[FF] An Involved Lover – 13

Title: An Involved Lover
Author: wufanneey
Genre: Fluff, Comedy
Length: Series
Rating: G
Pairing: Sehun/Sooyoung, broken!Kris/Sooyoung
Summary: Bagaimana jadinya jika Nuna – Dongsaeng, atau Guru – Murid, atau hubungan saudara sepupu terlibat kisah cinta?

An Involved Lover-2 copy

***

Chapter 13 – Semua Tentang Nuna

 

Shinju ramai sekali hari ini. Lapangan sekolah yang luarbiasa luasnya dijadikan ajang memetik uang oleh Bapak-Bapak Tukang Parkir. Mobil-mobil orangtua murid yang datang malah parkirnya sampai berdempet-dempet.

Pembagian laporan kenaikan kelas tidak terasa. Waktu cepat sekali berlalu. Sehun duduk merenung di bangku di luar kelasnya sembari menunggu Sooyoung keluar dengan membawa hasil laporan belajarnya selama satu tahun.

“Sehunie,” panggil Sooyoung. Sehun menoleh sebentar, melihat kalau Sooyoung sudah selesai. Tanpa bicara apapun dia langsung berdiri dan meminta agar mereka cepat-cepat pulang.

“Aku lagi malas ditanyai siapa-siapa, apalagi sama Kai dan Sulli.” Adalah  alasan Sehun ketika Sooyoung bertanya kenapa ingin buru-buru.

Sejujurnya, bukan itu alasan sebenarnya Sehun ingin cepat kembali ke apartemen, melainkan karena ia pengap. Dengan kondisi sekolah yang banyak orang, juga pengap dengan hatinya. Mengetahui dirinya mendapat rangking lima besar pun tak dihiraukan, rasanya tidak puas melakukan apa-apa.

Tidak sadarkah Nuna ini, aku sebenarnya bersikap begini karena siapa? Runtuk Sehun kesal. Dasar Nuna tidak peka, Nuna memang tidak pantas menjadi Nuna-ku, pantasnya menjadi kekasihku. (e—eh?!)

Dalam hubungan mereka ini (mau guru-murid, kakak-adik, atau pasangan kekasih), entah kenapa Sehun merasa ialah pihak yang selalu dirugikan. Ia yang selalu berinisiatif duluan, namun Sang Nuna lempeng-lempeng saja tidak paham situasi dan kondisi. Pun kalau dihitung-hitung, setiap acara yang hanya ada mereka berdua (kencan, misalnya) selalu Sehun yang merencanakan, bersikeras, dan amat sangat menginginkan. Tetapi respon yang di dapat selalu saja, “Kamu ‘kan sudah besar, masa kemana-mana harus sama Nuna?”

Huaaa! Nuna kapan ngertinya sama kode yang aku kasih kalau responnya gini terus?! Sehun sudah sering membatin kayak gitu. Poor Sehunie.

Tingkat kekesalan Sehun terhadap Nuna-nya yang patut mendapat trofi ‘Wanita Terbebal Sedunia’ sudah sampai pada puncaknya ketika Nuna-nya itu dengan polosnya bilang, “Nado joahae, Sehunie.” Di hari kedua salju turun, Sehun ingat betul ketika itu Sooyoung sakit demam dan tertidur di pundaknya dengan wajah manis. Mengundang Sehun untuk mencicipi bibir yang pastinya hangat, lembut, kenyal, … oke, stop.

Lalu keesokan harinya, ketika Sehun berusaha bersikap romantis di hadapan Nuna-nya, dan dengan percaya dirinya melabeli bahwa Sooyoung adalah pacarnya. Sehun pernah membelikan Sooyoung hadiah mug couple lalu Sooyoung bertanya dengan mimik tanpa dosa, “Kok kamu beli mug yang couple-an gini sih? Kayak kita ini pacaran aja.”

Ingin rasanya Sehun gegulingan di lantai siang itu.

Puncaknya lagi, lagi, dan lagi, ketika Sooyoung pulang dalam keadaan mabuk di hari pertama masuk sekolah semester dua, dan Sehun dengan kedua mata kepala sendiri melihat, jelas sekali, Sooyoung-nuna dan Kris-hyung berciuman di depan pintu apartemen!

Sehun mendiamkan Sooyoung seminggu penuh setelah kejadian itu. mengurung diri di kamar dan hanya keluar bila waktu makan dan berangkat sekolah. Di sekolah pun sama sekali tak ada pertemuan dengan Sooyoung, Sehun sengaja menghindar—yah kecuali ketika mata pelajaran Bahasa Jepang, hajimemashite blablabla …. Hah, gara-gara Sooyoung, Sehun jadi tidak suka belajar mata pelajaran ini.

Karena, karena, … memperhatikan Sooyoung sewaktu mengajar itu malah menghancurkan inner yang sudah dibangunnya tinggi-tinggi guna menghilangkan perasaan suka terhadap wanita dewasa berhati bocah tersebut.

Ah, nasib, nasib.

Sudah begitu, Kris-hyung juga tidak menunjukkan perasaan bersalah setelah semena-mena ‘mencicipi’ bibir Sooyoung-nuna Tercinta-nya. Ya, dia memang minta maaf sih tapi sekadar maaf Sehun pikir tidak akan sanggup mengobati luka hati yang terlanjur mendalam ini. (beuh, bahasanya)

“Sehunie, Ommonim nelepon, nih,” seru Sooyoung begitu mereka berdua sampai di apartemen.

Sehun malas-malasan menerima gagang telepon dan menyapa Ibunda, “Yeoboseyo Umma.”

“Sehun-ah! Apa kamu akan pulang di liburan kenaikan kelasmu, Nak?” Ibunya kedengaran bahagia sekali, tidak mengerti apa anaknya lagi menghadapi tekanan batin di Seoul. Ah, tapi, Sehun juga tidak tega merusak suasana bahagia Ibunya.

“Iya, Umma. Besok aku pulang.”

“Sama Sooyoungie, yah!”

“E-eh? Nggak, nggak tahu, Nuna ‘kan banyak kerjaan di sini, kayaknya dia masih sibuk deh, belum bisa ke Busan dulu.” Padahal Sehun bohong. Duh, maaf ya, Umma, bukan bermaksud jadi anak durhaka tapi … Sehun lagi bete sama Sooyoung-nuna.

“Ah, masa sih? Coba Umma mau ngomong sama Sooyoungie,” what! Gawat! Duh, Sehun ‘kan bohong Umma …, “Mana Sehun-ah?”

“Errr—iya, nih,” Sehun agak berteriak agar suaranya terdengar dari ruang tamu ke kamar Sooyoung, “Nuna-yah! Umma mau ngomong sama Nuna nih!”

“Iya sebentar,” kemudian sosok Sooyoung berlari tergopoh meraih gagang telepon dan langsung menyapa Umma-nya Sehun seceria mungkin, “Ommonim, yeoboseyo! Ya? Oh, nggak kok, Sooyoungie libur nggak ada kerjaan. Iya-iya, sudah dari jauh hari dipersiapkan, iya … ‘kan setahun sekali, masa nggak ke sana, hehe. Iya, Ommonim, makasih. Salam buat semuanya yah, saranghae Ommonim.”

Sehun hampir berhasil kabur ke dalam kamarnya ketika Sooyoung terlanjur menatapnya dengan mode mangekyo sharingan. Ketar-ketir Sehun menoleh ke arah Sooyoung dan tersenyum sok polos.

“Eh, Umma bilang apa, Nuna?”

Sooyoung melipat tangan di depan dada, “Kamu bilang ke Umma kalau Nuna nggak bisa ke Busan untuk nemenin kamu besok, iya ‘kan?”

“Apa? Kapan aku bilang gitu, … ha-ha.”

“Nggak usah bohong, Sehunie!” Sooyoung mengejarnya dan mendamprat bokongnya dengan majalah kebun yang diambilnya di atas meja makan.

“A-aw! Iya-iya maaf! Cuma iseng kok! Aw, Nuna, sakit!”

***

“Lihat, nih, aku bahkan sudah menyiapkan pakaianku dan juga pakaianmu. Dan dengan jahatnya kamu berbohong sama Umma-mu kalau aku nggak bisa datang,” curhat dan keluh Sooyoung sekaligus, sembari masih merapikan baju-baju yang dimasukannya ke dalam koper. Sementara Sehun berbaring malas-malasan di atas ranjangnya tanpa niat sama sekali untuk membantu Sooyoung beres-beres.

“Kan aku sudah minta maaf,” Sehun memposisikan tubuhnya jadi tengkurap, sehingga ia bisa menatap Sooyoung yang masih mendumal di karpet di samping ranjangnya. “Nuna, besok kita naik apa? Mobil Nuna? Bus? Kereta bawah tanah?” sengaja Sehun mengalihkan percakapan guna membuat omelan Sooyoung berhenti, dan berhasil.

Sooyoung menjawab tanpa menoleh padanya, “Kita naik mobilnya Wufan. Dia juga ikut. Kampung halamannya kan di Busan juga.”

“Hah?! Kenapa sama Kris-hyung? Nggak mau!”

“Heh, anak kecil!” duh, kena timpuk lagi deh ini kepala. Kali ini pakai sikat gigi lagi, lebih sakit, hiks. “Sudah bagus Wufan mau ngasih tumpangan buat kita ke Busan, lumayan juga buat menghemat bensin.”

“Itu sih Nuna aja yang iritnya kelewatan.”

“Lagian, kalau lebih ramai ‘kan akan lebih seru perjalanannya.” Sooyoung tersenyum tanpa merasa peduli dengan Sehun yang memasang wajah deadpan.

“Keenakan Nuna kalau gitu, ntar aku malah jadi obat nyamuk di antara Nuna dan Kris-hyung.”

“Besok kita berangkat jam 7 pagi ya, awas kalau kamu susah dibangunin!”

Astaga, kata-katanya barusan dicuekin pula! Kurang sedih apa coba?

***

Pagi-pagi sekali, Sooyoung sudah grasak-grusuk menyiapkan sarapan di dapur. Sehun bangun pun karena suara berisik peralatan masak yang klontang-klonteng nggak jelas. Melihat jam, Sehun spontan melotot dan langsung melesat ke kamar mandi.

Jam 6.30 pagi. Huwa, telat bangun! Pantesan aja Nuna udah ribet pagi-pagi gini, kayaknya dia juga telat bangun.

Nuna, aku sudah si—“ Sehun terpaku begitu ia keluar dari kamarnya dengan pakaian keren dan rambut yang di-gel—niatnya sih mau menyaingi Kris-hyung yang syle-nya selalu mirip-miripan sama model. “—ap.”

“Sehun?” koor keduanya. Keduanya? Jelas! ada Kris-hyung di sana! Sehabis mengambilkan Nuna mangkuk yang ditaruh di lemari paling atas. Yang sulit dijangkau Sooyoung-nuna.

Ih, kok adegannya mirip drama City Hunter itu? Yang Lee Minho-nya ngambilin cangkir buat Park Minyoung itu loh. Terus dadanya Lee Minho nempel ke pucuk kepalanya Park Minyoung. Gak rela! Kenapa adegan kayak gitu malah terjadi sama Nuna dan Hyung?! Peran Lee Minho itu harusnya ‘kan aku!

“Kris-hyung, ngapain di sini?” tanda perempatan muncul di dahi mulus Sehun, yang poninya udah di-gel dengan mode super keren bak model.

“Kok nanyanya ketus gitu, sih. Wufan ‘kan mau berangkat bareng kita, jadi pagi-pagi banget dia udah datang, kamu lupa, Sehunie?”

Sehun tidak menjawab, juga tidak menyapa Sooyoung maupun Kris, ia langsung saja duduk di meja makan dan mencomot sepotong roti panggang. Kemudian mengambil mug biru miliknya, hendak meminumnya jika saja Sooyoung tidak mencegahnya.

“Itu isinya kopi, Sehun-ah, kamu ‘kan nggak suka kopi.” Jelas Sooyoung.

“Terus kenapa aku dibuatin kopi?” Sehun linglung.

“Itu minumanku,” Kris duduk di sebelah Sehun dan menyambar mug dari genggaman Sehun, lalu meneguknya dengan nikmat sampai ada suara ‘ah’ panjang setelahnya.

“Tapi tapi tapi itu mug punyaku!” Sehun tidak terima.

“Dipinjem sebentar kenapa sih,” Sooyoung lalu meminum susu dari mug warna pink-nya.

Kepala Sehun terasa seperti dijatuhi beban 5 ton mendadak. Kenapa yang seperti couple-an malah jadi Nuna dan Hyung, lagi-lagi?!

Belum cukup dengan masalah adegan ‘ambilkan-gelas’ di City Hunter dan ‘mug-couple’ yang seharusnya bertemakan Soohun tapi malah menjadi Sookris, kali ini Sehun dihadapkan dengan permasalahan batin lainnya, yaitu posisi duduk dalam mobil. Dimana Sooyoung ingin duduk di depan menemani Kris tetapi Sehun memaksanya untuk duduk di belakang menemaninya.

Nuna harus duduk di belakang!” keukeuh Sehun, memeluk badan Sooyoung-nuna dari belakang, melingkarkan tangan di perutnya dengan over-protektif. Pokoknya kali ini Nuna harus jadi milikku!

“Sudahlah, nurut aja sama Sehun, dia lagi PMS kayaknya, cemberut terus daritadi,” bukannya sadar kalau cemberutnya ini beneran, malah disangka lagi PMS lagi, keterlaluan sahabat masa kecilnya Sooyoung-nuna ini.

“Hahaha, oke, deh, aku duduk di belakang sama kamu.” Sooyoung menolehkan kepalanya dan tersenyum kepada Sehun, mengelus-elus surai kecoklatannya, lalu mencubit kedua pipinya.

Pipi Sehun memang langsung bersemu setelahnya, tetapi bukan karena kesakitan bekas dicubit Sooyoung, melainkan karena sikap Nuna-nya itu yang tiba-tiba membuat hati dugeun-dugeun.

Sejam kemudian, di dalam mobil, selama perjalanan.

“Nah, ini alasannya aku nggak mau duduk di belakang sama Sehun,” keluh Sooyoung.

“Apa?” Kris tertawa begitu melihat pantulan bayangan dari kaca kalau Sehun tertidur di pundak Sooyoung, seperti biasa. Terlihat sekali Sooyoung yang pegal karena terlalu lama mempertahankan posisi itu, namun tidak bisa lepas sebab Sehun masih dengan mode over-protektif-nya  memeluk lengan Sooyoung seakan lengan itu adalah guling.

***

Harum rerumputan membuat roma menjadi tenang begitu Sooyoung tiba di Busan, kediaman Nyonya Oh, Ibunda Sehun. Ibunda Sehun suka sekali menanam tanaman dan bunga-bunga di halaman rumahnya, membuat bebauannya tercium bahkan radius beberapa meter dari rumah tersebut. Nuansa hijaunya, kentara sekali di rumah ini.

“Permisi, Ommonim …,” Sooyoung melangkah masuk diikuti Kris dan putra satu-satunya dari sang empu di paling belakang. “Sehun-ah coba panggil Ibumu.”

Umma, aku dan Nuna … dan juga Hyung datang!” Sehun membuka satu-satu pintu kamar dan tidak mendapati siapapun di sana. “Mungkin sedang belanja keluar.” Gumam Sehun.

“Sehunaaah!”

Gedebugh! Bruk! Brak! Gdbuuum!

Seorang gadis, berambut hitam panjang, bertubuh kecil tiba-tiba saja turun dari tangga tergesa-gesa dan berakhir dengan tisoledat lalu jatuh menimpa tubuh Sehun. Berat! Sehun mengeluh. Siapa sih gadis tak dikenal ini?

Tatkala gadis itu mendongak, menatap wajah Sehun dengan matanya yang sewarna dengan rambutnya, hitam, hitam pekat, dan jernih, juga bulat. Wajahnya lumayan manis bila dilihat dari jarak sedekat ini. Tiba-tiba pipi Sehun menjadi panas.

“Kau siapa?”

“Naeun. Son Naeun. Kamu melupakanku? Hm … wajar sih kamu lupa, sekarang ‘kan aku sudah tambah cantik.” Heee? Apa nggak overdosis tuh kepedeannya?

“Oh! Naeun-ah!” Sooyoung langsung membantu gadis bernama Naeun itu berdiri lantas memeluknya seperti saudara lama yang terpisah puluhan tahun lalu dipertemukan dalam peristiwa drama-melankolis-mengharukan. “Benar ya, kamu tambah cantik sekarang. Juga tambah tinggi, hehe, walau masih tinggian Unni.

“Uh~ jahatnya … padahal aku sudah rajin olahraga supaya bisa lebih tinggi daripada Unni.” Naeun tidak jadi mem-pout bibirnya begitu gadis itu melihat ada orang selain Sehun dan Sooyoung juga di sana. “Kris-oppa? Apa kabar?”

Akhirnya disadari juga keberadaannya dari reuni mengharukan ini, Kris memamerkan senyum tertampannya, “Aku baik. Bagaimana denganmu?”

“Aku? Uhm, masih mengharapkan cintanya Sehunie,” Naeun memegang kedua pipinya yang mulai memerah malu, lalu mencuri-curi pandang ke arah Sehun.

“He?”

“Sehun-ah, masa kamu lupa, ciuman pertamamu itu loh,” bisik Sooyoung di samping telinga Sehun. (“Unni! Jangan keras-keras, aku malu!” >/////<) Membuat Sehun merinding seketika, kaset butut yang tiba-tiba terputar di benaknya sukses mengembalikan memori lama tersebut.

Son Naeun? Cewek itu!

Teman SMPnya dulu yang naksir berat padanya. Ceritanya adalah begini …

Hari itu Sehun baru pulang dari rumah sakit di antar oleh Sooyoung. Ketika itu Ibunya tidak ada di rumah sebab sedang bekerja guna melaksanakan peran barunya sebagai kepala keluarga, menggantikan Ayahnya yang meninggal dalam kecelakaan. Setelah menaruh kopor dan berbaring lelah di ranjang tidurnya, Sehun mendengar Sooyoung akan keluar sebentar untuk membeli beberapa camilan.

Tiba-tiba terlintas ide di benaknya sepeninggal Sooyoung. Sebuah ide nista yang ajaibnya dimiliki oleh seorang bocah laki-laki yang menginjak usia baligh pun belum.

Sehun menunggu Sooyoung di balik pintu, jadi ketika Sooyoung membukanya—

kiss!

Hahaha. Sehun kecil mesumnya tidak beda jauh ketika sudah menginjak bangku SMA.

Sayang namun sayang, Sooyoung yang datang dengan membawa banyak jajanan bertemu Naeun di tengah jalan. “Unni, mau kemana? Kok belinya banyak-banyak gitu? Buat siapa?”

Unni mau ke rumah Sehun, dia baru pulang dari rumah sakit hari ini,” papar Sooyoung. Warna mata Naeun langsung menjadi cerah.

“Aku bantu ya, Unni!”

“Um! Kebetulan kebanyakan nih, repot kalau bawa sendiri.”

Dan ketika pintu terbuka, Sehun sudah bersiap kalau bibir Sooyoung yang akan diciumnya, ia bahkan sudah menyemprotkan pewangi mulut supaya Sooyoung tidak pingsan kalau-kalau mulutnya bau (tapi, serius deh, mulutnya nggak bau!).

Krieeet …

“Sehu—mph!”

Cup!

Belanjaan terjatuh. Sooyoung melongo. Sehun memejamkan mata. Naeun pingsan beberapa detik setelahnya.

“Sehun-ah! Jangan sembarangan cium-cium anak orang, dong!”

Yah, itulah awal dari kesalahpahaman yang berlarut-larut ini. Semenjak saat itu, Naeun selalu menganggap kalau perasaan sukanya itu dibalas Sehun. Padahal, kejadian ciuman itu hanya salah paham. Berkali-kali Sehun menjelaskannya tetapi Naeun malah menganggap kalau Sehun malu tapi mau. “Sehunie yang tsundere juga manis kok,” geer Naeun. Padahal Sehun itu yangire sejati kalau menghadapi Naeun.

Singkat cerita, setelah pertemuan dengan Naeun dan cewek itu terus-menerus menempel padanya. Akhirnya Ibunya datang, bersama Bibi Choi (Ibunda Sooyoung-nuna) dan Bibi Wu (Ayahnya Kris-hyung). Reuni ronde kedua pun terjadi, setelah dengan halus Nyonya Oh Yang Terhormat mengusir Naeun dari sana dan mengucap terimakasih telah menjaga rumah setelah Ahjumma pergi, lima orang itu berbincang-bincang hangat—lima orang, kecuali Sehun

Mereka merencanakan untuk membuat barbeque nanti malam dan, dengan gembira Sooyoung dan Kris menyetujuinya.

Namun ada momen lucu dimana, terkadang Ibunya dan Bibi Wu saling bersitatap memancarkan aura persaingan begitu Sooyoung disinggung soal, “Bagaimana perilaku Sehun di apartemenmu? Ia anak yang manis ‘kan?” dan, “Apa kau dan Kris menghabiskan banyak waktu bersama? Kalian mengajar di tempat yang sama, ‘kan?”

Maka Sooyoung akan menjawabnya dengan, “Ya. Sehun sangat manis dan penurut.” Dan, “Kris banyak membantuku di sana, dia baik hati seperti biasanya.”

Tanpa menyadari jawabannya menerbangkan hati kedua Ibu-Ibu tersebut. Kris yang notabene bukan termasuk manusia bebal, tentu hapal maksud dari pertanyaan itu, dia hanya tersenyum yang ‘iya-iya’ saja tanpa berkomentar apa-apa.

Nuna,” Sehun menyelinap kamarnya tengah malam selepas acara barbeque antar tiga keluarga selesai. Tepat di sebelah kamarnya karena rumah mereka yang bertetangga.

Kosong.

Yang Sehun dapati adalah kosong.

Nuansa kamar berwarna pink dan peach, khas wanita. Namun bedanya, kamar ini jauh lebih rapi dibandingkan kamar Sooyoung di apartemennya. Sepertinya, Sooyoung belum ke kamarnya. Mungkin masih di luar.

Ah, bagaimana bila Sehun memberikan kejutan? Ia akan tinggal di sini sampai Sooyoung datang lalu menghabiskan malam bersama Sooyoung berdua di dalam kamarnya, hehehe. Cukup mesum, tapi boleh dicoba.

Nuna lama sekali, sedang apa sih …,” Sehun gatal ingin keluar kamar, tetapi ingat akan tujuannya, bersikeras ia menunggu sampai Sooyoung datang.

Ia melihat lihat deretan CD album koleksi Sooyoung. Jason Mraz, Touhoushinki, Paramore, hm … setel apa, ya? Setelah beberapa detik berpikir Sehun memilih memutar musik klasik saja. Sembari ia melihat-lihat apa saja isi lemari belajar seorang Choi Sooyoung ketika SMA dulu.

Kertas-kertas note post-it, pensil dan buku gambar, alat lukis yang sudah mengering, kanvas bekas, dan … hm? Sebuah buku diary?

Sehun penasaran untuk membacanya, dalam hati ia memohon maaf kepada Sooyoung karena sudah tanpa izin membuka-membaca hal yang pribadi baginya. Lembar pertama pun terbuka, dan nihil.

Di lembar kedua, Sehun menemukan daftar ‘Hal Yang Harus Sooyoung Raih Tahun Ini’ tertanda enam tahun silam.

  • Kenalan dengan cowok itu
  • Membeli kuas terbaik
  • Membeli cat dan minyak terbaik
  • Menjadi pelukis terbaik di kelas
  • Oh iya! Kanvas!
  • Oh Sehun

Kenalan dengan cowok itu? Siapa cowok itu yang dimaksud? Membuat penasaran saja. Dan kenapa namanya ada di urutan paling akhir? Ish.

Lembar kedua, lagi-lagi daftar seperti tadi, namun dengan angka tahun yang bertambah dari sebelumnya.

  • Ternyata namanya adalah Kris Wu
  • Kuas lagi
  • Cat minyak lagi
  • Kanvas, lagi, lagi
  • Jangan lupakan kertas post-it
  • Oh Sehun

Oh jadi cowok itu yang Nuna maksud adalah Kris? Dan lagi-lagi namanya ditaruh di paling akhir? Coba lihat lembar selanjutnya.

Selanjutnya, dan selanjutnya.

Dan …

Kenapa nama Oh Sehun selalu ada di paling akhir?!

***

“Wufan,” Kris terlonjak mendengar suara perempuan dari arah belakangnya.

“Sooyoung-ah.”

Sooyoung duduk di sebelah Kris. “Ada apa memanggilku kemari?”

“Kupikir kau akan suka, daripada berdiam diri di kamarmu yang kecil it—aw! Kenapa kau memukulku? Apa kau akan memukul siapapun orang yang membuatmu kesal?” gerutu Kris dan Sooyoung menjawab ya, lalu mereka tertawa nostalgia.

Semilir angin menerbangkan helai-helai surai Kris maupun Sooyoung. “Di sini sangat dingin, kau tahu.”

“Baiklah-baiklah, aku tahu Sooyoung-sama.”

“Menjijikkan.”

“Apanya.”

“Berhentilah bertingkah menyebalkan dengan embel-embel –sama itu.”

“Oh itu … haha. Bukankah dulu kau senang sekali kalau kupanggil –sama?”

“Dulu ‘kan panggilan itu terdengar keren. Tapi sekarang sudah tidak lagi.”

“Kok bisa seperti itu?”

“Bisakah kau tidak bertanya hal yang tidak penting?”

“Baiklah, kuganti menjadi pertanyaan penting,” Sooyoung terkesiap untuk mendengarkan bibir tipis Kris mengucap kalimat tanya, “Apa kau kedinginan?”

Sooyoung mendecih, “Kau itu bodoh, ya.”

“Oh, kau kedinginan. Kalau begitu, bolehkah aku menghangatkanmu?”

Sooyoung memasang pose seakan-akan sedang berpikir keras, “Bagaimana ya … uh, bolehlah.”

Kemudian ekspresi Kris seperti berkata, kemarilah, mendekat padaku, dan Sooyoung mendekat, menuruti nalurinya. Kris tahu-tahu sudah melilitkan syal yang tadinya ia pakai ke leher Sooyoung, menyentuh jemari Sooyoung yang dingin tak bersarung tangan dan mendumal, mengapa kau tidak memakai sarung tangan dan syal di udara sedingin ini?

Sooyoung mengetakan maaf tanpa suara, tetapi Kris tahu. Dari posisi wanita itu yang kemudian menyandarkan kepala pada dada bidangnya, merasakan hangat tubuh Kris dari jarak sedekat ini dan … mengingat kapan terakhir kali mereka seperti ini.

“Kau tidak merokok ‘kan? Atau minum?”

“Tidak.”

“Tetapi tubuhmu sangat hangat, peluk aku, Wufan.”

“Dasar kau ini …,” kenapa keras kepala sekali? Berkali aku melarangmu memanggilku begitu, sebab aku tidak suka. Tetapi kau lagi-lagi memakai nama itu padaku, Wufan, Wufan, Wufan—

 

Kris hanya dapat mengenang, tidak ingin kembali.

***

Sehun membuka mata berkat hangat cahaya yang menelusup malu-malu melalui celah tirai jendela yang sedikit terbuka. Hangat. Sehun merasa dirinya sedang dipeluk. Membuat tangan lainnya menyelinap di antara selimut yang membungkus, balas memeluk seseorang yang kini memeluknya.

Nuansa peach, seprai yang begitu lembut, musik klasik yang terputar sejak tadi malam … ah, kamar Sooyoung-nuna. Benar juga, kemarin malam menjemput dan Sooyoung datang tatkala Sehun sudah terlelap di atas ranjangnya, ia merangkak membuat ranjang terlalu berat untuk mereka berdua. Kemudian bergelung di sebelah Sehun, tanpa ada niat ingin membangunkannya.

Nuna … aku mau tanya,” Sehun menghirup aroma rambut Sooyoung, menciumi pucuk kepalanya. Bau tempat tidur, dan lavender. “Semalam aku membaca diarymu.”

“Ya, lalu …?”

“Lalu,” Sehun mempererat pelukannya, sampai ia merasa geli ketika helaian rambut Sooyoung menggelitik lehernya. “Ada namaku. Tetapi kenapa namaku selalu kau taruh di daftar terakhir dalam ‘hal yang harus Sooyoung capai tahun ini’? Aku penasaran. Apakah aku sebegitu tidak pentingnya kah, bagimu?”

“Bukan begitu, Sehunie. Itu artinya,” Sooyoung membeo, suaranya teredam selimut. “Kau adalah garis finish-ku.”

“Garis finish? Kris-hyung berarti …,” ucapan Sehun mengudara di langit-langit kamar Sooyoung.

“Garis start …”

Terdengar gumaman. Sebelum kesadaran Sehun kembali  ditarik ke alam lelap bunga tidurnya.

***

Iklan

25 Comments Add yours

  1. soobeautifulchoi berkata:

    Senangnya ak ff ini update jg 😊
    Ngga ngerti nih sma hub mrka brdua soohun, bksnnya kmren itu udah pcran yah? Sduh sooyoung ini kadian sehunnya digitukan tp ak jg mau doo sma kris. Jd bngung 😑
    Ngomong2 ap yg trjadi sblumnya sma sookris sih? Ska bgt update soon uah~ 😊

    Suka

  2. febryza berkata:

    hahahha ya ampun sehun kasian bener ini malahan yg lovey dovey malah sookris eh tapi aku masih belom ngerti sama maksudnya garis finish itu sehun terus kris garis start apa deh? sooyoung maunya ama sehun gitu? terus itu kenapa sooyoung ama kris so sweet banget sih udah lah sehun relakan sooyoung sama kris lah *agak maksa sepertinya reader yg satu ini* *jiwa sookris kumat soalnya* *kangen sookris* *abaikan*

    Suka

  3. emmalyana25 berkata:

    aku gak mudeng sumpah
    efek lupa chapter yang lama
    sehun jealous ciee ehm
    daebak
    next cepetan!!

    Suka

  4. Vi berkata:

    Daaaaaaaaannnnnnnn aku malah bingung sama ending part ini. hahahahaha maaf ya fanneey, aku rasa akunya yg lagi oon.
    Aku nungguin loh ff 1 ini, akhirnya lanjut jugak. Makasih ya ^^

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Aku juga rada susah sih nulis part ini, jadi bukan salah readernya kalo bingung hehe

      Suka

  5. Yufasa berkata:

    Aaah star dan finish wkwkwk, selamat untuk sehun :3 poor dan selamat juga buat kris -_- ah gimana ya mau komen apa -_- bingung senang dan tidak tau wkwkw, tapi tetep dukung kok sehun :3 krisnya sama aku aja biar adil /ga . Semangatttt buat part selanjutnya

    Suka

  6. winterchan berkata:

    jadi jadi. sebenernya lebih penting start atau finish?
    muahaha
    lucu ya si sehun. dan naeun asdfghjkl ngakak banget sama pedenya yang kronis.
    yoohoo sookris nya lovey dovey banget hari ini. btw itu maksud si kris apa ya?
    btw itu kenapa ada ’tisoledat’ ? seketika ngakak xD xD
    pokoknya part selanjutnya ditunggu! semangat!

    Suka

  7. sooyoungie berkata:

    Sumpah ni ff keren!!! Penulisnya pinter bangett!! Yang paling keren itu kalimat garis finish dan start!! Aaaa!! Daebak author!!!

    Suka

  8. Di berkata:

    Dan aku malah pengen sookris ._.

    Suka

  9. ThaNiaa berkata:

    Kok aku jadi bingung yaa mau komen apa..
    O.o
    Itu maksudnya star ama finish apa??
    Maksudnya mana yang lebih penting??
    ..
    hehe maapin saya yang radak lol kakakk..
    Terus status soohun itu sebenernya udah pacaran apa belom siihh..

    Jadi makin penasaran..
    Lanjut yaa kakk..

    Suka

  10. jeni berkata:

    Lanjut chingu
    kamu selalu punya karakter dalam tulisan kamu
    jadi seneng bacanya

    Suka

  11. rinaknight berkata:

    Aigoo…..
    Keren bgt, cepet di update part selanjutnya nde thor.. 😊(^.^)

    Suka

  12. Kevin berkata:

    sebenernya lebih cocok sookris ya, soalnya sehun disini manja bgt -_- trs ini sebenernya yg mesum bukan sehun, to yg buat wkakwkakak
    btw sehun garis finish. bentar lg jadian dong ya(?)

    Suka

  13. kaadiss berkata:

    kasian banget krisnya jadi garis start dan sehun jadi finishnya
    hmmm
    author lelah ya nulis ini ? atau udah bosen? partnya udah 13 loh, yg 12 di protect
    mianhe aku ga komen di 1-11 karena aku pikir ff itu udah 2 tahun yang lalu, apa masih dibaca sama author?
    bolehkah aku memohon kepada author untuk segera melanjutkan ini? jarak dari chapter 11 ke12 itu lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget
    semangat yaa

    Suka

  14. Akhirnya kakak come back lagi 🙂
    Kangen sama soohun moment iniiii….
    Aku suka bagian sehun curhat, asdfghjkl banget!
    Updating soon^^

    Suka

  15. wiiaawiyu berkata:

    mau sookris atau soohun sekalipun, takpe lah…. toh dua duanya sama ma cool dan tinggi kok…

    Suka

  16. nadia berkata:

    kak,, chapter 14 blm ada ya kak??

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Belum, maaf ya

      Suka

  17. cherysan berkata:

    eonniiiiii!!! inget sama aku ga?? hehehe
    Akhirnya baca ff ini lagi, ko makin greget sih? Sehun nya ke kanak-kanakan banget sama kasian krisnya huhu T_T
    ditunggu next chapnya yaa, btw eonni. aku udah masukin nama blog eonnie ke blogroll aku, masukin aku juga ke blogroll eonni ya~

    Tittle

    Suka

    1. cherysan berkata:

      Tittle : Cherysan’s Story
      URL : https://whitechocolatej2010.wordpress.com

      gomawo eonni kkk~ ^^

      Suka

      1. wufanneey berkata:

        Oke. Tapi nanti ya saeng kalo aku nya on pc, kalo lewat hp susah kayaknya 🙂

        Suka

  18. sooyoungie berkata:

    thor lanjutannya dong penasaran udh ditunggu bbrp bln loh, aku akui loh thor ff ini comedy romantic tpi gk alay kyk ff lain, thor you are the best

    Suka

  19. author gimana mau minta pw fanfic 12 yaa.. lewat fb bisa ngak…

    Suka

    1. Yang Yojeong berkata:

      Bisa. Tapi biar lebih mudah lewat line aja: fanniwpbaru

      Suka

  20. yoonade berkata:

    Hatiku benar2 hancur dear author, aku memang bukan kris, tapi aku sookris shipper author 😭, waduh soo eonni sudah benar2 menyadari perasaannya, Oh Sehun harus’y kamu itu tidak hanya mentraktir teman” kamu, tapi kamu juga harus traktir kita para readers eh 😂…

    Author mmg klop banget deh, bisa banget ngaduk” emosi kelabilan readers hehehehh….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s