[FF] Black Paradise [2/2]

Gambar

“Black Paradise”

 

Starring :

  • EXO-M’s Kris
  • SNSD’s Sooyoung
  • BAP’s Himchan

Tag : BAP and BEAST

Genre : Action, Romance

Rate : T

Length : Twoshoot

Author : Replay (@WayneFanneey *mention for follback*)

Desclaim : Soo punya saya, Kris pajangan, Himchan diobral.

Recomended Song :

  • BEAST – Black Paradise
  • U-KISS – Standing Still
  • Infinite – Before The Dawn
  • BAP – One Shot

Summary :

“When we meet again in black paradise…”

 

***

 

Gedung dengan lebih kurang tiga puluh lantai itu sudah cukup sepi. Lampu temaram di halaman depan. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang, termasuk seorang wanita dengan hoodie dan masker menutupi wajah cantiknya. Pakaiannya yang stylish tidak cukup membuat sekitarnya curiga. Choi Soo Young berjalan was-was memasuki gedung itu.

 

“Siapa di sana?” salah seorang security menyorotinya senter—karena semua karyawan sudah pulang, lampu gedung dimatikan.

 

Bugh!

 

Dengan sekali pukulan Sooyoung, security itu tak sadarkan diri.

 

Prang!

 

Sooyoung segera berlari ke asal suara pecahan kaca itu. Terlihat Doojoon dengan sebuah alat di tangannya, “Alat ciptaan Yongguk benar-benar hebat.” Ujarnya.

 

“Kau,” desisnya, melihat Doojoon yang kini tersenyum padanya.

 

“Kau terlambat lima menit, sayang. Jadi aku mulai duluan.”

 

Sooyoung merasa perutnya keram dan seketika telinganya linu mendengar panggilan Doojoon untuknya. Doojoon melompat ke dalam, begitu pula Sooyoung. Mereka berpencar di persimpangan koridor lantai tiga. Sembari melangkah, Sooyoung mencoret dinding dengan pilox yang di bawanya, menuliskan lambang BP—nama komunitas mereka, Black Paradise. Dia menghancurkan apapun yang bisa ia hancurkan.

 

“Jangan main-main, Choi! Ah, yeoja memang menyusahkan.” Peringat Junhyung. Mereka terhubung lewat alat kecil di telinga kanan Sooyoung.

 

Sooyoung berdecak kesal.

 

“Zelo, kau masih bocah, jangan bawa senjata api!”

 

Terdengar suara desahan, “Cuma buat jaga-jaga, Hyung.”

 

Junhyung memang sebagai GPRS di sini, dia mengendalikan semua pergerakan anggota BP. Karena, Ayahnya adalah pemilik gedung ini dan dia tahu tiap bagian gedung sekalipun itu bagian yang paling tersembunyi. Sooyoung menendang pot bunga keramik di sampingnya sehingga menimbulkan suara.

 

“Hei, kau!” sorotan senter yang menyilaukan membuat Sooyoung memicingkan mata. Gawat, seorang security memergokinya!

 

Sooyoung melompat dan mendepak punggung penjaga itu. Dia tersungkur. Tapi kemudian datang penjaga-penjaga lainnya. Sooyoung berlari kencang. Dia panik, masih teringat jelas saat insiden di Gyeonggi-do dua bulan lalu. Dia menjalankan misi yang hampir sama, dan nyaris mendekam di penjara.

 

“Sial!” runtuk Sooyoung. Dia melihat penjaga lain membloking jalannya di depan. Dia pun berbelok.

 

“Doojoon, kau langsung naik saja ke lantai lima belas dan—Yah! Choi Soo Young! Mau kemana kau? Ada banyak penjaga setelah persimpangan itu!”

 

“Lalu aku harus kemana?!” pekik Sooyoung tertahan.

 

Sekarang dia benar-benar panik. Peluh mengucuri dahinya. Sedangkan suara langkah yang menyerbu datang semakin mendekat. Jantungnya berdegup kencang kala sebuah telapak tangan membekap mulutnya dan menarik tubuhnya masuk ke ruangan kecil dan gelap. Pengap. Sooyoung memberontak, namun…

 

“Diamlah, ini aku.” Suara berat itu sangat dia kenal.

 

Ruangan itu sangat sempit. Membuat Sooyoung menahan nafas saat Kris menghimpit tubuhnya. Sooyoung menarik nafas lega saat suara langkah itu sudah menjauh. Kemudian matanya mendelik ke arah Kris.

 

“Sebenarnya siapa kau?” tanyanya sinis.

 

“Aku? Yong Jun Hyung?”

 

“Aku tidak bicara padamu, Jun.” Wanita itu hampir lupa Junhyung juga akan mendengar apa yang dia katakan dari seberang sana. Ide buruk mengajak Kris untuk berbincang sekarang, Junhyung akan tahu.

 

“Sudah kubilang aku ingin melindungimu.” Sahut Kris.

 

“Ada siapa di sampingmu?” heran Junhyung.

 

“Bu-bukan siapa-siapa.” Jawab Sooyoung singkat. Lalu mencoba keluar dari ruangan pengap itu.

 

Kris menarik tangannya keras lalu mendorongnya lagi ke dinding. Kris melepas alat komunikasi Sooyoung dan Junhyung, lalu melemparnya sembarang.

 

“YAH—MMMPPH!” jeritan Sooyoung langsung Kris bekap dengan mulutnya. Kris melumat bibirnya liar. Kurang lebih tiga menit kemudian dia melepaskannya.

 

“Dengar, aku baru saja melaporkan kalian ke polisi. Kalian semua buronan besar! Jika kau keluar, para polisi itu akan menangkapmu. Jadi, tetaplah di sini, Choi Soo Young!”

 

Sooyoung melebarkan matanya, “Kau… mau menolongku atau membunuhku?” tanyanya sarkatis.

 

“Aku ingin menolongmu, dan ingin membunuh mereka.”

 

***

 

Sooyoung’s Pov

 

Sirene mobil polisi terdengar jelas. Suara peringatan polisi agar BP—kami—menyerahkan diri berkali-kali terdengar dari luar gedung. Entah sudah berapa kali langkah kaki melewati aku dan Kris yang sedang bersembunyi.

 

“Aku akan keluar untuk memastikan.” Ujar Kris.

 

Chakkanman…” Kris menoleh saat kupanggil.

 

“Eumm, tidak jadi. Pergilah.” Sebenarnya aku ingin mengatakan agar dia tetap bersamaku di sini, tapi… ya sudahlah.

 

Tak butuh waktu lama, dia kemudian kembali lagi. Raut wajahnya serius.

 

“Tiga orang sudah tertangkap. Zelo, Doojoon, dan Yongguk.” Bisiknya.

 

Aku tertegun. Berarti aku, Junhyung, dan Himchan yang belum. Sial, justru Himchan lah yang ingin kuhilangkan, kemana dia bersembunyi? Atau, dia berhasil kabur? Arrh, jeongmal!

 

“Kau mau kemana?”

 

“Mencari Himchan.” Jawabku pasti.

 

“Kau gila! Masih banyak polisi yang berkeliaran!”

 

“Aku ingin dia mendekam di penjara. Sekalipun kami berdua yang terluka nantinya, yang penting dia tertangkap dan menghilang dari hidupku. Maka aku akan baik-baik saja.”

 

“Tapi aku yang tidak baik-baik saja.” Perkataannya menghentikan langkahku sejenak.

 

Aku ragu, tapi terus meyakinkan diri. Aku memang ingin Himchan lenyap dari hidupku, itu berarti aku ikut mendekam di penjara karena menyerahkan diri. Tapi, aku tidak memikirkan perasaan Kris…

 

“Sooyoung,” panggilnya.

 

Mianhae, Kris.”

 

Lebih baik aku terbunuh dari pada membunuhmu.

 

***

 

Aku berjalan perlahan, dengan snipper rifle pemberian Yongguk di tanganku. Sigap aku menunduk saat seseorang hendak menyorotiku. Aku mengintip orang itu berlalu. Mereka ada dimana-mana, aku cukup kerepotan jika harus melewatinya satu persatu. Maka langkah kupercepat hingga aku berhenti di tangga darurat. Naikkah? Aku meyakinkan diri lagi. Instingku biasanya selalu benar. Baiklah, naiki tangga ini.

 

Tap.

 

Selangkah, aman. Dua langkah, tiga langkah, dan seterusnya. Aku menghela nafas lega. Benar, kan. Aku menendang keras sebuah pintu di yang terkunci lantai dua puluh. Aku ingat brangkas yang Himchan suruh aku mengambilnya ada di sini. Ruangan ini gelap setelah aku masuk. Aneh sekali, apa para polisi itu tidak menjamah ruang ini?

 

Aku mengedarkan pandangan. Perasaanku jadi tidak enak.

 

Ckrek!

 

Aku meneguk saliva. Seseorang menodong kepalaku dengan pistol dari samping.

 

“Kau mengagetkanku!” deruku melihat Junhyung yang menyeringai.

 

“Kau terlambat, Choi. Ahhh… dasar yeoja, lamban. Ngomong-ngomong kenapa tadi aku tidak bisa menghubungimu? Alat itu rusak?”

 

“Tidak sengaja kuinjak.” dustaku.

 

Dia berdecak lalu mengeluarkan senter kecilnya, kemudian mencari-cari brangkas itu. Setelah ketemu, dia memakai alat pendeteksi passwordnya.

 

“Whoaaa, lihat ini, kita harus memasukkan password manual, tidak bisa pakai ini, payah sekali.” gerutunya.

 

Aku menengok untuk melihatnya. Ada enam digit. Dan ada sepuluh pilihan angka, dari 0-9. “Pabo, begini saja kau bingung. Tanggal berapa ulang tahun Ayahmu?”

 

Molla.”

 

“Ini perusahaan Ayahmu, ini ruangan Ayahmu, kau anaknya, dan kau tidak tahu hari ulangtahunnya? Aish!”

 

Dia tertawa getir, “Dia Lucifer, bukan Ayahku.”

 

“Berhenti memanggilnya Lucifer. Bagaimana pun juga dia Ayah kandungmu, jangan membencinya.”

 

“Malah kau lebih parah, kau membunuh Ayahmu.” Cibirnya dan aku memberikan tatapan membunuh.

 

“Dia bukan Ayah kandungku. Dan satu lagi, Tuan Yong, jangan berusaha membangunkan singa yang sedang tertidur dalam diriku.” Ancamku.

 

Dia memutar malas bola matanya dan mencoba-coba passwordnya lagi. “Terbuka,” gumamnya. “Hari ulangtahunku…”

 

Aku tersenyum sebelum menepuk pundaknya. Dan, Junhyung kini terpatung, aku yakin dia sangat terkejut karena Ayahnya memakai hari ulangtahunnya sebagai password.

 

Rak buku bergeser otomatis. Kami masuk ke dalamnya. Entah bagaimana mengungkapkannya, terkejut, syok, senang, ahh… aku terlalu bingung untuk ini. Ada setumpuk uang di dalam ruang tersembunyi ini! Aku melongo, tidak jauh berbeda dengan Junhyung. Luasnya 1 x 7 meter! Gila!

 

“Apa yang akan kita lakukan dengan semua ini, Jun?” pikiranku nge-blank. Ini pertama kalinya kami merampok uang sebanyak ini.

 

“Kita bawa semuanya,” ucap Junhyung. “Lagipula ini semua bukan uang Ayahku.”

 

“Dia korupsi?”

 

“Begitulah.”

 

***

 

Junhyung terus diam di ruangan itu. Sementara aku, aku naik ke atap gedung—Junhyung mengatakan Himchan ada di sana. Bergegas, aku ingin tahu apa yang dilakukannya saat semua anggota nyaris tertangkap. Aku tahu sifatnya, dia egois, sejak dulu.

 

“Sooyoungie, kau datang?”

 

Aku terbelalak melihat mereka berdua. Paru-paruku mendadak sulit mengambil oksigen. Keduanya dalam kondisi babak belur yang sangat parah. Darah di kepala, memar di seluruh tubuh dan wajah tak dihiraukan. Melihat ada celah, Himchan melayangkan tinju dan tendangan yang langsung membuat Kris tersungkur. Tak berpikir panjang, Himchan mengeluarkan tali dan mulai mengikat kedua tangan Kris dan mendepak tubuhnya sehingga mencium tanah. Himchan menyunggingkan senyum liciknya pada Kris, lalu padaku.

 

“Bukankah kusuruh kau menghabisi dia? Kenapa dia masih hidup?” Himchan merendahkan tubuhnya, meraih kepala Kris—jika tidak bisa kukatakan menjambak rambut pirang Kris kasar—lalu membenturkannya pada tanah.

 

Aku hampir menangis melihatnya. Memang sulit sekali menyimpan rahasia dari Himchan, semua inderanya tajam.

 

Kris merintih. Darah sudah membanjiri dahinya, terlihat seperti… dia menangis airmata. Himchan pasti sudah menghajarnya sebelum aku datang. Bodoh, kenapa tidak melawan?!

 

“Dia yang melaporkan kita pada polisi. Ckck… beraninya…”

 

Mataku membulat saat Himchan memasukkan sebuah peluru pada pistolnya. Lalu, melempar pistol silver itu padaku. Dia menatapku tajam setelah aku menangkapnya. Jangan beri aku tatapan itu, kumohon. Jangan suruh aku—

 

“Bunuh dia.”

 

—membunuhnya.

 

Tatapanku beralih pada Kris. Pria dingin namun hangat jika dalam dekapanku. Mana manik elang yang selalu aku lihat itu? Matanya redup, aku tidak tahu apa maksudnya, yang jelas aku tidak suka. Dia seolah mengatakan ‘bunuh-saja-aku’.

 

SHIREO!

 

Dalam hati aku menjerit-jerit. Tapi, percuma, jeritanku tidak bisa di dengar siapapun di sini. Dan, sekalipun bisa Himchan dengar, dia yang akan membunuh Kris. Aku pengecut.

 

Aku mengangkat pistol yang kugenggam.

 

Ckrek…

 

Hanya ada satu peluru di sini. Hanya ada satu, aku bisa membuat kemungkinan tembakan dengan peluru kosong… empat kali.

 

Moncong peluru tepat kuarahkan pada kepala Kris. Aku melihat dia berusaha berdiri dan menopang tubuh dengan tungkainya yang panjang.

 

Sial, tanganku bergetar. Aku gugup. Himchan terus memperhatikanku dengan death glarenya, sebuah peringatan bagiku.

 

Tembakan pertama, peluru kosong. Membuat jantungku semakin berdegup diatas normal. Aku punya tiga tembakan peluru kosong lagi, dan satu tembakan berpeluru.

 

Tembakan kedua, sama seperti yang pertama.

 

Jari telunjukku menarik pelatuk lagi dengan gemetar, tembakan ketigaku, peluru masih kosong.

 

Aku menatap wajah Kris, dia tetap dengan wajah datarnya. Ini tembakan keempatku, peluru nihil.

 

Himchan tersenyum puas melihatku. Dia tahu tembakan terakhirku yang berisi peluru. Tersirat desakan untukku dalam senyum palsunya.

 

Aniya

 

Andwae

 

Doorr!

 

Aku membelokkan arah pistol, aku menembak Himchan tepat di perutnya. Dia melotot padaku. Dengan cepat aku menghampiri Kris dan membantunya berdiri. Kulepaskan ikatan pada tangannya.

 

Neo…” desis Himchan parau, mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaket hitamnya.

 

“Brengsek!” umpat Kris saat Himchan menembak betisku, dia meninju wajah Himchan dan membuat pistolnya terpental. Himchan balik meninju Kris dan mereka berkelahi.

 

Aku meringis saat darah yang terkucur dari betisku semakin deras. Aku juga menjerit saat Himchan berhasil membuat Kris jatuh kesakitan. Namun dalam sekali tendangan, akhirnya Kris berhasil menghempaskan Himchan di tanah. Kris langsung menghampiriku dan membantuku berdiri.

 

Mataku terbelalak, saat Himchan yang berdiri di belakang Kris sudah menodongkan pistol ke arahnya. Sepertinya dia mengambil lagi pistolnya yang terpental. Seketika jantungku berdetak lebih cepat. Aku tidak ingin melihat Kris terluka. Perasaan yang aku sendiri bingungkan. Aku memutar tubuh Kris dan memposisikan tubuhnya membelakangi Himchan.

 

Doorr!

 

Aku terkejut saat Kris menolak pergerakanku. Kris tetap memunggungi Himchan dan berhadapan denganku. Dia melindungi wanita yang ingin melindunginya. Aku melihat Himchan mulai bersiap menembak lagi. Dengan cepat, aku memposisikan diri membelakangi Himchan.

 

Dooorr!

 

Pelurunya melesat cepat mengenai pundakku. Pikiranku terlalu kacau kini, aku tidak peduli dengan rasa perih di pundakku. Aku hanya tidak ingin kehilangan Kris. Kuambil snipper rifle-ku dan melesatkan peluru ke arah Himchan yang hendak melarikan diri. Himchan limbung dan terjatuh, tak bergerak lagi.

 

Kris jatuh perlahan, bersamaan denganku yang tidak sanggup menopang kakiku.  Kulihat Kris terbatuk-batuk darah di lenganku. Punggungnya terkena peluru Himchan dan membuat nafasnya tersengal. Mataku mengabur karena airmata yang sudah menggumpal di kelopak mataku. Kepalaku pening.

 

“Kris! Bertahanlah!” aku mulai menangis. Dengan panik aku merogoh celanaku, mencari ponselku. “ARRRHHH!” aku menjerit frustasi karena tidak menemukan sinyal sedikit pun. “KRIS!!!” aku menjerit saat melihat mata Kris yang perlahan tertutup.

 

Disaat terakhir pun, kau masih menyelamatkanku? Sudah kubilang lebih baik aku yang terbunuh dari pada membunuhmu!

 

***

 

EPILOG

 

Wanita itu berjalan gontai menyusuri jalan menuju mobilnya terparkir. Airmatanya sudah habis terkuras sejak kemarin. Tanpa ada yang tahu, ia baru saja menghadiri pemakaman Himchan dan Kris. Dua pria yang berbeda, yang muncul dalam hidupnya, yang mempengaruhi hidupnya.

 

“Jernihkah pikiranmu…” Sooyoung melihat Junhyung menepuk pundaknya, entah pria itu memberinya semangat atau apa, tapi Junhyung tersenyum tulus padanya.

 

Sooyoung melihat Junhyung berlalu. Dia sendiri kemudian masuk ke mobilnya. Dia menyalakan mesin mobilnya. Geraknya sangat lamban dan uring-uringan, wanita cantik itu terlalu frustasi. Dia ingin menangis tapi airmatanya sudah mengering. Sooyoung menatap kosong jalanan di depannya. Sesaat kemudian dia melihat mobil Junhyung melintas.

 

Tanpa pikir panjang, dia langsung melesatkan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sekilas terlihat senyum getir terukir di wajahnya.

 

“Kris, Himchan, let’s meet again in...”

 

Brrrrm!

 

Duaarr!

 

Suara tabrakan keras menarik perhatian orang-orang di sekitar pemakaman. Terlihat Audi putih yang baru saja dengan mulus menabrak Porche hitam.

 

“…Black Paradise.”

 

Seoul News: Tiga mafia Black Paradise berhasil ditangkap. Sedangkan Pemimpin mereka ditemukan tak bernyawa di lokasi kejadian kemarin malam. Sementara dua orang lainnya tewas karena tabrakan disengaja pagi tadi.

 

END

Iklan

21 Comments Add yours

  1. Sung Soo Ae berkata:

    T_T soo eon… hua….
    nice story thor 🙂

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      ne, gomawo! ^^ sooyoungie memang keren (?)

      Suka

  2. syoolove berkata:

    kenapa akhirnya malah semuanya mati sihh..T_T
    Sedih bnget ffnya…

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      soalnya itu kemauan si penulis, mian, mian ><

      Suka

  3. Febryza berkata:

    Omomomomo sookris engga nyatu dong.. Tapi malah ketemu lagi sih di alam sana haha, ya ampun kris kan soo unnienya mau ngelindungin juga malah dilindungin balik

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      kris nya kan cowok kuat (?) jadi dia ga mau dilindungin sama cewek yang dia cintai, hehe begitulah…
      thanks udah komenn!

      Suka

  4. sooshidae berkata:

    ceritanya bagus, feelnya dapet. tapi sedih ya T___T

    author, bikin ff sookris yg lain yayaya jebaaal (๑●ื๘๖● ื๑)

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      bikin sookris lagi? pasti, secara authornya ninja ><

      Suka

      1. sooshidae berkata:

        kyaaa ketemu ninja yg lain>< salam kenal author^^

        Suka

      2. wufanneey berkata:

        salam kenal juga, wah senengnya jarang-jarang sih soalnya ada ninja. kebanyakan psti knights, hehehe…

        Suka

  5. Choi Je Kyung berkata:

    Kenapa semuax harus mati sih, kenapa juga soo eonnie dengan kris oppa harus mati, dan kenapa juga ff ini harus sad ending >__<

    Suka

  6. AllayaSparkyu berkata:

    Endingnya malah mati semua 😐
    Speechless sama ff nya kkk
    Daebak thor 😀

    Suka

  7. choi_hana berkata:

    Yaahh endingnya malah mati semua u,u
    Tapi ceritanya kereennn bgt sumpaahhh =3

    Next ff dtggu yaa …
    Hwaiting !!

    Suka

  8. winda berkata:

    Kenapa endingnya meninggal semua?? Aku jadi nagis sendiri

    Nice ff thor, kalo bisa buat sookris lagi ya?? Soalnya aku jarang banget nemu ff sookris.

    Suka

  9. borayoung berkata:

    aigoo…
    mulus..

    Suka

  10. author…..HUWEEEEEE, *abaikan,author daebak!!,kasian semuanya!!!!

    Suka

  11. putri berkata:

    omo. . .mati semua,kok gak happy ending sch.

    Suka

  12. Weeni_leon berkata:

    Hiks3x.
    Kshan bgt se. Knp SooKris gk bsa brsatu…

    Suka

  13. Fayana Lee berkata:

    Di part satu seneng banget……soalnya sookris anu. Eh dipart ini degdegan abis. Dasar jodoh wkwk. Keren thor, suka:3:3 fighting thor. Ohya yg inloved lover lanjutinya>_<

    Suka

  14. aghnia nur azizah berkata:

    Keren.. Bikin nangis akhir-akhirnya, feel-nya dapet bgt, speechless :’)
    Kasian kris 😥
    #maaf komennya telat, baru aja baca soalnya
    #new reader^^

    Suka

  15. wiiaawiyu berkata:

    Kereeennnn…. ending nya tak terduga dan beda ! 💕

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s