[FF] Moonlight in Winter Night

Title: Moonlight in Winter Night
Author: wufanneey
Genre: Romance
Rating: G
Pairing: Luhan/Sooyoung
Length: Oneshot
Summary: Sepenggal episode, dimana Luhan menyatakan cintanya kepada Sooyoung, di bawah sinar rembulan di malam musim dingin.

***

Sebelum mengikat lagi rambut panjangku, aku menolehkan kepala ke belakang, menunggu orang itu juga menoleh padaku, lalu aku memeletkan lidah, “Wueek!”

Dia kaget—membulatkan matanya, “Yah! Kau akan kalah! Lihat saja!”

Aku terkekeh, “Teruslah berharap… kau nggak tahu aku berpasangan dengan pelari marathon se-Korea, ya?” aku menarik tangan Jonghyun dan menyombongkannya pada Luhan.

“Siapa? Aku?” tanya Jonghyun cengo. Ya ampun… bisa nggak sih dia bersikap sedikit keren di depan Luhan?

Kulihat Luhan tertawa-tawa. Yack! Lihat itu! menyebalkan! “Kau tidak tahu aku berpasangan dengan yeppeo shikshin? Pasti tujuannya sama denganku, kita sehati!” yeppeo shikshin? Cuih!

Dia kemudian ber-highfive ria dengan Yoona.

“Pasti, kita akan mendapatkan gudang donat dan jus tomat itu!” ujar Yoona menggebu-gebu, sambil menyenggol-nyenggol sikut Luhan.

BIG NO! Kalianlah yang akan mengatakan ‘sayonara’ pada donat-donat itu!” pekikku keras. “Ya kan, Jonghyun?”

“Emmmh… terserah sajalah…” Jonghyun memutar bola matanya.

Hai! Tentu saja aku tidak akan menyerahkan hadiah perlombaan ini pada duo rusa seperti mereka!

Hari yang cerah, memang, karena hari ini St. Nadeshiko sedang mengadakan pekan olahraga. Tepatnya, merayakan kelulusan para murid kelas 3-nya. Begitulah. Dan, aku dengan Jonghyun adalah perwakilan dari kelasku untuk lomba lari 2 orang 3 kaki. Aku terkejut sekali waktu teman-teman bilang hadiahnya… makanan! Donat cokelat, roti melon, jus tomat… Ah! Aku nggak sabar menghabiskan itu semua di hadapan Luhan. (Tentu saja, jika aku menang, pasti aku sendiri yang akan menghabiskan makanannya. Karena kudengar Jonghyun sedang mengikuti program diet.)

“Xi Luhan, kau akan gigit jari melihatku makan nanti! Hihihi!” aku cekikikan. Jonghyun memandangku dengan wajah aneh.

“Priiiiiiit!” peluit tanda lomba baru saja dimulai.

Jonghyun dan aku melaju secepat kilat. Rasanya, donat-donat itu sudah memanggil-manggil namaku… Ah! Tunggu aku, sayang!

Bye-bye, Jihyunie…” bisikku saat melewati pasangan Gikwang – Jihyun yang terlihat kerepotan karena Jihyun yang terus membetulkan tatanan rambutnya.

“Mereka itu… lari seperti dikejar hantu!” sungut Jihyun. Heh, aku bisa mendengar itu!

“Nggak juga, kurasa yang dikejar hantu itu couple XII-D…” balas Gikwang yang membuatku kaget. Aku sedikit menoleh kebelakang dan… benar! Luhan – Yoona berlari cepat sekali! Aigeu!

“Sudahlah, kita jalan santai saja… lagipula hadiahnya nggak menarik…” dengan manja Jihyun menggaet lengan Gikwang. Bukannya balapan, malah pacaran? Ckckck!

“Sooyoung, fokus!” Jonghyun menampar pipiku.

“Apa yang kau lakukan, hah? Jahat!” aku mengusap pipiku—sambil terus berlari.

“Lihat ke depan, jangan ke belakang.”

“Iya, iya… Bapak Lee, aku mengert—AAAA!” tiba-tiba saja ada yang menarik pergelangan tanganku hingga aku tersungkur di arena.

BRUK!

“Uooo…” para penonton bersorak sumbang. Bukannya menolongku?!

“Sooyoung-a, gwenchana? Tuh kan, baru kubilang tadi, lihat itu ke depan, bukan ke belakang!” dengan panik Jonghyun segera melepaskan ikatan tali di sepatunya dan sepatuku. “Kau kenapa bisa jatuh? Apa aku berlari terlalu kencang?” tanya Jonghyun bertubi-tubi.

Aku tidak merespon pertanyaan Jonghyun karena aku melihat kini Luhan dan Yoona sudah melesat jauh di depan kami, “Xi Luhan! Kau curang! Diskualifikasi! Yah! Xi Luhan nappeun nom!”

“Luhan?” heran Jonghyun. Jonghyun kemudian melihat pasangan Luhan – Yoona yang sudah berlari memunggungi kami. Sial, bisa-bisanya mereka mendahului. Mau ditaruh dimana mukaku nanti?

“Pasti dia! Dia yang menarik tanganku! Jahat!” Aku mencoba berdiri sambil menopangkan tanganku pada pundak Jonghyun. Tapi, seketika lututku tak sanggup menopang berat badanku. “Ah! Sepertinya kakiku terkilir, sialan!” umpatku.

“Sudahlah, nggak usah dilanjutkan, ikhlaskan saja hadiah itu…” usul Jonghyun, ide buruk, terimakasih.

 

“Shireo! Aku tidak akan menyerahkan hadiahku kalau mereka menang dengan cara yang tidak halal!”

“Isssh… kau itu…” Jonghyun mencibir dan menoyor kepalaku dengan telunjuknya di saat yang bersamaan. Aku merenggut sebal.

Aku berjalan terpincang-pincang. Ukh… ini benar-benar sakit. Eh, apa ini? Aku merasakan Jonghyun mengambil tanganku lalu dikaitkannya di pundaknya. Lalu dia… Apa? Dia mengangkat kedua kakiku dengan tangannya!

“WOW!” para penonton makin bersorak tak karuan ketika melihat apa yang dilakukan Jonghyun. Jangankan penonton, aku saja masih syok. Jantungku melompat-lompat, rasanya seperti… ppuing… ppuing?

Kurasakan wajahku hangat saat aku mendengar detak jantung Jonghyun. Ini berarti aku bersandar di dadanya? Sooyoung, tenang… tarik napas – keluarkan… tarik napas – keluarkan…

***

“Diskualifikasi!” cetus salah satu panitia menghampiriku dan Jonghyun setelah kami sampai garis finish. Panitia itu menyilangkan tangannya di depan dada. Dengan gaya super angkuh. Norak.

“Tapi! Tapi! Kakinya terluka!” elak Jonghyun, tanpa menurunkanku dari gendongannya? Yah! aku malu sekali, wajahku pasti sangat buruk!

“Jong… turunkan aku…” bisikku. Tapi Jonghyun tampaknya sibuk berdebat dengan panitia rambut emas yang punya nametag Kris Wu itu.

“Mereka juga harusnya diskualifikasi!” tuntut Jonghyun, “Luhan menarik tangannya hingga dia terjatuh!”

Aku melihat Luhan. Tatapan kami bertemu. Tunggu dulu? Kenapa dia melihatku seperti itu? Dia merendahkan alisnya dan matanya memerah. Dia marah? Apa dia marah karena Jonghyun menuntutnya? Itu kan memang benar! Aku yakin sekali dia yang menarik tanganku hingga aku terjatuh, tapi kenapa dia marah… dan, tatapannya padaku itu mengerikan sekali!

“Hah?” heran Yoona. “Kau menarik tangannya? Kau curang kalau begitu!” Yoona menolehkan kepalanya ke arah Luhan.

“Tidak.” Jawab Luhan, dingin. Dan suaranya itu… seakan dia memang tidak bersalah?!

Aku marah? Tentu saja! Aku tahu dia curang, “HEH! AKU TAHU KAU YANG MEMBUATKU JATUH, BAKAKO LUHAN!” mendengarku berteriak keras, Jonghyun terkaget dan tiba-tiba menurunkanku dari gendongannya.

“Tapi tidak usah sebut baka juga! Kutu rambut!”

“Kau kutu air!”

“Yah! Kau kutu—!”

“STOP!” teriak panitia berwajah imut dengan nametag Yang Yoseob. “Kalian berempat di diskualifikasi!” teriaknya dengan suara melengking.

…………

*T%&^%%%#@!!!!!

“APA?!”

Berusaha tenang dan tidak memekik-mekik seperti orang gila, aku menanyai Yoseob yang sangat imut tapi menjengkelkan itu,“Lalu pemenangnya siapa?” it’s so weird! Kenapa aku juga? Jonghyun juga? Tidak adil!

“Mereka,” Yoseob menunjuk couple bernomor punggung XII-E yang tengah minum jus tomat dengan nikmat. “Mereka baru saja sampai.” Ujar Yoseob lagi, tenang.

Aku merasa lututku seketika lemas saat Gikwang menawariku donat keju, dengan senyum khasnya—mata yang menyipit hingga nyaris tak terlihat. “Kau mau?”

“Hihihi… ternyata kita menang, ya…” Jihyun cekikikan sambil menyeruput jus tomatnya.

Ah… kepalaku berkunang-kunang… dan yang terakhir kudengar adalah suara Jonghyun, “Choi Sooyoung, jangan pingsan!”

***

Aku membuka mata perlahan. Menyesuaikan dengan cahaya lampu yang langsung menyergap. Aku mengerjap beberapa kali. Kemudian memegangi kepalaku yang terasa pening. Ah.. di UKS ternyata. Dan, aku melihat Luhan yang tertidur di kursi. Tunggu, Luhan? Kenapa Luhan yang bersamaku di sini?

“Ya ampun, jam berapa sekarang?” Aku melihat jam di pergelangan tanganku. “Jam 5 sore?!” pekikku histeris. Umma akan mengomeliku sesampainya di rumah nanti!

Dengan cepat aku beranjak dari kasur dan membereskan barang-barangku yang ternyata ada di sana. Mungkin seseorang membawanya kemari. Pantas saja UKS sepi begini, semua warga sekolah pasti sudah pulang. Aku segera memakai sepatuku dan menghampiri Luhan. Aku hendak menepuk pundaknya. Tapi, wajahnya lucu sekali saat tidur. Ahaha, ini akan sangat bagus!

“Ah, sebentar.” Aku mengeluarkan handphone-ku dan—

Jepret!

—memotret wajah tidur Luhan.

“Wajahmu polos sekali saat tidur, hahaha…” Eh? Polos atau… Luhan punya garis muka yang tidak begitu tegas, jadi wajahnya sangat mulus. Seperti ulzzang—eh, bukankah dia memang ulzzang, ya? Atau lebih simpelnya dia tampan! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?

“Eh… apa-apaan aku ini?” aku memukul kepalaku sendiri. Mulai berpendapat bodoh… Aigeu, Choi Sooyoung!

Aku mendekat, melihat wajah Luhan lebih jelas, dan ajaib! Kepalaku yang pening seketika kembali normal! Tapi sekarang jantungku yang bermasalah karena dia ber-ppuing ppuing, lagi? Tadi pada Jonghyun, dan sekarang Luhan? Ada apa sih denganku?

Ini semakin aneh, aku nggak paham apa yang kulakukan, semuanya terjadi seperti jarum jam yang terus berputar… aku nggak mengerti saat aku sudah—

Cup!

—mengecup kening Luhan. Astaga. Siapapun, beritahu aku! Sungguh, kalian boleh percaya atau tidak jika aku mengatakan kulit wajahnya adalah hal terlembut yang pernah di sentuh. Dan begitu hangat dan nyaman dan halus dan—

Grab! Tiba-tiba tangan Luhan bergerak cepat dan menangkap tanganku.

Luhan sudah close up! Membuka kedua matanya lebar-lebar dan aku tahu aku akan mati gaya setelahnya. Dia menggenggam erat tanganku dan memberiku tatapan nakal. Aku bingung sekaligus malu. Wajahku saat ini pasti seperti maling yang tertangkap basah mencuri Ayam!

“Apa yang kau lakukan, Sooyoung?”

“Apa-apaan tatapanmu itu!” aku menepis tangannya cepat dan memukul lengannya. Jantung, berdetaklah dengan normal! Aku memegang dadaku dan mengusapnya pelan. “Sudahlah! Ayo, kita pulang.” Ujarku terbata, apa yang sudah kulakukan sih? Dia menyadarinya? Gila!

“Oi! Oi! Nona Choi! Kau harus jelaskan padaku apa yang baru saja kau lakukan, yah!” kudengar langkah kaki di belakangku saat aku sudah keluar dari UKS, “Choi Sooyoung! kau baru saja menciumku, kan? Mengaku sajalah!”

Mwoya? Aku sendiri bahkan tidak berani bertanya seperti itu pada diriku, apalagi kau yang bertanya?! Michigetta!

“Sooyoung—!”

“Sekali lagi bicara, kugantung kau di ring basket!”

Dengan itu, Luhan berhasil mengunci rapat mulutnya. Good boy.

***

“Padahal tadi hari sangat cerah… Kenapa tiba-tiba turun salju, sih?” aku menunduk sambil merapatkan mantelku. Aku melihat langkah kaki Luhan yang menapak di atas salju. “Oi, jangan lupa ya! Gara-gara kau aku kehilangan makananku! Kau harus menggantinya!” semburku.

“Kau ada rencana akan kemana setelah ini?” tiba-tiba Luhan bertanya, membuat aku mengangkat kepala dan kini punggung Luhan terlihat olehku. Aku menyukai punggung lelaki yang tegap dan lebar, seperti Jaejoong-sunbae atau Siwon-sunbae. Tapi entah sejak kapan aku mulai suka memperhatikan punggung Luhan.

“Tentu saja pulang ke rumah.” Jawabku kalem.

“Bukan itu, maksudku… kau akan melanjutkan kuliah kemana?”

“Oh itu.. kurasa aku akan ke Seoul.” aku mengusap kedua tanganku lalu meniup-niupnya. Selain nggak bawa syal, aku juga nggak bawa sarung tangan. Mungkin omelan Umma tiap pagi buat menyuruhku membawa itu semua ada bagusnya juga.

“Kalau kau kemana?” aku balik bertanya.

Tap. Langkah Luhan seketika terhenti. Membuatku yang menundukkan wajahnya menubruk punggung Luhan.

“Aw! Yah, kalau kau mau berhenti bilang-bilang dulu!” sungutku sebal, lalu mengusap keningku  yang beradu dengan punggung Luhan tadi. Ish… anak ini… “Xi Luhan—!”

“Aku akan ke China.”

“Eh?” Seketika aku berhenti dengan aktifitasku—mengusap kening—sembari menatap Luhan—punggungnya.

“Aku mendapatkan beasiswa,” sambungnya. Nada suaranya kini terdengar lebih serius. Membuatku menautkan alisku. Ke China? Dia… sama sekali nggak pernah memberitahu tentang ini sebelumnya… kenapa? “Selain itu, Nenekku bilang juga dia merindukanku. Jadi, aku akan tinggal di tempatnya selama aku di sana. Oh iya, kau belum pernah kan bertemu Nenekku? Dia adalah wanita tua cerewet yang akan kau kenal seumur hidupmu, hahaha.”

“Mmm… baguslah…,” aku tersenyum tipis, walau dia nggak melihatku karena dia masih memunggungiku. Dan saat ini aku berharap dia tidak berbalik dan menatap wajahku. “Kapan berangkat?”

“Besok.”

“Xi Luhan, jangan bercanda…” aku melangkah hingga tubuhnya sejajar dengan Luhan. Jujur, sekarang aku nggak habis pikir! Dia baru mengatakan akan ke China dan besok dia berangkat! “Bagaimana bisa kau baru mengatakan sekarang padaku… dan besok kau akan pergi?” Haha… bodoh, suaraku menjadi serak. Aku merasa pandanganku memburam. Apakah efek udara yang buruk?

“Apa wajah seperti ini adalah wajah bercanda?” dia menoleh dan menatapku intens. Tidak… jangan menatapku seperti itu jika kau tahu lututku lemas setiap kali bertatapan denganmu! Sorotan mata cokelatnya yang teduh… aku tidak mau melihatnya Xi Luhan! Tidak sekarang!

“Oke, kau serius! Dan aku juga serius saat aku pernah bilang bahwa kau JAHAT!” aku melangkahkan kakiku cepat. Masa bodoh dengan dia yang mengejarku sambil memanggil namaku. Jika memang kau tidak mau membuatku semakin bodoh, berhenti mengejarku memanggil namaku karena aku tidak mau kau melihat airmataku! Bakako Luhan!

Ke China? Silahkan saja! Jangan pedulikan aku! Kenapa kau harus mengatakannya padaku? Dan, kenapa aku harus marah padamu? Ini salah! Tidak benar!

Aku berhenti berlari saat ternyata aku sudah sampai di Halte Bus. Yang kurasakan adalah lututku sakit, dan pegal-pegal. Secepatnya aku ingin naik bus dan pulang ke rumah. Meruntuki diriku sendiri dengan bebas dan tidur sampai besok pagi. Aku…

CKIIIT!

Bus datang tepat waktu, pintunya terbuka otomatis dan aku ingin segera cepat naik sebelum, “Maaf, Sooyoung.” Tiba-tiba dia memelukku dari belakang.

***

 

“Kalian jadi naik atau tidak?” Luhan membungkuk—mohon maaf—menanggapi pertanyaan Pak Supir yang wajahnya sudah kelihatan kesal. Aku meniup poniku. Lalu menarik tangan Luhan. Kemudian kami duduk di ayunan.

Aku diam saja. Moodku untuk pulang ke rumah hilang sudah. Yang kuinginkan sekarang adalah, mendengar penjelasan Luhan. Sebagai seorang sahabat yang pengertian dan rendah hati, seharusnya dia tahu apa yang harus dikatakannya! Bukannya ikut membisu sepertiku!

“Empat tahun itu nggak akan terasa lama, kok.” Dia memulai, sedang aku mencoba mendengarkan.

“Aku nggak yakin,” kataku cepat. “Punya teman yang bisa diajak berdebat selain kau.”

“Bagaimana dengan Jonghyun?”

“Dia terlalu polos kalau kusumpahi dengan kata-kata kebun binatang.” Luhan tergelak mendengar alasan konyolku. Tapi, faktanya Jonghyun memang begitu.

“Jadi, yang kau sumpahi dengan kata-kata binatang selama ini hanya aku?”

“Baru tahu, ya?” cibirku, manyun-manyun. Ujung sepatuku kugesekkan pelan-pelan pada salju di bawahnya. Menimbulkan pergerakan kecil pada ayunan yang kunaiki. Seakan menyadari apa yang kumau, Luhan lantas beranjak dari tempatnya duduk dan mendorong ayunanku dari belakang.

“Ah, aku nggak tahu gimana kehidupanku tanpamu di sana, nantinya.” Luhan menerawang langit-langit yang berselimut gelap, keseluruhan. Tak dapat kulihat bintang bersama Luhan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya. Yang ada cuma cahaya bulan yang terpotong awan. Nyaris memias, tak terlihat. Astaga, aku akan merindukan saat-saat ini…

“Memangnya kenapa? Harusnya aku, kan, yang paling panik kalau kau nggak ada. Orang yang bisa kupalaki makan siang, no one.” Aku membalasnya dengan kekehan kecil.

Luhan menarik napas pendek, lalu dia hembuskan dalam sekali gerakan. Kala dia menunduk lalu melingkarkan tangannya di leherku, dari belakang. Hidungnya bergesekan dengan telingaku! Oh God

Jantung! Kumohon! Berhenti berdebar berlebihan!

“Justru aku yang ketakutan. Apa kau bakal mencari orang yang bisa kau mintai makan siang itu, orang yang kau teriaki kata-kata kasar, orang yang mengajakmu berdebat setiap hari, orang yang pulang pergi ke sekolah bersamamu…” Luhan mengeratkan pelukannya di leherku. Dari samping, aku dapat melihatnya memejamkan mata. Yang bisa kuharap saat ini adalah, dia tak mendengar detak jantungku. “Dan, yang paling penting, dari itu semua adalah… aku takut… kau akan mencari penggantiku.”

“Maksudmu apa, sih?”

“Sebelum aku pergi, aku mau minta maaf,” bukannya menjawab, anak ini malah bicara hal lain—mengalihkan topik. Aku kesal tapi membiarkannya saja. “Karena aku, Yoona dan Jihyun dan teman-temanmu yang lain, sering mengejekmu karena nggak pernah punya pacar.”

“Huh?” Cuma itu yang bisa kulontarkan. Payah.

“Waktu di Junior High School, aku yang suka membully teman setiap laki-laki yang mendekatimu. Aku tidak pernah membiarkan satu pun surat cinta ada di lokermu. Aku yang memakan semua cokelat valentinemu. Bayangkan, kau yeoja dan kau mendapatkan banyak cokelat valentine!”

“Tunggu! Aku? Dapat cokelat?”

“Sampai ceritaku habis, Nona. Lalu silahkan berkomentar,” peringat Luhan. “Disaat pertamakali masuk St. Nadeshiko, ada seorang Sunbae yang suka padamu, namanya Yoon Doojoon. Di kelas pertama kita pun, Kris naksir padamu. Bahkan di Klub Panahan pun, masih ada yang suka memperhatikanmu diam-diam!” Luhan menjelaskan dengan emosi menggebu-gebu. Sampai sekarang aku masih bingung dia minta maaf atas apa. Apa mungkin… karena iri kepadaku? “Di sekolah, aku kesulitan mencari tempat untuk tenang, supaya terhindar dari mata-mata penasaran para stalkermu. Makanya aku selalu mengajakmu pulang bersama, supaya kau lebih banyak punya waktu denganku.”

Luhan menghela napas sejenak. Sementara otakku mulai mencerna semuanya, satu-persatu, perlahan-lahan. Dan, rasanya ada yang aneh…

“Luhan… Jadi… maksudmu… kau suka… padaku?” susah payah kususun kalimat itu di kepalaku, dan malah terlontar dengan aneh.

“Dasar bodoh! Bebal!” umpat Luhan. Seketika aku memukul kepalanya dan dia mengerang kecil. “Pernah nggak kau tanya kenapa aku menanyakan pendapatmu waktu Chorong menembakku? Kenapa hubungan kami nggak berjalan langgeng? Kenapa aku nggak pernah membiarkanmu sekelompok dengan lelaki lain? Kenapa aku marah waktu kau digendong Jonghyun tadi? Pernah kau bertanya begitu?”

Aku menggeleng.

“Makanya!” Luhan memutar tali ayunannya, sampai wajah kami kini berhadap-hadapan. “Aku minta maaf! Aku minta maaf untuk semuanya! Karena cinta sepihakku, kau jadi nggak punya kesempatan berdekatan dengan lelaki selain aku!”

“Kau ini,” aku mendesis. “Sebenarnya minta maaf atau membentakku?”

Luhan bergeming, namun tetap kami bersitatap. Di satu sisi, aku merasa bodoh karena baru menyadarinya sekarang. Tapi di sisi lain, aku juga… ikut senang… ada kelegaan tesendiri dariku setelah mendengar pernyataan cinta Luhan. Pernyataan cinta terbelit-belit yang pernah kudengar.

“Jadi, baru tahu, huh?”

“Seperti katamu.” Sembari tersenyum jahil ke arahnya, aku memindahkan tanganku dari pegangan ayunan dan mengaitkan tanganku di belakang lehernya.

Dia meletakkan salah satu tangannya di punggungku, menarikku lebih dekat, kemudian menelusuri sepanjang rahangku dengan jari-jarinya. Aku berada di ambang napasku, hampir takut karena ciuman yang kusaksikan di drama-drama televisi akan segera terjadi. Bibir kami hanya terpaut beberapa inci. Kemudian wajahnya menjadi serius, dan dia pun menutup jarak di antara bibir kami.

Aku menutup mata, meleleh. Bibirnya—Oh damn, his lips—ketika kupikir wajah mulusnya adalah sesuatu yang paling lembut yang pernah kukecup. Dan hangat, boleh percaya atau enggak. Aku merasa melayang. Aku sulit percaya aku ada di sini, dan Luhan menciumku, dan itulah ciuman pertamaku.

Apa aku harus melakukan hal lain? Aku nggak pernah berciuman sebelumnya, demi apapun! Astaga aku harus bagaimana…

Luhan pasti memikirkan hal yang sama, karena dia menggerakkan bibirnya perlahan. Aku menjawabnya dengan bibirku, dan kami belajar berciuman. Di sana, dengan aku yang duduk di ayunan, dan dia berjongkok di hadapanku.

Itu benar-benar menakjubkan.

Setelah beberapa saat—aku merasa seperti selamanya sekaligus sekejap mata—aku dan Luhan memisahkan diri. Luhan lalu menatapku intens.

“Kau yakin itu first kiss-mu?” tanyanya jahil, menatapku pura-pura curiga. Berhentilah bersikap bodoh, Lulu.

“Memangnya itu bukan yang pertama buatmu?” Oh, no! Bagaimana kalau tadi aku nggak melakukannya dengan benar? Aku, kan, benar-benar nggak tahu caranya!

Dia tertawa. “Tapi, aku ingin melakukannya lagi…”

Aku memeluk lehernya dan mengabulkan keinginannya. Kenekatan dari mana aku nggak peduli, yang jelas saat itu aku gila karena langsung menempelkan bibirku ke bibirnya. Sekali lagi, kami terhanyut.

***

Di perjalanan pulang, selama di dalam Bus, Luhan nggak sedetik pun melepaskan tautan tangannya denganku. Kami terus bergandengan. Sepanjang jalan, sampai dia mengantarku ke depan rumah. Saat itu pun, Luhan terlihat enggan melepaskan genggaman tangannya.

“Sooyoung…”

“Hm?”

“Kau akan mengantarku ke bandara besok?”

“Aku nggak punya banyak waktu. Aku sibuk, tahu!”

“Kalau begitu… Karena setelah ini… kita nggak bakal bertemu lagi,” Luhan mendesah—mungkin agak berat baginya mengucap itu. “Aku mau tanya… kalau-kalau kau…”

“Apa?”

“Um… Uh… Kau… Aku berpikir jika kau…”

“Lulu, jangan jadi menyebalkan, kumohon.” Sungutku, seraya melipat tangan di depan dada. Aku nggak suka sikapnya yang suka tarik ulur begini, membuat penasaran saja.

Sementara Luhan menggaruk tengkuknya—tampak gugup setengah mati. “Maukah kau menikah denganku?”

“APA?!”

“Bukan! Bukan sekarang maksudnya! Tapi nanti… suatu saat… kalau aku sudah sukses, dan kau juga… dan kita bertemu lagi…”

Aku berpikir sejenak. Luhan kelihatan nggak sabar menunggu jawabanku. “Um… aku sudah kehilangan first kiss-ku, apa boleh buat?”

“Jadi?” tanyanya, masih nggak sabaran.

Fine.” Aku tersenyum tipis.

Spontan aku kaget karena menerima pelukan tiba-tiba dari Luhan. “Di masa depan, ingat. Di-masa-depan!” Aku masih tersenyum, seraya membalas pelukan Luhan.

Di masa depan, entah kapan, tapi aku akan mengingatnya, Luhan.

***

A/N: arsip lama, awalnya ini pairing Jongyoung, tapi karena ada yang req Soohan, yaudah kuganti jadi Luhan aja, hohoho…

Iklan

15 Comments Add yours

  1. febryza berkata:

    oh jadi ini awalnya jongyoung toh pantesan kok kayaknya diawal-awal malah so sweet banget moment jongyoungnya duh kan jiwa jongyoung kumat.. ejie luhan saking takutnya sooyoung punya pacar ampe cowok2 yg mau ngedeketin sooyoung di awasin terus hahaha bahkan ampe coklat buat sooyoung diambilin hahaha ya ampun lulu untung sooyoung mau ama dia kalo engga ya udah sooyoung diambil jonghyun entar *eh kan jongyoung lagi*

    Suka

  2. chevelyyn berkata:

    Awalnya mah aku ngakak sama perkelahian soohan. Astaga mereka cocok ya beranteman gitu ternyata. Lucu!! Dan aku tambah ngakak pas tau jihyun yang menang lomba.

    Dan akhirnya momen manis soohan! Dengerin pengakuan luhan dan luhan mau nikah sama sooyoung. Aku reaksinya juga sama kayak sooyoung. Kaget, mereka baru lulus. Dan mereka mau nikah. Tetapi ternyata itu masih nanti. *ikutan lega* *terlalu terbawa suasana*

    Baguss seperti biasanya, kak! Semangat bikin ff lainn ;D

    Suka

  3. SooHunHan102012 berkata:

    Ini sumpah keren ff nya.Senyum mulu dah aku baca nya.
    Tapi kok aku rasa end nya gantung.Kalo ada sequel post dong thor.
    Soohan shippers merasuki jiwa nih.

    Suka

  4. M.Farrel berkata:

    Gue, pertama kali tahu lo nulis tentang Soohan aja langsung excited.

    Oh jadi Jonghyun, btw jonghyun yang mana nih? Jonghyun shinee atau jonghyun cnblue? Gue kebayangnya Cnblue. Abis karakternya pas sama Jonghyun Cnblue, setingkah lakulah sama kyuline. Pemales kalo lari.

    Gue juga gak tahu kenapa. “panitia rambut emas yang punya nametag Kris Wu itu.” gue ngakak sama kris disini. Emang dah kris tuh…norak banget dah, pantes banget di buat bictchy-bitchy.

    Dan gue suka betapa ceritanya mengalir. Dari lomba lari ke ruang kesehatan. Sooyoung yang genit cium Luhan karena kulitnya halus. (Wajar sih, gue juga sering ngelihat orang yang pipinya halus pingin nge-cup.) Sampai ke hari bersalju, dimana gue yakin mereka udah deket. Ah syalala. Gue suka

    Suka

  5. Vi berkata:

    Agak cepet ya alurnya? Rencana berapa part fan?
    Ff kamu ini selalu punya ciru khas, bahasa yg kamu gunain itu santai asik gimana gitu ^^

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Makasih kak, maaf tapi ini cuma oneshot

      Suka

  6. Choi Je Kyung berkata:

    Kirain dengan Jongyoung. Tapi ternyata berakhiran dengan Luhan yah 🙂
    Boleh dilanjutin gak? Penasaran bagaimana endingnya dengan mereka. Terus bagaimana dengan Soo eonnie yang menunggu Luhan.
    Please… lanjut yah ^_^

    Suka

  7. winterchan berkata:

    IHIHIHIHIHIHIH MANIS BANGEEEEEET sampe giung!
    duh takut diabetes. Luhan nya lucu banget sih ga tahan!
    Luhan keren ya, baru juga confess langsung ngelamar muahaha.
    sooyoung sampe pingsan gara-gara ditawarin donat doang xD gak paham deh sama sooyoung wkwk.
    Serius deh ini masuk dalam dalam favorite soohan oneshot aku!
    incredible! (?)
    daebak daebak! 😀
    harus bikin soohan lagi kapan-kapan mehehe 😀
    semangat!

    Suka

  8. ayukdam berkata:

    Hahahha lucu cerita.ny…
    Soo ama luhan gak pernah akur eee tau.ny malah jadian hahha
    Hahah luhan makan semua coklat Valentin yg dikasih semua cowok buat soo??? Gak gendut tu luhan ngabisin semua coklat.ny hihi
    Ending.ny ngegantung chinguuuu dikasih AS.ny yaaa…buat soohan ketemu setelah sukses gitu heheh

    Suka

  9. kyuufy berkata:

    daebbak thor ff nya, sayangnya oneshoot yah , bikin sekuelnya dong biar tambah greget gitu . oh yaa selain yoonhun shipper aku juga penggila soohan shipper loh eon *siapayangnanya?* gak ada! . teruskan thor

    Suka

  10. kyuufy berkata:

    daebbak thor ff nya, sayangnya oneshoot yah , bikin sekuelnya dong biar tambah greget gitu . oh yaa selain yoonhun shipper aku juga penggila soohan shipper loh eon *siapayangnanya?* gak ada! . teruskan thor!!hwaiting

    Suka

  11. megha34 berkata:

    ah, manisnyaa….. momentnya sweet banget ;;) bikin melting bacanya, demi apa berharap sequel 😀 kkk~ suka banget karakter sooyoung sm luhannya disini 😀 Nice chingu (y) di tunggu next ff atau sequelnya 😀

    Suka

  12. Jeni berkata:

    Wah manis banget sih
    luhan emang cocok banget sama cerita yang manis manis gini wkwk
    Semangaat yah keep write 😉

    Suka

  13. SYLove berkata:

    Aku kira Luhan dan Sooyoung itu musuhan, eh gak taunya sahabat.

    Kalo masalah makanan jgn pernah ngeraguin Sooyoung tapi ngakak aja karena Jihyun yang menang hahaha

    SooHan bikin greget pas di ayunan. Itu romance pake banget (bagi diriku ini)
    Saling suka tapi bilangnya pas mau pisah (agak disayangkan) tapi Sooyoung kyk gak cemburu sdkt pun..

    Wooo..nama penghuni kebun binatang! Lucu juga hahaha
    Sooyoung ga peka kalo Luhan suka sama dia dari dulu (duh, SY unni gmana sih)

    suka bgt pas mereka kisseu dibawah sinar bulan HOHOHO
    Andai aku disana, aku foto mereka!!

    R.N(?): Nice FF! Alurnya tadi ga ke tebak sama aku (Yeaahh!) atau mungkin aku lg ga connect wkwkwk
    Sekian & Terimakasih 😀

    Suka

  14. wiiaawiyu berkata:

    Ah ini gula banget… 😍 apalagi pas lulu sama syoo berantem.. aku suka sama alur dan bahasa yg digunakan..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s