[FF] Second Life Sensation – Chapter 04

Title: Second Life Sensation
Author: Fanneey (Replay)
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Rating: G
Length: Series
Language: Indonesian
Cast(s): Cho Kyuhyun [SUJU], Choi Sooyoung [SNSD], Shim Changmin [TVXQ], Lee Jonghyun [CNBLUE]
Summary: Cho Kyuhyun menyukai sahabatnya, Shim Changmin, yang ternyata malah menyukai Choi Sooyoung yang notabene musuh bebuyutannya di Sekolah. Tapi, siapa sangka? Kyuhyun memiliki kesempatan untuk mengubah takdir cintanya dalam waktu tiga hari.
Inspiration: “49days” Korean drama, “Ghost” Korean film, “Love is Cinta” Indonesian film.

wufanneey-106

***

Chapter Four – Their Minds

Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Lee Jonghyun, sahabatku sendiri, menusukku dari belakang. Memberikan hinaan picik seperti yang lainnya. Ternyata… dia tidak ada bedanya!

Sama saja!

Tidak pernah ada yang benar-benar peduli padaku di dunia ini!

Aku memang lebih baik lenyap saja!

***

Sooyoung’s Pov

 

Semua pelayan tersenyum saat aku memasuki rumah. Memberiku makanan lezat, pakaian bagus, fasilitas kelas atas. Banyak anak yang mengharapkan hidup mewah seperti aku. Mereka pikir aku bahagia seperti ini? Tidak. Aku benci hidupku.

Aku tidak pernah punya teman. Aku selalu di bully di sekolah. Anak-anak miskin yang ber-IQ rendah saja tahu bagaimana caranya membuatku selalu menderita di sekolah. Mereka mengejekku, menghinaku, dengan kata-kata pedas yang selalu mengataiku ‘Anak PSK’.

Tentu aku tidak pernah diam saja. Aku melawan tiap kali mereka berkata begitu.

Ya! Ibuku memang PSK! Tapi bukan berarti kalian bisa bebas menghinanya! Dia itu Ibuku, bukan Ibu kalian! Bodoh! Sekali pun ada orang yang berhak mengatai Ibuku, ya itu adalah aku!”

Pekikan yang sering kulontarkan pada mereka.

Aku memang menyedihkan, bukan?

Satu-satunya temanku hanyalah Jonghyun. Lee Jonghyun adalah orang pertama yang tersenyum dan menyapaku saat aku baru masuk sekolah. Saat itu kami kelas satu. Aku ingat saat pertama kalinya dalam hidupku ada yang mengajakku pulang sekolah bersama, tapi sayang aku dijemput oleh supirku. Jadi aku hanya bisa melambaikan tangan pada Jonghyun dari jendela mobil.

Dan, Jonghyun membalas lambaianku. Dan hari-hari berikutnya pun sama. Dia bersikap baik padaku. Dia teman yang baik. Teman pertamaku.

Suatu ketika, aku pernah menanyakan pada Jonghyun kenapa dia mau berteman denganku.

Dia menjawab dengan tenang, “Aku berteman dengan siapa pun, kok.”

“Oh, benar juga. Kau kan memang punya banyak teman.” Kataku.

“Hei, kau sedang menyudutkanku?”

“Tidak, aku hanya merasa orang paling kesepian di dunia. Aku tidak punya teman.” Ungkapku dengan senyum miris.

Jonghyun mengerang lalu mengacak rambutku.

“Yah… Choi Sooyoung! Lalu aku ini apamu?”

Bodyguard-ku.”

“Yah!”

Lalu, kami tertawa bersama.

“Apa kau pernah mengatai Ibuku?” tanyaku. Walau aku tahu Jonghyun tidak mungkin pernah melakukannya.

“Untuk apa aku mengatainya?”

“Kupikir pekerjaannya menjijikkan. Dan jujur saja, aku juga sangat ingin mengatainya wanita bodoh.”

“Jangan begitu, dia itu bekerja untukmu tahu. Dan kupikir, dia tidak bodoh. Karena menjadi artis itu pekerjaan halal.”

“Artis blue film, hahaha… halal katamu?” aku tertawa hambar. “Come on, semua tahu itu film menjijikkan. Atau jangan-jangan… kau suka menonton Ibuku melakukan adegan this and that? Kau mengoleksi foto bugilnya, ya?” tebakku asal. Jonghyun mendengus.

“Dengar, deh.” Katanya. “Aku hanya akan mengatakan ini sekali, jadi camkan dalam otakmu!”

“Oke, oke, aku dengar yadongers bicara.”

“Choi Sooyoung, serius, nih!”

“Iya!”

“Ibumu, dia adalah Ibumu. Kupikir, dia wanita hebat. Dia membesarkan sendiri anaknya dengan pekerjaan yang sangat berat. Kau tahu kan, pekerjaan seperti itu perlu mental dan fisik yang kuat. Dan, aku mengaguminya bukan berarti aku yadongers seperti yang kau pikirkan. Setiap single parent patut diacungi jempol, asal kau tahu saja.” Jelasnya panjang lebar.

Aku meneguk liur.

Ya, Jonghyun ada benarnya.

***

Oh, aku hampir lupa sesuatu. Saat pertama kali masuk sekolah. Ada anak laki-laki yang benar-benar menyebalkan—dia lebih menyebalkan dariku. Tapi anehnya, banyak orang yang menyukainya dan menganggapnya bisa segalanya. Itu bodoh. Aku tidak mengerti kenapa.

Padahal kupikir, sifat kami tidak jauh berbeda. Angkuh, sombong. Hmm, mungkin dia memang lebih unggul di bidang akademis dan prestasi. Namanya Cho Kyuhyun. Dia atlet taekwondo. Hah… paling kerjaannya hanya berkelahi saja, apa hebatnya sih? Kalau cuma begitu aku juga bisa!

Hari itu, aku ingat hari yang paling sial bagiku. Cho Kyuhyun menjahiliku, aku tahu itu. Dia memasukkan sepatuku ke kolam ikan taman belakang sekolah.

Aku marah besar. Bukan karena apa-apa. Tapi itu adalah sepatu kesayanganku, itu satu-satunya pemberian Appa yang masih tersisa! Dan, lihat apa yang Cho Sialan itu lakukan pada sepatuku?!

Dan, apa yang dia katakan? Dia malah berasalan sepatu itu masuk ke dalam sana dengan sendirinya! Dia kira aku bodoh apa? Mana aku percaya?

Baru setelah kuteriaki dengan kata-kata kasar—sebut saja kata-kata binatang—dia meminta maaf padaku, itu pun dengan nada tinggi seperti sedang membentakku. Arh! Dia benar-benar mengesalkan!

Hari-hari berikutnya pun sama, dia selalu muncul di hadapanku dan membuat masalah. Aku ingin membunuhnya agar dia lenyap dari pandanganku. Tapi aku berpikir dua kali, mengingat resiko di penjara yang ada di depanku.

“Uh… Ng,” aku menyentuh kepalaku yang terasa gatal. Eh, seperti ada bulu… kucing?

“Grrr… Myaw!”

Srat!

“Arh!” aku merintih dan melihat seekor kucing melompat dari atas kepalaku. Tanganku tergores kukunya. Perih sekali.

“Pffft… hahaha!” aku menoleh mendapati suara tawa yang tak asing.

“Cho Kyuhyun!” aku beranjak dari bangkuku dan mencengkram kerah kemejanya. “Kau yang melakukannya kan? Apa kau mau merusak tidur siangku, hah?”

“Oh… Sooyoungie yang cantik sedang tidur siang rupanya. Oops! Mianhae, aku kira kau pingsan.”

“Yah! Neo jinjja!”

Cho Kyuhyun kembali tertawa keras dengan wajah bodohnya. Aku benci. Aku membencinya! Aku sangat membencinya!

“Berhenti tertawa!” pekikku. Tapi dia tidak berhenti. Oh, harusnya aku tahu itu! “Berhenti tertawa, bodoh!”

“Lucu. Sebenarnya siapa yang bodoh di sini? Semua orang tahu aku selalu mendapat peringkat satu.” Dia menjulurkan lidahnya. Ingin kugunting saat itu juga!

“Cho Kyuhyun! Kurang ajar kau! Kenapa kau selalu menjahiliku, hah? Memangnya aku punya salah padamu? Apa karena kejadian soal sepatuku itu? Kalau iya aku minta maaf! Tapi kali ini kau benar-benar keterlaluan! Aku membencimu, brengsek!”

Aku berlari meninggalkannya. Cih, payah. Aku menangis.

Aku duduk dan menyendiri di bawah pohon maple. Membiarkan airmataku terus mengalir. Aku tidak tahu, tidak bisa berhenti. Aku menangis karena Cho Kyuhyun, dan karena Appa yang pergi dengan wanita barunya, karena pekerjaan Eomma yang hina, karena aku yang begitu payah…

Karena semuanya…

“Aku benci takdirku! Lebih baik mati saja!” jeritku. Lalu, menangis lagi.

“Kau yang di sana, kau mengganggu tidurku.”

Aku menoleh ke belakang pohon. Seseorang sedang berbaring sambil menutup matanya. Diakah yang bicara?

“Kau bicara padaku?”

“Siapa lagi yang berisik di sini selain kau?” dia beranjak dan memberikan sapu tangan biru muda padaku. “Jangan menangis, kau semakin jelek.” Katanya singkat. Lalu berlalu begitu saja dengan sapu tangannya yang ada padaku.

Chakkan… sepertinya aku pernah melihat orang itu. Dia… teman sekelasku bukan?

Ingat, ayo ingat. Geurae! Dia cowok super jangkung yang selalu menempel pada Kyuhyun! Kalau tidak salah namanya… Shim Changmin?

***

Aku sering tidak mendapatkan kelompok belajar saat Sonsaengnim memberi tugas yang harus dikerjakan oleh kelompok.

Aku mendesah. Ya, kerjakan sendiri saja tidak ada salahnya. Atau… aku bisa mengajak Joongki, dia anak polos kutu buku yang ada di kelasku. Sepertinya dia juga tidak mendapat kelompok.

Aku menghampirinya, “Hei, bekerjalah untukku.” Aku berdiri sambil terus memandangi kepalanya. Karena dia terus menunduk membaca buku tebalnya dengan serius. “Yah, Song Joongki. Aku akan membayarmu, jadi tenang saja.” Kataku. Oke, uang memang selalu bisa menyelesaikan masalah, kan?

Dan, benar. Dia menoleh.

“Apa kau sedang memintaku untuk sekelompok denganmu di Laporan Biologi itu?”

“Sekelompok hanya dua orang, benar kan?” aku memjawab pertanyaannya dengan pertanyaanku.

Dia mengangguk. “Oh, pantas saja semua orang menjauhimu. Kau benar-benar menyebalkan, ya. Choi Sooyoung?” dia kembali memfokuskan diri pada buku yang dibacanya.

Oh, sialan.

Anak culun pun menganggapku menyebalkan?

***

Kulihat Jonghyun sedang mengobrol dengan teman-teman Band-nya—Yonghwa, Minhyuk, dan Jungshin. Selain siswa yang aktif di OSIS, dia pun membuat Band di sekolah. Biasanya dia tampil dengan Band-nya saat ada acara-acara Pentas Seni, Pekan Olahraga, dan Festival-festival sekolah. Begitulah.

Dan karena dia adalah siswa yang aktif, dia punya banyak teman dan fans cewek. Berbanding terbalik denganku yang menyebalkan dan penyendiri.

Yonghwa tersenyum kikuk saat aku menghampiri meja tempat mereka mengobrol, aku bisa melihat dia memberikan isyarat pada Minhyuk dan Jungshin untuk pergi. Lalu dia menyikut Jonghyun yang memunggungiku.

“Er… sepertinya kami harus pergi.” Ucap Yonghwa. Yah, aku tahu dia berusaha untuk tidak satu meja denganku atau terlibat percakapan denganku.

“Jong, bantu aku tugas Biologi ya? Temui aku di perpus sepulang sekolah ya!” ucapku seceria biasanya—di hadapan Jonghyun aku memang selalu tersenyum, entah kenapa. Mungkin karena pribadinya dan ramah, aku jadi bisa begitu terbuka padanya. Bahkan beberapa kali aku pernah menceritakan isi hatiku pada Jonghyun… ya, bisa dibilang… curhat.

“Maaf Soo. Hari ini aku harus rapat OSIS, maaf ya.” jawabannya jelas membuatku kecewa.

“Begitukah? Sepertinya aku harus mengerjakan tugas kelompok sendirian ‘lagi’.” Aku menekankan oktaf di bagian ‘lagi’.

Jonghyun memasang wajah menyesalnya. “Mianhaeyo…” dia memelas. Aku tertawa melihatnya.

Aku akui aku tidak bisa membencinya hanya karena dia tidak bisa membantuku mengerjakan tugas Biologi. Jonghyun menolakku karena rapat OSIS memang lebih penting, benar. Dan, aku percaya padanya.

“Sudahlah, aku tidak apa, kok. Ini hal biasa buatku.” Ujarku.

“Benar ya! Ah, baiklah aku akan mengajakmu nonton lagi nanti!”

***

Aku kewalahan mengerjakan tugas ini. Ah, kepalaku rasanya mau pecah. Aku pusing sekali! Ternyata Jonghyun benar-benar berguna dalam membantuku untuk setiap tugas. Giliran dia tidak ada, aku kerepotan mengerjakannya sendiri.

Pasrah sajalah.

“Kemana penjaga perpusnya?” seseorang bertanya. Aku mengangkat kepala untuk melihatnya. Dan seketika raut wajahku berubah. Entah kenapa aku tidak suka melihat orang itu di sini.

“Penjaga perpus sudah pulang.” Jawabku datar, terkesan sekali sepertinya aku tidak ingin memperdulikan keberadaannya di sini. Seakan tidak ingin mengerti aku, dia malah duduk di sampingku kemudian. Jelas aku kaget.

“Kenapa?” tanyanya.

“Ti-tidak apa-apa.” jawabku gugup, sebelum kembali menyibukkan diri dengan sesuatu yang kukerjakan, laporan Biologi.

“Kau tampak kesulitan mengerjakan itu.” ujarnya. Bukan kesulitan lagi, tapi sudah sangat! Jeritku dalam hati.

“Uh… Mmm, sedikit.” Jawabku akhirnya.

“Aku bisa membantu,” katanya. “Soalnya tugasku sudah beres dan aku tidak ada kerjaan.” Sambungnya.

Apa aku tidak salah dengar?

Shim Changmin mau membantuku mengerjakan tugas?

Ternyata anjing penjaga Kyuhyun adalah Malaikat penyelamatku!

***

Pulang sekolah, aku tidak percaya tugasku sudah selesai dan kurasa aku akan dapat nilai A. Dan lagi, sabtu nanti aku ada kencan dengan Changmin. Aku tidak percaya dia begitu baik padaku. Aku harus memberitahukan ini pada Jonghyun, dia ikut senang tidak ya mendengarnya?

Aku sudah berdiri di depan Ruang Sekretariat OSIS dan hendak mengetuknya, tapi dari jendela. Tidak ada siapa-siapa? Aku membuka pintu dan mendapati Joongki ada di sana. Yeah… si culun berkacamata itu memang pintar. Dia juga aktif OSIS.

“Jonghyun sudah pulang?” tanyaku. Joongki mengangkat bahu. “Loh? Katanya OSIS rapat hari ini?”

“Siapa bilang?” Joongki balik bertanya.

“Lalu kau sedang apa?”

“Aku sekretaris di sini. Aku perlu menyelesaikan beberapa proposal. Dan, OSIS tidak rapat hari ini.” Katanya, lalu matanya kembali menatap komputernya, mengetik dokumen entah apa.

“Rapatnya dibatalkan?” aku memastikan.

Joongki menggeleng. “Rapatnya masih seminggu lagi, kok.” Katanya. “Acaranya kan masih lama, waktu dua bulan yang diberikan itu memang terlampau lama untuk OSIS.”

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Semua terasa aneh. Jadi, secara tidak langsung… cowok ini baru saja memberitahuku kalau…

Jonghyun membohongiku?

Andwae. Maldo andwae.

 

Aku pun pergi dari sana dan menuju studio tempat Jonghyun dan Band-nya biasa latihan. Studio itu adalah fasilitas khusus yang di berikan sekolah untuk Band-Band yang ada di sekolah.

Benar, Jonghyun dan yang lain ada di sana.

Choltae andwae.

Aku berusaha menyingkirkan segala pikiran negatifku dan memasang mimik ceria seperti biasanya. Aku hendak mengetuk pintu… tapi lagi-lagi tertahan, atau ada sesuatu yang menahanku saat kudengar suara Yonghwa.

“Kenapa kau tunda-tunda, sih? Padahal kau sering berduaan dengannya.” Berduaan? Jonghyun dengan siapa?

“Hahaha, aku juga tidak tahu. Tapi saat bersamanya, rasanya tidak menarik lagi kalau aku langsung to the point.”

Jonghyun tertawa. Apa? Siapa sih yang mereka bicarakan? Jonghyun tidak pernah cerita dia begitu dekat dengan cewek selain… aku?

“Sooyoung sepertinya memang asli anak Choi Jina! Artis seksi G.Na! Demi apapun dia punya tubuh yang bagus seperti Ibunya, hahaha!” Jungshin menimpali.

Jadi… mereka membicarakanku? Kenapa mereka membawa-bawa nama Eomma?

“Dia punya dada yang cukup besar. Aku jadi takut setiap berduaan dengannya. Apalagi kalau dia sudah menggandeng tanganku.” Ujar Jonghyun.

“Hei, padahal lakukan saja dengannya! Ibunya saja seperti itu, dia tidak akan menolak!” seru Jungshin.

Jadi… Itu? Itu yang ada di pikirannya setiap bersamaku?

Aku… aku tidak tahu harus apa sekarang. Hatiku tertohok.

Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Lee Jonghyun, sahabatku sendiri, menusukku dari belakang. Memberikan hinaan picik seperti yang lainnya. Ternyata… dia tidak ada bedanya!

Sama saja!

Tidak pernah ada yang benar-benar peduli padaku di dunia ini!

Aku memang lebih baik lenyap saja!

***

Memegangi kepalaku yang tarasa berat. Mataku berkunang-kunang. Aku tertawa-tawa dalam hati. Jadi seperti ini rasanya minum alhohol. Ah… menyenangkan. Kenapa Eomma tidak pernah mengajakku setiap dia minum-minum ya?

Padahal kami bisa saling berbagi kisah kalau dia lakukan itu, dan hubungan kami akan membaik. Kami bisa sama-sama meratapi nasib, takdir, garis Tuhan yang tidak berguna. Tidak berpihak padaku atau pun Eomma. Aku memang tidak salah, Eomma adalah wanita bodoh. Begitu pun putrinya.

Kami sama-sama bodoh. Menyedihkan.

Hidup ini… tidak berarti lagi.

Hal terakhir yang kuingat setelah aku minum-minum adalah, aku mengendarai mobilku dalam keadaan mabuk lalu menabrak seseorang di jalanan.

Lalu, gelap.

***

ini ff lama, jadi gaya penulisan saya masih yang dulu, bila ada perbedaan mohon dimaklum

Iklan

9 Comments Add yours

  1. Vi berkata:

    Kyu kah yg ditabrak sooyoung?
    Sering2 update ya fan ^^

    Suka

  2. Sistasookyu berkata:

    Ow, jadi karena jonghyun syo nya pake mabuk gt?
    Well, kyuyoungnya belum ada tanda2 keharmonisannya ya..

    Suka

  3. Dorky Desy berkata:

    Jonghyun……. Aku sendiri gak habis pikir,deh 😦
    nggak ada yang tulus sama uri youngie 😥
    tapi semoga aja changmin tulus /eak
    semangat fan! Ayo lanjut terus!

    Oh ya, enyahlah kamu kyuhyun!!

    Suka

  4. peperorin berkata:

    Jonghyun kejamnya dirimu…… sooyoung pasti berat banget jadi dirimu :””(( sooyoung semangat! Fanneey eon juga semangat!

    Suka

  5. andrianievi berkata:

    ini salah satu ff yang keren menurut.q!!!! gx cuma’ cast yg bagus tp alus.a juga!!!!
    ditunggu kelanjutannya!!!
    fighting!!!

    Suka

  6. Rizky NOviri berkata:

    astaga.. jonghyun aku g nyangka kamu kyk gitu. aku kecewa.. hiks.. kasian sooyoung.. 😥 hueeee

    ya ampuunnn… soo nabrak… kyu??? :3 gegara mabuk…

    ukh.. 😦

    Suka

  7. ismi berkata:

    Gak nyngka jonghyun slama ini dket ma so trnyta ada maunya.sakit bgt smph klo gw jd soo.. dia trllu plos mntt ku..kasin soonya

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      *terharu*

      Ternyata ada yang baca ff ini … Hiks

      Suka

  8. ismi berkata:

    Iy nh cba buka2 ..yg agak ngeh …

    Bgs kok ffnya . Mlh bkin tmbh pnsrn tw

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s