[FF] Sun, Flower, and Winter – Chapter 02

Title: Sun, Flower, and Winter
Author: wufanneey
Genre: Drama
Length: Series
Rating: PG-17
Language: Indonesian
Pairing: Jonghyun/Sooyoung, Kris/Sooyoung
Summary: Jonghyun berusaha membuat Sooyoung melupakan cinta pertamanya. Tetapi disaat Sooyoung sudah mencintainya terlalu dalam, ia justru tak dapat mempertahankan janji yang pernah dibuatnya.

Sun, Flower, and Winter

***

Chapter 02

Choi Sooyoung sudah dapat mendengar langkah kaki itu. Gadis itu terkesiap di tempatnya duduk, di bangku ketiga, barisan paling ujung dekat jendela, dimana seseorang pemilik langkah kaki itu akan duduk di belakangnya. Sooyoung membuka lembaran buku fisika yang sedari tadi ia pegang. Berusaha mengalihkan konsentrasi dari suara tapak-tapak sepatu yang kian menjelas.

Aish, mengapa setiap pagi selalu begini …

“Jangan gugup, Sooyoung-ah.” Seolah menyemangati diri sendiri. Kembali ditiliknya rumus-rumus fisika itu—lagi-lagi guna mengalihkan perhatian.

Krek.

Pintu kelas berderit. Seperti biasa, tepat pukul 06.30 KST di jam tangan Sooyoung. Dari tehel putih kelas, ia dapat melihat bias cahaya dari luar, tandanya seseorang itu akan masuk. Lagi, terdengar langkah tegap—seolah—menghampirinya.

Pelan-pelan, Sooyoung mengangkat kepalanya. Melihat untuk pertama setiap pagi hari, sosok yang selalu ia tunggu. Kris, marga Wu, punya kebangsaan China-Kanada, tubuh tinggi menjulang, alis tebal, mata cokelat tajam, hidung mancung proporsional, rambut pirang, kulit putih bersih. Ia masih dengan ransel hitam di punggungnya, seragam rapi seperti biasa, jam tangan yang belum diganti dari enam bulan lalu, dan sepatu… hm, sepertinya itu sepatu baru.

“Selamat pagi,” sapaan itu sontak saja membuat Sooyoung kembali ke alam nyata, dimana ia baru saja berkelana dengan analisisnya—tadi. Suara Kris yang berat dan penuh wibawa, namun terkesan datar setiap kali menyapa Sooyoung—atau siapapun.

Sooyoung mengangkat kepalanya, dan melihat Kris sudah tidak ada di depannya. Ah, cepat sekali Kris duduk di bangkunya—tepat di belakangnya. Padahal ia bermaksud membalas sapaan—datar—itu.

“Selamat pagi, Kris!”

Ups, bukan. Itu bukan teriakannya. Dilihatnya dari pintu masuk anak laki-laki berkebangsaan China lainnya juga masuk. Xi Luhan. Huh, kenapa dia selalu berada di sekitar Kris?

“Oh, selamat pagi untukmu juga, Sooyoung.”

Sooyoung membalasnya dengan senyum canggung. Sebelum Luhan duduk di meja yang ada di sebelah Kris, dengan langkah riang seperti biasa.

Mata Kris tertuju pada buku bacaan yang baru saja dibukanya, namun mulutnya tiba-tiba mengatakan hal yang bertolak belakang dengan itu, “Kau tidak membalas sapaanku maupun Luhan.”

Kaget, kelopak mata Sooyoung mengerjap. Lantas ia tolehkan kepalanya ke belakang dengan agak kikuk. “Maaf…”

“Kau terlalu sering mengucap kata itu padaku.” Suaranya berwibawa, tapi tetap saja, membuat Sooyoung yang mendengarnya… agak tersinggung. Kris benar, kemarin ia memang terus-terusan bilang ‘maaf’’ pada Kris, tepatnya waktu di kantin dan di bus.

Geuromyeon… Selamat pagi Kris, Luhan.”

Puk.

Kris menutup bukunya, dan tatkala ia menegakkan posisi duduk untuk melihat wajah Sooyoung, ia tersenyum—amat sangat tipis. “Begitu lebih baik.”

Luhan melongo di tempatnya duduk. Tidak biasanya Kris bicara banyak, apalagi jika bukan dengan Guru, dirinya, atau Minseok. Luhan menoleh ke arah Sooyoung sementara hawa cantik itu cepat-cepat memalingkan muka.

***

Kelas pertama baru akan dimulai. Pelajaran Bahasa Jepang, dibimbing oleh Kim Heechul-sonsaengnim. Ketika Guru itu masuk, kelas yang tadinya ribut seketika diam. Sooyoung mengeluarkan buku Bahasa Jepangnya sementara Kim Heechul menulis sesuatu di papan tulis besar-besar.

“Percakapan,” itu katanya setelah selesai menulis. Kim Heechul berdiri dibalik mejanya da menjelaskan, “Buat percakapan antara dua orang, cukup membahas topik sederhana. Anggap saja ini sebagai ulangan harian, dari pola-pola kalimat yang pernah kuajarkan pada kalian.”

Yoona mengangkat tangannya—hendak bertanya—namun ia turunkan setelah Kim Heechul berujar lagi, “Aku akan menyebutkan nama pasangan-pasangannya,” Guru Bahasa Jepang itu melirik Im Yoona, “Dan biasakan mendengar penjelasan Gurumu sampai tuntas sebelum mau bertanya, Im Yoona.”

Yoona mengangguk paham—sedikit malu.

Kim Heechul membuka lembar absen kelas 2-A. Ia mulai menyebutkan satu-satu pasangan murid, “Ahn Jaehyo dan Yoon Bora. Lee Junho dan Hwang Chansung. Lee Jieun dan Han Sunhwa—”

“Junho dan Chansung. Jieun dan Sunhwa. Mereka beruntung,” bisik Yoona diam-diam, pada Sooyoung yang duduk di belakangnya. “Kuharap kita sekelompok, Sooyoung-ah. Bahasa Jepangmu kan hebat banget.”

“Park Shinhye dan Park Sanghyun. Kim Minseok dan Shin Sekyung. Lee Hongki dan Choi Jonghoon—”

Lagi-lagi sepasang sahabat beruntung, Hongki dan Jonghoon. Yoona semakin optimis ia akan sekelompok dengan Sooyoung. Kalau tidak salah, tersisa empat nama lagi yang belum disebut. Im Yoona, Choi Sooyoung, Xi Luhan, dan Kris Wu.

Oh ayolah, ini sudah jelas. Kris tidak akan mau sekelompok dengan orang selain Minseok dan Luhan, dan semua guru-guru juga tahu itu. Maka yang tersisa ia dengan Sooyoung, telak. Yoona tersenyum sendiri dengan hasil hipotesisnya.

“Kim Himchan dan Jeon Jiyoon. Bang Yongguk dan Kim Jonghyun—”

Kim Heechul meletakkan satu kertas absen itu di atas mejanya setelah selesai dengan delapan pasangan, lantas memandangi keempat murid yang belum disebut namanya secara bergantian—Yoona, Sooyoung, Luhan, dan Kris. Ia berdeham pelan.

“Xi Luhan dan Im Yoona. Choi Sooyoung dan Kris Wu.”

Yoona membulatkan matanya, “Mwo? Otteokhaeyo? Igeon… maldo andwae! Berani sekali dia memisahkan Kris dan Luhan!” desisnya tak percaya. Namun, detik berikutnya Yoona menyadari ternyata ada hal lain yang lebih menarik. Dengan raut muka terkejut dibuat-buat, gadis itu menutup mulut dengan kedua telapak tangan. “Omona… itu berarti kau dan Kris…”

“Jangan mulai, Im Yoona.” Sooyoung memutar bola matanya. “Ini cuma kelompok belajar, kamu selalu berlebihan dalam mendeskripsikan sesuatu.”

Yoona berdecak, “Ck, sok acuh. Padahal hatimu sudah dugeun-dugeun, hihihi…”

“Yoona-yah!” Sooyoung mencubit pinggang Yoona kesal, sukses membuat erangan kecil Yoona keluar. Tanpa bicara apa-apa lagi Sooyoung membalikkan tubuhnya ke belakang, memutar bangkunya, dimana Kris tengah memandangi langit melalui jendela kelas yang tak bertirai.

Semoga saja Kris tidak mendengar yang Yoona bilang tadi, dasar gadis comel, Sooyoung mendumal dalam hati.

Chogiyo…” Sooyoung benar-benar kebingungan sekarang, kenapa jadi dirinya yang diacuhkan Kris begini? Memangnya Kris tidak mendengar apa yang disebutkan Heechul-sonsaengnim tadi? Maksudnya, mereka, kan, sekelompok!

Kris melirik sekilas, seketika Sooyoung salah tingkah. Aduh, bagaimana bisa jadi seperti ini… sekadar bilang, “Hei! Jangan memandangi langit terus! Kapan kita mengerjakan tugasnya?” begitu pun, ia tak berani. Payah.

Sooyoung menghela napas. Ia seperti terjebak dalam realitas sendiri.

Sampai kapan kamu mau mengacuhkanku, Tuan Wu?

Tanpa pikir panjang lagi, ia buka lembar terakhir bukunya dan menuliskan sesuatu di sana. Lalu menunjukkannya di depan wajah Kris. Membuat pandangan lelaki itu—yang tengah mengarah ke langit—terhalangi.

“Kris-ssi, apa yang sedang kau lihat di luar sana?”

Agak kaget, Kris menoleh pada Sooyoung, namun nampaknya gadis itu menyibukkan diri dengan memperhatikan Guru mereka yang lagi menerangkan sesuatu di papan tulis.

Kris menarik buku itu dari tangan Sooyoung, untuk menuliskan jawabannya. Sooyoung sempat berdebar menunggu Kris menyerahkan buku itu lagi padanya.

“Kris-ssi?”

Itu yang tertulis di sana. Hanya pertanyaan seperti itu? Oh baiklah, Sooyoung akan mengikuti alurnya. Tetapi bisakah Kris tidak memandanginya ketika ia tengah menulis? Gosh!

“Iya. Kenapa?”

Tangan Sooyoung terjulur untuk menyerahkan bacaan itu. Dan tebak, apa yang ujung maniknya tangkap dari ekspresi Kris? Lelaki itu tersenyum! Bisa diperjelas? TERSENYUM! Walau ya, hanya sekali kedip, namun tetap saja, itu senyum paling langka yang pernah Sooyoung lihat—selain senyum tipis tadi pagi.

“Jangan begitu, panggil Kris saja, tidak perlu pakai embel-embel -ssi. Aku tadi melihat langit di luar.”

Sooyoung tertegun membaca itu. Malu-malu, ia membalasnya.

“Baiklah, Kris, apa kabarmu?”

Posisi Kris yang menunduk ketika menuliskan rangkaian kata-kata, terlihat sangat keren di mata Sooyoung. Ck, oke ia mengaku, Kris memang selalu keren dalam berbagai pose.

“Aku baik. Terimakasih sudah bertanya. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga baik.” Apalagi kamu mau mengobrol denganku, tambah Sooyoung dalam hati.

Kris menulis balasan lagi, “Kupikir kau perlu refreshing, jangan terlalu sering membaca buku, aku bisa melihat lingkar hitam di bawah matamu.”

Sooyoung tertegun—kedua kalinya. Ini kalimat terpanjang lainnya dari Kris. Tapi bukan itu penyebab keterkejutannya kali ini. Kris bilang; Lingkar hitam? Apakah… Kris sering melihatnya berada di perpustakaan? Atau membaca buku sendirian di taman dekat kolam renang?

How could he noticed…

 

Takut-takut, Sooyoung menulis balasan selanjutnya, “Bagaimana kamu tahu, aku suka membaca buku?”

Namun sebelum catatan itu dapat Kris tulis lagi balasannya, Kim Heechul sudah memanggil nama mereka berdua dan menyuruh untuk mempraktikkan percakapan yang tadi dibuat di depan kelas.

“Kita tidak membuat percakapan apapun.” Kris memandang Sooyoung dengan pernyataan panik.

“Pakai saja yang tadi,” Sooyoung memberinya senyum termanis yang ia miliki. “Langsung dengan Bahasa Jepang.”

Mau tak mau, Kris mengikuti Sooyoung yang sudah berdiri dan berjalan mendahuluinya ke depan kelas. Ia merasa bodoh. Karena jujur saja, tadi ia sama sekali tak memperhatikan Kim Heechul dan tak tahu menahu tugas apa yang diberikan. Makanya, sempat aneh juga Sooyoung tiba-tiba duduk menghadapnya dan mengajaknya berbincang lewat tulisan, barusan.

“Gara-gara aku kita jadi tidak membuat percakapan dengan benar, maaf.” Ucap Kris pelan ketika langkahnya sejajar dengan Sooyoung.

Sooyoung menarik kedua ujung bibirnya, sehingga tampak senyum manis yang jarang dilihat Kris dari jarak sedekat ini. “Jangan mengucap maaf padaku, Kris.”

Done, ayo kita lakukan.” Tandas Kris.

Senyum gadis Choi itu semakin lebar. “Begitu lebih baik.”

Sepertinya ada kemiripan percakapan detik itu, dengan tadi pagi. Bagi mereka berdua.

***

Hyung!”

Lee Jonghyun menoleh cepat ke asal suara. Terlihat dua hoobaenya tengah berlarian penuh semangat ke arahnya. Jonghyun lantas tersenyum dan melambai singkat kepada mereka berdua, “Yo!”

Yang berkacamata, dengan rambut cepak, memperhatikan apa yang tengah ditekuni Jonghyun kini. “Kenapa tidak beritahu kalau menempel posternya sekarang? Mau kubantu, Hyung?”

Yepzy. Menempelkan poster untuk konser mereka—CNBLUE—di aula sekolah malam ini. Jonghyun menggumam seraya menyerahkan beberapa lembaran poster pada Kang Minhyuk. “Maaf. Lupa kasih tahu, posternya juga baru sampai tadi pagi, sih.”

Yang bertubuh paling tinggi, Lee Jungshin, lantas ikut membantu Jonghyun menghabiskan—menyebarkan—poster-poster itu (yang sekitar puluhan jika dihitung jumlahnya). “Aku sebarkan pada teman-temanku, ya.”

“Yang penting habis, lah.” Ujar Jonghyun cuek. Minhyuk hanya berdecak mendengarnya.

“Yosh!” Jungshin berseru riang, namun seketika langkah lebarnya terhenti karena si Jangkung Lee itu teringat sesuatu. “Eh, kita gladi jam berapa, Hyung?”

Sebelum menjawab, Jonghyun tampak berpikir sejenak. “Sepulang sekolah saja. Kalau sudah tidak ada kegiatan apa-apa lagi baru kita mulai gladi.”

“Sip!”

Lee Jungshin kemudian melanjutkan langkah lebarnya, ia menyapa dua orang Sunbae yang ia kenal ketika mereka berpapasan di persimpangan menuju tangga. Mendengar nama Sunbae yang disapa Jungshin, mendadak Jonghyun merasa oksigen di sekitarnya menipis. “Annyeong Jihyun-sunbae, Sooyoung-sunbae!”

Hyung, waegeuronni?” Kang Minhyuk menangkap perubahan drastis warna permukaan wajah Jonghyun, dan menanyai sang Hyung yang malah menggeleng linglung.

“Eheh, kau lakukan ini sendiri saja ya, tiba-tiba aku sakit perut.” Jonghyun menyerahkan tumpukan kertas poster di tangannya ke tangan Minhyuk membuat si Kacamata Kang kelimpungan karena gerakan Jonghyun begitu tiba-tiba.

“Hyu—Hyung! Gwenchanayo?”

“O, gwenchana! Nan gwenchanikka! Cuma sakit perut kok! Sampai nanti, Minyuk-ah!”

Loh, kenapa malah mau menghindari Sooyoung? Isi kepala Jonghyun saling adu argumen. Yang satu—egoisme Jonghyun—mengiyakan tindakan Jonghyun, yang satunya mengatai Jonghyun payah karena tak sanggup bertatap muka dengan gadis yang disukainya.

Namun sebelum Jonghyun sempat untuk berpikir lagi, Nam Jihyun sudah menyapanya lebih dulu, sial, gagal sudah rencananya untuk menghindar, “Jonghyun-ah, bandmu tampil malam ini, kan?”

“Ji—? Eh—iya! Ada… apa?”

Jihyun mengangkat bahu, melirik singkat hawa cantik di sampingnya yang sedari tadi menggapit tangannya. Merasa punya bagian untuk bicara, Choi Sooyoung akhirnya menatap Jonghyun, ia berkata dengan agak malu, “Yoona memaksaku buat menemaninya menonton. Nggak masalah kan? Um… maksudku—aku, aku pernah menolak tawaranmu—”

“Menonton? Aku? Eh—kami?” manik Jonghyun mebelo. “Tentu saja nggak masalah!”

“Mm…,” Sooyoung tersenyum. Begitu manis di mata Jonghyun hingga membuat bibirnya juga berkendut dan perlahan membalas senyum itu. “Semangat ya, buat nanti malam.”

“O-oh…”

Dua gadis itu berlalu, dan Jonghyun masih terpatung di tempatnya berpijak. Tiba-tiba saja alasan sakit perut itu tidak berlaku lagi, tentu saja Minhyuk yang tak tahu apa-apa kebingungan. “Hyung? Sakit perutnya nggak jadi?”

“Min—Minhyuk-ah,” beralih tatapan pada Minhyuk, Jonghyun menggapai tangan kosong Minhyuk dan membawanya menyentuh dadanya. “Rasakan. Jantungku. Berdetak. Cepat.”

Hyung…”

“Dia tersenyum padaku!”

Hyung… lepaskan tanganku.”

“Senyumnya Minhyuk, senyumnya!”

Hyung! Lepas! Tanganku!”

“Yo! Aku mencintaimu Kang Minhyuk!”

Ani—aniya! Jangan memelukku—ugh—Hyung! Ini memalukan…”

***

Kegiatan belajar mengajar hari ini berakhir sudah. Sooyoung melihat satu-persatu teman kelasnya sudah meninggalkan bangku masing-masing. Yang tertinggal hanya beberapa anak yang piket kelas, Yoona, dan dirinya.

Sooyoung memasukkan semua ‘perabotan’nya ke dalam tas selendang warna peach yang selalu ia bawa. Tak lama Yoona menghampirinya.

Yoona bertanya, “Kamu bawa payung, kan?”

Sooyoung mengangguk ringan, “Selalu.”

Great,” Yoona menampakkan senyum lebarnya, lalu menyeret tangan Sooyoung. “Ayo kita keluar!”

Dres…

Hujan akhirnya turun—tidak, semenjak sejam yang lalu sebenarnya. Setelah sekian lama awan-awan hitam itu bergumul di atas atap sekolah Shinhwa. Dengan cepat hujan membasahi tanah dan pepohonan, meriaki air kolam di taman belakang, dan menghentikan langkah seorang Choi Sooyoung.

“Kamu nggak bawa payung, Yoona-yah?” Sooyoung membuka tasnya dan mengambil payung lipat transparan.

“Bukan aku,  tapi dia.” Pandangan Yoona tertuju pada satu sosok siswa jangkung yang berdiri di tepian pijak yang masih terlindung oleh atap sekolah.

Sooyoung menahan langkah Yoona. Ia mulai paham otak jahil Yoona jika tengah bekerja. “Kamu nggak berniat buat meninggalkanku di sini sendiri, kan?” tuduhnya.

“Sayangnya supirku sudah menjemput. Lagipula kamu nggak sendirian kok, Youngie… tuh ada…” Yoona terkekeh, sengaja mengantung kalimatnya. Lantas Yoona berseru kepada seorang lelaki berumur yang membawakan payung selagi menghampirinya. “Ahjussi ayo kita pulang!”

Sooyoung merengek layaknya anak balita yang mau ditinggal Ibunya. “Yoona-yah, aku menumpang mobilmu, ya?”

No, no, no!” Yoona mengankat jari telunjuknya di depan muka Sooyoung. “Ini waktu yang tepat buatku melihat kalian sepayung berdua, pulang bersama. Kamu tahu, aku terus membayangkan kejadian ini, dan akhirnya… tada!” Yoona berbisik singkat pada Sooyoung, sebelum berlalu menuju mobilnya yang terparkir di luar gerbang sekolah. Yoona membuat wink genit sebelum berlalu,“Good luck, Sis.”

“Im Yoona! Yah!”

“Pai pai!”

“Aish anak itu…”

Setelah Yoona pergi dengan mobilnya, Sooyoung tak kunjung melangkah mendekati sosok yang Yoona maksud itu, Kris Wu. Yang ia lihat tengah menangkup tetes-tetes hujan dengan sebelah telapak tangannya. Tak ada yang Kris lakukan kecuali itu. Sooyoung selalu penasaran apa yang ada di kepala Kris karena hal-hal yang lelaki itu lakukan selalu ‘jauh’ dari kata rasional. Tapi tentu saja, tidak melampauinya.

Agak ragu, tapi Sooyoung melangkah juga. Kini ia berada di samping Kris. Satu meter memisahkan mereka.

“Belum pulang?” pertanyaan Sooyoung teredam gemuruh hujan, jadi tak jelas terdengar.

“Hm.” Gumamannya seolah berarti; Seperti yang kau lihat.

Sooyoung mengangguk mengerti. “Menunggu hujan reda?”

“Ya.”

“Kenapa tidak bersama Luhan dan Minseok? Biasanya kalian barengan.”

Kris membuang napas pelan lewat hidungnya. “Mereka pulang lebih dulu.”

Kenapa jawabannya singkat lagi? Padahal waktu surat-menyurat tadi tidak begini. Ah… jalan pikiran yang sulit ditebak, Kris Wu. Sooyoung menghembuskan napas pasrah—mengalah.

Sooyoung memilih ikut diam—menyerah mengajak Kris bicara lebih lanjut. Hal yang ia lakukan selanjutnya cuma membuka payung yang sedari tadi ia pegang, lalu memayungi kepalanya sendiri. Sebelum tungkainya melangkah perlahan ke arena turun hujan. Sooyoung menengok untuk melihat Kris yang tak kunjung membuntutinya.

Dari tatapannya, seharusnya Kris tahu ia tengah mengisyaratkan Kris untuk berpayung dengannya. Berdua. “Ayo!”

Kris baru saja akan menyusul Sooyoung. Baru saja, jika…

“Sooyoung-ah, chakkan!” pemilik suara itu membuat keduanya menoleh. Di sana Lee Gikwang, tengah menghampiri Sooyoung. Dengan tangan melambai di udara. “Untung ada kau!”

Musun irinde?” tanya Sooyoung, Kris ikut mengalihkan perhatiannya sejenak pada Gikwang.

“Bisa kan, kau berbagi payung dengan Jonghyun? Dia tidak bawa payung.” Tutur Gikwang, setelah mengatur napas habis berlarian menyusul Sooyoung.

“Um,” Sooyoung terlihat agak ragu, pandangannya mengarah pada Kris—meminta pendapat.

Sayangnya Kris dengan sengaja mengalihkan perhatian dari Sooyoung, lelaki itu kembali menyibukkan diri dengan tetes-tetes hujan yang menyentuh permukaan telapak tangannya.

Gikwang terus membujuknya, “Ya? Ya? Mau ya? Sooyoung-ah kau kan baik…”

“Dimana Jonghyun?”

Apa Kris marah? Mianhae, Kris.

Sooyoung tidak tahu kenapa ia menyanggupi permintaan Gikwang. Sooyoung pikir akan lebih baik pulang bersama Jonghyun yang banyak bicara, ketimbang bersama Kris yang akan berdiam diri seribu bahasa—jelas akan canggung.

“Hah, itu dia orangnya.” Kata Gikwang menunjuk Lee Jonghyun yang melangkah santai menuju tempat ia dan Sooyoung berdiri. Gikwang berseru, “Oi!”

Jonghyun memberinya tatapan tanya, lalu pandangannya berubah ketika menyadari Sooyoung juga ada di sana. Berdiri di samping Gikwang. Dalam hitungan sekon Jonghyun dan Sooyoung bertukar tatapan.

“Kau pulang dengan Sooyoung, ya. Soalnya aku mau mengantar Jihyun.” Jelas Gikwang kalem.

“Yah! Segampang itu kau ingkar janji!” Jonghyun mengepalkan tangan hendak memukul Gikwang, tapi laki-laki yang lebih pendek itu gesit menghindar, lalu terkekeh. Oke, ia memang janji akan mengantar Jonghyun pulang pakai motornya hari ini, tapi Jihyun tiba-tiba ada urusan mendadak.

“Jadi kamu dengan Jihyun itu beneran pacaran?” tanya Sooyoung setengah menebak.

Bingo. Tapi jangan disebar, ya. Jihyun lebih suka hubungan rahasia begini. Lagipula aku bisa dikeroyok fansnya kalau sampai ketahuan memacari dia.” Gikwang mengedipkan sebelah matanya, “Aku duluan, Bro, bye.” Gikwang melambai pada Jonghyun yang tengah melongo. Berbeda dengan Sooyoung yang balas melambaikan tangan.

Gikwang membuat Jonghyun seolah dia adalah anak hilang yang dititipkan pada Sooyoung. Adakah image yang lebih buruk dari itu? Sialan.

“Padahal tanpa disebar juga orang-orang akan tahu,” Sooyoung terkikik sebentar. Lalu menggaet tangan bebas Jonghyun sebelum membuka kembali payungnya. “Kkajja.”

Jonghyun terpaku melihat tangan Sooyoung yang menggapit tangannya. “Tanganmu…”

Waeyo?” bertanya begitu seraya memiringkan sedikit kepalanya. Manik dan pipinya yang bulat. Poni tirai dan rambut cokelatnya yang tergerai. Cute, puji Jonghyun.

A-ani.” Gugup, Jonghyun terlalu gugup untuk menjawab pertanyaan dengan benar sekarang.

Mereka pun menebas rintik air yang tanpa henti menjatuhi permukaan bumi. Jonghyun merasa dewi fortuna sedang memegang kartu As di sekitarnya. Betapa beruntungnya! Jadi, sekarang ia harus berterimakasih pada Gikwang?

Berbanding terbalik dengan Kris yang melihat punggung keduanya menjauh, dengan sorot mata tajam bak elang, tidak suka. Terlebih kepada lelaki yang menenteng tas gitarnya, Lee Jonghyun.

***

Sooyoung memperhatikan Jonghyun yang seolah menjaga jarak darinya. Jadi Sooyoung mengaitkan tangannya pada lengan Jonghyun. Sehingga tubuhnya lebih rapat dengan lelaki marga Lee itu. “Percuma dipayung kalau jalannya jauh-jauh begitu, sini.” Katanya sewaktu Jonghyun memberinya mimik wajah bingung.

Jonghyun pasrah. Padahal sengaja ia jauh-jauh dari Sooyoung karena takut gadis itu mendengar detak jantungnya. Tapi, malah semakin menempel saja. Anak ini memang hobinya nempel-nempel atau gimana?

“Biar aku yang pegang payungnya,” kata Jonghyun.

“Satu tanganmu kan sudah menenteng tas gitar itu,” Sooyoung mencegah Jonghyun mengambil alih payung. Lantas mengenggam batang payung erat dengan tangan kirinya.

“Kalau begitu pegang sama-sama saja.” Kini, kulit mereka berdua bersentuhan, karena telapak tangan Jonghyun berhasil menutupi tangan Sooyoung yang lebih kecil.

“Hum…” Sooyoung mengangguk, tubuhnya semakin merapat dengan tubuh Jonghyun.

Samar-samar, Jonghyun tersenyum.

Sooyoung mengendurkan pegangan tangannya pada batang payung. “Tiga belokan lagi  aku sampai di rumah. Nih, kamu bisa pakai payungku dulu. Kembalikan besok saja.”

“Aku akan mengantarmu sampai rumah,” putus Jonghyun. Sooyoung sudah menolaknya secara halus namun Jonghyun bersikeras. Padahal arah rumah mereka bertolak belakang, Sooyoung hanya cemas jika Jonghyun mengantarnya pulang, itu berarti Jonghyun akan menempuh jarak dua atau tiga kali lipat untuk mencapai rumahnya sendiri—dengan berjalan kaki.

“Aku nggak apa-apa, kamu pulang aja pakai payungku.”

Cewek ini maunya apa, sih? Hujan-hujan begini malah ngasih pinjam seorang cowok payung, sementara dia sendiri rela kehujanan demi sampai rumahnya? Jonghyun tak habis pikir, kadangkala kebaikan hati Sooyoung itu berlebihan.

“Kau saja yang pegang,” Jonghyun menangkup kedua tangan Sooyoung diantara gagang payung. “Bilang saja kalau kau nggak mau kuantar, ya kan? Baiklah aku akan pulang. Terimakasih atas tumpangannya.”

“Hei!” Sooyoung mencekal tas punggung Jonghyun. “Nanti kau sakit kalau hujan-hujanan! Keras kepala sekali!”

Ck, Choi Sooyoung kau memang aneh! Gerutu Jonghyun gemas. Jonghyun membalikkan badannya, lalu memegang gagang payung itu lagi.

“Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau begitu peduli padaku? Memang masalahmu kalau aku sakit?”

“Eh?” kedua kelopak mata Sooyoung mengerjap heran. Ia mendongak dan memandang raut kesal Jonghyun. Jonghyun yang dipandangi seperti itu, jadi gugup, terasa tersengat alirak listrik.

“Kau menyukaiku? Tidak kan. Kau temanku? Bukan. Bertemu saja baru beberapa kali. Apa kau juga sebaik ini dengan lelaki lain? Oh… aku tahu, pantas saja banyak kakak kelas yang suka padamu. Kau mencoba mencari muka pada setiap namja?”

“Bu-bukan seperti itu!” bola mata Sooyoung bergerak-gerak, risih. Ucapan Jonghyun tak salah, namun tak sepenuhnya benar. Namun tetap saja, ia tersinggung, padahal niatnya tulus menolong Jonghyun.

Sementara lelaki itu menatapnya kesal—kesal pada diri sendiri karena telah mengucap pernyataan sepedas itu. “Kau menyukai Kris, kan? Jadi jangan membuatku berharap padamu, Choi Sooyoung!” bentaknya dengan suara keras—bahkan melebihi gemuruh hujan.

“Apa katamu tadi?”

“Kau menyukai Kris!”

Ternyata mata Sooyoung yang sudah bulat itu dapat membulat lebih besar lagi. seiring dengan bibirnya yang terbuka tanpa sadar, “Hah?”

“I-iya, kau… kau kan…” Jonghyun tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan bibir Sooyoung yang terbuka lebar seperti itu.

Gila! Lelaki itu tak mampu menahannya.

Bad timing, Lee Jonghyun!

Dari gagang payung, tangan Jonghyun beralih menangkup wajah Sooyoung. Lantas menciumnya dengan sepenuh emosi yang dia rasa. Manik Jonghyun terpejam, nikmat, marah, kesal, senang… nekat. Sooyoung yang terkejut mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia terkesiap, maniknya terbuka lebar. Lemas, payung terjatuh dari tangannya, membiarkannya terbujur bisu dengan suara kecipak dari jalanan. Bergumpal-gumpal air menghujani tubuh mereka, keduanya basah kuyup.

Jonghyun terus mencium Sooyoung kendati gadis itu diam mematung—tak membalasnya. Kendati pun orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka. Kendati pun tubuh mereka terguyur hujan. Kendati pun ia tahu ini ciuman percuma.

Perlahan, kepala Jonghyun menjauh, bibir mereka sudah terpisah. Dentum jantung Jonghyun masih sekencang tadi, ketika apple-nya merasakan betapa manis cherry milik Sooyoung. Menatap gadis itu sayu, sampai kalimat yang telah lama terpendam itu keluar, “Nan niga joha, Sooyoung-ah.”

“!”

Joharago, Choi Sooyoung.”

Antara syok dan bingung, Sooyoung membeku di tempatnya berpijak. Matanya memerah perih, rambutnya yang basah menutupi sebagian muka meronanya. Sebelum sempat menjawab pengakuan Jonghyun, lelaki itu sudah mencondongkan wajah lalu mencium bibirnya untuk yang kedua kali.

***

A/N: Roger! Fani di sini, masih idup kok, ga mati ga ngilang kemana-mana. Fanfic ini juga masih niat dilanjutin kok, secara cinta segitiga Jong-Soo-Kris itu adalah favorit saya. Jangan bunuh saya please kalau apdetannya enggak banget dan kelamaan (gilak udah kayak mau di drop aja, berapa bulan sih saya nunggak series ini? /tampangpolos/)

Mau tanya nih, kata yang bener itu napas atau nafas sih?

Terus menggaet itu bahasa Indonesia bukan?

Soalnya Fani bingung .___.

Iklan

28 Comments Add yours

  1. Vi berkata:

    Hai fan ^^
    Iya ditungguin loh kelanjutan ff ini, aku suka aja sama sooyoung-jonghyun.

    Setau vi, yg bener tuh “nafas”

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Oh thanks infonya 🙂

      Suka

  2. febryza berkata:

    oyampun akhirnya ini ff di update juga fan kirain lupa hehehe… Kris kenapa talkative bgt tadi awal2 eh pas mau sooyoung tawarin payung malah diem begitu keduluan jonghyun tuh kan.. mana itu itu itu jonghyun nyium sooyoung ituuuuuuu ampe 2x lagi yaelah jonghyun beruntung bener episode ini kayaknya.. Kris liat mereka berdua ciuman engga yah? lumayan jleb juga pasti itu… lucu bgt pas minhyuk sama jonghyun hahahaha ya ampun minhyuk kena sial kayaknya hahaha

    Suka

  3. Panda_choi berkata:

    Akhirnya stelah nunggu seabad (?) ini ff di lanjut jga,,

    Jonghyuuuuuuuun, knpa bkan aku saja yg kau cium #Plak
    Sumpah, Jonghyun nekat bangeeet. Tpi jga lucu bnget sih, ngebayanginnya kq cute bnget ya, haha
    I love JongYoung couple, tpi di part ini moment SooKris terasa lebih manis di banding JongYoung menurutku..

    Suka

  4. icha dewi berkata:

    yeeee akhirnya di post juga wahh jonghyun keren uda ngungkapin perasaannya di lanjut thor jangan terlalu lama ya hehe

    Suka

  5. Dorky Desy berkata:

    Jonghyuuuun mauuuu :3 LOL
    dih romantis bangettt><
    yaudah. Aku dilema diantara jong-soo-kris ;-;
    pokoknya ini ff faforit selain an involved lover sama tetragon-nya kak genie ❤
    pinginya sih ff ini di update dalam waktu dekat… Tapi kalo kamu bisa sih 😉
    fighting!

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Aku usahain bisa aku juga ingin rajin update kek author lain..

      Suka

  6. Rizky NOviri berkata:

    akhirnya ya nonggol juga ini lanjutannya.. ya ampun udah berapa abad ya.. 😀 hahaha

    kris kyknya suka ama soo ya.. :3
    yoona mau jd makcombang ya.. 😀 haha

    gikwang sengaja gak tuh.. haha
    cie cie
    jonghyun..
    td siang dapet senyuman..
    eh sorenya
    langsung cium aja.. 😀 hahaha
    nekat nya ya.. ckck

    sooyoung apa yang akan kau lakukan ???
    aaaa.. penasaran..
    baru d lanjut moment jong-soo nya ya ampun… menggemaskan… 😀

    kayaknya NAPAS deh..
    suka bingung juga sih.. 😀

    kalo menggaet bahasa indo deh cuma gk baku gitu.. #kayaknya sih 🙂

    hehe..

    daebakk chingu..
    lanjuttt..
    jgn lama lama yeee… 😉

    Suka

  7. soobeautifulchoi berkata:

    Akhirnya ni ff nongol jg 😀
    Apa?! Gmna dgn kris sooyoung?!
    Astaga, kris krang cpat sih, jonghyunnya mlah udah nyium sooyoung 😦
    Whaa jgn jdian jgn sma kris aj yah 😦
    Update soon please 😀
    Pnsran bgt, kris itu jg ska sma soo kan? di liat dri reaksinya td wktu soo sma jonghyun plang breng 😀
    Bgus bgus ak ska pke bgt!

    Suka

  8. Ranran berkata:

    suka bgt ma jonghyun.
    pling suka dgn character jonghyun klo seperti ini.
    orng nya malu” tp mw.

    da pa dgn.mu kris ???
    cemburu ma jonghyun
    atw kesel ma soo krn soo pulng ma jonghyun ???
    mkanya jgn terlalu pasiv.
    liat tuch jonghyun dah lari sedgkan u cuma jln d tmpat aja.
    klo suka tunjukin dong

    laki” itu g boleh pengecut

    Suka

  9. cicamica berkata:

    weh nongol juga nih ff. udah ditunggu dari jaman apa aja gitu.
    kyaaaa berasa deg2annya di dialog terakhir. gue dukung jing-young. suka banget sama pairing itu. aduh mas kris buat gue aja boleh kan? #apasih

    Suka

  10. andryanisa berkata:

    wahh akhirnya yg ke 2 keluar juga, lumayan juga nungguinnya hehe
    sebenernya sooyoung suka ga sih sama kris?
    lanjut thor

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Suka nggak yah hehehe

      Suka

  11. andryani berkata:

    wew akhirnya keluar juga yg ke 2, lumayan sih nungguinnya
    sebenernya sooyoung suka ga sih sama kris?
    lanjutin ya thor

    Suka

  12. Lovanisa berkata:

    Wow ini lama banget.
    tapi kebayar kok 🙂
    Setauku sih nafas
    Menggaet bhs indo tapi baku apa ngga sih kurang tau ya
    Keep write yahh
    ceritamu selalu keren.
    selalu punya karakter

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Makasih lovaaaa
      huhu iya maafin ya kelamaan

      Suka

  13. peperorin berkata:

    Aaaa gila jonghyun nekat parah…. tapi drg2an juga sih pas bagian jonghyun nyium sooyoung *-* jongyoung! Jongyoung! Lama bgt aku nungguin lanjutannya ._. Terus semangat fanneey eon!

    Suka

  14. kimhyynsoo berkata:

    Keren banget ff nya … Nih ff paling ak tunggu lih … Akhirnya dateng juga kak ..

    Suka

  15. Di berkata:

    Akhirnyaaa di update juga hehehe jonghyun-sooyoung yang super sweet banget ya ampun sebagai shipper Sookris dan JongYoung susah banget kayanya mau nentuin endingnya pengen sama siapa T-T next update please huhuhu

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Sama say, penulisnya aja bingung apalagi readernya

      Suka

  16. andrianievi berkata:

    ah!!!!! senyum” sendiri waktu baca ff ini!!!!!
    ff author yang satu ini emang selalu sukses bikin masuk ke alur cerita.a!!!!
    tapi dilema nih, satu sisi seneng banget ama pairing Jonghyun-sooyoung, tp kris??? aq juga suka!!!

    Suka

  17. tieeww caiiank berkata:

    ahirnyaaa d lanjut juga nie ff ^^
    fani jgn ngilang lagii ya ..kke~

    setujuu nie,,suka bgt ma cinta segitiga jong-soo-kris ..
    makanya updatenya jgn lama lagii ya..hhe

    ituu jong~mau bgt dehh d kiss ujan”.an gtuu
    romantiiss binggow ..^_^

    d tunggu ajh lanjutanya ya canntikkk,,
    moga gak lama..hhe
    keep writing yooo
    fighting^^

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Dih, pake manggil cantik, tau aja, hahahaha

      Iya-iya ff ini ga bakal stop, semua ffku on-going semua kok

      Suka

  18. Rizky Amelia berkata:

    Kerennn, kerenn banget malahhhh bisa bikin melting masaaaa
    Dohh udah senang Sooyoung bakalan pulang bareng sama Kris eeh gak taunyaa malah di ganggu Gikwang ckk-_- tapi gapapa akhirnya Jonghyun sm Sooyoung kisseu di bawah hujannn cihuyyyy wks~ kurang romantis apa cobaaa kalau Yoona tau mungkin bakal histeris kali yaaa wkwk
    Ituuu Kris suka nggak yaa sm Soo eonni kok kayaknya ga rela gituu Soo itu pulang bareng Jonghyun habis sii jadi orang kok kayak es. Dingin banget-_- untung ganteng yaww wkwk:3
    Yaahh jadinya bingung bakal milih SooKris atau SooJonghyun.-.

    Ditunggu next partnyaaa^^

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Ih makasih banget rizky udah baca dan komen hihihi
      Yang nulisnya juga melting masa, ah, soalnya jongyoungie memang such a qt!

      Suka

  19. chevelyyn berkata:

    YATUHAN AKU KEHABISAN OKSIGEN KAK TANGGUNG JAWAB KAKK 😦

    Serius aku suka banget chapter inii! Aku udh teriak2 ga jelas selama baca nih kak. Walaupun jonghyun nya betein banget ih pengen aku tinju. Enak saja kamu cium2 anak orang sementara yg dicium masih ga ngeh sama apa yang terjadi.

    Satu lagi, LEE GIKWANG KAMU SIALAN PADAHAL KAN SOOKRIS UDH MAU PULANG BERDUA HUVT GANGGU MOMEN BANGET SIH /ninja marah/

    Aduh jangan2 abis ini sooyoung jadian sama jonghyun 😦 bener kan! Kedepannua jadi seru bangett! Aku menunggu lanjutannya kak faniii, hwaitinggg! 😀

    Oh iya, menurut kbbi, yang bener itu “napas” kak heheheh pdhl selama ini aku selalu pake “nafas” 😦

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Serius menurut kbbi? Iya aku juga suja bingung, okedeh “napas” mulai sekarang.

      Btw kamu kehabisan oksigen karena fangirlingan ato ngambek? Jonghyun jangan ditonjokkkk dua unyu sekali tau daripada kris yang dingin bet *ditendangkris*

      Tapi,

      OIIII JANGAN SPOILER OYY *ketauandeh* jongyoung jadian gak yah ha-ha-ha rahasia (?)

      Hei, ngomong-ngomong aku jadi semangat ngelanjutin ff ini gegara kamu :”)

      Suka

  20. ismi berkata:

    Kfis kyknya ad rsa deh ma soo..hmm jonghyun nafsuan bgt yh ? Hohoho lalu gmana tuh dg soo…?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s