batin, apa dirinya yang membuat Kris lupa waktu? Entah.

Koch, siapa Nona itu?” seorang anak tiba-tiba menaruh minat memerhatikannya. Dari wajahnya, Sooyoung tahu anak ini bukan asli Korea.

“Hansol, kenalkan, ini temanku Sooyoung. Kalian berdua sama-sama bermarga Choi.” Kris memerkenalkan keduanya satu sama lain.

Hansol membungkuk, “Annyeonghaseyo.”

“Bahasa Koreamu sangat bagus.” Puji Sooyoung.

Khamsahamnida,” bocah Hansol ini kembali bergabung bersama teman-temannya, hm, tipe anak yang pemalu.

Mansae,” ucap seorang anak kemudian. “Lee Seokmin imnida. Boleh aku memanggilmu Sooyoung-nuna?”

“Tentu saja,” Seokmin ini memberinya senyum lima jari, tipe anak yang mudah memikat hati wanita yang lebih tua, hahaha, Sooyoung menahan tawa atas pemikirannya sendiri yang agak menyeleweng, nun sekejap kemudian ia tersadar, “Mansae? Apa itu?”

“Adalah saat dimana kau melihat seorang gadis dan kau menyukainya, kau bisa bilang mansae,” tuturnya. “itu kata Jihun-hyung.”

“Aw, kau terlalu langsung,” Sooyoung bergurau.

“Aku memang bukan ahlinya,” ia mengaku.

“Kau masih kecil,” Sooyoung mengusap puncak kepala Seokmin.

“Nah, cukup untuk perkenalannya.” Kris menengahi, membiarkan anak-anak itu memrotes mengenai Sooyoung-nuna belum tahu nama kami semua, baru Hansol dan Seokmin dan Koch Pirang ini sangat kejam. “Kalian bisa berkenalan dengannya selesai latihan. Sekarang, kita harus mulai latihannya, sebab kalian telah menghamburkan banyak waktu. Aku yakin pakaian Chan sudah mengering saking lamanya aku datang.”

Chan terkejut, “Mingyu-hyung dan Wonwoo-hyung menggendongku lalu menceburkanku ke dalam air! Dan pakaianku sudah kering! Mengerikan!”

“Salahmu minta digendong,” Wonwoo cuek.

“Setidaknya tubuh kalian berdua tinggi dan besar, apa salahnya aku minta itu?”

“Sudah hentikan, ayo kita mulai,” Kris mulai geram dengan anak-anak ini yang sulit dikondisikan. Mereka bilang akan ada turnamen musim panas seminggu lagi, Kris mengiyakan untuk membantu mereka bermain basket tapi lihatlah yang mulai terjadi.

“Tunggu!” Sungcheol menyela.

“Apa lagi?”

“Sebelum kita mulai, aku mau cerita, dari tadi Sehun-hyung memerhatikan Sooyoung-nuna, sudah itu saja. Ayo kita mulai.”

“Sehun?!” bukan hanya Sooyoung, Kris juga terkejut.

Di bawah payung lebar, Sehun duduk bertopang kaki sembari bersedekap di sebuah kursi. Meski dari jarak sepuluh kaki, Sooyoung dapat merasakan aura negatif Oh Sehun yang ditujukan hanya pada dirinya sendiri.

Kris memang terkejut, pada awalnya, tapi begitu ia teringat fokusnya akan anak-anak didiknya, ia mulai biasa saja bahkan tidak peduli lagi. Yeah, ia tidak akan turut campur lebih jauh lagi di antara kedua insan itu.

Sooyoung menghirup napas dan menghembuskannya begitu bokongnya mendarat di kursi sebelah Sehun duduk. Ia menengok, “Kenapa tidak menyapaku?”

“Tidak di Sekolah tidak di sini, Nuna selalu punya banyak penggemar.”

“Tidak di Sekolah tidak di sini, kau selalu mengeluhkan banyak hal.”

“Ini penting bagiku,” ow, Sooyoung sebetulnya tahu pemuda ini tengah cemburu. “Bocah-bocah sialan itu, sok polos, pura-pura tidak tahu tentangmu, padahal aku sudah memberitahu mereka tanpa kecuali.”

“Termasuk wajahku?”

“Ya, dan termasuk bahwa Nuna adalah orang yang kusukai.”

“Kau itu …,” Sooyoung menerawang lelah, “mudah sekali terbuka pada orang lain ya? Aku tidak mengerti pola pikirmu.”

“Itu karena mereka yang memaksa! Kalau tidak kuberitahu mereka tidak mau membantuku mencarikan—oh iya! Nuna ayo ikut aku!” Sehun beranjak dari bangkunya dan menarik pergelangan tangan Sooyoung. Tatapan tanya dari Sooyoung segera ia jawab dengan, “Sebentar saja, aku mohon! Aku punya sesuatu untuk kutunjukkan padamu!”

Sesuatu untuk ditunjukkan padaku?

Apa?

“Ini,” sebuah taman di belakang sebuah rumah, yang entah milik siapa. Tempat bertumbuh kembangnya bunga-bunga kecil berpola lingkaran biru dengan kelopaknya yang berwarna kuning. Cantik. “daripada memetiknya, akan membunuh mereka, lebih baik Nuna yang aku bawa ke sini untuk melihatnya sendiri. Bagaimana?”

“Aku suka,” Sehun menyaksikan dengan tanpa alkohol sosok Sooyoung melirik kecil dan kurva senyum di bibirnya tertarik mengarah untuknya. Untuknya. Pikiran Sehun lantas terbang ke batu-batu carrara yang putih dan sederhana namun tak bernilai harganya dan indah. Sementara tangannya gatal ingin menangkup pipi wanita itu dan menciumnya di sini saat ini juga.

Nun ia berakhir dengan mendesah serta degupan jantung yang terlalu aneh.

“Apa jawabanmu?”

“Atas apa?”

“Arti dari bunga ini.” Sehun bilang, setelah sekian detik mampu mengatasi dampak dari senyum Sooyoung yang luarbiasa—lain kali ia akan berhati-hati akan gerakan-gerakan remeh wanita itu.

“Forget-me-not,” Sooyoung menonton bunga-bunga itu dari pijakannya. “True love and don’t forget about me.”

deg deg deg

Sooyoung memang tidak menjawab, namun cukup untuk membuatnya lupa daratan.

***

“Sehun-ah,” Sooyoung berdiri, terlonjak, seruannya tersapu hembusan angin. Herannya, Sehun sanggup mendengarnya dan menoleh. “Sepertinya akan turun hujan.”

Sehun menarik tangan wanita itu dan membawanya untuk duduk di sampingnya, di sebuah tatami yang tidak terlalu besar namun cukup untuk mereka berdua. Jaraknya tidak begitu jauh dari kebun bunga tadi. Angin tidak dapat menerpa kencang ke dalam sini. Mereka berdua duduk dalam diam, hanya memandang ke depan, meski tidak terlalu memakan frekuensi sebab, Sooyoung lebih kenyang hati dengan tatapan Sehun di sana sini padahal ia hanya membetulkan keliman pada dressnya atau menyikap rambut dari cuping telinganya, tetapi Sehun menangkapnya sebagai insiden bersejarah yang patut diabadikan.

“Tadi, rokmu terkibar angin, aku sampai bisa melihat kaki dan pahamu yang putih.” Tiba-tiba Sehun bercerita, dengan santainya seraya pandangan kembali difokuskan lurus ke depan. Sooyoung memekik dan menutupi bagian yang ia kira telah Sehun curi dari dirinya. Sehun berkomentar, “Percuma kau tutupi, aku sudah melihatnya, Nuna.” Sooyoung melotot. Ia merasa ternodai.

“Yaish!”

“Ya—kenapa memukulku! Ini bukan salahku!”

“Setidaknya kamu bisa menutup mata ‘kan!”

“Tidak bisa ya Nuna ikhlaskan saja? Toh nantinya juga aku akan melihat semuanya.” Sehun membalas sembari mengeluh, mengusapi pundaknya yang Sooyoung pukul tadi. Memang tidak keras, tapi ia hanya pura-pura mengaduh.

“Ck, tidak akan,” Sooyoung mendecih. “Sudahlah, ayo kita pulang saja. Salah hari mengajakku ke pantai hari ini. Kalau tiba-tiba hujan bisa gawat. Lagipula, kita sudah terlalu lama ada di sini.”

“Benar juga,” Sehun mengakui sebab tak lama setelah Sooyoung mengatakan itu, hujan turun dengan derasnya. “Wah.” Sehun menjulurkan tangannya membiarkan air hujan membasahi kulitnya, dingin sekaligus geli, seperti tertusuk jarum-jarum kecil.

“Hu-hujan?! Sehunie! Jangan cuma ‘wah’ padaku ayo cepat kita pulang! Udaranya juga semakin dingin!” Sehun menghela napas mendengarnya. Salah Sooyoung sebenarnya mengapa ia memakai dress setipis itu jika tahu udara dingin. Tapi sialnya, ia juga tidak pakai jaket atau sweater, hanya kaus oblong dan celana jeans. Oke, jadi ia menutup mulut perihal mereka berdua sama-sama ceroboh.

“Aish, aku belum pernah melakukan ini,” Sehun melepas kausnya.

“Sehun-ah kamu mau apa? Nanti kamu sakit! Yah!” di samping itu, Sooyoung menyayangkan jantungnya yang berdegup melihat shirtless-Sehun yang seharusnya, ia telah terbiasa melihat muridnya sendiri setengah telanjang di kolam renang.

Tapi Sehun tidak peduli anggapan Sooyoung, ia hanya memakaikan kausnya pada wanita itu, berpikir ini lebih baik daripada melihat tubuh Sooyoung tercetak karena dressnya yang basah dan tipis—sebab ia tahu, mereka pasti akan basah kuyub setibanya dirumah nanti. Setelah dirasa benar, ia tidak mengatakan apa-apa, hanya langsung menuntun tangan Sooyoung dan mengajaknya berlari bersama di bawah hujan. Sooyoung sebenarnya dapat menolak, tapi entah mengapa melihat tawa childish Sehun dan genggaman pada tangannya dan kausnya yang kebesaran ini, Sooyoung menemukan dirinya tidak melakukan perlawanan.

***

“Kami pulang.”

Drrrsss …

Tidak ada balasan.

“Mungkin orangtuamu sedang memakan pai stroberi di rumahku.” Kepala Sooyoung tanpa aba-aba menyembul dari balik punggung Sehun.

“Uh,” Sehun segera mengalihkan tatapan. Rambut Sooyoung sangat basah dan—dan bukan hanya rambutnya, tetapi juga sekujur tubuhnya. Tubuh mereka. “Kalau begitu mandilah di rumahku.” Sehun berjalan masuk lebih dulu, Sooyoung mengekor di belakangnya. Menjepit ujung kaus Sehun yang ia kenakan dengan jarinya.

Entah kenapa … berdua saja dengan Sehun di sebuah rumah membuatnya gugup dan bingung. Padahal, selama ini, mereka memang tinggal serumah di Seoul. Apanya yang berbeda dari situasi sekarang? Sooyoung sungguh tidak paham akan banyak hal bilamana sebuah problema menyangkut nama Oh Sehun.

“Permisi,” ucapnya pelan, terus membuntuti langkah Sehun, hingga dari sinilah, di depan sebuah kamar—kamar Sehun, mereka berhenti.

Sehun membalikkan tubuh, mereka kini berhadapan, tetapi tetap tak saling bertatapan. “Di kamarku ada handuk dan pakaian. Nuna boleh gunakan yang manapun.”

“Eum, ya. Terimakasih.” Tangannya terpentin, Sooyoung lebih memilih melihat ujung jemari kakinya.

Sebelum kemudian, pintu ditutup dari dalam.

“Hah,” entah sadar atau tidak, keduanya baru dapat menghembuskan napas lega setelah berada di ruangan yang berbeda.

***

“Wah, kamar ini lebih besar daripada kamarku. Dan, ada kamar mandi pula. Ckck, terus kenapa dia suka sekali menyelinap masuk dan tidur di kamarku kalau kamarnya sendiri lebih nyaman? Dasar,” Sooyoung mengoceh sembari ia mengeringkan rambutnya di depan cermin. Ia sudah mandi dan kini meminjam piyama Sehun, mengejutkan Sehun memiliki piyama bermotif floralis (sangat imut) sejenis ini dan, agak membuatnya kesal di lain sisi sebab harus mengakui perbandingan tubuh mereka berdua yang kelewat jauh. “Padahal ia lebih muda dariku, kenapa badannya besar sekali? Pundaknya juga … sangat tegap dan lebar. Panjang lengannya saja sampai menutupi hampir seluruh jari tanganku …,”

Sooyoung merasa ada yang salah dengan wajahnya yang memanas.

“Kenapa aku baru sadar kalau Sehun bukan anak kecil?”

Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Merasa bodoh. Sekarang dirinya tengah berada di kamar seorang pria tanpa ada pengaman atau siapapun di rumah selain mereka berdua. Apa yang bisa Sehun lakukan terhadapnya?

“Apa yang bisa dia lakukan …,” Sooyoung terhenyak, lantas menggeleng kuat begitu pikirannya melanglang buana kepada hal-hal yang tidak lazim. “Tidak-tidak, Sehun itu masih polos. Dia tidak tahu hal-hal semacam itu Sooyoung-ah. Benar, itu tidak mungkin.”

Sooyoung kemudian berbaring di ranjang, membiarkan rambut basahnya juga membasahi seprai. Aroma shampo Sehun menguar. “Jika aku terperangkap persis berkeadaan seperti ini dengan Wufan, baru itu namanya membahayakan.” Ujarnya yakin.

“Dengan siapa membahayakan?”

“Sehun-ah! Berhenti membuat aku kaget!” Sooyoung mengelus dadanya. “Ah, nggak, lupakan saja.” Ia membuat Sehun mengingat kembali atas pertanyaannya barusan.

Sooyoung merasa berat pada ranjang itu bertumpu di tempat dimana Sehun menghampirinya. Ia menoleh dan melihat bahwa surai kecoklatan anak laki-laki itu juga basah. Poninya sudah memanjang, menutupi hampir seluruh matanya. Biasanya anak laki-laki itu tidak pernah membiarkan rambutnya tumbuh terlalu panjang, sebab meski terlihat lurus dan tipis, rambut Sehun sebetulnya mudah kusut, tapi kali ini Sooyoung agak mensyukuri itu sebab, tatapan mata Sehun agak mendebarkan akhir-akhir ini, dan berkat poni panjang itu, ia tak dapat bertemu mata dengan sepasang replika tanah Sehun.

“Kau sudah mandi,” Sooyoung berbasa-basi, memecah suasana yang mulai canggung.

Nuna, apa pernah sekali saja, kau melihatku sebagai seorang pria?”

“Hm?”

Nuna.” Sehun merangkak perlahan, menaiki ranjang, suara decitannya membuat Sooyoung tersadar dan menatap dua orb cokelat non-eyelid yang menatapnya balik.

“Me-menyingkirlah, kasur ini terlalu kecil untuk kita berdua.” Sooyoung mendorong dada Sehun yang sekarang sudah berada di atas tubuhnya, entah sejak kapan dan, menyadari ini membuat jantung Sooyoung mulai bekerja dengan tidak baik.

“Kita bisa pindah ke kasur orangtuaku.”

“Haha, Sehun-ah kau ini bicara apa,” Sooyoung memandang jendela yang gordennya berkibar dan berputar. Memperlihatkan langit senja di baliknya, dan angin yang berhembus masuk, pelan, menerpa wajah Sooyoung dan mungkin juga Sehun.

“Kenapa menolehkan wajahmu? Kau gugup melihatku? Kau gugup ada aku di dekatmu?”

“Sehun-ah …,” Sooyoung mendorong dada Sehun lagi, kali ini lebih keras. Nun tak membuat Sehun bergerak barang seinci.

“Aku tanya sekali lagi, apa aku … apa aku masih terlihat seperti seorang adik di matamu?”

Eh?

Sooyoung terlonjak, sebab tiba-tiba, perlahan, Sehun menyentuh dagunya dan menggiring sepasang mata mereka untuk bersitatap. “Kau …, kau tidak terlihat seperti adik, karena kau ‘kan … memang adikku, Sehun-ah …,”

“Benarkah?” wajah Sehun mendekat, di samping telinganya, berbisik.

Semilir angin menerpa wajah mereka lagi, menerbangkan aroma yang sedikit adiktif berasal dari rambut panjang Sooyoung. Sehun mengulum senyum, ini pertamakalinya Sooyoung mandi memakai shampo miliknya, dan ia terlihat manis dengan piyama yang terlalu besar itu. Sehun merasa ia dapat menerjang wanita ini kapan saja.

“Kenapa tersenyum? Memang ada yang lucu? Kau membuatku takut,” Sooyoung mencoba mengalihkan pandangan lagi tapi kali ini tidak bisa semulus itu. Sebab Sehun lebih cepat menahan dagunya dan menempelkan bibir mereka.

Sekujur tubuh Sooyoung melemas. Terutama pergelangan tangannya yang Sehun kunci. Dua belah bibir Sehun basah, dan lidahnya memaksa masuk, menelusup ke dalam mulutnya, di antara gigi-giginya. Panas. Sooyoung dapat merasakan hawa panas Sehun memukul wajahnya, tubuhnya. Sehun kembali mendorongnya ke kasur dengan presisi yang tepat mengurung pergerakannya, lalu menciumnya lagi.

Ini, untuk aku yang telah bertemu dengan Nuna.

Ini, untuk semua senyuman Nuna.

Ini, untuk jawaban yang tidak perlu Nuna ucapkan.

Dan ini, untuk tahun-tahun yang akan datang bagi kita berdua.

***

A/N:
Ending untuk chapter yang satu ini. Fiuh. Saya rasa ini adalah chapter terpanjang selama saya membuat AIL the series. Saya harap chapter kali ini mampu memuaskan dahaga Dressages akan kelangsungan hubungan percintaan nuna-dongsaeng paling weird ini /halah/
Tumben ya, saya baik sama Sehun. Iya kan iya kan? Iya dong. Hahaha, dia dibuat bahagia banget di episode kali ini saya kan author baik, punya hati punya perasaan.
(Sehun: Dasar nggak berperasaan. Orang lain kalau selingkuh itu paling menduakan, dia mah menduapuluhkan. Udah gitu, demennya sama yang kecil-kecil, dasar pedo.)
Kenapa lu bahas itu, Hun? /pokerfaced/

***

Dibalik layar.

Sehun mengira Sulli bisa membantunya perihal bunga apa yang banyak disukai wanita. Sebab dia buta sekali dalam hal ini. Tapi sebelum ia mendapatkan jawabannya …
“Mana, mana kontak Sulli? Oh, kalau begitu aku tanya Suzy saja. Eh, kontak Suzy juga nggak ada. Hah, Jiyoung? Nggak ada. Baiklah, aku masih punya teman perempuan sekelasku yang lain. Eung, namanya … siapa ya, si-siapa …? Siapa lagi, siapa lagi—”
Pemuda malang itu berakhir dengan menemukan hanya tiga kontak nama perempuan dalam ponselnya; Ibunya, Ibu Sooyoung, dan Sooyoung itu sendiri.
“Apa aku bodoh. Memangnya hanya Sooyoung-nuna wanita single di dunia. Selama tujuhbelas tahun aku hidup sebenarnya apa saja yang telah aku lakukan …,” Sehun menatap lurus dan nanar, mengorek pasir pantai seperti anak autis.
Sampai akhirnya, “Kai? Bisa kau menanyakan ini kepada Sulli—”

Sehun yang payah, tamat.

Iklan

27 Comments Add yours

  1. watashiwanuy77 berkata:

    Aaaaa ff yang aku tunggu” ini huhu aku kita bakal gak dilanjutin lagi.. seneng banyak monent sehun sm sooyoung dan sehun sudah mulai menunjukkan sisi prianyaa aseeekkk

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Ff ini bakal selalu dilanjutin kok, walau jangka waktunya ga menentu, jadi tenang aja ya, hehehe

      Suka

  2. febryza berkata:

    uwaaaaaaa its been a long day since you updated this fic last time right…
    ehehehehe kasian bener sehun walaupun banyak moment antara dia sama sooyoung tetep aja harus ngeliat sooyoung sama yg lain dulu atau ngeliat sooyoung punya penggemar banyak hahahaha
    eiya aku boleh ngasih saran dikit yah di bagian ini nih : “Aku bukannya menyebalkan, tapi memesona.” Ia memasang senyum asimetris.
    “Dasar rasis.” nah menurut aku kata yg pas itu narsis. karena disini sehun mengagungkan dirinya sendiri nah kalo rasis kan membedakan antar ras

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Oh gitu ya… Siap siap! Thx atas sarannya. Jarang nih ketemu reader yang analitis belakangan ini hiksuuu terharu

      Suka

  3. nisa berkata:

    hah ini end kak?? padahal ceritanya seru banget lho…. trus wufannya gimana?? masih penasaran deh sama kelanjutan hubungan sooyoung sama sehun

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Eh gagal paham ya? Sori.
      Maksud saya ending untuk chapter ini. Seriesnya belum tamat. Masih ada chapter selanjutnya kok.
      Selow aja

      Suka

  4. Jeni berkata:

    Sumpah sehun bener benr cool di bagian akhirnya. Penantian yang terbayarkan deh rasanya pas baca ff ini 🙂

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Aku bahagia deh kalo reader puas :”)
      Kamu moodbuster aku say

      Suka

  5. Elisa Chokies berkata:

    Fanney!! akhirnya muncul XD

    Gilak Fan, Aku seneeeeeeeeeng bingow lihat notif blog, secara aku follow blog km. Ada AIL !! dah rilisssss. Uwoooww!!! Makasihhh byk Fan Fan.

    I MISS YOU SO BAD! Lebih tepatnya kangen
    berats sama AIL karyamu :””’)

    Well, anjir lah ini aku suka banget sama idenya, fan. Cowok kayak sehun ini emang langka bgt! Cuman ada di komik kayaknya:””) duh tapi kamu sukses bgt bikin karakter sehun jadi lucu dan
    membekas. Hehe dia yg bikin aku penasaran bgt sama cerita yang kamu tulis. Terlebih semua alurnya juga ngalir gitu aja. Runtut bgt sampai akhirnya aku suka bgt pas adegan terakhir! Aku paling seneng baca kiss scene buatan kamu. HOHO JACKPOT!

    Bagi aaku karya km yg ini fresh bgt! Terlebih udah lama juga kan kamu gak nulis jadi ini udah termasuk paket sempurna. Double combo!!

    OKE SIP POKOKNYA INI FF PALING MANIS YANG PERNAH KUBACA SETELAH SEKIAN BULAN, SATU-SATUNYA FIC YG BUAT AKU DEG-DEG KAN!!! kata-katanya ringan, oke banget bikin nyaman bacanya. konflik dan karakterisasinya bikin ketawa tiwi ga jelas. ampun deh polos banget Sooyoung ngira Sehun gak punya napsu, secara anak SMA jaman sekarang itu udah bisa punya anak //Eaa–Sensorrr//

    Dannn balik lagi ke cerita…. Hehe entah ya tapi aku beneran gemes bgt sama Sehun! Apalagi kamu mendeskripsikan dia begitu imut n menarik xD hihi tipikal cowok yg aaaahhhhh ya ampun. Konyol bgt. aku juga suka bgt semua bagian Sehun sama Sooyoung Ahhh lope lope
    pokoknya:3.

    Eh iya fan, di chapter brapa itukan keknya Sooyoung uda nerima cinta Sehun kan ya? waktu Sooyoung sakit pas salju turun itu lho, mereka malah dah ciuman. mereka udah jadian belum sih? tp kalau udah disini kok Soo masih angep Sehun tu adeknya?

    anyway aku gatau ini rusuh apaan.

    kayaknya emang udah wajib harus rusuh di fic kamu xD hihi

    keep writing Fan!!! 😀

    n.b: Fan, kayaknya fic ini perlu km protect seriusan aku jd benci sama siders yg semakin beranak pinak tahun ini. aku yakin byk yg baca fic ini tp tanpa komen. Kyknya enak bgt gitu mereka kayak nikmatin sesuatu tanpa terimakasih. Oke, mereka gk perlu komen kalau mereka gk suka atau baca sedikit aja. tp kalau mereka baca semuanyaa? masa iya gk komen padahal mereka nikmatin. uda gitu doang.

    Next chapter coming soon!! ^^

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Sehun itu … Berapapun umur dia udah bertambah, wajah dia semakin menua atau gimana, tapi image Oh Sehun yang tertanam di otak aku tuh ya yang kayak gini. Susah banget bikin Sehun setipe cowok lain. Ntar jatohnya bukan Sehun lagi lol.

      Oh Iya emang. Kakak inget aja deh. Sooyoung udah bilang dia suka sama sehun. Tapi lain sisi dia kadang suka lupa sama apa yang pernah dia omongin. Iya dia mah gitu orangnya. Sehun digantung terus kasian aku liatnya kak, makanya sedikit aku buat berbunga bunga lah tuh anak di chapter kali ini wakakak.

      Balesan nb: kalo ngeprotek aku males bagiin pwnya ke siapa aja. Kek yang waktu itu kan pernah juga di protek dan lumayan ribet sih. Kecuali kalo kakak mau bantu haha *ngode ceritanya

      Suka

  6. Elisa Chokies berkata:

    Fan. Aku buat trailer mv AIL for u. tp tau deh cocok gk sama gambaran scene di fic km.

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      APAAAAA!!!! SYOK AKU KAK SYOK BACA YANG INI? BENERAN IH MANA MAU LIAT? ADA DI YOUTUBE KAH? *nangis terharu

      Suka

      1. Elisa Chokies berkata:

        Belum Kuupload. Sebenernya aku mau upload dari kemarin, tp takut mvnya gk pas sama plot cerita jd aku mau tanya km dulu, gk papa?

        besok siang atau sorean aku upload deh.

        Suka

      2. wufanneey berkata:

        Mau. Mau liat. Banget. Penasaran. Duh. Jangan baperin aku kak.

        Janji ya besok ya, yeay, makasih kakak!

        *kecup cinta*

        Suka

  7. Elisa Chokies berkata:

    Tapi km harus nerusin nulis AIL chapter 15 ya, jgn distop ffnya. 😀

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Ya iyalah. Aku terusin. Tapi ya jangka waktu keluarnya tiap chapter tidak terduga/?/

      Itu loh masalah utamanya .___.

      Suka

  8. wiiaawiyu berkata:

    Ending????? NO………. *nangisdikolongkasurSehun* ini aku nungguin nya sampe berlumut, dan masih belum puas sama romansa nuna-namdongsaeng ini. Hiks. Meskipun part ini buat blenger (abaikan saja bahasanya) tapi aku masih haus akan kisah dua weirdo ini.

    Tadi ada kalimat “author baik” nah karna authornya baik, bisa dong buat sequel AIL hehe… eh iya, aku juga nunggu loh FF series yg sooyoung sama jonghyun itu. Emp judulnya apa ya? pokoknya ada kris, ada yoona, pokoknya itulah. Intinya sih semua ff dirimu selalu aku tunggu dan pastinya menarik bgt buat dibaca. Ah iya, tulisanmu juga meng-inspirasi aku buat nulis ff (walau gak sebagus kamu, hehe)

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Duh, awas gagal paham say. Maksud aku ending itu buat chapter ini aja. Tapi secara keseluruhan series AIL itu belum tamat.

      Begitchu loh.

      Btw, kamu nungguin Sun Flower and Winter? Masih dalam proses ya…

      Suka

  9. Elisa Chokies berkata:

    Ini Fan → Sorry kalo jelek, aku sbenernya tengsin uploadnya, tp y udahlah silahkan lihat ^^

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Aku udah liat!!! Kyaaa itu mah bagus lah daripada aku yang ga bisa ngedit video sama sekali.

      Tadinya mau aku komen di videonya. Tapi kok susah, padahal udah masuk akun uh google-teme.

      Lagunya galau gitu kak, berasa berat banget gitu hidupnya sooyoung gegara ada si sehun. Wakakak. Entah kenapa sehunnya juga mukanya lawak, padahal dia ga lucu(?).

      Makasih banget ya kak … Termotivasi aku karena lihat FMV itu *hiks

      Ps. Aku sekalian liat video2 kakak yang lainnya. Hehe. Yaang Snow White in Reality xD

      Suka

  10. Elisa Chokies berkata:

    Hahaha. Bukan kamu aja yg ngerasa mukanya Sehun lawak, aku juga ngira gitu, Mukanya si Sehun aneh //weh//

    Lagunya mnurutku gk bgitu galau sih, soalnya Lagunya Taeyeon ngebeat jdnya gk kerasa sedih, aku asal milih semua lagu, aku miskin lagu T.T

    Oke siph, bagus klo km dapet inpirasi♪tandanya chapter 15 cepet rilis dong? hehehe, ditunggu ya fan

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Satu kata: YOUKAI!!!

      Suka

  11. Cicamica berkata:

    Omg akhirnya ini ff keluar juga lanjutannya.
    Tambah manis nih ff gua sukaaaa bangetayok lanjutin ke chapter 15 selalu ditunggu pokoknya

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Iya cica, makasih udah baca ya. Kirain udah lenyap reader fanfic ini, hiksss

      Suka

  12. soobeautifulchoi berkata:

    OMG!!! Akhirnya update jg udah lamaaaa nunggunya~
    Ceritanya mkin seru nih, sbnarnya soo ad rasa ngga sih sma kris, jd bngung
    Soo sma siapa nih ntar, bngung mau pihakin yg mna sma2 goodlooking sih~
    Btw soohun so sweet bgt dih dsnin ap lg pas yg diakhir, argghhh i love it!!
    Hahaha, sorry overreacting kya gini update soon yah~~~

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Iya huhuhu. Udah tau kan gimana tabiatku? Kalo nunggi fanfic series dari aku ya tanggung aja resikonya, wkwkwk.

      Kalo aku sih, YES! eh, Sehun, eh, Kris, eh, Samuel aja deh /nahloh/

      Ya liat aja Sooyoung sama siapa nanti. Kamu akan tau sendiri, kekeke.

      Suka

  13. yoonade berkata:

    Tυн ĸan ѕoo eonnι jd ѕнocĸ, coвa aja darι awal ѕadar ĸalo ѕeнυn ιтυ υdaн gede вυĸan anaĸ ĸecιl lagι, тerυѕ ѕoo eonnι yaн ĸlo ммg pυnya prѕaan cвlaн мgrт ĸode” ѕeнυn, jgn тerlalυ poloѕ eonnι ιngaт υмυr 😁 нeнeнeн….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s