[FF] Black Paradise [1/2]

entah mau ngepost apa, jadinya nyoba-nyoba aja pst FF, sukur-sukur ada yang baca, kalo enggak, ya sudahlah… =,=
ninjas mana suaranya!!!
oh ya, maaf untuk poster labil =o=Gambar

“Black Paradise”

Starring:

  • EXO-M’s Kris
  • SNSD’s Sooyoung
  • BAP’s Himchan

Genre: Action, Romance, Smut (only in this chap)

Rating: NC17

Length: Twoshoot

Author: Replay (@WayneFanneey *mention for follback*)

Desclaimer: Soo punya saya, Kris pajangan, Himchan diobral.

Recomended Song:

  • BEAST – Black Paradise
  • U-KISS – Standing Still
  • Infinite – Before The Dawn
  • BAP – One Shot

Summary:

“When we meet again in black paradise…”

***

Sooyoung’s Pov

Aku tidak tahu untuk apa aku hidup. Apa yang kulakukan di dunia ini? Demi apa, aku tidak tahu. Ini memang sulit dicerna. Kurang lebih 15 tahun silam, umurku genap lima tahun. Kala itu aku diadopsi oleh seorang pengusaha senjata api. Kukira aku akan bahagia hidup dalam keluarganya, tapi tidak sama sekali. Orangtua angkatku tidak menganggapku sebagai manusia, dia melihatku sebagai hewan. Dia menyuruhku membunuh Presdir dari perusahaan saingannya. Dan tanpa aku mengerti, bocah polos berusia lima tahun sepertiku berhasil melakukannya dengan mulus. Sejak saat itu aku tahu tidak ada gunanya aku hidup.  Aku kotor dan hina. Orangtua angkat terus menyuruhku membunuhi orang, aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan sampai seperti itu. Tapi, ada yang lebih tak kumengerti, aku selalu menuruti perintah Kim Jong Woon—Ayah angkatku. Oh, bahkan aku memanggilnya Ayah? Pantaskah?

Meski begitu, Jongwoon tetap menyekolahkanku seperti anak-anak lainnya. Dia tetap berusaha menerapkan pada diriku bahwa aku adalah anak normal. Walau nyatanya, aku tahu aku tidak senormal seharusnya. Sampai malam itu tiba, aku tidak tahan lagi, aku kalap dan kehilangan akal, saat peluru yang kutembakkan melesat tepat melewati jantung Jongwoon. Aku membunuhnya dengan sengaja. Kupikir semuanya akan beres jika aku melenyapkannya dari dunia. Kupikir hidupku akan tenang. Tapi lagi-lagi pemikiranku salah.

Jongwoon mati dengan meninggalkan seorang anak laki-laki. Anak kandungnya. Terlepas dari Ayahnya, kini anaknya yang mengikatku. Aku tidak tahu keluarga macam apa mereka. Bahkan Kim Him Chan—putra kandung Jongwoon—kini selalu melakukan hal yang sama yang Ayahnya lakukan padaku dulu. Tidak. Dia lebih kejam lagi. Perusahaan Jongwoon gulung tikar karena masalah ekonomi. Himchan seakan tidak punya pilihan lain, dia mengambil jalan pintas untuk mengatasinya. Menjadi mafia. Dia—bisa dibilang cukup hebat dengan pekerjaannya sekarang—ketua mafia se-Korea. Dia menjadikanku sebagai budaknya. Dia bilang dia mencintaiku, tapi yang aku tahu perlakuannya padaku atas dasar nafsu malah menyakitiku. Seringkali aku mencoba mengakhiri hidupku—atau hidupnya—agar semua penderitaan ini berakhir. Tapi sesuatu terus menahanku. Rencanaku bunuh diri—atau membunuhnya—selalu gagal. Bukannya aku menyalahkan Tuhan atas semua ini, aku hanya membenci diriku sendiri yang memiliki garis takdir yang begitu buruk.

Kucuran air shower sedikit membuat lega suasana hatiku. Sejuknya air menyentuh kulit putihku. Suara terdengar saat aku mematikan keran shower. Aku kemudian mengambil yukata yang tersampir di samping bathub lalu memakainya.

Baru saja selangkah aku keluar dari kamar mandi, tiba-tiba tubuhku dipeluk seseorang dari samping. Lampu ruangan aku matikan dan aku tidak tahu siapa penyusup kurang ajar yang memelukku tiba-tiba itu. Aku mencium bau melon dari orang itu. Aku sangat mengenal seseorang pemakai parfum seperti ini.

“Kau hobi sekali ya menyelinap masuk apartemenku?” tanyaku sinis. Terdengar beberapa detik kemudian dia terkekeh.

“Ini hari kelulusanku di Universitas, padahal aku menunggu kedatanganmu sekadar untuk mengucapkan selamat atau memberiku bukat bunga, tapi kau pasti menyibukkan diri sehingga tidak datang.” Kris kemudian menciumi pundakku dengan posisinya yang masih memelukku dari samping.

“Lalu?” aku mengernyit bingung, karena aku memang tidak mengerti apa yang dibicarakan pria berdarah China ini.

“Lalu, aku mau menagih janjimu, Nona Choi.” Dia menyeringai.

“Memangnya aku menjanjikan apa?”

Oh, ayolah. Semua temanku tahu daya ingatku payah. Jangan memaksaku mengingat sesuatu yang sulit.  Dia terlihat kesal karena aku tidak bisa mengingat apapun dengan otakku yang buruk.

“Apa? Aku benar-benar lupa!” pekikku.

Kris menundukkan wajahnya lalu mengecup bibirku ringan. Beberapa saat kemudian aku tersadar. Dia menciumku! Aku merasa darahku naik ke atas dan berkumpul di pipiku. Dia menatapku tajam dengan manik elangnya.

“Kau menjanjikan dirimu.”

Mwo?!”

Dia tergelak lalu menggendongku. Dengan lembut dia menghempaskan tubuhku ke ranjang.

“Kupikir kau salah paham di sini, aku tahu ingatanku buruk. Meskipun aku menerima pernyataan cintamu, tapi aku yakin aku tidak pernah menjanjikan hal gila semacam itu!” Kelitku.

Dia tersenyum nakal dan melepaskan ikatan yukataku. Gila. Dia serius?

“Kau jelas mengatakannya padaku, Sooyoung-ie… Di Bar depan kampus.”

Ya Tuhan! Aku ingat saat aku mabuk—karena masalah Himchan—dan merancau tidak jelas di hadapan Kris—karena saat itu dialah yang mengantarkanku pulang ke rumah. Ugh, aku bahkan ingat saat Himchan kemudian menghajar Kris habis-habisan. Himchan menyangka Kris melakukan sesuatu padaku karena dia melihatku mabuk.

“Kau tidak boleh menarik perkataanmu,” bisiknya tepat di samping telingaku.

Kris tiba-tiba menarik pelan daguku, dan kemudian mencium lembut bibirku. Sebelah tangannya menopang tubuhnya agar tidak menindihku. Kaki panjangnya masih berpijak pada lantai, perlahan merayap naik ke ranjang. Aku hanya diam saja karena rasa terkejutku masih mendominasi dibanding rasa bahagiaku.

Eh…

Bahagia?

“Kenapa diam saja? Setidaknya katakan sesuatu atau balas ciumanku,” tuntutnya.

“Bagaimana aku bicara jika kau terus menciumku?!” aku mendorong bahunya menjauh lalu mencoba untuk duduk.

Grep!

Tapi aku lupa tangannya yang lain masih bebas beraktifitas. Tangan kokohnya melingkari pinggangku lalu menghempaskanku lagi. Kini tubuhnya benar-benar berada di atas tubuhku.

“Mungkin faktor aku terlalu merindukanmu,” bisiknya. Aku tertegun melihat dia tersenyum manis. Ini pertama kalinya aku melihat senyumannya. Menambah ketampanannya…

Chakkanman

Apa aku baru saja memujinya?

Di sekolah dia memang terkesan namja yang dingin pada siapapun, tapi aku tidak mengerti kenapa dia begitu hangat padaku. Hanya padaku.

“Aku tahu aku tampan, Soo.”

Oh yeah, shit. Aku tertangkap basah sedang mengagumi wajahnya. Aku memalingkan muka.

“Kau semakin cantik saat sedang marah.” Dia menunduk lalu mengecup tengkukku pelan. Namun berulang-ulang. Dia menghembuskan nafasnya dengan sengaja. Membuat lututku lemas.

Aku melotot saat dia membuka ikatan yukata yang kukenakan. Bisa kurasakan tangannya yang menelusup masuk, mengelus kulit punggungku. Cukup, ini tidak bisa dibiarkan!

Kkarago! Keluar dari kamarku sekarang!” teriakku.

Shireo.” Jawabnya singkat.

Sebisa mungkin aku mendorong tubuhnya menjauh. Aku ingin menangis menyadari tenaganya lebih besar dariku. Ada kalanya aku meruntuki diri sendiri karena terlahir sebagai yeoja—yeah, kau tahu kan, yeoja itu lemah. Kris mengunci kedua tanganku. Dia melepas yukataku dan menyentuhku.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Membuat ikatan denganmu.”

Aku hendak berteriak tapi dia langsung membekap mulutku dengan mulutnya. Aku merasakan bibirnya yang basah melumat bibirku liar. Yang kulihat kini adalah sepasang bola mata yang tertutup. Tak cukup dengan bibir, Kris mulai beralih pada leherku, lalu ciumannya turun ke dadaku. Aku memberontak, menghentak-hentakkan kakiku, namun Kris dengan segera mengunci kedua kakiku dengan kakinya sendiri. Aku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku hanya menahan pekikan tatkala kini dia semakin rakus menghisap dadaku bergantian.

“Hentiii.. kann… Kriiss.. hh!” dia tak memperdulikanku.

***

Kris’s Pov

Tubuhnya terus bergerak aneh saat aku terus mengesapi nipplenya. Aku melihat airmata Sooyoung menetes. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, menghapus airmatanya dengan ujung ibujariku. Dia menepis kasar tanganku dan menatapku geram.

“Kenapa kau menangis, Soo?”

“Karena kau menyakitiku, brengsek!”

“Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Lalu melumat lagi cherry tipisnya. Masih terisa lipstik plum di bibirnya, terasa manis di bibirku. Aromanya juga menyengat hidungku. Aku meremas dadanya agar dia membuka mulut. Membiarkan lidahku bermain di sana, menekan lidahnya. Aku menjilati bibirnya. Aku suka sekali rasa manisnya. Dia sedikit meronta karena aku terus menerus melumatnya dengan mengunci tubuhnya.

Tanganku memainkan dadanya tanpa menghentikan aktifitasku di bibirnya. Bagian bawah tubuhku menegang karena aroma lavender dari rambutnya yang basah.

Aku menginginkannya. Dia harus jadi milikku!

“Arrhhh!”

Dia mengerang saat aku berhasil memasuki tubuhnya. Dia menjambak rambutku dengan erangan yang terus keluar. Tangannya mencakar punggungku.

“Sakitkah?”

“Tentu saja sakit, pabo!”

Aku mengelus rambutnya yang tergerai. Kurasakan cairan hangat keluar dari tubuh Sooyoung. Ternyata Sooyoungku masih perawan?

“Kukira Himchan sudah melakukannya padamu. Jadi, aku yang pertama?”

Plak!

Dia menamparku karena pertanyaan bodohku. “Kau pikir aku sehina itu?!” jeritnya. Aku terkekeh lalu mengecupi dadanya yang naik turun.

I love you, baby…” Aku mempercepat gerakanku di bawah tubuhnya.

“Ahhh… hentii.. kaann, Kriis.. aahh!” Rasa sakit yang ia rasakan hanya bisa ia lampiaskan kedalam bentuk hentakan-hentakan kaki yang tak berfungsi sama sekali.

Sambil terus mengucapkan kata cinta di telinganya. Kubelai-belai rambutnya,  mengulum bibirnya. Sepelan mungkin dan penuh perasaan. Aku benar-benar mencintainya. Aku tidak akan pernah melepasnya, apalagi pada bangsat seperti Himchan.

“Hhhh… sstop.. Kris.. sh!” aku melepaskan ciumanku sejenak. Dia memandangku kesal dengan nafas tersengal.

Aku mengulum senyum. Lalu jemariku menghapus lipstick yang berantakan di sudut bibirnya. Wajahnya seketika merona. Cantik sekali.

“Kau bukan pencium yang pintar. Mau kuajari?” aku menggodanya dan pipinya merona lagi. Membuatku tidak tahan untuk tidak menciumnya.

“Hyah.. ummhh—!” aku menutup mulutnya dengan bibirku lagi.

***

Sooyoung’s Pov

Rasa amarah yang membara kini telah berganti menjadi rasa tak berdaya dan penuh dosa. Aku pasrah saat Kris menyentuhku. Hatiku memang sakit karena dia baru saja merampas hartaku yang paling berharga, beberapa menit yang lalu. Tapi setelah kupikir lagi, tidak ada gunanya juga. Toh, aku tidak akan menikah dengan siapapun nantinya. Hidupku, kan, sudah tersabotase seutuhnya. Tanpa sadar airmataku menetes dengan sendirinya.

Tubuhku ikut bergerak-gerak seiring dengan gerakannya yang juga semakin cepat. Aku menggigit bibir bawahku menahan desahan yang ingin keluar. Tapi Kris menyadarinya, lalu dia menciumi tengkukku, titik sensitifku. Aku pun tidak bisa menahannya.

“Eummmhh…”

“Kau.. sangat.. ahh.. hangat, sayang…” ujarnya, memberikan kissmark di leher, pundak, dan dadaku.

Aku mengerang lagi, menengadahkan kepalaku dan dengan cepat Kris mengecup bibirku kilat. Ribuan kupu-kupu menyerbu untuk keluar dari dalam perutku, rasanya aku akan meledak karenanya.

“Aaahhhh!” aku terjatuh lemas di dekapannya. Nafasku terengah.

“Kau curang, aku bahkan belum merasakan apapun.” Dia pura-pura marah dengan mempout applenya.

Mwo? Aku lelah, Kris!” pekikku tertahan.

Lagi-lagi dia tidak memperdulikanku. Dia menindih tubuhku. Kurasakan lubangku memijat lagi miliknya di bawah sana. Aku mencengkram lehernya erat saat Kris mengesapi nippleku bergantian. Sekadar melampiaskan rasa sakitku, aku menjerit tertahan. Gerakannya sangat cepat, aku sulit mengimbanginya. Tangan kokoh Kris mengangkat sebelah kakiku agar melingkar di pinggangnya. Dia kemudian menggendongku ke sofa kamar tanpa melepaskan tautan kami.

“Kau.. hhh.. sangat cantik… Soo… hh.” Aku menarik kepalaku dari dadanya dan mengecup applenya singkat. Dia terus menerus mengucapkan pujian dan kalimat cinta membuatku malu. “Lihatlah… aah.. Pipi chubbymu.. merona… ahh.. sangat.. iindahh.” Ujarnya lalu balas mengulum bibirku. Aku bergerak liar di pangkuannya.

“Kkkriiiss… aku… ahh.. keluaar.. lagii…” aku terkapar lemas di dekapannya setelah mengeluarkan cairanku. Milikku masih berkendut-kendut nikmat karena ini.

“2-0 chagi, aku belum ingin keluar..” dia menyeringai.

Jebal, Kris… geumanhae…” ini sudah klimaks keduaku, sementara dia?

“Ayolah, Soo… kau akan menyukainya…” dia merayuku. “Puaskan aku malam ini, ne? Kau tidak kasihan dengan little Kris? Dia masing menginginkanmu, please…” ujarnya sembari memainkan dadaku.

Shireo! Pakai tanganmu saja!” aku benar-benar lelah. Butuh berapa kali lagi untuknya? Aku sudah lemas, menopang tubuhku saja tidak kuat.

“Tidak bisa, chagi. Kau terlalu nikmat untuk kulewatkan.” Dia tidak menuruti perkataanku dan malah menyerangku lagi di sofa. Oh, Tuhan!

***

“Uhhh…” entah ini rintihan keberapa kaliku.

Selangkanganku benar-benar sakit. Ini gila. Kami benar-benar melakukannya semalam. Entah sudah berapa kali dia push up di atas tubuhku sampai kami mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Dan kini, kudapati kepalaku yang tersandar di dadanya saat aku terbangun. Mungkin aku tertidur dalam dekapannya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang tenang. Aku mengendus aroma tubuhnya yang masih sama. Sejak kapan aku kecanduan aroma ini? Kusandarkan kepalaku lagi di dadanya, aku baru sadar bahwa dada Kris sebidang ini. Cukup untuk menghangatkan tubuhku… dan perasaanku.

Drrt, drrrt.

Aku melepaskan tangan Kris pada pinggangku agar aku bisa meraih ponselku di meja kecil samping tempat tidur. Tunggu, bukankah kami melakukannya di sofa? Bagaimana bisa sekarang kami tertidur di ranjang? Aku tidak ingat sama sekali…  ahh, molla! Kris sudah membuatku kehilangan kesadaran.

Mendengus malas melihat nama yang tertera di layar sentuh ponselku. Kim Him Chan. Dia menyuruhku cepat datang ke tempatnya, sekarang juga. Aku mengiyakan. Aku bergerak sepelan mungkin turun dari ranjang.

Hup! Sebuah tangan menahanku.

Morning, baby…” Ahh, sial. Kenapa Kris bisa bangun? “Tidak sopan tidak menjawab salam dari seseorang.” Katanya, mengelus pipiku.

“Eumm, ya… morning, Kris.”

“Mau kemana kau?” Aku memalingkan wajah, menghindari tatapannya yang menginterogasiku.

“Panggilan mendadak,” jawabku pelan. “Dari Himchan.” Dia tampak tidak suka dengan jawabanku.

.

“Tapi urusan kita belum selesai, Soo…”

“Yah! Urusan apa lagi?”

Morning kiss…” dia mengerling nakal lalu memposisikan tubuhnya di atasku. Memburu bibirku. Aku memejamkan mata menikmatinya. Sepertinya aku menyukai ciumannya. Dia memainkan lidahku dan menjilati bibirku.

“Eunghh…” aku kewalahan. Dia tidak memberiku kesempatan mengambil nafas!

Ciumannya terlalu dalam. Dan, terlalu lama! Cih, kenapa aku baru ingat kalau Kris tidak akan melepaskan ciuman hingga lewat 30 menit. Aku menggigit bibirnya saat ada celah. Membuatnya meringis dan menghentikan aktifitasnya. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk turun dari kasur, menuju kamar mandi. Dalam keadaan naked? Tentu saja tidak. Aku membawa lari selimut untuk menutupi tubuhku.

“Choi Soo Young, neo jugoshippeo? Aku kedinginan di sini!” aku menahan tawa mendengar aksen koreanya yang aneh—untuk beberapa kalimat, dia tidak bisa mengucapkannya dengan baik.

“Tidak ada waktu lagi, Kris. Aku bisa terlambat nanti. Aku mau mandi.”

“Baiklah…,” katanya cepat. “…Jika kau mau melakukannya di kamar mandi.” Sambungnya membuatku mataku melebar. Aku menjerit saat dengan sigap dia menghampiriku lalu membopong tubuhku di bahunya masuk kamar mandi. Sebelum dia menghempaskanku ke bathub dan menyerangku lagi.

***

Kris’s Pov

Menaruh daguku di pundaknya saat dia sedang mengeringkan rambut. Aku mencium wangi lavendernya, membiusku. Dengan sengaja aku menghembuskan nafasku pada tengkuknya. Lalu mengaitkan jemari kami.

“Soo…”

“Hm?” spontan dia menyahut panggilanku. Aku melingkarkan tanganku di perutnya yang rata. Dia mencoba melepaskan tanganku, tapi aku semakin mengeratkan pelukan padanya.

“Himchan bisa membunuhku jika aku terlambat lebih dari ini. Kau membuatku terlalu lama di kamar mandi.” Dia membalikkan tubuhnya dan menatapku galak. Ya, memang tadi aku terlalu lama mengerjainya di kamar mandi.

“Aku tidak suka kau terus menempel padanya.”

“Tapi, dia Dongsaengku.” Ucapannya membuatku diam. Secara logis, Himchan seharusnya memang Dongsaeng Sooyoung, walau aku tahu mereka tak sedarah.

“Mendapatkanmu begitu sulit, aku tidak mau melepasmu pada namja itu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Karena kau milikku.” Sedetik aku merasa perasaanku tak enak. Aku merasa seperti ini momen terakhirku dengannya, tapi kuhiraukan.

Lantas dia sedikit berjinjit lalu memberiku kecupan ringan. Wajahku saat ini pasti terlihat bodoh. Karena yang Sooyoung lakukan beberapa detik yang lalu—menciumku—membuatnya menyentuh bibirku, bahkan saat Sooyoung sudah menghilang di balik pintu.

***

 

Sooyoung’s Pov

“Aku tidak tahu jelas cerita lengkapnya, tapi dia marah besar, Noona.” Bisik Zelo saat aku baru sampai. “Aku juga kena tampar.” Katanya, menunjukkan pipi kirinya yang memerah.

“Hei, kau dipanggil.” Junhyung menepuk bahuku. Cepat aku berdiri dan menemui Himchan.

Himchan menarik tanganku, membuatku duduk di pahanya. Lantas dia menunjukkan gambar seorang pria di layar monitor.

“Aku tidak akan mempermasalahkan kedatanganmu yang sangat terlambat. Jadi, aku langsung saja. Bisa kau membunuh orang ini?”

“Memangnya… dia kenapa?” tanyaku, terbata.

“Dia pengganggu kau dan aku, dia juga tahu tentang kelompok ini.”

Aku membeku. Semoga dia tidak menyadari perubahan raut wajahku. Himchan menyuruhku membunuh Kris. Dan, seperti program yang sudah tertanam jauh-jauh sebelum hari ini. Otakku tidak singkron dengan gerakan tubuhku. Aku mengangguk, mengiyakan perintahnya.

***

Kris’s Pov

Sooyoung sedang mengganti pakaian saat tanpa sengaja aku memergokinya. Dia tidak sadar aku ada di sana karena aku mengendap-endap. Dengan cepat dia memakai baju, menutupi luka lebam di lengan atasnya. Tapi sayangnya mataku lebih jeli dari yang dia duga. Aku terlanjur melihat luka itu.

“Aku tidak melihat luka itu kemarin malam.” Aku menyorot matanya tajam. Lalu menyingkap lengan panjang yang dikenakannya. “Apa yang kau kerjakan sampai seperti ini?”

“Apa pedulimu?” tanyanya lantang. Apa peduliku? Aiish, jinjja!

Aku memang sudah mengira perubahan sikapnya. Pasti karena namja yang mengaku adiknya itu. Aku tahu mereka. Kumpulan lintah Busan yang menggerogoti harta para pengusaha setelah membunuhinya. Mereka sudah lama menjadi incaran kepolisian Seoul, tempatku bekerja. Pihak kepolisian langsung menarikku setelah kelulusan karena keahlianku menguak informasi. Dan, soal pekerjaanku yang sekarang itu, Sooyoung tidak tahu.

“Aku peduli karena mencemaskanmu.” Sooyoung tampak mengacuhkan jawabanku. Aku kesal. Aku membopong tubuh rampingnya paksa dan menyandarkannya pada bantal di atas ranjang. Bukannya takut, dia malah menantangku dengan tatapannya.

“Lepaskan dirimu dari mereka, Soo.” Pintaku.

“Apa maksudmu?”

“Mafia-mafia itu, komunitas yang Himchan dirikan, kau bisa keluar dari jeratan mereka.” Sooyoung terlihat sama sekali tidak terkejut dengan yang kukatakan.

“Aku tidak bisa. Mereka hidupku, kehidupanku.”

“Lalu aku apa?” tanyaku memastikan. Sekadar ingin tahu sosokku selama ini di matanya. Kukira jawabannya pasti menohok hatiku. Dan, benar.

“Kau bukan apa-apa.” Dia menjawab dengan lancar, tanpa beban. Aku tersenyum getir menanggapi. Terselip kekecewaan atas jawabannya.

“Jadi, kalian kemanakan semua uang curian itu?”

“Kubakar.” Jawabannya membuatku terkejut. Aku meneguk liurku. Menatapnya intens. Aku memeluk hangat tubuhnya yang dingin.

“Lepaskan aku, aku harus pergi.” Ujarnya, lalu bangkit sebelum aku menahan tangannya. Tangan Sooyoung terasa begitu halus saat aku menggenggamnya, seakan tangan ini memang diciptakan untukku.

“Menikahlah denganku, Sooyoung.”

Sekilas aku melihat dia menggigit bibir bawahnya. “Aku tidak akan menikah dengan siapapun.”

“Kalau begitu tetaplah bersamaku.”

Dia mengepalkan tangannya. Aku tahu dia gugup. “Kendati pun aku adalah seorang pembunuh?” nada suaranya merendah, bergetar. Dia menahan tangis. Aku duduk dan membawanya dalam dekapanku. Tangisnya pecah. Aku tidak tahu jelas dia menangisi apa, yang jelas, aku tidak suka melihat airmata turun dari kelopak mata gadisku, karena aku. “Aku pembunuh orangtuamu…”

Arra…” Aku sudah tahu itu sejak lama. “Apa yang gadis berusia lima tahun tahu hal semacam itu? Jangan membuatku tertawa, Soo. Kau mengatakan seolah Ayahku yang hebat dibunuh oleh seorang bocah ingusan. Kesannya image Ayahku sangat payah.”

“Tapi itulah kenyataannya, pabo!” kurasakan kemejaku basah karena airmatanya.

“Ssshh… jangan menangis lagi, aku tidak mau melihat gadisku menyedihkan seperti ini.” Aku mengusap butir kristal dari kelopak mata beningnya. Sementara aku sendiri menahan perih atas kenyataan pembunuh orangtuaku adalah gadis yang kucintai.

Iklan

13 Comments Add yours

  1. Febryza berkata:

    Omona… Jebal buat sookris bahagia akhirnya disini kasian merekaaa apalagi soo unnie

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      iya, aku juga kasian sama sooyoungie nya ><
      thanks udah komenn..

      Suka

      1. author,aku berani jamin author pembuat ff yg handal,sampe yg bagian nc-ny aku lewatin!!,serem!!,tpi hebat y anak umur 5 taun bisa ngebunuh uwaa!!!!,authoe neo neomu daebakyo!!!^^

        Suka

  2. Youngie berkata:

    huaa.. kereeeennn
    soo unnie hebat! 5 thn udah bisa bunuh orang!
    himcan yg buat lebam di tbh soo unnie? jahat amat…
    lanjuuttt

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      iya, himchan emang jahat, huhu… padahal dia ganteng
      btw makasih udah komenn…

      Suka

  3. sungsooae berkata:

    wew… like this 😀 ditunggu next chapternya

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      sip, makasih udah komen di sini! ^^

      Suka

  4. sooshidae berkata:

    halooo aku readers baru! (ง !!˚☐˚)ว ใ(˚☐˚!!) /terus kenapa/
    bagus ff nya, kris cinta banget ya sama syoo:”’) kesel sama himchan, pengen aku ulekin(?) jadi sambel-_-

    sookris jjang

    Suka

    1. wufanneey berkata:

      salam kenal reader baru! ^^
      wah kasian himchan, ganteng2 mau kamu jadiin sambel, hahaha.

      Suka

  5. Choi Je Kyung berkata:

    Woah,
    Jdi orang tua kris juga dibunuh oleh soo eonnie!! Aku gak menyangka,
    Soo eonnie jngan bunuh kris dong, dan ayolah terima sja lamarannya kris, dia namja yg baik loh 😀

    Suka

  6. AllayaSparkyu berkata:

    Karena udah keburu baca part 2 sebelum part 1 …. Haft padahal penginnya endingnya SooKris /slapped
    Nice ff thor 😀

    Suka

  7. Weeni_leon berkata:

    Crita nya sedih bgt.
    Mga2 bs happy end.
    Dtunggu ff selanjut nya…

    Suka

  8. wiiaawiyu berkata:

    Aduh aku kepo banget yaa baru tau kalok dunia per ff an ini eksis dan seru bgt buat dipantengin… izin baca ya chinguuu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s