[FF] An Involved Lover [Seven – Our Past]

An Involved Lover-2 copy

“An Involved Lover”

 

Casts: Choi Sooyoung, Oh Sehun, Kris Wu.

As tagged: Yuri.

G-rated. l Fluff/Romance/Comedy. l Chaptered. l Indonesian.

Plot © wufanneey (@WayneFanneey)

Characters © they belong to God and themselves.

 

***

 

 

Chapter Seven – Our Past

 

Kris’s Pov

 

Malam itu setelah aku pulang dari Bar milik Jonghyun, ponselku berdering dan nama Kwon Yuri tertera di layarnya.

 

“Hoi, Wu Yi Fan! Besok datanglah ke cafe biasa, oke? Aku juga mengajak Sooyoung!”

 

Itulah yang terdengar saat aku menempelkan speaker ponsel ke telingaku. Jadi, apakah itu sebuah ajakan? Tentu saja. Tetapi bukan itu yang membuatku mendadak beku, bukan itu masalahnya. Nama wanita yang dia sebutkan tadi itu masalahnya. Choi Sooyoung. Memang aku siap untuk bertemu Sooyoung? Tidak, tidak sekalipun. Memasang poker face setiap saat seolah aku baik-baik saja saat di sampingnya itu menyakitkan. Aku jenuh, bosan, letih dan serentetan kata melelahkan lainnya hinggap di benakku.

 

Aku sadar. Aku tahu betul tidak seharusnya aku jatuh cinta. Ini kesalahan. Awal perkenalanku dengan Sooyoung seharusnya tidak pernah terjadi. Harusnya keluargaku tidak pindah ke Busan, harusnya aku ikut dengan kakek ke Kanada lalu hidup bahagia dengan wanita pilihannya, harusnya, harusnya, harusnya. Tapi, lagi-lagi tapi, semua terlanjur. Dia terlihat sangat dekat tapi kenyataannya begitu jauh saat kugapai, sulit sekali.

 

Kuhela nafas lelah sebelum sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibirku dan mengakhiri percakapanku dengan Yuri malam itu.

 

“Baiklah. Aku akan datang.”

 

Ini semua terjadi begitu cepat, secepat roller coaster yang bisa mengaduk perutmu dan merusak tatanan rambutmu dalam waktu bersamaan. Berawal dari suatu malam 7 tahun silam, ketika aku yang berumur 17 baru sampai di Busan dan berkenalan dengan gadis kecil bermata belo dengan tubuh kurus-tinggi. Kami mengobrol, menjadi sahabat, dan tiba-tiba saja ini terjadi. Hal yang kubenci dan pasti kau juga benci. Jatuh cinta pada sahabatmu sendiri, bagaimana rasanya?

 

Gila.

 

Sekuat apapun berusaha ditangkis, tetap saja. Terlanjur dituliskan seperti itu, dan aku tahu akhirnya hanyalah ada aku, cintaku, dan rasa kecewa. Patah hati. Karena aku tahu hatinya tidak berlabuh padaku. Dari dulu, aku tahu.

 

Aku lebih mengerti dia daripada dirinya sendiri. Dia memang payah dalam soal cinta jadi kurasa perlu waktu bertahun-tahun untuk menyadarkannya bahwa dia tengah jatuh cinta. Dan, kenyataan yang paling membuatku kecewa adalah laki-laki beruntung itu bukan aku. Dia tidak menaruh hatinya padaku.

 

***

 

And now, here I am… Bersama Yuri dan Sooyoung, jadi aku kini duduk di Page Two—cafe biasa tempat kami bertemu. Kami bertiga memang teman semenjak Senior High School. Rasanya sudah lama sekali sejak kami bertiga sibuk dengan pekerjaan, kami jarang sekali bertemu.

 

“Hei aku punya kabar baik, tebak.” Yuri memulai pembicaraan setelah memesankan tequila sunrise untuk kami bertiga.

 

“Aku moccacino saja,” potongku dan Sooyoung berbarengan. Spontan Sooyoung menoleh ke arahku dengan pandangan bertanya, aku hanya mengangkat bahu. Sementara Yuri tertawa dan mengatakan kami begitu jodoh. Aku tersenyum getir. Jodoh, ya? Apa datang ke cafe bersamaan dan memesan pesanan yang sama bisa di sebut jodoh?

 

Tidak, Kwon.

 

Aku mendengar Sooyoung menggumam sebagai respon. Kemudian Yuri mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya. Surat undangan. Kwon Yuri, kau selalu mudah ditebak.

 

“Oh My! Kwon Yuri! Damn you!” Sooyoung memekik setelah melihat surat undangan pernikahan itu. Yuri terkekeh sedangkan aku tertawa kecil. Tapi sejujurnya, pemandangan Sooyoung yang mengerucutkan bibirnya lebih menyita perhatianku.

 

“Punya pacar pun kau nggak cerita padaku! Kejam sekali!”

 

“Sombong sekali kau, Kwon. Jadi kapan Yesung melamarmu? Aku tidak tahu.” Ujarku santai. Yeah… aku memang kenal dengan Yesung-hyung, kekasih Yuri.

 

“Wufan, ternyata kau sudah tahu dia punya pacar! Jadi cuma aku yang ketinggalan berita di sini?” aku hanya menampakkan senyum lebar atas keluhan Sooyoung.

 

Mianhae, aku ingin bikin kejutan buatmu, sih. Gikwang, Jihyun, Jonghyun, dan yang lain sudah kuundang, kok. Dan mereka janji bakal datang. Jadi, aku akan membunuh kalian berdua jika hidung kalian tidak tampak di gedung pernikahanku nanti.” Yuri mengancam sembari menunjuk-nunjuk wajahku dan Sooyoung bergantian dengan undangan pernikahannya.

 

“Apa? Aku harus datang ke pesta pernikahan sahabat menyebalkan sepertimu?” Sooyoung rupanya masih pura-pura marah.

 

“Choi Sooyoung!” Yuri memasang wajah memelas. “Aku janji akan mengenalkan dia padamu di pelaminan kami nanti, hehehe. Datang ya, dengan pacarmu juga boleh.”

 

“Uhhk!” aku menoleh cepat saat Sooyoung yang duduk di sampingku tiba-tiba terbatuk. “Kau menghinaku, ya?” tuduhnya pada Yuri.

 

Yuri mengerjapkan mata beberapa kali. Kali ini tampangnya terkejut dibuat-buat. “Jangan bilang kau tidak punya…”

 

“Memang tidak ada.” Kata  Sooyoung cepat. Aku membenarkan dalam hati. “Asal kau tahu. Jadi guru SMA itu lebih ekstrim dari pekerja kantoran, aku tidak ada waktu kencan sama sekali. Murid-muridku begitu luarbiasa hiperaktif, kau tidak akan percaya bahkan mereka berani menasehatiku.”

 

“Kurasa mereka lebih banyak yang mengagumimu, asal kau tahu, Kwon. Si Choi ini populer di kalangan murid cowok.” Ungkapku tiba-tiba, langsung saja Sooyoung memandangku galak. Oke, itu peringatan untuk—yang dia tahu betul—mulut emberku.

 

Yap, seperti yang kukatakan di atas tadi, Sooyoung memang populer di kalangan para siswa. Hmm, sebenarnya aku masih bingung dan agak tidak percaya, kalau sekarang seorang Choi Sooyoung bisa jadi idola. Bagaimana bisa? Saat SMA saja, para laki-laki (kecuali aku tentunya) sering melupakan keberadaannya sebagai gadis yang bisa mereka beri cokelat saat white day. Bukannya aku mau menjelek-jelekkan dia, tapi penampilan Sooyoung saat itu benar-benar membuat siapapun tak akan menoleh dua kali padanya. Dia memangkas pendek rambutnya dan seringkali bermasalah dengan murid sekolah lain. Sooyoung gadis tomboy yang bisa disebut preman sekolah. Aku masih ingat dia pernah membuat seorang siswa menangis karena siswa itu menyuruhnya masuk kelas. Astaga…

 

Tapi, sepertinya aku paham sekarang kenapa dia begitu digilai. Oleh semua murid, termasuk aku. Sooyoung benar-benar berubah sekarang. Dia bukan lagi gadis tomboy yang urakan. Rambutnya tidak lagi pendek seperti tirai usang yang menutupi wajah. Karena dia memanjangkan rambutnya yang cokelat dan bergelombang. Dan lagi, profesinya yang merupakan seorang guru, telah merubah dirinya menjadi seorang yang rapi dan peduli pada penampilan. Dia tumbuh menjadi wanita cantik. Aku mengakuinya.

 

Sebuah pertanyaan dari Yuri tiba-tiba menusuk pendengaranku begitu saja, “Lalu kau dengan Kris bagaimana?”

 

“Dia menolakku.” Aku berbisik pada Yuri, namun sepertinya Sooyoung mendengarnya. Yuri ber-oh ria.

 

“Jangan sembarangan bicara,” kata Sooyoung cepat. “Kami kan hanya teman. Betul begitu, Wufan-a?”

 

Yuri menghela nafas. “Kupikir kalian punya potensi.”

 

Kau bergurau, Yul. Potensi hanya padaku, tidak padanya. Hanya aku yang merasakan, tidak dengan dia. Cinta satu sisi itu tidak sesimpel diucapkan, memang. Detik berikutnya Yuri menanyakan seseorang yang sedang Sooyoung sukai, spontanitas aku menahan nafas. Kumohon jangan katakan, aku sudah tahu. Dan, bukankah aku sudah memberitahumu, Nona Kwon?

 

“Ehem, Yul, Youngie, kurasa aku harus pergi. Aku baru dapat pesan ada urusan yang penting, mendesak. Boleh?”

 

Aku tahu hanya akan membuatku semakin tak nyaman di antara mereka berdua untuk tenggelam dengan topik yang menyudutkan keberadaanku. Jadi, lebih baik aku berbohong dan pergi dari sana.

 

***

 

Pip.

 

Setelah menekan tombol terakhir password apartemenku aku melangkahkan kaki masuk ke dalam dengan lungkai. Aku lelah, terlalu. Aku punya perasaan tapi tak bisa menunjukkannya. Tidak pada siapapun. Ini sulit kulalui, entah sampai kapan. Aku membaringkan diri di karpet merah marun depan televisi. Memejamkan mata.

 

Baiklah, sekarang aku sendirian di sini. Ah, bukankah aku memang selalu sendirian? Aku mulai bosan. Aku tidak mau terlarut dengan perasaanku. Sepertinya aku harus menuruti saran Yuri untuk mengikuti kelas yoga agar pikiranku lebih jernih. Oke, aku mulai gila.

 

Biasanya aku akan membaca buku di perpustakaan disaat bosan begini. Sayangnya perpustakaan tutup hari ini. Maka aku beranjak dan menghampiri rak buku milikku untuk melihat-lihat bahan bacaan. Tanpa sengaja manikku menangkap beberapa album foto lama di bawahnya. Aku pun mengambil salah satunya lalu mulai duduk di atas sofa dan membuka halamannya satu persatu. Hah… rupanya ini foto saat SMA. Kebanyakan foto-foto Sooyoung dan aku. Yeah… kami memang akrab sejak dulu. Bahkan teman-teman yang lain mengira kami berdua berpacaran. Aku sih tidak masalah, masalahnya Sooyoung selalu mengamuk setiap mendengar itu.

 

Di halaman pertama, ada foto yang Sooyoung ambil, di sana tampak aku sedang memeluk bola basketku sambil tersenyum, wajahku terlihat jelas. Karena sebelum mengambil foto, Sooyoung berkeras menguncir rambutku—masa SMA dulu rambutku memang panjang, entahlah aku malas memotongnya.

 

[Flashback]

 

“Eh, kau duduklah di situ dengan bola basketmu, aku akan mengambil fotomu!” Sooyoung  merebut kamera yang ada di tanganku, lalu mendorongku agar duduk di bawah pohon gingko yang ada di depan gedung sekolah. Aku meliriknya malas, lalu menyeret langkahku menuju tempat yang  dia maksud tadi. Jika Sooyoung sudah bersikeras, ya beginilah jadinya. Semua harus dituruti.

 

Sambil mulai menghitung, dia membidikkan lensa ke arahku. Tapi, seketika dia mengangkat wajahnya dan menatapku sebal. Apa lagi sekarang?

 

“Apa?” tanyaku bingung saat Sooyoung menghampiriku kemudian.

 

“Rambutmu mengganggu. Sini aku bereskan.” Dia menepuk-nepuk pundakku, menyuruhku memunggunginya agar dia bisa merapikan rambutku dengan mudah. Dia mengikat rambutku jadi satu. Setelah dia selesai, aku menyentuh kunciran yang dia buat dengan wajah aneh. Aku akui rapih juga tapi aku kurang nyaman—atau tidak biasa.

 

“Nah… Sekarang lebih bagus!” dia bersorak seraya bertepuk tangan, lalu berlari ke tempatnya berdiri tadi dan mulai bersiap mengambil fotoku. “Hana…Tul… Set!”

 

Jepret!

 

Dia menghampiriku lalu menunjukkan hasilnya dengan bangga. Alih-alih merasa senang, dia tersenyum lebar. Aku pun tidak bisa diam saja dan akhirnya membalas senyumnya.

 

“Kalau seperti ini kan wajahmu jadi terlihat jelas,” katanya. “Dan… aku baru sadar kalau kau punya garis muka yang tegas, dan bentuk rahang yang bagus. Atau lebih simpelnya kau tampan. Kenapa kau malah menutupinya dengan rambutmu itu sih? Apa kau tak punya cermin di rumah? Atau kau sengaja menutupinya?” dia memburuku dengan kalimat beruntun, dengan polosnya dia terus mengoceh. Namun sesungguhnya yang terdengar olehku hanyalah kata ‘tampan’ darinya saja.

 

Apa dia tidak tahu dampak dari kalimatnya itu? Aku merasakan tubuhku mematung sepersekian detik.

 

[End of Flashback]

 

Masih tersenyum, aku memandangi foto-foto yang tersusun di dalam album itu, rasanya seperti melakukan perjalanan dengan mesin waktu. Sebenarnya fotoku sendiri tidak begitu banyak. Aku memang kurang suka berfoto, memalukan pikirku. Dan, di halaman berikutnya lagi, aku melihat foto Sooyoung yang sedang tertidur dengan posisi duduk, di dalam bus dan mulutnya terbuka. Hahaha, aku ingat pernah mengambil gambar ini secara candid.

 

Sepertinya aku punya foto konyol Sooyoung yang lainnya. Aku mengingat-ingat sembari membalik lembaran lain halaman album foto itu. Nah… Ternyata memang ada kan, yang ini foto Sooyoung saat sedang membuat balon dengan permen karet. Aish, wanita satu itu memang jarang berpose normal jadi aku agak sulit mengambil gambarnya. Harusnya kan dia tersenyum atau… eh, tunggu… ada foto lagi. Foto Sooyoung tentunya, lagi-lagi saat dia tertidur, dan kali ini dia tertidur di pundakku, aku yang tidak tertidur sudah pasti mengambil foto ini. Aku tersenyum melihatnya. Di foto itu aku tidak memandang ke arah kamera, malah menoleh kearahnya yang sedang terlelap sambil tersenyum. Kenapa hatiku terasa hangat saat melihatnya berwajah damai seperti itu?

 

Dia…

 

Cantik.

 

[Flashback]

 

“Kita ketinggalan kereta terakhir… ahaha.” Sooyoung menyerahkan salah satu cup ramyun di tangannya padaku, dan kusambut dengan wajah masam.

 

Benar. Dia keasyikan bermain di Seoul sampai-sampai mengabaikan peringatanku soal kereta terakhir menuju Busan yang hanya satu jam lagi. Benar dugaanku. Kami benar-benar telat dan ini bencana. Normalnya, seorang gadis akan langsung menangis dan memelukku ketakukan sambil berkata, “Oppa aku takut.” Dengan nada manja.

 

Sedangkan dia? Malah tertawa lebar tanpa rasa malu. Bukannya memelukku ketakutan dia malah meninju bahuku keras membuatku sedikit mengerang.

 

“Dan kau masih bisa tertawa?” aku meliriknya datar sambil mengaduk ramyun lalu menggelengkan kepala.

 

“Kenapa memang? Masa aku harus menangis lalu berlari mengitarimu sambil berteriak ‘Aaaah bagaimana ini? Oppa aku takut!’ begitu?” dia malah mencibirku. Ya, harusnya itu yang kau lakukan. Tambahan, kau juga harusnya memelukku saat ini.

 

“Yah nggak gitu juga,” kataku cepat. Mengelak pikiran bodohku yang melintas tanpa izin.

 

“Santai saja kenapa, sih?” dia menyenggol pelan bahuku seraya tersenyum nakal. Aku merendahkan cup di tanganku lalu memiringkan posisi duduk menghadap kearahnya.

 

“Kau tahu? Kita seperti sepasang tunawisma.” Aku berucap lagi, masih dengan wajah datarku. Aku menahan tawaku tapi sepertinya gagal karena detik berikutnya tawaku pecah, menyatu dengan gemuruh hujan. Dia yang baru saja menghabiskan ramen, entah kenapa juga ikut tertawa begitu melihatku. Dan, untuk beberapa saat kami terus tertawa, terpingkal bersama hingga perut rasanya sakit dan rahang kram.

 

Dia terlihat manis saat tertawa, eh?

 

“Hoaahm.” Sooyoung menguap, kurasa kantuk mulai menyambanginya mengingat sekarang pukul 10 malam. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum mengerti.

 

“Sudah sini.” Aku meraih kepalanya seenaknya agar menyandar di bahuku. Tak menolak, dia pun akhirnya bersandar di pundakku dengan tenang.

 

Sebenarnya kelopak mataku juga terasa berat, tapi aku memaksakan untuk terjaga karena dia mulai terpejam di pundakku. Seulas senyum tertarik bergitu saja tanpa kuminta, di wajahku. Tidurnya damai sekali, seperti malaikat. Aku nyaris tidak percaya gadis manis sekaligus sahabat kecilku ini adalah preman di sekolah.

 

Lantas kuambil kameraku dan mengabadikan momen kami di Bus malam itu. Dengan dia yang terlelap di pundakku. Dia tidak akan mendengar suara kamera, kan?

 

[End of Flashback]

 

Aku melanjutkan lagi ke halaman berikutnya lembaran foto itu. Entahlah. Rasanya aku tidak ingin berhenti. Memori tentang dia dan aku. Aku ingin terus mengingatnya, mengenangnya, selamanya.

 

Ah, foto satu ini saat Sooyoung menjuarai lomba seni lukis di tahun ketiga kami di Senior High School. Aku membidik wajahnya dengan kameraku dan dia tersenyum bahagia, cerah. Itu pertama kalinya dia terlihat sebahagia itu. Saat itu dia berkata padaku, “Akhirnya aku bisa menunjukkan pada mereka-mereka yang menganggapku rendah. Aku bisa melakukan sesuatu dengan baik. Aku bisa sukses dan aku berhasil menunjukkannya. Benar, kan?”

 

Aku membalasnya dengan anggukan, lalu kupeluk tubuhnya. Hangat.

 

Tapi tidak kukira senyuman itu bertahan hingga setahun silam. Tidak lagi. Aku tidak lagi melihat senyum cerahnya, aku tidak bisa lagi memeluknya hangat hanya karena sebuah kejadian yang bahkan aku pun tak tahu. Dia tak memberi tahu siapapun.

 

Dia pindah jalur mengajar Bahasa Jepang tanpa alasan. Dia meninggalkan lukisan tanpa pemberitahuan. Aku ragu dia masih menganggapku sahabatnya. Aku tidak mengerti jalan pikirannya.

 

[Flashback]

 

“Mau kemana?”

 

“Aku mau ke mini market.” Dia menjawab pertanyaanku acuh sambil memutar kenop pintu apartemenku. Spontan aku menahan pergelangan tangannya dengan raut gusar. Kenapa dia?

 

“Kau sungguhan tidak apa-apa?” alisku bertaut khawatir. Sooyoung menghela nafas panjang lalu menepuk bahuku pelan.

 

“Aku hanya lapar, kau mau titip sesuatu?”

 

Aku menggeleng, masih dengan raut gusar lalu perlahan melepaskan pergelangan tangannya. Tidak. Dia bohong jika berkata baik-baik saja karena wajahnya tak menunjukkan begitu. Ada apa? Tadi siang dia bahkan masih bisa mentertawaiku.

 

Ada yang salah dengannya.

 

Aku memutuskan membuntutinya yang menelusuri rak tempat makanan instan di minimarket depan. Dan ya… pilihannya jatuh pada cup ramyun rasa kimchi. Sambil bersenandung dia membawa benda itu menuju dispenser lalu membuka tutupnya dan mulai mengisinya dengan air panas. Sementara menunggu ramyunnya matang, dia melangkah menuju rak minuman dan mengambil sebotol air mineral lalu kembali ke meja yang memang di sediakan untuk pelanggan yang ingin menyantap makanan yang mereka beli di sini.

 

Aku terus memperhatikan dengan payung di genggamanku, sekadar berjaga-jaga. Dia terlihat bertopang dagu sambil melempar tatapan keluar dinding kaca di hadapannya. Langit kelihatan begitu gelap, tak ada bintang satu pun. Angin juga berhembus cukup kuat hingga membuat selebaran usang yang sudah terlepas beterbangan dengan mulus. Sepertinya akan turun hujan. Bernar kan kataku, hujan turun kemudian, dengan derasnya. Sooyoung 

menunduk, menatap ramyunnya yang sudah matang lalu mulai mengaduknya dengan sumpit.

 

Sluurrrp…

 

Dia menarik mienya memasuki mulut dan menelannya pelan. Dia terus menundukkan kepala. Tunggu dulu… Samar-samar kulihat tubuhnya gemetar.

 

“Hiks…” dan kini isakan itu terdengar. Aku tidak tahan lagi. Dia menangis, itu artinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. Dasar bodoh! Apa tidak tahu segimana khawatirnya aku?!

Maka aku mengeluarkan ponsel dan lekas menghubunginya.

 

Yeoboseyo?” di sana dia mengangkat teleponku dan aku bisa melihat sekilas dia mengusap wajah dengan telapak tangannya. Dasar bodoh, Choi Sooyoung!

 

“Kau dimana? Tidak kehujanan kan?”

 

“Tidak, aku masih di mini market.”

 

“Tunggu aku, aku jemput.”

 

Ne?” nada terakhirnya terkejut mendengar ucapanku.

 

Pip!

 

Tanpa menunggu lama, aku langkahkan kaki menuju minimarket itu dengan payung transparan yang cukup besar di tanganku. Dari balik kaca aku menatapnya yang juga tengah menatapku. Aku lalu mengedikkan payung di tanganku, memberi isyarat padanya agar segera keluar. Tanpa membuang waktu, dia pun segera melangkah keluar dari sana dan menghampiriku.

 

“Mereka sudah pulang?” dia bertanya sambil mengimbangi langkahku yang tengah memayunginya. Mereka yang dia maksud adalah teman-temanku, Jonghyun, Gikwang, dan lainnya.

 

“Sudah, tak lama setelah kau pergi.” Aku menjawab tenang, tatapanku lurus ke depan tapi pikiranku terpusat pada gadis ini. Aku baru sadar, aku memang tak pernah lepas dari Choi Sooyoung ini. Sejak dulu, memang hanya dia yang selalu ada di dekatku.

 

“Kenapa menjemputku? Aku kan bisa pulang sendiri.”

 

“Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku…”

 

“Eh?”

 

“Aku yang menyediakan pundak saat kau lelah, menggendongmu di punggung saat kau mabuk, mengusap air matamu saat kau menangis. Kau tahu?”

 

Sooyoung menoleh padaku. “Wufan-a…”

 

“Tapi hari ini, kenapa kau membiarkan airmatamu mengalir tanpa memberitahuku? Aku bisa mengusapinya untukmu…” tatapan kami bertemu saat aku juga menoleh dan sedikit menunduk untuk meraih wajahnya dengan manik elangku.

 

Perlahan. Airmata itu menuruni lagi pipi cabinya. Keluar dari kelopak mata bulatnya. Sooyoung menangis lagi. Aku merengkuh pundaknya dan dia melingkarkan tangan di perutku. Dia membenamkan wajah di dadaku, masih menangis. Pundaknya turun naik, dia terisak.

 

“Wufan-a… aku… harus… bagaimana…”

 

Aku tidak menjawab. Karena itu bukan pertanyaan untukku. Hanya dia yang bisa menjawabnya. Maka aku membiarkan tangisannya membaur dengan suara hujan. Dia mengeratkan pelukannya.

 

Sooyoung menengadah saat aku justru menunduk. Wajah pedih dengan linangan kristal bening itu menghipnotisku. Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku saat aku semakin dalam menunduk dan mengecup bibir mungilnya. Dia tidak melawan, hanya diam. Aku mendaratkan apelku cukup lama pada cerinya, hingga tangisnya mereda.

 

Payung yang kupegang terjatuh. Tubuh kami berdua basah kuyup.

 

Maniknya menatapku sayu, setengah terkejut. Sementara aku? Meruntuki diri sendiri atas egoku.

 

“Ma… Maafkan aku, aku hanya… kupikir kau akan menjadi lebih tenang dengan ciuman itu…”

 

“Sttt… Tidak apa-apa. Terimakasih, Wufan.” Dia tersenyum. Dan, lagi-lagi aku membeku.

 

[End of Flashback]

 

Sensasi ciuman di bawah hujan itu bahkan masih terasa hingga kini. Itu ciuman pertamaku, dan pertama juga untuk Sooyoung. Aku kembali tersenyum nyiyir. Seperti orang bodoh. Walau setelahnya, Sooyoung tidak pernah mengungkit kejadian itu. Seolah itu hanyalah angin lalu atau dia anggap tidak pernah terjadi.

 

Keesokan harinya, tiba-tiba saja Sooyoung memberitahuku bahwa dia sudah bukan Guru Kesenian lagi. Bersamaan dengan tahun ajaran baru dan seorang anak laki-laki yang selalu ada di antara kami kembali datang, sepupu laki-lakinya.

 

“Lama tidak bertemu ya, Sehun-a,” itu sapaan pertamaku padanya saat dia menginjakkan kaki di Shinju Cyber School—tempatku dan Sooyoung mengajar. Dialah alasan atas sakit hatiku selama ini. Karena dia adalah tempat Sooyoung berlabuh, Oh Sehun.

 

[Flashback]

 

“Oi, kau mau pergi ke pawai kembang api denganku?” aku bertanya padanya yang sedang berbaring di rerumputan tinggi di halaman belakang sekolah kami. Memandangi mentari tenggelam memang inilah tempat paling pas, faforitku dan dia.

 

“Hufft…” dia hela nafas pendek. Sooyoung duduk dan memandang lurus kemudian. “Ada seseorang yang sangat ingin melihat kembang api, tapi tidak bisa. Bagaimana mungkin hanya aku yang bersenang-senang melihat kembang api? Sementara orang itu mendekam di Rumah Sakit dan hanya bisa menghkayalkan percikan cahaya warna-warni di langit. Aku tidak mau jadi egois dan mementingkan diri sendiri.”

 

Aku bingung mau merespon apa, akhirnya aku menyahut setelah jeda sesaat. “Sadar atau tidak, setiap manusia itu egois, kan.”

 

Sooyoung menangguk. Namun tatapannya masih tertuju pada wewarnaan jingga yang tenggelam itu. Dia mengangkat tangan seolah-olah bisa menggapainya. Setelah itu, setelah itu… kami tenggelam dalam pemandangan menjelang malam. Tak ada perbincangan lagi, dia diam begitu pula aku.

 

***

 

Akhirnya, aku tidak jadi pergi ke pawai itu. Memang Yuri mengajakku tapi rasanya pasti menyebalkan karena aku hanya akan jadi ‘hantu’ diantara Yuri dan Junho. Maka lebih baik aku mendekam di kamarku dengan buku bacaan dan membuat kepalaku pusing dengan sengaja. Oh, yang satu ini memang hobi anehku.

 

“Kris,” tiba-tiba saja kepala Ibuku menyembul dari balik pintu kamar. Raut wajahnya tampak aneh, seperti… terjadi sesuatu? Apa? “Paman Oh kecelakaan, dia di Rumah Sakit sekarang. Ibu mau ke sana, kau mau ikut?”

 

Paman Oh? Aku mengenalnya. Dia sosok pria setengah baya yang ramah padaku pertama kali aku sampai di Busan. Aku mengangguk sebagai jawaban. Ibu lantas menyuruhku memakai mantelku kemudian kami bergegas pergi ke Rumah Sakit dengan mobil yang dikemudikan Ibu. Kegilaan Ibu saat mengemudi terjadi setelah berita singkat dari Paman Choi Jungnam—Ayah Sooyoung—tiba. Dia mengatakan Paman Oh sudah pergi, tiada, selamanya. Ibu menangis. Sementara aku… aku… tidak tahu. Sesuatu mendesak keluar dari mataku tapi tidak bisa kukeluarkan.

 

Aku sampai bertepatan dengan keluarga Sooyoung yang juga sampai. Dia datang dengan Ayah dan Ibunya. Dia tampak sangat kacau, berantakan. Maniknya bengkak dan aku tahu dia habis menangis parah. Sooyoung memang sangat dekat dengan Paman Oh.

 

“Soo…” aku memanggilnya pelan tapi dia terlalu panik hingga mengabaikanku—dia berlari memasuki Rumah Sakit melewatiku begitu saja. Aku berusaha mengimbangi larinya, tapi…

 

Dia tidak mengarah menuju ruang jasad Paman Oh karena arahnya berlawanan dengan arah Ibuku. Diantara dua pilihan—langkah Ibuku atau langkah Sooyoung—aku memutuskan mengikuti Sooyoung. Walau gadis itu masih tidak sadar (jika sudah panik dia akan keterlaluan lupa segala hal). Dia berhenti di depan sebuah kamar VIP dengan nama yang tertera di pintunya, sudah tak asing, Oh Sehun. Sepupu laki-laki Sooyoung, usianya 13 tahun, Aku mengenalnya seperti aku mengenal Paman Oh dan Sooyoung.

 

Tungkaiku terhenti mendadak. Aku tahu tidak seharusnya aku mengikuti Sooyoung karena ini akan buruk—bagiku. Ini momen mereka. Sooyoung masuk sedangkan aku mematung dengan kedua tangan membeku di samping kakiku. Sekarang aku jadi stalker ulung, mengintipi setiap gerik dua orang itu dari luar lewat celah tirai jendela. Bodoh.

 

“Dia akan baik-baik saja di sana…” bisikan Sooyoung terdengar, ada nada pasrah yang tak bisa dibohongi. Sooyoung merengkuh pundak Sehun yang sudah tersedu-sedu—kupikir bahkan sebelum Sooyoung datang.

 

Dia menganggukkan kepalanya dibalik rengkuhan Sooyoung. Perutku serasa dililit kala melihatnya. Demi Tuhan, sempat-sempatnya aku cemburu di saat-saat seperti ini?

 

“Kau mau melihat dia terakhir kali?”

 

“Itu akan membuatku semakin sedih, Noona…” akhirnya Sehun menjawab—pelan sekali—setelah sekian menit menyandarkan kepalanya pada dada Sooyoung. “Sekarang aku tidak tahu siapa yang akan memarahiku jika kabur dari Rumah Sakit lagi.”

 

“Aku yang akan memarahimu.”

 

“Kau tidak bisa, kau tidak berhak.”

 

“Aku bisa.” Itu nada tertegas yang pernah kudengar keluar dari bibir Sooyoung. Dia serius dengan ucapannya.

 

“Aku sendirian sekarang…” Sehun mengangkat kepalanya. Mereka bertatapan cukup lama, cukup waktu untuk menyelami pikiran masing-masing, hanya mereka. Tanpa aku.

 

“Jangan bicara sembarangan! Kau masih punya Ibumu!”

 

Sehun tidak menjawab, alih-alih dia malah menundukkan kepalanya. Sooyoung kembali memeluknya. Masih tergugu di atas ranjangnya, Sehun memandangi wajah Sooyoung secara sepa setelah aku mendengar bisikan lembut dari bibir Sooyoung.

 

“Kau masih punya aku,” kalimat Sooyoung. “Aku akan menjagamu…” menohok pendengaranku.

 

[End of Flashback]

***

A/N: aku update cepet yah, hehehe. jarang-jarang nih xD

mumpung akunya lagi semangat (walau sebenernya lagi flu berat ini)

sampai ketemu di next chappie jika Allah mengizinkan, ada guest star abang leader exo-k yang paling ganteng loh… ^o^

Iklan

36 Comments Add yours

  1. chakyuyoungster berkata:

    Annyeonghaseyo eonni 🙂
    nanuen ocha imnida, saya reader baru d blog ini. Bangapta 🙂

    ff ini aku plg suka loh eon, jdi klanjutannya cepet” ya 😀

    Suka

  2. Rere berkata:

    tumben apdet/? nya cepet xD
    next chap nya cepet juga ya :3
    ditunggu next chapnya ^^

    Suka

  3. safira faisal berkata:

    kisah kris ternyata sedih jugaa, aku kasian sama kirs T.T
    aku bingung jadinya sooyoung sama sehun atau sama kris? Ending nya sooyoung sama siapa? Secara logika, sooyoung lebih cocok sama kris karena umur, tapiiii pemeran utama laki2nya kan sehun. Jadi gimanaa? Gatau ah >.<

    Suka

  4. Yufasa berkata:

    aaa… Kris oppa, yaudh sama aku aja… Aku terima sepenuh hati 🙂 #plak!!
    hm kasian bngt kris oppa, semoga aja soo eon sedikit sadar dan yah seandainya soo eon kg bsa nerima semoga aja kris oppa mendapat yang lbh baik *tenangajaadaaku*
    Ditunggu next partnya 🙂

    Suka

  5. ymshtemi berkata:

    Yeayy sering2 gini dong thor, updatenya cepet^^ wuahh nyesek bgt jadi kris… ;_;

    Suka

  6. kenianurasha berkata:

    kris kasian sekali T.T ternyata dia punya kenangan yang menyakitkan yaa
    jadi bingung sekarang mau pilih SooHun apa SooKris ._.
    kak, keren banget!^^ update soon ya 😀

    Suka

  7. Ranran berkata:

    wahh dgn adanya nich part jd tw dech isi hati kris yg terdala*lebay*
    jd intinya soo itu dr dulu dah syang ma sehun.
    wlw gitu aku akn ttp dukung sookris
    bgaimana pun klo dtlusuri mpe part ini.soo ma sehun itu sepupuan n jrak umur mrka yah bsa d blang cukup jauh.

    ayo thor semangat wat part 8 nya
    gomawo

    Suka

  8. sooyoungster berkata:

    gak nyangka kalo kris kayak gitu sedihnya 😦
    nyesek bacanya, aouthor nya bener bener daebak 😀

    Suka

  9. cicamica berkata:

    cie ayuthornya lagi bisa update cepet. nyesek juga jadi kris. kirain cums soo sama sehun aja. nextnya cepet lagi ya thor ditunggu 🙂

    Suka

  10. WINTERCHAN berkata:

    Ya ampun hidup Kris sedih bingit ._. ya allah miris
    lanjutannya ditunggu ya 😀

    Suka

  11. shafaaazamzammm berkata:

    Annyeong~ aku readers baru 😀 thor, sebenernya aku udah baca dari yang awal sampai yang ini, nah biasanya aku buka di hp jadi cuma bisa baca, nah skrg buka di laptop jadi bisa ikut komen:’) author daebakk!! Aku suka banget sama ff An Involved Lover, lanjutin thor ditunggu~^^ fighting!!^o^

    Suka

  12. ya ampun kris pasti hatinya kretek banget itu:(((
    feelnya kebawa nih, aku jd ikutan galau juga;;;;
    aku masih bingung alasan suyang meninggalkan dunia lukis-melukis(?)

    wah next chapter ada babang suho */\* cepet di update thor. oh iya get well really soon ya 🙂

    Suka

  13. dinaalifa berkata:

    Part ini full kris pov semua yah..
    Kris nya kasihan, mending kamu masukin aku kedalam cast buat jadi pasangannya kris *Plak* Abaikan!’
    Part lanjutannya cepet chingu, banyakin soohun moment nya, sookris juga boleh 😛

    Suka

  14. annisahika berkata:

    sooyoung sayang sama siapa coba? dicium kris mau, dipeluk sehun juga mau *lagian siapa juga yg gamau dicium kris n dipeluk sehun? ck 😀
    kamu selalu sukses bikin reader penasaran sama next chap-nya 🙂 pertahankan itu ya fan ^^
    ayolah cepet di update lagi :3

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      huahaha, ternyata aku beneran kamu panggil fan..
      sipsip, hika :3

      Suka

      1. annisahika berkata:

        Wkwk 😀 ga masalah kan? :3

        Suka

  15. syaffinhumaira berkata:

    kris nya kasian, kayak badluck atau udah badluck? .__.
    lanjutannya cepetan ye thor, jangan lama2 ntar keburu imsak lhoh ._.
    nice ff :3

    Suka

  16. Youngie berkata:

    kasian banget kris… gak tega deh jadinya…
    lanjuuut

    Suka

  17. Elisa SHa Nia berkata:

    si Kris kasian bgt, tp maaf ya kris aku lebih milih Sehunnie~

    disini Sehunnie dikit ya, wkwk tak apalah yg penting Soo cinta Sehun.

    Omo! Omo! …
    jadi Soo uda first kiss sama kris? kalo sehun tahu gimana tuh… Aigoo kukira kiss nya utk Sehun.

    dari kecil soo uda perhatian bgt sama Sehun,sampe kris dicuekin. oh..ya aku penasaran sama next part.kira2 Soo ngajak Sehun ato kris ya? kan yuri ngomong kalo soo harus bwa teman ke wedding partynya ..moga2 sama sehun. (i hope)

    Suka

  18. choi_hana berkata:

    Annyeonghaseyo ,
    maaf yaah thor, aku baru comment disini , aku reader baru soalnya ^^
    Aku sukaaa bgt sma cerita ini >_<
    Suka bgt ada yg bkin FF ttg SooHun x3

    Next part dtggu yaa ..
    Fighting ^^

    Suka

  19. icha berkata:

    Wufantat kasian ih TT ngenes jadi dia sumpah, ya semoga aja dia bisa move on ‘-‘)9 disini syoo cuman punya sehun dan wufan punya ku/loh. Ditunggu part selanjutnya thor, hihi semoga hunsoo cepet bersatu ! Fighting kkk~

    Suka

  20. yaaah ini full wupan padahal aku suka bagian soohun T^T
    tapi gapapa deh xD
    update soon chinggu^^

    Suka

  21. rifqoh wafiyyah berkata:

    Daebak..!!
    Sbnr’a dlu sehun oppa skit pa thor??kya’a prah..:(
    Ni kris pov smua ya??tpi gk pa2 ttp daebak..:)
    Dtnggu ne klnjtn’a??

    Suka

  22. mia berkata:

    qw kl nyuruh milih dreal kris apa sehun mesti qw milih kris secara dia gege yg buat saya klepek2 setelah luhannie, baekki plus dio 😀
    tapi dFF ini qw milih sehun wlpun setampan apapun kris disi mianhe ya ge :d

    Suka

  23. Amel Ryriis berkata:

    Wahhh…kissing nya sookris romantis bngett… 😀 😀
    keren thor 😉

    Suka

  24. kartika berkata:

    kris kasian, yaudah kris sama aku aja 😀 aku masih penasaran sama yang bikin sooyoung nggak mau ngelukis lagi :/

    Suka

  25. kris patient okay! tenang masih ada soojin kok. keke
    lanjut kak

    Suka

  26. FAnoy berkata:

    Free pukpuk buat kris..jangan putus asa kris..ada penggantinya sooyoubg kok nanti *krismulaigr*..keep writing..fighting ‘-‘)9

    Suka

  27. @agilrestuuu berkata:

    suka soohun ..
    tapi pengen sookris juga gimana dong thor ._.
    ahhhh ga tau pengennya soo sama kris tapi juga sama sehun (?)
    hahha

    Suka

  28. YSA berkata:

    kasiaaan kris u,u

    Suka

  29. fathiyahazizah berkata:

    Kasian kris T_T nyesek banget , kris sabar …

    Suka

  30. riyalva07 berkata:

    Sabar kris masih ada aku ko *plak-_-v
    Di part ini jelas banget ternyata perasaan kris begitu dalam ke Sooyoung 🙂

    Suka

  31. chevelyyn berkata:

    Aduh ini sedih banget kakkk 😦 berasa banget feelnyaa, kasian kriss. Keren banget ff nyaaa, semangat ya kak 😉

    Suka

  32. wiiaawiyu berkata:

    ya ampun abang kris kasian banget disini.. jadi mermaid man emang gak mudah bg.. tapi relakanlah soo sama sehun. Itu udah takdir sang author.. sabar ya aa’ kris

    Suka

  33. yoonade berkata:

    Aku sih sebenarnya lebih setuju kalo soonya ama kris oppa, lebih cocok deh menurut aq, tapi kalo itu sampai kejadian kasihan sehun sih dia kan masih muda dan labil, kalo patah hati nanti jadi gila dia, waah bingung ama ceritanya….
    Next chapter….

    Suka

  34. soohunhan berkata:

    Memori tntg kris dan soo unni di sini kok sedih banget sihhh…bingung mau pilih kris atau sehun nii..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s