[FF] Promiscuous – Three

Promiscuous copy

“Promiscuous”

 

Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Seo Joohyun.

PG-rated. l Drama. l Episodes. l Indonesian.

Plot © wufanneey.

The story belong to me, but the characters are belong to God and themselves.

 

“Ini semua terlalu rumit. Tentang aku yang menyukaimu, tentang kau yang menyukai dia, dan tentangnya yang sama sekali tak pernah melihatmu. Jadi, sebenarnya siapa yang bodoh di sini?”

***

Chapter Three

 

“Choi Sooyoung kau sedang dimana, hah? Semua mencarimu!” sontak wanita bernama depan Choi itu menjauhkan speaker ponsel dari telinganya kala sang penelepon menjerit histeris di seberang sana.

 

“Aku pulang, aku tidak enak badan.” Yang diteriaki menjawab lemas.

 

“Oh, geurae?” nadanya berubah cemas. “Kau sudah minum obat? Apa sakitnya parah? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kan tidak ada siapa-siapa di dorm?”

 

“Diamlah, Sunkyu. Kepalaku pusing mendengar suara cemprengmu mengoceh tanpa henti.” Sooyoung mengeluh, memegangi kepalanya—kepalanya memang benar pening, berat sekali rasanya.

 

“Baiklah, maafkan aku. Tapi kau bisa jaga diri kan, Soo? Kami akan berusaha pulang secepat mungkin.” Sooyoung dapat membayangkan ekspresi berlebihan Sunny—atau Lee Sunkyu—saat mengkhawatirkannya. Ia mengulum senyum.

 

Ne, gwenchanayo. Gomawo, geurigo saranghae, Sunkyu-ya.”

 

Pip. Sooyoung menghela napas panjang setelah menekan ikon merah di layar datar ponselnya.

 

Setelah itu, ia menghela nafas lelah. Ia baru saja melatikan diri dari kenyataan, menjauh dari Kyuhyun, membohongi diri sendiri, dan itu sangatlah melelahkan. Hatinya. Hatinya lelah, sungguh.

 

“Apa hobimu memang menyatakan cinta pada setiap orang, huh?” Jonghyun bersila tangan di depan dada, berdiri tepat di hadapan Sooyoung yang tengah bersandar di bawah pohon rindang di pinggiran Sungai Han.

 

“Maafkan aku,” Sooyoung berucap pelan. “Pikiranku sangat kacau, aku tak tahu apa yang harus kuucapkan. Rasanya aku ingin menghilang saja…”

 

“Seperti katamu, aku mencoba mengerti.” Jonghyun menyakukan kedua tangan di sakunya, sikap santai seperti tak ada apapun yang terjadi walau otaknya memikirkan kebalikannya. “Mau es krim?” Jonghyun hampir lupa ia sedang memegang satu cup es krim, ia baru saja membelinya di toko seberang jalan sana.

 

“Sedang tidak ingin.” Tolak Sooyoung cepat. “Terimakasih sudah mengantarku ke sini. Mungkin merepotkan tapi aku sungguh berterimakasih, Jonghyun-ssi.”

 

“Padahal mungkin ini bisa mendinginkan kepalamu.” Ucap Jonghyun. “Tunggu, kau tadi memanggilku Jonghyun-ssi? Baru saja kau memanggilku Hyunie!” sewot Jonghyun protes. Mengingat insiden di kantin SM, saat Sooyoung memanggilnya ‘Hyunie’, pertengkaran dengan Kyuhyun. Wajah Sooyoung seketika muram dan Jonghyun langsung menyesalinya. “Dan apa itu? Hanya terimakasih saja? Lalu kau mengusirku pergi, begitu?”

 

Sooyoung melenguh panjang. “Bukan begitu, aish… aku hanya sedang ingin sendiri, Hyunie.” Bujuknya, menekankan kata ‘Hyunie’ di kalimatnya.

 

“Lalu setelah aku pergi, kau akan menangis sendirian lagi?” tanya Jonghyun. “Benar, kan? Yang dikatakan Kyuhyun-hyung?”

 

Sooyoung menoleh ke arah Jonghyun, “Jong… Jonghyun-ssi…”

 

“Kau tahu? Kau sangat picik.” Desis Jonghyun, dan Sooyoung tahu julukan itu memang cocok untuknya, setelah Jonghyun menyambung kalimatnya, “Kau baru saja melibatkanku dalam masalahmu dengan Kyuhyun-hyung. Kau bilang padanya kau mencintaiku sementara aku tahu jelas-jelas itu bohong. Apa maksudmu? Kau menjadikanku sebagai umpan?”

 

Skakmat. Menusuknya telak.

 

Sooyoung tidak bisa berkata apapun selain, “Ya.”

 

“Oh, aku tahu. Sebenarnya kau mencintai Kyuhyun-hyung, kan?” Sooyoung tidak menjawab. “Dan dia malah mendekati gadis lain? Lalu keberadaanku kau jadikan pion untukmu melupakan Kyuhyun. Apa aku salah?”

 

“Maafkan aku…,” lirihnya, suara lemah itu terdengar bergetar lagi. Sooyoung tak henti meruntuki dirinya yang begitu bodoh karena berucap tanpa pikir panjang. “Aku memang jahat. Hukum saja aku, aku pantas mendapatkannya.” Putusnya kemudian, mengangkat wajah dan sekali lagi keduanya beradu pandang dalam waktu yang tidak sebentar.

 

“Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat kau bilang padanya bahwa kau mencintaiku? Aku bahagia, sungguh. Tapi terlalu sakit menyadari ucapanmu bohong belaka.”

 

Jonghyun menyelami dua manik kecoklatan nan jernih itu dalam kekaguman terpendam. Masih kentara sarat-sarat kemerahan jejak tangis di mata bulatnya, dan Jonghyun tak suka melihatnya. Ia bersumpah tak akan membiarkan manik indah Sooyoung menangis tersedu lagi—seperti tadi. Ada perasaan ingin melindungi Sooyoung yang menyeruak, menyusupi dirinya. Perasaan apa namanya? Cinta? Atau empati?

 

“Aku menyukaimu, Sooyoung.” Adalah pengakuan dari bibir Jonghyun yang membuat Sooyoung terlonjak. “Aku sudah lama memperhatikanmu, sejak setahun lalu. Aku terlalu pengecut karena hanya bisa memandangimu dari jauh. Aku gugup. Aku takut kau mengabaikanku. Dan pada saatnya aku mendapatkan kesempatan untuk melangkah maju, aku memberanikan diri bicara padamu. Tapi malah kenyataan ini yang kuhadapi.”

 

Sooyoung mencoba menganalisa raut wajah Jonghyun. Mencari letak kejujuran lewat manik kecoklatan miliknya. Jonghyun membalas tatapan itu dengan dalam, intens. Bad luck. Wrong timing. You’re nothing for her, Jong.

 

“Kau serius? Aku… aku tidak—”

 

“Maaf. Kau pasti terkejut mendapat pengakuan tiba-tiba ini. Tapi setelah tahu kenyataan hatimu ada pada Kyuhyun. Aku tahu aku tidak punya lain waktu untuk mengungkapkannya. Aku hanya ingin kau tahu… agar aku merasa lega.” Jonghyun tersenyum garing. “Baiklah, aku akan pergi. Kupikir kau butuh waktu sendiri untuk merenungi semuanya.” Putus Jonghyun kemudian. Ia beranjak dari sandarannya dan mulai melangkahkan kaki sembari berkata, “Aku pun perlu menata lagi hatiku.”

 

Namun belum lima langkah dari Sooyoung berpijak, Jonghyun merasakan tangan mungil menarik ujung kaus yang dikenakannya. Jonghyun menolehkan kepala dan mendapati Sooyoung tengah menatapnya.

 

“Buat aku mencintaimu…”

 

Buat aku melupakan Cho Kyuhyun, Hyunie.

 

“Apa maksudmu?” Jonghyun menautkan alisnya bingung. “Kau ingin aku berada di sisimu? Sementara aku tahu hati dan perasaanmu tidak tertuju padaku? Kau menjadikanku pelampiasanmu? Aku punya hati, aku punya perasaan. Tidakkah kau berpikir?”

 

“Aku tidak sanggup, Hyunie. Aku tidak bisa menanggung sakit ini sendirian lagi.” Jonghyun berjalan mendekat. Ia sedikit membungkuk untuk menyetarakan wajahnya dengan wajah Sooyoung. Sooyoung memukul-mukul dadanya, “Kau tahu… di sini… sakit.” Isaknya. “Nae maeumi…”

 

Jonghyun merengkuh tubuh ringkih Sooyoung, erat. Ia menepuk-nepuk pundak wanita itu pelan. Tak tahu keberanian darimana ia dapatkan, yang jelas ia tak suka melihat Sooyoung yang begitu rapuh seperti sekarang.

 

“Berhenti menangis, Youngie.” Sooyoung membiarkan Jonghyun mengeratkan pelukan pada pundaknya. Sooyoung membasahi kaus Jonghyun dengan airmatanya. “Aku bilang berhenti menangisinya. Aku tidak pernah membaca fakta SNSD Sooyoung sering menangisi seorang pria di situs manapun.” Isakan Sooyoung mulai mereda, Jonghyun mengangkat dagu wanita itu hingga wajah mereka berjarak sejengkal saja, bersitatap beberapa saat. “Dengar aku, tanpa kau minta aku akan melakukan itu…”

 

“Kau tahu aku berkata bohong barusan…,” lirih Sooyoung. “Aku tidak mencintaimu.”

 

“Aku tahu.” Sela Jonghyun cepat. “Aku sadar betul. Tapi aku serius akan ucapanku.”

 

“Adapun istilah cinta tak harus memiliki, kurasa itu bohong besar. Jika kau mencintai, maka otomatis kau ingin merasa dimiliki dan memiliki. Menghabiskan waktu dengannya, bergandengan tangan, bersamanya selama mungkin… Kau merasakannya, aku pun merasakannya. Kau mencintai Kyuhyun-hyung, tetapi ia tak pernah melihatmu. Dan, dengan bodohnya aku datang ke kehidupanmu lalu menyatakan cinta padamu. Kau pikir siapa yang paling bodoh?” jeda sejenak sebelum Jonghyun melanjutkan, dengan nada terlembut yang pernah Sooyoung dengar selama mengenal Jonghyun. “Aku tidak akan menjadikan kisah cintaku sad ending. Aku tidak mau menjadi orang ketiga. Aku ingin menjadi yang pertama untukmu. Tidak peduli hatimu ada di mana, yang jelas ragamu bersamaku.”

 

“Sekalipun jika aku tetap tak bisa berpaling dari Kyuhyun-oppa…”

 

“Sekalipun jika kau tetap tak bisa berpaling dari Kyuhyun-hyung…” Jonghyun mengulang kalimat Sooyoung. Penuh keseriusan yang tak terpungkiri, Sooyoung enggan menyangkalnya namun ia sungguh ingin mempercayai pria jangkung ini.

 

“Kau akan tetap di sampingku?”

 

“Aku akan tetap di sampingmu.” Mendengar jawaban itu, Sooyoung menangis dan reflek Jonghyun meraih tubuhnya ke pelukannya. Merengkuhnya penuh sayang. Sebelum ia menunduk dan mengecup lembut dahi Sooyoung, lantas membisikkan sesuatu di telinganya, “Aku janji, aku berjanji, Choi Sooyoung.”

 

Tuhan… tolong izinkan aku… belajar mencintainya.

 

***

 

Tanpa dua insan itu sadari, sepasang manik obsidian memperhatikan sejak tadi dengan raut tak terdefinisikan. Cho Kyuhyun. Ya, siapa sangka Kyuhyun mengikuti kemana Jonghyun membawa Sooyoung pergi dan akhirnya sampailah ia di sini. Menjadi stalker hanya demi Choi Sooyoung.

 

Kyuhyun tidak suka melihat mereka seakrab itu, sedekat itu. Kyuhyun meluapkan amarahnya dengan mencengkram kemudi mobilnya kuat-kuat, sampai tangannya menjadi merah. Kyuhyun tidak tahu apa yang mereka bicarakan, ia tak dapat mendengarnya karena well, jaraknya cukup jauh dari kedua orang itu.

 

Namun satu yang bisa ia simpulkan. Lee Jonghyun, dengan semena-mena memperlakukan Sooyoung seolah wanita itu adalah miliknya. Lelaki bermarga Lee itu dengan kekurangajarannya berani mencium kening Sooyoungnya. Kening indah yang pernah ia cium juga.

 

Rahang Kyuhyun mengeras, ia menahan geramannya dalam satu napas. Ia benci dirinya yang terlalu pengecut untuk sekedar berlari menghampiri mereka dan menarik tangan Sooyoung untuk menjauh dari Jonghyun, dan berkata bahwa Sooyoung adalah miliknya.

 

Ia benci.

 

Ia sungguh benci.

 

Yang dikatakan Victoria benar. Ia mencintai Sooyoung, dan ia membenci keterlambatannya dalam menyadari hal tersebut. Waktu mempermainkannya, ego menjungkirbalikkan otaknya. Ia bodoh sebodoh-bodohnya karena menyia-nyiakan keberadaan Sooyoung di sisinya saat ia justru melirik wanita lain.

 

Jika ia mengakuinya sekarang, masih adakah waktu?

 

Masih adakah kesempatan untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya?

 

Menjadikan Choi Sooyoung satu-satunya wanita yang hanya untuknya?

 

“Tunggu aku, Sooyoung. Kumohon. Tunggu aku.” Lirihnya parau, disertai tatapan sendu.

 

Lantas Kyuhyun mengirim pesan kepada Seohyun. Ia tahu yang harus dilakukannya sekarang. Walau akibat fatalnya ia akan dicap sebagai lelaki brengsek.

 

Seo, bisa kita bertemu besok?

Ada yang harus kukatakan padamu.

To: Seohyun

29/07/2013 03.00 PM

 

Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus melepaskan sesuatu yang lain.

 

***

 

Jonghyun mengantar Sooyoung pulang ke asrama setelah itu. Jonghyun nyaris saja melupakan penerbangannya ke Jepang beberapa jam lagi jika saja Sooyoung tak mengingatkan. Sesungguhnya, Jonghyun ingin lebih lama bersama Sooyoung tapi jadwalnya tak bisa ditunda, maka dengan berat hati ia melepas wanita itu di depan pintu asrama.

 

“Hubungi aku nanti,” bisiknya tepat di samping telinga Sooyoung. Sooyoung mengangguk. Sekali lagi Sooyoung berterimakasih pada Jonghyun, dan dibalas Jonghyun dengan seulas senyum.

 

Lelaki bersurai hitam itu membiarkan Sooyoung menutup pintu lebih dulu. Ia tak beranjak dari tempatnya berdiri. Mengulum senyum. Ini hari terindah baginya. Bagaimana tidak? Wanita yang kau cintai diam-diam selama setahun belakangan akhirnya dapat kau raih walau belum sepenuhnya.

 

Jonghyun membatin bahwa ia tak akan pernah menyerah setelah ini. tak akan pernah ia lepas Sooyoung untuk siapa pun selain dirinya, termasuk Kyuhyun. Sahabatnya sekali pun. Jonghyun tahu ini salah, Kyuhyun adalah orang terdekatnya tetapi ia tidak bisa membiarkan Sooyoung terus menerus menangisi pria yang sama sekali tidak pernah melihatnya itu.

 

Jonghyun sakit jika melihat Sooyoung sakit. Maka, ia tidak mau Sooyoung terjatuh lebih dalam, sakit lebih parah, mencandu Cho Kyuhyun dengan segenap hatinya. Ia tidak akan biarkan. Cukup sudah. Sooyoung tak pantas merasakan perasaan hina itu. Tak akan lagi.

 

Jaljayo, sarangi.” Gumam Jonghyun kecil sebelum sosok jangkungnya masuk ke salam mobil kemudian melaju di malam Korea yang begitu dingin. “Kuharap kau memimpikanku malam ini.”

 

***

 

Sooyoung melepas sepatunya, masuk kamar lalu menutup pintunya rapat. Ia merosot, terduduk di bawah, tubuhnya tersandar lemas. Tatapan lurus ke depan. Kosong. Hari ini. Hari paling melelahkan baginya.

 

Cho Kyuhyun…

 

Apa kau tidak bisa melihatku? Sekali saja? Satu kedipan pun?

 

Apa telah kulakukan? Menjadikan Jonghyun sebagai pelampiasan?

 

Ia berpikir dirinya benar-benar jahat sekarang. Karena sampai kapan pun Sooyoung tidak bisa menjamin bahwa rasa cintanya pada Kyuhyun akan mengikis seiring dengan keberadaan Jonghyun di sisinya. Bagaimana pun, Kyuhyun adalah cinta pertamanya. Selamanya.

 

Lee Jonghyun…

 

Pria asing yang baru dikenalnya. Yang ia jadikan batu lompatan untuknya melewati situasi ini, perasaan sakit berkelanjutan ini. Is this wrong way?

 

Ia memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya. Pundaknya naik turun tidak teratur, napasnya sesak. “Maafkan aku. Maafkan aku, Hyunie.” Lirih Sooyoung, kemudian terisak tanpa suara.

 

***

 

“Kyuhyun-oppa!” pekik Seohyun girang saat melihat Kyuhyun datang dari ambang pintu, memasuki cafe tempat janjian mereka. Sedang lenggang pengunjung, untungnya. Jadi Kyuhyun segera duduk di depan Seohyun. Mereka berdua memakai masker penyamaran, sudah biasa disaat kencan seperti ini.

 

“Sebenarnya aku tidak enak dengan unnideul, mau berkencan denganmu hari ini. Karena kemarin Sooyoung-unni demam dan itu membuat semuanya panik. Jadi mungkin aku tidak bisa lama-lama.” Kata Seohyun setelah ia dan Kyuhyun memesan makanan. Ia lalu menyeruput jus jeruknya pelan-pelan.

 

Kyuhyun mengangguk. Sebisa mungkin ia menahan keterkejutannya dengan informasi Sooyoung demam itu. Jika hubungan mereka tidak canggung begini, mungkin Kyuhyun akan langsung melesat ke dorm SNSD dengan sekantung makanan untuk menjenguk Sooyoung. Tapi, sekarang tidak bisa. Bukan tidak boleh, tapi Kyuhyun menyadari ada pembatas kasat mata di antara ia dan Sooyoung kini. Pembatas yang ia ciptakan, dan Sooyoung sukses menyempurnakannya.

 

“Aku juga tidak akan lama, aku hanya mau menyampaikan sesuatu.”

 

“Hm,” Seohyun menggumam kecil. Lalu mulai memperhatikan raut wajah Kyuhyun yang tiba-tiba berubah aneh. Ah, mungkin perasaannya saja… atau Kyuhyun memang terlihat kuyu?

 

“Aku lebih suka… untuk berteman denganmu, Seohyun.”

 

“Apa?”

 

Seohyun terpaku. Sedotan itu terlepas dari bibirnya yang setengah terbuka. Sementara Kyuhyun langsung menyibukkan diri dengan pesanan yang sudah datang. Tanpa menyadari aura aneh menguar di sekitarnya. Mata Seohyun berkaca-kaca.

 

“Makanlah, kalau dingin tidak enak.”

 

Op… Oppa? Inikah sikapmu setelah kau bilang minta putus dariku?” Kyuhyun bisa melihat make up Seohyun luntur oleh airmatanya. Kyuhyun diam saja, ia bingung apa yang mesti diperbuatnya.

 

“Maafkan aku, aku tidak pernah mencintaimu.”

 

“Tidak pernah mencintaiku? Jadi apa maksudmu menjadikanku kekasihmu, Oppa?”

 

“Aku lelaki brengsek. Aku tahu.”

 

“Ada orang lain, kan?” Seohyun menangis. Tidak menyangka bahwa namjachingu yang ia bangga-banggakan selama ini sebegitu bejatnya. Tidak berperasaan.

 

“Ya.” Adalah jawaban yang membuat hati Seohyun semakin sakit. Ia takut dugaannya selama ini benar, ia sadar Kyuhyun sering memperhatikan selain dirinya setiap ia bersama membernya. Seohyun tahu tapi ia ingin menyangkalnya, kenyataan paling menyakitkan. “Aku mencintai—”

 

“Cukup, Oppa.” Potong Seohyun cepat. Lantas mengusap airmatanya kasar. “Aku tahu dia orangnya. Aku tahu kau menaruh perasaan pada Sooyoung-unni. Aku benar, kan?”

 

Kyuhyun tidak mengelak ataupun bicara, dan itu cukup menjelaskan semuanya. Hati Seohyun mencelos, sedalam-dalamnya.

 

“Kau membuatku menjadi peran antagonis, Oppa. harusnya kau mengatakan ini sejak awal. Kau membuatku seolah-olah aku tega menikung Unniku sendiri dari belakang. Kau jahat, Oppa. Aku tidak pernah mengira aku mencintai pria jahat sepertimu.” Seohyun meluapkan semuanya. Yang ada dibenaknya kini adalah, ia harus menuntaskannya saat ini juga. Sooyoung menangis, dan sekarang Seohyun tahu alasan atas tangisan itu. “Jadi, apa kau juga yang bertanggung jawab atas airmata yang pernah turun dari pipinya?”

 

“Jika kau berpikiran begitu.” Jawab Kyuhyun lemas.

 

Plak! Tamparan itu bahkan tak cukup untuk menyaingi sakitnya hati Seohyun kini.

 

Seohyun melengos pergi secepat ia bisa setelah meninggalkan tapak merah di balik masker yang Kyuhyun kenakan. Kyuhyun meremas sendoknya sampai tangannya merah. Ia sadar betul, ia memang pantas menerima ini.

 

***

 

Dua bulan kemudian.

 

Jadi, semuanya berlalu. Dan, terjadi seharusnya. Tak pernah ada yang menyinggung hubungan Kyuhyun dan Seohyun lagi. Para warga SM, member Super Junior maupun SNSD. Jika waktu itu mereka sering menggoda Kyuhyun dan Seohyun jika pasangan itu melakukan skinship, kini semua jungkir balik. Seolah, dinding pembatas itu bukan hanya pada Kyuhyun dengan Sooyoung, tetapi dengan semua member girlgroup itu. Apalagi Taeyeon, Kyuhyun tahu Taeyeon sangat marah padanya. Terlihat dari tatapan sinisnya tiap kali berpapasan dengan Kyuhyun. Sebegitu buruknyakah imagenya di mata Taeyeon hanya karena ia mendekati kedua maknaenya?

 

Padahal Seohyun saja masih bisa bersikap biasa kepadanya. Tetapi, Taeyeon tidak. Kyuhyun tidak pernah paham emosi wanita bisa sebegitu besarnya hanya karena masalah kecil yang ia anggap sepele.

 

Namun, profesionalitas tetaplah profesionalitas. Seperti hari ini, dimana dua grup satu agensi itu berkumpul untuk melakukan latihan bersama. Untuk kolaborasi mereka di konser besar SM mendatang. Terlihat biasa dan akrab dari luar, memang. Karena profesionalitas, karena itu saja. Mungkin Shindong dan Eunhyuk masih bisa mengendalikan situasi dengan guyon dan candaan mereka, tetapi perang dingin itu tetap kentara setelahnya.

 

Latihan selesai. Sama halnya dengan yang lain, Sooyoung segera duduk di sudut ruangan sambil meneguk mineralnya. Kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya, ada satu pesan dari Jonghyun. Tanpa sadar bibirnya mengukir senyum. Dua bulan ini, selama Jonghyun di Jepang, mereka memang masih sering berkomunikasi. Bahkan jika sehari saja tak memberi kabar satu sama lain, rasanya ada yang kurang.

 

Jessica melihat Kyuhyun yang tengah memperhatikan Sooyoung, dengan gerak cepat wanita kelahiran San Fransisco itu pun duduk di samping Sooyoung, menyenggol lengan Sooyoung. “Tiada hari tanpa berlovey-dovey dengan kekasih.” Ucapnya, sedikit keras. Niatnya, memanas-manasi Kyuhyun.

 

“Apa sih maksudmu?” Sooyoung merengut, tidak suka. Jujur saja, hubungannya dengan Jonghyun tidak seperti itu. Hanya… lebih dari teman, tapi bukan berarti berpacaran.

 

“Pura-pura tidak tahu.” Jessica mendelik ke arah Kyuhyun, sayangnya maknae boyband itu secepat kilat meneguk air minumnya menghindari tatapan Jessica.

 

Tiba-tiba saja telepon genggam Sooyoung bergetar, Jonghyun meneleponnya. Sooyoung bimbang, pasalnya ia tidak sedang berada di area pribadi. Tapi Jessica yang melihat itu langsung menyentuh ikon hijau tanpa persetujuan Sooyoung. Sooyoung melotot kepadanya tapi Jessica mengangkat bahu tidak peduli.

 

Dengan ragu Sooyoung menempatkan speaker ponsel di samping telinganya. Lima detik berlalu tanpa suara apapun, dari Jonghyun maupun Sooyoung. Jessica menggeleng tak habis pikir. Hubungan macam apa itu.

 

“Haaah… Sooyoungie,” suara itu, Lee Jonghyun.

 

“Jonghyun-ssi,” cicit Sooyoung, sepelan mungkin. “Maksudku, Hyunie.” Ralat Sooyoung sebelum Jonghyun mengoceh lagi tentang nama panggilan.

 

“Kau sedang free?”

 

“Baru selesai latihan.” Jawab Sooyoung seadanya. “Ada apa meneleponku?”

 

Ada jeda beberapa detik, tapi Sooyoung menunggu Jonghyun melanjutkan, “Ah, ada apa ya… Entahlah.”

 

“Lee Jonghyun.”

 

“Oke, oke. Apa rindu bisa jadi alasan?”

 

“Apa?”

 

Choi Sooyoung tidak pernah tahu rasanya, mendengar seorang pria selain ayah dan oppadeulnya mengucap kalimat itu untuknya. Sooyoung tidak pernah menyangka jantungnya bisa berdebar-debar hanya karena ini. Selain dari Kyuhyun. Memang, kebohongan besar bila Sooyoung mengatakan ia sudah melupakan Kyuhyun. Sungguh konyol mengakui bahwa rasa cintanya masih besar pada pria itu. Tapi Sooyoung tidak mau terjatuh lebih dalam, maka ia selalu menghindari Kyuhyun. Saat Kyuhyun justru berusaha mendekatinya lagi.

 

Sooyoung tidak bisa menjawab. Akhirnya Jonghyun kembali berbicara dari sana, “Ruang latihanmu di lantai dua, kan? Menengoklah ke jendela, aku di depan gedung SM,” Sooyoung kaget. Ia langsung berdiri dan melihat keluar jendela sesuai instruksi Jonghyun. “Di bawah.” Benar, pria jangkung itu di sana, bersandar di depan mobilnya. Wajahnya tertutupi masker, dengan surai kecoklatan yang terhempas angin sore, entah kenapa Sooyoung yakin itu sosok Jonghyun.

 

“Aku melambaikan tangan padamu.” Sooyoung tertegun, dengan sendirinya membalas lambaian tangan Jonghyun. Hal kekanakan yang mustahil dilakukan seorang Choi Sooyoung, jika bukan karena Lee Jonghyun.

 

“Kapan kau kembali ke Korea? Kau tidak ada jadwal? Harusnya kau istirahat? Apa manajer tidak melarangmu, huh?”

 

“Bawel.” Jawab Jonghyun singkat. “Pokoknya turun saja. Latihanmu sudah selesai kan? Aku tidak punya banyak waktu kecuali sekarang.”

 

“Cih, sok sibuk.”

 

“Ayolah.”

 

“Ish, baiklah-baiklah.”

 

Pip. Sambungan terputus bersamaan dengan suara Siwon yang terdengar, “Siapa? Sasaeng fans?” Siwon melihat keluar jendela dan mendapati Jonghyun di bawah, seolah menyadari sesuatu ia tersenyum mencurigakan pada Sooyoung. “Ah, pantas saja Dongsaengku lebih sering tersenyum akhir-akhir ini.”

 

Sooyoung malu. Ia lebih memilih mengabaikan godaan Siwon dan mengalihkan pertanyaan pada Taeyeon, “Latihannya sudah selesai, kan? Aku ada urusan.” Taeyeon mengangguk dan tersenyum. Bergegas Sooyoung membereskan ‘perabotan’ nya kemudian melangkah menuju pintu keluar.

 

“Jangan membuat kesalahan yang sama, Soo.”

 

“Kyuhyun-oppa,” desis Seohyun.

 

Sooyoung terdiam di tempatnya berpijak.

 

“Apa kau bodoh? Lelaki itu yang membuatmu menangis, dan dengan mudahnya kau mau menerimanya lagi?” pertanyaan itu, dilontarkan dengan nada sedingin es.

 

“Cho Kyuhyun,” Donghae menengahi.

 

Sooyoung mengeratkan cengkraman pada tasnya. Lantas tubuhnya berbalik dan ia tersenyum pahit kepada Kyuhyun. “Asal kau tahu, Oppa. Bukan Jonghyun yang membuatku menangis, tapi kau.”

 

***

 

“Kenapa lesu begitu?”

 

“Lesu? Aku semangat seperti biasanya! Kau tidak lihat?”

 

Bohong. Satu hal yang bisa Jonghyun simpulkan saat pertama kali melihat Sooyoung adalah, wanita itu tetap sama. Maksudnya, wajah sendu itu. Jonghyun menengadahkan wajahnya ke atas dan hipotesanya seratus persen benar. Kyuhyun ada di sana, memandangnya tidak suka. Jonghyun tahu ada aura permusuhan tembus pandang di antara mereka. Dan, itu semenjak pertengkarannya dengan Kyuhyun dua bulan lalu. Saat itu pun, sebenarnya bukan sepenuhnya salah Kyuhyun, ini salah paham. Dengan bodohnya Jonghyun tidak menjelaskan titik kesalahpahaman itu dan malah membuat masalah semakin runyam, ia sadar, namun tak dapat terpungkiri bahwa inilah yang ia inginkan.

 

“Kemarikan tanganmu,” tanpa izin Jonghyun menarik kedua tangan Sooyoung dan menggenggamnya. Sooyoung kaget tapi ia membiarkan Jonghyun mempererat genggamannya. Ah, tetapi genggaman tangan Kyuhyun lebih nyaman, dulu. “Kita lakukan pill energy session.” Sambung Jonghyun.

 

“Di sini? Apa kau gila? Andwae!”

 

“Aish, aku sudah tidak tahan.”

 

“Kau ini apa-apaan? Kalau ada paparazzi bagaimana?” Sooyoung kelimpungan. Namun detik berikutnya ia merasakan genggaman tangan Jonghyun semakin nyaman, lalu Jonghyun mengayun-ayun tangannya perlahan. Jonghyun memejamkan mata.

 

“Menurut saja, cerewet.” Mau tak mau Sooyoung ikut memejamkan mata, masih dengan tautan tangan keduanya, berayun pelan. Jonghyun menghitung mundur dari lima, dan saat hitungan terakhir ia mengintruksi Sooyoung untuk menghembuskan nafas. Mereka melakukan itu berulang-ulang sampai sepuluh kali.

 

“Sepuluh…” adalah hitungan terakhir keduanya bersamaan dengan dua pasang kelopak mata itu yang berbuka. Sooyoung melempar senyum. “I’m with you…”

 

Sooyoung tidak tahu, bahwa di balik masker abu-abu itu mulut Jonghyun setengah terbuka. Matanya tidak berkedip mendapat reaksi Sooyoung. Sangat bodoh mengakuinya tapi ia terpana melihat Sooyoung tertawa. Poni tirainya menutupi setengah matanya yang menyipit, dagunya yang melancip, pipi cabinya yang pink, bibir tipisnya yang menggoda, dan… suara animenya yang selama dua bulan ini hanya ia dengar lewat ponsel, suara yang tanpa sadar telah menjadi candunya selama ia mengenal Sooyoung.

 

Wanita tinggi dengan marga Choi itu tertegun. Kenapa ia bisa tersenyum lepas seperti ini saat bersama Jonghyun? Kenapa tidak bisa begini juga saat bersama Kyuhyun? Maksudnya, setelah ada kecanggungan di antara mereka. Memang apa yang Jonghyun punya dan Kyuhyun tidak punya? Kyuhyun memiliki segalanya, Kyuhyun tampan, pintar, mapan, dewasa, lelaki idaman, dan yang terpenting… Kyuhyun memiliki hatinya.

 

Di lain sudut, Kyuhyun melihat semuanya. Saat Jonghyun menggenggam kedua tangan Sooyoung, memejamkan mata bersama, lalu Sooyoung tersenyum manis ke arah Jonghyun. Ironis mengingat fakta senyum pahit yang ia dapat dari Sooyoung. Yang ia bisa hanyalah meremas botol mineralnya kuat-kuat. Rahangnya mengeras.

 

Seharusnya ia yang berada di posisi Jonghyun sekarang. Seharusnya ia yang melakukan semua itu bersama Sooyoung. Seharusnya ia yang mendapat  senyum manis Sooyoung. Seharusnya ia. Seharusnya ia. Seharusnya ia. Karena, biar bagaimana pun, dimana pun dan kapan pun, Sooyoung adalah miliknya.

 

Kau menangisiku, itu artinya kau mencintaiku, kan?

Iklan

81 Comments Add yours

  1. Andria Knight berkata:

    Ah…, romantis bngt Jonghyun oppa…! 😀
    pengen bnget rsa.a getok kpala.a Kyuhyun oppa…, iihh…. 😦

    Suka

  2. Andreena berkata:

    Jonghyun romantis banget dehh *guling-guling saking gregetannya.. jadi iri sama Sooyoung. Hahahaa
    Pepatah tuh bener ya, harus ilang dulu baru merasa kehilangan. ckck. Kyuhyuunn why you’re so dumbbbbb~ Udah gini baru deh ngejar2 Sooyoung. kenapa ga dari duluuu ya ampun.

    Suka

  3. Weeni_leon berkata:

    Gk bsa bilang apa2, slaen blg ng2u next part ny ja…
    Makin penasaran. Author ny bner2 daebakk, qu jd kecanduan mbaca mpe part akhr nya.

    Suka

  4. kelly berkata:

    Jadi galau antara jonghyun sama kyu
    Tapi disini jonghyun bener bener romantis
    Tapi soo sama kyu aja yaaaaaa

    Suka

  5. Amel Ryriis berkata:

    Wahh…soo udh mulai dkat sma jonghyun 😀

    tpi brhrp kyu memprthankan soo 🙂

    Suka

  6. kyungie berkata:

    daebakㅠㅅㅠ

    Suka

  7. ananta.ditha berkata:

    seseorg akan trsa sngat brharga saat dy sdah tdak d sisimu….#kalimat pling cocok buat kyu oppa..

    Suka

  8. EvilShikshin berkata:

    Haduh pas baca rasanya pengin banget soo eon sma jonghyun tapi di sisi lain juga pengin soo eon sma kyu oppa, jadi bingung. Tapi tetep next. XD

    Suka

  9. Echa Carthica berkata:

    Ah jonghyun romantis bgt.klo kya gni mh ku dkung jonghyun z

    Suka

  10. ineztifany28 berkata:

    jonghyun so sweet banget

    Suka

  11. fatimah berkata:

    soo unnie udah mulai suka ma jonghyun oppa daebak

    Suka

  12. kyusooforever berkata:

    huahh jonghyun sweet bgtt, daebakk

    Suka

  13. YSA berkata:

    huaa Kyu nyesel kan?
    hayoloh klo Soo suka sama Jonghyun gimana? kekeke

    Suka

  14. Kim Seo Won berkata:

    ehmm mampuskan benerkan sekarang kasian deh kyu wkwk, setelah ini pairingnya jonghyun-soo atau tetep kyu-soo?

    Suka

  15. Kim Seo Won berkata:

    ehmm mampuskan benerkan sekarang kasian deh kyu wkwk, setelah ini pairingnya jonghyun-soo atau tetep kyu-soo? ._.

    Suka

  16. yoonAddict01 berkata:

    lebih suka soo ma jonghyun
    abis kyu udah keterlaluan

    Suka

  17. Kang Yong Ae berkata:

    ah jonghyun romantisnya bikin lemes 😀
    haha ada yang nyesel nih. kasiann..

    Suka

  18. dania berkata:

    Huaaaa gatau kenapa suka bangettt,feel romantisnya ituloh buat senyumsenyum sendiri. Next part~

    Suka

  19. Yeah akhirnya Soo unni sama Jonghyunnya deket 🙂
    tpi nggk atau juga akhirnya sama jonghyun apaa kyuhyun:)

    Suka

  20. erika berkata:

    Jonghyunie, kau sangat romantis ^^
    sooyoung jonghyun jjang 😀
    next baca”ny ,,hehe

    Suka

  21. erika berkata:

    Jongie, kau sangat romantis ^^
    aku lebih setuju kalau soo sama jongie ……….
    sooyoung jonghyun jjang 😀
    next baca”ny ,,hehe

    Suka

  22. wiiaawiyu berkata:

    kenapa di hampir semua kisah cinta segitiga, the second lead male nya pasti manis banget perlakuannya.
    Buat galau aja.. soo x kyu atau soo x jonghyun yah?

    Suka

  23. kusumaani berkata:

    kyuhyun gimnaa sii soo kan nangis gara gara dia.bukan gara gara jonghyun selama ini kyuhyun ngga peka sii

    Suka

  24. emmalyana25 berkata:

    jonghyun suer duh kenapa kamu romantis sekali
    berharap aja soo eon bisa mup on
    kyuhyun telat nyadarnya sih tapi suka aja disini kyu merasa tersakiti
    daebak!!

    Suka

  25. SummerAnn berkata:

    like..

    Suka

  26. maulidia03 berkata:

    Haduuuuuh makin Greget aj nih cerita.sumpahh seneng bgtt sma gaya soo yg setidaknya mau berusaha utk lupain kyu..suka gaya jonghyun jg yg gak ad nyerahnya kasih spirit ke soo.daebakkk

    Suka

  27. Zee Anggita berkata:

    di ff ini kok q suka bngt soo eon sama jonghyun y apalagi, sikapnya jong k soo eon romantis bingitss..

    Suka

  28. sweetyoungsoo berkata:

    Wauw ddaebak mereka jonghyun sooyoung semakin dekat kkk

    Suka

  29. Kaisoolay berkata:

    Kyuhyun cemburuuuu….😂😂😂

    Suka

  30. zahra berkata:

    Like…like…like…🖒🖒🖒🖒

    Suka

  31. Indahfida5 berkata:

    kyuhyun gak peka aja. Baru sadar suka ama sooyoung

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s