[FF] An Involved Lover – Eleven (Fever in First Snow)

AIL SooHun copy

 

Title: An Involved Lover

Author: wufanneey

Genre: Fluff, Comedy

Length: Series

Rating: G

Leanguae: Indonesian

Pairing: Sehun/Sooyoung

Summary: Bagaimana jadinya jika Nuna – Dongsaeng, atau Guru – Murid, atau hubungan saudara sepupu terlibat kisah cinta?

 

***

Chapter Eleven – Fever in First Snow

 

Nuna, keluar yuk?” ajak pemuda berambut jamur tersebut dan melongokkan kepalanya ke kamar sang Nuna, dimana Choi Sooyoung tengah membaringkan tubuhnya di ranjang empuk dengan selimut membungkus sampai ujung kepalanya. Dahi Sehun mengkerut. “Sooyoung-nuna?” panggilnya sekali lagi, Sooyoung tetap bergeming di balik selimut.

 

Jadi Oh Sehun melangkah masuk ke dalam, berdiri dengan kerutan yang masih kentara di wajahnya—di samping ranjang Sooyoung—dan mendekatkan mulutnya pada kepala Sooyoung. “Nu—na, Sooyoung-nuna, Nunaaaa….”

 

“Ish… Mwoya…”

 

Gundukan yang membentuk sosok manusia itu bergerak-gerak kecil. Kemudian seraut wajah pias muncul di baliknya, wajah siapa lagi kalau bukan wajah Nuna tercintanya Choi Sooyoung.

 

Nuna ayo keluar, kita melihat salju.” Ajak Sehun semangat.

 

“Uh, Sehun-ah…” Sooyoung mendudukkan diri di pinggiran kasurnya sedikit susah. Tubuhnya menggigil kecil, Sooyoung menautkan jemarinya guna manambah kehangatan. “Maaf nggak bisa keluar bersamamu untuk melihat salju pertama turun hari ini.” Wanita itu memasang wajah paling menyesal.

 

Sehun memperhatikan wajah Sooyoung yang pucat, napasnya seperti tidak teratur. Punggung tangan Sehun terjulur untuk menyentuh dahi Sooyoung. Seketika dia terkejut begitu aliran panas menyengat kulitnya.

 

“Kenapa tidak bilang kalau Nuna sakit?” tanyanya cemas. “Ya sudah, Nuna istirahat saja.” Sehun kembali membaringkan tubuh Sooyoung kemudian menyelimutinya sampai pundak. Sooyoung bergumam ketika memejamkan matanya, Sehun makin cemas karena suhu tubuh wanita itu tinggi sekali.

 

“Padahal aku sudah janji padamu, uhuk…” Sooyoung terbatuk-batuk kecil, pundaknya gemetaran karena udara dingin.

 

“Dasar,” Sehun membuka lemari pakaian Sooyoung dan mengambil sepotong mantel tebal dari dalam. Diberikannya pada Sooyoung. “Usahakan supaya tubuh Nuna nggak kedinginan. Perlu selimut lagi nggak?”

 

Sooyoung tersenyum samar. “Ah, gomawo. Ini sudah cukup, kok.”

 

Sehun hanya mengangguk setelahnya. Jujur dia kecewa karena pasti akan menyenangkan sekali bisa melihat salju pertama turun dengan orang yang spesial—dan dia sudah mengkhayalkannya sangat lama akan melakukan itu bersama Sooyoung. Tapi Sooyoung sakit bukan salahnya, lagipula Sehun tahu betul Sooyoung memang banyak kegiatan akhir-akhir ini, sebagai Guru di Shinju High School, juga sebagai wanita populer yang pernah punya tiga jadwal kencan sekaligus.

 

Sehun menghela napas pendek.

 

“Sudah minum obat?”

 

“Hum.” Sooyoung mengangguk kecil.

 

Sehun duduk di samping Sooyoung, berdecak, “Aku nggak nyangka seorang Choi Sooyoung bisa sakit.”

 

“Maaf ya, Sehunie.”

 

“Jangan minta maaf, kau sakit juga bukan salahmu,” Sehun menaikkan selimut Sooyoung lebih tinggi, tanpa sadar Sooyoung gugup karena perlakuannya. Sekarang wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, dan parahnya Sehun belum sadar ketika Sooyoung memperhatikannya dengan wajah merona. Detik ke lima Sehun baru sadar napas panas Sooyoung menghembus di pipinya. “Su-sudah ah, aku mau main game.”

 

Sooyoung yang sama kagetnya memperhatikan langkah lebar Sehun yang bergegas keluar kamarnya. Sepertinya, pemuda itu salah tingkah juga.

 

***

 

Sehun bersadar pada kaki sofa, stik PS dibiarkannya tergeletak di samping tangan. Dengan layar yang masih menyala menampilkan permainan Lego Batman, Sehun terduduk malas-malasan. Suasana di rumah sepi sekali karena Sooyoung tertidur sejak tadi. Kalau biasanya ada yang bawel menasehatinya, “Jangan lama-lama main PS!” sekarang yang kedengaran justru suara keras khas game dari layar.

 

“Uh…” Sehun memegangi perutnya yang tiba-tiba bunyi. Sialnya kenapa bisa kelaparan di saat seperti ini. Tapi kayaknya wajar deh, karena sudah tiga jam dia manteng di depan TV sama stik dan PS. Jangan heran, kalau Sehun sudah berhadapan dengan benda mati itu, berjam-jam di dunia nyata serasa beberapa menit doang di pikirannya.

 

Jadi si rambut sandy itu melangkah ke dapur dan membuka kulkas, barangkali bisa mengganjal perut dengan sesuatu—karena dia tahu Sooyoung tidak mungkin bakal masak dikondisi memprihatinkan begitu. Ada susu cokelat, es krim kelapa, selai kacang, dan roti tawar.

 

“Lumayanlah, daripada enggak makan.” Gumam Sehun, sebelum tangannya mengambil roti dan selai untuk dimakannya. Kemudian meneguk habis segelas susu cokelat.

 

***

 

Choi Sooyoung terbangun karena suara ketukan di depan pintu kamarnya. Dia mempersilahkan si pengetuk pintu masuk dan saat itu juga kepala Sehun menyembul di baliknya. Sehun membawakannya senampan berisikan roti dan susu. “Nggak ada yang bisa dimakan selain ini.” Itu penjelasan Sehun waktu Sooyoung menanyainya.

 

“Kau sudah makan?” sebelum menggigit rotinya, Sooyoung bertanya lagi.

 

Sehun menggumam kecil dengan anggukan.

 

“Eh, jangan dulu minum susu, minum obatnya dulu.” Peringat Sehun.

 

Sooyoung mendesah, “Hampir lupa.” Setelah Sooyoung menghabiskan roti dan menelan obatnya, Sehun duduk di pinggiran ranjang dan memeriksa suhu tubuh Sooyoung lagi—dengan punggung tangannya.

 

“Panasnya belum turun juga,” katanya sedih. Dia mulai menyesal karena tidak bisa berbuat apapun di saat Nuna-nya sakit, Sehun memikirkan suatu hal untuk Sooyoung. “Mau aku buatkan bubur?”

 

Sooyoung memandangnya dengan alis terangkat. “Memangnya bisa?”

 

“Er… bisa dicoba.”

 

“Yah!” Sooyoung memukul pundak Sehun. “Kau pikir aku kelinci percobaan? Sudah nggak perlu, aku nggak apa-apa.”

 

Sehun kecewa, Sooyoung benar-benar seperti tidak membutuhkan bantuannya. Padahal Sehun ingin berguna, dia harus melakukan sesuatu.

 

“Kalau ada yang bisa aku lakukan buat Nuna, katakan padaku.” Cetus Sehun akhirnya, sungguh-sungguh.

 

Sooyoung yang sudah terbaring di ranjang menolehkan kepala ke arah Sehun, berpikir beberapa saat sebelum berkata, “Kalau besok aku masih belum mendingan, kau yang kerjakan semua pekerjaan rumah ya, Sehunie.”

 

“Mwo?”

 

“Katanya mau membantuku?”

 

“Uh, iya…”

 

“Sapu dan pel lantai, lap kaca, rapihin rak buku, masak untuk makanmu, cuci piring, cuci baju jangan lupa dijemur, terus setrikaan, semuanya, tolong yah.”

 

Oh My.

 

Sehun melongo. Bodohnya kenapa dia tidak berpikir sampai ke tahap itu. Pekerjaan Rumah. Sial. Tapi kan… ini demi Sooyoung! Fighting, Oh Sehun!

 

***

 

Esok paginya, ketika terbangun karena suara weker yang nyaring di samping nakas, hal pertama yang Sehun lakukan setelah kakinya menapak lantai adalah melesat menuju kamar dimana Sooyoung istirahat seharian kemarin.

 

Sooyoung masih terlelap, jadi sepelan mungkin Sehun melangkah. Mengecek suhu tubuhnya yang sialnya belum turun. Itu artinya dia sungguhan akan jadi babu hari ini. Sehun mengeluh selama sisa perjalanan kembali ke kamarnya.

 

Kalau beres-beres apartemen sih, nggak masalah. Tapi masak juga musti sendiri… ah, Sehun ragu kemampuan masaknya bakal bikin dia sakit perut.

 

Setelah membereskan apartemen sebisanya, Sehun mandi dan bersiap untuk keluar apartemen guna membeli beberapa makanan instan di minimarket kecil yang baru buka beberapa hari yang lalu—dia memutuskan buat makan makanan instan selama Sooyoung sakit. Ada seorang kasir yang menyapanya ketika dia masuk. Bergegas Sehun memasukkan barang-barang yang dia butuhkan ke keranjang, alasannya dia tidak mau lama-lama meninggalkan Sooyoung sendirian.

 

“Sehun?”

 

Sehun melihat pemilik tangan yang tadinya mau mengambil cup ramen yang serupa dengannya. Agak terkejut mengetahui orang itu, “Choi Sulli?”

 

“Kamu tinggal di daerah sini?” gadis berambut kemerahan sebahu itu kemudian berjalan beriringan bersama Sehun ke arah kasir.

 

“Begitulah,” Jawab Sehun singkat. Choi Sulli adalah teman sekelasnya, tipe gadis yang hobi shopping dan benci belajar, itu yang Sehun tahu mengenai Sulli. “Kau juga tinggal di sini?”

 

“Enggak, cuma lagi mengunjungi keponakanku yang tinggal di sekitar sini,” Sulli tersenyum dan menunjuk bangunan apartemen di ujung jalan. “Di gedung apartemen itu.” Katanya dengan senyum yang masih sama.

 

“Loh? Aku juga tinggal di sana! Memangnya keponakanmu siapa?”

 

Sulli kelihatan exited mendengar itu. “Namanya Samuel, kamu kenal?”

 

Sehun tidak bisa menutup keterkejutannya kali ini. “Samuel Choi? Maksudmu Sammy?!”

 

“Ternyata kenal ya! Ah, senang banget Sammy punya tetangga kayak kamu!” Sulli menggandeng tangan Sehun dengan semangat menggebu-gebu. Dia mulai menyerocos gembira, “Nanti main ke rumah ya? Sekalian ajak Sooyoung-sam juga, aku kangen banget. Selama liburan nggak ketemu Sooyoung-sam dan kamu.”

 

Sehun belum kebagian menjawab karena tiba-tiba suara keras meneriaki mereka berdua, “Yah! Kalian yang nempel-nempel berdua!”

 

Berasal dari seseorang yang berwajah tertekuk berdiri di balik meja kasir. Sehun melongo melihat orang itu, sedangkan Sulli pura-pura tidak kenal dengan memalingkan muka.

 

“Berani sekali kau menikungku dari belakang, hah! Oh Sehun!”

 

“Kai? Kau kerja sambilan di sini?” Sehun menaruh belanjaannya di atas meja kasir, Kai mengambilnya ogah-ogahan dengan raut setengah kesal.

 

“Tahu ah! Aku malas berbicara dengan penghianat sepertimu!”

 

Sehun tertawa. “Jadi kau benar-benar kerja di sini?”

 

“Ini semua gara-gara kau!” Kai menunjuk-nunjuk wajah Sehun dengan sumpit dari cup ramen yang dibeli Sehun. “Kau yang dengan teganya tidak memberiku contekan selama ujian, jadi aku dapat nilai jeblok dan orangtuaku menghukumku untuk bekerja di sini selama liburan! Full!” emosi Kai menguar-meledak, Sehun dan Sulli tidak bisa menahan tawanya. Untungnya sedang tidak ada pelanggan lain di minimarket milik keluarga Kim itu—keluarga Kai—jadi kedua S itu bisa tertawa sepuas hati.

 

Kai cemberut karena tawa kedua orang itu tak kunjung reda. “Puas?”

 

“Itu salahmu sendiri, bukannya belajar, malah niat buat nyontek,” Sehun memegangi perutnya seakan perut itu bisa lari kemana-mana. “Sulli-yah, pacarmu seorang kasir, hahaha…”

 

Sulli sontak memegangi kepalanya. “Aduh… pacarku siapa? Tiba-tiba aku amnesia…”

 

“Chagiya,” Kai merengek.

 

Mulut Sulli membulat, sewot. “Siapa kau memanggilku chagi, hah? Pacarku itu Kim Jongin yang keren! Bukan Kai tukang kasir!”

 

Ekspresi Kai seperti orang mau mati. “Sulli-yah… tega banget kamu…”

 

Hahaha. Sehun benar-benar terhibur melihat pasangan idiot ini. Aneh, bagaimana mereka bisa pacaran tepatnya setelah perayaan ulang tahun sekolah yang ke-100. Jelas saja, Kai kan pernah mengumbar-umbar kalau cewek yang ditaksirnya adalah Jiyoung dan hal serupa dengan Sulli yang pernah terang-terangan bilang suka ke Taemin. Dan sekarang, mereka berpacaran? Sehun tidak tahu menahu kalau ini mungkin saja ada hubungannya dengan fakta Jiyoung dan Taemin pacaran.

 

“Oh iya Sehun-ah, nanti datang ya jangan lupa, ajak Sooyoung-sam juga!” kata Sulli sebelum Sehun keluar dari toko.

 

Sehun berpikir sejenak. “Um, sebenarnya Sooyoung-nuna sedang sakit. Aku juga nggak tahu apa bisa meninggalkannya sendirian di apartemen…”

 

“Apa? Sakit?!” Kai dan Sulli berseru kompak. “Omona! Guru kesayanganku sakit? Sakit apa? Dari kapan? Terus sekarang keadaannya gimana, Sehun-ah?” Sulli mulai lebay dengan menitikkan airmatanya—senjata khas anak cewek.

 

Sehun sebal kalau Sulli sudah mengeluarkan sifat hiperbolanya dalam segala hal—contohnya seperti ini. Dasar anak cewek. “Kalian nggak perlu kuatir, aku bakal menjaganya kok.”

 

“Perlu kami jenguk?” Kai menanyai.

 

“Kalau itu menganggu waktu kalian, nggak perlu. Tapi kalau ngotot mau jenguk, ya boleh asal bawa makanan.” Kai mendengus mendengarnya. Dasar Sehun, ada sesuatu di balik sesuatu. “Maksudku, kalian tahu kan… gimana porsi makan Sooyoung-nuna?”

 

“Aku bakal jenguk! Aku bakal jenguk! Aku bakal bawa obat dan melon mahal!” Sulli rempongnya kumat.

 

“Ya nggak usah disebutin ‘mahal’ nya juga…” Sehun memutar bola mata. Kai memandang Sulli horor. Sekarang Kai yang mulai ragu apakah Sulli pacarnya atau bukan.

 

***

 

“Nde, Umma…” Sehun menyelipkan ponsel di kupingnya sementara dia melepas sepatu untuk ditaruhnya di rak.

 

Sehun menyimpan keresek belanjaannya di dapur. Mulai mengeluarkan satu-satu isinya sementara orang yang diteleponnya masih terus menyerocos di seberang sana. “Iya, aku tahu… airnya jangan terlalu banyak, limabelas menit, iya, Umma…”

 

Aigeu, Umma benar-benar merindukan kalian berdua, kapan Umma bisa menjenguk ke sana? Sooyoungie Umma juga terlalu sering mengeluh soal betapa dia mengkhawatirkan putrinya.”

 

“Sooyoung-nuna sudah sembuh saat Umma bisa datang, percayalah,” Sehun meletakkan ponselnya dan membuat mode speaker. “Kalau nggak bisa datang, jangan dipaksakan. Umma kan juga sibuk di sana. Bagaimana kabar Paman dan Bibi Choi?”

 

“Bilang pada Sooyoungie Paman dan Bibi sangat merindukannya, kalau kami tidak bisa kesana, setidaknya kalian yang mengunjungi kami ke sini jika ada waktu, ne?” Sehun menggumam sebagai jawaban. Umma-nya berceloteh lagi, “Ah, geurae… Baik-baiklah pada Sooyoungie, dia benar-benar menantu idaman Umma, Sehun-ah.”

 

“Uhuk!” Sehun terbatuk-batuk tanpa sebab begitu mendengar kalimat itu. Wajahnya seketika merona.

 

“Sehun-ah gwenchanayo? Jangan sampai kau sakit juga! Nanti siapa yang mengurusmu?!”

 

Ish, aku batuk kan gara-gara ucapanmu, Umma.

 

“Sudah ya, Umma. Terimakasih resep buburnya, ne… saranghae. Mmm, akan kusampaikan pada Sooyoung-nuna.”

 

Pip.

 

 

“Huft…” Sehun menghela napas begitu panggilan terputus sempurna. Dia mengambil sarung tangan dan memakainya. Dia sudah berencana membuat bubur spesial untuk Nuna-nya hari ini.

 

Semoga tidak mengecewakan, harap Sehun.

 

Agak susah membuatnya, Sehun sempat gagal beberapa kali karena ini pengalaman pertamanya membuat bubur. Tapi di percobaan yang ketiga dia tidak mual-mual saat memakannya, itu berarti yang ketiga ini sukses. Sehun tersenyum membanggakan dirinya.

 

Kemudian terkekeh. “Ah… harusnya aku tahu aku memang bisa melakukannya.”

 

Sehun membawa nampan sembari melangkah menuju kamar Sooyoung.

 

Nuna, aku masuk ya.” Aroma pepermint langsung menyeruak begitu Sehun memasuki kamar Sooyoung. Sehun melihat Sooyoung yang tengah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Jelas-jelas Sehun tahu ini shampo yang biasa dipakai Sooyoung keramas. “Kau mandi?!”

 

Sooyoung menoleh dan mengerjapkan matanya. “Oh, kenapa?”

 

“Tapi kau masih sakit Nuna!” cepat-cepat Sehun menaruh nampan makanan berisikan buburnya, lantas menghampiri Sooyoung. “Aish, kau ini…”

 

“Badanku bau banget, tahu,” gerutu Sooyoung. “Kau kan tahu aku nggak tahan kalau kotor atau berantakan.”

 

“Ck, aku tahu kau memang sudah berubah, serba higienis! Tapi kau masih sakit kan?”

 

Dasar keras kepala! Aku nggak peduli mau badanmu bau atau wangi, yang penting itu kesehatanmu, Nuna! Ingin rasanya Sehun berteriak seperti itu di depan wajah Sooyoung jika dia tak bisa mengontrol emosinya.

 

“Ya sudah kali ini saja aku membiarkan Nuna, tapi nanti jangan lagi,” Sehun mengambil alih pengering rambut di tangan Sooyoung. “Sini, biar aku yang lakukan.”

 

Sooyoung mendumal, “Terserahlah.”

 

Ngiiing…

 

Aroma rambutnya makin menyeruak, merasuki penciuman Sehun. Ya Tuhan, wangi sekali, pikir Sehun. Sehun terus mengeringkannya sampai rambut lembut Sooyoung berjatuhan halus mengenai kulit putih Sehun. Tanpa sadar dia mengelusi kepala Sooyoung.

 

“Yah! Dasar nggak sopan pegang-pegang kepala!”

 

“Ups, maaf. Habisnya rambutmu lembut banget.” Aku Sehun, agak malu. “Oh iya aku bikin bubur buat Nuna.” Sehun mengambil mangkuk buburnya dan mengangkat sendok untuk menyuapi Sooyoung.

 

“Aku ragu aku bakal tambah sakit setelah memakannya,” Sooyoung memicingkan matanya. Sehun baru mau memprotes setelah Sooyoung berkata lagi, “Bercanda, hehe.”

 

“Buka mulutmu.”

 

Nyam!

 

Kunyah, kunyah, kunyah,… telan. Sehun memperhatikan perubahan mimik wajah Sooyoung yang seolah berpikir. “Gimana rasanya?”

 

“Yeah… daripada nggak dimakan.”

 

“Ha? Apaan itu? Aku susah-susah buat kau cuma bilang begitu?” protes Sehun sewot.

 

Kedua ujung bibir Sooyoung tertarik—tersenyum lalu menepuk-nepuk puncak kepala Sehun. “Enak kok, gomawoyo, Sehunie.”

 

Senyuman Sooyoung sungguh manis sampai membuat telinga Sehun memerah ketika melihatnya. Dia sangat ingin memotret wajah Sooyoung yang tersenyum seperti sekarang. Mengabadikannya dalam memorinya, mengingatnya dengan jelas waktu Sooyoung memanggilnya Sehunie dan bilang masakannya enak.

 

Sehun mengangkat sendok nasi lagi di depan wajah Sooyoung. “Say ‘ah’.”

 

“Berikan padaku. Aku bisa makan sendiri.”

 

“Aku suapi.”

 

“Oh Sehun!” wajah Sooyoung memerah.

 

“Ah. Buka mulut Nuna.”

 

***

 

Pelukis muda Oh Sehun membuka kotak obat yang diambilnya dari dapur. Dan terkejut begitu tahu isinya tidak lengkap, obat demam habis. Sehun mendengus karena itu artinya dia harus keluar untuk membeli obat. Kendaraan di apartemen Sooyoung cuma ada mobil, dan Sehun tidak bisa mengendarai mobil—lagipula dia belum punya SIM. Dan artinya lagi, dia harus naik bus untuk sampai ke apotek terdekat.

 

Sehun keluar dari kamarnya sudah lengkap dengan jaket tebal dan scraft merahnya.

 

Nuna aku beli obat dulu, ya.” Sehun menghampiri Sooyoung yang lagi bersantai sambil mengemil sesuatu di depan TV.

 

“Nggak perlu, aku bakal mendingan kalau tidur sebentar.” Sooyoung melepas pelukannya pada mangkuk puding, lantas mencekal tangan Sehun. “Diluar dingin banget, gimana kalau kau ikutan sakit nanti? Kan aku yang repot!”

 

Sehun melotot begitu kulit tangan Sooyoung bersentuhan dengan kulit tangannya. Panas sekali! “Astaga! Mendingan apanya? Kau makin panas gini!”

 

Dalam hati, Sooyoung meruntuki dirinya karena memegang tangan Sehun tadi. “Memangnya kau bisa naik mobil?”

 

“Aku naik bus. Udah nggak apa-apa, Nuna istirahat aja.”

 

“Sehun—”

 

“Jangan banyak protes, aku sudah janji pada Umma untuk menjagamu.”

 

“Kau berjanji pada Ibumu? Dia menelepon?”

 

“Aku memberitahunya kalau kau sakit.”

 

“Yah! Anak nakal!”

 

Ting! Tong! Bel rumah berbunyi sejurus sebelum Sehun membuka pintu. Kai dan Sulli berdiri dengan sekantung berisikan buah-buahan di depan pintu.

 

“Aku mau lihat keadaan Sooyoung-sam!” si cerewet Sulli menyerobot masuk bahkan sebelum Sehun mempersilahkan. “Choi Sooyoung-sonsaengnim!” panggilnya membahana ke seluruh penjuru apartemen.

 

“Jangan berisik Choi Sulli! Aish!” gertak Sehun. “Oi! Jaga kelakuan pacarmu itu!” sungutnya pada Kai yang melangkah santai memasuki apartemen.

 

Sulli duduk di sofa sebelah Sooyoung dan memeluknya semena-mena. “Aigeu, Sooyoung-sam, gwenchanayo? Aku cemas banget, Sam!”

 

“Keadaanku nggak separah itu sampai kamu bela-belain datang di cuaca bersalju begini.” Kata Sooyoung.

 

“Aku lagi tinggal di rumahnya Sammy kok, keponakanku Sam tahu kan? Kalau Kai kan sedang menjalani hukuman atas sesuatu, jadi dia nggak datang jauh-jauh dari rumah,” tutur Sulli, lantas menyodorkan buah-buahan yang sengaja dibelinya bersama Kai tadi. “Aku kupasin ya, Sam? Mau apel atau melon?”

 

“Melon boleh,” Sooyoung tersenyum setelah Sulli bergegas ke dapur untuk mengambil piring dan pisau kupas—seakan sudah hapal tempat ini, padahal ini pertamakalinya Sulli datang. Sooyoung melirik Sehun dan berkata, “Gwen-cha-na,” tanpa suara.

 

Sulli berseru dari arah dapur, “Kai sini! Bantuin dong!”

 

Sehun menepuk jidatnya. Ckckck… nggak yakin Sooyoung bisa istirahat dengan tenang kalau dua orang itu ada di sini. Dia mulai menyesali perkataannya pada mereka berdua soal ‘menjenguk Sooyoung’ kemarin.

 

“Kau mau keluar?” tanya Kai.

 

“Beli obat.” Jawab Sehun pendek seraya memakai sepatunya. Kai segera menyerahkan kunci motornya pada Sehun, membuat pemuda Oh itu mendongak linglung.

 

“Pakai aja motorku, aku dan Sulli akan jaga Sooyoung-sam di sini. Bisa naik motor, kan?”

 

Jadi, sekarang Sehun menarik lagi pemiikirannya tentang dia menyesal mengajak mereka menjenguk Sooyoung. Terimakasih kepada pasangan Kailli.

 

“Oi! Waktu istirahatku cuma sampai jam 4 sore! Setelahnya aku harus balik lagi ke minimarket!”

 

Dari kejauhan Sehun melambai. “Yo, thanks!”

 

***

 

Sulli membawakan potongan buah-buahan itu dengan riang. “Tada!” kemudian meletakannya di meja. “Mau aku suapi, Sam?”

 

Omo, kau benar-benar gadis yang hiperaktif, Sulli-yah,” Sooyoung terkekeh. Sebelum tangannya mengambil sepotong melon dan menggigitnya.

 

“Sangat hiperaktif,” ralat Kai. “Sam, aku nggak percaya aku bisa menyukai anak itu, dia dan Jiyoung sungguh berbanding terbalik.”

 

Sulli mendengus lalu menimpuk kepala Kai dengan bantal sofa, bibirnya mengerucut. “Aku juga nggak percaya bisa suka sama cowok sehitam kamu! Dan jangan bicarakan Jiyoung di depanku, kamu bahkan nggak lebih pintar dari Taemin!”

 

Kai memasang ekspresi seduktif yang membuat Sulli ingin muntah. “Tapi aku lebih seksi, kan?”

 

“Nggak lucu, Kim Jongin!”

 

Sooyoung tertawa. Rasanya dia jadi mengingat dirinya sendiri di masa dulu melihat kedekatan Kai dan Sulli, hanya berbeda judul. Jika Kai dan Sulli beratasnamakan ‘berpacaran’, maka dia dan Kris beratasnamakan ‘pertemanan’. Bagaimana dia dulu selalu beradu argumen dengan Kris, memperdebatkan hal kecil, malah membuat pertemanan mereka langgeng sampai sekarang.

 

Kai melihat jam dinding yang jarum panjangnya bergerak mendekati 4, beberapa menit lagi pukul 4 sore pas. “Duh, kemana anak itu? Appa bisa marah kalau ketauan aku pergi lama-lama.” Keluhnya.

 

“Sehun pakai motormu, ya? Maaf merepotkan ya Jongin.”

 

“Yeah, mau bagaimana lagi,” Kai mendesah pasrah. “Aku bakal iklas asalkan nilai Seni-ku ditambah, hehe…” Sulli memukul pundak Kai kesal. Dasar malu-maluin! Runtuknya.

 

Tin! Tin!

 

Panjang umur tuh anak, baru dibicarain langsung nongol, batin Kai. Dia tahu betul itu suara klakson motornya. Lantas dia mengajak Sulli pulang dan berpamitan dengan Sooyoung.

 

“Nah, itu dia,” Sulli tersenyum lebar. “Kami pamit dulu ya, Sam. Maaf mengganggu, soalnya aku rindu banget ingin ketemu Sam. Cepat sembuh ya, dadah! Muah!”

 

Sooyoung memberinya senyum tipis dan lambaian kecil. Sebelum Sulli mendekat sebentar dan berbisik pelan di telinganya. “Langgeng sama Sehun ya, hihihi…”

 

“Ch—Choi Sulli-ssi!” Sooyoung salah tingkah. “Sudah sana, Jongin menunggumu!”

 

Sulli terkikik sementara Kai menarik tangannya keluar pintu. Mereka bertemu Sehun tepat di depan apartemen dan Sehun berterimakasih seraya menyerahkan kunci motor Kai. Sehun mengira-ngira apa yang membuat Sulli tersenyum-senyum padanya tadi, seperti orang sakau.

 

Di motor. Selama sisa perjalanan pulang Sulli memeluk pinggang Kai erat, masih tak bisa menahan senyumnya. Membuat pacarnya bertanya apa ada yang salah terjadi pada Sulli?

 

“Ah, dasar cowok-cowok nggak peka.” Gumam Sulli sebal.  “Aku membayangkan betapa romantisnya kehidupan mereka tinggal berdua di apartemen sebesar itu. Bagaimana Sehun menjaga Sooyoung-sam lalu mengucap kata-kata manis padanya.” Tutur Sulli panjang kali lebar sama dengan luas [?] ketika Kai menanyai. “Ah, apa mereka pernah berciuman? Uh, aku ingin lihat kalau mereka pernah…”

 

“Maaf membuatmu kecewa tapi Sehun bukan tipe cowok romantis, dia masih harus dapat pendidikan dariku,” kata Kai sok tau. Sejurus kemudian wajahnya berubah masam. “Dan, jangan bayangkan hal-hal seperti itu sementara kau sendiri nggak suka kucium, Choi Sulli.”

 

Sulli mencibir, “Pendidikan apa? Kamu kan pabo. Wajar sih aku nggak mau dicium oleh pabo namja sepertimu.”

 

“YAH!”

 

***

 

Mentari sudah enggan menampakkan sosoknya. Menjelang tengah malam, Sooyoung masih terjaga di atas ranjangnya. Dan makin tak dapat memejamkan mata begitu pendengarannya menangkap suara-suara aneh dari arah dapur. Sooyoung terkesiap, dia menuruni kasurnya dan melangkah tergusur keluar kamar.

 

Memperhatikan seluruh sudut apartemen yang gelap. Ugh, dimana saklarnya?

 

Malas mencari, jadi Sooyoung berjalan mengendap-endap ke arah dapur—dimana suara grasak-grusuk berasal. Dan semakin menguatkan tekad karena suara aneh itu kian terdengar jelas—sekaligus menyeramkan.

 

Tangan Sooyoung gemetaran ketika dia menggapai sapu dan menggenggamnya erat-erat. Dia memejamkan mata seiring dengan lampu dapur yang kemudian menyala.

 

Klik!

 

Loh?

 

“Sehun kau mengagetkanku!” pekiknya, menjatuhkan sapu yang tadi dipegangnya ke lantai. Sehun memasang wajah datar tanpa dosa.

 

“Maaf, aku nggak bisa tidur jadi cari makanan di dapur.” Jelasnya tanpa diminta. Sooyoung berdecak seraya menghampiri Sehun.

 

“Aku juga nggak bisa tidur,” kata Sooyoung. “Bikin ramen yuk?”

 

“Um,” Sehun mengangguk karena Sooyoung sudah mengambil panci dan dua bungkus ramen instan. “Nuna lapar juga?”

 

“Enggak sih, cuma mau menemanimu makan aja, lagipula tadi kan sudah kubilang aku pun nggak bisa tidur,” wanita itu memanaskan air sementara Sehun menyiapkan mangkuk. “Mau sambil nonton, nggak?”

 

“Pirates of Carribean.” Usul Sehun.

 

Sooyoung tersenyum. “Deal.”

 

Tumben, batin Sehun. Biasanya juga kalau ngajak nonton Sooyoung bakal pilih Harry Potter atau Final Destination. Ah… sudahlah buat apa juga hal begitu jadi pikiran.

 

Mereka berdua membawa mangkuk ramen masing-masing ke ruang TV, Sehun menyalakan DVD dan film pun dimulai. Sesekali Sehun melirik ke samping dimana Sooyoung serius menonton Jack Sparrow dan kawan-kawan. Jujur, dia lebih suka menonton setiap perubahan ekspresi Sooyoung daripada filmnya sendiri. Sehun ikut tersenyum ketika Sooyoung tersenyum.

 

“Kau kira aku nggak tahu kerjaanmu cuma memperhatikanku daritadi?”

 

Anieyo. Aku melihat filmnya, kok.” Sehun meletakkan mangkuknya di meja, tiba-tiba jadi gugup karena sekarang gantian Sooyoung yang memandanginya.

 

“Geojitmal,” bisik Sooyoung. Kemudian memeluk lengan Sehun dan menyandarkan kepala di pundak pemuda itu. Makin guguplah Sehun.

 

Nuna kau benar-benar demam.”

 

“Memang,” aku Sooyoung pelan, dia berkata dengan mata terpejam. “Makanya peka, aku kedinginan tahu. Katanya kau mau menjagaku.”

 

Sehun hanya berharap Sooyoung tidak mendengar detak jantungnya yang lagi bermarathon ria. Karena sekarang, dia sudah melingkarkan satu lengannya di pinggang Sooyoung dan membawanya lebih dekat. Membuat wanita itu semakin nyaman memejamkan mata di antara pundak dan dadanya.

 

Dag. Dug. Dag. Dug.

 

Hening.

 

Pundak Sooyoung naik-turun, napasnya teratur, faktanya dia sudah tertidur. Sehun meneguk liur, memberanikan diri menatap wajah tidur Sooyoung sebelum akhirnya dia mengecup kening Sooyoung—sekejap mata. Hanya satu kecupan di kening, tapi wajah Sehun langsung memanas keseluruhan.

 

Cup!

 

“Joahaeyo, Nuna.”

 

“Na do.”

 

Ng?

 

Sehun terbelalak mendengar kata balasan itu, dia melihat Sooyoung yang masih setia memeluknya dengan mata terpejam. Tadi itu, Sooyoung bilang apa?

 

“Ahaha, aku pasti salah dengar karena sudah terlalu mengantuk,” Sehun tertawa kikuk sendirian dan mengorek-ngorek kupingnya. “Nuna, masa aku mendengar kau bilang ‘na do’ padaku?” sekarang dia seperti orang bodoh karena bicara pada orang yang tengah tidur.

 

“Kau tidak salah dengar,” bisik Sooyoung serak. “Na do joahae, Sehun-ah.”

 

***

Iklan

63 Comments Add yours

  1. Gita Dwi berkata:

    Chingu maaf aku telat coment’a .
    Aku bca dari smpai chapter 11 keren bngt 😀 ….
    Chingu aku minta PW’a dong kirim aja ya ke nmor ini 087719841791 please chingu aku beneran penasaran bngtt . Jjeeebbbaalll .

    Suka

  2. UNNIE HUWAAA AKU BARU BACA LANJUTAN FF INI LAGI SKRNG TT_TT
    UNNIE KENAPA CHAP 12NYA DI LOCK? AKU MINTA PASSNYA KIRIM KE 087722206117 JUSEYO~~ AKU PENASARAN BANGET, DAEBBAK!! MIANHAE CAPSNYA JEBOL(?) SAKIT SERUNYA BACA FF INI TT_TT

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      IYA SAYANG FFNYA UDAH SAMPAI SINI KAMU KEMANA AJA HUU NTAR KUKIRIM PWNYA TUNGGU AJA YAA~

      Suka

  3. oh sehan berkata:

    Unnie ,, yahh kok chap 12 nX di password , kirimin Pw nx dong … Bbuing Bbuing ^_^ ke 082227990777

    Suka

  4. rinaknight berkata:

    Chingu blh mnta donk pw part 12-nya.???
    Tolong dikirim yach ke 081225464932 😆😄:):oops:;)😇😆:);)😄💋💏😘😘💋👰:) 🙂 😀

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      PWnya udah dikirim 🙂

      Suka

  5. wiiaawiyu berkata:

    Aaaaaakkkkkk akhirnya soo ngaku… yeahh soo ngakuuuuuu 😄😄😄😄

    Suka

  6. yoonade berkata:

    Oh My, sooyoung eonni sakit aja terus biar bisa jujur sm perasaan’y wkwkwkwk….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s