[FF] Lately [2/2]

Gambar

“Lately”

Cast(s) :
• Choi Sooyoung (SNSD)
• Kim Minjun (2PM)
• Kris Wu (EXO-M)
Genre : Romance-Angst
Rate : PG+16
Author : Replay @WayneFanneey
Summary :
“Bertemu denganmu, membuatku berharap aku kembali ke masa lalu, untuk mencintaimu lebih dulu dari dia.”

 

***

Shot Two

 

Lelaki itu melirik arlojinya sekilas, lalu kembali memfokuskan konsentrasinya pada layar monitor. Sesuatu yang sedang dikerjakannya. Lelaki tampan dengan rambut raven itu menghela nafas beberapa menit kemudian setelah pekerjaannya selesai, dan kini waktunya pulang. Dengan segera dia mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja kerja, lalu melesat keluar ruangannya.

 

Mari kita bicara sedikit tentang lelaki tampan ini. Namanya Kim Minjun, walau usianya masih muda tetapi dia sudah menjabat sebagai Manager di perusahaan, bahkan tak lama lagi mungkin akan menjadi Presdir. Ini bukan hal mudah untukknya, tapi jabatan tersebut bukan juga sesuatu yang diinginkannya. Karena dia mendapatkan pekerjaan itu karena pernikahan keluarganya dan keluarga perusahaan tempatnya bekerja. Perjodohan. Klise.

 

Minjun menghentikan langkahnya seketika, matanya terpaku melihat sesosok cantik yang berdiri dua meter di depannya.

 

“Sooyoung?” tanyanya ragu.

 

Gadis remaja itu membalasnya dengan senyuman. Kaki jenjangnya yang terbalut jeans panjang bergerak mendekati Minjun. Gadis yang bernama lengkap Choi Sooyoung itu pun mengaitkan tangannya pada Minjun. Jika kalian berpikir gadis tinggi itu adalah istrinya, jawabannya adalah bukan.

 

“Kenapa? Tidak boleh aku menemui kekasihku?” Choi Sooyoung mempout bibir mungilnya yang tak bisa dipungkiri sangat manis dimata Minjun.

 

Tunggu…

 

Kekasih?

 

“Hanya saja, aku sedikit heran karena kau yang menemuiku duluan. Memang ada apa?” tanya Minjun hati-hati, masih dengan senyum yang kentara di wajahnya. Membuat hati Sooyoung berdesir melihat wajah tampan bak malaikat itu.

 

Satu pemberitahuan, Minjun sama sekali tidak pernah menunjukkan senyumnya pada istri hasil ‘perjodohan’nya. Alasannya, lelaki itu tidak cukup akrab dengan wanita, dia hanya akan menunjukkan senyum pada wanita yang di sukainya saja.

 

“Harusnya kau sudah tahu,” jawab Sooyoung, pura-pura cemberut.

 

“Apa?” Minjun memang tahu, tapi dia senang sekali menggoda kekasihnya ini.

 

“Rindu, ehm,” katanya singkat, tak ayal membuat kupu-kupu dalam perut Minjun berterbangan dan rasanya dia akan meledak saking bahagianya.

 

Tentu dia senang. Karena ini pertama kalinya Sooyoung mengungkapkan kata yang manis untuknya. Karena dalam hubungan mereka, biasanya Minjun yang selalu mengatakan rindu, cinta, dan sayang duluan. Dan membalasnya pun, kadang Sooyoung enggan. Tapi hari ini, pertama kalinya gadis itu…

 

Grab!

 

Minjun langsung memeluknya erat.

 

“Aku juga merindukanmu, aish…” bisiknya dia telinga Sooyoung. Nafasnya yang berhembus hangat membuat lutut Sooyoung lemas.

 

“Uhm, Oppa… aku sesak.” Sooyoung balas berbisik. Minjun terkekeh karena sadar dia memeluk Sooyoung terlalu erat, dia pun melepasnya.

 

“Mau makan malam?” tanya Minjun kemudian, sontak Sooyoung makin sumringah mendengar penawarannya. Lantas dia mengangguk dengan semangat.

 

***

 

Suara garpu dan pisau beradu terdengar. Berdenting mengiringi suasana makan malam di restoran tempat Minjun dan Sooyoung berada sekarang.

 

“Kau ke kantorku sendirian?” tanya Minjun di sela aktifitasnya.

 

Sooyoung mengangguk. “Memang mau diantar siapa?”

 

Minjun berhenti mengunyah sejenak, dia menelan makanan itu lalu mengambil segelas air dan meneguknya pelan. Membiarkan makanan terdorong air itu melewati kerongkongannya dengan nyaman.

 

“Kris?” katanya cepat. “Mungkin… Kukira dia mengantarmu.”

 

Sooyoung menghentikan aktifitas makannya lalu mengangkat kepalanya. “Aniyo. Oppa cemburu, ya?”

 

“Siapa yang tidak cemburu melihat kekasihnya dekat dengan laki-laki lain yang jelas-jelas menyukainya.”

 

Maldo andwae. Kris teman baikku.”

 

“Sekali lihat saja orang akan tahu dia suka padamu. Dari tatapan, perhatian, dan pelakuannya padamu, tch…”

 

Aigeu. Oppa benar-benar cemburu,” ujar Sooyoung. “Padahal aku tidak pernah mempermasalahkan kedekatanmu dengan istrimu. Karena aku percaya padamu.”

 

Skak. Sekarang Minjun yang merasa bersalah.

 

Mianhae,” katanya pelan.

 

“Itu bukan salahmu, dan sebenarnya, ini adalah salahku. Seharusnya dia memang kau perlakukan seperti itu, dengan baik dan penuh cinta. Bukan aku yang mendapatkannya. Kau, kan, suaminya.”

 

Minjun menghela nafas lelah, dia paling tidak suka jika Sooyoung mulai mengungkit-ungkit tentang istrinya. Dia menggenggam tangan Sooyoung dan menatapnya lekat.

 

“Aku akan melakukan itu kepada istriku kelak,” ujar Minjun serius. Dada Sooyoung terasa sesak. “Istri masa depanku yang aku cintai, kau, Choi Sooyoung.”

 

Sooyoung menatapnya bingung? Apa ini sebuah lamaran?

 

“Kau akan menikahiku?”

 

“Segera.” Jawab Minjun yakin disertai senyum manawannya.

 

Setelah perbincangan singkat itu, makan malam berlanjut lagi dengan suasana romantis.

 

“Sooyoungie?” tanya sebuah suara dari arah belakang Sooyoung tiba-tiba.

 

“Soojin?” Sooyoung berdiri dan terkejut dengan kedatangan kakak perempuan satu-satunya itu. Kakaknya terlihat datang bersama tunangannya.

 

“Sedang apa kau di sini… dengan Minjun?” tanya Soojin heran. Tepatnya dia tidak ingin menyimpulkan apa yang sedang dilakukan adik kesayangannya ini sendiri.

 

“Kau tidak lihat dia sedang makan?” Minjun bersuara. Spontan Soojin menatapnya sinis.

 

“Aku tak bertanya padamu, Tuan Kim.” Desisnya penuh penekanan pada setiap kata. Semua yang mendengarnya pasti sadar Soojin menyelipkan kemarahan pada kalimatnya. Tapi tampaknya, hanya Minjun yang tak menyadarinya—atau tak peduli.

 

“Aku tahu, kau bertanya pada kekasihku, kan?” Minjun menjawab dengan kalem.

 

Kelopak mata Choi Soojin membulat sempurna. Dia menatap adiknya meminta penjelasan. Sooyoung balas menatapnya, sulit diartikan. Tapi Soojin anggap itu sebagai jawaban iya.

 

“Pulang sekarang, Choi Sooyoung.” Soojin menahan amarahnya dengan menarik tangan Sooyoung dan membawanya pergi. “Kurasa makan malam kita nanti saja, Soohyun-ssi, aku harus membicarakan urusan penting dengan adikku sekarang.”

 

Pria yang datang bersama Soojin itu sedari tadi berdiam diri dan nyaris tidak dianggap keberadaannya, akhirnya ia bersuara, “Aku akan mengantarmu, kkajja.”

 

Shin Soohyun—tunangan Soojin—membukakan pintu mobilnya untuk kedua wanita itu. Lalu dia sendiri duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang.

 

Kim Minjun menatap sendu kepergian mobil itu, bersama dua sosok wanita yang dicintainya dan pernah dicintainya.

 

“Kau malah semakin membenciku, Soojin-a…” lirihnya.

 

***

 

Siswa-siswi menyimak pelajaran Guru Kim dengan serius. Hukum Norton, Ohm dan sebagainya yang menyangkut elektronik. Semua jelas tidak mau ketinggalan materi apalagi minggu depan akan ada test bulanan dari Guru Kim. Tapi tampaknya dua orang sedang tidak berminat dengan pelajaran.

 

Yang satu seorang gadis berambut cokelat-panjang, sedang menatap keluar jendela karena dia duduk di bangku ketiga di barisan paling kanan. Yang satunya seorang pemuda berambut emas acak-acakan yang sibuk menulis sesuatu di kertas—bukan menulis pelajaran—yang duduk tepat di bangku belakang gadis itu.

 

Pluk!

 

Kris melempar remasan kertas kecil itu pada gadis yang duduk di bangku depannya. Sooyoung mengambil kertas itu lalu membukanya, membacanya sekilas sebelum mendecih sebal. Kemudian dia menulis balasannya dan memberikannya pada Kris.

 

Kris membuka kertas itu dengan semangat. Tapi semangatnya luntur seketika setelah dia membaca isi yang tertera di sana. Dia langsung memasang wajah malas.

 

Dan mereka terus balas-membalas surat tanpa diketahui Guru Kim.

 

Penasaran apa isi surat dari Kris ke Sooyoung dan sebaliknya? Beruntunglah karena mereka mengijinkan penulis untuk memberitahukannya pada pembaca.

 

Kris: Sooyoung, aku suka padamu. Jadi pacarku, ya?

 

Soo: Kau tinggi, macho, keren,… tapi banci. Bisa tidak sih menembakku dengan sedikit gentle?

 

Kris: Aku tidak menerima penolakan.

 

Soo: Aku juga tidak menerima penolakan, atas apa yang aku katakan. Dan aku mengatakan TIDAK.

 

Kris: Kau gila, Choi. Kau baru saja menolak cowok terpopuler di sekolah.

 

Soo: Oh yeah, kurasa aku harus memeriksakan mentalku ke Dokter Jiwa, karena punya teman super keren yang suka padaku.

 

Kris: Cih… kau akan benar-benar menyesal.

 

Soo: Terimakasih atas kutukanmu. Kalau aku boleh jujur, kau terlambat, sangat.

 

Kris: Kau sudah punya pacar?

 

Setelah itu, Sooyoung tidak membalas lagi. Bukan karena tidak mau membalas, tapi karena bel sudah berbunyi menandakan pelajaran memusingkan dari Guru Kim sudah selesai. Sooyoung membereskan buku-bukunya. Belum juga melangkah keluar kelas, tangannya tiba-tiba tertahan oleh sebuah tangan besar.

 

“Siapa?” tanya Kris. Entah ini hanya perasaan Sooyoung atau apa, tapi gadis itu menangkap nada emosi dari suara berat Kris. “Siapa laki-laki itu?” ulangnya dengan nada yang sama.

 

“Kau tidak perlu tahu, yang jelas, aku mencintainya dan dia mencintaiku.” Jawaban Sooyoung jelas tidak membuat Kris puas.

 

“Lee Jonghyun? Ah, aku tahu dia sering mengajakmu makan di kantin berdua.” Tebak Kris. “Atau Gikwang? Kalian sering berbelanja kaset game bersama, bukan?” tebaknya lagi karena Sooyoung tak kunjung menjawab. “Oh, aku tahu. Cowok kurus yang suka memperhatikanmu diam-diam itu? Siapa namanya, er… Luhan?”

 

“Aku berpacaran dengan Minjun, puas?!” seketika Sooyoung memekik. “Sekarang menyingkir dariku!”

 

“Minjun? Kim Minjun?” ulang Kris dengan nada tak terdefinisikan.

 

“Pertanyaanmu sudah kujawab, sekarang lepaskan tanganku, aku mau pulang.” Sooyoung menghentakkan tangannya, tapi Kris menggenggamnya semakin erat.

 

“Dia sudah menikah, Sooyoung!”

 

“Lalu apa masalahmu?”

 

“Jelas ini masalahku, aku temanmu!”

 

“Ini hidupku, bukan hidupmu! Mana berhak kau mengaturku?!” Sooyoung geram. Menurutnya, sifat ‘ikut campur’ Kris sudah sangat keterlaluan, ini diluar batas kesabarannya. Dan, dia benci Kris.

 

“Berpisah dengannya,” suara lelaki itu dingin dan menusuk, seketika tatapannya juga menjadi lebih tajam.

 

Berharap Sooyoung gentar dengan itu? Tidak sama sekali. Yang ada, gadis itu menatapnya dengan lebih menusuk.

 

“Aku minta kau berpisah dengannya!”

 

“Kau menyukaiku bukan berarti kau berhak memperlakukanku seenaknya, memerintahku sesuka hatimu, karena sikapmu itu membuatku membencimu, Wu.” Desis Sooyoung dingin.

 

Plak!

 

Sooyoung menepis tangan Kris kasar. Manik bulatnya menatap manik elang Kris tajam. tanpa berkata apapun, gadis tinggi itu berlalu dengan pundak yang menubruk lengan Kris.

 

“Choi Sooyoung, dengarkan aku!” Kris mengejar.

 

“Enyahlah! Kris—!”

 

Kris membungkam bibir Sooyoung dengan bibirnya. Ciuman kemarahan, lebih tepatnya.

 

“Aku membencimu!” Sooyoung berlalu setelah mengusap bibirnya kasar, Kris sempat melihat setitik bening menggumpal di manik Sooyoung.

 

Hanya mampu menatap punggung gadis yang dia cinta dengan nanar. Dia terlalu pengecut untuk mengejar pemilik punggung itu dan memeluknya, lalu meminta maaf atas kelancangannya.

 

***

 

Aku aneh. Memang benar.

 

Egois? Ya.

 

Tapi aku tidak peduli. Selama aku bahagia… aku tidak peduli apapun.

 

“Lupakan kejadian itu, Choi Sooyoung! Kris menyebalkan! Arrh!” Sooyoung berguling-guling di kasurnya frustasi. Hari sudah malam, sudah harusnya dia sudah bisa memejamkan mata. Namun, sulit sekali!

 

“Ada apa denganku?” gumamnya lirih. Dia menyentuh bibirnya pelan. Rasanya manis dan…

 

Aniya!

 

“Dia gila! Dia keterlaluan!” runtuk Sooyoung lagi. Melempar-lempar bantal gulingnya dengan emosi membuncah. Dia sangat kesal. Ini hari tersialnya, menurutnya.

 

Sooyoung beranjak dari kasurnya kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat pada Minjun.

 

To: Jun Oppa

Bisa bertemu denganku sekarang?

Kutunggu di cafe taman waktu itu.

 

“Mau kemana kau?” heran Soojin yang melihat Sooyoung malam-malam bersiap dengan jaket tebalnya. “Choi Sooyoung, aku bertanya padamu!” kali ini Soojin berteriak.

 

“Aku ingin bertemu Minjun.” Jawabnya singkat. Gadis yang ditanyai itu kemudian memakai boot pendeknya.

 

“Aku tidak mengizinkanmu berhubungan dengan dia.”

 

“Aku tidak pernah meminta izinmu.” Balas Sooyoung dingin.

 

“Baik. Kau urusi hubunganmu dengannya, aku tidak akan ikut campur. Aku tidak akan mengusik kalian… tapi satu hal yang harus kau tahu, Choi Sooyoung,” Soojin menggantung kalimatnya. “Dia punya wanita yang sah dalam kehidupannya, pikirkan bagaimana perasaan wanita itu mengetahui suaminya berselingkuh.”

 

“Aku tidak peduli.”

 

Brak!

 

Sooyoung keluar dengan dentuman pintu yang keras. Dan detik itu pula, Soojin menangis.

 

***

 

“Tiba-tiba ingin menemuiku malam-malam begini, ada apa?” Minjun menyesap kopi panasnya sesaat setelah menatap Sooyoung lama.

 

Gadis itu meminta untuk bertemu, tapi setelah bertemu, dia hanya diam saja. Jelas Minjun bingung.

 

“Ada masalah? Jika iya, ceritakan saja padaku,” kata Minjun lagi.

 

Tapi, Sooyoung tetap menunduk semakin dalam. Dia memain-mainkan sedotan di gelas jus-nya tanpa minat untuk meminumnya.

 

“Kenapa…,” Sooyoung bersuara, begitu pelan tapi Minjun tetap bisa mendengarnya. “Kenapa aku harus menyukaimu?” tanyanya retoris.

 

Minjun tidak menjawab, selain pertanyaan itu bukan untukknya, hanya Sooyoung sendiri lah yang bisa menjawab pertanyaan itu. Minjun membiarkan Sooyoung bicara lagi, dia tahu gadis itu punya segudang keluh kesah yang disembunyikannya rapat-rapat. Sooyoung mahir menutup kesedihannya dengan topeng wajah ceria setiap saat. Walau pada nyatanya… gadis itu begitu rapuh.

 

Dan, benar saja. Sooyoung menangis.

 

“Mereka tidak mengerti perasaanku, cinta, itu anugerah, bukan? Tapi kenapa mereka menghalangiku untuk mencintaimu? Mereka tak membiarkan anugerah Tuhan masuk hidupku!” pekikannya tertahan oleh segumpal cairan bening di kelopak manik bulatnya.

 

Minjun jelas tahu siapa itu ‘mereka’ yang dimaksud. Ucapan Sooyoung kenyataan, memang. Tapi sesuatu dalam diri Minjun menahan untuk menyudahinya. Dia ingin mempertahankan Sooyoung, dia ingin mempertahankan anugerah Tuhan itu.

 

“Jangan dengarkan mereka,” Minjun mengelus rambut Sooyoung yang tergerai indah, lembut. “Pikirkan saja tentang kita.”

 

“Tapi lama-kelamaan itu menyakitkanku, kau tahu.” Suara Sooyoung masih parau, akibat isakannya tadi.

 

“Aku tahu, aku juga merasakannya.”

 

“Kau tidak merasakannya, hubungan kita tidak pernah terdengar oleh pihakmu!”

 

“Istriku tahu, aku memberitahunya, tentang kau dan aku.”

 

Sooyoung terbelalak. Minjun membalasnya dengan senyum getir.

 

“Aku pernah mengatakan aku ingin menikahimu, kan?”

 

Sooyoung mengangguk.

 

“Jadi, aku memutuskan untuk menceraikan istriku.”

 

Seharusnya Sooyoung bahagia mendengar itu, seharusnya dia menjerit kegirangan karena hal yang paling diinginkannya akan terwujud. Tapi… kenapa Sooyoung menangis?

 

Kenapa malah derai airmata yang menerima kabar bahagia itu? Oh, bahagiakah bagi Sooyoung?

 

Minjun langsung memeluk Sooyoung hangat. Dia memejamkan mata, seketika pula tangis Sooyoung pecah. Dia tersedu-sedu dalam dekapan tangan Minjun.

 

“Sudah jangan menangis, maafkan aku…” entah kenapa kalimat itu terlontar dari bibir Minjun.

 

“Tidak, bukan salahmu. Aku hanya, hanya…”

 

“Aku mengerti, kau terlalu terharu, kan?” tebak lelaki itu. Dengan ragu Sooyoung mengangguk. Minjun tersenyum senang lalu menghapus airmata Sooyoung dengan ibujarinya.

 

Ya, aku hanya terharu dengan sikapnya. Aku mencintainya, aku mencintainya, aku mencintai…

 

Bermaksud menghentikan tangisan Sooyoung, Minjun menyapu hangat cherry mungil Sooyoung. Sooyoung memejamkan mata menerima perlakuan Minjun. Tapi kenapa dia kian terisak?

 

Aku mencintai… Kris.

 

***

 

Siang ini Sooyoung duduk sendirian di atap sekolah. Melihat awan-awan yang bergerak mengikuti angin. Matahari sangat terik tapi tak membuat surut harinya. Dia sedang tidak ingin bersedih. Dan, seharusnya itu tidak terjadi.

 

Semenjak malam itu, Sooyoung tidak pernah melihat Minjun lagi muncul di hadapannya. Sooyoung juga tidak tahu kenapa dia enggan menemui Minjun di kantornya. Ini terlalu janggal.

 

Kalau Kris? Ah, sama saja. Atau lebaih tepatnya, Sooyoung yang menghindari Kris. Perasaannya terhadap Kris… jadi aneh. Sooyoung tahu tapi dia mengelaknya, rasa cinta itu. Sudahlah, lupakan soal Kris. Pikirkan saja kekasihmu itu.

 

“Hhhh…” belakangan ini, Sooyoung sering sekali menghela nafas lelah. Kantung hitam juga semakin terlihat jelas di bawah matanya.

 

Tidak ada kabar sama sekali dari Minjun.

 

Tidak pesan, telepon apalagi.

 

Sooyoung menghela nafas lelah. Sirmatanya sudah tidak bisa keluar lagi, terlalu kering untuk matanya yang sudah sembab. Seminggu ini dia menangisi Minjun, menangisi hubungan mereka, menangisi janji yang Minjun berikan.

 

Dia rindu pada pria itu.

 

Tapi gengsi mengakuinya. Biarlah, nanti juga Minjun akan menghubunginya jika pria itu juga rindu.

 

Tapi, jika Minjun tidak rindu bagaimana?

 

Sooyoung melihat layar ponselnya nanar. Apa dia harus benar-benar menelepon pria itu? Tentu saja! Hubungan mereka butuh kepastian!

 

Yeoboseyo?”

 

Ah, suara berat ini. Kim Minjun.

 

Yeo… Yeoboseyo, Oppa?”

 

Sial, kenapa gugup begini?

 

Nde? Nuguseyo?”

 

Jleb!

 

‘Nuguseyo’ tanyanya? Harusnya pria itu tahu!

 

Sooyoung menggigit bibir menahan tangis. “Mianhamnida, saya salah sambung.”

 

Pip.

 

Sooyoung memutuskan sambungan sepihak. Apa maksudnya itu? Minjun sudah melupakannya? Dia tidak lagi menyimpan nomor Sooyoung di ponselnya? Apa yang terjadi sebenarnya?

 

***

 

“Waktu itu mereka akan bercerai, tapi seketika istrinya pingsan saat di persidangan. Manager Kim terlihat sangat gelisah karena setelah dibawa ke Rumah Sakit istrinya tak kunjung sadar, belakangan dia tahu ternyata istrinya pingsan karena kelelahan.”

 

“Kelelahan?” heran Sooyoung. Sang resepsionis di perusahaan tempat Minjun dan Soojin bekerja itu mengangguk.

 

Nde, itu karena istrinya sedang mengandung. Rencananya dia akan membuat kejutan untuk memberitahu Manager Kim Minjun, tapi hari itu Manager malah meminta cerai, jelas dia frustasi dan langsung drop.”

 

Sooyoung merasa lututnya lemas dan dadanya sesak. Dia mengacuhkan ucapan-ucapan sang resepsionis itu tentang Minjun dan istrinya. Rasanya, kepalanya sudah berputar-putar sekarang. Pening dan berat. Oh, kenapa rasanya sulit sekali menahan tubuhnya dengan tumpuan kakinya?

 

“Ah, Kim Yubin-ssi memang sangat beruntung mendapatkan suami yang pengertian seperti Kim Minjun-ssi, bahkan beliau membatalkan perceraian dan hubungan mereka semakin mesra saja—Eh, Nona?!”

 

Resepsionis itu langsung panik melihat Sooyoung yang pingsan.

 

***

 

Orang pertama yang dilihatnya saat Sooyoung membuka mata adalah Kris. Tidak, apa dia mengkhayal?

 

“Kau sudah sadar?” ini suara Kris, dia benar Kris. Terselip nada khawatir dari suara bassnya. Saat itu juga Sooyoung merasa tangannya digenggam erat. Hangat.

 

Bukannya menjawab pertanyaan Kris, alih-alih bingung Sooyoung mengedarkan pandangannya menyapu ruangan tempatnya berbaring sekarang.

 

“Kau di Rumah Sakit,” seolah tahu isi pikirannya, Kris berujar. “Aku yang membawamu ke sini.” Jelasnya lagi tanpa diminta.

 

“Bagaimana bisa?” akhirnya Sooyoung mengeluarkan suara.

 

“Aku..,” Kris menggantungkan kalimatnya. “Aku baru saja menemui Minjun,” Ucapnya lancar setelah sedetik sebelumnya menghela nafas berat. “Aku tidak tahan melihatmu yang menangisi dia setiap hari, aku ingin dia menemuimu untuk sekadar menjelaskan hubungan kalian tapi… dia malah memintaku untuk menjagamu, karena dia sudah tidak sanggup.”

 

Penjelasan Kris membuat Sooyoung ingin menangis lagi. Tapi Kris langsung merengkuh tubuh gadis remaja yang rapuh itu, memberinya kekuatan.

 

“Maafkan aku…” bisik Kris.

 

“Tidak, aku yang meminta maaf,” balas Sooyoung pelan. “Kau lebih terluka daripadaku, maaf…”

 

Kris kian mengeratkan pelukannya. “Biarkan aku melaksanakan amanat yang Minjun berikan, kumohon biarkan aku menjagamu. Aku ingin berada di sampingmu.”

 

Tangan Sooyoung terangkat. Ingin balas memeluk, tapi tertahan oleh sesuatu. Akhirnya dia hanya menepuk-nepuk punggung tegap itu dengan tangan mungilnya. Tanpa Kris bisa lihat, gadis cantik itu tersenyum hangat.

 

“Aku lelah, bisa antarkan aku pulang?”

 

***

 

“Kris.”

 

“Ya?” reflek Kris menyahut panggilan Sooyoung setelah dia mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya. Dari luar belum ada tanda-tanda mobil Soojin, sepertinya kakak perempuan Sooyoung itu masih di kantor.

 

“Malam ini kau temani aku di rumah ya?” pintanya.

 

“Huh?” Kris mengernyit bingung.

 

“Menginap denganku, aku tidak ada teman di rumah. Kumohon.” Pintanya lagi, meyakinkan.

 

“Soojin Noona?”

 

“Soojin tidak akan pulang, dia bisnis keluar Kota dari hari ini sampai tiga hari ke depan.”

 

“Jadi kita hanya berdua? Ah… Aku takut aku akan melakukan sesuatu padamu saat kau tidur.” Kris tampak tak yakin, dia memasang tampang seolah sedang berpikir.

 

“Berani menyentuhku, kutuntut kau ke Komnas HAM!” ancam Sooyoung serius.

 

Kris tergelak, dibalas tawa Sooyoung kemudian. Entah apa yang mereka tertawakan. Yang jelas, Kris sudah tenang karena ini pertama kalinya gadis itu tertawa lagi setelah seminggu belakangan berwajah murung.

 

“Tapi aku serius, Choi Sooyoung. Setiap pria normal itu punya nafsu.”

 

“Yah! Kau bilang kau akan menjagaku! Kuadukan pada Minjun kalau kau melanggar janji!”

 

***

 

Ending macam apa itu? AAARRHH! Mianhae, mianhae, mianhae! *nyumput dibelakang Minjun*

Iklan

10 Comments Add yours

  1. @Sung_SooAe berkata:

    hahah akhirnya soo eon nyadar 😀 , hm… sequel sonk thor 😀

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      sekuel ataupun after story aku ga bisa janji chingu

      Suka

  2. Febryza berkata:

    Tuh kan kan kan bener ternyata soo unnie cintanya sama kris.. yaudah author kan endingnya cuma gitu after story bisa kayaknya tentang sookris yah hehe

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      after story aku ga janji ya

      Suka

  3. annisaerikhaa berkata:

    yahh cuma sampai disini ya? 😦 galanjut nih?’-‘ sookris lagi ditunggu yaa^^

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      iya nih ga lanjut, memang ini endingnya
      ne… sookrisnya tunggu aja ya…

      Suka

  4. AllayaSparkyu berkata:

    Feelnya dapet thor;;;
    Endingnya [hampir] ngakak masa gegara bahasan Sookris wkwk
    Nice ff , daebak, 😀

    Suka

  5. putri berkata:

    lanjutin az thor

    Suka

  6. Di berkata:

    Kris!!!!

    Suka

  7. Nurafrianti berkata:

    Polos bgt tuh si Kris nya wkwk

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s