[FF] Kencan dan Bukan-Kencan

 

avatar2

Title: Kencan dan Bukan-Kencan
Author: Fanneey Wu (@fanneeywp)
Genre: Shounen-ai
Rating: PG+17
Length: Oneshot (2.665 words)
Leanguae: Indonesian
Pairing: Kise/Kuroko
Summary: “Kise-kun, apakah hari minggu ini ada waktu luang?” / “Ada. Tapi kenapa tiba-tiba Kurokocchi tanya begitu?”
Desclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Requester: Tessa Lonikasih Rahayu

***

 

Sayup-sayup terdengar suara getar ponsel di samping ranjangnya. Di atas nakas benda kecil persegi empat itu berada. Tangan panjang Kise terjulur untuk mengambilnya disela kegiatan tidur-sadarnya. Ada satu pesan masuk dan Kise akan mengumpat kalau itu pesan dari Kapten Kasamatsu yang menyuruhnya latihan di hari Minggu. Tapi bukan. Satu pesan masuk dari rekan Tim Basket semasa SMPnya, nama Kuroko Tetsuya terpampang di layar.

 

Sesama objek bully di Kiseki no Kedai, pikir Kise asal. Kalau dia selalu dibully karena kecengengannya, Kuroko selalu dibully karena kepen—ketidakbisaannya untuk tambah tinggi.

 

Ups—Kembali ke topik, begini isi pesan Kuroko:

 

Kise-kun, apakah hari minggu ini ada waktu luang?

Ada. Tapi kenapa tiba-tiba Kurokocchi tanya begitu?

Aku perlu mencari hadiah ulangtahun untuk Ibuku. Aku pikir Kise-kun lah orang yang paling paham selera perempuan.

 

Tak perlu waktu lama bagi Kise untuk memahami arti dari rangkaian kata sederhana isi pesan itu. Bersamaan dengan SMS Kuroko selanjutnya yang berisi permintaan tolong untuk menemaninya berburu hadiah, seulas senyum merekah di bibir Kise Ryouta. Sebelum detik berikutnya dia meloncat-loncat kegirangan di atas ranjang lengkap dengan seruan ‘yes-yes’nya yang memekakan telinga.

 

Jadi, setelah komunikasi sederhana yang begitu membuat Kise bersemangat, mereka bertemu di tempat janjian. Mall yang ramai untuk hari Minggu. Kise senang sekali. Walau pergi berdua dengan Kuroko sekarang beratas namakan ‘membantu-mencari-hadiah’, tapi tetap saja ini waktu berduaan bagi mereka setelah pisah SMP.

 

“Kise-kun,” sebuah suara bernada monoton hinggap di telinga Kise.

 

Otomatis Kise, “HUWA!”

 

“Ayo masuk.”

 

“Kurokocchi!” Kise merentangkan tangannya hendak memeluk Kuroko sebelum naas Kuroko menusuk perutnya dengan tangan. Senjata ‘pelukan-peremuk-tulang’ milik Kise, dinyatakan gagal. “Hidoi-ssu…” airmata buaya Kise meleleh di pipi.

 

“Tolong jangan memelukku seperti itu lagi, Kise-kun. Aku akan sulit bernapas.”

 

“Hehehe. Kurokocchi masih saja seperti itu, yah. Padahal pelukanku kan enak-ssu.” Kise menghapus airmatanya lantas memaksakan senyum riang seperti biasa, padahal dalam hati dia masih menangis karena dapat penolakan mentah-mentah dari Kurokocchi-nya.

 

“Bukannya Kise-kun yang masih saja seperti ini?”

 

Aku memang seperti ini-ssu. Tidak sadarkah Kurokocchi yang berubah semenjak kita berpisah? pikir Kise sedih.

 

Kise berjalan di samping Kuroko, beriringan memasuki gedung lima lantai berisi jejeran pertokoan aneka macam. Kendati banyak pasang mata menatap mereka berdua dengan pandangan tak terdefinisi, Kise menebar senyum seperti biasanya. Pemilik bola mata emas kecoklatan itu menilik style yang dipakai Kuroko sekarang. Hanya kaus bergambar skull warna hitam putih dan celana panjang jeans yang sederhana. Tapi Kise tetap menyukainya, Kise menyukai segala kesederhanaan Kuroko karena itulah yang membuatnya menarik di kacamatanya. Berbeda dengan Kuroko yang lebih ordinari, Kise justru kebalikannya, segala benda yang melekat ditubuhnya mencirikan ia terlihat berbeda. Walau terlihat sekilas biasa saja, namun jika diteliti lebih lanjut dari blazer, celana, dan kausnya adalah keluaran brand ternama.

 

Tentu saja, dia kan, Kise Ryouta.

 

“Aku merindukan main basket dengan Kurokocchi loh,” Kise memulai percakapan. Kuroko hanya diam dan mendengarkan. “Semenjak main bertiga dengan Kagamicchi, kita nggak pernah main lagi, kan.”

 

Tidak ada respon yang diinginkan. Kali ini Kise mengalah untuk mengoceh lebih lanjut. Kuroko memang seperti ini harusnya dia tahu.

 

Mereka berkeliling melihat-lihat bermacam barang yang bagus tanpa ada komunikasi. Karena sekalipun Kise memulai dialog, Kuroko juga tampak enggan menanggapi jadi percuma saja.
Karena bosan, iseng Kise menyelipkan satu tangannya di antara lengan dan samping tubuh Kuroko. Sehingga dengan mudah ia bisa memegang tangan Kuroko. Kise tertawa puas dalam hati. Sudah lama dia merindukan gandengan—lebih ke menggandeng sebetulnya—tangan dengan Sang Passer kesayangan. Muncul imajiner balon-balon berbentuk hati di sekeliling Kise dan background berubah menjadi warna pink dengan hiasan bling-bling. Kise asyik berbunga-bunga sendiri.

 

“Tolong jangan seperti ini Kise-kun,” Kuroko membuat jarak di antara mereka sehingga gandengan tangan Kise terlepas. “Karena aku jadi terlihat seperti seorang Adik yang ditemani Kakak laki-lakinya jalan-jalan.”

 

Tusss…

 

Balon-balon hati itu kempes serempak bersamaan dengan ‘krek’nya hati Kise yang tadi ditumbuhi bunga-bunga. Kuroko memang bebal. Kise menatap telapak tangannya yang tadi menggandeng tangan Kuroko nanar, matanya mulai berair hiperbola.

 

Hah, lagi-lagi ditolak-ssu. Poor Kise.

 

Namun watak Kise yang bipolar sungguh nyata. Baru saja dia sakit hati karena penolakan Kuroko, sekarang rupa tampannya sudah ceria kembali sedia kala. Selain menjadi model, sepertinya Kise cocok bergelut di dunia akting. Sempurna.

 

Kise sedikit menunduk untuk melihat wajah Kuroko, dia bertanya antusias, “Ano, sebenarnya, Kurokocchi… aku mau tanya sesuatu,” Kuroko mendengarkan namun tatapannya tak tertuju pada Kise yang tengah menggaruk tengkuknya. Mungkin sekarang saat yang tepat bagi Kise untuk menagih jawaban Kuroko mengenai pertanyaannya setahun silam. Pertanyaan yang memalukan tapi juga melegakan. “Apa kau masih ingat—”

 

“Kise-kun, Ibuku suka memasak. Apa hadiah yang bagus menurutmu?” Kise merasa Kuroko sengaja bertanya untuk menyela ucapannya. Apa Kuroko tidak suka bau-bau Kise yang bakal membahas topik itu? Huh, bad thought, Kise.

 

“Ibumu suka memasak? Eheh, kapan-kapan aku mau mencoba masakan Ibunya Kurokocchi yah.” Jawab Kise nggak nyambung.

 

“Hadiahnya maksudku, Kise-kun.” Sarkastik, terselip nada kesal di kalimat Kuroko barusan. Kise menendang opini itu jauh-jauh.

 

“Eh iya yah. Gomen-gomen.”

 

Kise menyarankan alat memasak lalu mereka pergi ke toko peralatan rumah tangga. Mereka keliling sekitar dan memilah-milih barang. Ditemani celotehan Kise dan ‘topik-takkan-habis’ miliknya, Kuroko jadi pendengar yang setia. Kise menceritakan betapa dia masih suka menangis di balik bantalnya semenjak penolakan Kuroko atas ajakannya bergabung dengan Tim Basket Kaijou. Dan tentang betapa dia merindukan reuni bersama keempat anggota Kiseki no Sedai yang lain dan juga Sang Manajer Momoi Satsuki. Kuroko menanggapinya dengan gumaman tidak jelas. Pemuda annoying seperti Kise memang harus dibegitukan supaya berhenti mengoceh, sih, itupun kalau mempan. Sayangnya, Kise masih punya banyak energi cadangan jika bersama Kuroko. Jadi Kuroko harus menelan bulat-bulat gumamannya sendiri.

 

Karena suasana Mall yang ramai dalam artian sebenarnya (tentu saja karena ini hari Minggu alias hari refreshing). Kise sesekali mencuri kesempatan menghimpit tubuh Kuroko yang kecil dan serta-merta memeluknya di antara orang-orang yang berdesakan berlalu-lalang. Walau resikonya, setelah itu dia berhadapan dengan ignite pass Sang Pemain Bayangan.

 

“Soalnya, Kurokocchi imut sih.” Alasan tidak jelas Kise ketika Kuroko memintanya untuk berhenti mencuri pelukan. Oke, jawaban itu lagi-lagi nggak nyambung.

 

Musibah dimulai ketika mereka melintasi toko aksesoris para cewek (sejujurnya mengajak Kise pergi berdua juga merupakan musibah tersendiri bagi Kuroko) dan salah satu dari fans Kise ternyata ada di sana, melihatnya, jalan berdua bersama mantan rekan satu timnya. Kise gelagapan, spontan menarik tangan Kuroko untuk diajaknya berlari. Mereka kabur menghindari fans Kise yang kian lama kian banyak mengejar mereka. Karena bukan hanya butuh 5-10 menit untuk meladeni mereka—Kise’s fans, tapi bisa sampai berjam-jam dan itu artinya… Kikuro’s date case closed. Dan Demi Tuhan, Kise yang malang tidak mau hal itu terjadi. Dia butuh waktu privasi dengan Passer Tercinta!

 

“ITU KISE! KISE RYOUTA! KISE-KUN!!!”

 

“Iku-ssuyo! Kurokocchi!”

 

Kise masih sanggup berlari menghindar karena keuntungan dari kemampuan copycatnya meniru gerak cepat dan lihai Aomine. Tapi Kuroko yang daya tahan tubuhnya lemah sudah kewalahan berlari. Tanpa disadari ternyata mereka sudah keluar dari gedung Mall. Kaki Kuroko luarbiasa lemas, sejujurnya dia ingin pingsan karena lututnya sudah tak kuat menopang berat tubuhnya. Tetapi pingsan di hadapan Kise? Memalukan.

 

Sisi buruk lainnya, Kise akan memanfaatkan kesempatan itu buat menggendongnya pulang sampai rumah. Alhasil bukan hadiah untuk Ibunda didapatnya, malah omelan Sang Ibu dan gosip kalau dia ada apa-apa dengan Kise beredar di Seirin. Mimpi buruk. Kuroko panas dingin membayangkannya. Dan dengan sebab-akibat itulah Kuroko bersusah sulit berdiri tegak dan mempertahankan kelopak mata terus terbuka.

 

Sementara dari sudut pandang Kise? Dia jadi merasa bersalah. Bukannya membantu Kuroko mencari hadiah, dia malah membuat Kuroko kecapekan (karena ketenarannya—Kise agak berbangga diri untuk alasan yang satu ini). Untuk mengambil jalan pintas, beruntungnya brown-gold eyes Kise menangkap gang sempit di sudut jalan. Sigap dia menyeret Kuroko agar bersembunyi di sana.

 

“Maaf Kurokocchi malah jadi kerepotan karena aku,” tanpa sadar airmata Kise menetes saking sedihnya. Kuroko sambil terbatuk-batuk mengatakan kalau dia sudah terbiasa menanggapi kelakuan (aneh) Kise dan segera mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, untuk diserahkannya kepada Kise.

 

“Tolong hapus airmata dan ingusmu, Kise-kun. Itu terlihat menjijikkan.” Komentar Kuroko yang jujur namun pedas untungnya dapat sedikit meredakan tangisan Kise. Suara ingus disedot dibalik sapu tangan Kuroko yang menutupi hidung Kise bergema di gang sempit nan minim pencahayaan itu. Ketika itu pula Kuroko berencana untuk membuang sapu tangannya setelah Kise menggunakannya. Sapu tangan sucinya sudah ternodai.

 

“Arigatou, Kurokocchi.” Kise menyerahkan sapu tangan Kuroko kembali ke pemiliknya, tanpa tahu malu. Kali ini, perdana di depan mata Kise, Kuroko mengeluarkan satu ekspresi… ekspresi jijik dan mual. Bisa saja dia muntah di semak-semak terdekat sekarang jika tidak mengingat resiko diserbu fans Kise.

 

Kuroko menolak sesopan mungkin, “Ie, untukmu saja, Kise-kun.”

 

Suara tapak-tapak sepatu menyerbu pendengaran dua orang berbeda warna rambut itu. Tak perlu diperiksa lagi siapa, karena keduanya tahu itu adalah fans Kise yang sebagian besar remaja perempuan. Kadangkala Kuroko memikirkan apa yang disukai mereka dari seorang Kise Ryouta yang cerewet, hiperaktif, cengeng, kekanakan, manja, dan dipertanyakan jenis kelaminnya.

 

Tapi sebetulnya, jika Kuroko pikir lagi, sewaktu-waktu Kise dapat terlihat seperti seorang pria gagah dan jentel. Seperti sekarang dimana surai bluenette Kuroko terhalang oleh tubuh jangkung Kise. Sementara Si Blonde itu ikut menunduk, merasakan kalau tempo jantungnya mulai tak terkendali karena bersentuhan langsung dengan Kuroko. Kepala Kuroko menyandar di pundak tegap dan lebarnya. Kulit lehet Kise merasakan betapa lembutnya surai bluenette cowok emotionless tersebut. Bisa gawat kalau Kuroko mendengarnya jantungnya, muka ganteng tapi tak tahu malunya mau diletakkan dimana?

 

Dan tepat setelah gerombolan orang-haus-tanda-tangan-Kise lewat seluruhnya, Kise langsung menjauhkan tubuhnya dari Kuroko. Menjaga jarak sebisa mungkin. Karena yang tadi itu murni reflek dan bukannya dia cari kesempatan. Walau yah, rambut sewarna langit Kuroko benar-benar wangi vanilla seperti yang Kise duga.

 

“Kise-kun, wajahmu merah. Mungkin kita harus mengisi perut dulu,” ujar Kuroko tiba-tiba. Sepasang bola kelereng aquamarine Kuroko yang lembut bersitatap dengan golden eyes-nya. Kise terhipnotis untuk beberapa detik. Mungkin Kise lelah. Jadi dia mengiyakan saja. Dengan tergagap.

 

Maji Burger adalah lokasi paling strategis untuk sekarang. Selain jaraknya yang lumayan dekat dari Mall tadi, juga karena harganya terjangkau dan mereka memang sering makan di sini (Kuroko bersama teman-teman Seirinnya dan Kise bersama teman-teman dari Kaijou). Mereka kompakan memesan sebuah burger dan segelas vanilla milkshake—walau sebetulnya Kise yang sengaja menyamakan menu pesanannya dengan Kuroko. Kan biar serasi, batinnya cengengesan.

 

Dengan seruan, “Itadakimasu!” menggebu-gebu dari Kise, mereka melahap makan siang bersama. Malu-maluin, Kise itu model yang sengaja ngancurin imagenya atau gimana sih? Tuh anak makan kayak cewek lagi dapet. Yah bayangin aja sendiri, penulis malas mendeskripsikannya—digaplok Readers.

 

“Eto, Kurokocchi, pertanyaanku yang sebelumnya belum kau jawab loh.” Akhirnya, terlontar juga kalimat yang gatal ingin Kise lontarkan semenjak pertama bertemu Kuroko di depan gedung Mall tadi. Kise yang telah menghabiskan makanannya sebelumnya menunggu Kuroko dengan kunyahan terakhirnya.

 

“Yang mana?” Kuroko sudah menghabiskan burgernya dan sekarang mengusap bibirnya dengan tisu. Pakai mode slow motion pula. Kise tiba-tiba meneguk liur dengan alasan yang dia tidak tahu pasti. Sekalipun dia tahu, pasti nggak jauh dari hal mesum (Kise tertular Aomine).

 

“Yang itu-ssu. Waktu perpisahan SMP.”

 

Hening melanda seketika.

 

Kuroko mencerna kalimat Kise lalu otaknya mereplay kejadian yang Kise maksud. Kise menanti harap-harap cemas. Jantungnya dag-dug-dag-dug tatkala Kuroko membuka mulutnya dan berucap dengan kesopanan tingkat akut, “Sumimasen, Kise-kun.”

 

“Kenapa Kurokocchi meminta maaf? Apa Kurokocchi menolakku? Huaaa sedihnya!” kadangkala cengeng overdosis Kise membuat Kuroko ingin mengeluarkan sifat yandere untuk memusnahkan Kise.

 

Please, Kise, please. Jangan negatif thinking dulu coba.

 

“Bukan itu. Tapi aku tidak bisa mengingat pertanyaan yang kau maksud, Kise-kun, karena setahun silam itu sudah sangat lama.” Papar Kuroko kembali dalam mode kalem tak tercela. “Bisa ditanyakan sekali lagi?”

 

Lupa.

 

Setahun yang lalu Kuroko bilang supaya Kise menunggu. Dan Kuroko lupa? Lupa Kise menunggu untuk apa? Kise ingin menangis, sungguh. Menceburkan diri ke sumur Sadako dan curhat panjang lebar dengan si Hantu tentang betapa menyedihkan kisah cintanya. Kenapa tidak curhat dengan Midorima saja? Karena Midorima pasti akan menasehati, “Please go die soon,” yang sama sekali nggak nyambung dengan topik curhatnya. Kalau member Kisedai yang lain? Sudah bisa ditebak, Aomine akan mengajaknya clubbing dan berburu Neechan cantik berdada besar. Murasakibara bakalan sibuk ngemil ketimbang mendengarkan curhatnya. Dan Akashi—curhat tidak penting pada Akashi? Ngajak ribut iya. Ada lagi satu target tempat curhat sih, mantan Manajer bersurai soft pink yang sama-sama naksir Kuroko, tapi itu mah deklarasi perang namanya.

 

Yeah, karena pada dasarnya member Kisedai plus Manajernya nggak ada yang beres, ya udah (oot kelebihan).

 

Kembali ke kondisi mencengangkan Kikuro sekarang. Kuroko menunggu Kise mengatakan sesuatu. Sedang Kise terlalu gugup karena tak mempersiapkan kemungkinan ini. Tapi… semangat, Kise! Kesempatan tak datang dua kali! Nyatakan perasaanmu sekarang atau tidak selamanya! (well, pairing bagi Kuroko bukan hanya kamu, loh. Jadi berbahagialah dapat kesempatan ini—penulis nyempil)

 

“Su-suki… dai… suki…” ucap Kise pelan dan malu-malu—oke penulis sadar Kise mulai ooc. Kise memejamkan matanya rapat-rapat, membusungkan dada, dan berseru dengan satu tarikan napas dalam dan panjang, “Suki da-ssuyo, Kurokocchi!”

 

Bertalu-talu. Jantungnya bertalu-talu menggila. Akhirnya dia berhasil mengucapkannya! Tidak peduli seisi Restoran yang kini menatapnya aneh, karena Kise senang bisa mengucapkannya dengan lancar dan tanpa hambatan. Kan udah dibilangin di awal, Kise memang nggak punya malu.

 

“Kise-kun,” manik bulat aquamarine Kuroko menatap Kise tepat di brown-gold eyesnya. Kise gugup dan salah tingkah. Kuroko begitu manis dan dia ingin menerkamnya sekarang juga. Astaga, Kami-sama! Kuroko menyodorkan sedotan beserta gelas milkshakenya, lalu dengan suara pelan cowok minim ekspresi itu menyuruh Kise untuk meminumnya.

 

Slurrrp. Kise menyedotnya walau benaknya heran apa maksud dari Kuroko. Muncul tanda tanya imajiner di samping kepalanya tapi mulutnya urung bertanya. Biar Kurokocchi yang menjelaskan sendiri, pikirnya.

 

“Apakah Kise-kun sadar aku biasanya tidak membagi milkshake milikku kepada siapapun?” Kise mengangguk walau masih linglung. “Yang tadi itu peresmian, Kise-kun. Kita baru saja melakukan indirect kiss.”

 

“Apa itu artinya… Kurokocchi menerimaku?”

 

“Hai.”

 

Bola mata Kise berkaca-kaca. Pipinya memerah karena senang. Dan ketika itu juga Kise memeluk tubuh Kuroko erat sekali. Dia ingin berceloteh mengungkapkan semua isi kepalanya tentang penantian dan harapannya selama ini, tapi yang keluar cuma kalimat ‘aku-suka-Kurokocchi’ terus-menerus.

 

“Datte… Kurokocchi, mau melanjutkan pencarian hadiah buat Ibumu nggak?” buka Kise setelah puas memeluk Kuroko di Maji Burger. Mereka diusir keluar dari Maji Burger karena Kepala Pegawai di sana bilang kegiatan berpelukan mereka menganggu pemandangan dan konsentrasi (telah diketahui banyak pelanggan dan pegawai fujoshi yang mimisan mendadak barusan).

 

“Sebenarnya ulangtahun Ibuku masih lama,” ucap Kuroko. Kali ini dia membiarkan Kise menggandeng tangannya begitu erat sepanjang perjalanan pulang. “Dan sebetulnya, alasanku mengajak Kise-kun keluar di hari Minggu murni keinginan pribadi, bukan karena aku ingin Kise-kun membantuku mencari hadiah. Maaf aku membohongimu.”

 

Kise tertegun sekaligus terharu. “Jadi… selama ini Kurokocchi juga menyukaiku? Senangnya…”

 

“Tidak perlu diperjelas Kise-kun, sebab aku malu.” Kejujuran Kuroko membuatnya semakin terlihat imut apa-adanya. Kise benar-benar ingin menciumnya. Lantas Kuroko mengalihkan topik pembicaraan, “Daripada itu, aku jadi ingat belum memberikan hadiah ulangtahun untuk Kise-kun.”

 

“Ulangtahunku kan sudah terlewat-ssu.”

 

Kuroko mau berbicara lagi, tapi suara, “Guk! Guk!” keras menghentikannya. Gonggongan anjing yang Kuroko hapal tanpa perlu dilihat anjing siapa itu. karena pasti itu adalah Kuroko Nigou. Seekor anjing husky menghampiri dan langsung menggigiti ujung celana Kuroko. Kise terkejut ternyata Nigou bisa mengendus bau Kuroko—majikannya—begitu teliti. Anjing kembaran Kuroko sekaligus maskot Tim Basket Seirin itu mengibas-ngibas ekornya ketika Kuroko menggendongnya. Kuroko bilang Nigou memang tidak tahan sehari saja tanpa dirinya.

 

Mereka seperti orang pacaran saja-ssu, otak Kise nyeleneh.

 

Tapi tiba-tiba Kise naik pitam ketika Nigou menjilati bibir Kuroko. Sekali lagi penekanan, bibir perawan Kuroko yang dia sendiri saja belum mencicipinya secara langsung! Kuso! Itu incarannya selama ini! Belum lagi Kuroko yang menggendong Nigou begitu erat hingga membuat Kise iri setengah hidup. Ingin memusnahkan inu—anjing—tak tahu malu itu sekarang juga. Melemparnya ke ring basket dari jarak three point kalau perlu.

 

“Kurokocchi,” mencicit, Kise menggigit bibir pertanda dia sudah ‘tidak tahan’ akibat momen Tetsuya-Nigou.

 

“Oh iya, Kise-kun, maaf aku terlalu sibuk dengan Nigou,” Kuroko, setelah melepas rindu dengan Nigou, lantas melepas kalung yang dikenakan Nigou dan memakaikan di lehernya sendiri. “Ayo kita merayakan hari jadian kita. Hari ini aku milik Kise-kun. Anggap saja sekaligus hadiah ulangtahun Kise-kun.”

 

Seakan ada ilustrasi telinga luyu anjing di kepala Kuroko dan ekor kecil berbulu lebat yang mengibas di belakangnya, Kise nyaris pingsan di tempat. Sebab Kuroko persis seperti anak anjing tersesat.

 

“Wakatta,” Kise mengusap hidungnya yang hampir mengeluarkan cairan merah. Kemudian menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Kuroko dan menggenggamnya erat. “Ayo kita ke apartemenku-ssu. Aku ‘lapar’ lagi.”

 

Kuroko tidak menolak dan balas tersenyum tipis. Hanya berharap Kise tidak terlalu ‘rakus’ ketika dia ‘makan’ nanti.

 

***

 

Fanneey’s Note: Kikuro’s fanfic perdana saya. Kikuro adalah OTP saya. Jadi tolong jangan timpuk saya pake sendal. Saya maunya ditimpuk pake Aomine .__.
Maaf gaje, no feel, absurd se-absurd kelakuan Kise, bikin kesel pembaca, bikin mules, mau muntah, typo beredar ilegal, dan segala kekurangan atas fanfic ini saya minta maaf.
Tessa! Saya menunggu review atas request kamu yang sudah saya bikinin, hohoho! Maaf no lemon. Banyak alasan saya nggak sanggup bikin lemon.

Akhir kata,
Mind to comment, review, like, or request?

Fanneey ^_^

 

Iklan

13 Comments Add yours

  1. Eciiieee…KiKuro…
    k’Fanney, ditunggu FF Kurobas yang lain ne 🙂

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      kamu baca lagi ternyata xD
      thanks nindi, buat ff kurobas selanjutnya kayaknya aku bakal pake pairing akafuri

      Suka

      1. sama-sama kak… 🙂
        ditunggu eahh…ea.. 😉

        Suka

  2. tesa berkata:

    wahahaha, ciee~ beneran senyum senyum sendiri deh 😀 makasih ya panii udah mau bikinin kikuro buat aku haha :3

    semoga kapan-kapan kuat bikin lemon kikuro buat aku :p itung-itung sekuel dari fic ini.

    gomawo~ arigatou

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      sama-sama, thanks juga udah mau baca dan semoga gak bikin kamu kecewa, hehe
      sekuel kapan-kapan yah… kalo ada ide

      Suka

  3. IsthyKhomang berkata:

    Kyyaaa ^_^ aku jadi suka ama pair ini, , ,ceritanya lucu dan sweet banget, , ,:D di tunggu yah cerita kikuro selanjutnya

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      emang! mereka emang kiyut yaampun…
      oke tunggu aja yah 😀

      Suka

  4. Dania Sevy berkata:

    Thor bikinin ff aokise donk :3 *kalungkngerepotin :v

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Saya lebih suka aokaga atau aoaka maaf ya

      Suka

  5. Namlock berkata:

    Iyuh.eike suka ssu ama ni pair.bkin yg bnyak lg ya

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      Suka tapi kok ‘iyuh’ hehehe

      Suka

  6. nadya sarie berkata:

    bagus,sy ska

    Suka

  7. Jiel berkata:

    Pertama kali baca KiKuro. Ternyata ngga buruk. Sifat Kise sama Kuroko yang bertolak belakang itu malah buat mereka keliatan manis…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s