[FF] Second Life Sensation – Chapter 05

Title: Second Life Sensation
Author: Fanneey (Replay)
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Rating: G
Length: Series
Language: Indonesian
Cast(s): Cho Kyuhyun [SUJU], Choi Sooyoung [SNSD], Shim Changmin [TVXQ], Lee Jonghyun [CNBLUE]
Summary: Cho Kyuhyun menyukai sahabatnya, Shim Changmin, yang ternyata malah menyukai Choi Sooyoung yang notabene musuh bebuyutannya di Sekolah. Tapi, siapa sangka? Kyuhyun memiliki kesempatan untuk mengubah takdir cintanya dalam waktu tiga hari.
Inspiration: “49days” Korean drama, “Ghost” Korean film, “Love is Cinta” Indonesian film.

wufanneey-106

 

Chapter Five – His Forgiveness

“Sudahlah, aku memaafkanmu. Jangan nangis, cengeng.” Ujarku sambil tersenyum. Melihat wajahnya yang terpantul di cermin.

“Sebaiknya aku yang mati! Cho Kyuhyun bodoh!” dia mengangkat gunting yang dipegangnya tinggi-tinggi. Andwae, aku tahu apa yang akan dilakukannya. Andwae!

Andwae, Choi Sooyoung!

***

Kyuhyun’s Pov

“Kau sudah mati. Maka apa yang kau lakukan di sini?”

Aku tersentak. Seorang wanita baru saja menarik rohku terlepas dari tubuh Sooyoung. Dia berambut cokelat panjang-bergelombang dan berpakaian stylish. Siapa orang ini? Dia tiba-tiba muncul dan bisa melihatku?

Jangan-jangan…

“Nuguya?” aku berdiri dan manatapnya.

Dia tersenyum sinis dan melipat tangannya di dada.

“Harusnya aku yang bertanya, siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?”

 

“Cho Kyuhyun imnida.” Kataku cepat.

 

“Arra.”

 

“Aku sudah mati.” Kataku lagi. Dia mengangkat sebelah alis. Meminta penjelasanku lebih lanjut, sepertinya. Tanpa sadar seharusnya aku yang meminta penjelasan itu darinya!

 

“Geurae?”

 

“Entahlah, aku menyelinap ke tubuh manusia yang masih hidup. Begitulah…” ujarku cuek.

 

“Majayo! Dan itu melanggar hukum! Kau akan mendapat sanksi yang berat!” ujarnya menggebu-gebu. Dengan kilatan cahaya merah di sudut mata rubinya.

 

“Maksudmu?”

 

“Kau tahu, kemarin, aku mencari-carimu kemana-mana tapi kau tidak ada di lokasi kejadian! Aku mencarimu di tempat kau tabrakan kemarin! Tapi tidak ada. Sebenarnya kau itu kemana, hah? Aku sempat putus asa mencarimu, tapi—”

 

“Heh, chakkan, sebenarnya kau ini lagi bicara apa?”

Dia berpenampilan sangat aneh dan berkata tidak jelas. Jelas aku curiga, kan. Tapi bukannya menjawab pertanyaanku dia malah melanjutkan ocehannya. Menyebalkan.

“—tapi aku menduga kau akan datang ke pemakamanmu. Dan benar saja, aku mengendus baumu. Dan kau ternyata memasuki tubuh Choi Sooyoung.” Sambungnya.

 

“Bagaimana kau bisa tahu…” aku makin kebingungan, menggaruk bagian belakang kepalaku yang tidak gatal. Argh! Semua ini terlalu rumit!

 

“Aku bertugas membawa roh pergi ke kehidupan selanjutnya, tentu saja aku tahu nama gadis itu Choi Sooyoung, karena nama itu ada di daftar tugasku selanjutnya,” dia menunjuk Sooyoung yang sekarang terbaring di tanah.

Aigoo, aku lupa sekarang aku sedang berada di tempat pemakaman. Dan yang kulihat sekarang adalah… Changmin yang membopong tubuh Sooyoung masuk mobilnya. Kukira Changmin menyangka Sooyoung pingsan. Eh, tapi dia memang pingsan, sih. Cih, aku tidak suka melihat adegan itu. Dan, aku juga tidak suka melihat wajah cemas Changmin untuk Sooyoung.

“Bocah, kau mendengarkanku tidak?” wanita ini menyentil dahiku.

 

“Owh!” aku sedikit meringis karena kuku merahnya yang panjang-panjang. “Ya. Jadi intinya kau itu apa?!”

 

“Cheonsa,” jawabnya singkat. Sukses membuatku terkejut setengah mati—eh aku kan sudah mati. “Dan, aku harus cepat membawamu pergi sebelum Bos memarahiku! Dia akan menyuruhku memakan bola api kalau sampai telat lagi!”

Jadi… Jadi? Dia ini malaikat. Malaikat pencabut nyawa begitu? Hya!

“Jangan bengong. Ayo ikut aku!” dia menarik tanganku dan memborgolnya. Hei, sejak kapan dia bawa borgol?

 

“Yah! Kenapa diborgol?!”

 

“Karena aku berfirasat kau akan kabur,” katanya. “Benar, kan?”

Aku akui tebakannya benar.

“Sebentar, sebentar. Aku mau tanya, kenapa aku tidak diberi kesempatan hidup 49 hari lagi?” aku bertanya, penasaran saja. Siapa tahu cheonsa bodoh ini lupa sesuatu akan hal itu.

 

“Tentu saja. Kau kan sudah mati. Dan kesempatan itu hanya untuk orang yang koma.”

Sial.

“Mohonlah, barikan aku kesempatan! Seminggu… saja.” Aku memelas padanya. Dia menatapku galak.

 

“Andwae!”

 

“Ah, wae?”

 

“Tidak, ya tidak!”

 

“Wae, wae, waeyo?”

 

“Neo, jinjja—!” dia menjitak kepalaku dengan sangat keras. Rasa sakitnya sungguhan! Hah? Kenapa aku tidak tembus pandang di hadapan cheonsa?

 

“Kalau begitu lima hari sajalah…”

 

Dia menggeleng keras. “Aku adalah warga langit yang patuh. Aku tidak mau ya, melanggar hukum hanya untuk bocah laki-laki  yang baru mati.”

 

“Kalau begitu anggap saja ini permintaan terakhir  dari seorang bocah (aku tidak rela mengatai diriku sendiri bocah, sebenarnya) laki-laki yang baru mati itu.” Aku terus memelas dan memandangnya seolah aku anjing hilang yang harus dikasihani. “Jebal…”

 

“Ish, menyusahkan.” Dia kemudian melihat handphone-nya, dan mengetik sesuatu—entah apa itu—lalu dia menatapku intens. “Aku punya waktu untuk mengurusmu hanya tiga hari, lalu aku punya tugas untuk mengerus arwah lain lagi setelah itu.” Aku berfirasat ini kabar bagus buatku. “Jadi, jangan lakukan hal yang macam-macam selama tiga hari itu. Jangan membuat masalah, jangan merepotkan orang lain, lakukan keperluanmu secepatnya!”

 

Mataku berbinar-binar mendengarnya. “Cheonsa-noona, kau mengijinkanku?”

 

“Sejak kapan aku minta di panggil Noona? Dan, Cheonsa itu hanya sebutan! Namaku Park Gyuri!” ketusnya.

 

“Yah, Noona. Kau baik sekali!” aku melompat-lompat kegirangan seperti orang gila lalu memeluknya erat. Aku tahu aku cukup bodoh untuk mengakui ini. Tapi, ini keajaiban.

 

“Satu syarat lagi!” ujarnya, dan aku melepaskan pelukanku. “Jangan gunakan tubuh Choi Sooyoung saat dia dalam keadaan sadar, dan jangan campuri urusan pribadinya. Aku akan menjemputmu pada jam 3 di hari ketiga.” Jelasnya dan aku mengangguk-angguk. “Awas saja. Aku selalu mengawasimu, bocah!”

 

“Arraseo!”

Setelah itu, saking senangnya. Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Yang aku tahu,… kesempatanku hidup hanya tiga hari lagi.

Apa yang akan kulakukan untuk tiga hari itu?

Apa yang akan kulakukan…

Ah, benar.

Aku belum memikirkan soal itu.

Aku tidak tahu.

 

***

Langkahku tidak terdengar walau aku memakai sepatu. Terpajang berbagai rangkaian bunga di depan rumahku. Bertulisakan ‘Turut berduka cita’ dan kalimat-kalimat duka lainnya yang serupa. Aku tahu ini menyakitkan untuk dilihat, tapi, inilah kenyataannya. Aku memang sudah tidak ada, aku tidak lagi menempati rumahku.

Aku masuk. Kulihat Ahra-noona sedang duduk di ruang TV. Pandangannya melihat ke arah TV, tapi kurasa tidak pikirannya. Ahra-noona pasti tidak bisa melepaskan kepergianku, dia seharusnya meminta maaf padaku! Kakak macam apa coba yang suka menyiksa adiknya? Heuh… dasar Cho Ahra.

“Aku tahu seharusnya kau yang berlutut dan minta maaf padaku. Kau punya banyak dosa padaku, Noona. Tapi, jangan khawatir, aku kan anak baik. Aku sudah memaafkanmu, kok. Bahkan sebelum kecelakaan itu. Kita kan pasangan Adik-Kakak yang paling keren.” Ujarku, aku mengambil nafas sejenak untuk melanjutkan. “Jadi, Noona juga harus memaafkanku, ya?”

Aku tersenyum hambar. Ahra-noona hanya diam. Terus menatap layar TV sambil meneteskan airmatanya. Dia tidak bisa melihat apa, tontonan komedi itu bikin orang tertawa dia malah menangis.

 

Noona, jangan pikirkan aku terus. Kau cengeng banget.

Sudahlah, beres urusanku dengan Ahra-noona. Selanjutnya…

Aku berjalan pelan menuju kamar Ibu. Aku diam di depan pintu saat terdengar suara isakan Ibu. Dia menangis di dekapan Ayah. Oh, Ayah sudah pulang rupanya. Aku tidak berani masuk walau kutahu masuk pun mereka tidak bisa melihatku.

Ini berat untukku, dan juga mereka.

“Maaf Eomma, Appa. Aku belum membahagiakan kalian… kan ada Ahra-noona, dia akan menggantikanku mengurus kalian. Dia lebih baik dariku…”

Aku tidak tahan lagi. Suara tangisan Ibu yang menjadi-jadi membuatku ingin ikut menangis.

Jebal, geumanhaeyo…

Hentikan, Eomma. Aku tidak cukup pantas untuk Eomma tangisi.

 

***

Targetku selanjutnya adalah Changmin. Shim Changmin temanku. Yang beberapa hari yang lalu menghianatiku karena dia membuat janji kencan dengan Sooyoung. Aku sadar aku berlebihan. Ya, ini cuma cemburu. Tapi kan, tetap saja. Changmin berhianat di belakangku.

Eh, kata ‘berhianat’ itu sendiri terlalu kejam tidak sih untuk ku cap kan pada Changmin?

Biarlah.

Toh, memang dia yang salah. Aku harus menuntutnya untuk permintaan maaf! Aku bahkan harus melihatnya bertekuk lutut di hadapanku! Hei, dia sudah membuatku patah hati, ingat?

 

Shim Changmin, awas saja kau…

Aku mendatangi rumah Changmin dan melihat dia sedang duduk di teras. Dia memandangi foto kami—aku dan Changmin—di tangannya.

Aku ingin tahu apa yang ada di benaknya. Apa dia memikirkanku? Dia ingin meminta maaf? Ayo, cepat minta maaf kalau begitu!

“Kau. Kau puas aku sudah mati kan. Jadi kau bisa leluasa mendekati Sooyoung tanpa khawatir persahabatan kita akan hancur. Karena kau berpikir aku penghalang kan? Aku penghalang antara kau dan Sooyoung. Ah, aku tahu itu yang kau pikirkan. Aku kesal denganku? Pasti iya. Kau ingin menghajarku, aku tahu!” semprotku, dia tak mengidahkanku.

“Kalau begitu—!” aku berhenti sejenak. “Aku minta maaf! Gantikan juara taekwondo di sekolah, ambil posisiku di rangking satu, banggakan Eommamu dan tunjukkan kau juga bisa lebih hebat dariku! Geurigo… cari teman yang lebih baik, Changmin-a…”

Aku pergi setelah mengucapkannya. Tapi perasaanku tak sepenuhnya lega. Karena sebelum aku benar-benar berbalik pergi, kulihat Changmin merobek foto itu dan membuangnya sembarang.

Dia benar-benar membenciku.

 

***

 

Aku mendatangi rumah Sooyoung. Lampunya temaram. Ya, hari memang sudah malam. Yang bisa kudengar hanya suara jangkrik mengitari rumah besar itu. Aku yakin tidak ada orang di rumah selain Sooyoung dan para pelayannya.

Samar aku melihat seseorang baru saja keluar dari rumahnya. Seorang cowok. Kemudian cowok itu menaiki motor yang terparkir di depan pagar lalu menyalakan mesinnya, dan melaju pergi. Motor itu melaju melewatiku—lebih tepatnya menembus tubuhku. Aku bisa melihat wajahnya yang tak memakai helm. Aku sering melihat cowok itu berdua dengan Sooyoung. Yang aku tahu dia adalah satu-satunya teman Sooyoung di sekolah—karena aku tidak pernah melihat Sooyoung bersama siapapun kecuali cowok itu, Lee Jonghyun.

Lupakan, lupakan. Salah satu syaratnya kan jangan campuri kehidupan pribadi Sooyoung. Baiklah, aku akan meminta maaf pada Sooyoung atas semua kesalahanku padanya, dulu. Aku memang suka mengerjai dia untuk kujadikan hiburan. Oke, aku cukup kejam.

Aku menaiki tangga rumah, menuju kamar Sooyoung. Tidak perlu mengetuk pintu karena aku bisa menembus apapun, benar?

Hei… rasanya ada yang janggal. Kemana semua pelayan?

Apa mereka tidur?

Rumah ini jadi agak aneh karena tidak ada orang yang berjaga di setiap pintu. Oh, ayolah, Cho Kyuhyun kau itu hantu. Tidak mungkin hantu takut akan sesuatu yang… ahahaha, lupakan. ==”

Setelah aku masuk kamarnya, aku melihat Sooyoung yang sedang duduk di depan meja riasnya. Menatap pantulan wajahnya di cermin, lurus. Tatapannya kosong. Aku berharap aku bisa tahu apa isi kepalanya saat ini. Aku tahu masalahnya dengan Ibunya cukup berat. Hubungan mereka tidak baik. Dan… kehidupan di sekolahnya pun tidak baik.

Dia menarik laci di bawah mejanya. Kemudian mengambil sesuatu di dalamnya. Gunting. Apa dia akan memotong rambutnya?

Hmm, tidak buruk. Tapi seharusnya di menyewa tukang potong rambut termahal di Korea. Dia, kan, kaya.

“Bagaimana ya, rasanya, kematian.” Aku mendengar bibirnya bergumam. Beberapa detik kemudian dia tersenyum getir. “Kalau aku bertemu Kyuhyun di sana, apa kami akan bertengkar lagi?”

Pertanyaan bodoh. Tapi jawabannya adalah, iya.

“Aku ingin sparring lagi dengannya, hahaha.” Dia tertawa.

Aku juga ingin sparring lagi denganmu, aku ingin mengejekmu dan melihat wajahmu yang merah padam karena selalu kalah dariku, Sooyoung pabo. Aku ikut tertawa, walau dia tidak bisa mendengar suara tawaku atau sahutanku barusan.

Sejurus kemudian senyum getirnya tergantikan oleh segaris lurus. Matanya meredup. Dia menunduk dan tubuhnya perlahan berguncang. Aku tahu dia menangis dari suara isakannya yang tedengar. Perih, menyayat. Geumanhae…

“Cho Kyuhyun…”

Aku mendengarmu.

“Kau… mendengarku?”

Apa perlu kujawab lagi?

“Kau… mau mendengarkanku?”

Iya, Sooyoung bodoh.

Dia merintih. Aku tidak tahu dia kenapa. Apa dia menangisiku? Karena tahu aku baru saja mati? Ayolah, Soo… kita kan bermusuhan.

Suara tangisannya serak. Dan dia kembali bergumam lagi, Mianhae…”

Untuk apa? Seharusnya aku yang bilang begitu, dan aku baru saja mau bilang begitu.

“Aku tahu harusnya aku yang mati malam itu. Tapi mobilku oleng dan menabrakmu. Aku yang salah, Kyu.”

Aku menghela nafas lega. Kukira dia mau bilang apa.

“Sudahlah, aku memaafkanmu. Jangan nangis, cengeng.” Ujarku sambil tersenyum. Melihat wajahnya yang terpantul di cermin.

“Sebaiknya aku yang mati! Cho Kyuhyun bodoh!” dia mengangkat gunting yang dipegangnya tinggi-tinggi. Andwae, aku tahu apa yang akan dilakukannya. Andwae!

Andwae, Choi Sooyoung!

Lalu, tangannya terjatuh lemas. Dia… tidak jadi  mengarahkan gunting itu ke tubuhnya. Hish, bikin orang jantungan saja!

Detik berikutnya, dia mengangkat wajahnya dan aku bisa melihat dengan jelas matanya yang sembab. Tapi dia tidak menunjukkan raut sedih. Melainkan raut wajah terkejut—atau syok—karena melihat sesuatu di cermin. Mungkin dia kaget melihat wajahnya yang jelek di cermin itu.

Dia menyentuh cerminnya. Lalu menoleh ke belakang. Mata bulatnya—seperti—menatapku, tapi kurasa tidak, tidak mungkin dia menatapku. Dia melihat cermin itu lagi, lalu kembali menengokkan kepala ke belakang. Aku mulai bingung sekarang.  Apa yang dilakukannya, sih?

“Cho… Kyu.. Hyun…?” itu suara Sooyoung. Mata bulatnya ternyata masih bisa membulat lebih lebar lagi. Aku tahu itu bukan gumaman, itu pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang Sooyoung tujukan untukku. Dia menatap mataku lewat cermin itu.

Wujudku terlihat di cermin.

Dia bisa melihatku.

Iklan

7 Comments Add yours

  1. Sistasookyu berkata:

    Waw.. Syo bisa ngeliat kyu dari cermin..
    Ini kyu nya bisa hidup lagi kan? Bisa’in aja dong 😀

    Suka

  2. Vi berkata:

    Aku masih bingung sampe sekarang, sebenernya kyu itu maho atau bukan sih?

    Suka

  3. andrianievi berkata:

    kya!!!!! makin penasarn ama kelanjutan ceritanya!!!
    next.a jangan lama” ya!!!! 🙂

    Suka

  4. Rizky NOviri berkata:

    Omo! soo bisa liat kyu..
    astaga.. apa yg terjadi??? 😯
    uwaaah bikin penasaran..

    s kyuhyun ya.. orang mestinya bergalau galau kn lg berduka. dy mah prolognya bikin ketawa mulu.. haha.. 😀

    daebak… keren…
    next next next 😉 🙂 😀

    Suka

  5. khairunnisaamw berkata:

    Lanjutin torr…. seruuuu

    Suka

  6. khairunnisaamw berkata:

    Keren thooorrr….
    Aaaa…..
    Keppo sama cerita selanjutnya…
    Nexxttttt…… thhooorrrr

    Suka

  7. ismi berkata:

    Hdp soo emnk mnydhkn bgt dsini…huh jonghyun hbs ngpain drmh soo yx? Haduh jangn2… akh mrs btul sh hdp kmu soo, trus changmin knpa sobek foto mrk y (kyumin)..next yh..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s