[FF] An Involved Lover [One – Dinner Plan]

Gambar

berhubung aku ini orangnya ga sabaran, dan mumpung koneksi internetnya lagi bagus, jadi aku post aja sekalian chapter satu dari ff ini, cekidot!

 

“An Involved Lover”

 

Main Cast(s) :

  • Choi Sooyoung (SNSD)
  • Oh Sehun (EXO-K)
  • Kris Wu (EXO-M)

As tagged : EXO’s member (Kai)

Genre : Fluff, Romance, Comedy

Rate : G

Lenght : Chapter

Author : @WayneFanneey

Desclaimer : ide ini punyaku, dan terisnpirasi dari manga “Canvas” Kodama Miki. Mungkin ada beberapa adegan yang sama. Tapi selebihnya itu enggak sama.

If you don’t like EXO-Sooyoung pair, don’t read!

No bashing, thanks!

 

***


Chapter One – Dinner

 

“Yosh, sempurna!” Wanita itu bersenandung ria. Dengan senyum ceria mengikat bekal buatannya sendiri. Dia kemudian melirik dapur apartemennya yang seperti baru terkena tsunami. Terdengar kekehan kecil darinya melihat kondisi mengenaskan dapurnya sendiri karena aksi membuat bekalnya pagi ini.

 

“Ckckck… Noona, kau masih saja seperti dulu, berantakan.” Ujar seseorang di belakangnya. Lantas orang itu—pemuda itu—memakai sarung tangan yang tergeletak di atas kulkas kemudian mulai mencuci alat-alat memasak hasil eksperimen wanita di sampingnya.

 

“Sehun-a, kau sarapan saja, nanti kau terlambat ke sekolah kalau membantuku. Biar aku saja yang bereskan ini,” Wanita itu menolak halus bantuan Sehun dan mendorong anak laki-laki itu agar segera duduk di meja makan. “Tidak lucu kan kalau kita telat sama-sama?” Sambungnya.

 

Oh Sehun, anak laki-laki itu menurut lalu memakan sarapannya sambil sesekali memperhatikan wanita—sepupunya—itu yang sedang beres-beres di dapur. Seluas senyum merekah di wajah manis Sehun. Sehun adalah sepupu Sooyoung—wanita itu—yang baru datang dari Busan. Dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah SMA-nya di Seoul. Berhubung dia tak punya sanak saudara lain di Seoul selain Choi Sooyoung, orang tuanya akhirnya meminta wanita itu untuk membolehkan Sehun menumpang di apartemennya. Dan, dengan agak berat hati Sooyoung menerima Sehun tinggal di tempatnya.

 

“Ini buatmu, habiskan, ya.” Sooyoung menyerahkan sekotak bekal makan siang.

 

Noona,” panggil Sehun seraya memasukkan bekal pemberian Sooyoung dan mereka berangkat bersama ke sekolah.

 

“Hm?”

 

“Selama ini selalu kau yang memasak. Sarapan, bekal makan siang, makan malam, semuanya. Sekali-kali aku ingin memasak sesuatu untukmu. Malam ini aku yang buatkan makan malam, ya?”

 

“Bagaimana ya… aku takut kau menaruh racun di dalamnya,” cibir Sooyoung dengan nada bercanda.

 

“Serius, nih.” Kata Sehun meyakinkan. “Boleh, ya?”

 

“Baiklah, terserah padamu saja.” Sooyoung mengacak rambut Sehun gemas, sebelum berlalu ke kamarnya dan berganti baju, meninggalkan Sehun yang tersenyum-senyum senang di ruang makan.

 

***

 

“Yah, Noona, tunggu aku!” teriak Sehun, dia setengah berlari mengejar Sooyoung yang sudah cukup jauh berada di depannya. Jika sudah di lingkungan sekolah, Sooyoung memang selalu menjaga jarak dengan Sehun. Dan, Sehun sama sekali tidak suka atas sikap Sooyoung yang seperti itu.

 

Mereka, kan, sepupuan, jadi wajar dong kalau akrab satu sama lain?

 

“Oh Sehun, panggil aku Choi Sonsaengnim!” hardik Sooyoung setelah Sehun berada di sampingnya sembari mengatur-atur nafasnya yang memburu. “Kumohon, kalau di sekolah, tolong panggil aku Sonsaeng—”

 

Mulai lagi, deh. “Humph…” Sehun memutar bola matanya malas—bosan.

 

Sonsaengnim. Memang benar, itulah alasan kenapa Sooyoung selalu menjaga jarak dengan Sehun di lingkungan sekolah. Sooyoung adalah Guru Bahasa Jepang di Shinju Cyber School ini. Sekolah yang mengambil Sehun sebagai murid penerima beasiswa dari Busan. Kepala Sekolah sendiri sebenarnya tidak keberatan dengan kedekatan Sooyoung-Sehun sebagai saudara sepupu, tapi tetap saja Sooyoung tidak mau dianggap pilih kasih oleh murid-muridnya karena terlalu dekat dengan Sehun.

 

“Nggak apa-apa lah, lagipula…,” Sehun memandang Sooyoung dengan puppy-dog-eyes-nya. “Kita bukan ‘orang lain’…” katanya dengan nada menggoda, Sooyoung salah tingkah dibuatnya.

 

“Ja… Jangan bicara yang makin menimbulkan kesalahpahaman!” Sooyoung memekik tertahan, malu karena langsung dilihat orang-orang sekitar.

 

Sementara Sehun tergelak puas, “Ahahaha… Aneh, wajahmu langsung merah.”

 

“Panggil aku Sam, atau Guru Choi, atau apapun asal jangan Noona!” peringat Sooyoung lagi, mendesis pelan tapi cukup terdengar oleh mereka berdua.

 

Sehun mengangguk seraya tersenyum tiga jari. “Ne, arraseumnida, Choi Sonsaengnim! Hari ini aku cuma sedikit menggoda, kok, jangan diambil hati.”

 

Apa anak itu benaran ngerti, ya… Sooyoung agak curiga.

 

“Selamat pagi, Sooyoung Sam, Sehunie.” sapa salah seorang siswa yang lewat.

 

“Pagi, Jongin.” Sooyoung membalas sapaan siswanya itu disertai senyum tipis.

 

“Hei, Kai!” Sehun langsung menghampiri anak laki-laki bernama lengkap Kim Jongin itu—walau akrabnya dia disapa Kai—dan mengajaknya ke kelas bersama.

 

“Sooyoungie Noona, aku duluan ya, sampai ketemu di jam pelajaran ketiga!” teriak Sehun ceria setelah berada lumayan cukup jauh dari Sooyoung.

 

Blush!

 

Wajah Sooyoung langsung memerah sempurna. Cukup sudah Sehun mempermalukan dia di hadapan murid-murid dengan memanggilnya ‘Noona’! Baru lima detik yang lalu dia bilang ‘mengerti’, tapi detik berikutnya dia memanggil ‘Noona’ lagi? Dasar!

 

Warga sekolah yang berada di situ sontak menoleh ke objek yang baru saja diserukan oleh Sehun. Jelas saja, teriakan Sehun sangat keras barusan. Sooyoung tersenyum kikuk pada orang-orang yang melihatnya dengan pandangan bertanya-tanya.

 

Ternyata anak itu nggak ngerti, ya?!

 

“Dasar,” dengus Sooyoung sebal, setelah Sehun dan Kai benar-benar hilang dari pandangannya. “Tapi biar begitu, dia murid penerima beasiswa, kan.”

 

***

 

Choi Sooyoung berjalan pelan menyusuri koridor sekolah, dia hendak memasuki ruang guru. Tapi langkahnya terhenti seketika setelah ia melewati ruang seni. Tepatnya ruang klub seni lukis. Bukan karena tertarik dengan ruangan itu, tapi dia tertarik untuk memperhatikan seseorang di dalamnya.

 

Oh Sehun yang sedang melukis.

 

Ya, Sehun. Pemuda itu memang suka melukis, dari dulu, dan masih sampai sekarang. Sehun melukis seolah itulah hal terbaik yang bisa ia lakukan. Sehun mencintai seni lukis seperti ia mencintai orangtua dan dirinya sendiri. Masuk ke sekolah ini dari jalur beasiswa pun di dapatnya karena prestasinya dalam bidang seni murni itu.

 

Sehun menggerak-gerakkan kuas di tangannya. Sesekali dia mengoleskan cat lagi di palet lalu beralih pada kanvasnya. Sooyoung mempertahankan posisinya melihat keseriusan Sehun dari balik kaca jendela bening ruang seni itu. Matanya yang fokus menatap kanvas, rambutnya yang lurus kecoklatan itu kadang tersibak oleh semilir angin yang masuk dari jendela seberang. Sooyoung sangat ingat dulu, dialah yang membuat Sehun menyukai lukisan dan gambar.

 

[Flashback]

 

Hembusan angin musim semi menerpa wajah Sehun yang baru berumur 13 tahun. Dilihatnya bunga-bunga yang baru bermekaran dan pepohonan yang rimbun nan sejuk dari jendela kamar tempatnya duduk. Dalam diamnya, anak laki-laki itu menerawang. Tanpa sadar seorang gadis remaja sudah masuk ke kamarnya.

 

“Sehun-a, bagaimana harimu? Baik?” tanya Sooyoung yang saat itu berumur 17 tahun. Gadis itu lantas menaruh bunga lily putih di vas di atas meja kecil samping ranjang, kemudian dia sendiri duduk di kursi dekat ranjang Sehun.

 

“Tidak,” sahut Sehun lesu. “Memang sejak kapan hariku baik?” tersenyum miris, matanya tetap menerawang jauh keluar jendela.

 

“Yah… ini hari pertama musim semi, kau harus ceria!” semangat Sooyoung menggebu-gebu. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar untuk melihat taman kota yang baru dibuat itu?” tawar Sooyoung.

 

Tapi semangat itu hanya ditanggapi Sehun dengan semburat senyum tipis, kentara sekali dia tidak terlalu memperdulikan.

 

“Dokter bilang aku tidak boleh keluar, suhu tubuhku belum bisa menyesuaikan.” Katanya pelan, sambil menunduk dia memainkan jemarinya yang panjang. Lantas melirik beberapa tangkai bunga lily putih yang baru dibawa Sooyoung tadi. “Ah, tapi tak apa. Aku masih bisa melihat bunga yang sudah mekar ini…” hiburnya pada diri sendiri.

 

Sooyoung prihatin melihat Sehun yang sama sekali tidak menerima semangatnya. Tak menunggu waktu lagi dia mengambil sepotong jaket tebal dari lemari pakaian dan memberikannya pada Sehun. Dia sendiri kemudian memakai mantel biru langitnya.

 

“Pakai itu, kita jalan-jalan sekarang.” Sooyoung tersenyum lalu meraih lengan Sehun dan menggenggamnya. Meremasnya pelan, menyalurkan sebagian kehangatan pada tangan dingin itu. “Bunga yang bermekaran akan terlihat lebih indah di luar sana, Sehunie…” bisiknya lembut.

 

Manik sayu Sehun menangkap kesungguhan dari manik bulat Sooyoung. “Noona…” ujarnya ragu.

 

“Aku akan meminta ijin Kwon Uisa-nim, jadi tenang saja.” Sooyoung tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. Dan, Sehun tidak bisa menahan untuk balas tersenyum. Ya, dia percaya pada Sooyoung seiring sesuatu yang hangat tertransfer dari genggaman tangan Sooyoung.

 

Walau pada akhirnya, Dokter Kwon tidak mengijinkan Sooyoung untuk membawa pergi Sehun karena keadaan anak laki-laki itu yang belum sembuh total. Sooyoung tidak patah semangat. Dia memohon-mohon untuk mengajak Sehun keluar bahkan hanya sekadar untuk duduk di taman depan rumah. Dan, usaha memelas Sooyoung membuahkan ijin dari Dokter Kwon.

 

Sehun duduk di bangku taman dengan tenang. Maniknya dengan jeli memperhatikan sekitar. Ini pertama kali untuknya, melihat musim semi di luar rumah. Terlalu langka untuk di lewatkan begitu saja, apalagi ditemani oleh kakak sepupunya yang menyayanginya. Sehun semakin bahagia.

 

Sooyoung duduk di samping Sehun setelah sebelumnya tergopoh-gopoh membawa sesuatu di tangannya. Beberapa kuas, palet, cat minyak warna-warni, kanvas…

 

Noona, itu untuk apa?” tanya Sehun polos.

 

Mianhae, Sehunie. Aku tidak bisa membuatmu melihat musim semi yang sesungguhnya di luar sana. Maka aku yang akan membawakan musim semi padamu.” Ucap Sooyoung sembari membereskan barang-barang yang dibawanya.

 

Gadis itu mulai serius memoleskan cat-cat berwarna cerah di kanvasnya, di dominasi oleh warna merah dan kuning. Sooyoung melukis wajah Sehun yang tengah tersenyum di hamparan taman musim semi dengan bunga-bunga cerah yang bermekaran sempurna. Indah.

 

Seindah gadis cantik yang sedang melukisnya.

 

Sehun tertegun melihatnya. Dia mulai menangis terharu.

 

Gomawo, Noona,” Ucapannya terdengar serak disela isakannya. Sooyoung tersenyum tipis dan mengelus puncak kepala Sehun dengan lembut.

 

“Tak masalah, jangan pernah sungkan padaku lagi, ne?”

 

“Hm.” Sehun menggangguk. “Noona, apakah saat aku sudah besar nanti aku bisa menjadi pelukis hebat sepertimu?”

 

“Tentu saja, kau bahkan akan jadi leih hebat, asal kau mau berusaha dan bekerja keras.” Senyum Sehun mengembang mendengar jawaban Sooyoung.

 

Arrasseo. Aku akan melakukannya!”

 

Angin berhembus menerangkan dedaunan pohon prem. Dan, hangatnya udara musim semi pekan itu menjadi saksi perbincangan dua manusia yang usianya terpaut 4 tahun itu. Mereka saling mengagumi dalam senyum.

 

[End of Flashback]

 

“Sooyoungie?” Sooyoung tersadar dari lamunannya kala seorang lelaki jangkung berdiri di hadapannya dengan wajah keheranan. “Sedang apa kau di sini? Aku menunggumu di ruang guru dari tadi, kukira kau kemana.” Sambungnya dengan nada bertanya.

 

“Maaf, maaf. Aku lupa kau tadi yang memanggilku ke ruang guru. Memang ada apa?” tanya Sooyoung balik. Kris—lawan bicaranya—kini tampak tersenyum mencurigakan.

 

“Sepertinya aku yang harus bertanya ada apa. Kau memandangi ruang klub seni. Ingat masa lalu, hm?” goda Kris, ikut melihat objek yang sedari tadi Sooyoung perhatikan, Sehun.

 

Rasanya seperti sedang tertangkap basah sedang bernostalgia. Dengan cepat Sooyoung berkelit, “Anieyo. Melukis itu masa laluku.”

 

“Kau membohongi dirimu sendiri kalau kau bilang sudah tidak suka melukis lagi, ck.” Decak Kris.

 

“Sudahlah, katanya tadi kau mau katakan sesuatu padaku. Ayo cari tempat yang enak untuk bicara,” kentara sekali Guru muda bermarga Choi itu sedang mengalihkan topik pembicaraan.

 

Tak lama setelah mereka berlalu, seseorang keluar dari ruang seni dan melihat dua punggung yang tampak asyik mengobrol itu. Sehun melihatnya sendu.

 

***

 

Jam istrirahat. Siswa-siswi serempak berhamburan keluar kelas, berebut masuk kafetaria sekolah lebih dulu dan memesan makanan. Termasuk di antaranya pemeran utama fanfic ini yang tidak lain dan tidak bukan adalah Oh Sehun.

 

Sehun sedang duduk-duduk di bangku kantin dengan Kai saat Sooyoung terlihat berjalan masuk kafetaria. Sehun segera melambaikan tangannya ke arah Sooyoung dengan senyum menghiasi wajah manisnya.

 

Noona, di sini!” pekikannya membahana. Sooyoung tersenyum malu sambil menunduk-nunduk meminta maaf pada orang yang melihatnya aneh karena teriakan Sehun padanya.

 

“Sudah kubilang panggil aku Sonsaeng—tunggu, kenapa kau ada di sini? Aku kan sudah membuatkanmu bekal!” seru Sooyoung. Dia duduk di bangku yang berhadapan dengan Sehun dan Kai sambil menaruh nampan berisi makanan yang di pesannya.

 

“Aku akan memakannya di sini, denganmu. Lagipula kenapa kau sendiri tidak bawa bekal?” Senyum Sehun tak luntur. Lantas dia mengeluarkan kotak bekalnya dan mulai melihat isinya dengan bahagia.

 

“Huaa… aku juga mau dibuatkan bekal oleh Sam!” rengek Kai, bercanda.

 

Sooyoung menoleh dan mengangguk, “Geurae. Aku akan membuatkanmu nanti.” Membalas perkataan Kai dengan bercanda, tapi tampaknya ada yang menganggapnya serius di situ.

 

“Yah! Kalau mau makan bekal buat saja sendiri! Jangan meminta pada Sooyoungie-ku!” ujar Sehun dengan mulut penuh, Kai langsung memberinya air minum agar Sehun bisa menelan makanannya terlebih dahulu, baru marah-marah.

 

“Sooyoungie-ku?” tanya Sooyoung. “Jangan-jangan kau bilang pada temanmu yang lain juga begitu?”

 

“Tentu saja, Noona kan memang milikku.”

 

Sluurrrp!—Uhukk!

 

Sooyoung langsung menelan mie hijaunya dengan sekali hentakan. Nyaris saja tersedak. Dia meneguk jus jeruknya cepat. Kemudian menatap Sehun galak.

 

“Dia memang bilang begitu pada semua murid di kelas, sampai-sampai Tao takut untuk mendekati Sam lagi. Dia bilang akan menghabisi siapapun yang berani dekat-dekat Sooyoungie-nya!” adu Kai menggebu-gebu. Alhasil, Sooyoung makin menyorot tajam wajah Sehun. Sebaliknya, pemuda berusia 17 tahun itu malah tenang-tenang saja seolah itulah hal terbiasa yang bisa ia lakukan.

 

Tuk!

 

“Oh Sehun lihat aku!” Sooyoung menjitak kepala Sehun dengan sumpitnya dan menatapnya garang.

 

Noona, sakit!” Sehun mengusap-usap kepalanya. Kai bahkan sudah terkikik geli di tempatnya duduk.

 

“Kujadikan muridku kau semakin melunjak saja, mau kupecat jadi sepupu, hah?!” ancam Sooyoung.

 

“Pecat saja aku jadi sepupumu, lalu aku bisa jadi kekasihmu.” Kata Sehun cepat, tak ayal membuat Sooyoung semakin emosi. Kai malah terbelalak mendengar itu.

 

“Aku serius!”

 

“Aku juga!”

 

Mereka berdua sama ngototnya. Kai sekarang asyik menonton perseteruan mereka sambil menyeruput sekotak susu pisang yang dibelinya.

 

“Sehun-a, pekerjaanku di sini adalah sebagai Guru. Wajar kalau aku dekat dengan murid-muridku, mereka tanggung jawabku. Aku tidak suka sikapmu yang kekanak-kanakkan begini. Padahal orangtuamu menitipkan padaku agar bisa merubahmu menjadi lebih dewasa…” jelas Sooyoung panjang lebar.

 

“Yah, aku kan cuma bercanda bilang begitu.” Elak Sehun.

 

“Tapi candaanmu keterlaluan. Bagaimana kalau Bapak Kepsek mendengar dan mengira ini benar? Dia bisa-bisa memecatku karena disangka berpacaran dengan muridnya sendiri!”

 

Kini Sehun tertunduk. Dia mengambil sendok dan mengaduk-aduk isi kotak makan siangnya. Dia tidak pernah menyangka Sooyoung semarah ini hanya karena… candaannya.

 

“Kau tidak pernah memikirkan perasaanku, atau orang lain. Kau hanya memikirkan kesenanganmu sendiri Sehun, berhentilah bersikap seperti ini, secara tidak langsung kau sedang egois terhadapku.” Lanjut Sooyoung, suaranya merendah. Dia menunduk untuk meraih wajah Sehun dengan manik bulatnya.

 

Mianhae.” Ucap Sehun singkat.

 

“Aku memaafkanmu, selalu. Tapi aku hanya ingin kau merubah sikapmu, arrachi?” kata Sooyoung lembut.

 

Sehun diam, tapi lama-kelamaan dia mengangguk pelan. Sooyoung tersenyum.

 

“Nah begitu, dong. Kau memang adikku yang paling manis.” Sooyoung tertawa pelan sambil mencubit gemas pipi Sehun.

 

Kai ikut tersenyum melihatnya, pasangan adik sepupu ini sebenarnya serasi juga, tapi Kai tidak mengira kalau Sooyoung tidak pernah menganggap rasa suka Sehun itu dengan serius. Padahal Kai tahu betul soal perasaan Sehun pada Noona-nya. Dan, kala itu juga Kai melihat segurat kecewa di wajah Sehun saat Sooyoung memanggilnya ‘adik’.

 

***

 

Sehun membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur. Jelas dia tidak bisa tidur karena teringat kejadian sepulang sekolah tadi. Saat Sehun hendak mengajak Sooyoung untuk pulang bersama. Tapi langkahnya terhenti kala dia mendengar perbincangan dari dalam ruang guru. Dua suara yang sangat dikenalnya. Ugh, mengingat itu saja rasanya Sehun ingin marah-marah, tapi tidak tahu mau marah pada siapa karena di apartemen hanya ada dia sendiri.

 

Menyebalkaaaan!

 

Sehun menutup wajahnya dengan bantal ketika perbincangan antara Kris dan Sooyoung sore tadi terngiang lagi di kepalanya.

 

 “Mau makan malam denganku malam ini?”

 

“Boleh saja, asal kau yang traktir ya, Wufan.”

 

“Bangkrut aku kalau mentraktirmu, tapi tak apalah. Yang penting kau denganku malam ini, hanya berdua.”

 

“Aish, dasar.”

 

“Mereka pasti sedang makan malam romantis berdua, bagaimana ini?” Sehun menggigit-gigit kukunya sendiri. Entah kenapa malah dia jadi panik begini. Membayangkan makan malam romantis dengan lilin-lilin dan bunga mawar di meja makan…

 

Arrrgh!

 

Sehun mengacak rambutnya sendiri, frustasi sepertinya.

 

Cukup sudah!

 

Mulai besok dia tidak akan membiarkan lelaki selain dia dekat dengan Sooyoung jika akan membuatnya segalau ini! Terserah Sooyoung mau marah-marah atau apa, daripada dia jadi depresi karena Sooyoung?

 

Noona kau membuatku gila!

 

Klek!

 

Eh, seperti suara pintu yang dibuka. Memang siapa yang datang? Perampok?

Dengan sigap Sehun beranjak dari kasurnya dan mengendap-endap keluar kamar. Lampu ruang tengah memang sengaja ia matikan supaya hemat listrik, tapi payahnya sekarang dia bingung mau mencari saklarnya.

 

Ting!

 

Tiba-tiba saja ada tangan lain yang menyalakan saklar saat Sehun sudah menyentuh saklar itu. Dan, sekarang tangan mereka berdua bersentuhan. Sooyoung reflek menoleh ke arah Sehun dan menatapnya bingung. Sehun juga balas menatap tak kalah bingung.

 

Noona kenapa sudah pulang?” heran Sehun. “Memangnya kau tidak…” sengaja Sehun mengantung ucapannya, ragu.

 

“Aku mencari-carimu tahu, ternyata kau sudah pulang duluan,” Deru Sooyoung lalu mendudukkan tubuhnya yang ramping di sofa. “Ahh… lelah sekali.” curhatnya kemudian.

 

Noona mencariku?” berarti, dia tidak makan malam dengan…

 

“Sehunie, aku lapar. Mana makan malamnya?” tanya Sooyoung to the point. Sehun gelagapan, sadar dia belum membuat makanan apapun. Sooyoung menyipitkan matanya. “Jangan bilang kau lupa mau membuatkanku makan malam?”

 

Sehun nyengir, “Hehehe… tidak, kok. Sama sekali tidak lupa, tapi—”

 

Jinjja, neo! Tidak bisa diandalkan sama sekali. Sudah kukira akan seperti ini, hhh… padahal tadi kuterima saja ajakan makan malam dari Kris.” Potong Sooyoung sontak membuat Sehun marah lagi, tapi ditahannya.

 

Sooyoung beranjak dan membuka kulkas. “Ya ampun, kau juga tidak belanja apapun? Tahu begitu harusnya kau bilang padaku supaya aku yang belanja!” Maniknya menilik-nilik bahan makanan yang akan dia gunakan, kemudian mengambil beberapa sayur dan kentang. Sooyoung berjalan ke dapur dan memakai celemeknya, Sehun membuntutinya.

 

“Iya, maaf. Soalnya aku sebal karena kukira kau mau makan malam dengan Pelatih Wu.” Keluh Sehun jujur.

 

“Sekalipun aku makan malam dengannya, harusnya kau juga belanja makanan untukmu sendiri. Masa setiap waktu harus aku yang memasakkanmu?—eh, tunggu, darimana kau tahu Kris mengajakku makan malam?”

 

Sehun gelagapan, lagi. Dia menggaruk tengkuknya, Sehun memang tidak bisa berbohong. “Tidak sengaja mencuri dengar saat aku mau mengajakmu pulang bersama di ruang guru.”

 

Sooyoung menghela nafas sejenak. “Ya sudah. Kau duduk saja sana, daripada mengangguku memasak. Atau mau kugoreng dengan kentang ini?” kata Sooyoung galak.

 

“Yah… aku ingin bantu.” Rengek Sehun.

 

“Oke, oke. Potong saja wortel itu. Jangan lupa cuci tangan dulu.” Suruh Sooyoung.

 

Dengan semangat Sehun mengambil tatakan dan pisau dapur. Dia pun memotong-motong wortelnya dengan hati-hati. Sooyoung meliriknya lalu berdecak.

 

“Bentuknya aneh sekali. Lagipula bukan begitu cara potongnya. Sini, begini caranya.” Sooyoung meraih pisau itu dan mulai memotong-motong wortel dengan cepat, lebih rapi dari hasil potongan Sehun tadi.

 

Tetapi Sehun sudah tidak peduli soal memotong wortel sekarang. Karena perhatiannya teralihkan oleh sosok gadis tinggi yang berdiri di dekatnya, di antara kedua lengannya—bahkan posisi Sehun nyaris memeluk Sooyoung dari belakang. Namun tampaknya, Sooyoung tidak sadar dan malah sibuk pada kegiatannya. Tatapan Sehun yang terkagum-kagum pun tak dihiraukannya.

 

Melihat Sooyoung yang acuh seperti itu. Sehun tersenyum licik. Dengan sekali gerakan dia melingkarkan tangannya pada perut Sooyoung. Sehun menghembuskan nafasnya tepat di belakang telinga Sooyoung.

 

“Yah! Lepaskan tanganmu dariku!” wajah Sooyoung menghangat. Jantungnya langsung terpompa lebih cepat dari biasanya.

 

Hidung Sehun kini menempel di belakang telinga Sooyoung, Sehun terkekeh, “Hehehe, akhirnya aku berhasil memelukmu, Noona.”

 

“Iya, sudah, sekarang lepaskan!” sungut Sooyoung kesal. Tidak sadarkah sekarang gadis itu sedang gugup dengan perlakuan pemuda yang kini memeluknya?

 

“Tidak akan, kapan lagi coba aku bisa memelukmu dengan posisi begini. Kalau bisa, aku tidak ingin melepaskanmu.” Ujar Sehun polos. Wajah Sooyoung makin menghangat—bahkan mungkin sudah panas dan memerah. Kepolosan seorang Sehun ternyata bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu manis!

 

Sooyoung memilih mengalah. Dia membiarkan Sehun memeluknya sampai anak itu puas sendiri lalu melepaskannya. Sementara dia sendiri memasak sambil berusaha mengatur tempo jantungnya.

 

Kruyuuk.

 

“Ng, suara apa itu?” Sooyoung bertanya secara gamblang setelah sedetik dia mendengar suara aneh.

 

“Suara perutku, aku lapar.” Dengan tampang tak berdosanya Sehun menjawab.

 

Baru saja dibilang manis, sekarang sudah merusak suasana?! Aish, Oh Sehuuuun!

 

[Flashback]

 

“Mau makan malam denganku malam ini?” tawar Kris tak lama setelah Sooyoung duduk di mejanya. Sooyoung merenggangkan otot lengannya yang terasa kaku karena menulis di papan tulis seharian ini.

 

“Boleh saja, asal kau yang traktir ya, Wufan.”

 

“Bangkrut aku kalau mentraktirmu, tapi tak apalah. Yang penting kau denganku malam ini, hanya berdua.” Sejenak kemudian dia tergelak setelah menggoda Sooyoung dan membuat wajah gadis itu merona.

 

“Aish, dasar.” Keluh Sooyoung lalu membereskan barang-barangnya dan mengambil tasnya, menentengnya dengan sebelah tangannya. “Tapi aku tidak bisa malam ini. Karena di rumah makan malam buatan Sehun sudah menunggu, makanan yang akan membuatku tidur pulas—alias pingsan.” Tolak Sooyoung dengan candaan garingnya.

 

“Jadi, aku keduluan oleh bocah? Ya Tuhan…” Kris geleng-geleng kepala, tapi dia tersenyum maklum.

 

Sayang Sehun yang sedang menguping pembicaraan dari balik pintu tidak mendengar dua kalimat terakhir yang dilontarkan Sooyoung. Dia keburu ngambek kemudian pergi. Yang dia kira, Sooyoung melupakan makan malam mereka dan malah pergi berdua dengan Kris.

 

“Ya sudah apa boleh buat, kau terlanjur membuat janji dengannya lebih dulu. Sana pulang, bocah itu pasti sudah menunggumu. Hush! Hush!”

 

“Jadi kau mengusirku, heh?” Kris tertawa mendengar pertanyaan Sooyoung, wanita itu melanjutkan, “Tapi, aku berterimakasih padamu, kau benar-benar pengertian.”

 

“Ganti saja rasa terimakasihmu dengan traktiran, lain kali.” Ujar Kris.

 

“Baiklah, nant aku akan mentraktirmu makan, Tuan Wu.” Sooyoung mengangguk patuh.

 

“Dasar brother complex.” Dengus Kris setelah Sooyoung berangsur hilang dari balik pintu ruang guru. “Tapi, aku iri Sehun mendapatkan brother complex sepertimu.”

 

[End of Flashback]

 

***

Iklan

38 Comments Add yours

  1. Febryza berkata:

    Omomomomo ternyata disini sehun yg suka duluan sama soo unnie dan soo unnie masih nganggep sehun kayak noona-dongsaeng.. Ckckck tapi tumben yg sepupuan sehun sooyoung aku sih malah mikir kadang ngeliat kai sama sooyoung mirip hahaha..

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      aku juga mikir beberapa kali sih buat tokoh cowoknya di sini, sempet kepikiran chanyeol atau kai, tapi karena desakan temanku jadinya Sehun dewh… , hihihi

      Suka

  2. Youngie berkata:

    kereeennn..
    suka deh sehun yang polos kekekeke,
    wah sehun ternyata cemburuan ya, tapi cemburunya tetap lucuuu…
    lanjuuut

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      maknae memang selalu lucu chingu ><
      tapi gatau deh kalau maknae dbsk sama suju /plak/

      Suka

  3. MeydaaWK berkata:

    waaah baru nemuin ff yg sooyoungnya ssepupuan XD
    btw lanjut dong ^^ bagus loh bikin penasaran ><

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      dilanjut kok, tapi nanti, tunggu aja , hehe…

      Suka

      1. MeydaaWK berkata:

        kalo bisa yang cepet ya XD

        Suka

  4. WINTERCHAN berkata:

    Aaaaa ini FF imut banget :3
    suka banget sama Sehun yang polos banget :3
    lanjutannya ditunggu yaa 😀
    fighting ^^

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      hahaha, aku juga gemes sama sehu yang kelampau polos, makasih udah baca dan komen chingu!

      Suka

      1. WINTERCHAN berkata:

        sama sama 🙂
        ditunggu ya lanjutannya 😀

        Suka

  5. Choi Je Kyung berkata:

    Yey, dpat pairing ini lg,
    Kenapa yah akhir2 ini bnyak bnget yg ngebuat ff soohun, kekeke~
    Jdi disini selisih umur soohun itu 4 tahun, dan sehun suka bnget sma soo eonnie dan jgan bilang kris jg suka sma soo eonnie,

    Wah, wajib lanjut nih!!
    Next part ditunggu chingu 🙂

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      kenapa ya? aku juga nggak tahu mereka dicouple-in dari sisi apanya, aku bikin pair ini karena Sehun itu manis ><

      Suka

  6. kenianurasha berkata:

    Sehun evil bgt =)))
    Waaa ini keren bgt!!
    Lanjut ya author 😀

    Suka

  7. dinaalifa berkata:

    daebak thor, aku suka cerita yang kayak gini 😛
    ada sookris sama soohun nya lagi
    next chapter ditunggu yah 😀

    Suka

  8. ichalovesy berkata:

    sehun cemburuan amat dah–”
    tapi kasian juga sih,
    padahal dia suka sama sooyoung,
    sementara soo eonn cuma nganggep dia adik
    sabar ya thehuna…*pukpuk*

    Suka

  9. rifqoh wafiyyah berkata:

    Omo..!!
    Trnyta sehun ska sma soo unnie n’ dia spupu’a soo unnie??daebak thor.:D

    Suka

  10. mia berkata:

    mau curhat boleh ya kenapa qw nemu blog ini hehehhe
    qw awal nyari FF yg pairingnya sooyoung anak2 exo terus qw nemu fanfic ini disalah satu blog tpi qw g berminat untuk baca sama sekali karena berchapter ria.
    tapi karena waktu luangku banyak qw nyari lagi ff yg pairingnya soo eoni sama anak2 exo da alhasil nemu blog ini dan qw tertarik buat bacanya 😀
    pas baca chapter pertama qw penasaran jdi qw terusin baca sampe chapter 7 n disitu qw blm komen sama sekali maklum pas nemu blog ini saya lg di dunia antah berantah n pulsa modem gak aada T_T tpi wktu itu qw janji kl ngisi modem qw mau komen di semua chapter FF ini, n grgr blog ini qw suka pairing sooyoung/sehun mengalahkan pairing yg qw suka sooyoung /luhan hehehehehe
    mianhe ya baru bisa komen 😀
    fighting buat lanjutin lagi

    jogo de futebol site

    jogos de cavalos

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      hahaha curhat ya? gapapa kok, aku maklum, kadang aku juga suka males komen kalo baca ff, jadi aku komennya belakangan kalo ada waktu luang dan pulsa modem /?/
      makasih udah baca dan suka… ^^

      Suka

  11. yeni swisty berkata:

    wih, itu si sehun udh cemburu aja :v
    ff bagus, cute

    Suka

  12. kartika berkata:

    maaf baru coment. dulu belum tau caranya ngoment soalnya *kudet* aiih sehun childish tapi romantis >_< kasian kris, sama aku aja yak? wkwk 🙂

    Suka

  13. FAnoy berkata:

    Annyeong..reader baru nih..salam kenal..sehun unyu deh ><..sooyoung sama kris itu temenan ya? Wuah sehun punya saingan nih :3..oh iya..sehun sakit apa coba? Kayaknya lama banget ya sakitnya..yaudah gws ya sehun..eh udah sih..lupa..hahaha..keep writing..fighting '-')9

    Suka

  14. Annyeong! aku reader baru, salam kenal >_<
    Sehun… jangan nguping pembicaraan orang dewasa, nih anak. CKCKCK
    lanjut…

    Suka

  15. @agilrestuuu berkata:

    Aaaaa ini FF imut banget
    suka banget sama Sehun yang polos banget disini plus cemburuan juga 😀

    Suka

  16. tama berkata:

    Annyeong, aku reader baru..
    pernah sekali baca ff ini tapi lupa dimana, eh pas searching ketemu disini deh ffnya..

    Suka

  17. ssss berkata:

    Jejakkkk again
    Demi apa sehunnya cemburuan banget coba, haha lucu iuga sih sehun dibikin kaya gitu.. berasa evil pura pura polos gitu coba,

    Suka

  18. DeliaaOKT berkata:

    Hai…aku readers baru
    Baru nemu ini ff,,keren ff’nya
    SooHun sepupuan??gimana jadinya ya??

    Suka

  19. YSA berkata:

    akhir-akhir ini suka sama Sooyoung-Sehun couple kekeke~
    waktu search di google nemu ini ff, dan… daebak
    suka karakternya suka ceritanya^^

    Suka

  20. kimhyunsoo berkata:

    *ROTFL* Thehun cemburu ama Thoyoung noona :v
    Ckckckck,Thehun modus meluk-meluk Thooyoung 😀

    Suka

  21. fathiyahazizah berkata:

    Hahaha, thehun modus mah ama sooyoung :p

    Suka

  22. riyalva07 berkata:

    SooHun aahh so sweet pas sehun meluk soo 🙂
    Sehun lucu kalau lagi cemburu hahaha 😀

    Suka

  23. Arbeei berkata:

    So interesting. Suka sm jalan ceritanya. Keep writing author wufanny 🙂

    Suka

  24. xi berkata:

    keren thor……

    Suka

  25. rinaknight berkata:

    Keren ❤❤❤ Sehun km modus bgt sm sooyoung

    Suka

  26. wiiaawiyu berkata:

    Sehun-ah !!!! cute banget sih 😀 aku suka karakter sehun yg polos-pencemburu-egois-dan protektif terhadap sooyoungya. Walau sebenarnya di awal aku ngarepnya bnyak sookris moment, but this soohun moment is too cute dan syg di lewatkan ^^

    Suka

  27. Aulia avina berkata:

    Wwahh aku baru liat ff ini dan langsung kevincut sama alur cerita nya hihi .. Disini karakter soohun nya dapet banget, aku suka .. DAEBAKK AUTHOR!!!

    Suka

  28. yoonade berkata:

    Sookris emang cocok banget, tp klo ada sehun yg sok imut jadinya lebih milih soohun dong, habis’y walaupun story’y noona-dongsaeng, feel’y dapet banget deh mereka.. Author syg tqs bt sookris ma soohun’y… Hwaiting for your story…

    Suka

  29. Wahhh soohun sweet banget d sini… suka dehh time soo unni dan sehun di dapur…backhug orhh …kris suka dgn soo young juga eaaa duhh bingung nii soo unni milih siapa ea

    Suka

  30. helmaharani berkata:

    Agak telat sih emang, sebenernya udah suka snsd dari dulu, tapi berhenti jadi sone beberapa tahun. Dan aku juga baru kenal dunia ff tahun 2014 (telat banget ya), tapi so far, ini adalah ff snsd x exo paling bagus yang pernah aku baca

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s